1,721,178 research outputs found

    Perkembangan Ma’had Al-Bitsat Ad-Diniah Yala Tahun (2005-2013)

    Get PDF
    Perkembangan sebuah pesantren Ma’had tidak terlepas dari upaya seseorang atau kelompak dalam mengelola dan mengembangkan pesantren Ma’had. Walaupun pesantren Ma’had ini dalam potret perjalanannya menghadapi banyak kendala, tetapi pesantren Ma’had masih tetap bertahan karena memiliki keunggulan tersendiri, yaitu nilai-nila, identitas, dan berbagai keunggulan lainnya. Pesantren Ma’had Al-bitsat Ad-diniah Yala adalah salah satu pesantren Ma’had modern memiliki yayasan yang didirikan sebagai bentuk kekhawatiran persatuan atas kemungkinan langkanya sosok pemimpin di masa mendatang. Pesantren Ma’had Al-Bitsat Ad-Diniah didirikan pada tahun 1951 berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan Yayasan. Masalah utama yang diteliti dalam penelitian ini adalah bagaimana perkembangan Ma’had Al-Bitsat Ad-diniah Yala dari tahun 2005-2013, faktor apa saja yang menyebabkan Ma’had Al-Bitsat Ad-diniyah Yala berkembang sangat pesat. Adapun tujuan penelitian ini agar penulis mengetahui perkembangan Ma’had Al-Bitsat Ad-diniah Yala dari tahun 2005-2013 dan faktor apa saja yang menyebabkan Ma’had Al-Bitsat Ad-diniyah Yala berkembang sangat pesat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah dengan empat tahapan: Heuristik (pengumpulan data/sumber-sumber sejarah), kritik (seleksi sumber yang sudah terkumpul baik yang berupa lisan ataupun tulisan), Interpretasi (penafsiran sumber-sumber yang telah terkumpul), Historiografi (penulisan sejarah). Data-data yang terkumpul kemudian dijadikan sumber dalam penulisan skripsi ini, sehingga mendapatkan data yang kridibel dan mampu menggali secara dalam tentang permasalahan yang diteliti. Untuk memudahkan penelitian ini, teori yang yang digunakan adalah teori The Great Man, yang dikemukakan oleh Thomas Carlyle dan James A. Frode, yang menjelaskan bahwa penggerak utama sejarah adalah orang-orang besar, seperti raja-raja, kaisar, nabi-nabi, juga termasuk para ulama. Oleh karena itu, dalam penelitian ini juga menjelaskan peran ulama atau guru dalam perkembangan Ma’had Al-Bitsat Ad-Diniah dari masa ke masa. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Ma’had Al-Bitsat Ad-Diniah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Berbagai kemajuan telah banyak dicapai sejak didirikannya tahun 1951 sampai dengan tahun 2013. Kemajuan itu berupa bertambahnya sarana prasarana, jumlah santri dan perubahan kurikulum. Faktor penyebab dari kemajuan tersebut adalah faktor kepemimpinan para pemimpin Ma’had Al-Bitsat Ad-Diniah yang memiliki sifat kepemimpinan yang disenangi masyarakat seperti ikhlas, mudah bergaul, berani dan pandai dalam bersiasat

    Implementasi kegiatan amaliah dan diniah kelas (IV, V, VI) di MI Miftahus Sibyan Tugurejo Semarang tahun 2016

    Get PDF
    Skripsi ini membahas tentang implementasi kegiatan amaliah dan diniah kelas (IV, V, VI) di MI Miftahus Sibyan Tugurejo Semarang. Latar belakang dari penulisan skripsi ini adalah pengajaran agama Islam di sekolah hanya dipraktikkan ketika pelajaran berlangsung saja, selebihnya peserta didik dianjurkan untuk melaksanakan di luar sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui bagaimana implementasi kegiatan amaliah dan diniah kelas (IV, V, VI) di MI Miftahus Sibyan Tugurejo Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, dilakukan di MI Miftahus Sibyan Tugurejo Semarang. Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan langkah-langkah mengumpulkan data, reduksi data, penyajian data selanjutnya penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Kegiatan amaliah dan diniah di MI Miftahus Sibyan Tugurejo Semarang dilaksanakan melalui metode pembiasaan dan didukung dengan adanya materi pembelajaran salafi yang mengajarkan praktik ibadah dan menulis Al-Qur’an Hadits. Kegiatan amaliah dan diniah di MI Miftahus Sibyan antara lain pembiasaan membaca asma’ul husna, pembiasaan membaca juz ‘amma, pembiasaan membaca Hadits, shalat dluha, shalat dzuhur berjamaah, tahlilan jum’at pagi, infak mingguan, PHBI, doa sebelum dan sesudah pembelajaran, santunan anak yatim dan fakir miskin. Kegiatan amaliah dan diniah di MI Miftahus Sibyan mengadopsi dari amalan-amalan Ahlussunah Waljamaah, dan muamalah yang bertujuan untuk memantapkan akidah serta berpengaruh terhadap pembentukan akhlak peserta didik. Jadi, kegiatan amaliah dan diniah yang dilaksanakan bersifat hablum minallah dan hablum minannas

    Madrasah Diniah as Media Teaching and Learning Islamic Moderation Values at Qur'an Learning Centers

    No full text
    Abstract Madrasah diniah has an essential role in educating the younger generation concerning instilling Islamic values from an early age. Moderation Islam (wasathiyah Islam) has now become a school of Islamic thought that has become a discourse. This research aimed to interpret madrasah diniah education as a medium for teaching and learning Islamic moderation values to students of Taman Pendidikan Al-Quran (Qur’an Learning Center). The research method used qualitative. This research was conducted at Baiturrahman Mosque, Sleman, Yogyakarta. The subjects were three Qur’an Learning Center teachers of the Baiturrahman Mosque. This research used data collection techniques through interviews, observations, and secondary sources. The data analysis technique used in the form of content analysis techniques. Based on the results of the research, it was found that early madrasah diniah education can be used as a medium of teaching and learning to instill Islamic moderation values. Abstrak Madrasah diniah memiliki peran penting dalam mendidik generasi muda dalam kaitannya menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini. Moderasi Islam (wasathiyah Islam) telah menjadi aliran pemikiran Islam yang menjadi pembicaraan. Tujuan penelitian adalah untuk menginterpretasikan pendidikan madrasah diniah sebagai media pengajaran dan pembelajaran nilai-nilai moderasi Islam pada santri Taman Pendidikan Al-Quran. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Penelitian dilakukan di Masjid Baiturrahman, Sleman, Yogyakarta. Subjek penelitian adalah tiga guru santri Taman Pendidikan Al-Quran Masjid Baiturrahman. Penelitian menggunakan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan sumber sekunder. Teknik analisis data yang digunakan berupa teknik analisis konten. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa pendidikan madrasah diniah dapat dijadikan sebagai media pengajaran dan pembelajaran dalam menanamkan nilai-nilai moderasi Islam

    Supervisi Kepala Sekolah dan Kinerja Mengajar Guru Oleh Syarifah Diniah

    No full text
    Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh supervisi akademik kepala sekolah dan kinerja mengajar guru di SD N 14 Kp. Jambak Kota Padang. Penelitian ini adalah penelitian expos facto. Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen kuisioner yang dikembangkan oleh peneliti sendiri. Keseluruhan data dianalisis dengan menggunakan analisis regresi. Penentuan responden menggunakan proporsional random sampling yaitu pengambilan data secara acak dari seluruh anggota populasi menjadi responden penelitian yakni 30 orang guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, semakin baik supervisi akademik kepala sekolah maka akan semakin baik pula kinerja mengajar guru. Kedua, semakin tinggi motivasi berpresasi guru maka akan semakin baik pula kinerja mengajarnya. Ketiga, semakin baik supervise akademik kepala sekolah dan semakin tinggi motivasi berpresatasi guru maka semakin baik kinerja mengajar guru

    Kekangan peruntukan waktu mata pelajaran kurikulum Diniah di Sekolah-sekolah Agama Bantuan Kerajaan (SABK) Kelantan dalam memenuhi Kurikulum Kebangsaan

    No full text
    Artikel ini bertujuan untuk membincangkan kekangan peruntukan waktu pengajaran kurikulum Diniah di Sekolah Menengah Agama Rakyat (SMAR) dan Sekolah Menengah Agama Negeri (SMAN) yang telah didaftarkan sebagai Sekolah Bantuan Kerajaan dalam sistem pendidikan kebangsaan. Kekangan tersebut mempunyai kaitan dengan kekaburan kuasa yang ada pada Kerajaan Persekutuan dalam Perlembagaan Persekutuan di bawah tanggungjawab hal ehwal Islam. Kementerian Pelajaran sebagai organisasi utama yang bertanggungjawab dalam hal ehwal pendidikan tidak mempunyai kemampuan dari sudut autoriti untuk memastikan Kurikulum Diniah sebahagian daripada dalam peranannya. Dapatan kajian menunjukkan bahawa perjalanan pengajaran kurikulum tersebut diuruskan oleh pihak berkuasa agama negeri dan pihak sekolah. Keadaan ini turut memberi kesan kepada autoriti struktur pentadbiran organisasi di peringkat sekolah di sebahagian negeri. Kesannya, perjalanan Kurikulum Diniah berdepan dengan cabaran pengabaian dari sudut tempoh masa dan peratusan nisbah kandungannya berbanding dengan perjalanan sebelum ia memasuki sistem pendidikan kebangsaan

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    IMPLEMENTASI PENDIDIKAN DINIAH NON FORMAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 2 JOGOROTO JOMBANG

    No full text
    Madrasah diniah has an important role in educating the society, especially for the young generation in instilling moral and religion values early, especially in the midst of the swift flow of information and sophisticated technology. To anticipate the negative impact of uncontrolled use of technology for the society, especially the younger generation so,it is very necessary not only to optimize religious education and character building in schools but also to be supported by the role of Madrasah diniah. So the researcher conducted research that aimed to determine the implementation of non-formal Madrasah diniah to improve student learning outcomes in Islamic religious education of Junior High School 2 Jogoroto. The type of research used in this study is survey research with a descriptive qualitative approach through data collection methods of observation, interviews, and documentation. From the research data, it can be seen that the implementation of non-formal Madrasah Diniah to improve student learning outcomes of Islamic religious education subjects has a positive impact, this is evidenced by a change in student attitudes and behavior students become aware of the importance of learning the holy Koran, students are enthusiastic in worshiping Allah SWT, students are able to fortify themselves from immoral acts. As for the result of the assessment of Islamic Education subject teachers on the material about prayer they are more understanding and fluent in reading and practicing the prayer movement, when they learn the material of the hadith qur'an they have been able to read fluently and recite the verses of holy Koran with the rules of recitation, they are reading and memorizing short verses fluently when they will begin the lessonreading and memorizing short verses when they will begin the lesson, and the grades are getting better. Keywords: Madrasah diniah, learning outcomes, Islamic religious education

    ..(GUNAKAN TTD ASLI BUKAN SCAN PADA LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI ETHESIS, UPLOAD ULANG).. Muatan Lokal Diniah Sebagai Upaya Meningkatkan Kompetensi Keagamaan Siswa di SMP Ma'arif Widodaren Ngawi

    No full text
    Masih banyak orang tua yang mengeluhkan bahwa anaknya belum memiliki kompetensi keagamaan yang baik, kompetensi keagamaan tersebut seperti belum mengetahui taharah, belum bisa salat dengan baik, kurangnya akhlak, dan belum bisa membaca Al-Qur‟an dengan baik dan benar. Hal tersebut sangat disayangkan, menimbang kompetensi keagamaan menjadi salah satu syarat mutu kelulusan. Oleh karena itu, SMP Ma‟arif Widodaren membuat program muatan lokal diniah untuk menunjang, membimbing, dan memperdalam kompetensi keagamaan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis (1) kebijakan muatan lokal diniah di SMP Ma‟arif Widodaren Ngawi; (2) pelaksanaan muatan lokal diniah di SMP Ma‟arif Widodaren Ngawi; dan (3) implikasi muatan lokal diniah dalam meningkatkan kompetensi keagamaan siswa di SMP Ma‟arif Widodaren Ngawi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data hasil penelitian kemudian dianalisis menggunakan model analisa Miles dan Huberman yang meliputi kondensasi data, penyajian data, dan vertifikasi data untuk menarik kesimpulan dari data yang dikumpulkan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Kebijakan muatan lokal diniah di SMP Ma‟arif Widodaren dilakukan dengan melakukan kegiatan sebagai berikut: a) membaca Al-Qur‟an (BTQ); b) tahfiz Al-Qur‟an; c) kajian kitab. (2) Pelaksanaan muatan lokal diniah dilakukan dengan memberikan pembelajaran mengenai membaca Al-Qur‟an (BTQ), tahfiz Al-Qur‟an, dan kajian kitab. Adapun nama guru yang mengajar pada pembelajaran membaca Al-Qur‟an adalah Bapak Nur Hadi, Bapak Tasrifin, dan Bapak Zarkasyi. Sedangkan nama guru yang mengajar pada tahfiz Al-Qur‟an adalah Bapak M. Hakim Mahfudzi, Bapak Sholihin, Bapak Ansori, dan Bapak Sholikhul Hadi. (3) Implikasi muatan lokal diniah dalam meningkatkan kompetensi keagamaan siswa di SMP Ma‟arif Widodaren yaitu: a) perubahan akhlak, yang terlihat dari menunduk saat guru atau orang yang lebih tua lewat, kalau berbicara dengan guru menggunakan bahasa yang sopan, dan menyapa, tersenyum, juga berjabat tangan (salim) ketika bersimpangan dengan guru b) membaca Al-Qur‟an dengan baik, hal tersebut terlihat dari cara membacanya sebab siswa dibekali dengan pembelajaran AlQur‟an menggunakan metode iqra‟ dan pembelajaran tajwid. c) Mengetahui caranya bersuci dan bacaan salat. yang di berikan siswa melalui kajian kitab dan di implementasikan siswa dalam kehidupan sehari-har

    KONSELING KELOMPOK DENGAN TEKNIK ASSERTIVE TRAINING DALAM MENGATASI SIKAP APATIS DI MADRASAH DINIAH AL-AMIN KELURAHAN REJOSARI KABUPATEN LAMPUNG UTARA

    Get PDF
    ABSTRAK Memupuk sikap peduli dalam diri anak-anak menjadi penting, sebab dengan memiliki sikap kepedulian khusunya terhadap teman akan dapat menjadikan pribadi seorang anak menjadi orang yang peduli terhadap orang lain, sehingga nanti ketika tumbuh dewasa sikap ini akan mampu membawa individu kepada pribadi yang peka terhadap lingkunga, peduli dan mencintai sesamanya. Di Madrasah Diniah Al-Amin Kelurahan Rejosari Kabupaten Lampung Utara didapati satu siswa yang terindikasi memiliki sikap apatis terhadap teman, sehingga berdasarkan hal ini penulis tertarik untuk melakukan penelitian konseling kelompok dengan teknik assertive training dalam mengatasi sikap apatis siswa tersebut. Adapun rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1) Bagaimana proses konseling kelompok dengan teknik assertive training dalam mengatasi sikap apatis di Madrasah Diniah Al-Amin Kelurahan Rejosari Kabupaten Lampung Utara? 2) Bagaimana hasil konseling kelompok dengan teknik assertive training dalam mengatasi sikap apatis di Madrasah Diniah Al-Amin Kelurahan Rejosari Kabupaten Lampung Utara? Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif, dimana penulis langsung terjun kelapangan (field research). Sumber data berasal dari sumber data primer dan sekunder. Metode pengumpulan data yang dipergunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Wawancara dilakukan terhadap masyarakat yang sudah dtetapkan sebagai sampel atau narasumber penelitian. Pengolahan data dilakukan dengan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa : 1) Proses konseling kelompok dengan teknik assertive training dalam mengatasi sikap apatis di Madrasah Diniah Al-Amin Kelurahan Rejosari Kabupaten Lampung Utara, terdiri dari empat tahap yakni tahap pembentukan, tahap peralihan atau transisi, tahap kegiatan yang merupakan tahap inti dengan menerapkan teknis assertif training serta tahap pengakhiran. Klien dalam konseling kelompok ini merupakan siswa Madrasah Diniah Al-Amin Kelurahan Rejosari Kabupaten Lampung Utara yang diindikasikan memiliki sikap apatis berupa perilaku jika dimintai pendapat akan sesuatu cenderung bersikap acuh dan tidak mau memberikan pendapatnya serta tidak mampu memberikan pujian atas keberhasilan teman. Pada pelaksanaanya konseling kelompok dengan teknik assertive training dalam mengatasi sikap apatis di Madrasah Diniah Al-Amin Kelurahan Rejosari Kabupaten Lampung iii Utara berjalan dengan baik dan lancar. Hambatan yang dihadapi adalah karena waktu pelaksanaan yang pendek sehingga tidak dapat dilakukan tindak lanjut, sedangkan faktor pendukung dalam pelaksanana kegiatan ini adalah seluruh komponen dan azas-azas dalam konseling telah terpenuhi. 2) Hasil konseling kelompok dengan teknik assertive training dalam mengatasi sikap apatis di Madrasah Diniah Al-Amin Kelurahan Rejosari Kabupaten Lampung Utara dinyatakan berhasil hal ini didasarkan kepada tujuan pelaksanaan konseling yang berhasil dicapai ditunjukkan dengan adanya perubahan perilaku klien, yakni klien mampu mempraktekan dan menerapkan perilaku asertif dalam kehidupa sehari-hari baik di lingkungan keluarga mupun didalam lingkungan sekolah. Perilaku assertif yang dimaksud adalah perubahan dari perilaku apatis yang sebelumnya jika dimintai pendapat akan sesuatu cenderung bersikap acuh dan tidak mau memberikan pendapatnya menjadi mulai mau membuka diri dan mengutarakan pendapatnya di muka umum, mulai mau berbaur dalam kegiatan kelompok, aktif dan cenderung tidak pasit serta tidak lagi menunjukkan sikap acuh, dan perilaku tidak mampu memberikan pujian atas keberhasilan teman. berubah menjadi mampu membuat permintaan dan menunjukkan ekspresi. Kombinasi metode konseling kelompok dan teknik assertive training sama-sama bertujun untuk atau klien yang diberikan layanan konseling dapat menjalin komunikasi dengan lebih baik saat berada di lingkungannya, baik saat berada dalam lingkung pergaulan ataupun organisasi. Membantu klien dapat menyatakan pendapat dan pikirannya serta berekspresi. berkaca pada masalah yang dihadapi klien dan dikarenakan klien sangat sulit saat berada di lingkungan berkelompok. Kata Kunci : Konseling Kelompok, Teknik Assertive Training, Sikap Apati
    corecore