799 research outputs found
Pengelolaan Hutan Mangrove Berbasis Silvofishery di Desa Lama, Desa Paluh Manan dan Desa Paluh Kurau, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang
RAHMAT FAUZI HIDAYAT : Mangrove Forest Management Based
Silvofishery at Three Village : Lama, Paluh Manan and Paluh Kurau, Hamparan
Perak Distric, Deli Serdang Regency. Supervised by MOHAMMAD BASYUNI
and YUNASFI.
Silvofishery constitute utilization pattern of mangrove forest integrated
with fishpond. This pattern is currently most suitable for mangrove forest use and
fishery. The are three models for fishpond agriculture namely, non intensive,
intensive half, and intensive. Kao Kao model is silvofishery system with fishpond
was centered and forest surrounded to fishpond. This Kao Kao model, mangrove
was planted on the wide of levee. The wide of levee was 1-2 m, the distance among
the levees was 5-10 m, adjusted to fishpond area. Another variation of levee,
mangrove was planted along levee bank with 1 m distance.47 HalamanSkripsi Sarjan
Pengelolaan Hutan Mangrove Berbasis Silvofishery di Desa Lama, Desa Paluh Manan dan Desa Paluh Kurau, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang
RAHMAT FAUZI HIDAYAT : Mangrove Forest Management Based
Silvofishery at Three Village : Lama, Paluh Manan and Paluh Kurau, Hamparan
Perak Distric, Deli Serdang Regency. Supervised by MOHAMMAD BASYUNI
and YUNASFI.
Silvofishery constitute utilization pattern of mangrove forest integrated
with fishpond. This pattern is currently most suitable for mangrove forest use and
fishery. The are three models for fishpond agriculture namely, non intensive,
intensive half, and intensive. Kao Kao model is silvofishery system with fishpond
was centered and forest surrounded to fishpond. This Kao Kao model, mangrove
was planted on the wide of levee. The wide of levee was 1-2 m, the distance among
the levees was 5-10 m, adjusted to fishpond area. Another variation of levee,
mangrove was planted along levee bank with 1 m distance.47 HalamanSkripsi Sarjan
KELAYAKAN PENGEMBANGAN PERKEBUNAN KARET DI KABUPATEN TANAH BUMBU KALIMANTAN SELATAN
Kalimantan Selatan merupakan salah satu sentra perkebunan karet di Indonesia, tidak terkecuali tanaman karet. Salah satu diantara tiga belas kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan yang memiliki potensi bagi pengembangan perkebunan karet adalah Kabupaten Tanah Bumbu. Dengan teknik budidaya yang masih tradisional, saat ini produktivitas lahan perkebunan karet di Kabupaten Tanah Bumbu umumnya masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kelayakan pengembangan perkebunan karet di Kabupaten Tanah Bumbu. Penelitian dilakukan pada tahun 2014 dengan metode survei dan dianalisis secara diskriptif kualitatif dan kuantitatif melalui pendekatan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) dan kelayakan finansial proyek menurut empat kriteria investasi yaitu Nett Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Benefit Cost Ratio (B/C Ratio), dan Payback Period (PBP). Hasil analisis menunjukkan bahwa pengembangan perkebunan karet di kedua kecamatan sampel seluas ±5.620 Ha di Kecamatan Kusan Hulu sebagai Satuan Lahan I dan ±11.261 Ha di Kecamatan Satui sebagai Satuan Lahan II mendapatkan respon positif dari 90% responden. Secara finansial besaran nilai dari empat kriteria investasi masing-masing adalah NPV sebesar IDR 243 Milyar dan IDR 187Milyar, B/C ratio sebesar 2,08 dan 1,99, selanjutnya IRR sebesar 27,20% dan 17,53%, dan PBP selama 8 tahun 3 bulan dan 13 tahun 9 bulan. Berdasarkan keempat kriteria tersebut maka program pengembangan perkebunan karet di Kabupaten Tanah Bumbu dinilai layak.    Diterima : 4 Agustus 2015 / Direvisi : 15 Juli 2016 / Disetujui : 26 Juli 2016 How to Cite : Fauzi, I., Bukit, E., Andriyanto, M., & Istianto, I. (2016). Kelayakan pengembangan perkebunan karet di Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan. Jurnal Penelitian Karet, 34(1), 107-118. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/22
Manajenem Humas Dalam Meningkatkan Citra Lembaga Pendidikan Di SMP Plus Ar Rahmat Bojonegoro
This research aims to describe planning, organizing, implementing, evaluating and knowing the factors that support and inhibit public relations management in improving the image of educational institutions at SMP Plus Ar Rahmat Bojonegoro. This research uses descriptive qualitative research methods. The data collection techniques are through interview, observation and documentation techniques. The results of this research show that public relations planning for SMP Plus Ar Rahmat Bojonegoro was carried out by setting goals and creating a public relations work program. The public relations organizer of SMP Plus Ar Rahmat Bojonegoro consists of the person in charge, public relations coordinator, public relations officer, social media and communication field, and creative design field. Implementation of public relations for SMP Plus Ar Rahmat Bojonegoro by publicizing school activities. The public relations evaluation of SMP Plus Ar Rahmat Bojonegoro is held once a year and regularly weekly. The supporting factors for public relations in improving the image of educational institutions are that they are supported by good cooperation and the availability of adequate facilities and financial sources. And the inhibiting factor for public relations in improving the image of educational institutions is limited human resource
Analisa Penerapan Pengendalian Risiko Pada Pembiayaan di BMT Rahmat Kediri
Manajemen risiko diperlukan untuk meningkatkan mutu lembaga keuangan mikro syariah semisal BMT. Penerapan manajemen risiko yang tepat mampu menciptakan sistem pengendalian internal yang baik dalam lembaga keuangan mikro syariah, sehingga dapat segera dilakukan tindakan korektif yang selaras dengan strategi dan cita-cita lembaga keuangan mikro syariah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, metode wawancara dan metode dokumentasi. Hasil penelitian menyatakan bahwa Penerapan manajemen risiko pembiayaan pada BMT Rahmat menggunakan panduan survey prinsip 5C yang mana terdiri dari: Character, Capacity, Capital, Collateral, Condition of economic. Penerapan manajemen risiko pembiayaan pada BMT Rahmat dengan tiga tahapan mulai dari awal pembiayaan sampai penyelesian pembiayaan sesuai dengan teori menejemen risiko yang terdiri dari identifikasi risiko, pengukuran risiko, pemanytauan risiko, pengendalian risiko. Identifikasi, pengukuran dan pemantauan risiko serta pengendaliannya sudah dilakukan sejak tahap awal dan tahap kedua sedangkan tahap ketiga yang merupakan tahap penyelesaian pembiayaan bermasalah sudah masuk kategori pengendalian risiko
Analisa Penerapan Pengendalian Risiko Pada Pembiayaan di BMT Rahmat Kediri
Manajemen risiko diperlukan untuk meningkatkan mutu lembaga keuangan mikro syariah semisal BMT. Penerapan manajemen risiko yang tepat mampu menciptakan sistem pengendalian internal yang baik dalam lembaga keuangan mikro syariah, sehingga dapat segera dilakukan tindakan korektif yang selaras dengan strategi dan cita-cita lembaga keuangan mikro syariah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, metode wawancara dan metode dokumentasi. Hasil penelitian menyatakan bahwa Penerapan manajemen risiko pembiayaan pada BMT Rahmat menggunakan panduan survey prinsip 5C yang mana terdiri dari: Character, Capacity, Capital, Collateral, Condition of economic. Penerapan manajemen risiko pembiayaan pada BMT Rahmat dengan tiga tahapan mulai dari awal pembiayaan sampai penyelesian pembiayaan sesuai dengan teori menejemen risiko yang terdiri dari identifikasi risiko, pengukuran risiko, pemanytauan risiko, pengendalian risiko. Identifikasi, pengukuran dan pemantauan risiko serta pengendaliannya sudah dilakukan sejak tahap awal dan tahap kedua sedangkan tahap ketiga yang merupakan tahap penyelesaian pembiayaan bermasalah sudah masuk kategori pengendalian risiko
PERENCANAAN IPAL BIOFILTER ANAEROB-AEROB DI PUSKESMAS WAY HALIM KOTA BANDAR LAMPUNG
Puskesmas Rawat Inap Way Halim menghasilkan air limbah sebanyak 25,7 m3/hari. Berdasarkan peraturan yang berlaku, sudah seharusnya dilakukan pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan. Penelitian bertujuan merancang Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan sistem Biofilter anaerob-aerob, sesuai dengan persyaratan yang berlaku. Penelitian bersifat deskriptif, diawali dengan pengumpulan data melalui pengamatan dan wawancara. Selanjutnya dilakukan pengukuran dan perhitungan sebagai bahan pembuatan rancangan IPAL. Hasil penelitian diketahui bahwa volume bak penangkap = 2,1 m3, bak ekualisasi = 6,4 m3, bak pengendap awal = 4,3 m3, bak anaerob = 4,8 m3, bak aerob = 2,9 m3, bak pengendap akhir = 4,3 m3, bak biokontrol = 4,3 m3 dan bak klorinasi = 1 m3. Perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan instalasi sebesar Rp 156.000.000. Rancangan ini diyakini mampu menurunkan BOD hingga 94%, (dari 124,9 mg/l menjadi 10,8 mg/l), sehingga memenuhi peraturan yang berlaku.Â
MINAT MAHASISWA PROGRAM STUDI PENJASKESREK FKIP UNSYIAH MENJADI PROFESI WASIT CABANG OLAHRAGA SEPAK BOLA
ABSTRAKFauzi, Rahmat. 2018. Minat Mahasiswa Program Studi Penjaskesrek Fkip Unsyiah Menjadi Profesi Wasit Cabang Olahraga Sepak Bola. Skripsi, Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Univeristas Syiah Kuala.(1)Drs. Amiruddin, M.Kes (2) Maimun Nusufi, S.Pd.,M.PdKata Kunci: minat, wasit, sepakbola.Minat mahasiswa sangat mempengaruhi dalam pelaksanaan aktivitas olahraga, sehingga menimbulkan rasa tertarik dan senang untuk melakukan aktivitas olahraga terutama aktivitas perwasitan sepakbola. Penelitian ini berupaya mengungkapkan besar minat dan tujuan mahasiswa menjadi profesi wasit cabang olahraga sepakbola.Metode yang digunakan yaitu deskriptif dengan jenis penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan datanya menggunakan angket untuk mengetahui hasil penelitian. Populasi adalah mahasiswa Penjaskesrek FKIP Unsyiah berjumlah 243 mahasiswa. Sampel yang digunakan 10% dari populasi jadi sampel berjumlah 24 mahasiswa, sampel di ambil dengan menggunakan teknik sampling purposive. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan instrument kuesioner atau angket yang berisi aspek-aspek yang berada dalam minat mahasiswa prodi Penjaskesrek FKIP Unsyiah menjadi profesi wasit sepakbola.Hasil penelitian berdasarkan data yang diperoleh dari 24 orang responden yaitu ketertarikan mahasiswa penjaskesrek FKIP Unsyiah menjadi profesi wasit sepakbola mendapatkan hasil 64%, perhatian mahasiswa penjaskesrek FKIP Unsyiah menjadi profesi wasit sepakbola mendapatkan hasil 69%, aktualisasi mahasiswa penjaskesrek FKIP Unsyiah menjadi profesi wasit sepakbola mendapatkan hasil 46%, aktivitas mahasiswa penjaskesrek FKIP Unsyiah menjadi profesi wasit sepakbola mendapatkan hasil 40%. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa minat mahasiswa Program Studi Penjaskesrek FKIP Unsyiah menjadi profesi wasit cabang olahraga sepakbola kategori sedang dengan persentase 54,75%
The acute effect of complex movement pattern training towards state pencak silat athlete\u27s attention
Cognitive performance is very important to athlete who need to maintain their attention
and focus in competition. Processes of attention, memory, executive functioning, reaction
time, crystallized intelligence and processing speed or in other word is information
processing are includes in cognitive performance task [1]. To be able to maximize the
use of cognitive performance athlete, it is important to know which area of cognitive
performance need to be improve. (Copied from article)
KIPRAH BASUKI RAHMAT DALAM BIDANG MILITER TAHUN 1945-1966
ABSTRAK
Dalam penelitian yang berjudul “Kiprah Basuki Rahmat dalam Bidang Militer Tahun 1945-1966” ini terdapat beberapa permasalahan yang dikaji di antaranya yaitu mengenai latar belakang kehidupan Basuki Rahmat, faktor yang memengaruhi keputusan Basuki Rahmat untuk berkecimpung ke dalam bidang militer, dan kontribusi Basuki Rahmat terhadap negara Indonesia melalui bidang militer pada tahun 1945-1966. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi yang jelas dan tepat mengenai permasalahan yang dikaji. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian sejarah atau disebut juga sebagai metode historis yang terdiri dari empat tahapan, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Berdasarkan hasil penelitian, Basuki Rahmat merupakan seorang prajurit yang lahir pada 4 November 1921 di Tuban, Jawa Timur. Pendudukan Jepang dan kondisi Indonesia menjelang kemerdekaan menjadi faktor Basuki Rahmat berkecimpung dalam bidang militer. Kontribusi Basuki Rahmat melalui bidang militer dimulai pada tahun 1945 dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Melalui kecakapan militer yang dimilikinya, Basuki Rahmat selalu ikut andil dalam berbagai peristiwa di Indonesia dari tahun 1945-1966, mulai dari perang kemerdekaan saat melawan Belanda, berbagai pemberontakan dalam negeri, operasi Irian Barat, Gerakan 30 September 1965, dan peristiwa paling bersejarah pada tahun 1966 mengenai Surat Perintah 11 Maret (Supersemar). Basuki Rahmat sebagai seorang pemimpin yang bertanggungjawab atas prajurit-prajurit di bawahnya memiliki sifat yang tenang, namun tetap tegas dalam menyikapi suatu permasalahan sehingga ia seringkali dipercaya untuk mengemban jabatan dengan tanggungjawab yang besar dalam bidang militer.
Kata Kunci: Basuki Rahmat, Perjuangan, Militer
ABSTRACT
In this research entitled “The Gait of Basuki Rahmat in the Military Field in 1945-1966” there are several problems studied, including the background of Basuki Rahmat’s life, the factors that influenced Basuki Rahmat’s decision to engage in the military field, and Basuki Rahmat’s contribution to the Indonesian state through the military field in 1945-1965. The purpose of this research is to obtain clear and precise information about the problems studied. In this research, the author uses historical research methods or also known as historical methods which consist of four stages, these include heuristics, source critism, interpretation, and historiography. Based on the result of the research, Basuki Rahmat was a soldier who was born on 4th November 1921 in Tuban, East Java. The Japanese occupation and the condition of Indonesia before independence became a factor in Basuki Rahmat’s involvement in the military. Basuki Rahmat contribution through the military began in 1945 in an effort to defend Indonesia’s independence. Through his military skills, Basuki Rahmat always took part in various events in Indonesia from 1945-1966, starting from the war of independence against the Dutch, various domestic rebellions, the West Irian operation, The 30 September 1965 Movement, and the most historic event in 1966 about the 11 March Order (Supersemar). Basuki Rahmat as a leader who was responsible for the soldiers under him had a calm nature, but was still firm in addressing a problem so that he was often trusted to take positions with great responsibility in the military.
Keywords: Basuki Rahmat, Struggle, Militar
- …
