1,720,970 research outputs found
Manajemen Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif Dan Menyenangkan (PAKEM) Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Di MIN Simpang IV Upah Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang
Pokok permasalahan pada penelitian ini berfokus pada manajemen Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) dalam meningkatkan mutu pendidikan di MIN Simpang IV Upah Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang yang berkaitan dengan perencanaan pelaksanaan dan evaluasi yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran di madrasah.
Temuan penelitian ini ada tiga, yaitu:
1. Perencanaan yang dilakukan guru ketika akan melakukan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM) antara lain menyusun program tahunan, program semester, menyusun silabus, dan membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Pembuatan program tahunan dan program semester menggunakan analisis alokasi waktu yang ditetapkan dan hasil pemetaan kompetensi dasar per unit. Program tahunan dan program semester tersebut meliputi menghitung hari dan jam efektif selama kurun waktu tertentu, menjelaskan kegiatan guru dan siswa, mencatat mata pelajaran yang akan diajarkan dan menyusun alokasi waktu yang tersedia selama kurun waktu tertentu. Dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guru menganalisis materi yang akan diajarkan untuk menentukan metode dan sarana belajar sehingga perencanaan pelaksanaan pembelajaran mengacu pada Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM).
2. Pelaksanaan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) di MIN Simpang IV Upah Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang, terdiri dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Metode penyampaian mengacu pada penggunaan multi metode artinya dalam Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) tidak hanya menggunakan satu metode tetapi bervariasi antara satu metode dengan metode yang lain. Dengan menggunakan multi metode ini diharapkan siswa dapat termotivasi untuk lebih aktif dan kreatif dalam belajar.
3. Evaluasi yang dilakukan dalam Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) di MIN Simpang IV Upah Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang dilakukan dalam 2 bentuk, yaitu evaluasi dalam proses dan evaluasi pada hasil. Yakni ketika siswa melakukan kolaborasi dalam kelompok, caranya dengan mengamati keaktifan siswa dalam kelompoknya, sedangkan penilaian hasil dilakukan dengan melakukan pengamatan dan observasi terhadap kelompok yang melakukan presentasi di depan kelas dan nilai hasil belajar
Disaffected Coattail Effect: The Election Anomaly in Local Political Party in Aceh, Indonesia
This research explains how the Aceh Party, which supported Prabowo-Gibran in the 2024 presidential election, not only won the election in Aceh but also managed to secure more seats in the local parliament. This vote gain seemed anomalous when other supporting parties saw the negative coattail effect of the national political contestation. Aceh, a region synonymous with political Islam, became a vote bank for the Anies-Muhaimin candidate pair, who were associated with Islamism. As a result, the party supporting them secured a significant vote share in the Aceh legislative elections. The coattail effect also affected the parties supporting the other unpopular candidate pairs, Prabowo-Gibran and Ganjar-Mahfud, which experienced a decrease in the number of votes in the legislative elections. Diverting from the patterns, the Aceh Party supported Prabowo-Gibran yet managed to secure more seats in the parliament. It was the only political party supporting an unpopular candidate yet secured more seats in the parliament. This article analyses the factors that boosted the Aceh Party's votes in the 2024 elections. Based on the literature study, this article shows that the Aceh Party's victory was inseparable from the campaign strategy shift in local political contestation. Despite supporting unpopular candidates, the Aceh Party was able to translate ideology into a demarcation between national political interests in Jakarta and regional political interests in Aceh. The emphasis on cultural and local political identity has strengthened the Aceh Party's political base
PREPARASI KATUN TEKSTIL SELF CLEANING BERBASIS SENYAWA NANOPORI TiO2 - SiO2 MELALUI PROSES PELAPISAN DENGAN METODA DIP-SPIN COATING
Latar Belakang
Titanium dioksida (TiO2) atau dikenal dengan titania merupakan senyawa
oksida semikonduktor yang bersifat fotokatalis. Dengan penyinaran ultra violet
dan visible, senyawa ini dapat mengalami fotoeksitasi elektron dari pita valensi
ke pita konduksi dan menghasilkan suatu radikal bebas yang berperan dalam
proses degradasi senyawa organik. TiO2 memiliki beberapa keunggulan
diantaranya non toksik, inert dan stabil, sehingga senyawa TiO2 lebih banyak
diaplikasikan dalam berbagai bidang, salah satu diantaranya sebagai material
self cleaning. Self-cleaning dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk
membersihkan diri sendiri. Ketertarikan aplikasi TiO2 sebagai material self
cleaning telah banyak menarik perhatian masyarakat dunia pada saat ini. Fakta
ini diawali dari keberhasilan aplikasi nanopartikel TiO2 secara komersial untuk
kaca swabersih pada gedung-gedung bertingkat tinggi [1]. Penggunaan TiO2
sebagai pelapis pada tekstil dapat meningkatkan kualitas tekstil, sehingga
diperoleh tekstil multi fungsi dengan sifat anti mikroba, anti kerut, tekstil dengan
proteksi UV dan tekstil self cleaning, sehingga dapat meningkatkan nilai
ekonomis dan klinis dari tekstil. Disamping itu TiO2 bersifat non toksik sehingga
jika dilapisi pada tekstil akan lebih aman terhadap kulit manusia [2].
Katun tekstil multifungsi dipreparasikan melalui pelapisan TiO2-SiO2 pada
serat tekstil yang berfungsi untuk melindungi dan mengurangi konsentrat
polutan organik yang berbahaya pada permukaan tekstil seperti debu, senyawa
bewarna, dan mikroorganisme [2]. Polutan organik sangat mudah untuk
menempel pada katun tekstil diakrenakan sifat katun tekstil yang menyerap
hampir 27 kali berat katun tersebut [4]. Penerapan sistem fotokatalisis TiO2
merupakan solusi alternatif dan sangat tepat dalam mengatasi permasalahan
pada industri tekstil, disamping murah, efektifitas katalisisnya cukup baik, dan
praktis, sehingga dapat mengurangi polutan yang berbahaya pada lingkungan.
Rilda et,al (2014), telah berhasil meningkatkan performa dari TiO2
melalui modifikasi dengan penambahan kitosan untuk mendapatkan komposit
TiO2-SiO2 yang bersifat nanopori. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa
2
propertiesnya dipengaruhi oleh rasio komposisi Ti : Si dan kitosan dari komposit
TiO2-SiO2 dengan luas permukaan besar yaitu 308.6 m2/g, ukuran partikel
berukuran nano 10 nm, dan rata rata diameter pori sebesar 29.7 Å. Rilda dkk
(2013) melaporkan bahwa peranan kitosan dalam sintesis TiO2-SiO2 dapat
meningkatkan jumlah SiO2 yang terdispersi pada TiO2, sehingga TiO2-SiO2
yang didapat memiliki struktur kristal anatase yang lebih stabil terhadap suhu
tinggi. Rani dan Vivi (2014), melaporkan bahwa katun tekstil yang dilapisi
dengan nanopori TiO2-SiO2 dapat menginhibisi pertumbuhan bakteri Eschericia
coli dan Stapylococus aureus. Berdasarkan penelitian tedahulu, maka pada
penelitian ini ditujukan untuk menyiapkan katun tekstil bersifat self cleaning
terhadap polutan zat warna metilen biru melalui pelapisan TiO2-SiO2 pada
permukaan katun tekstil
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
Tafsir Hikayati as A Resistance Hermeneutics: Hikayat Prang Sabi’s Contribution to Holy War Literature and Quranic Studies
This article will elaborate on the model of interpreting the Quran in Hikayat Prang Sabi. Guided by the text by Teungku Chiek Pante Kulu, the author analyses the data by Hans Georg Gadamer’s ideas about “Preunderstanding”, “Fusion of Horizons”, and “Historical Consciousness”. This research shows that Hikayat Prang Sabi has introduced a unique model of interpreting the Quran by adopting hikayat instruments in Acehnese culture. The author identifies this interpretation model in this research with Tafsir Hikayati. Tafsir Hikayati has contributed to constructing the Acehnese’s resistance to Dutch colonialism by bringing together two very influential spirits in Acehnese society: religion and culture. Through Tafsir Hikayati, Teungku Chiek Pante Kulu constructs a “Resistance Hermeneutics” by interpreting Islamic religious texts (the Quran) using the Acehnese cultural language (hikayat). Combining these two spirits has helped the Acehnese people accept and capture the message of resistance conveyed by Hikayat Prang Sabi so that it succeeded in awakening the spirit of ideological struggle against Dutch colonialism.[Artikel ini mengelaborasi model penafsiran Al-Quran dalam Hikayat Prang Sabi. Dengan berpedoman pada teks karya Teungku Chiek Pante Kulu, penulis menginterpretasi data dengan meminjam gagasan Hans Georg Gadamer tentang “Pra-Pemahaman”, “Perpaduan Horizon (cakrawala)”, dan “Kesadaran (keterpengaruhan) sejarah”. Penelitian ini menunjukkan bahwa Hikayat Prang Sabi telah memperkenalkan model penafsiran Al-Quran yang khas dengan mengadopsi intrumen hikayat dalam kebudayaan Aceh. Dalam penelitian ini, penulis mengidentifikasi model penafsiran tersebut dengan istilah Tafsir Hikayati. Tafsir Hikayati telah berkontribusi dalam mengkontruksi perlawanan orang Aceh terhadap kolonialisme Belanda dengan mempertemukan dua spirit yang sangat berpengaruh dalam masyarakat Aceh: agama dan budaya. Melalui Tafsir Hikayati, Teungku Chiek Pante Kulu mengonstruksi tafsir perlawanan (resistance hermeneutics) dengan melakukan interpretasi teks keagamaan Islam (Al-Quran) menggunakan bahasa kebudayaan (hikayat) yang berkembang di Aceh. Perpaduan dua spirit tersebut telah membantu orang Aceh dalam menerima dan menangkap pesan perlawanan yang disampaikan oleh Hikayat Prang Sabi sehingga berhasil membangkitkan semangat perjuangan ideologis dalam melawan penjajahan Belanda.
- …
