150 research outputs found
STRUKTUR PUISI ANAK-ANAK INDONESIA
Dr. Burhan Eko Purwanto, M.Hum sebagai Editor dalam Buku berjudul STRUKTUR PUISI ANAK-ANAK INDONESIA karya Dr. Tri Mulyono, M.P
INTERAKSI EDUKATIF GURU PAI DALAM PEMBENTUKAN SIKAP PERCAYA DIRI DAN KEMANDIRIAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (STUDI KASUS DI SLB INSAN ISTIMEWA MAGETAN)
Eko Mulyono. 2018. Interaksi Edukatif Guru PAI Dalam Pembentukan Sikap Percaya Diri dan Kemandirian Anak Berkebutuhan Khusus Studi Kasus Di SLB Insan Istimewa Magetan. Tesis. Program Magister Pendidikan Agama Islam (PAI) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Pembimbing: (1) Dr. Bambang Harmanto, M.Pd (2) Anip Dwi Saputro, M.Pd Kata kunci : Interaksi Edukatif, Guru PAI, Percaya Diri, Kemandirian.
Melihat fenomena yang terjadi pada dunia pendidikan khususnya Sekolah Luar Biasa (SLB) yang biasanya tenaga pengajarnya mempunyai latar belakang dari Pendidikan Luar Biasa (PLB), bisa dimungkinkan dalam interaksi dengan anak didik tidak begitu mengalami kendala yang berarti. Berbeda bagi Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) yang tenaga pengajarnya mayoritas bukan dari lulusan PLB banyak mengalami kesulitan dalam menyampaikan pembelajaran terhadap anak berkebutuhan khusus. Guru lulusan PAI sering merasa canggung dan merasa bingung dalam penyampaian pembelajaran PAI. Dari beberapa identifikasi masalah yang ada maka didapatkan rumusan masalah sebagai berikut (1) Bagaimana bentuk interaksi edukatif dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SLB Insan Istimewa Magetan. (2) Bagaimana peran guru PAI dalam membentuk sikap percaya diri anak berkebutuhan khusus dalam proses pembelajaran di SLB Insan Istimewa Magetan. (3) Bagaimana faktor pembentuk sikap percaya diri anak berkebutuhan khusus dalam proses pembelajaran PAI di SLB Insan Istimewa Magetan. (4) Bagaimana peran guru PAI dalam membentuk kemandirian anak berkebutuhan khusus dalam proses pembelajaran di SLB Insan Istimewa Magetan.
Penelitian ini menghasilkan (1) Guru pendidikan Agama Islam SLB Insan Istimewa dalam berkomunikasi dengan anak-anak berkebutuhan khusus menggunakan bahasa yang bisa di tangkap oleh bebagai anak berkebutuhan khusus, dimana kemampuan tersebut diperoleh dari belajar otodidak (2) Guru PAI memberikan keterampilan shalat dan mengaji untuk menjadikan anak percaya diri dengan kemampuan yang mereka miliki. (3) SLB Insan Istimewa melaksanakan kegiatan bermain dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar sangat diperlukan untuk membentuk rasa percaya diri anak. (4) Dengan meningkatkan rasa percaya diri pada anak berkebutuhan khusus, diharapkan bisa menumbuhkan rasa percaya diri anak, sehingga menjadi mandiri. Kemandirian juga dibentuk oleh lingkungan dimana SLB Insan Istimewa menyadari hal tersebut dan merangkul keluarga dan masyarakat untuk selalu mengawasi dan mengajarkan mereka kegiatan sehari-hari
Kerjasama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Perhutani Dalam Membangun Objek Wisata Alam Banyu Anjog Desa Cepoko Kecamatan Ngrayun Kabupaten Ponorogo
ABSTRAK RINGKASAN Mulyono, Eko. 2017. Kerjasama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Perhutani dalam Membangun Objek Wisata Alam Banyu Anjog Desa Cepoko Kecamatan Ngrayun Kabupaten Ponorogo. Skripsi. Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Sri Untari, M.Si, (2) Rusdianto Umar, S.H, M.Hum. Kata kunci: Kerjasama, Pokdarwis, Perhutani, Kepariwisataan, Pembangunan. Indonesia dengan keanekaragaman hayati dan budaya yang di miliki menjadi salah satu anugerah yang luar biasa. Optimalisasi lingkungan sebagai objek wisata merupakan perlindungan terhadap lingkungan dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pengembangan wisata di Indonesia tentunya akan sangat bermanfaat. Pembangunan Wisata Alam Banyu Anjog adalah bentuk dari kesadaran masyarakat yang ingin mengembangkan potensi wilayah desanya. Potensi yang tersimpan di daerah Kecamatan Ngrayun Kabupaten Ponorogo khususnya Desa Cepoko merupakan kawasan lingkungan Perhutani. Kelompok sadar wisata (Pokdarwis) sebagai kelembagaan dari masyarakat yang terdiri dari para pelaku kepariwisataan memiliki kepedulian dan tanggungjawab serta berperan sebagai penggerak. Munculnya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) oleh Masyarakat Desa Cepoko disekitar wilayah Banyu Anjog untuk mengembangkan potensi di Desa Cepoko yang khususnya mengangkat potensi Banyu Anjog. Selain pihak Pokdarwis pembangunan Objek Wisata Alam Banyu Anjog terdapat pihak perhutani dibawah naungan Resort Pemangku Hutan (RPH) sebagai pemiliki lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dalam Membangun Objek Wisata Alam Banyu Anjog Desa Cepoko Kecamatan Ngrayun Kabupaten Ponorogo, (2) Peran RPH Cepoko (Perhutani) dalam Membangun Objek Wisata Alam Banyu Anjog Desa Cepoko Kecamatan Ngrayun Kabupaten Ponorogo, (3) Kerjasama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan RPH Cepoko (Perhutani) dalam Membangun Objek Wisata Alam Banyu Anjog Desa Cepoko Kecamatan Ngrayun Kabupaten Ponorogo, (4) Dampak Kerjasama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan RPH Cepoko (Perhutani) dalam Membangun Objek Wisata Alam Banyu Anjog Desa Cepoko Kecamatan Ngrayun Kabupaten Ponorogo. Pendekatan dan jenis penelitian menggunakan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode: observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisi data menggunakan model Yin Robert K yaitu Expected outcomes as a pattern, Rival explanations as patterns dan simpler pattern. Pengecekan keabsahan data dari hasil penelitian, peneliti menggunakan perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan dan triangulasi (triagulasi sumber dan triagulasi teknik). Adapun hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dalam Membangun Objek Wisata Alam Banyu Anjog Desa Cepoko Kecamatan Ngrayun Kabupaten Ponorogo adalah sebagai pengelola, koordinator masyarakat dan pembangun. (2) Peran RPH Cepoko (Perhutani) dalam Membangun Objek Wisata Alam Banyu Anjog Desa Cepoko Kecamatan Ngrayun Kabupaten Ponorogo adalah sebagai fasilitator dan regulator. (3) Kerjasama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan RPH Cepoko (Perhutani) dalam membangun Objek Wisata Alam Banyu Anjog Desa Cepoko Kecamatan Ngrayun Kabupaten Ponorogo belum ada kerjasama tertulis, bentuk kerjasama terbangun dari syarat-syarat dari perhutani yaitu, (a) menjaga lingkungan, (b) memelihara tanaman pinus, (c) tidak boleh menebang hutan untuk pembangunan, (d) dilarang membuang sampah sembarangan di lokasi, (e) jaga keselamatan dan (f) pengelolaan yang baik. Kegiatan kerjasama belum ada surat kerjasama atau sejenisnya dan strategi kerjasama pola inti plasma, terbukti dengan adanya penyerahan kewenangan untuk mengelola dan mengembangkan Banyu Anjog oleh RPH Cepoko kepada Pokdarwis. (4) Dampak Kerjasama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan RPH Cepoko (Perhutani) dalam Membangun Objek Wisata Alam Banyu Anjog Desa Cepoko Kecamatan Ngrayun Kabupaten Ponorogo dapat dirasakan oleh (1) Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), (2) RPH Cepoko (Perhutani), dan (3) Masyarakat.Saran yang diberikan oleh peneliti setelah melakukan penelitian ini yaitu: peran Pokdarwis dalam membangun Objek Wisata Alam banyu anjog perlu adanya pendampingan dari pihak yang berkompeten dalam pengelolaan Pariwisata, membuat kerjasama antara kedua belah pihak dengan adanya nota kesepakatan, nota kerjasama untuk menjamin kinerja masing-masing pihak
USAHA-USAHA MENINGKATKAN VOLUME PENJUALAN PADA USAHA BAKSO & MIE AYAM MULYONO PALEMBANG
The purpose of this final report to find out how to increase sales volumes in the attempt Meatballs & Chicken Noodle Mulyono Palembang. Data collection techniques used by the author were field research includes interview, observations and the study of literature. From the data that has been obtained, the authors found several problems regarding the decline in sales volume of the Meatballs & Chicken Noodle Mulyono Palembang. Based on the writer's observation made directly at Meatballs & Chicken Noodle Mulyono Palembang with targets and realization has been done and the lack of promotion strategies in increasing sales volume. So the authors made efforts to improve sales of the Meatballs & Chicken Noodle as advertising media include: (newspapers, radio, banner, brousur and internet. The authors concluded that the promotion of Meatball & Chicken Noodle Mulyono Palembang was less than optimal. Therefore, to increase its sales, the meatballs and chicken noodle Mulyono should use of advertising media such as newspapers, browsur, banner and internet maximally
Manajemen Produksi Program Siaran Riau Cemerlang di TVRI Riau – Kepri
ABSTRAK
Nama : Eko MulyonoJurusan : Ilmu Komunikasi (Broadcasting)Judul : Manajemen Produksi Program Siaran Riau Cemerlang di TVRI Riau – Kepri
TVRI Riau adalah salah satu siaran televisi yang ada di kota Pekanbaru, dan program siaran Riau Cemerlang hadir sebagai alternatif tontonan berita di masyarakat yang di kemas semenarik mungkin. Untuk itu, perlu adanya sistem manajemen yang tepat pada suatu program produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sistem manajemen produksi program siaran Riau Cemerlang TVRI Riau-Kepri. Subjek dari penelitian ini adalah stasiun TVRI Riau-Kepri dan yang menjadi objeknya adalah manajemen produksi program siaran Riau Cemerlang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sistem manajemen produksi yang terdapat pada program Riau Cemerlang pada dasarnya sama dengan sistem manajemen pada program produksi yang lainnya,pada proses produksi program siaran Riau cemerlang, terdapat beberapa kelebihan yaitu menghasilkan kualitas produksi yang baik, komunikasi yang terjalin sangat baik antar tim program serta lebih mengedepankan berita melalui prespektif masyarakat, guna lebih mendekatkan masyarakat dengan sajian yang dihadirkan program tersebut.
Kata kunci : Manajemen, Program, Berita, Proses Produksi
POLITENESS PRINCIPLE ANALYSIS IN CARTOON MOVIE ENTITLED STAND BY ME DORAEMON
This article examines the use of politeness principle in cartoon movie entitled “Stand By Me Doraemon”. It aims at giving a description on the use of politeness principle in this movie so that this is the source of data as well. The data are collected by note taking technique and then analyzed descriptively. After analyzing the data, the researcher finds the use of politeness principle in the movie script. They are utterances of the use of politeness principle covering the kinds of maxim in politeness principle. The utterances covey the use of tact maxim, generosity maxim, approbation maxim, modesty maxim, agreement maxim, and sympathy maxim. Then, it focused also in politeness scale such as formality scale, hesitancy scale, and equality scale. The finding result showed that there are 25 politeness principle found in cartoon movie “Stand By Me Doraemon”. 1 tact maxim, 3 generosity maxim, 6 approbation maxim, 1 modesty maxim, 2 agreement maxim, 3 sympathy maxim, 2 formality scale, 4 hesitancy scale, and 3 equality scale. Approbation maxim is the maxim of the most numerous in the movie. This is because the characters in this film seek to avoid conflict and create an environment that is comfortable in communication. Key words: politeness principle, cartoon movie, utterance, maxim, scale.</jats:p
ERRORS IN NARRATIVE TEXT COMMITTED BY STUDENTS OF GRADE XI OF VOCATIONAL HIGH SCHOOL STATE 4 SURAKARTA ACADEMIC YEAR 2014/2015
This study aimes to identify the types of errors in the students' writing, to know the frequencies of each type of errors, and to investigate the causes of errors. There are three types of errors occured in the students' writing namely lexical error, syntactical error, and discourse error. The errors can be categorized into twenty four subcategories of errors: wrong spelling words (10,35%), wrong selection words (15,53%), omission verb (0,74%), omission v-ing after preposition for (0,55%), addition unnecessary verb (0,74%), using simple present tense refers to simple past (22,37%), use simple future instead of past future (2,40%), using irregular past verb tense after to infinitive (2,40%), addition final ed after to infinitive (1,85%), addition v-ing after to infinitive (1,11%), addition double marking verb (1,66%), omission to be (11,65%), addition to be (1,29%), omission s/es in the use of plural noun (2,40%), addition s in singular noun (1,29%), omission article (6,47%), addition unnecessary article (1,66%), wrong article (1,11%), wrong subject pronoun (2,03%), wrong object pronoun (0,55%), wrong possessive pronoun (2,03%), generic structure (2,96%), reference (2,03%), wrong selection conjunction (4,81%). The most dominant error is in syntactical error i.e. using simple present tense refers to simple past with the percentage 22,37%. Those errors are caused by four aspects, they are overgeneralization, incomplete application of rules, ignorance of rule restrictions, and false concept hypothesized
ERRORS IN NARRATIVE TEXT COMMITTED BY STUDENTS IN GRADE XI OF VOCATIONAL HIGH SCHOOL (SMK) STATE 4 SURAKARTA
This study aimes to identify the types of errors in the students’ writing, to know the frequencies of each type of errors, and to investigate the causes of errors. There are three types of errors occured in the students’ writing namely lexical error, syntactical error, and discourse error. The errors can be categorized into twenty four subcategories of errors: wrong spelling words (10,35%), wrong selection words (15,53%), omission verb (0,74%), omission v-ing after preposition for (0,55%), addition unnecessary verb (0,74%), using simple present tense refers to simple past (22,37%), use simple future instead of past future (2,40%), using irregular past verb tense after to infinitive (2,40%), addition final ed after to infinitive (1,85%), addition v-ing after to infinitive (1,11%), addition double marking verb (1,66%), omission to be (11,65%), addition to be (1,29%), omission s/es in the use of plural noun (2,40%), addition s in singular noun (1,29%), omission article (6,47%), addition unnecessary article (1,66%), wrong article (1,11%), wrong subject pronoun (2,03%), wrong object pronoun (0,55%), wrong possessive pronoun (2,03%), generic structure (2,96%), reference (2,03%), wrong selection conjunction (4,81%). The most dominant error is in syntactical error i.e. using simple present tense refers to simple past with the percentage 22,37%. Those errors are caused by four aspects, they are overgeneralization, incomplete application of rules, ignorance of rule restrictions, and false concept hypothesized.</jats:p
LAPORAN INDIVIDU PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mempunyai program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) yang dilaksanakan oleh mahasiswa program studi kependidikan sebagai kegiatan menyangkut profesinya sebagai tenaga pendidik.. Di mana dalam pengembangannya masih tetap mempertahankan dan terus harapkan program PPL ini dapat mempersiapkan serta menghasilkan guru atau tenaga kependidikan lainnya yang memiliki nilai, sikap, pengetahuan dan keterampilan sehingga menjelama menjadi tenaga professional pendidikan. Pada kegiatan ini para mahasiswa dituntut untuk bisa berkreasi dalam penerapan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh dan dikembangkan kepada masyarakat, terutama masyarakat sekolah. Pelaksanaan PPL bertempat di SMP Negeri 2 Yogyakarta, dengan melaksanakan program-program kegiatan baik yang bersifat fisik maupun non-fisik sesuai ketrampilan yang dimiliki mahasiswa.
Kegiatan atau program PPL dilaksanakan mulai tanggal 10 Agustus sampai dengan 12 September 2015. Sebelum kegiatan dilaksanakan terlebih dahulu diawali dengan berbagai persiapan. Persiapan tersebut menyangkut kegiatan yang diprogramkan dari UNY maupun yang diprogramkan secara individu oleh praktikan, yang meliputi pengajaran mikro, pembekalan, observasi dan pembuatan perangkat pembelajaran, pengadaan silabus, membuat pogram tahunan, program semester dan RPP, praktik mengajar, menyusun administrasi mengajar, dan penyusunan evaluasi pembelajaran. Pelaksanaan PPL meliputi pembuatan perangkat pembelajaran serta praktik mengajar yang pelaksanaannya berjalan lancar.
Hasil dari kegiatan PPL di SMP N 2 Yogyakarta antara lain praktik mengajar sebanyak 15 kali tatap muka pertemuan di kelas VIII D, VIII E, VIII F, VIII G dan IX E, dan program insidental yaitu melakukan presensi disetiap kelas dan piket bersalaman dengan siswa dipagi hari. Kegiatan PPL memberikan banyak manfaat untuk sekolah maupun praktikan dalam rangka mengembangkan kompetensi dan sebagai latihan sebelum terjun ke masyarakat dan melakukan tugasnya secara nyata. Pelaksanaan PPL ini tentulah bermanfaat untuk praktikan, walaupun terkadang dijumpai hambatan-hambatan. Terdapat pula kelebihan dan kelemahan dalam pelaksaan PPL namun praktikan selalu berusaha mencari solusi untuk mengatasi kelemahan yang dihadapi
PEMANFAATAN CANDI DIENG SEBAGAI SUMBER BELAJAR IPS SMP DI KECAMATAN KEJAJAR KABUPATEN WONOSOBO
- …
