95 research outputs found

    Node-indri: Moving the indri toolkit to the modern web stack

    No full text
    We introduce node-indri, a Node.js module that acts as a wrapper around the Indri toolkit, and thus makes an established IR toolkit accessible to the modern web stack. node-indri exposes many of Indri’s functionalities and provides direct access to document content and retrieval scores for web development (in contrast to, for instance, the Pyndri wrapper). This setup reduces the amount of glue code that has to be developed and maintained when researching search interfaces, which today tend to be developed with specific JavaScript libraries such as React.js, Angular.js or Vue.js. The node-indri repository is open-sourced at https://github.com/felipemoraes/node-indri.Web Information System

    Dockerizing indri for OSIRRC 2019

    No full text
    The Lemur Project was set up in 2000 by the Center for Intelligent Information Retrieval at UMass Amherst. It is one of the longest lasting open-source projects in the information retrieval (IR) research community. Among the released tools is Indri, a popular search engine that was designed for language-modeling based approaches to IR. For OSIRRC 2019 we dockerized Indri and added support for the Robust04, Core18 and GOV2 test collections.Web Information System

    Complete Genome Sequence of Torque teno indri virus 1, a Novel Anellovirus in Blood from a Free-Living Lemur

    Full text link
    abstract: We identified Torque teno indri virus 1 (TTIV1), the first anellovirus in a free-living lemur (Indri indri). The complete circular 2,572-nucleotide (nt) TTIV1 genome is distantly related to torque teno sus virus. Phylogenetic and sequence analyses support TTIV1 as a putative member of a new genus within the Anelloviridae family.The final version of this article, as published in Genome Announcements, can be viewed online at: http://genomea.asm.org/content/5/30/e00698-1

    Evaluasi Uji Radicle Emergence dengan Uji Kecepatan Tumbuh Benih Selada

    Full text link
    Benih selada mempunyai vigor rendah ketika ditanam di lapang yang disebabkan karena suhu tinggi. Benih bervigor rendah menghasilkan perkecambahan yang lambat dan tidak seragam di lapang sehingga berpengaruh terhadap produksi tanaman. Untuk mengetahui vigor benih secara cepat, dibutuhkan metode uji perkecambahan yang mencerminkan performa benih di lapang. Uji Radicle Emergence (RE) digunakan untuk mendeteksi vigor benih secara cepat namun validasinya terbatas pada beberapa komoditas saja. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan metode penghitungan uji RE pada benih selada serta mengetahui korelasi antara uji RE dengan uji kecepatan tumbuh benih (KCT). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial yang terdiri dari varietas selada (Grand Rapids, Ava Red, Red Coral, Karina) dan hari pengecambahan (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 hari). Terdapat 28 kombinasi perlakuan, setiap perlakuan diulang sebanyak 15 kali sehingga terdapat total 420 satuan percobaan. Variabel pengamatan penelitian merupakan persentase KCT dan RE. Perhitungan RE dilakukan menggunakan beberapa rumus dengan satuan %/etmal, %, benih/etmal, dan hari. Perhitungan RE menggunakan satuan hari dilakukan dengan pendekatan Mean Germination Time (MGT). Hasil menunjukkan bahwa evaluasi RE menggunakan hitungan %/etmal, %, dan benih/etmal dilakukan pada rentang 1-2 hari. Evaluasi RE menggunakan MGT dilakukan pada 1.2 – 3.69 hari. Metode penghitungan RE menggunakan MGT berkorelasi erat dengan KCT namun hubungannya negatif (r = -0.856, R2 = 0.7333, p<0.001), semakin tinggi KCT maka waktu munculnya radikula semakin cepat.Benih selada mempunyai vigor rendah ketika ditanam di lapang yang disebabkan karena suhu tinggi. Benih bervigor rendah menghasilkan perkecambahan yang lambat dan tidak seragam di lapang sehingga berpengaruh terhadap produksi tanaman. Untuk mengetahui vigor benih secara cepat, dibutuhkan metode uji perkecambahan yang mencerminkan performa benih di lapang. Uji Radicle Emergence (RE) digunakan untuk mendeteksi vigor benih secara cepat namun validasinya terbatas pada beberapa komoditas saja. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan metode penghitungan uji RE pada benih selada serta mengetahui korelasi antara uji RE dengan uji kecepatan tumbuh benih (KCT). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial yang terdiri dari varietas selada (Grand Rapids, Ava Red, Red Coral, Karina) dan hari pengecambahan (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 hari). Terdapat 28 kombinasi perlakuan, setiap perlakuan diulang sebanyak 15 kali sehingga terdapat total 420 satuan percobaan. Variabel pengamatan penelitian merupakan persentase KCT dan RE. Perhitungan RE dilakukan menggunakan beberapa rumus dengan satuan %/etmal, %, benih/etmal, dan hari. Perhitungan RE menggunakan satuan hari dilakukan dengan pendekatan Mean Germination Time (MGT). Hasil menunjukkan bahwa evaluasi RE menggunakan hitungan %/etmal, %, dan benih/etmal dilakukan pada rentang 1-2 hari. Evaluasi RE menggunakan MGT dilakukan pada 1.2 – 3.69 hari. Metode penghitungan RE menggunakan MGT berkorelasi erat dengan KCT namun hubungannya negatif (r = -0.856, R2 = 0.7333, p<0.001), semakin tinggi KCT maka waktu munculnya radikula semakin cepat

    METHOD FOR DRYING MAIZE POLLEN

    Full text link
    Pollen managements consisted of suitable harvest timing, pollen drying to a certain misturecontent, pollen viability testing, and pollen storage. Maize pollen was sensitive todesiccation. This experiment was aimed to determine preservation technique in reducingpollen water content while maintaining its viability. Maize variety which used in thisresearch was BIMA 3 as male line hybrid maize. Pollen viability testing used potassiumiodide (KI) 1%. This experiment used randomized block design with 3 factors and 2 replicates, i.e. boron (H3BO3) fertilizers (0 and 3 kg ha-1), drying techniques (MgCl2, silicagel, zeolite and preservation in air-cond room (18±1 °C; RH 43%), and drying periods (0,2, 4, 6 and 8 hours). The observation response of this experiment were viability and pollen weight changing. The result showed that there is no interaction between three factors to observation response, while drying technique and drying period combinations showed interactions to observation response. Pollen maize drying used silica gel for 4 hours was able to decline much pollen weight and maintain pollen viability better than other techniques.Pollen managements consisted of suitable harvest timing, pollen drying to a certain misture content, pollen viability testing, and pollen storage. Maize pollen was sensitive to desiccation. This experiment was aimed to determine preservation technique in reducing pollen water content while maintaining its viability. Maize variety which used in this research was BIMA 3 as male line hybrid maize. Pollen viability testing used potassium iodide (KI) 1%. This experiment used randomized block design with 3 factors and 2 replicates, i.e. boron (H3BO3) fertilizers (0 and 3 kg ha-1 ), drying techniques (MgCl2, silica gel, zeolite, preservation in air-cond room (18±1 °C; RH43%), and drying periods (0, 2, 4, 6, 8 hours). The observation response of this experiment were viability and pollen weight changing. The result showed that there is no interaction between three factors to observation response, while drying technique and drying period combinations showed interactions to observation response. Pollen maize drying used silica gel for 4 hours was able to decline much pollen weight and maintain pollen viability better than other techniques

    Penerapan ANOVA Dengan Respon Data Count Pada Kasus Perkecambahan Serbuk Sari Jagung

    Full text link
    In agriculture, ANOVA is often used to determine the effect of different treatments (categories) on the response (continuous). Research in the field found many cases that aim to evaluate the difference in treatment where the response in the form of data count. In this study, ANOVA will conduct a one-way ANOVA analysis study on the response in the form of count data by applying one-way ANOVA standard, transformation  and poisson approach. The data used are six datasets to observe the number of corn pollen sprouts. The results showed the statistical decisions of the six datasets gave consistent decisions on each method. The performance of the standard one-way ANOVA method and poisson approach provides the same conclusions to each dataset. Based on AIC and BIC criteria, poisson approach is recommended in response data count especially count data that contains zero value. This method does not require assumptions of normality and homoscedasticity to be met.   Pada bidang pertanian, ANOVA sering digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan (kategori) yang berbeda terhadap respon (kontinu). Penelitian di lapang banyak ditemukan kasus yang betujuan untuk mengevaluasi perbedaan perlakuan dimana respon berupa data count. Pada penelitian ini, akan dilakukan kajian analisis one way ANOVA pada respon berbentuk data count dengan menerapkan one way ANOVA standar, transformasi  dan pendekatan poisson. Data yang digunakan yaitu enam dataset pengamatan banyaknya kecambah serbuk sari jagung. Hasil penelitian menunjukkan keputusan statistik dari keenam dataset memberikan keputusan konsisten pada masing-masing metode. Performa metode one way ANOVA standar dan pendekatan poisson memberikan kesimpulan yang sama pada masing-masing dataset. Berdasarkan kriteria AIC dan BIC, pendekatan poisson disarankan penggunaannya pada respon data count terlebih data count yang mengandung nilai nol. Metode ini tidak mewajibkan asumsi normalitas dan homoskedastisitas terpenuhi

    PENINGKATAN KOMPETENSI SISWA SMK TEKNOLOGI PERTANIAN TUGUSARI MELALUI HERBARIUM KERING DAN PERPUSTAKAAN MINI

    Full text link
    Pengabdian masyarakat yang dilaksakanan di sekolah pedesaan merupakan salah satu program pemberdayaaan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan masyarakat pedesaan. Sekolah tingkat menengah kejuruan satu-satunya di Desa Tugusari adalah SMK Teknologi Pertanian Tugusari. Keterbatasan sarana kegiatan belajar siswa tentang literatur di bidang pertanian perlu ditunjang dengan adanya perpustakaan mini pertanian. Perpustakaan mini pertanian sangat diharapkan dapat membantu meningkatkan minat baca, menunjang pembelajaran dan menambah wawasan siswa-siswi SMK Teknologi Pertanian Tugusari. Keterbatasaan media pembelajaran juga sangat penting dikarenakan harga alat dan bahan untuk praktikum cukup mahal. Sebagai alternatif, media pembelajaran berbasis lingkungan menjadi solusi yang sangat membantu dan mudah untuk diterapkan. Media pembelajaran dengan teknik pengawetan tumbuhan disebut herbarium. Herbarium penting digunakan sebagai media pembelajaran bagi siswa dalam memahami struktur tanaman maupun identifikasi bagian-bagian tanaman secara umum maupun karakter khusus tanaman terutama untuk tanaman obat. Siswa-siswi SMK Teknologi Pertanian Tugusari meningkat pengetahuannya setelah mendapatkan materi dan praktikum tentang herbarium kering. Pemberian bantuan buku dan pendirian perpustakaan mini pertanian diharapkan dapat menunjang pembelajaran di bidang pertanian dan pengetahuan umum lainnya

    PELAPISAN BENIH EDAMAME MENGGUNAKAN MIKORIZA DI BERBAGAI MEDIA TANAM

    Full text link
    Kendala teknik budidaya pada lahan salin serta rendahnya mutu benih bisa diatasi dengan pelapisan benih menggunakan mikoriza. Penelitian menggunakan RAK faktorial, yaitu pelapisan mikoriza (0 dan 12 g/kg benih) dan media tanam (tanah, pasir salin, tanah + pasir salin). Hasil penelitian yaitu perlakuan tidak berpengaruh terhadap persentase daya tumbuh, tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah biji/polong, persentase polong isi/tanaman. Benih yang dilapisi mikoriza menghasilkan bobot polong/tanaman lebih tinggi (51,3 g) dibandingkan tanpa pelapisan mikoriza (45,9 g)

    Metode Pengeringan Serbuk Sari Jagung

    No full text
    Pollen managements consisted of suitable harvest timing, pollen drying to a certain misture content, pollen viability testing, and pollen storage. Maize pollen was sensitive to desiccation. This experiment was aimed to determine preservation technique in reducing pollen water content while maintaining its viability. Maize variety which used in this research was BIMA 3 as male line hybrid maize. Pollen viability testing used potassium iodide (KI) 1%. This experiment used randomized block design with 3 factors and 2 replicates, i.e. boron (H3BO3) fertilizers (0 and 3 kg ha-1), drying techniques (MgCl2, silica gel, zeolite and preservation in air-cond room (18±1 °C; RH 43%), and drying periods (0, 2, 4, 6 and 8 hours). The observation response of this experiment were viability and pollen weight changing. The result showed that there is no interaction between three factors to observation response, while drying technique and drying period combinations showed interactions to observation response. Pollen maize drying used silica gel for 4 hours was able to decline much pollen weight and maintain pollen viability better than other techniques

    PEMANFAATAN SAMPAH RUMAH TANGGA SEBAGAI PUPUK KOMPOS DI DESA SEBANEN, KALISAT, JEMBER

    Full text link
    Abstrak: Petani di Desa Sebanen masih menerapkan sistem pertanian konvensional, dimana pupuk kimia dianggap memberikan hasil panen yang baik serta menguntungkan. Penggunaan pupuk kimia yang intensif serta minimnya informasi pemanfaatan sampah rumah tangga sebagai pupuk kompos dijadikan dasar dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat di Desa Sebanen. Pelaksanaan pengabdian dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu persiapan awal, penyuluhan, praktek, dan evaluasi. Persiapan awal dilakukan untuk meminta izin pelaksanaan pengabdian kepada kepala desa dan ketua RT 01 RW 01. Penyuluhan dan praktek dilakukan sekaligus dengan metode ceramah interaktif tentang pupuk anorganik dan organik serta cara pengolahan limbah rumah tangga untuk pupuk kompos. Kegiatan evaluasi dilaksanakan tiga minggu setelah kegiatan penyuluhan. Hasil kegiatan pelatihan pembuatan pupuk kompos berbahan dasar sampah rumah tangga berjalan lancar ditunjukkan dengan respon peserta pelatihan yang sangat baik dan antusias dalam mengajukan pertanyaan. Informasi tentang pembuatan kompos sederhana yang sudah dilakukan menimbulkan minat bagi peserta untuk mencoba mempraktikkan sendiri di rumah. Sekitar 40% dari peserta pelatihan sudah membuat pupuk kompos berbahan sampah rumah tangga secara mandiri dan telah diaplikasikan pada tanaman sayur dan hias yang ada di pekarangan rumah peserta.Abstract: Farmers in Sebanen village still apply conventional farming systems, where chemical fertilizers are considered to result in good and profitable yields. The intensive use of chemical fertilizers and the lack of information on household waste usage as compost is used as the basis for implementing community service in Sebanen. The activity is carried out in several stages, namely initial preparation, counseling, practice, and evaluation. Initial preparations were made to request permission for community service activity from the village head and head of RT 01 RW 01. Counseling and practice were carried out with interactive lecture methods about an-organic and organic fertilizers, also how to process household waste to become compost. The activity evaluation was held three weeks after the counseling activity. The production of compost from household waste went smoothly as indicated by the enthusiastic responses of participants asking questions. Information about simple composting methods had already generated interest for participants to practice on their own at home. Approximately 40% of the participants have made compost from household waste independently and have applied it to vegetable and ornamental plants in the participants yards
    corecore