1,720,966 research outputs found
The Adaptability of The Society in Dealing with The Vulnerability of Earthquake Threats in Bantul
Earthquake in Bantul on May 27, 2006 brought catastrophic impacts for society as the victims. There were the most serious damages and highest number of victims in Bawuran Village. On the other hand, Srigading Village had the lowest damages and there was no victim. Bawuran Village is located on graben which causes its vulnerability towards earthquake threat. Meanwhile, Srigading Village is situated on 3-10 meters above the sea level, which makes it vulnerable to tsunami. The adaptation capacity is very important to minimize the costs of natural disasters. Based on the reviews of those backgrounds, the researcher will examine the societal adaptation capacity in Bawuran and Srigading Village regarding to its vulnerability towards tsunami and earthquake. Societal adaptation capacity can be seen as society’s readiness in facing natural disasters. This research uses qualitative-descriptive method. Data collecting techniques are done by using literature study, field observation through interview and documentation. The researcher also has conducted an in-depth interview with the local government i.e. the officers of Regional Disaster Management Agency (BPBD) in Bantul Regency. The result of this research is to find out the society’s adaptation capacity towards earthquake, drought, landslide, flood, fallen tree, tornado and river flow closing in Bawuran Village. Meanwhile in Srigading Village, the risk of tsunami, flood and puddle have been found. The society’s adaptation capacity in Bawuran and Srigading Village can be assessed by using economic growth, social capital, information and communication, and social competence. Based on those assessments, societies do not have readiness in facing disasters yet. It is caused by poor economic condition, inadequate economic resources with low incomes in Bawuran Village, and the uneven population of Srigading Village. The networks within the community have not been fully developed. The community also cannot access information through the internet network. This is due to the unavailability of internet facilities in the two villages. It also lacks of disaster management competency. This condition is indicated by the absence of disaster programs in the two villages. Awareness from the society, especially the victims in responding disasters is also needed. The result of research shows that societies do not have readiness in facing any upcoming disasters yet.
</jats:p
Hubungan Kadar Serum Homosistein dan Manganese Superoxide Dismutase (MNSOD) terhadap Ketebalan Retinal Nerve Fiber Layer (RNFL) pada Pasien Retinopati Diabetik dan Non-Retinopati Diabetik
Tujuan: Untuk mencari hubungan antara kadar serum homosistein dan MnSOD terhadap ketebalan retinal nerve fiber layer (RNFL) pada pasien retinopati diabetik dan non- retinopati diabetik.
Metode: Penelitian bersifat observasional analitik kasus kontrol dengan jumlah subyek sebanyak 31 mata untuk masing-masing kelompok. Pengambilan sampel dilakukan dari Maret sampai Juni 2022 di Poliklinik Mata Divisi Vitreo-Retina RS Universitas Sumatera Utara dan RS Jejaring. Sampel darah vena diambil sebanyak 3 cc untuk menilai kadar serum homosistein dan MnSOD kemudian dianalisis dengan metode ELISA di laboratorium terpadu FK USU. Masing-masing kelompok retinopati diabetik dan kontrol dilakukan pemeriksaan dengan fundus camera dan SD-OCT yang selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan derajat keparahan retinopati diabetik dan ketebalan RNFL.
Hasil: Subyek terbanyak pada kelompok kasus retinopati diabetik berjenis kelamin perempuan sejumlah 17 orang (54,8%) dengan kelompok usia terbanyak 45-65 tahun. Lama menderita DM pada pada kasus retinopati diabetik kebanyakan >5 tahun berjumlah 23 orang (74,2%). Ditemukan perbedaan ketebalan Avg RNFL dan Nasal RNFL yang signifikan antara kedua kelompok (p = 0,015) dengan rerata ketebalan AvgRNFL adalah 100,94 (SD=17,04) dan rerata ketebalan nasal RNFL adalah 90,16 (SD=33,68). Kadar MnSOD tertinggi terdapat pada subyek non-retinopati diabetik dengan rerata 142,77 (SD=101,77). Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara homositein dengan ketebalan superior RNFL (p=0,346), inferior RNFL (p=0,292), temporal RNFL (p = 0,109), nasal RNFL (p = 0,190). Namun, ditemukan hubungan yang signifikan antara homositein dengan Avg RNFL (p = 0,007). Nilai korelasi (r) yang diperoleh adalah -0,472.
Kesimpulan: Pada kelompok kasus retinopati diabetik ditemukan hubungan yang signifikan antara Hcy dengan Avg RNFL (p = 0,007). Peningkatan kadar homosistein serum akan diikuti dengan penurunan ketebalan Avg RNFL.141 HalamanTesis Magiste
Hubungan Kadar Serum Homosistein dan Manganese Superoxide Dismutase (MNSOD) terhadap Ketebalan Retinal Nerve Fiber Layer (RNFL) pada Pasien Retinopati Diabetik dan Non-Retinopati Diabetik
Tujuan: Untuk mencari hubungan antara kadar serum homosistein dan MnSOD terhadap ketebalan retinal nerve fiber layer (RNFL) pada pasien retinopati diabetik dan non- retinopati diabetik.
Metode: Penelitian bersifat observasional analitik kasus kontrol dengan jumlah subyek sebanyak 31 mata untuk masing-masing kelompok. Pengambilan sampel dilakukan dari Maret sampai Juni 2022 di Poliklinik Mata Divisi Vitreo-Retina RS Universitas Sumatera Utara dan RS Jejaring. Sampel darah vena diambil sebanyak 3 cc untuk menilai kadar serum homosistein dan MnSOD kemudian dianalisis dengan metode ELISA di laboratorium terpadu FK USU. Masing-masing kelompok retinopati diabetik dan kontrol dilakukan pemeriksaan dengan fundus camera dan SD-OCT yang selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan derajat keparahan retinopati diabetik dan ketebalan RNFL.
Hasil: Subyek terbanyak pada kelompok kasus retinopati diabetik berjenis kelamin perempuan sejumlah 17 orang (54,8%) dengan kelompok usia terbanyak 45-65 tahun. Lama menderita DM pada pada kasus retinopati diabetik kebanyakan >5 tahun berjumlah 23 orang (74,2%). Ditemukan perbedaan ketebalan Avg RNFL dan Nasal RNFL yang signifikan antara kedua kelompok (p = 0,015) dengan rerata ketebalan AvgRNFL adalah 100,94 (SD=17,04) dan rerata ketebalan nasal RNFL adalah 90,16 (SD=33,68). Kadar MnSOD tertinggi terdapat pada subyek non-retinopati diabetik dengan rerata 142,77 (SD=101,77). Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara homositein dengan ketebalan superior RNFL (p=0,346), inferior RNFL (p=0,292), temporal RNFL (p = 0,109), nasal RNFL (p = 0,190). Namun, ditemukan hubungan yang signifikan antara homositein dengan Avg RNFL (p = 0,007). Nilai korelasi (r) yang diperoleh adalah -0,472.
Kesimpulan: Pada kelompok kasus retinopati diabetik ditemukan hubungan yang signifikan antara Hcy dengan Avg RNFL (p = 0,007). Peningkatan kadar homosistein serum akan diikuti dengan penurunan ketebalan Avg RNFL.141 HalamanTesis Magiste
ANALISIS PELAKSANAAN SISTEM INFORMASI RUMAH SAKIT (SIRS) DALAM PENYUSUNAN PERENCANAAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PASAMAN BARAT TAHUN 2015
Tujuan Penelitian Sistem Informasi Rumah Sakit merupakan hal yang sangat penting, namun di RSUD Pasaman Barat pelaksanaannya masih mengalami kendala, seperti terlambatnya laporan yang dikumpulkan dari masing-masing unit bagian penunjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan sistem informasi rumah sakit dalam mendukung penyusunan perencanaan di RSUD Pasaman Barat Tahun 2015. Metode Desain penelitian adalah kualitatif dengan teknik penentuan informan purposive sampling. Penelitian dilakukan di RSUD Pasaman barat dengan wawancara mendalam pada informan berjumlah 11 orang. Pengolahan data menggunakan triagulasi sumber dan metode. Rekaman hasil wawancara mendalam dibuat dalam bentuk matrik lalu diidentifikasi dan analisis serta diinterpretasikan dalam bentuk hasil penelitian. Hasil Hasil penelitian didapatkan bahwa ketersediaan data, tenaga, alat, dan prosedur sudah ada, namun masih belum mencukupi serta organisasi khusus sistem informasi rumah sakit belum ada. Pengolahan data dilakukan secara manual, namun terdapat kendala seperti data yang belum lengkap di Instalasi Rekam Medik dan juga belum tepat waktu. Kesimpulan Kesimpulan dari hasil pelaksanaan Sistem Informasi Rumah Sakit di RSUD Pasaman Barat masih mengalami keterlambatan. Disarankan untuk membentuk organisasi khusus mengolah Sistem Informasi Rumah Sakit supaya kegiatan penyusunan perencanaan di RSUD Pasaman Barat bisa tepat waktu dan terlaksana secara optimal. Daftar Pustaka : 33 (2004-2014) Kata Kunci : Sistem Informasi Rumah Sakit, Perencanaa
Effect of Ginkgo Biloba Extract on Changes in MnSOD and IL8 in Patients with Non-Proliferative Diabetic Retinopathy Post-Intravitreal Ranibizumab Therapy
Background: Diabetic retinopathy (DR) is a major complication of diabetes mellitus (DM) and a leading cause of vision loss in working-age adults. Oxidative stress and inflammation play critical roles in DR pathogenesis, with Manganese Superoxide Dismutase (MnSOD) serving as an oxidative stress biomarker and Interleukin-8 (IL-8) as an inflammatory mediator. Intravitreal ranibizumab therapy effectively reduces neovascularization but is associated with side effects such as macular edema. Ginkgo Biloba extract (EGB) possesses antioxidant and anti-inflammatory properties, yet its role as an adjuvant therapy in non-proliferative diabetic retinopathy (NPDR) post-ranibizumab has not been explored. This study aims to evaluate the effect of EGB on changes in MnSOD, IL-8, and clinical parameters (visual acuity, intraocular pressure/IOP, and macular thickness) in NPDR patients following ranibizumab therapy.145 pagesDisertasi Dokto
PEMBERDAYAANMASYARAKAT DALAM PENANGGULANGAN BENCANA DI KELURAHAN ULAK KARANG SELATAN KECAMATAN PADANG UTARA
Pemberdayaan masyarakat oleh BPBD Kota Padang, KSB, Lembaga-lembaga
Sosial serta LSM baik ditingkat Provinsi, tingkat Kecamatan dan sampai pada tingkat
Kelurahan dilakukan agar tidak besarnya dampak yang diterima oleh masyarakat
ketika terjadi bencana. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka perlu dilakukan
pemberdayaan masyarakat. Untuk mengurangi banyaknya korban akibat bencana,
dapat dilakukan pemberdayaan masyarakat di Kelurahan Ulak Karang Selatan pada
tahap pra-bencana yaitu tahap sebelum terjadinya bencana. Pada tahap ini, dapat
dilakukan sosialisasi tentang tingkat kerentanan bencana. Pemberdayaan masyarakat
merupakan suatu hal yang penting dipersiapkan pada proses pra-bencana. Dengan
adanya persiapan ini dapat mengurangi resiko bencana seperti mencegah dan
mengurangi ancaman, mengurangi resiko atau mitigasi, mengurangi kerentanan dan
dapat meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menyikapi bencana.
Dengan demikian, untuk mengetahui pemberdayaan masyarakat dalam
penanggulangan bencana gempa bumi sebelum terjadinya bencana, maka peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian mengenai: Pemberdayaan Masyarakat dalam
Penanggulangan Bencana di Kelurahan Ulak Karang Selatan Kecamatan
Padang Utara
Hubungan Derajat Miopia Sedang dan Berat dengan Terjadinya Floater
Introduction: Myopia is a refractive abnormality in rays - the rays parallel to the line of sight on the state of the eye is not accommodation focused in front of the retina. ln myopia floaters arise due to the increased length of the eyeball axis, where changes in the vitreous, causing more floaters. Overview floater seemed to float in the vitreous cavity. On the other checks, B scan ultrasound looked overview vitreous floater as hyperechogenic.78 HalamanTesis Magiste
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
