1,720,967 research outputs found

    Komposisi lukisan Edi Sunaryo

    No full text
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prinsip-prinsip komposisi yang ada pada lukisan Edi Sunaryo. Lukisan-lukisan yang dijadikan sumber data adalah karya Edi Sunaryo yang dibuat antara tahun 1977-1988 sebanyak 29 lukisan. metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi, metode interview & metode dokumentasi. Kesimpulan hasil analisa terhadap prinsip-prinsip komposisi yang banyak digunakan adalah kontras, balans & proporsi. Sedangkan hasil penelitian terhadap lingkungan masyarakat & lingkungan pendidikan menunjukkan bahwa kedua lingkungan tersebut banyak berperan di dalam pertumbuhan & perkembangan maupun kreativitas Edi Sunaryo dalam berkarya

    Warna lukisan Edi Sunaryo

    No full text
    Melukis bagi Edi Sunaryo merupakan perwujudan nilai estetis, ide, maupun gagasan yang dirasakan. Lukisan Edi Sunaryo sering menggunakan warna - warna gelap seperti coklat, hitam, hijau . Tetapi tidak menutu kemungkinan warna - warna cerah juga perna sesekali beliau gunakan. Hal ini dikarenakan semangatnya untuk menggali sesuatu yang baru tetapi tetap dalam satu kerangka pemikiran, ide, maupun gagasan

    Pameran Lukisan Lintas Waktu

    No full text
    Katalog pameran ini terbit menyertai pameran tunggal Edi Sunaryo di Moom Gallery dari tanggal 7-17 Juli 2000. Pada awal mulanya Edi Sunaryo dikenal sebagai pelukis dekoratif yang khas. Namun dalam perkembangannya terkini, ia tidak ingin terjebak dengan pola dekoratif saja. Dengan gabungan teknik seni grafis dan seni lukis ia mampu menghadirkan suatu perkembangan yang unik serta kreatif dengan abstraksi obyek yang esensial dalam ruang kosong. Penghayatannya terhadap ruang kosong adalah ungkapan keheningan dalam makna yang simbolik. Ruang kosong sebagai ruang imaji Edi Sunaryo adalah obsesi kreatifnya. Babakan baru ini telah dibuka olehnya melalui perkembangan konsep estetik dan artistik karyanya. Moom gallery saat ini, memahami penilaian di atas merupakan manifestasi kreatif atas perjalanan kesenian Edi Sunaryo sebagai seniman lukis. Agus Dermawan T., menegaskan bahwa Edi Sunaryo bukan tipologi seniman yang pseudo progresif hingga menjunjung loncatan-loncatan artifisial. Langkahnya perlahan namun membekas jejak yang dalam. Bagi Moom gallery, ini adalah Lintas Waktu dari sebuah perjalan kreatif yang penting untuk diapresiasi serta ditandai dengan pameran tunggal Edi Sunaryo

    ON: Edi Sunaryo Solo Exhibition

    No full text
    buku ini merupakan katalog pameran Edi Sunaryo. Pada pameran tunggalnya yang keempat kali ini, wilayah jelajah menyangkut pokok gagasan dan pencarian tata bahasa ekspresi. Perubahan yang dilakukan oleh seniman/pelukis, sepelan apapun, merupakan indikator positif untuk kesenimanan

    On : Edi Sunaryo solo exhibition

    No full text
    Pameran tunggal Edi Sunaryo bertajuk "ON" kali ini, menampakkan pergeseran gagasan dan pencarian bahasa ekspresi yang berbeda, dibandingkan dengan dua pameran (tunggal) sebelumnya. Kali ini ia tak bisa mengingkari, atau bahkan dengan sadar melibatkan diri, pada realitas obyektif yang ada di sekitarnya. Realitas obyektif - seperti berbagai problematika di sekitar realitas sosial masyarakat, politik, ekonomi, budaya, dan sebagainya - menjadi keniscayaan kehidupan masa kini

    Lintas Waktu: A Solo Exhibition by Edi Sunaryo

    No full text
    Katalog pameran tunggal dari perupa Indonesia yakni Edi Sunaryo, katalog ini memuat lukisan-lukisannya yang dipamerkan di Moom Gallery Jakarta pada tahun 2000. Pada awalnya Edi Sunaryo dikenal sebagai pelukis dekoratif yang khas. Namun dalam perkembangannya, ia tidak ingin terjebak dengan pola dekoratif saja. Dengan gabungan teknik seni grafis dan seni lukis ia mampu menghadirkan suatu perkembangan yang unik serta kreatif dengan abstraksi objek yang esensial dalam ruang kosong

    'Jalan Pembebasan' Edi Sunaryo

    No full text
    Melacak jejak proses kreatif pelukisEdi Sunaryo (lahir di Banyuwangi, JawaTimur, 4 September 1951), sejak iamenapakkan pilihan profesinya menjadipelukis sekitar tahun 1970-an, akanditemukan fase-fase yang menarik. Di awaikarier, karya-karyanya bersandar padakekuatan dan kemampuannya menyusungaris, bidang, warna, dan tekstur, hinggamencapai kutuhan harmoni. Dalam fase itu,ia menggulirkan semacam tema yangdicitrakan sebagai 'citra primitif; yangmengisyaratkan bagaimana gubahan tatarupa itu berdasarkan atas spirit dari duniaseni (rupa) yang arkhaik. Fase ini dilaluicukup panjang (hingga akhir 1990-an). EdiSunaryo seperti terperangkap dalam jaringjaringtata rupa yang dibangunnya sendiri

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
    corecore