12 research outputs found
PENGEMBANGAN PAKET PELATIHAN SELF-REGULATED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN DISIPLIN BELAJAR BAGI SISWA SMA
ABSTRAK Probowati, Devy. 2015. Pengembangan Paket Pelatihan Self Regulated Learning untuk Meningkatkan Displin Belajar Bagi Siswa SMA. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Blasius Boli Lasan, M.Pd, (II) Dra. Elia Flurentin, M.Pd. Kata Kunci: pengembangan, self regulated learning, disiplin belajar Tujuan pendidikan salah satunya adalah siswa dapat lebih mandiri, kreatif, dan aktif ternyata tidak semudah mewujudkannya. Siswa berada di sekolah tidak lebih dari enam jam per hari, dan sisanya siswa berada di rumah. Banyak siswa yang mempunyai permasalahan dalam mengatur waktu belajar, sehingga siswa yang mempunyai banyak waktu luang justru digunakan untuk kegiatan kurang bermanfaat. Sebenarnya hal ini dapat teratasi jika siswa menerapkan self regulated learning, yaitu strategi belajar yang efektif, dimana siswa dapat secara aktif, menentukan tujuan belajar, merencanakan, dan mengatur diri dalam belajar. Maka dari itu diperlukan suatu paket pelatihan self regulated learning untuk meningkatkan disiplin belajar bagi siswa. Dengan adanya paket pelatihan self regulated learning ini diharapkan siswa dapat mengenali strategi belajar yang sesuai sehingga dapat mengatur sendiri waktu belajarnya secara disiplin. Penelitian dan pengembangan yang dilaksanakan bertujuan untuk menghasilkan paket pelatihan self regulated learning untuk meningkatkan disiplin belajar bagi siswa SMA. Model penelitian dan pengembangan mengadaptasi langkah-langkah pengembangan dari Borg and Gall (1983). Uji ahli terdiri dari ahli bimbingan dan konseling, dan ahli media yang memiliki kualifikasi tingkat keahlian minimal S2. Data kuantitatif dianalisis dengan analisis rerata, dan data kualitatif dianalisis dengan analisis deskriptif. Spesifikasi dari instrumen uji ahli meliputi ketepatan, kegunaan, kemudahan, dan kemenarikan. Hasil penilaian rata-rata dari uji ahli bimbingan dan konseling pertama adalah 3,28 yang menunjukkan produk yang dihasilkan sangat tepat, sangat berguna, sangat mudah. Uji ahli kedua adalah 3,12 yang menunjukkan produk yang dihasilkan tepat, berguna, mudah. Hasil penilaian rata-rata dari uji ahli media adalah 3,85 yang menunjukkan produk yang dihasilkan sangat tepat, sangat berguna, sangat mudah dan sangat menarik. Berdasarkan hasil penilaian rata-rata maka menurut para ahli dapat disimpulkan bahwa spesifikasi produk sangat tepat, sangat berguna, sangat mudah, dan sangat menarik. Penilaian para ahli juga menyatakan bahwa produk yang dihasilkan berupa paket pelatihan self regulated learning untuk meningkatkan disiplin belajar bagi siswa SMA ini dapat diterima secara teoritis. Saran yang diberikan untuk pemanfaatan adalah konselor harus memahami prosedur pelatihan serta materi dalam paket pelatihan sebelum menerapkannya kepada siswa, sedangkan saran bagi peneliti selanjutnya adalah hasil penelitian dan pengembangan dapat dilanjutkan dengan penelitian eksperimen untuk mengetahui keefektifan paket pelatihan ini, selain itu dilanjutkan pula dengan uji coba lapangan luas serta desiminasi
Pelatihan Keterampilan Esensial Konseling untuk Konselor Sekolah dengan Structured Learning Approach
Salah satu permasalahan pelik yang dialami oleh para konselor sekolah di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo adalah rendahnya keterampilan konseling. Hal ini karena sebagian besar mereka tidak berlatarbelakang pendidikan sarjana bimbingan dan konseling. Selama ini, proses konseling dilakukan dengan cara yang lebih mirip dengan pemberian nasehat daripada konseling profesional. Berdasarkan kondisi tersebut, dilakukan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan esensial konseling untuk para konselor dimaksud. Melalui pelatihan ini, diharapkan agar para konselor dapat meningkatkan: (1) keterampilan mendengarkan secara aktif; (2) keterampilan mempengaruhi; dan (3) keterampilan pemberian bantuan pemecahan masalah melalui prosedur-prosedur konseling secara umum. Kegiatan inidilaksanakan dengan menggunakan pendekatan structured learning approach (SLA) dengan sistem In, On, dan In. Secara keseluruhan, kegiatan pelatihan dilaksanakan selama tiga bulan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa terdapat peningkatanpengetahuan dan keterampilan konseling para peserta. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan skor-skor pengetahuan dan keterampilan mereka ke arah yang lebih baik.Kata Kunci:keterampilan esensial konseling; bimbingan dan konseling; structured learning approachCounseling Essential Skills Training for School Counselors with a Structured Learning Approach ABSTRACT One of the most compliacated problems of school counselors in Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo is the lack of their counseling skills. This is because their educational background is not related to guidance and counseling. Prior to this program, their counseling service was carried out in a way that could be called advice giving rather than professional counseling. Based on the situation, the program aims to improve the essential counseling skills of the counselors. The program is expected to improve the counselors’: (1) active listening skills; (2) influencing skills; and (3) skills in providing problem solving. The program is implemented with a structured learning approach (SLA) and In-On-In procedure. Overall, the entire program was carried out in three months. The result of the program is the improvement of the counselors’ understanding and skills in giving counseling service.Keywords: essential counseling skills; guidance and counseling; structured learning approac
Social Intelligence, Love, Self-Regulation Pada Remaja yang Adiksi Game Online Jenis Agresif dan Non-Agresif
Abstract: The internet of things, which was known in the era of the industrial revolution 4.0, can make it easier for teenagers to get information and access the internet everywhere. Excessive use of the internet and always sacrificing important activities by teenagers can be called information technology addiction. Examples of information technology addictions that have a negative impact are aggressive and non-aggressive online game addiction. The negative impact of online game addiction for adolescents is the disruption of social development, social interaction, self-esteem, sympathy, affection for others, and the inability to control themselves. The study aimed to examine the description of social intelligence, love, and self-regulation in adolescents with aggressive and non-aggressive online game addiction. The research population of adolescents from junior high and high school education levels in Malang City. This research uses a quantitative approach with a survey design. The instruments used were an online game addiction questionnaire, a social intelligence questionnaire, a love questionnaire, and a self-regulation questionnaire which was tested for validity and reliability using the Rasch Model. The results showed 1) the majority of adolescents experienced the more aggressive type of online game addiction than non-aggressive online games; 2) the majority of adolescents experiencing aggressive and non-aggressive types of online game addiction have low social intelligence, love, and self-regulation. Abstrak: Internet of things yang dikenal pada era revolusi industri 4.0 dapat mempermudah generasi remaja untuk mendapatkan informasi dan mengakses internet dimana-mana.Penggunaan internet yang berlebihan dan selalu mengorbankan kegiatan penting oleh remaja dapat disebut dengan adiksi teknologi informasi. Contoh adiksi teknologi informasi yang berdampak negatif yaitu adiksi game online jenis agresif dan non agresif. Dampak negatif dari adiksi game online bagi remaja adalah terganggunya pengembangan sosial, interaksi sosial, harga diri, simpati, kasih sayang kepada orang lain, dan tidak mampu mengontrol dirinya. Tujuam penelitian adalah untuk menelaah gambaran social intelligence, love, dan self-regulation pada remaja yang adiksi game online jenis agresif dan non agresif. Populasi penelitian remaja yang dari jenjang pendidikan SMP dan SMA di Kota Malang. Penelitian menggunakan pendekatan kuanititif dengan desain survei. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner adiksi game online, kuesioner social intelligence, kuesioner love, dan kuesioner self-regulation yang di uji valid dan realibitas menggunakan Rasch Model. Hasil penelitian menunjukkan 1) sebagian besar remaja lebih banyak mengalami adiksi game online jenis agresif dibandingkan game online jenis non agresif; 2) sebagian besar remaja mengalami adiksi game online jenis agresif dan non agresif memiliki social intellogence, love, dan self-regulation renda
Implementasi Konseling Suryomentaram bagi Guru BK SMA/SMK di Kota Malang
Prokastinasi akademik yang terjadi di kalangan siswa SMA mengalami peningkatan seiring berlalunya pandemic Covid-19 dan meningkatnya perkembangan teknologi dan media sosial. Siswa lebih memilih menunda mengerjakan tugas dan mengalami kejenuhan dalam kegiatan belajar. Prokastinasi akademik menjadi masalah yang harus segera ditangani di sekolah, karena berdampak pada prestasi akademik siswa. Tujuan kegiatan pengabdian yaitu untuk meningkatkan kompetensi guru Bimbingan Konseling (BK) dalam melaksanakan konseling dengan pendekatan Suryomentaram, sehingga dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan konseling yang dilakukan Guru BK dalam membantu menyelesaikan masalah prokastinasi akademik siswa. Metode belajar melalui tindakan (learning by doing) menjadi alternatif yang akan membantu guru BK dalam mengembangkan keterampilan konseling dengan pendekatan Suryomentaram melalui penyampaian informasi dan implementasi konseling pada siswa yang mengalami prokastinasi akademik. Hasil pelaksanaan pengabdian adalah peningkatan pengetahuan guru BK dan peningkatan keterampilan guru BK di SMA dan SMK dalam melaksanakan proses konseling dengan menggunakan pandangan Suryomentaram dalam mengatasi prokastinasi akademik siswa. Kata kunci—Konseling Suryomentaram, Guru Bimbingan Konseling, Pendampingan Guru Abstract Academic procrastination that occurs among high school students has increased along with the passing of the Covid-19 pandemic and the increasing development of technology and social media. Students prefer to postpone doing assignments and experience boredom in learning activities. Academic procastination is a problem that must be addressed immediately in schools, because it has an impact on students’ academic achievement. The aim of the service activity is to increase the competency of Counseling Guidance (BK) teachers in carrying out counseling using the Suryomentaram approach, so that they can improve the quality of counseling carried out by BK teachers in helping to solve students’ academic procrastination problems. The learning by doing method is an alternative that will help guidance and counseling teachers in developing counseling skills using the Suryomentaram approach through conveying information and implementing counseling for students who experience academic procrastination. The results of the implementation of the service are an increase in the knowledge of guidance and counseling teachers and an increase in the skills of guidance and counseling teachers in high schools and vocational schools in carrying out the counseling process using Suryomentaram’s views in overcoming students' academic procrastination. Keywords—Suryomentaram Counseling, Teacher Guidance Counseling, Teacher Mentorin
E-Module Behavior Counseling Practicum Based on Case Study
Abstract: One of the mandatory courses for students majoring in guidance and counseling is a behavior counseling practicum. The purpose of this research is to develop the behavior counseling e-module based on case studies that can be applied to students of guidance and counseling. The research and development design used in this study is the ADDIE model. The instrument used is a module assessment scale. The assessors are experts in guidance and counseling, media, language, and prospective users. Index agreement result of the product by the guidance and counseling expert validator is 1 (very high), the media expert is 0.93 (very high), the language expert is 0.90 (very high), and the user assessment showed the mean score is 3.55 (very high in 4 scales). The developed product, e-module, has met the product acceptability criteria from various specified aspects.
Abstrak: Salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiswa jurusan bimbingan dan konseling adalah praktikum konseling perilaku. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan e-modul konseling perilaku berbasis studi kasus yang dapat diterapkan pada mahasiswa bimbingan dan konseling. Rancangan penelitian dan pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model ADDIE. Instrumen yang digunakan adalah skala penilaian modul. Uji ahli melibatkan ahli di bidang bimbingan dan konseling, media, bahasa, dan calon pengguna. Hasil indeks produk oleh ahli bimbingan dan konseling adalah 1 (sangat tinggi), ahli media 0,93 (sangat tinggi), ahli bahasa 0,90 (sangat tinggi), dan penilaian pengguna menunjukkan skor rata-rata 3,55. (sangat tinggi dalam 4 skala). Produk yang dikembangkan, yaitu e-modul telah memenuhi kriteria keberterimaan produk dari berbagai aspek yang ditentukan
The Analysis of Publication Trends on Nomophobia: a 13-Year Bibliometric Review
In the past 10 years, nomophobia has attracted the attention of researchers and been recognized as a modern mental health issue, requiring further exploration. However, an analysis of research trends and publications related to this topic has not been found in the Scopus database search. The aim of this study was to conduct a bibliometric analysis to uncover trends and scientific output related to nomophobia. Publication search was conducted using the Scopus database. A total of 304 documents within the timeframe of 2010 to June 2023 were analyzed using Vosviewer. Computer in Human Behavior (15) emerged as the journal with the highest number of publications on nomophobia. Turkey (59) was the country with the highest research output on nomophobia. The scientific landscape related to nomophobia, as revealed through author keyword co-occurrence analysis in the co-occurrence map, indicated the presence of five clusters. A detailed review of these clusters is described in this article
Penguatan empati konselor: Upaya peningkatan profesionalitas melalui cased method
Upaya peningkatan profesionalitas konselor terus dibutuhkan seiring perkembangan zaman. Salah satu keterampilan yang sangat dibutuhkan dalam pemberian layanan bimbingan dan konseling yaitu penguasaan empati. Tujuan dalam pengabdian ini berupa penguatan empati konselor sebagai upaya peningkatan profesionalitas melalui cased method. Metode pengabdian merujuk pada pendekatan Service Learning (SL) berbasis case method terdiri atas tiga tahap terdiri atas (1) Service Learning Planning, Analysis and Design; (2) Service Learning Delivery and Phase; (3) Service Learning Evaluation, Reflection and Monitoring. Kegiatan pengabdian diikuti oleh 25 perwakilan konselor yang berasal dari 25 SMP di Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu) dan dilaksanakan pada 9-31 Juli 2023. Secara keseluruhan terdapat peningkatan pemahaman (14%), sikap (21%) dan perilaku (23%) terkait empati dan implementasinya dalam layanan BK di sekolah. Secara keseluruhan empati konselor ditinjau dari tiga aspek mengalami peningkatan sebesar 19%. Hasil uji Wilcoxon signed rank test menunjukkan peningkatan signifikan pada skor post-test dibandingkan dengan pre-test. Adapun dampak kegiatan ini terhadap konselor SMP Malang Raya, yakni meningkatkan pemahaman, sikap dan perilaku konselor terkait empati dan implementasinya dalam layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Harapannya para peserta yang terdiri dari perwakilan konselor SMP Malang Raya dapat menyebarluaskan wawasan dan pengetahuan yang didapat kepada sejawat konselor lainnya. Tim pengabdian lanjutan dapat memberikan pelatihan-pelatihan lain untuk menunjang peningkatan profesionalitas konselor SMP di Malang Raya
Needs Analysis of Cyber Education-Based Pre-Marriage Guidance Models for Students
Marriage is a task of individual development. Conflicts, problems, and mismatches of expectations must be faced in marriage. Couples who are unable to resolve these issues will be more likely to choose separation or divorce. There are high divorce rates in Indonesia. Pre-marital guidance is part of efforts to prepare prospective married couples to achieve the expected quality of marriage. Currently, pre-marital guidance is carried out conventionally, such as through seminars or training. Meanwhile, what is needed by today’s Millennial society is clear, accurate, and flexible information to be accessed anywhere and anytime. For this reason, efforts are needed to develop a cyber education-based pre-marital guidance service model. The purpose of this study was to provide an analysis of material needs for the Cyber Education-Based Pre-Marriage Guidance Model. Descriptive quantitative methodology was used and data were collected through a Google Forms questionnaire. This questionnaire consisted of 18 questions compiled with the aim of uncovering needs relating to the following: 1) formulation of problems; 2) determination of the type of information or data; 3) data collection procedures; 4) data processing; and 5) decision-making based on data analysis results. 280 students from LPTK universities throughout Java participated, including from Universitas Negeri Malang, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Semarang, Universitas Negeri Yogyakarta, and Universitas Pendidikan Indonesia.
Keywords: pre-wedding guidance, cyber education, student
Penyusunan Alat Ukur Perkembangan Bahasa Reseptif Anak Usia 8-36 Bulan
The aim of this research was to arrange the receptive language development instrument for children aged 8 to 36 months. Receptive language development is the ability to understand what people tell them and to respond it correctly. This research adopted the language development theories, such as Owens (1996), Bowen (1998), Child Development Institute (1998), American Academy of Pediatrics (2000), Oesterreich (2004), Arnold Palmer Hospital & Howard Phillips Center (2008), and William (2008). The participants were children aged 8 to 36 months (N=112) during assessment period and (N=95) try out period. The reliability score is rπ= -0,222 to 0,682. The result shows that the instrument which the author had constructed might be used to separate children with normal re- ceptive language development and children with receptive language development delay.
Penelitian ini bertujuan untuk menyusun alat ukut perkembangan bahasa reseptif pada anak usia 8-36 bulan. Dalam penyusunannya, peneliti mengacu pada beberapa teori perkembangan bahasa, antara lain berdasarkan Owens (1996), Bowen (1998), Child Development Institute (1998), American Academy of Pediatrics (2000), Oesterreich (2004), Arnold Palmer Hospital & Howard Phillips Center (2008), dan William (2008). Perkembangan bahasa reseptif adalah kemampuan untuk memahami kata-kata yang diucapkan oleh lawan bicara dan anak dapat menanggapinya dengan tepat. Subjek yang digunakan adalah anak usia 8-36 bulan (N=112) untuk tahap survei awal dan (N=95) untuk tahap uji coba. Nilai reliabilitas alat ukur ini berkisar antara rπ = -0,222 sampai dengan 0,682. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat ukur yang disusun dapat digunakan sebagai alat penyaring dalam membedakan antara perkembangan bahasa reseptif yang normal dengan yang menyimpang atau terlambat
Needs Analysis of Cyber Education-Based Pre-Marriage Guidance Models for Students
Marriage is a task of individual development. Conflicts, problems, and mismatches of expectations must be faced in marriage. Couples who are unable to resolve these issues will be more likely to choose separation or divorce. There are high divorce rates in Indonesia. Pre-marital guidance is part of efforts to prepare prospective married couples to achieve the expected quality of marriage. Currently, pre-marital guidance is carried out conventionally, such as through seminars or training. Meanwhile, what is needed by today's Millennial society is clear, accurate, and flexible information to be accessed anywhere and anytime. For this reason, efforts are needed to develop a cyber education-based pre-marital guidance service model. The purpose of this study was to provide an analysis of material needs for the Cyber Education-Based Pre-Marriage Guidance Model. Descriptive quantitative methodology was used and data were collected through a Google Forms questionnaire. This questionnaire consisted of 18 questions compiled with the aim of uncovering needs relating to the following: 1) formulation of problems; 2) determination of the type of information or data; 3) data collection procedures; 4) data processing; and 5) decision-making based on data analysis results. 280 students from LPTK universities throughout Java participated, including from Universitas Negeri Malang, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Semarang, Universitas Negeri Yogyakarta, and Universitas Pendidikan Indonesia.
Keywords: pre-wedding guidance, cyber education, student
