18 research outputs found
ANALISA PERILAKU DAN RUANG ARSITEKTUR PADA BANGUNAN PASAR BUAH KOTA LHOKSEUMAWE
Abstrak Perilaku arsitektur adalah aktivitas manusia baik yang dapat diamati langsung maupun tidak yang terjadi dalam suatu bangunan atau lingkungan sekitar, sedangkan ruang adalah sesuatu kesatuan yang terbatas atau tidak terbatas sama dengan sebuah tempat yang kosong yang di persiapkan dengan kapasitas tertentu untuk di wadahi barang. Perilaku dan ruang arsitektur yang dimaksud pada penelitian ini ialah tentang bagaimana aktivitas yang terjadi sehari-hari antar pedagang dan pembeli yang ada di Pasar Buah tersebut. Pasar ini terletak di jalan Pasar Buah, desa Pusong Baru, kecamatan Banda Sakti, kota Lhokseumawe. Permasalahan pada penelitian ini adalah tentang penggunaan ruang yang tidak maksimal di mana ruang tersebut tidak digunakan dengan baik oleh pedagang. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui factor yang membuat pedagang tidak menempati ruang dalam, dan bagaimana kondisi fisik pasar tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan analisa langsung di lapangan selama dua minggu. Konsepnya dilakukan dalam bentuk analisa aktivitas masing-masing blok dan analisa fisik tentang letak, cahaya, warna, penghawaan, sirkulasi, material dan dimensi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang bagian dalam dari pasar buah tidak terpakai karena faktor pembeli yang sedikit karena sepi pembeli maka pedagang lebih banyak menempati ruang luar supaya pembeli yang datang banyak. Selain itu faktor fisik bangunan bagian dalam yang kurang cahaya dan penghawaan sehingga membuat pedagang tidak nyaman menempati ruang bagian dalam. Kata Kunci: Perilaku, Ruang, Aktivitas Abstract Architectural behavior is a human activity that can be observed directly or indirectly that occurs in a building or the surrounding environment, while space is a limited or unlimited unit equal to an empty place that is prepared with a certain capacity to contain goods. The architectural behavior and space referred to in this study is about how the daily activities occur between traders and buyers at the Fruit Market. This market is located on Jalan Pasar Buah, Pusong Baru village, Banda Sakti sub-district, Lhokseumawe city. The problem in this study is about the use of space that is not optimal where the space is not used properly by traders. The purpose of this study is to determine the factors that prevent traders from occupying internal space, and how the physical conditions of the market are. This study used a qualitative descriptive method with direct field analysis for two weeks. The concept is carried out in the form of activity analysis of each block and physical analysis of location, light, color, ventilation, circulation, material and dimensions. Based on the results of the study, it shows that the inner space of the fruit market is not used because of the lack of buyers because there are fewer buyers, so the traders occupy more of the outer space so that more buyers come. In addition, the physical factors of the inner building are lacking in light and air, so that it makes traders uncomfortable occupying the inner space. Keywords: Behavior, Space, Activities
EVALUASI KONDISI KOMPONEN FISIK, NON-FISIK SERTA PASAR PRASARANA BANGUNAN PASAR TERHADAP UPAYA RELOKASI PASAR SAYUR DAN BUAH PEUNAYONG KOTA BANDA ACEH
ABSTRAKKawasan Peunayong merupakan kawasan perdagangan dan jasa, juga sebagai kawasan wisata heritage yang berada di Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh. Sejak diresmikan pada tahun 2007 hingga saat ini Pasar Sayur dan Buah Peunayong tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Pedagang hanya mau berjualan di lantai satu, dan di sepanjang koridor jalan RA. Kartini, sedangkan lantai dua dan tiga tidak ditempati. Dalam menyikapi permasalahan tersebut, Pemerintah Kota Banda Aceh berupaya melakukan relokasi Pasar Peunayong ke pasar terpadu di kawasan Lampulo, yang saat ini sedang dibangun. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab pedagang tidak menempati gedung pasar Sayur dan Buah Peunayong, mengidentifikasi persepsi pembeli terhadap upaya relokasi Pasar Sayur dan Buah Peunayong, dan mengevaluasi komponen fisik, non fisik serta prasarana Pasar Sayur dan Buah Peunayong. Penelitian ini menggunakan metode kualititatif melalui observasi dan wawancara, serta metode kuantitatif melalui penyebaran kuesioner. Responden dalam penelitian ini adalah pedagang sebanyak 70 orang, dan pembeli sebanyak 100 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan pedagang tidak menempati gedung Pasar Sayur dan Buah Peunayong adalah pembeli tidak mau naik ke lantai 2, tidak adanya aksesibilitas yang baik bagi pedagang dan pembeli, adanya kendala sirkulasi barang, dan jumlah kios dan los tidak cukup menampung seluruh pedagang. Persepsi pembeli terhadap upaya relokasi pasar Sayur dan Buah Peunayong adalah, dibangun gedung pasar baru yang dapat menampung seluruh pedagang, memiliki fasilitas umum yang lengkap, dan desain yang mengikuti SOP Kemendag. Evaluasi bangunan Pasar Sayur dan Buah Peunayong pada komponen fisik, umumnya tidak sesuai peraturan yang berlaku dengan tingkat kesesuaian sebesar 36,84%. Komponen non fisik, menunjukkan tempat berdagang di lantai 2 sebanyak 92 lapak, tidak sanggup menampung 185 pedagang yang berjualan di jalan RA. Kartini dan area sekitarnya. Prasarana pasar, pada umumnya sesuai peraturan yang berlaku dengan tingkat kesesuaian sebesar 73,33%.Kata Kunci: Pasar, tradisional, fisik, non fisik, prasarana, relokasi, kesalahan desai
Evaluasi kondisi komponen fisik, non-fisik serta prasarana bangunan pasar terhadap upaya relokasi pasar sayur dan buah Peunayong kota Banda Aceh
xiii,110hlm.:ilus,;tab,;30c
Evaluasi Komponen Fisik Bangunan Pasar Sayur Dan Buah Peunayong Kota Banda Aceh Terhadap Upaya Relokasi
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor penyebab pedagang tidak menempati gedung
Pasar Sayur dan Buah Peunayong, mengidentifikasi persepsi pembeli terhadap upaya relokasi Pasar
Sayur dan Buah Peunayong, dan mengevaluasi komponen fisik, non fisik serta prasarana Pasar
Sayur dan Buah Peunayong. Menggunakan metode kualitatif, dengan melakukan survei pada 70
orang pedagang dan 100 orang pembeli. Hasil penelitian menunjukkan faktor-faktor yang
menyebabkan pedagang tidak menempati gedung Pasar Sayur dan Buah Peunayong adalah pembeli
tidak mau naik ke lantai 2, tidak adanya aksesibilitas yang baik bagi pedagang dan pembeli, adanya
kendala sirkulasi barang, jumlah kios dan los tidak cukup menampung seluruh pedagang. Persepsi
pembeli terhadap upaya relokasi Pasar Sayur dan Buah Peunayong adalah dibangun gedung pasar
baru yang dapat menampung seluruh pedagang, memiliki fasilitas umum yang lengkap, dan desain
mengikuti SOP Kemendag. Untuk evaluasi bangunan Pasar Sayur dan Buah Peunayong pada
komponen fisik, umumnya tidak sesuai peraturan yang berlaku dengan tingkat kesesuaian sebesar
36,84%
Evaluasi Komponen Fisik Bangunan Pasar Sayur Dan Buah Peunayong Kota Banda Aceh Terhadap Upaya Relokasi
KECERDASAN BUDAYA DAN PENYESUAIAN LINTAS BUDAYA PADA EXPATRIATE
Economic globalization has made companies become multinational , public and workforce with multi- cultural backgrounds . Its important for individual have of capital competency ( knowledge and skills) to face the challenges of globalization by learning a cross-cultural adjustment for global worker, cultural intelligence can explain how individuals have capability to adaptation to multi- cultural environment . This article purpose to conceptual describe the relationship between the cultural intelligence and cross-cultural adjustment related to worker in a global culture or cross-cultural.Economic globalization has made companies become multinational , public and workforce with multi- cultural backgrounds . Its important for individual have of capital competency ( knowledge and skills) to face the challenges of globalization by learning a cross-cultural adjustment for global worker, cultural intelligence can explain how individuals have capability to adaptation to multi- cultural environment . This article purpose to conceptual describe the relationship between the cultural intelligence and cross-cultural adjustment related to worker in a global culture or cross-cultural
The Development of Mathematics Teaching Materials through Geogebra Software to Improve Learning Independence
Geogebra is software designed to solve geometry, calculus and algebra material as well as applications for designing spaces and buildings. The purpose of this research is to produce teaching material products through Geogebra software in mathematics courses that can be utilized in learning. The stages in this research include: (1) the stage of developing teaching material products, (2) the testing phase of teaching materials products (3) the analysis of increasing students independence. Product development and level of practicability of teaching materials is validated by material experts, media experts, lecturers as users, and trials of teaching material products. Qualitative data is used as a consideration in teaching material products to make revisions while quantitative data is analysed by statistical tests to see an increase in student self-independence. Based on the test results of experts teaching materials developed for trials in the field. Experts recommendations about teaching materials are appropriate for use and revision. After the revision is issued, try the field that involving students, the results of the test items about the reliability level of 0.734 so that teaching materials could be used for research instrumentts. The average value and standard deviation of the normalized gain values for the experimental class are 0.812 and 0.139 while the control class are 0.731 and 0.198. The analysis result of the questionnaire is that there is an increase in self-independence in study of the students in Architecture Study Program, Engineering Faculty, Malikussaleh University
Analisis Teritorialitas Ruang Hunian pada Permukiman Padat di Kota Lhokseumawe: Studi Kasus Kampung Jawa Lama
Kampung Jawa Lama is one of the villages in the city of Lhokseumawe, which has a dense population. An unbalanced comparison between the availability of urban space and the increasing number of residents impacts community space activities. This research study is focused on the old Javanese village settlements, which have ambiguity between the boundaries of space for activities such as private space and public space in everyday life in society. It can be seen from community activities that use public space for personal gain. The spatial boundaries in the old Javanese village occur because they grow and develop irregularly, resulting in social interaction factors and community activities that dominate the space. This research uses a descriptive qualitative survey method that is exploratory with a rationalistic approach. The characteristics of territoriality can be seen from the influence of the components in the space, where the function has its role in the emergence of activities. Community agreements with supporting elements for activities such as activities around residential spaces, routine activities, and scheduled activities also form territories that occur in the settlements of Kampung Jawa Lama. In addition, the activities that occur cause a change in the function of the public space used for personal interests by residents in the neighborhood around the house.Kampung jawa lama merupakan salah satu kampung yang terdapat di kota lhokseumawe yang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang padat. Perbandingan yang tidak seimbang antara ketersediaan ruang perkotaan dengan jumlah penghuninya yang semakin bertambah, berdampak pada aktivitas ruang hunian masyarakat. Kajian penelitian ini difokuskan pada Permukiman kampung jawa lama yang memiliki ketidakjelasan antara batas ruang untuk berkegiatan seperti ruang privat dan ruang publik dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Bisa dilihat dari kegiatan masyarakat yang memanfaatkan ruang publik untuk kepentingan pribadi. Pada kenyataannya batas-batas ruang yang terdapat di kampung jawa lama tersebut terjadi karena tumbuh dan berkembang secara tidak teratur yang mengakibatkan faktor interaksi sosial dan aktivitas masyarakat yang mendominasi ruang tersebut. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan metode survey yang bersifat eksploratif dengan pendekatan rasionalistik. Karakteristik teritorialitas ruang dapat dilihat dari pengaruh komponen di dalam ruang, dimana fungsinya memiliki peran tersendiri sehingga timbulnya aktivitas di dalam ruang. Teritori yang terjadi di permukiman Kampung Jawa Lama juga dibentuk oleh kesepakatan masyarakat dengan elemen-elemen pendukung untuk beraktivitas seperti kegiatan di sekitar ruang hunian, kegiatan rutin maupun kegiatan yang diagendakan. Selain itu, aktivitas yang terjadi menyebabkan adanya perubahan fungsi dari ruang publik yang dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi oleh penghuni di lingkungan sekitar rumah
COMMUNITY EMPOWERMENT IN BUILDING SUSTAINABLE AND DIGNIFIED COMMUNITY EDUCATION
The importance of community education is increasingly recognized as essential for fostering social cohesion, lifelong learning, and sustainable development, especially in marginalized communities. However, many existing initiatives fail to achieve long-term sustainability and do not adequately respect the cultural dignity of the communities they serve. This community empowerment project aimed to develop a sustainable and dignified community education model that is deeply rooted in the cultural and social contexts of the community. The project employed a Participatory Action Research (PAR) method, involving community members as co-researchers in identifying educational needs, developing strategies, and implementing solutions. The collaborative approach ensured that the educational programs were culturally relevant, addressing the specific challenges and aspirations of the community in Lhokseumawe. Local educational committees were established, and community members were trained in leadership roles to ensure the sustainability of the initiative. The results demonstrated significant improvements in community engagement, educational outcomes, and social cohesion. Community members took active roles in the educational process, resulting in a stronger sense of ownership and responsibility. The integration of cultural heritage into the curriculum enhanced the relevance and effectiveness of education, while the establishment of sustainable structures ensured the long-term impact of the project. The findings underscore the importance of participatory, culturally responsive approaches in building sustainable and dignified community education systems. In conclusion, this project provides a successful model for future initiatives, highlighting the need for continued community involvement, cultural relevance, and sustainability in educational development efforts
