1,721,003 research outputs found

    PENGARUH SUHU DAN KELEMBABAN ATMOSFER TERHADAP KETAMPAKAN FAJAR SHADIQ

    Get PDF
    Penelitian lapangan ini membahas ketampakan fajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya lewat pendekatan fiqih-astronomis yang disajikan dalam bentuk deskriptif-analitis. Fajar shadiq tampak sebagai cahaya putih yang menyebar di sepanjang ufuk karena hamburan sinar Matahari oleh atmosfer Bumi. Fajar shadiq tampak sebagai cahaya berwarna biru, merah atau orange. Ada korelasi antara posisi astronomis Matahari dan penentuan waktu fajar. Penelitian, berkesimpulan bahwa ada pengaruh suhu terhadap sudut posisi Matahari. Kedua variabel tersebut memiliki hubungan berbanding lurus. Tegasnya, jika besarnya suhu atmosfer itu kecil (menurun) maka cahaya fajar akan tampak pada sudut depresi yang rendah, seperti suhu 18.1° Celcius, fajar shadiq tampak pada posisi Matahari -18°02’08’’. Sebaliknya, jika suhu atmosfer itu besar (meningkat) maka cahaya fajar akan terlihat pada sudut posisi Matahari yang tinggi pula, seperti pada suhu 18.9° Celcius maka fajar shadiq tampak pada sudut Matahari -20°52’29’’. Adapun nilai rata-rata (mean) posisi Matahari dengan merujuk pada keseluruhan data pengamatan, maka diperoleh hasil sudut depresi Matahari -18°39’29.4’’. Penelitian ini menguatkan teori bahwa astronomical twilight yang bersesuaian dengan fenomena fajar astronomi mulai terbit ketika Matahari berada pada kedudukan sudut depresi 18o di bawah horizon

    Studi analisis awal waktu shalat shubuh (kajian atas relevansi nilai ketinggian matahari terhadap kemunculan fajar shadiq)

    Get PDF
    Penentuan awal waktu shalat merupakan hal urgen dan fundamental dalam pelaksanaan ibadah shalat. Walaupun begitu, sampai saat ini tidak begitu banyak perhatian terhadapnya jika dibandingkan dengan persoalan penentuan awal bulan Qamariyah yang setiap tahunnya selalu menjadi kontroversi di kalangan masyarakat. Dalam penetapan awal waktu shalat posisi matahari merupakan faktor utama yang harus diperhatikan, akibat yang ditimbulkan adalah setiap beda hari dan beda tempat maka waktu shalat juga akan berbeda pula. Perbedaan tersebut juga didapati dalam penetapan awal waktu shalat Shubuh, dalam hal ini ada beberapa pendapat mengenai ketinggian matahari yang digunakan, walaupun dalam aspek fiqh nya tidak ada ditemukan kontroversi. Ketinggian matahari merupakan salah satu unsur utama dalam perhitungannya, sehingga dalam hal ini harus ada kepastian. Beberapa kriteria ditawarkan oleh beberapa ahlinya, mulai dari -140 - -200. Pada intinya dalam perhitungan waktu shalat Shubuh, ketinggian matahari tersebut merupakan posisi dimana matahari tersebut berada. Lebih spesifik lagi, pada ketinggian tersebut cahaya matahari akan mulai tampak di ufuk bagian timur, hal ini sesuai dengan yang dijelaskan dalam al-Qur’an dan hadis yang kemudian disepakati oleh para ulama’. Berangkat dari gambaran tersebut penulis mencoba menganalisis konsep fajar shadiq yang dipahami dalam perspektif fiqh dengan kriteria ketinggian matahari dalam perspektif astronomi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat explanatory, karena penelitian ini tidak hanya mendiskripsikan fakta-fakta yang di lapangan, akan tetapi juga melakukan explorasi terkait dengan ketinggian matahari, yang selanjutnya digunakan untuk menjelaskan hubungan antara dua variabel (nilai ketinggian matahari dengan kemunculan fajar shadiq). Data-data tersebut kemudian dianalisis dengan metode deskriptif analitis dan fenomenologi. Waktu subuh dalam perspektif fiqh ditentukan ketika munculnya fajar shadiq yakni fajar yang berasal dari cahaya matahari yang dihamburkan oleh udara atau atmosfer. Selanjutnya dalam perspektif astronomi waktu Shubuh ditetapkan dengan ketinggian matahari yang dijadikan unsur utama dalam perhitungannya. Dari beberapa pengamatan baik yang dilakukan oleh penulis sendiri atau beberapa ahli falak yang berkompeten dalam hal ini menunjukan bahwa fajar shadiq muncul di ufuk timur pada saat matahari berada pada ketinggian -180 - -140. Dalam ilmu astronomi ketinggian dinamakan dengan fajar astronomi, yang memang selama ini disamakan dengan fajar shadiq. Ada beberapa yang menyebutkan bahwa pada ketinggian -200 fajar shadiq juga dimungkinkan muncul untuk wilayah Indonesia dengan alasan bahwasanya Indonesia berada pada garis khatulistiwa yang memiliki atmosfer yang lebih tebal sehingga bisa menghamburkan cahaya matahari lebih tinggi. Kata kunci : Shalat, Shubuh, Fajar Shadiq, dan Ketinggian Matahari

    Studi pemikiran tokoh ilmu falak kontemporer Indonesia tentang awal fajar shadiq dan implikasinya terhadap penentuan awal waktu salat shubuh

    Get PDF
    Polemik persoalan waktu Shubuh telah terjadi sejak lama di Indonesia. Polemik tersebut muncul pada tahun 2009, dalam majalah Qiblati yang menyatakan bahwa waktu Shubuh di Indonesia terlalu pagi. Kemudian muncul berbagai tanggapan baik dari kalangan ilmuwan, ulama dan masyarakat awam. Akibatnya, banyak kalangan yang menjadi resah karena dikhawatirkan melaksanakan salat Shubuh sebelum memasuki waktunya. Peran tokoh Ilmu Falak dalam hal ini sangat penting untuk memberikan penjelasan dan keterangan mengenai fenomena awal fajar shadiq dan implikasinya terhadap penentuan awal waktu salat Shubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami pemikiran dan analisis pemikiran tokoh Ilmu Falak Kontemporer Indonesia tentang awal fajar shadiq dan implikasinya terhadap penentuan awal waktu salat Shubuh. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (library research). Metode analisis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumentasi dan wawancara. Sumber primernya berupa buku, jurnal, karya ilmiah, artikel dan dokumen penting lainnya karya para tokoh dan hasil wawancara dengan para tokoh. Sumber sekundernya adalah berupa buku, jurnal, karya ilmiah, artikel dan dokumen lainnya yang masih relavan dengan pembahasan. Penemuan hasil penelitian ini adalah: Pertama, para tokoh Ilmu Falak dalam memaknai fenomena fajar shadiq mempunyai pemikiran yang sama. Kedua, para tokoh memberikan usulan yang berbeda terkait nilai standar sudut depression matahari sebagai awal fajar shadiq. Namun, para tokoh memiliki penafsiran yang berbeda dalam memahami fenomena fajar shadiq secara kuantitatif, yakni standar sudut depression matahari sebagai penentuan awal fajar shadiq. Hal ini dikarenakan belum ada standar baku untuk mendefinisikan awal fajar shadiq. ABSTRACT: The polemics over the issue of Fajr time have been going on for a long time in Indonesia. The polemic emerged in 2009, in Qiblati magazine, which stated that the time of Fajr in Indonesia was too early. Then there were various responses from scientists, scholars and ordinary people. As a result, many people became restless because they were worried about praying Fajr before the time. The role of Falak Science figures in this case is very important to provide explanations and information about the phenomenon of the beginning of fajar shadiq and its implications for determining the beginning of the morning prayer time. This study aims to find out and understand the thoughts and analysis of Indonesian Contemporary Falak Science figures about the beginning of Fajr Shadiq and its implications for determining the beginning of Fajr prayer time. This type of research is library research. The method of analysis of this research is qualitative research. The data collection methods used are documentation studies and interviews. Primary sources are books, journals, scientific works, articles and other important documents by the figures and the results of interviews with the figures. Secondary sources are books, journals, scientific works, articles and other documents that are still relevant to the discussion. The findings of this research are: First, the Falak Science figures in interpreting the phenomenon of fajar shadiq have the same thoughts. Second, the figures give different proposals related to the standard value of the angle of sun depression as the beginning of fajar shadiq. However, the figures have different interpretations in understanding the phenomenon of fajar shadiq quantitatively, namely the standard angle of solar depression as the determination of the beginning of fajar shadiq. This is because there is no standardized standard to define the beginning of fajr shadiq

    Pengaruh polusi cahaya terhadap kemunculan fajar shadiq : studi kasus di Masalima Kabupaten Sumenep dan Mangkang Kulon Kota Semarang

    Get PDF
    Fenomena kemunculan fajar shadiq adalah peristiwa yang sangat penting bagi umat muslim, karena fenomena ini merupakan pertanda bagi masuknya waktu bagi ibadah salat subuh. Salah satu cara untuk mengetahui kemunculan fajar shadiq yaitu dengan mengukur perubahan kecerahan langit di ufuk timur dengan menggunakan alat Sky Quality Meter (SQM). Dalam pemilihan lokasi untuk melaksanaakan penelitian terhadap fajar shadiq dibutuhkan tempat yang terhindar dari masalah polusi cahaya, dikarenakan polusi ini sudah menjadi menjadi permasalahan secara global, khususnya dalam bidang astronomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh polusi cahaya terhadap kemunculan fajar shadiq yang dilaksanakan di dua lokasi yang berbeda yaitu Desa Masalima, Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep dan Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, serta megetahui bagaimana kondisi polusi cahaya di dua lokasi tersebut. Jenis penelitian yang digunakan adalah penlitian Kualitatif dengan pendekatan lapangan (Field Research) yaitu melalui observasi untuk melakukan pengumpulan data dari sumber di lapangan secara langsung. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode observasi secara monitoring dan dokumentasi. Sumber data primer merupakan hasil observasi selama penelitian. Sementara data sekunder didapat melalui penelitian terdahulu maupun tulisan-tulisan berupa buku, jural ataupun artikel-artikel ilmiah yang berkaitan dengan kajian penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masalah polusi cahaya didua lokasi yang dijadikan tempat penelitian mempunyai kondisi yang berbeda. Masalah polusi cahaya di Kelurahan Mangkang Kulon, Kota Semarang menyebabkan kecerahan langit hingga 17,08 mpdbp, sedangkan kecerahan langit untuk wilayah Desa Masalima Kabupaten Sumenep menunujukan angka 22,01 mpdbp. Dari data yang berupa angka tersebut menunujukan bahwa masalah polusi cahaya di wilayah Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Kota semarang lebih parah dibandingkang dengan wilayah Desa Masalima, Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep. Masalah polusi cahaya yang menyebabkan langit bertambah cerah juga mempengaruhi kemunculan fajar shadiq. Karena cerahnya langit yang disebakan oleh polusi cahaya menghambat sensor dari alat SQM LU-DL, sehingga cahaya dari awal kemunculan fajar sahdiq yang redup tidak dapat langsung terdeteksi

    FENOMENA FAJAR SHADIQ PENANDA AWAL WAKTU SHALAT SUBUH, TERBIT MATAHARI, DAN AWAL WAKTU DHUHA

    Get PDF
    awal waktu shalat yang telah disebutkan dalam nash al-Quran dan al-Hadits ternyata masih bersifat ijtihadi. Di era sekarang yang sudah canggih, berbagai pendekatan keilmuan diikutsertakan menjadi pisau analisis dalam menafsirkan fenomena yang telah disebutkan oleh Al-Quran. Selain penafsiran fiqh para imam madzhab yang memberi penafsiran tentang tanda awal waktu shalat khususnya shalat subuh. Waktu sholat subuh di Indonesia didasarkan paradigma fajar shadiq terjadi apabila matahari berada pada ketinggian -20º. Namun pada tahun 2010 yang lalu adanya sebuah majalah Qiblati cetakan kota Malang, awal waktu shalat subuh dipersoalkan terkait dengan waktunya yang dikatakan terlalu cepat

    STUDI ANALISIS FAJAR KAZIB DAN FAJAR SHADIQ (Awal Waktu Shubuh di Kabupaten Bone)

    Get PDF
    AbstrakPenentuan awal waktu shubuh merupakan hal yang sangat urgen dan fenomemal dikalangan dunia akademik serta di kementrian Agama, sampai saat ini tidak begitu banyak perhatian terhadap persoalan ini di bandingkan dengan dengan persoalan penetuan awal bulan Qamariyah yang setiap tahun tahun menjadi kontroversi. Dalam penetapan awal waktu shalat posisi matahari merupakan hal yang mesti di perhatikan, akibat yang ditimbulkan adalah setiap beda hari dan beda tempat maka waktu shalat juga akan berbeda pula. Ketinggian matahari merupakan salah satu unsur utama dalam perhitunganya sehingga dalam hal ini harus ada kepastian, beberapa kriteria yang ditawarkan adalah mulai dari -14 derajat sampai -20 derajat    Kata Kunci : Analisis, fajar kazib, fajar shadiq, waktu shubuh,

    Dinamika kemunculan fajar shadiq di langit terang dan langit agak gelap : studi kasus di Desa Kutorejo dan Desa Ngrejeng Kabupaten Tuban

    Get PDF
    Akhir-akhir ini jadwal waktu shalat subuh banyak diperbincangkan oleh kalangan umat islam yang dianggap terlalu cepat pelaksanaanya. Penentuan waktu subuh ketinggian matahari menjadi patokan terhadap kemunculan cahaya fajar shadiq. Penelitian mengenai ketinggian matahari di Indonesia yang dilakukan oleh beberapa umat islam kurang memperhatikan polusi cahaya dari lingkungan penelitian, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Kementrian Agama melihat kondisi langit sekitar. Penelitian ini dirumuskan dalam dua rumusan masalah, yaitu: 1). Bagaimana Kemunculan Fajar Shadiq di Langit Terang dan Langit Agak Gelap, dan 2). Bagaimana Dinamika perubahan Fajar shadiq di Langit sangat Terang dan Langit Agak Gelap. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai bahan rujukan dan pertimbangan dalam memutuskan permasalahan. Selain itu permasalahan ini juga memberikan wawasan luas mengenai penentuan awal waktu subuh di lokasi yang berbeda dengan kondisi kegelapan langit yang berbeda. Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian kualitatif yang bersifat field research. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah data ketinggian matahari di dua lokasi yang didapatkan secara bersamaan selama satu fase bulan. Sedangkan data sekunder yang digunakan berbentuk jurnal, artikel, dan buku. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di dua lokasi dengan waktu yang bersamaan selama satu fase bulan penuh ditemukan: bahwasannya awal waktu subuh memiliki perbedaan yang signifikan, hal ini terjadi karena polusi lokasi penelitian yang berbeda. Adapun data lokasi pertama muncul pada ketinggian -12 dan lokasi kedua -20 dengan kondisi langit cerah tanpa mendung dan fase bulan. Adapun data ketika mendung dan fase bulan matahari berada pada ketinggian -8 dan -15, adanya gangguan bulan ketinggian -11 dan -15, sedangkan mendung tanpa bulan matahari pada ketinggian -10 dan -17 derajat dibawah ufuk

    PENENTUAN WAKTU SUBUH MENGGUNAKAN ALL SKY CAMERA DAN METODE MOVING AVERAGE DI KOTA MEDAN

    Get PDF
    Waktu salat Subuh dimulai ketika terbit fajar shadiq dan berakhir sampai terbit Matahari. Di Indonesia banyak ahli falak yang menetapkan kriteria ketinggian Matahari untuk menentukan awal waktu salat Subuh dengan ketinggian yang bervariatif, mulai dari -18 derajat sampai -20 derajat di bawah ufuk bahkan pada ketinggian -13 derajat di bawah ufuk. Kementerian Agama RI menetapkan ketinggian Matahari untuk waktu salat Subuh pada -20 derajat di bawah ufuk. Dengan adanya perbedaan dalam menetapkan ketinggian Matahari di bawah ufuk, para ahli falak maupun astronomi banyak melakukan pengamatan ulang terhadap kemunculan fajar shadiq. Salah satunya melakukan pengamatan fajar shadiq menggunakan All Sky Camera dengan metode moving average dan pendekatan Gradien. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan (field Research) melalui observasi untuk mendapatkan data dilapangan secara langsung. Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapatkan kemunculan fajar shadiq pada saat ketinggian Matahari pada -15 derajat di bawah ufuk.Â

    Kriteria fajar Sadiq perspektif ilmu falak

    Get PDF
    The main problem of this research for To find out the prophet’s instructions about the dawn of sadiq?Sub problem how to from the perspective of astronomy? To find out the dawn of sadiq according to astronomy. This type of research with the nature of “library research” with syar’i, philosophical, and astronomical approaches.The results of this study that time for the dawn prayer entered the category .of down shadiq, namely the second dawn until the end of the dark night because the prophet Muhammad used to do the.dawn prayer ending until sunrise. Some mass organizations concluded that the criteria for fajar shadiq and some astronomy lecturers were different, starting with the nahdatul ulama who determined that -18 degrees were originally .-20 degrees, this is also used by the ministry of religion, which is -18 degrees, while the view of astronomy lecturers is based on the same movement. Conducted on research in jakarta and yogyakarta from the results of these studies they found -18 to -18.This study focuses on the criteria for the dawn of sadiq and the beginning of the dawn prayer time. This research is in the form of literature that can be influnced by several comples factors, therefore it is hoped that astronomy academics and competent instituons can conduct contemporary research in accordance with modern science as a whole at the point where there may be differences in the results of fajar shadi’s criteria.ABSTRAKPokok masalah penelitian ini Untuk Mengetahui Petunjuk Nabi tentang Fajar Shadiq? Sub masalah bagaimana Untuk Mengetahui Fajar Shadiq menurut Para ahli falak? Jenis penelitian ini adalah Penelitian kualitatif yang bersifat penelitian kepustakaan “library research”dengan pendekatan syar”i, Filosofis, dan Asronomi. Hasil penelitian ini bahwa waktu shalat subuh masuk ketika fajar shadiq yakni fajar kedua sampai berakhirnya gelap malam karena Nabi saw biasa mengerjakan shalat subuh berakhir sampai terbit. Beberapa Ormas menyimpulkan bahwa kriteria fajar shadiq dan beberapa dosen falak itu berbeda di mulai dari Nahdatul Ulama yang menentapkan bahwa -18 derajat, begitu pula dengan Muhammadiyah menetapkan -18 derajat yang awalnya itu -20 derajat, hal ini juga di gunakan kementerian Agama yaitu -18 derajat, sedangkan pandangan dosen falak berdasarkan gerakan yang di lakukan pada penelitian di Jakarta dan Jogja dari hasil penelitian tersebut mereka menemukan -18 sampai -18.Penelitian ini berfokus pada kriteria fajar shadiq dan awal waktu sholat subuh. Penelitian ini dalam bentuk kepustakaan yang dapat di pengaruhi oleh beberapa faktor yang kompleks, oleh karena itu diharapkan para akademis falak dan lembaga yang berkompeten dapat melakukan riset kontenporer sesuai dengan sains modern secara menyeluruh dititik kemungkinan terdapat perbedaan hasil kriteria fajar shadiq

    Penggunaan OpenCV pada Python untuk mendeteksi fajar shadiq di Kabupaten Kampar, Riau

    Get PDF
    Awal Subuh di Indonesia banyak dibahas para ahli falak semenjak Syekh Mamduh bin Farhan Al-Buhairi mengkritisnya melalui majalah Qiblati. Mamduh mengatakan waktu Subuh yang selama ini dijalankan di Indonesia terlalu cepat. Studi ini ditujukan untuk membahas (1) Bagaimana proses dan efekvifitas deteksi cahaya fajar shadiq dilakukan menggunakan OpenCV di kabupaten Kampar, Riau? (2) Apa hasil analisis secara fikih dan astronomi terhadap deteksi fajar menggunakan OpenCV?. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan. Untuk analisis data menggunakan analisis nilai piksel citra fajar dalam ruang warna HSV. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) OpenCV mendeteksi cahaya fajar dengan cara mengubah gambar ke dalam ruang warna HSV, membuat video timelapse, dan mencari rata-rata pikselnya. Setelah itu, dibuat grafik yang menunjukkan kenaikan nilai piksel dari data yang diambil. Hasil analisis fajar di kabupaten Kampar menggunakan OpenCV adalah fajar bisa dideteksi saat ketinggian matahari pada -12,6°. OpenCV bisa digunakan untuk mendeteksi fajar dengan tiga sumber data berbeda. Setiap alat dan teknik pengambilan gambar yang digunakan untuk pengamatan akan menghasilkan simpulan yang berbeda. (2) Penggunaan OpenCV untuk mengolah citra fajar boleh dilakukan menurut fikih sebagai upaya ijtihad untuk memudahkan beribadah. Secara astronomi penggunaannya sudah layak untuk menganalisis citra fajar. ABSTRACT: Early Dawn in Indonesia has been widely discussed by astronomers since Sheikh Mamduh bin Farhan Al-Buhairi criticized it through Qiblati magazine. Mamduh said that the Fajr time which had been carried out in Indonesia so far was too fast. This study is intended to discuss (1) How is the process and effect of the detection of shadiq fajr light using OpenCV in Kampar district, Riau? (2) What are the results of fiqh and astronomical analysis of dawn detection using OpenCV?. This research is a quantitative research. The data collection technique used is observation. For data analysis using the analysis of the pixel value of the dawn image in the HSV color space. The results showed that (1) OpenCV detects the dawn light by converting the image into the HSV color space, making a timelapse video, and finding the average pixel. After that, a graph is created showing the increase in the pixel value of the captured data. The result of dawn analysis in Kampar district using OpenCV is that dawn can detect the sun's height at -12.6°. OpenCV is quite effective at detecting dawn with three different data sources. Each photo taking and technique used to observe will produce different conclusions. (2) The use of OpenCV to process dawn images may be carried out according to fiqh as an effort of ijtihad to facilitate worship. Astronomically its usefulness is feasible for analyzing dawn images
    corecore