116 research outputs found

    ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN PADA BALAI PENGOBATAN UMUM DI PUSKESMAS KOTA PADANG TAHUN 2017

    Get PDF
    Abstrak Salah satu upaya dalam pembangunan kesehatan adalah peningkatan mutu pelayanan. Puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan primer. Tujuan penelitian ini menganalisis faktor yang berhubungan dengan mutu pelayanan kesehatan pada balai pengobatan umum di Puskesmas Kota Padang. Penelitian menggunakan desain kombinasi pendekatan kuantitatif pada 108 pasien balai pengobatan umum (Bp umum) di Puskesmas Kota Padang dan kualitatif pada 26 orang informan. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden menyatakan mutu pelayanan kesehatan baik. Analisis bivariat menunjukkan dimensi bukti fisik, kehandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati berhubungan dengan mutu pelayanan kesehatan ( p < 0.05). Hasil analisis multivariat menunjukkan dimensi empati merupakan faktor yang paling mempengaruhi mutu pelayanan. Hasil penelitian kualitatif diketahui faktor fasilitas fisik, perhatian petugas, dan waktu tunggu, masih perlu ditingkatkan. Penelitian ini menyarankan agar Puskesmas memaksimalkan faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan yang masih belum memenuhi harapan pasien dengan membuat sistem pelayanan yang efisien dan koordinasi dengan pihak internal maupun eksternal (stakeholder). Kata Kunci : Dimensi mutu, puskesmas, pelayanan Abstract One of the efforts in health development is the improvement of service quality of Public Health Center as the primary health services. The purpose of this study was to analyze factors related to the quality of health services at polyclinic of Padang public health centers. This study was conducted using a combination design of quantitative approaches in 108 patients of polyclinic at PHC in Padang and qualitative on 26 informants. The results showed that the majority of respondents stated the quality of health services was good. Bivariate analysis showed that the dimensions of tangible, reliability, responsiveness, assurance, and empathy were related to the quality of health services (p <0.05). The result of multivariate analysis showed that empathy was that most influencing factor in quality of service. The results of qualitative research noted that the factors of facilities / infrastructure, officer attention, and waiting time still need to be improved. It suggests that Public Health Center should improve the factors that influence service quality that still do not meet patient expectation by making efficient service system and coordination with internal and external stakeholders. Keywords: quality dimension, Public Health Center, servic

    Tinjauan Kebutuhan Tenaga PMIK di Puskesmas Mauk Menggunakan Analisis Beban Kerja Kesehatan (ABK-KES)

    Get PDF
    Sumber Daya Manusia (SDM) yang cukup dan berkualitas sangat penting dalam sebuah organisasi. Oleh karena itu, analisis beban kerja diperlukan untuk menentukan kebutuhan tenaga kerja yang seimbang dengan beban kerja dalam suatu unit pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah kebutuhan tenaga rekam medis di Puskesmas Mauk, Kabupaten Tangerang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan pengukuran waktu menggunakan stopwatch. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode Analisis Beban Kerja Kesehatan (ABK-Kes). Hasilnya menunjukkan bahwa Puskesmas Mauk membutuhkan 7 tenaga rekam medis, sementara saat ini hanya memiliki 5 orang. Dengan demikian, diperlukan penambahan 2 tenaga kerja. Waktu Kerja Tersedia (WKT) di Puskesmas Mauk sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku, namun terdapat kekurangan dalam penempatan berkas dan pendistribusian rekam medis. Beberapa tugas memiliki kesamaan dalam waktu yang digunakan untuk perhitungan Standar Beban Kerja (SBK). Oleh karena itu, perhitungan SDM penting dilakukan agar tenaga kerja yang tersedia dapat menjalankan tugas dan fungsi dengan efektif dan efisien

    GAMBARAN TINGKAT KEPUASAN PENGGUNA SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PUSKESMAS PASIR NANGKA TIGARAKSA TAHUN 2022

    Get PDF
    Berdasarkan peraturan mentri kesehatan tentang pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat (UKM) dan upaya kesehatan perseorangan (UKP) tingkat pertama, dengan tujuan untuk mencapai drajat kesatan setinggi-tingginya di tiap wilayah kerja. Untuk mencapai derajat kesehatan Puskesmas juga berperan dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan akurat, cepat dan tepat sehingga sangat diperlukan sistem yang mampu menjamin ketersediaan data secara akurat,tepat dan tepat. Sistem informasi manajemen puskesmas adalah adalah aplikasi manajemen yang fungsi utamanya sebagi alat dalam pencatatan, pengolahan dan penyajian informasi semua data pasien dari awal melakukan pendaftaran hingga pelporan. Salah satu bentuk  penerapan SIMPUS yaitu melakukan evaluasi  dengan mengukur tingakat kepuasan petugas menggunakan metode EUCS yang diniali dari 5 komponen content, format, accuracy, timeliness, ease of use. Meto;de penelitian yang digunakan adalah deskriptif menggunakan analisis kuantitatif dengan angket dan survey. Sampel penelitian sebanyak 35 petugas menggunakan sampel jenuh dan data diolah menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukan jumlah responden puas terhadap content (45,7%), accuracy (42,9%), format (71,4%),timelines (57,1%) easy of use (57,1%) pada variabel content dan accuracy paling banyak menyatakan tidak puas. Maka dapat disimpulkan bahwa belum sepenuhnya pengguna puas terhadap SIMPUS terutama pada variabel accuracy dan content. Disarankan untuk meningkatkan kualitas sistem informasi manajemen puskesmas khususnya pada variabel content dan accuracy dengan mengadakan evaluasi kepuasan pengguna secara berkala dan menyediakan jaringan yang optimal

    TINJAUAN TAHAP-TAHAP PELAKSANAAN LAPORAN BULANAN DATA KESAKITAN (LB1) LITERATURE REVIEW

    Get PDF
    Laporan Bulanan Data Kesakitan (LB1) adalah laporan bulanan yang berisikan pendistribusi kasus penyakit menurut kelompok umur serta kasus baru ataupun kasus lama di puskesmas. Dengan adanya data dan informasi yang diperoleh dari laporan bulanan data kesakitan, maka dinas kesehatan dapat melakukan perencanaan, pemantauan, dan evaluasi pelaksanaan kegiatan program yang ada di puskesmas. Data dan informasi di dalam laporan tersebut dapat bernilai apabila dilaksanakan secara tepat dan akurat. Selain itu, data dan informasi tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan keakuratannya karena keputusan yang tepat waktu tidak akan berguna apabila keputusan tersebut tidak sesuai untuk menangani masalah kesehatan yang sedang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan laporan bulanan data kesakitan dengan menggunakan metode literature review. Berdasarkan hasil tinjauan literature review terhadap 4 jurnal terkait pelaksanaan laporan bulanan data kesakitan didapatkan proses pengumpulan LB1 bersumber dari register kunjungan pasien, buku register pelayanan dalam gedung dan luar gedung dan pelayanan puskesmas berupa berkas rekam medis sedangkan pustu berupa lembar nota pembayaran. Proses pengolahan LB1 dibuat secara komputerisasi dengan menggunakan microsoft excel dan masih terdapat pengolahan secara manual, Proses penyajian LB1 disajikan dalam bentuk tabel secara manual, tabel excel dan grafik excel, Proses pengiriman LB1 dalam bentuk soft copy dan hard copy tetapi masih terdapat puskesmas yang mengalami keterlambatan dalam pengiriman

    ANALISIS SALURAN DISTRIBUSI PRODUK TIMAH DI KEMENTERIAN ESDM RI

    Get PDF
    DIAN NINGRAT PUTERI. 2009. 8223097595. ANALYSIS OF DISTRIBUTION CHANNELS TIN PRODUCT IN MINISTRY OF ENERGY AND MINERAL RESOURCES. Study Program of DIII Marketing of Management. Department of Management. Faculty of Economic. State University of Jakarta. This scientific research aims to describe about distribution channels tin product in Ministry of ESDM and analyzing distribution channels tin product. The method used in scientific work is a descriptive analysis of the data collection method through literature study method and field study interview and observation. Ministry of ESDM is the Government of Indonesia that be expert for the mining and energy. This Ministry is headed by Minister of Energy and Mineral Resources, who has since October 19, 2011 held by Jero Wacik. In the future leadership, Ministry of ESDM has a experience significant for the development. For the research, we can see that tin product from Indonesia, it can affect the world prices. Particularly, Bangka Belitung island is the main for producing tin. The amount of tin content in this area is the largest than another regions in Indonesia. Beside that, the tin product mining process has a several stages. And while, the distribution is carried out through the port in Singapore for export, if domestic implemented directly and though a warehouse in Jakarta. Tin buyer has several type and it can make the group on the direct users (end user) as a factory or industrial solder and tin plate industry and wholesalers (traders). From the observation result by author, Ministry of ESDM has an own policy in the management of distribution channels tin product. It is according to UU NO.4 Tahun 2009. And Ministry of ESDM has a sub marketing and supervision, it must supervise for the distribution channels and marketing mineral resources

    PPROGRAM LEGISLASI DAERAH DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH INISIATIF DPRD DI KABUPATEN SUKOHARJO

    Get PDF
    Yurista Puteri Margarani, E0009377. 2013. PROGRAM LEGISLASI DAERAH DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH INISIATIF DPRD DI KABUPATEN SUKOHARJO. Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui program legislasi daerah dan implementasinya dalam pembentukan peraturan daerah inisiatif DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Kabupaten Sukoharjo dan permasalahan yang dihadapi serta solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris yang bersifat deskriptif, yaitu penulis berkeinginan untuk memberikan gambaran maupun pemaparan mengenai obyek penelitian. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer bersumber dari para anggota DPRD yang menangani bidang legislasi dan para pejabat sekretariat DPRD terkait lainnya. Data sekunder bersumber dari bahan-bahan kepustakaan, peraturan perundangundangan, jurnal, makalah, artikel, dan bahan dari internet serta sumber lain yang terkait. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara secara langsung dengan nara sumber dan pengamatan di lapangan, serta dilengkapi dengan studi kepustakaan untuk memperoleh landasan teori yang berkaitan dengan penelitian. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dihasilkan simpulan, yaitu program legislasi daerah merupakan instrumen DPRD Kabupaten Sukoharjo dalam melakukan penyusunan rancangan peraturan daerah secara terpadu dan sistematis bersama dengan pemerintah daerah yang ditetapkan dengan keputusan DPRD Kabupaten Sukoharjo. Implementasi pembentukan peraturan daerah inisiatif DPRD di Kabupaten Sukoharjo sudah mendasarkan pada berlakunya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 53 Tahun 2011 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah dan dapat berjalan secara efektif yang dapat ditunjukkan dari peningkatan jumlah rancangan peraturan daerah inisiatif DPRD Kabupaten Sukoharjo yang dapat mengimbangi pemerintah daerah. Dalam pembentukan peraturan daerah inisiatif DPRD di Kabupaten Sukoharjo masih dijumpai beberapa hambatan yang lebih bersifat internal dan pada prinsipnya semua hambatan tersebut telah dapat diatasi. Kata Kunci : program legislasi daerah, pembentukan peraturan daerah, inisiatif DPRD Yurista Puteri Margarani, E0009377. 2013. LOCAL LEGISLATION PROGRAM AND IMPLEMENTATION IN ESTABLISHMENT OF THE LOCAL REGULATION INITIATIVE DPRD IN THE DISTRICT SUKOHARJO. Faculty of Law, Sebelas Maret University. This research aims to determine the local legislation program and its implementation in formation regional regulations initiative of DPRD (Council of Regional People's Representative) regency Sukoharjo and problems faced as well as solutions for the overcome these problems. This research constitute legal research empirical that is descriptive, namely the author desirous to provide a snapshot nor the exposure of regarding object of research. Types of data used is primary data and secondary data. Primary data sourced of the members of the DPRD who handles field of legislation and the officials secretariat DPRD other related. The secondary data sourced from materials-materials bibliography, regulations legislation, journals, papers, articles, and materials from internet as well as other sources that related. Collection techniques data used namely interviews directly with informant and observation in the field, as well as fitted with bibliography study for obtain grounding theories related with the research. Based on the results research and discussion is generated conclusions, namely legislation program regions was the instrument of DPRD regency Sukoharjo in doing the drafting draft of regional regulations in an integrated and systematically along with the local government who stipulated with decision of DPRD regency Sukoharjo. Implementation formation local regulations the initiative DPRD in regency Sukoharjo already basing on the enactment of Regulation of the Minister of Home Affairs Number 53 Year 2011 on Establishment Products Regional Legal and can be walked be effectively which can be shown from increased number draft of regional regulations initiative of DPRD regency Sukoharjo that can offset local governments. Within the establishment local regulations the initiative DPRD in regency Sukoharjo are still encountered some of the barriers who more is internal and in principle all of these obstacles has been can be overcome. Keywords: local legislation program, formation local regulations, the initiative DPR

    EVALUASI EFEKTIVITAS PEMANFAATAN TEMPAT TIDUR DI RUMAH SAKIT: STUDI GRAFIK BARBER JOHNSON DAN EKSPLORASI MODEL INTERNASIONAL

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas dan efisiensi pemanfaatan tempat tidur di rumah sakit menggunakan metode Grafik Barber Johnson (GBJ), serta mengeksplorasi model evaluasi efisiensi lain yang telah diterapkan secara internasional. Permasalahan utama yang diangkat adalah belum optimalnya pemanfaatan tempat tidur di rumah sakit, yang ditunjukkan oleh ketidakseimbangan indikator efisiensi meskipun beberapa rumah sakit mencatat tingkat hunian tinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran. Analisis kuantitatif dilakukan terhadap data sekunder dari 21 rumah sakit mitra Universitas Esa Unggul pada periode 2022–2024, sedangkan analisis kualitatif dilakukan melalui kajian literatur terkait metode evaluasi efisiensi rumah sakit. Data kuantitatif dianalisis menggunakan regresi sederhana dengan teknik bootstrap untuk memastikan validitas hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh rumah sakit belum mencapai standar efisiensi ideal GBJ. Tidak ada yang berada dalam zona efisien, meskipun beberapa mencatat nilai Bed Occupancy Rate (BOR) tinggi. Ketidakseimbangan antar indikator seperti Turn Over Interval (TOI) dan Average Length of Stay (AvLOS) menjadi penyebab utama grafik menunjukkan ketidakefisienan. Selain itu, penelitian menemukan bahwa metode modern seperti Fuzzy Network DEA (FNDEA), DEA-EEP, dan pendekatan berbasis Artificial Intelligence (AI) memiliki keunggulan dalam aspek prediktif, preskriptif, serta integrasi data. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa GBJ tetap relevan sebagai alat monitoring dasar, namun perlu dilengkapi atau digantikan oleh metode evaluasi berbasis data yang lebih adaptif dan kontekstual. Dengan demikian, rumah sakit dapat meningkatkan kualitas manajemen layanan, mengidentifikasi efisiensi secara unit, memproyeksikan kebutuhan, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti

    Tinjauan Ketepatan Pengkodean Penyakit pada Rekam Medis Pasien Rawat Inap Peserta BPJS di Rumah Sakit Angkatan Udara dr. M. Hassan Toto Bogor Tahun 2021

    Get PDF
    ABSTRACTThe accuracy of disease coding is very important for hospitals because it facilitates the presentation of information data and as a determinant of treatment costs. Disease coding was performed by a coder with the ICD-10 and ICD-9-CM manuals. The purpose of this study was to determine the percentage accuracy of coding for inpatients BPJS participants at the Air Force Hospital dr. M. Hassan Toto Bogor Tahun 2021. This study used a descriptive method with a quantitative analysis approach, with 90 samples taken using a simple random sampling technique. From the 90 samples, it was found that the accuracy of coding for the disease of inpatients BPJS participants at the Air Force Hospital dr. M. Hassan Toto Bogor Tahun 2021 as many as 65 (72.2%) and 25 (27.8%) are incorrect. In identifying obstacles in the implementation of coding, the researchers used the 5M element. The inaccuracy of coding disease based on the Man element is due to the lack of officer resources and the coder officers who are less thorough. From the Material element, the doctor's writing was not legible and the medical record file was late in returning from the treatment room. And from the Method element because the SPO regarding the use of the 5th character does not yet exist and the coding officer tends to use rote.  Keyword                              : the accuracy of disease coding, BPJS, element 5MABSTRAKKetepatan pengkodean penyakit sangat penting bagi rumah sakit karena memudahkan dalam penyajian data informasi dan sebagai penentu biaya perawatan. Pengkodean penyakit dilakukan oleh koder dengan buku pedoman ICD-10 dan ICD-9-CM. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase ketepatan pengkodean penyakit pasien rawat inap peserta BPJS di Rumah Sakit Angkatan Udara dr. M. Hassan Toto Bogor Tahun 2021. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan analisa kuantitatif, dengan pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling sebanyak 90 sampel. Dari 90 sampel tersebut didapatkan hasil bahwa ketepatan pengkodean penyakit pasien rawat inap peserta BPJS di Rumah Sakit Angkatan Udara dr. M. Hassan Toto Bogor Tahun 2021 sebanyak 65 (72,2%) dan 25 (27,8%) tidak tepat. Dalam mengidentifikasi hambatan dalam pelaksanaan pengkodean, peneliti menggunakan unsur 5M. Ketidaktepatan pengkodean penyakit berdasarkan unsur Man karena kurangnya SDM PMIK dan petugas koder yang kurang teliti. Dari unsur Material karena tulisan dokter yang tidak terbaca dan terlambatnya pengembalian berkas rekam medis dari ruang perawatan. Dan dari unsur Method karena SPO tentang penggunaan karakter ke-5 belum ada dan petugas koding yang cenderung menggunakan hafalan.  Kata Kunci                         : Ketepatan pengkodean penyakit, BPJS, unsur 5

    FAKTOR PENYEBAB BPJS NONAKTIF DI PUSKESMAS KECAMATAN TANAH ABANG

    Get PDF
    Kepesertaan BPJS Nonaktif yaitu peserta yang proses pendaftarannya terhambat dan pelayanan menjadi berbayar secara mandiri. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi faktor penyebab kepesertaan nonaktif di Puskesmas Kecamatan Tanah Abang. Metode penelitian dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan menggunakan instrumen pedoman wawancara. Hasil penelitian terdapat peserta nonaktif sebesar 72 peserta. Dari 72 sampel terdapat 30 peserta nonaktif karena premi (41,67%), 14 peserta nonaktif karena keluar kemauan sendiri (19,45%), 3 peserta nonaktif karena anak PPU &gt;21 Tahun (4,17%), 11 peserta nonaktif karena tidak ditanggung (15,28%), 14 peserta nonaktif karena data ganda (19,45%). Dari jumlah peserta BPJS yang mendaftar untuk berobat di puskesmas, terdapat peserta yang status kepesertaanya nonaktif sebanyak 72 peserta, status kepesertaan yang nonaktif karena premi menjadi salah satu yang tertinggi. Penyebab status kepesertaan nonaktif paling tinggi disebabkan oleh Nonaktif karena premi, hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya terkena phk dan pendapatan ekonominya berkurang. Sehingga dapat mengakibatkan tertundanya pelayanan peserta dan menghambat proses pendaftaran. Saran sesuai dengan visi misi BPJS Kesehatan untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan kepada peserta, bpjs kesehatan harus bisa meningkatan mutu pelayanan, terutama dalam bidang informasi teknologi yang dapat dibuat untuk mengingatkan peserta bpjs kesehatan terutama yang status kepesertaannya nonaktif dengan menggunakan SMS Blast, E-mail, Whatsapp, Telepon dsb
    corecore