98 research outputs found
BENTUK SAJIAN TARI DEWI TRI SEKTI KARYA ARIS SETIASIH
Tari Dewi Tri Sekti karya Aris Setiasih adalah sebuah tari yang
diciptakan oleh Aris Setiasih pada tahun 2019. Tari ini terinspirasi dari
fenomena adanya Tugu Tiga Puteri yang berada di bundaran Ngabul,
Jepara. Ketiga puteri yang menjadi ikon tugu tersebut adalah Ratu Shima,
R.A Kartini dan Ratu Kalinyamat.
Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kualitatif, dengan
mengacu pada konsep pengalaman tari oleh Soedarsono untuk
menganalisis dengan melihat elemen eksplorasi, improvisasi dan
komposisi. Bentuk sajian tari Dewi Tri Sekti dianalisis menggunakan
konsep dari Maryono melalui komponen verbal dan non verbal. Analisis
komponen verbal dengan melihat hubungan antara sastra tembang
dengan tari Dewi Tri Sekti, selain itu analisis komponen non verbal dapat
dilihat dari adanya elemen: tema tari, gerak tari, penari, pola lantai, tata
rias, tata busana, musik tari, panggung dan properti.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa proses penyusunan tari
Dewi Tri Sekti melalui tahapan eksplorasi, improvisasi dan komposisi
yang merupakan pengaruh dari pengalaman Aris Setiasih
Jaranan Buto Condro Dewi Dalam Acara Khitanan Di Desa Kedunggebang Kecamatan Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi
Jaranan Buto merupakan kesenian rakyat yang berkembang di masyarakat Banyuwangi, kesenian ini biasannya digunakan sebagai sarana hiburan masyarakat. Setro Asnawi merupakan tokoh utama dibalik hadirnya kesenian ini dengan membuat properti kuda berbentuk kepala Buto dengan rambut gimbal berwarna merah yang diberi Jaran Jurang Grawah. Pada perkembangan selanjutnya jaranan ini menjadi ciri atau karakter yang membedakan pertunjukan Jaranan Buto di Banyuwangi dan di tempat lain. Kesenian Jaranan Buto pada awalnya hanya menggunakan instrumen kendang, kenong, gong, kempul, angklung, dan slompret, setelah adanya perkembangan zaman terdapat perubahan dari bentuk iringan dengan menambahkan instrument seperti gamelan pelog maupun dan instrument barat seperti keyboard atau piano, dll.
Kesenian Jaranan Buto selain untuk sarana hiburan masyarakat digunakan sebagai sarana edukasi buat para pelajar daerah Banyuwangi. Terdapat buku yang menjadikan sumber acuan untuk penelitian ini, yaitu: R.M Soedarsono. Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi edisi 3. (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.2002). Teori yang digunakan sebagai pisau untuk membedah permasalahan dan pembahasan seperti yang dijelaskan di latar belakang, dalam penulisan ini menggunakan teori dari R.M. Soedarsono yang mengklasifikasikan fungsi seni pertunjukan menjadi dua, yaitu fungsi primer dan fungsi sekunder.
Proses penelitian tentang garap iringan dan fungsi kesenian jaranan Buto Condro Dewi. Jenis instrumen yang akan dikaji dalam musik Jaranan Buto adalah instrumen membranophone, Idhiophone, Aerophone. Pentranskripsian pada tulisan ini menggunakan metode preskriptif dan deskriptif. Dalam proses penulisan ini menggunakan penulisan yang ditulis berdasarkan hasil rekaman pada saat pelaksanaan pertunjukan Kesenian Jaranan Buto Condro Dewi. Kepatihan sendiri merupakan penyebutan untuk sistem notasi karawitan Jawa yang dinyatakan dengan angka-angka
Studi Kasus Pada Pasien Contusio Serebral Dengan Masalah Keperawatan Resiko Perfusi Serebral Tidak Efektif di IGD RSUD dr.R Soedarsono Kota Pasuruan
Risiko perfusi serebral tidak efektif menjadi masalah yang penting bagi pasien contusio serebral. Berbagai intervensi dilakukan untuk mengatasinya. Tujuan karya ilmiah ini adalah untuk menjelaskan asuhan keperawatan pasien contusio serebral dengan masalah keperawatan resiko perfusi serebral tidak efektif di IGD RSUD Dr. Soedarsono Kota Pasuruan. Sebuah studi kasus digunakan untuk desain. Dimanfaatkan tiga klien, semuanya mengalami memar otak dan berobat ke IGD RSUD Dr. Soedarsono Kota Pasuruan pada hari pertama. Kemungkinan perfusi serebral yang tidak mencukupi adalah topik yang sedang dibahas. Untuk mencegah kejang, sesuaikan ventilator agar PaCO2 optimal, pertahankan suhu tubuh normal saat menggunakan sedasi dan antikonvulsan, identifikasi penyebab peningkatan ICP, monitor tanda atau gejala peningkatan ICP, monitor MAP, monitor status pernapasan, monitor serebrospinal cairan, meminimalkan rangsangan dengan menyediakan lingkungan yang tenang, dan memberikan posisi head-up. Klien 1, 2, dan Kalian 3 merasakan ronki sebelum mendapat perawatan kematian. Suara napas tambahan berhenti setelah ruang gawat darurat memberikan biaya kerugian selama tiga jam. Ada perubahan dalam cara klien merespons intervensi karena, di bangsal HCU, ketika pola pernapasan, bunyi napas, dan produksi sputum normal, diperlukan perawatan lanjutan.Yayasan Bina Patria Nusantar
Asuhan Keperawatan Pada Pasien CVA (Cerebrovascular Accident) Infark Dengan Masalah Keperawatan Gangguan Mobilitas Fisik di Ruangan Interna 1 RSUDdr. R. Soedarsono Kota Pasuruan
Cerebrovascular Accident merupakan Fenomena klinis yang di disebabkan oleh kejadian penyumbatan atau penyempitan pada jaringan nekrotik otak. Jika aliran darah tidak pulih dalam waktu singkat, akibatnya adalah infark, yang bisa berakibat fatal. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan tindakan asuhan keperawatan pada pasien Cerebrovascular Accident (CVA) Infark dengan masalah keperawatan mobilitas fisik di Ruangan 1 RSUD Dr. Soedarsono Kota Pasuruan. Adapun studi kasus berupa pendekatan asuhan keperawatan pada tiga orang pasien CVA Infark merupakan desain di dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga pasien mengalami kelemahan tungkai, yang membatasi mobilitas fisik mereka. Intervensi pasien yaitu bantuan untuk mobilisasi atau berpindah. Setelah dilakukan tindakan keperawatan di dapatkan hasil klien 1 membaik dari tiga menjadi empat, klien 2 membaik dari satu menjadi tiga, dan klien 3 meningkat dari satu menjadi tiga.Yayasan Bina Patria Nusantar
BENTUK DAN FUNGSI TARI JATHIL JOWO DI DUSUN GANDON DESA GANDU KECAMATAN TEMBARAK KABUPATEN TEMANGGUNG
ABSTRAK
BENTUK DAN FUNGSI TARI JATHIL JOWO DI DUSUN GANDON
DESA GANDU KECAMATAN TEMBARAK KABUPATEN
TEMANGGUNG, (DEWI NURCAHYATI, 2018), Skripsi Program Studi
S1, Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institute Seni Indonesia
Surakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk dan
juga fungsi dari tari Jathil Jowo yang berada di Dusun Gandon Dusa
Gandu Kecamatan Tembarak Kabupaten Temanggung. Tari Jathil Jowo
merupakan tari rakyat yang dipentaskan setiap tahun pada acara merti
dusun. Tari Jathil Jowo menjadi simbol kerukunan, gotong royong,
toleransi dan mempunyai makna berdasarkan elemen-elemen pembentuk
tari Jathil Jowo.
Penelitian ini menggunakan landasan teori bentuk oleh Suzanne K
Langer dan teori fungsi oleh Soedarsono. Penelitian ini merupakan
penelitian kualitatif dengan menggunakan metode etnografi berdasarkan
data dari lapangan. Presentasi data yang disajikan berupa diskripsi
analisis.
Hasil dari penelitian ini dapat diperoleh gambaran yang berkaitan
dengan bentuk yang terdiri dari elemen yaitu gerak, musik, rias dan
busana, pola lantai dan fungsi yaitu fungsi ritual dan fungsi hiburan. Tari
Jathil Jowo sebagai simbol kerukunan sehingga masih dipentaskan setiap
tahunnya di daerah tersebut.
Kata Kunci: Jathil Jowo, Desa Gandu, Bentuk, Fungsi
REINTERPRETASI JOKO SUKOCO PADA TARI PATHOLAN DI SANGGAR TARI GALUH AJENG REMBANG
ABSTRAK
REINTERPRETASI JOKO SUKOCO PADA TARI PATHOLAN DI
SANGGAR TARI GALUH AJENG REMBANG (Dewi Subekti, 2018),
Skripsi Program Studi S-1 Jurusan Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan,
Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Penelitian Reinterpretasi Joko Sukoco Pada Tari Patholan di
Sanggar Tari Galuh Ajeng Rembang bertujuan untuk mendeskripsikan
Bentuk Tari Patholan dan Reinterpretasi Joko Sukoco pada tari Patholan.
Analisis bentuk tari Patholan menggunakan konsep Soedarsono. Analisis
Reinterpretasi Joko Sukoco pada tari Patholan menggunakan teori Irwan
Abdullah tentang adaptasi kebudayaan dan teori Utami Munandar untuk
menjabarkan tentang kreativitas dalam penciptaan tari Patholan.
Penulisan skripsi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan
pendekatan etnokoreologi. Metode penelitian secara kualitatif ini
bertujuan untuk mendapatkan data sebanyak-banyaknya, kemudian
dianalisis dan dideskripsikan, sehingga dapat memberikan gambaran dan
pemaparan mengenai bentuk tari Patholan dan reinterpretasi Joko Sukoco
pada tari Patholan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah
observasi, wawancara, dan studi pustaka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk reinterpretasi yang
dilakukan Joko Sukoco pada tari Patholan disesuikan dengan kondisi
masyarakat. Selain itu hasil reinterpretasi yang dilakukan Joko Sukoco
tidak lepas dari bentuk dan kreativitas sebagai koreografer, sehingga
terwujudlah sebuah bentuk karya baru hasil dari proses kreatif yang
dilakukan, karya tersebut yaitu tari Patholan.
Kata Kunci : Tari Patholan, Bentuk, Reinterpretasi
Jurnal Ilmiah Komunikasi MAKNA: Vol. 2, No. 2, Agustus 2011-Januari 2012
1. Media dan Krisis Politik (Analisis Wacana terhadap Pemberitaan KOMPAS mengenai Krisis Politik Thailand, Edisi Maret-Mei 2010)/ Agus Triyono, Joni Rusdiana
2. Pesan Komunikasi Pendidikan di Media Televisi / Dewi K. Soedarsono
3. "Jagongan" sebagai Bentuk komunikasi Sosial pada Masyarakat Solo dan Manfaatnya Bagi Pembangunan Daerah / Nawiroh Vera, Doddy Wihardi
4. Pembentukan bBudaya Populer Dalam Kemasan Media Komunikasi Massa / Inda ffITYARINI
5. Penonjolan Tokoh Antagaonis dalam Film The Dark Knight (Studi Semiotik Tokoh Joker dalam Film The Dark Knight) / Arif Budi Prasety
Analisis Tari Paddupa (Tari Penyambutan) Di Sanggar Seni Sedayung Gangsal Kecamatan Reteh Kabupaten Indragiri Hilir Provinsi Riau
ABSTRACT This research entitled "Analysis of Paddupa Dance (Welcoming Dance) in Sanggar Seni Se rowung Gangsal District Reteh Indragiri Hilir District of Riau Province" is specifically a study conducted to find out How paddupa dance analysis (Welcoming Dance) in Sanggar Seni Sedayung Gangsal District Reteh Indragiri Hilir Riau Province. The purpose of this research is to find out the analysis of Paddupa Dance (Welcoming Dance) in Sanggar Seni Se rowung Gangsal District Reteh Indragiri Hilir District. This theory uses soedarsono theory. Based on soedarsono theory. Based on soedarsono theory, the analysis of paddupa dance is the opening greering, flower picking, rice sowing, and closing greetings. The music used is a type of sacred music and a happy atmosphere. The floor design used is vertical, horizontal, straight lines and circles. The dynamics in this dance are from high level, medium level, and low level. Costume dancers bodo clothes, bun flowers, bando, long necklaces, long bracelets, and earrings. Makeup dancers make up the stage. The stage used is the arena stage. This research uses descriptive research analysis with a qualitative approach. Data collection techniques use observation, interview, and documentation techniques. This research uses data analysis techniques, namely data reduction, data display, and conclusion / verification. The subjects of this study were 5 people. 1 choreographer, 1 musician, 1 costume and makeup artist, and 2 dancers
Drama Tari Sugriwa-Subali
Penyajian tari Sugriwa-Subali ini tetap menggunakan bahan-bahan klasik yang telah disesuaikan dengan kondisi. Dasar penyusunan tarian ini diambil dari Kitab Arjuna Sasrabahu karangan R. Ng. Sindusastra. Ringakasan cerita: Cerita berawal dari kisah Raden Guwarsa dan Raden Guwarsi saling memperebutkan cupumanik Astagina milik Dewi Anjani, akhirnya berubah menjadi kera setelah terjun ke telaga Madirda.
Alkisah Subali merasa dikhianati Sugriwa, sempat terjadi salah paham, akhirnya Subali kembali bertapa untuk memohon petunjuk dewata.
Kata kunci: kisah wayang, drama tar
KARAKTER IBU DALAM ACAPELLA TANDHING GENDHING: THE MOTHERS KARYA MATHEUS WASI BANTOLO
Karakter Ibu Dalam Acapella Tandhing Gendhing: The Mothers
Karya Matheus Wasi Bantolo (Anggit Si Ratri Dewi, 2021). Skripsi
Program S-1 Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni
Indonesia Surakarta.
Karakter Ibu dalam Acapella Tandhing Gendhing: The Mothers karya
Matheus Wasi Bantolo merupakan penelitian yang berdasarkan pada
proses kreatifitas ketubuhan dan kemampuan pendalaman karakter, serta
bentuk sajiannya. Untuk menjawab permaslahan penelitian tersebut
menggunakan teori kepenarian dari Walter Soller, teori proses dari Alma
Hawkins, teori karakter oleh Agus Tasman, dan teori bentuk oleh
Soedarsono. Metode penelitian menggunakan practice based research
dengan proses experience dan experiment yang dilakukan penari sendiri.
Observasi dilakukan dengan cara participant action research, dimana
adanya keterlibatan sekaligus melakukan percobaan-percobaan dalam
menciptakan karya kepenarian dalam bentuk akapela.
Hasil dari penelitian ini adalah berupa uraian proses kepenarian
kakarter ibu yang dilakukan oleh peneliti sebagai penari dan hasil uraian
bentuk sajian karya berupa akapela dengan elemen-elemen seperti penari,
gerak, tata visual, elemen suara, struktur sajian. Refleksi penelitian Karya
Acapella Tandhing Gendhing: The Mothers ini menghasilkan berbagai
penemuan diantaranya adalah kemampuan dalam berproses gerak,
kemampuan pengkarakteran, kemampuan berolah vokal, kemampuan
dalam pemahaman busana, dan kemampuan dalam pemahaman bentuk
panggung.
Penelitian ini berlanjut dengan tanggapan masyarakat terhadap
karya tari ini, serta menghasilkan penjabaran tanggapan masyarakat
umum, pandangan terhadap fenomena isu yang melatarbelakangi
penciptaan karya tari ini dan apresiasi masyarakat pada karya ini
- …
