66 research outputs found
Memperjelas Konsep Bahasa Maskulin Melalui Analisis Pengunaan Gaya Bahasa Pada Lagu Noah Seperti Kemarin
Penelitian ini bertujuan untuk memperjelas konsep Bahasa maskulin melalui analisis penggunaan gaya Bahasa pada lagu Noah “Seperti Kemarin”. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data penelitian adalah Bahasa maskulin yang berupa kosakata, frasa, kalimat dari lagu yang berjudul “Seperti Kemarin”milik band Noah. Pemilihan lagu tersebut didasarkan karena lagu tersebut sangat mencerminkan maskulinitas dan menginspirasi. Data diambil dengan cara mendengarkan dan mencatat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu “Seperti Kemarin” memiliki tiga ciri maskulinitas yang mewakili laki-laki abad 21, yaitu ciri emosional, intelektual, dan karakter pribadi. Representasi emosional terdiri dari dua temuan, yaitu laki-laki dengan kontrol emosi stabil dalam lagu tersebut. Selain itu, dalam temuan ini ditemukan bahwa laki-laki berpikir logis dalam dimensi intelektual. Selain dimensi di atas, temuan juga menunjukkan adanya ciri dimensi karakter pribadi yang terdiri dari karakter pribadi egois, karakter pribadi bangga, dan karakter pribadi moral
Dwipadma Nayaka
Tulisan karya ini menceritakan tentang Ronggeng Gunung. Ronggeng
Gunung lahir dari sebuah kepedihan dan dendam. Konon, para pembantu Dewi
Rengganis yang ikut menari, menutup matanya agar para bajak laut/bajo itu larut
dalam tarian mereka. Ketika sang musuh tergoda dan ikut ke tengah lingkaran,
sebuah senjata menunggu saat yang tepat untuk menikam. Berhasilah Dewi
Rengganis membalas dendam atas kematian suaminya.
Penata tertarik untuk membuat sebuah koreografi kelompok yang
bersumber dari cerita rakyat Dewi Siti Samboja. Mengisahkan tentang seorang putri
cantik dan anggun yang juga memiliki sisi maskulin dalam dirinya, di mana sisi itu
muncul karena kisah cinta tragis yang dialaminya. Perempuan juga memiliki sifat
maskulin, karena bagaimanapun sifat maskulin berbeda dengan jenis kelamin, baik
laki-laki maupun perempuan dapat bersifat maskulin seperti memiliki pemikiran
rasional, keberanian, kemandirian dan ketegasan.
Penciptaan karya tari Dwipadma Nayaka memiliki gagasan utama tentang
sosok Dewi Siti Samboja. Karya tari ini menggunakan gerak tari yang bersumber
dari kesenian Ronggeng Gunung, di mana dalam kesenian ini mengandung unsur
tari rakyat, ketuk tilu, dan pencak silat. Motif gerak tari Sunda seperti mincid,
ngalagena, galeong, geolan, dan reundeuk yang akan menjadi dasar pijakan gerak
tari dalam karya tari ini. Tidak menutup kemungkinan juga akan hadirnya motif
gerak besot, tembrag, tangkis, dan tajong yang diambil dari seni pencak silat yang
kemudian akan dikembangkan dengan teknik gerak fall and recovery dari Doris
Humphrey
Karakteristik Komunikasi Perempuan dalam Novel (Analisis Isi Kualitatif Novel Rectoverso Karya Dewi Lestari)
Penelitian ini berjudul Karakteristik Komunikasi Perempuan dalam Novel (Analisis Isi Kualitatif Novel Rectoverso karya Dewi Lestari). Novel ini dilatarbelakangi adanya sebuah eksploitasi karakter komunikasi perempuan yang digambarkan dalam teks/dialog ketika perempuan melakukan percakapan dengan laki-laki. Cara untuk memperlihatkan bahwa perempuan bisa bersifat maskulin, terlihat pada suatu obyektivitas yang tidak biasa, dalam mencapai masing-masing tujuan mereka. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme, tujuan paradigma konstruktivisme ialah untuk memahami karakteristik komunikasi perempuan dalam novel. Teori yang digunakan ialah Genderlect Style. Teori ini mengkategorikan perbedaan cara berkomunikasi laki-laki dan perempuan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi kualitatif, penelitian menggunakan metode ini karena peneliti lebih menekankan isi komunikasinya dari simbol dan memaknakan isi dari interaksi simbolik yang terjadi dalam komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa teks/dialog dalam Novel Rectoverso yang dikonstruksikan oleh novelis Dewi Lestari yang meggambarkan situasi sebuah karakteristik perempuan dalam sisi maskulinitas yang dimana perempuan tersebut dalam lima cerita yang diteliti, menggambarkan perempuan yang beda, karena kebanyakan perempuan digambarkan menjadi kaum yang lemah dan selalu mengikuti keinginan lakilaki. Namun dalam dialog Rectoverso perempuan digambarkan dapat melakukan hal yang biasanya dilakukan laki-laki, seperti mempertahakan status, mendominasi pembicaraan, memelihara konflik sampai dengan penggunaan, hilrarki kekuasaan
Maskuliniti yang diruntuhkan feminiti: satu penelitian stereotaip gender dalam novel seri dewi malam karya Affifudin Haji Omar
Ideologi feminis menyumbang kepada fahaman bahawa lelaki dan
perempuan dipengaruhi oleh pengalaman kehidupan yang berbeza ketika
menghasilkan sesebuah karya kreatif. Feminis percaya bahawa pengarang
lelaki tidak dapat menampilkan dimensi kejiwaan perempuan kerana mereka
tidak pernah merasai pengalaman sebagai seorang perempuan. Ideologi
seperti ini muncul sebagai tindak balas terhadap kebanyakan karya yang
dihasilkan oleh pengarang lelaki yang sering mempersembahkan watak
perempuan sebagai the second sex, terpinggir, bisu dan lemah dalam sistem
sosial yang didominasi oleh lelaki. Walau bagaimanapun, tindakan pengarang
lelaki ini tidak boleh dihukum kerana kegagalan mereka memahami dimensi
perempuan yang berbeza dari diri mereka. Pencitraan perempuan daripada
perspektif pengarang lelaki harus dilihat daripada konteks masyarakat dan
budaya yang meletakkan stereotaip tertentu mengikut jenis kelamin. Bertitik
tolak daripada fahaman tersebut, makalah ini mengupas konsep gender
yang dibentuk oleh masyarakat sosial serta meneliti imej stereotaip lelaki
yang dikenali sebagai gender maskulin dan imej stereotaip perempuan yang
dikenali sebagai gender feminin. Hasil dapatan makalah ini mendapati
pengarang novel Seri Dewi Malam telah mengubah fahaman pembaca
tentang pengarang lelaki dalam mencitrakan imej perempuan dan menolak
stereotaip sedia ada dengan menonjolkan imej positif yang dimiliki oleh
watak Rohana sebagai gender feminin yang meruntuhkan stereotaip gender
maskulin watak-watak lelaki di dalam novel
Maskuliniti yang diruntuhkan feminiti: satu penelitian stereotaip gender dalam novel seri dewi malam karya Affifudin Haji Omar
Ideologi feminis menyumbang kepada fahaman bahawa lelaki dan perempuan dipengaruhi oleh pengalaman kehidupan yang berbeza ketika menghasilkan sesebuah karya kreatif. Feminis percaya bahawa pengarang lelaki tidak dapat menampilkan dimensi kejiwaan perempuan kerana mereka tidak pernah merasai pengalaman sebagai seorang perempuan. Ideologi seperti ini muncul sebagai tindak balas terhadap kebanyakan karya yang dihasilkan oleh pengarang lelaki yang sering mempersembahkan watak perempuan sebagai the second sex, terpinggir, bisu dan lemah dalam sistem sosial yang didominasi oleh lelaki. Walau bagaimanapun, tindakan pengarang lelaki ini tidak boleh dihukum kerana kegagalan mereka memahami dimensi perempuan yang berbeza dari diri mereka. Pencitraan perempuan daripada perspektif pengarang lelaki harus dilihat daripada konteks masyarakat dan budaya yang meletakkan stereotaip tertentu mengikut jenis kelamin. Bertitik tolak daripada fahaman tersebut, makalah ini mengupas konsep gender yang dibentuk oleh masyarakat sosial serta meneliti imej stereotaip lelaki yang dikenali sebagai gender maskulin dan imej stereotaip perempuan yang dikenali sebagai gender feminin. Hasil dapatan makalah ini mendapati pengarang novel Seri Dewi Malam telah mengubah fahaman pembaca tentang pengarang lelaki dalam mencitrakan imej perempuan dan menolak stereotaip sedia ada dengan menonjolkan imej positif yang dimiliki oleh watak Rohana sebagai gender feminin yang meruntuhkan stereotaip gender maskulin watak-watak lelaki di dalam nove
Peningkatan Kualitas Pendidikan melalui Pembangunan Masyarakat Berbasis Program Kecakapan Hidup (Life Skill)
RINGKASAN Peningkatan pendidikan melalui pembangunan berbasiskan kepada program life skill memberikan pengalaman serta keterampilan kepada warga belajar terutama kepada masyarakat untuk memiliki keterampilan yang dapat meningkatkan kualitas hidup dan perekonomiannya. Beberapa jenis kecakapan hidup yang salah satunya adalah kecakapan vokasional, yaitu suatu kecakapan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di masyarakat atau lingkungan warga belajar. Melalui kegiatan vokasional atau keterampilan tertentu, akan menambahkan keterampilan kepada masyarakat dalam penguasaan bidang tertentu yang berguna untuk meningkatkan taraf hidupnya. Kata kunci: pembangunan masyarakat, program kecakapan hidup (life skill
Pola Asuh Orang Tua Petani dalam Menerapkan Nilai-Nilai Pancasila pada Anak di Desa Pojok Kecamatan Ngantru Kabupaten Tulungagung
RINGKASAN Desa Pojok terletak di Kecamatan Ngantru Kabupaten Tulungagung. Kondisi geografis wilayah tersebut berbatasan langsung dengan Kabupaten Kediri. Sebagian besar wilayah Desa Pojok adalah berupa daratan. Secara agraris tanah sawah yang ada di Desa Pojok juga relative luas yang digunakan sebagai lahan pertanian. Pertanian yang ada di Desa Pojok didominasi oleh tanaman tebu, meskipun masih ada tanaman-tanaman lain seperti padi, jagung dan kacang panjang. Wilayah daratan yang mayoritas digunakan sebagai lahan pertanian tersebut secara tidak langsung dimanfaatkan oleh sebagian besar masyarakat di Desa Pojok untuk mencari penghasilan melalui kegiatan bertani. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola asuh orang tua yang bekerja sebagai petani, faktor-faktor yang menghambat sekaligus cara mengatasi hambatan dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila pada anak di Desa Pojok Kecamatan Ngantru Kabupaten Tulungagung. Pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus digunakan peneliti dalam melaksanakan penelitian ini. Data penelitian digali secara mendalam melalui teknik wawancara, observasi dan dokumentasi tentang pola asuh yang diterapkan oleh orang tua yang bekerja sebagai petani dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila pada anak di Desa Pojok Kecamatan Ngantru Kabupaten Tulungagung. Sumber data penelitian dipilih dengan menggunakan snowball sampling. Teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi digunakan peneliti sebagai prosedur pengumpulan data. Wawancara yang dilakukan oleh peneliti adalah wawancara terbuka dan tidak terstruktur, diaman dalam proses penelitian tersebut peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berfariasi guna mendapatkan informasi yang sedetail-detailnya. Observasi yang dilakukan oleh peneliti adalah observasi pastisipatif dimana peneliti mengamati segala sesuatu yang dikerjakan oleh informan penelitian dalam proses mengasuh anak di dalam keluarga. Dokumentasi dilakukan peneliti untuk menggali informasi pendukung temuan penelitian yang dilakukan melalui wawancara dan observasi. Analisis data yang digunakan adalah model analisis data interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh yang diterapkan oleh orang tua yang bekerja sebagai petani pada dasarnya sudah mampu mengajarkan penerapan nilai-nilai Pancasila pada anak. Pengajaran terhadap pola asuh tersebut dilakukan dengan cara memberikan arahan dan contoh kepada anak tentang bagaimana hidup berdampingan di masyarakat yang sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila. Namun, penerapan tersebut tidak secara langsung disadari oleh para orang tua bahwa yang dilakukan adalah tindakan atau perilaku yang sesuai dengan Pancasila. Namun hal tersebut juga tidak terlepas dari hambatan dalam pelaksanaan pola asuh yang diterapkan oleh orang tua. Hambatan tersebut adalah anak lebih dekat dengan salah satu orang tua (ibu), kesibukan orang tua dan kepadatan jadwal kegiatan anak. Hambatan yang ditemui oleh orang tua dalam penerapan pola asuh dapat diatasi dengan beberapa solusi diantaranya adalah komunikasi antara kedua orang tua, meluangkan waktu bersama keluarga, dan memanfaatkan waktu luang anak untuk memberi nasehat dan perhatian
STRATEGI TIM KREATIF PROGRAM OPINI KOMPAS TV DALAM MEMPERTAHANKAN TEMA PEREMPUAN
ABSTRAK
Helvana Dewi Yulian. 14148143. Strategi Tim Kreatif Program OPINI
Kompas TV dalam Mempertahankan Tema Perempuan. Skripsi S-1
Program Studi Televisi dan Film, Jurusan Seni Media Rekam, Fakultas Seni
Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Dibawah
bimbingan Citra Dewi Utami, S.Sn., M.A.
Penelitian pada ranah televisi sebagai institusi ini menempatkan sistem kerja
tim kreatif pada program OPINI Kompas TV sebagai objek kajiannya. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui strategi tim kreatif dalam mempertahankan tema
perempuan. Metode observasi partisipatif, wawancara dan dokumentasi menjadi
bagian dalam teknik pengumpulan data. Proses analisis data dilakukan melalui
tahapan reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan. Perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dalam teori strategi program oleh
Morissan digunakan untuk membedah sistem kerja tim kreatif. Tahap
praproduksi, produksi, dan pascaproduksi diamati sebagai kesatuan dalam
rangkaian alur kerja tim kreatif. Tema stereotip kecantikan, kesetaraan gender dan
kekerasan seksual menjadi tema yang terus dipertahankan. Hasil penelitian ini
bahwa program OPINI Kompas TV menunjukkan bahwa tim kreatif harus
berstrategi agar performa program tetap baik. 1) strategi pada alur kerja yaitu, a)
komunikasi yang baik antar tim; b) melibatkan pembawa acara dalam menerapkan
strategi dengan cara improvisasi; c) memilih narasumber yang komunikatif dan
interaktif. 2) Strategi mempertahankan tema perempuan yaitu, a) Pengayaan
aktivitas dalam episode; b) menggunakan gimmick yang sesuai dengan hasil riset
seperti permainan, tantangan dan praktik; c) memilih materi pendukung yang
sesuai dengan pembahasan; d) tema stereotip kecantikan membahas tentang hal
yang mendukung perempuan untuk terlihat cantik; e) tema kesetaraan gender
membahas tentang perempuan yang mempunyai hobi atau pekerjaan maskulin; f)
tema kekerasan seksual yang membahas tentang pelecehan seksual di berbagai
bidang.
Kata kunci : strategi program, tim kreatif, tema perempuan, OPIN
Samasta rasamara
Samasta Rasasmara memiki arti disatukan rasa cinta. Karya ini mengusung tema tragedi percintaan yang terinspirasi salah satu tokoh dalam kitab panji dari Kediri yaitu Dewi Sekartaji atau yang bernama lain Dewi Candrakirana. Dewi Sekartaji memiliki kepribadian dan karakter anggun, lemah lembut, tegas dan pemberani. Karya ini diwujudkan dalam bentuk koreografi kelompok dengan komposisi empat penari perempuan, Empat penari memunculkan dua karakter perempuan dalam bentuk feminim dan maskulin dengan tujuan penggambaran Dewi Sekartaji dan Panji Asmarabangun. Penata menghadirkan konsep komposisi tari srimpi dalam karya ini sebagai bentuk visualisasi pengalaman empiris penata sendiri terhadap kesedihan dan mimpinya yang kemudian disusun menjadi satu kesatuan alur yang linier menjadi sebuah karya tari Samasta Rasasmara. Berkaca pada karya karya yang telah ada memang sangat jarang mengangkat sosok Sekartaji menggunakan konsep srimpi dalam sebuah tarian putri Gaya Surakarta. Dalam karya ini penata menyampaikan bahwa ketidak berdayaan seorang wanita justru bisa menjadi kekuatan baginya. Mengaplikasikan bentuk penyajian yang dikemas secara dramatik karya ini dipentaskan dengan didukung elemen elemen pertunjukan seperti dipentaskan di Procenium Stage Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Yogyakarta menggunakan kain dengan tujuan sebagai setting panggung yang menggambarkan suasana kerajaan. Diiringi musik dalam bentuk instrumen gamelan live laras pelog, dan menggunakan properti topeng sebagai simbol sukma. Karya ini diciptakan dengan tujuan untuk memvisualisasikan dramatis kisah cinta Dewi Sekartaji dan Panji Asmarabangun melalui pengembangan gerak yang berangkat dari motif tari gaya Surakarta dengan karakter luruh mbanyu mili, serta memberikan pengalaman proses kreatif penciptaan dan juga sebagai bentuk apresiasi terhadap tokoh Dewi Sekartaji
Samasta Rasasmara
Samasta Rasasmara memiki arti disatukan rasa cinta. Karya ini mengusung tema tragedi percintaan yang terinspirasi salah satu tokoh dalam kitab panji dari Kediri yaitu Dewi Sekartaji atau yang bernama lain Dewi Candrakirana. Dewi Sekartaji memiliki kepribadian dan karakter anggun, lemah lembut, tegas dan pemberani.
Karya ini diwujudkan dalam bentuk koreografi kelompok dengan komposisi empat penari perempuan, Empat penari memunculkan dua karakter perempuan dalam bentuk feminim dan maskulin dengan tujuan penggambaran Dewi Sekartaji dan Panji Asmarabangun. Penata menghadirkan konsep komposisi tari srimpi dalam karya ini sebagai bentuk visualisasi pengalaman empiris penata sendiri terhadap kesedihan dan mimpinya yang kemudian disusun menjadi satu kesatuan alur yang linier menjadi sebuah karya tari Samasta Rasasmara. Berkaca pada karya karya yang telah ada memang sangat jarang mengangkat sosok Sekartaji menggunakan konsep srimpi dalam sebuah tarian putri Gaya Surakarta. Dalam karya ini penata menyampaikan bahwa ketidak berdayaan seorang wanita justru bisa menjadi kekuatan baginya. Mengaplikasikan bentuk penyajian yang dikemas secara dramatik karya ini dipentaskan dengan didukung elemen elemen pertunjukan seperti dipentaskan di Procenium Stage Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Yogyakarta menggunakan kain dengan tujuan sebagai setting panggung yang menggambarkan suasana kerajaan. Diiringi musik dalam bentuk instrumen gamelan live laras pelog, dan menggunakan properti topeng sebagai simbol sukma.
Karya ini diciptakan dengan tujuan untuk memvisualisasikan dramatis kisah cinta Dewi Sekartaji dan Panji Asmarabangun melalui pengembangan gerak yang berangkat dari motif tari gaya Surakarta dengan karakter luruh mbanyu mili, serta memberikan pengalaman proses kreatif penciptaan dan juga sebagai bentuk apresiasi terhadap tokoh Dewi Sekartaji
- …
