1,721,004 research outputs found

    Teori dan Aplikasi Pengumpulan Data Kesehatan; Termasuk Biostatistika Dasar

    No full text
    vi, 170 hlm, : il. ; 16 x 23 cm

    Spatial Analysis for Enhancing the Use of Health Data Availability from Different Sources to Help the Decision-Making Process

    Full text link
    Spatial analysis in public health has become a common method used by researchers to understand the distribution of public health aspects related to the surrounding environment. It can also be used to analyze individual information in the form of a dot and the location or line of aggregated information in a specific area of study. Another benefit is the possibility of using different data sources to be analyzed in one statistical model analysis, as long as the identification area is sufficiently clear as a key variable. Spatial analysis can show an object's distribution on a locational map and explain the distribution type, whether random, cluster, or uniform. The statistical analysis model can also develop different risk factors for each region of the research area. A specific model sometimes explains how to treat health issues differently in a specific location and can be used as an alternative approach to dealing with an intervention plan for public health issues based on specific local phenomena

    Editorial

    Full text link

    Hubungan Perilaku Merokok Dengan Penyalahgunaan Narkoba Pada Remaja Pria Di Indonesia (Analisis Data SDKI KRR 2017)

    No full text
    ABSTRACT Drug abuse or illegal drugs among teenagers has become a global problem. From 2010 to 2019 it is estimated that the number of drug users worldwide will increase by 22% with the highest rate of drug use being in the group of adolescents aged 18-25 years. In its development, adolescents at this age have a high curiosity and are in a period of searching for identity so they are vulnerable to falling into drug abuse. One of the risk factors for drug abuse is smoking behavior since adolescence. It is known that the proportion of smoking behavior and drug abuse among adolescent boys in Indonesia; the known relationship between smoking behavior with drug abuse in adolescent boys in Indonesia; and it is known the relationship between smoking behavior and drug abuse in adolescent boys in Indonesia after being controlled by covariate variables. This study uses data from the Indonesian Demographic Health Survey for Adolescent Reproductive Health (IDHS) in 2017. The research design is cross-sectional. The research sample is 11,245 respondents. Data analysis using univariate; bivariate with chi-square test; multivariate with logistic regression test.  Of the total respondents, it is known that the number of teenage boys who have used drugs is 4.8% less than those who have never used drugs. The prevalence of male adolescents who smoke is 95.2% more than those who do not smoke. The chi-square test shows the p-value = 0.0001, and male adolescents who smoke have a 23,82 times risk of drug abuse after being controlled by the variables of age and peer influence. There is a significant relationship between smoking behavior and drug abuse in adolescent boys in Indonesia. Variables of age and peer influence become variables that influence the smoking behavior of young men. Therefore, teenagers who smoke have the potential to abuse drugs in the future. Keyword: Smoking, Drugs, Male Adolescent ABSTRAK Penyalahgunaan narkoba atau obat – obatan terlarang di kalangan remaja telah menjadi masalah global. Pada tahun 2010 hingga 2019 diperkirakan jumlah pengguna narkoba di seluruh dunia meningkat sebanyak 22%,  dengan tingkat penggunaan narkoba tertinggi berada pada kelompok remaja  berumur 18 – 25 tahun. Dalam perkembangannya, remaja diusia ini memiliki rasa penasaran yang tinggi dan dalam masa pencarian jati diri sehingga rentan terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba. Salah satu faktor risiko penyebab penyalahgunaan narkoba adalah perilaku merokok sejak usia remaja. Diketahui proporsi perilaku merokok dan penyalahgunaan narkoba pada remaja pria di Indoneisa; diketahui hubungan antara perilaku merokok dengan penyalahgunaan narkoba pada remaja pria di Indonesia; dan diketahui hubungan antara perilaku merokok dengan penyalahgunaan narkoba pada remaja pria di Indonesia setelah dikontrol oleh variabel kovariat. Penelitian ini menggunakan data Survey Demografi Kesehatan Indonesia Kesehatan Repoduksi Remaja (SDKI KRR) tahun 2017. Desain penelitian Cross sectional. Besar sampel dalam penelitian ini sebanyak 11.245 responden. Analisa data menggunakan univariat; bivariat dengan uji chi square; multivariat dengan uni regresi logistik. Dari total responden, diketahui jumlah remaja pria yang pernah menggunakan narkoba sebanyak 4,8% lebih sedikit daripada tidak pernah menggunakan narkoba. Prevalensi remaja pria yang merokok 95,2% lebih banyak daripada yang tidak merokok. Uji chi square menunjukkan nilai p value = 0,0001, dan remaja pria yang merokok memiliki risiko 23,82 kali untuk melakukan penyalahgunaan narkoba setelah dikontrol oleh variabel umur dan pengaruh teman sebaya. Terdapat hubungan bermakna antara perilaku merokok dengan penyalahgunaan narkoba pada remaja pria di Indonesia. Variabel umur dan pengaruh teman sebaya menjadi variabel yang mempengaruhi perilaku merokok remaja pria. Oleh karena itu, remaja yang merokok sangat berpotensi untuk melakukan penyalahgunaan narkoba di kemudian hari.  Kata Kunci: Merokok, Narkoba, Remaja Pri

    Early Sexual Initiation Among Adolescent Girls in Indonesia

    Full text link
    Early sexual initiation is a public health problem and is now common worldwide, especially in developing countries. This can have many negative impacts on female adolescence, so it is very important to do prevention. This study aimed to determine the determinants of early sexual initiation among female adolescence in Indonesia. The subjects of the study were never-married women aged 15 – 24. This research was quantitative using secondary data from the 2017 Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) with a cross-sectional research design. The results of the logistic regression showed that age, education, alcohol consumption, smoking, peer influence, boyfriend ownership, wealth, and media exposure were associated with early sexual initiation. Peer influence (AOR=27,127; p < 0.001) and education (AOR=10,909; p=0.003) are the most dominant factors were associated with early sexual initiation. This study suggests the establishment of a comprehensive reproductive and sexual health (RSH) education mechanism both inside and outside schools; use the media to reach a wider range of youth, and programs to assist parents in optimizing their role in supervising adolescence.Early sexual initiation is a public health problem and is now common worldwide, especially in developing countries. This can have many negative impacts on female adolescence, so it is very important to do prevention. This study aimed to determine the determinants of early sexual initiation among female adolescence in Indonesia. The subjects of the study were never-married women aged 15 – 24. This research was quantitative using secondary data from the 2017 Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) with a cross-sectional research design. The results of the logistic regression showed that age, education, alcohol consumption, smoking, peer influence, boyfriend ownership, wealth, and media exposure were associated with early sexual initiation. Peer influence (AOR=27,127; p < 0.001) and education (AOR=10,909; p=0.003) are the most dominant factors were associated with early sexual initiation. This study suggests the establishment of a comprehensive reproductive and sexual health (RSH) education mechanism both inside and outside schools; use the media to reach a wider range of youth, and programs to assist parents in optimizing their role in supervising adolescenc

    Analisis Penerimaan Sistem Informasi Pencatatan dan Pelaporan Kasus COVID-19 (Aplikasi Silacak Versi 1.2.5) Menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) di UPT Puskesmas Cipadung Kota Bandung

    Full text link
    Salah satu upaya untuk mengendalikan laju COVID-19 ialah dengan memperkuat sistem surveilans di fasilitas kesehatan tingkat dasar. Salah satu poin yang menjadi peran kunci dalam pemutusan rantai penularan COVID-19 adalah kegiatan pelacakan kontak. Kegiatan ini mengharuskan pelacak kontak untuk terus mencatat dan melaporkan kasus. Untuk itu, penggunaan sistem pencatatan dan pelaporan pelacakan kontak (Silacak) menjadi penting dalam menentukan kebijakan yang akan dibuat. Tujuan penelitian ini adalah menelaah penggunaan sistem pencatatan dan pelaporan COVID-19 dengan aplikasi Silacak serta penerimaan pengguna terhadap sistem informasi Silacak di UPT Puskesmas Cipadung Kota Bandung. Penelitian ini merupakan studi kualitatif dengan menggunakan desain studi kasus. Aplikasi Silacak cukup bermanfaat bagi proses pencatatan dan pelaporan COVID-19. Aplikasi ini mudah untuk dipelajari, namun masih perlu dilakukan perbaikan dan pengembangan di beberapa sisi

    Faktor Dominan yang Mempengaruhi Kejadian Malaria di Perdesaan

    Full text link
    KLB malaria selama periode 1998-2003 telah menyerang 15 propinsi yang meliputi 84 desa endemis dengan jumlah penderita 27.000 dengan kematian 368. Hewan besar seperti sapi, kerbau dan kuda adalah merupakan cattle barrier malaria. Hewan tersebut perlu diteliti agar dapat diketahui jenis hewan dan tempat hidup hewan (kandang) terhadap kejadian malaria. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor dominan yang mempengaruhi kejadianmalaria di pedesaan. Jenis penelitian adalah non-intervensi, merupakan analisis lanjut data sekunder yaitu “Riset Kesehatan Dasar 2007”. Subyek yang dianalisis sebanyak 618.593 yang bertempat tinggal di perdesaan. Analisis dilakukan dengan metoda multivariat menggunakan regresi logistik. Ternak dibagi menjadi empat kategori, yaitu unggas (ayam, burung, dan bebek/itik), ternak besar (sapi, kuda, dan kerbau), ternak sedang (babi, domba,dan kambing), danternak kecil (kucing, anjing, dan kelinci). Faktor yang paling dominan mempengaruhi kejadian malaria adalah kepemilikan ‘ternak sedang’ (kambing, babi, dan domba), dengan OR = 0,52 (0,50-0,54). Faktor yang paling dominan mempengaruhi kejadian malaria adalah tidak adanya ‘ternak sedang, yaitu kambing, babi, dan domba.Kata kunci : Ternak, perdesaan, malariaAbstractMalaria outbreak in the period of 1998-2003 was occurred in 15 province including 84 endemic villages with number of cases of 27 000 and deaths of 368. Big cattles such as cow, horse and buffalo have been known as cattle barrier for malaria, while others have not been investigated yet. The objective of this research was to know the dominant factor related to cattle which influenced malaria in village area. The secondary data from ‘Riset Kesehatan Dasar 2007” had been used in this research with total population of 618593 who lived in village area and was analyzed using logistic regression test. Cattle as independent variable was divided into four categories, they were poultry (chicken, bird, and duck), big cattle (cow, horse and buffalo), medium cattle (pig, sheep, and goat), and small cattle (cat, dog, and rabbit). The most dominant factor for protection of malaria was medium cattle (pig, sheep, and, goat) as protective with Odds Ratio of 0.52 (0.50-0.54). The other cattle had Odds Ratios less than 2, although they had p value < 0.05. The medium cattle was the dominant factor influenced malaria in village area, while others did not have effect.Key words : Cattle, village, malari

    Analisis Spasial Pemetaan Prioritas Penanganan Pneumonia pada Balita di Provinsi Jawa Timur Tahun 2022: Spatial Analysis of Mapping Priorities for Handling Pneumonia in Toddlers in East Java Province 2022

    No full text
    Latar belakang: Pneumonia masih menjadi penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada anak. Adapun Provinsi Jawa Timur di tahun 2021 merupakan provinsi dengan penyakit pneumonia balita paling banyak di Indonesia yakni sebanyak 74.071 kasus. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh pengetahuan mengenai penyebaran pneumonia balita di provinsi Jawa Timur tahun 2022 serta menentukan wilayah prioritas penanganan penyakit pneumonia pada balita di provinsi Jawa Timur. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan desain ekologi menggunakan aplikasi Quantum GIS (QGIS) versi 3.22. Hasil: Hasil pemetaan kasus pneumonia balita di Jawa Timur tahun 2022, terdapat dua wilayah dengan kategori jumlah kasus pneumonia balita kategori tinggi yakni Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo. Dengan case fatality rate (CFR) tertinggi pada wilayah Kabupaten Pacitan sebesar 0,9%. Kesimpulan: Berdasarkan pengolahan data melalui klasifikasi dan skoring menunjukkan bahwa wilayah prioritas 1 terdiri dari Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Sampang, Kabupaten Probolinggo, Kota Surabaya, dan Kabupaten Malang

    Analisis Penerimaan Sistem Informasi Pencatatan dan Pelaporan Kasus COVID-19 (Aplikasi Silacak Versi 1.2.5) Menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) di UPT Puskesmas Cipadung Kota Bandung

    Full text link
    Salah satu upaya untuk mengendalikan laju COVID-19 ialah dengan memperkuat sistem surveilans di fasilitas kesehatan tingkat dasar. Salah satu poin yang menjadi peran kunci dalam pemutusan rantai penularan COVID-19 adalah kegiatan pelacakan kontak. Kegiatan ini mengharuskan pelacak kontak untuk terus mencatat dan melaporkan kasus. Untuk itu, penggunaan sistem pencatatan dan pelaporan pelacakan kontak (Silacak) menjadi penting dalam menentukan kebijakan yang akan dibuat. Tujuan penelitian ini adalah menelaah penggunaan sistem pencatatan dan pelaporan COVID-19 dengan aplikasi Silacak serta penerimaan pengguna terhadap sistem informasi Silacak di UPT Puskesmas Cipadung Kota Bandung. Penelitian ini merupakan studi kualitatif dengan menggunakan desain studi kasus. Aplikasi Silacak cukup bermanfaat bagi proses pencatatan dan pelaporan COVID-19. Aplikasi ini mudah untuk dipelajari, namun masih perlu dilakukan perbaikan dan pengembangan di beberapa sisi
    corecore