8,569 research outputs found

    Perbandingan pemikiran KH. Muhammad Faqih Maskumambang dan KH. Ammar Faqih Maskumambang dalam merespon gerakan Wahabi tahun 1922-1961 M

    Full text link
    Skripsi ini berjudul “Perbandingan Pemikiran KH. Muhammad Faqih Maskumambang dan KH. Ammar Faqih Maskumambang dalam Merespon Gerakan Wahabi Tahun 1922-1961 M”. Fokus pembahasannya adalah: 1) Bagaimana biografi dan pemikiran KH. Muhammad Faqih dalam merespon gerakan Wahabi? 2) Bagaimana biografi dan pemikiran KH. Ammar Faqih dalam merespon gerakan Wahabi? 3) Apa saja perbedaan dan persamaan antara pemikiran KH. Muhammad Faqih dan KH. Ammar Faqih dalam merespon gerakan Wahabi? Skripsi ini menggunakan pendekatan historis dan pendekatan sosiologi pengetahuan. Pendekatan historis digunakan untuk menjelakan sejarah kehidupan KH. Muhammad Faqih dan KH. Ammar Faqih sedangkan pendekatan sosiologi digunakan untuk menjelaskan kondisi sosial dan proses-proses sosial yang mempengaruhi pemikiran kedua tokoh tersebut. Penelitian ini menggunakan teori Interaksionisme Simbolik menurut Herbert Blumer. Adapun metode yang digunakan adalah metode sejarah: Heuristik, Kritik, Interpretasi, Historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa:1) KH. Muhammad Faqih (1857-1937 M) merupakan anak ke-empat KH. Abdul Djabbar dan Nyai Nursimah. Pemikiran KH. Muhammad Faqih sangat kontra dengan pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab 2). KH. Ammar Faqih (1902-1965 M) merupakan anak ke-lima KH. Muhammad Faqih dan Nyai Nur Khodijah. Pemikiran KH. Ammar sangat pro dengan pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab 3) Perbedaan diantara keduanya adalah bahwa KH. Muhammad Faqih memperbolehkan tawassul dengan orang yang telah wafat namun KH. Ammar Faqih melarang tawassul dengan orang yang telah wafat. KH. Muhammad Faqih juga memperbolehkan membaca shalawat Nabi baik dengan suara keras maupun pelan namun KH. Ammar melarang membaca shalawat dengan suara keras sedangkan persamaannya adalah keduanya sama-sama memperbolehkan bershalawat dan ziarah kubur

    MUHAMMAD FAQIH MASKUMAMBANG DAN SIKAPNYA TERHADAP PEMIKIRAN MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB

    Full text link
    Skripsi ini berjudul “Muhammad Faqih Maskumambang dan Sikapnya Terhadap Pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab”. Masalah yang diteliti dalam skripsi ini adalah: 1) bagaimana biografi Muhammad Faqih Maskumambang? 2) bagaimana biografi dan pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab? 3) bagaimana sikap Muhammad Faqih Maskumambang terhadap pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab? Penulisan skripsi ini disusun dengan menggunakan metode sejarah. Adapun metode penulisan sejarah yang digunakan penulis dengan menggunakan beberapa langkah yaitu heuristik (mengumpulkan arsip-arsip terkait dengan pembahasan yang ditujukan), verifikasi (kritik terhadap data), interpretasi (penafsiran) serta historiografi (penulisan sejarah). Sedangkan pendekatan dan kerangka teori yang digunakan adalah pendekatan historis (mendeskripsikan peristiwa yang terjadi pada masa lampau) dan teori continuity and change (kesinambungan dan perubahan) yang dinyatakan oleh Zamakhsayari Dhofier. Dari penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut, (1) Muhammad Faqih Maskumambang adalah pemangku Pondok Pesantren Maskumambang pada tahun 1907-1937 M. Beliau anak ke 4 dari pasangan Abdul Jabbar dan Nyai Nursimah. Beliau dilahirkan pada 1857 M dan wafat pada tahun 1937 M diusia 80 tahun. (2) Muhammad bin Abdul Wahhab adalah salah satu tokoh pembaharu Islam. Lahir di Nejed pada tahun 1703 M dan meninggal pada tahun 1793 M. Ayahnya, Abdul Wahhab adalah seorang ulama besar. Beliau terkenal dengan semboyan kembali pada Aquran dan Hadis. (3) Sikap awal dari Muhammad Faqih Maskumambang terhadap pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab adalah menolaknya. Hal ini dikarenakan beliau membaca buku Fajrul Sodiq. Akan tetapi setelah membaca buku Ammar Faqih, akhirnya pemikirannya berubah. Hal ini dibuktikan dengan menunjuk Ammar Faqih yang lebih cenderung kepada paham wahabi sebagai penerus kepemimpinan Pondok Pesantren Maskumambang

    Muhammad Faqih 's Quick Files

    No full text
    The Quick Files feature was discontinued and it’s files were migrated into this Project on March 11, 2022. The file URL’s will still resolve properly, and the Quick Files logs are available in the Project’s Recent Activity

    The 'Ulama' of Iran in the 19th century hagiographical literature

    Full text link
    This study is concerned with the biographies of the Shi'i 'ulama'in Iran during the 19th century, who played a major role in the emergence of the Shi'i hierocracy as religious executors of state affairs. Chapter I: provides an overview of the relations between state and 'Ulamd' in the Safavid period and traces the development of usuli doctrine as the dominant school of ShT'i fiqh (jurisprudence). Chapters II, III and IV: focus on the lives and works of three groups of the mujtahids divided according to their generation. The first generation comprises the students of Bihbihani, who were concerned primarly with the consolidation of the Usuli school. The second generation was responsible for the formulation of the concept of wildyat al-faqih. Finally the third generation emphasised the concept of the role of the marja' al taqlid, thus paving the way for the mujtahids to intervene in affairs of state

    Muhammad Faqih 's Quick Files

    No full text
    The Quick Files feature was discontinued and it’s files were migrated into this Project on March 11, 2022. The file URL’s will still resolve properly, and the Quick Files logs are available in the Project’s Recent Activity

    ANALISIS KONSEP WILAYATUL FAQIH DALAM KETATANEGARAAN IRAN

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan menganalisa konsep Wilayatul Faqih yang diimplementasikan oleh negara Iran sebagai sistem politik dan ketatanegaraannya. Adapun metode yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan. Hasil pembahasan menyimpulkan bahwa munculnya Pertama, sistem Wilayatul Faqih disebabkan masyarakat Iran yang bercita-cita akan kepimipinan Imamah dan melepaskan diri dari sistem pemerintahan sekuler pada masa Pahlevi. Kedua, sistem Wilayatul Faqih meletakkan otoritas hukum tertinggi pada wali faqih atau ulama yang berperan sebagai pengatur segala arah kebijakan di Iran. Ketiga, meskipun wilayatul faqih berbasis theologi politik syiah, namun tetap memakai sistem demokrasi yaitu pemilihan lansung oleh rakyat

    A critical analysis of Christian responses to Islamic claims about the work of the Prophet Muhammad, ‘the Messenger of God’.

    Full text link
    The aims of this study are to analyse critically the different Christian responses to the Islamic understanding of the work of Muhammad. Chapter one consists a short introduction leading to an appraisal of Muhammad which incorporates historical, hagiographal and Quranic source material, and in the light of relevant Christian and Muslim scholarship. The second chapter presents a summary critical analysis of Muhammad in Christian theological perspective, from 661 A.D. to modern times. Chapter three presents a critique of Christian responses to the Muslim allegations that the text of the Bible has been infected with corruption; and that Muhammad's advent and status are foretold in the unadulterated' scriptures, and in the Gospel of Barnabas. Chapter four examines the theological significance of the work of Muhammad for Christians. Thus, Jesus and Muhammad are critically assessed and contrasted in order to ascertain the importance, for Christians, of the Muslim claims in respect of Muhammad as ’the messenger of God’. Chapter five provides a critical evaluation of the various Christian responses to Muhammad. It is argued that many of the said responses have been entangled in myths and misperceptions which have severely distorted the true account of Muhammad's work. Consequently, many Christians have failed to appreciate the divine legitimacy of Muhammad's call to prophethood. Further, it is argued that Christians should accept that Muhammad is a genuine prophet, and the messenger of God. However, Muhammad's use of the power-structure in order to maintain Islam is in sharp contrast to Jesus’ decision to face the consequences of his ministry passively through faith in God. Accordingly, orthodox Christian belief in the passion, death and resurrection of Jesus provides another dimension to prophethood, where the messenger and the message become one, an identification which finds no parallel in Islam, and which, in the nature of the case, cannot find a parallel

    Pioneers of Library Movement in Pakistan

    Full text link
    The paper aims to describe in brief the contribution of seven leaders of Pakistan librarianship, viz. K.B. Khalifa M. Asadullah, Prof. Dr. Abdul Moid, Dr. Abdus Subuh Qasimi, Muhammad Shafi, Fazal Elahi, Khawaja Nur Elahi and S. V. Hussain. The early library developments are given for better understanding of the role of these leaders

    Metode Penentuan Awal Bulan Qamariyah Syeikh Muhammad Faqih Bin Abdul Jabbar Al-Maskumambangi

    No full text
    Metode penentuan awal bulan qamariah dalam ilmu falak digunakan untuk menentukan jatuhnya awal bulan qamariah. Secara fundamental terdapat dua aliran yang muncul tentang metode penentuan awal bulan qamariyah yaitu : metode hisab dan metode rukyat dengan dasar yang oleh masing-masing aliran diyakini kebenarannya. Di pulau Jawa, dinamika perkembangan ilmu falak cukup pesat dengan munculnya tokoh-tokoh falak dengan karya-karyanya yang menjadi pelopor ilmu falak di Indonesia. Dari penelusuran penulis ada seorang ahli falak yang merupakan ulama besar dan fatwa beliau diikuti banyak orang, khususnya di jawa Timur, yaitu Syeikh Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar al-Maskumambangi yang secara runtutan nasab merupakan keturunan dari salah satu Wali Songo yaitu Sunan Giri. Sebagai seorang tokoh ahli falak, Syeikh Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar al-Maskumambangi menyusun sebuah kitab falak yang berjudul almandzumah ad-daliyah fi awail al-asyhur al-qamariyah Kitab tersebut membahas tentang penentuan awal bulan qamariah. Penentuan awal bulan Qamariyah merupakan elemen penting dalam tubuh islam karena di dalamnya membahas permasalahan yang berhubungan dengan peribadatan orang islam. Kitab ini memiliki metode sendiri dalam penentuan awal bulan qamariah, sehingga muncul persoalan tentang apa metode yang digunakan oleh Syeikh Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar al-Maskumambangi dalam menentukan awal bulan qamariah, mencakup metode yang digunakan di dalamnya, kelebihan metode dan kekurangannya. Serta turut serta menambah khazanah keilmuan khususnya di dalam disiplin ilmu falak. Rumusan Masalah yaitu : bagaimana metode yang digunakan Syeikh Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar dalam menentukan awal bulan Qamariyah yang terdapat dalam kitab ?al mandzumah ad daliyah fi awaili al-asyhuri alqamariyah?? dan Apa kelebihan dan kekurangan metode kitab ?al mandzumah ad daliyah fi awaili al-asyhuri al-qamariyah?nya Syeikh Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar dalam menentukan awal bulan Qamariyah? Dari hasil analisa penulis, terdapat beberapa kesimpulan mengenai metode hisab yang terdapat pada kitab al-mandzumah ad-daliyah fi awail al-asyhur alqamariyah karya Syeikh Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar al- Maskuambang yaitu: Metode hisab yang digunakan oleh Syeikh Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar al-Maskumambangi dalam kitab al-mandzumah addaliyah fi awail al-asyhur al-qamariyah termasuk metode hisab istilahi yang perhitungannya bisa dilakukan dengan cara yang cepat dan sederhana. Metode perhitungan dalam kitab al-mandzumah ad-daliyah fi awail al-asyhur alqamariyah ini Perhitungan yang pertama adalah dengan membagi tahun yang dicari dengan bilangan 30 apabila sisa dari pembagian tersebut adalah salah satu angka : 2, 5, 7, 10, 13, 15, 18, 21, 24, 26, atau 29 maka tahun yang dicari adalah tahun kabisat, apabila sisa hasil pembagiannya bukan angka-angka di atas maka tahun yang dicari adalah tahun basithah. Perhitungan yang kedua dengan cara tahun yang dicari dikurangi 1 kemudian dibagi 30, hasil pembagiannya dikali 5, dari sisa pembagian dicari jumlah tahun tahun kabisat dan basitah, yang kabisat dikali 5 dan yang basitah dikali 4, hasilnya dijumlahkan dengan hasil pembagian yang dikali 5, hasilnya ditambah 5 dan dibagi 7, sisanya adalah hari jatuhnya awal bulan qamariah. Hisab ini termasuk metode hisab istilahi, yaitu metode hisab yang perhitungannya hanya memperhitungakan perjalanan rata-rata bulan sehingga tidak bisa dijadikan sebagai pedoman untuk perhitungan dalam hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah. Kelebihan kitab ini adalah perhitungannya masih sangat sederhana dan mudah dipelajari untuk orang-orang yang baru belajar ilmu falak. Hisab ini termasuk dalam kriteria hisab aritmatik yang pada praktiknya bisa diterapkan dalam pembuatan kalender sepanjang masa untuk keperluan sipil dan adminstrasi. Sedangkan kekurangan kitab ini yaitu belum membahas tentang koreksi atau ta?dil sehingga perhitungannya masih bersifat sangat umum dan belum akurat

    Intellectuals and political power in social movements : the parallel paths of Fadlallah and Hizbullah

    No full text
    This article examines the intellectual impact of Ayatollah Muhammad Hussein Fadlallah (1935–2010) on Hizbullah's political behaviour. Many depicted Fadlallah as the ‘spiritual guide’ and ‘oracle’ of Hizbullah, while others accentuated his socio-political independence and the potential he represented as an ‘alternative’ to Hizbullah and Iran. This study argues that Fadlallah directly influenced Hizbullah's political worldviews, but the Islamic movement's socialisation in Lebanon, its dependence on Iran and its war with Israel have led it to pursue a separate path from Fadlallah. But despite the separation, the Ayatollah shared a common world vision with Hizbullah and the Islamic Republic, and would not have formed an alternative. The article is divided into two sections. The first examines the socio-political origins of Fadlallah and Hizbullah as an intellectual and a political movement, respectively, and conceptualises the discursive and political fields that motivate the behaviour of the two actors. The second section assesses the impact of Fadlallah's ideas on Hizbullah by focusing on three main themes: (1) Islamic liberation and resistance against injustice; (2) the Islamic state and Lebanon; and (3) Wilayat al-Faqih and Islamic Iran.Peer reviewe
    corecore