161,181 research outputs found
Peran Konservasi Dan Karakterisasi Plasma Nutfah Padi Beras Merah Dalam Pemuliaan Tanaman
ABSTRACTThe long duration of cultivation of local red rice (more than 134 days) and its tall stem (average above 164 cm) led to a decline of farmers' preferences to grow red rice. In fact, based on research, red rice demonstrated anti-oxidants higher than that of white rice and good for glucose dietary. Currently only a small portion of red rice are grown extensively to meet the consumption needs of the community that increasingly aware the superiority of red rice. While the majority of red rice varieties which are not constantly planted would be threatened by genetic erosion. Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development has mandate for ex situ preservation of food crops, including red rice. Until now, a total of 54 varieties have been collected through exploration in almost all regions in Indonesia.Broad plant genetic diversity conserved will contribute to plant breeding program.Keywords: Red rice, conservation, characterization, plant breeding, genetic resourceAbstrakKarakteristik padi beras merah yang memiliki umur dalam (lebih dari 134 hari) dan postur tanaman yang tinggi (rata-rata 164 cm) menyebabkan preferensi petani untuk membudidayakan padi beras merah cenderung menurun. Menurut hasil penelitian, beras merah mengandung antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan dengan beras putih serta dianjurkan untuk diet gula. Saat ini hanya sebagian kecil plasma nutfah padi beras merah yang ditanam secara luas untuk memenuhi kebutuhan, khususnya kalangan masyarakat yang makin menyadari keutamaan kandungan gizi beras merah. Sementara sebagian besar plasma nutfah padi beras merah tidak ditanam secara terus-menerus sehingga akan mengalami erosi genetik. Oleh karena itu, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian sebagai lembaga yang memiliki mandat pelestarian tanaman pangan, terus mela-kukan konservasi ex-situ. Hingga kini 54 varietas/galur padi beras merah telah dikumpulkan melalui eksplorasi dari hampir seluruh daerah di Indonesia dan telah dikarakterisasi. Dengan adanya keragaman genetik padi beras merah yang berasal dari berbagai daerah di tanah air, diharapkan program pemuliaan tanaman dapat berjalan sesuai dengan tujuan
KAJIAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT Gelidium corneum DENGAN BEBERAPA METODE DAN PENEMPATAN BIBIT DI PERAIRAN TABULO SELATAN, GORONTALO
Rumput laut Gelidium corneum merupakan salah satu spesies rumput laut penghasil agar dengan kandungan agarosa tertinggi dibandingkan jenis rumput laut lainnya. Hingga saat ini, produksi rumput laut Gelidium corneum masih mengandalkan perolehan dari alam sehingga volumenya masih sangat terbatas. Berdasarkan kondisi tersebut, kajian terhadap upaya budidaya rumput laut G. corneum dengan menerapkan beberapa teknik budidaya rumput laut yang sudah ada untuk mendapatkan metode dan penempatan bibit budidaya yang paling sesuai untuk G. corneum. Kegiatan uji coba dilakukan di perairan Tabulo Selatan, Gorontalo. Rancangan percobaan didesain menggunakan faktorial yang terdiri atas dua, yaitu faktor metode (long line dan kantong) dan faktor penempatan bibit di dalam perairan (permukaan dan dasar). Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan metode kantong yang ditempatkan di dasar perairan menunjukkan performansi pertumbuhan rumput laut G. corneum yang paling baik, dengan nilai rata-rata laju pertumbuhan harian 2,92%.Gelidium corneum produces agar with the highest agarose content compared to other seaweed species. The current production of G. corneum still relies heavily on wild stock which is very limited. This study was conducted to determine the best cultivation technique and seed placement in the farming of G. corneum. The study was carried out in the waters of South Tabulo, Gorontalo. This study used a factorial design which consisted of two cultivation methods (long line and bag) and two seed placement levels in the waters (surface and bottom). From the four treatments, G. corneum grown in the bags and placed at the bottom showed the best growth performance with a mean daily growth rate of 2.92%
KARAKTERISTIK POHON INDUK GAMBIR (Uncaria gambir (Hunter) Roxb.) DI SENTRA PRODUKSI SUMATRA BARAT DAN RIAU
Sumatra Barat, Riau dan Sumatra Selatan merupakan sentra produksi gambir di Indonesia. Sumatra Barat dan Riau telah dipilih populasi terbaik untuk dijadikan pohon induk. Keragaman populasi terpilih di sentra produksi belum banyak diketahui, oleh karena itu dila-kukan karakterisasi untuk mengetahui kera-gaman pohon induk di sentra produksi gambir di Sumatra Barat dan Riau. Karakterisasi di-lakukan langsung di lapang dan dilaksanakan di lahan petani gambir di Sumatra Barat yaitu di Kabupaten Lima Puluh Kota (Gunung Ma-lintang, Harau dan Tanjung Gadang), Kabu-paten Pesisir Selatan (Siguntur dan Barung-Barung Belantai) dan di kabupaten Kampar-Riau (Tabing, Tanjung, Muara Takus, Gunung Bungsu, Gunung Malelo, Tanjung Alai dan Ba-lung). Karakterisasi dilakukan terhadap 31 po-pulasi gambir terpilih. Pengamatan dilakukan terhadap karakter kualitatif dan kuantitatif ya-itu ranting, daun, bunga dan buah. Untuk ka-rakter produksi daun pengamatan dilakukan selama 5 kali panen berturut-turut. Data hasil pengamatan ditabulasi dan kemudian dilakukan analisa kluster untuk melihat kekerabatan antar aksesi dan pengelompokannya berdasarkan Taxonomic Average Distance menggunakan program NTSYSpc ver. 2.1 (exeter sofware). Hasil penelitian menunjukkan berdasar karak-ter panjang dan lebar daun, tipe Cubadak cen-derung lebih panjang dan lebar dibandingkan tipe Udang dan tipe Riau, demikian pula de-ngan panjang ruas ranting. Sebaliknya, jumlah polong buah per tangkai dan jumlah biji per po-long pada tipe Cubadak lebih sedikit. Kluster berdasarkan sifat kuantitatif terlihat bahwa an-tar tipe tidak mengelompok dalam kluster yang berbeda, melainkan berbaur, aksesi dari daerah lokal yang sama umumnya berada pada anak kluster yang sama. Hasil analisis kluster berda-sarkan sifat kualitatif tidak memisahkan aksesi berdasarkan basis geografi daerah asal Riau atau Sumatra Barat, tapi memisahkan tipe Udang dengan tipe lainnya (Cubadak dan Riau). Berdasarkan sifat produksi aksesi me-ngelompok ke dalam 2 kluster utama. Kluster 1 terdiri dari tanaman yang berproduksi getah tinggi (>1000 kg) yaitu UTG, UGB, CSG, CTA, USG, UBL, UMT, RTG, RTJ dan CTB. Sedang pada kluster ke-2 membagi ke dalam 3 anak kluster, namun demikian produksi ge-tah tertinggi berada dalam anak kluster ter-sendiri yaitu terdiri dari UGM, UGO, UTB, UHR, UTA dan UTB. Berdasarkan total ka-rakter (baik karakter kualitatif maupun kuantitatif), kombinasi tipe dan daerah lokal asal tanaman tercermin dalam kluster. Gambir tipe udang mengelompok dalam anak kluster tersendiri, walaupun ada yang out kluster seperti aksesi UBB dan USG. Aksesi dari dae-rah asal yang sama cenderung berada pada anak kluster yang sama.
PENGARUH AUKSIN IBA DAN NAA TERHADAP INDUKSI PERAKARAN INGGU
ABSTRAK Inggu (Ruta graveolens L.) merupakan salah satu tanaman obat langka di Indonesia yang perlu dilestarikan. Upaya konservasi tanaman inggu telah dilakukan secara in vitro di laboratorium Balittro selama 17 tahun pada kultur tunas. Untuk mengobservasi kestabilan genetik perlu dilakukan induksi perakaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh auksin IBA dan NAA terhadap induksi perakaran inggu secara in vitro. Bahan tanaman yang digunakan adalah tunas steril inggu in vitro yang telah berumur 17 tahun, yang ditanam pada media dasar Murashige dan Skoog (MS) setengah konsentrasi (½ MS) yang diperkaya vitamin dari group B. Perlakuan yang diuji adalah beberapa taraf konsentrasi auksin IBA dan NAA (0; 0,001; 0,002; dan 0,003 mg/l). Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan lima ulangan. Setiap ulangan terdiri dari lima botol yang berisi dua tanaman. Parameter yang diamati adalah jumlah, panjang, dan bentuk akar, serta jumlah tunas dan penampilan kultur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media ½ MS yang diperkaya NAA pada konsentrasi rendah 0,001 mg/l menghasilkan jumlah akar terbanyak, yaitu 13,6 akar. Perlakuan ini juga menghasilkan banyak bulu-bulu akar yang menandakan akar yang sehat. Kata kunci: Ruta graveolens L., IBA, NAA, induksi perakaran, in vitro The Effect of Auxin IBA and NAA to In Vitro Rooting Induction of Roe (Ruta graveolens L.) ABSTRACTRoe (Ruta graveolens L.) is one of the Indonesian rare medicinal plants. An attempt to conserve roe, has been conducted through in vitro culture of sterile shoots at the laboratory of the Indonesian Spice and Medicinal Crops Research Institut (ISMCRI) for 17 years. To observe the genetic stability of culture following in vitro conservation for a long period, the collection must be tested in greenhouse and field. Therefore, it is necessary to induce rooting. The aim of the experiment was to observe the effect of IBA and NAA auxin to root induction of roe. The sterile shoots were used as material. They were planted on half-concentration (½ MS) on Murashige and Skoog (MS) medium, enriched with vitamin from group B. The experiment was arranged in a completely randomized design with five replications. Each replication consist of five bottles with two plants. The treatment tested were several concentrations of IBA and NAA (0; 0.001; 0.002; and 0.003 mg/l). The parameters observed were number, lenght, shape, and length of roots, and also the number of shoots and culture performance. The result showed that the use of ½ MS + NAA0.001 mg/l produced the highest number of roots (13.6 roots). This treatment also produced a lot of root hairs which indicates a healthy roots. Key words: Ruta graveolens L., IBA, NAA, roots induction, in vitr
SEBARAN, POTENSI INTRODUKSI, DAN PENGENDALIAN IKAN BERBAHAYA/INVASIF DAN BERPOTENSI INVASIF DI YOGYAKARTA DAN SEKITARNYA
Pengendalian penyebaran ikan berbahaya, invasif dan berpotensi invasif di Indonesia terutama bertumpu pada pelarangan lalu lintas ikan pada pintu pemasukan dan pengeluaran, belum terhadap peningkatan kesadaran dan peran serta masyarakat. Di lain pihak, regulasi yang mengatur lalu lintas ikan tersebut minim dan upaya penegakan hukum terhadap perdagangan dan budidayanya belum maksimal. Akibatnya 78 jenis ikan berbahaya dari total 152 yang dilarang masuk ke Indonesia tersebar di pusat perdagangan ikan hias dan perairan umum. Sehingga edukasi kepada publik perlu ditingkatkan sejalan dengan perbaikan regulasi melalui pemetaan sebarannya sebagaimana dilakukan dalam studi ini. Survei dilakukan di Yogyakarta dan sekitarnya untuk menginventarisir penyebaran spesies target di lokasi perdagangan ikan hias dan mendapatkan gambaran persepsi responden terhadap pelepasliaran. Penelitian ini menemukan bahwa peran manusia signifikan dalam introduksi ikan asing pada habitat baru, tercermin dari propagule pressure, yang dianalisa dengan statistika bayesian, pada 8 dari total 29 spesies target mencapai lebih dari 100 individu. Ditemukan Atractosteus spatula, Pygocentrus nattereri, dan Arapaima gigas yang berbahaya bagi manusia, diperdagangkan dengan persentase sebaran masing-masing 41 %, 30 %, dan 13 %. Analisa varian dua arah menunjukkan responden yang berlokasi mandiri menyediakan lebih banyak jenis ikan target (p<0,05). Survei untuk menggali pengetahuan, kesadaran, dan tanggungjawab responden menunjukkan bahwa dari 8 pertanyaan yang diajukan hanya 25 % yang mendapat respon positif bagi pencegahan penyebaran spesies target. Dalam jangka panjang, strategi pengendalian penyebaran spesies target harus melibatkan lebih banyak peran masyarakat. Larangan lalu lintas antar area tidak bebas harus dilakukan.Control strategy on harmful, invasive and potentially invasive fishes in Indonesia, mainly relies upon restriction of translocation at border rather than community education and empowerment. However, domestic translocation is lack to regulate and law enforcements on culture and trade of the species are lax leading to presence of around 78 of all 152 prohibited fishes in ornamental fish markets and wild waters. Therefore public awareness should be encouraged while regulations are updated such as that of the mapping conducted in this study. The survey was carried out in Yogyakarta and surrounding areas to know spread of the species among ornamental fish stores and traders, and identifiy respondent’s tendency of species release. It revealed that human played significant roles in introducing alien fishes in new habitat, reflected from the propagule pressure analysed by bayesian statistics, that hit more than 100 individuals in each of eight of total 29 species possessing invasiveness. Three species mapped, Atractosteus spatula, Pygocentrus nattereri, and Arapaima gigas, are known harmful for human and traded among 46 respondents with alarming frequencies at 41 %, 30 % and 13 % respectively. Two ways anova fully factorial revealed that independent stores sold more targeted species (p<0.05). Only 25 % of total eight questions to test knowledge, awareness, and responsibility of respondents were returned with positive perception. Long term control strategy should be underpinned by more public participation. Translocation of inter non-free areas should also be restricted.
Frankfurt book fair: cancelled prize ceremony for Palestinian author is part of a long history of political zigzagging
First paragraph: The Frankfurt Buchmesse, or book fair, is the world’s largest publishing industry gathering, attracting thousands of exhibitors every October. On one level, it’s a business event focused on creating buzz for forthcoming bestsellers, trading rights and discussing industry developments. On another, it’s a public celebration of books and the values associated with them.https://theconversation.com/frankfurt-book-fair-cancelled-prize-ceremony-for-palestinian-author-is-part-of-a-long-history-of-political-zigzagging-21574
Hala tuju pendidikan dan latihan guru Bahasa Melayu pada abad ke-21
In the 21 st.century, the education and training of Bahasa Melayu teachers is different from the past. Many aspects of teacher's education and training are included, such as the competency in ICT, creative and critical thinking, diversity in intelectual capacity and etc. Smart Schools make the education and training of teachers to be more challenging.Pendidikan dan latihan guru Bahasa Melayu (BM) pada abad ke-21 adalah berbeza dengan pendidikan dan latihan yang diterima pada pada masa lalu. Banyak aspek dalam pendikan dan latihan guru dimasukkan seperti kemahiran teknologi maklumat dan komunikasi, kemahiran berfikir secara kritis dan kreatif, kepelbagaian kecerdasan dan banyak lagi. Penubuhan Sekolah Bestari turut menjadikan pendidikan dan latihan yang diterima oleh guru BM semakin mencabar
PENGARUH BENTUK VISUAL DAN DURASI VIDEO YOUTUBE KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI TERHADAP PENGETAHUAN PETANI
The Effect of Visual Forms and Duration of Youtube Videos of the Sustainable Food House Area on Farmers Knowledge. The research aims to analyze the effect of visual form and the duration of the Kawasan Youtube video The Sustainable Food House Area (SFHA) to increase farmers' knowledge so that the cost of content creation incurred by the institution is commensurate with to the optimal level of adoption of agricultural technology by the community. This research was a purely experimental 2 x 2 factorial and it used a pretest posttest control group design, which was carried out on farmer groups at two different locations, namely Cihasrashas Village, Mulyajarja District, South Bogor and the North Bogor District Office. The experimental subjects were 50 people, who were then divided into five groups. Each group consisted of 10 randomly selected people. The statistical results showed that all combinations of visual forms and the duration of the KRPL Youtube video had an effect on increasing respondents' knowledge. The highest increase in knowledge was obtained from visual-realistic video with long duration (more than three minutes), followed by visual-realistic video with short duration (less than or equal to three minutes), infographic animation video with long duration (more than three minutes). minutes), and the last one is an animated infographic video with a short duration (less than or equal to three minutes). Keywords: farmers’ knowledge, SFHA, visual form, video, Youtube ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk menganalisis pengaruh bentuk visual dan durasi video Youtube Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) terhadap peningkatan pengetahuan petani, hal ini dimaksudkan agar biaya dalam pembuatan konten yang dikeluarkan institusi sebanding dengan tingkat adopsi inovasi teknologi pertanian oleh masyarakat secara optimal. Penelitian ini merupakan eksperimental murni faktorial 2 x 2 dan menggunakan pretest posttest control group design, yang dilakukan pada kelompok tani pada dua lokasi yang berbeda, yaitu di kampung Cihasrashas, Kecamatan Mulyajarja, Bogor Selatan dan kantor Kecamatan Bogor Utara. Subjek eksperimental berjumlah 50 orang, yang kemudian dibagi dalam lima kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang dipilih secara acak. Hasil statistik menunjukkan semua kombinasi bentuk visual dan durasi video Youtube KRPL berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan responden. Peningkatan pengetahuan paling tinggi diperoleh dari video bentuk visual realistik dengan durasi panjang (lebih dari tiga menit), diikuti oleh video bentuk visual realistik dengan durasi pendek (kurang dari atau sama dengan tiga menit), selanjutnya video animasi infografis dengan durasi panjang (lebih dari tiga menit), dan yang terakhir adalah video animasi infografis dengan durasi pendek (kurang dari atau sama dengan tiga menit).Kata kunci: pengetahuan petani, KRPL, bentuk visual, video, Youtub
PERAKITAN VARIETAS JERUK TANPA BIJI MELALUI PEMULIAAN KONVENSONAL DAN NONKONVENSIONAL
Existence of seeds in the citrus fruit, becomes a major problem that it cannot be received by consumer, even though the fruits has a good taste. Citrus breeders have long been conducting research to improvement of seedless cultivars with the diverse approach. Breeding’s strategies to gain seedless character covering conventional and non-conventional techniques. Conventional technique develop through controlled sexual or interploidi crossing. Seedless character transfer by sexual crossing technique have to do trough manipulate of crossing technique to gain seedless progeny. Crossing technique manipulate through environment manipulation, application of plant growth regulators, parent’s selections and embryo rescue. Non-conventional technique to seedless improvement cover to embryo rescue, endosperm culture, in vitro mutagenesis, inter species and inter ploidi somatic hybridization, cybrid production, and develop of GMO. Current breeding to improve seedless citrus done by ploidy manipulation approach with the target is triploid plant which produce seedless. Indonesian Agency for Agricultural Research and Development- IAARD have succeeded registering varieties of seedless citrus, Pamindo Agrihorti (2016) and SoE86 Agrihorti (2017), which resulted from mutation breeding. Furthermore there are also various line of triploid citrus and citrus obtained through protoplast fusion and being adaptation tested at lowland and highland.Keywords: Citrus spp., seedless, plant improvement, conventional, biotechnology AbstrakJeruk dengan biji yang banyak kurang disukai konsumen meskipun rasanya manis. Para pemulia sudah sejak lama melakukan pemuliaan tanaman jeruk untuk mendapatkan kultivar dengan buah tanpa biji (seedless). Strategi pemuliaan yang dilakukan untuk mendapatkan buah jeruk seedless meliputi penerapan teknik konvensional dan nonkonvensional. Teknik konvensional dikembangkan melalui persilangan seksual terkontrol atau persilangan interploidi. Pemindahan karakter seedless dengan teknik persilangan seksual harus dilakukan dengan memanipulasi teknik persilangan untuk mendapatkan progeni yang berkarakter seedless. Manipulasi teknik persilangan dilakukan dengan modifikasi lingkungan, aplikasi ZPT, pemilihan tetua yang tepat dan penyelamatan embrio. Teknik nonkonvensional yang telah dilakukan dalam pemuliaan jeruk seedless meliputi penyelamatan embrio, kultur endosperma, mutagenesis in vitro, hibridisasi somatik interspesifik dan interploidi, produksi sibrid, serta perakitan tanaman transgenik. Saat ini pemuliaan untuk mendapatkan tanaman jeruk dengan karakter seedless banyak dilakukan melalui pendekatan manipulasi ploidi dengan target diperolehnya tanaman triploid yang akan menghasilkan buah seedless. Balitbangtan sudah berhasil mendaftarkan varietas jeruk tanpa biji, Pamindo Agrihorti (2016) dan SoE86 Agrihorti (2017), yang dihasilkan melalui pemuliaan mutasi. Selain itu juga telah diperoleh beberapa galur jeruk triploid dan jeruk hasil fusiprotoplas yang sedang diujiadaptasikan di dataran rendah dan tinggi.Kata kunci: Citrus spp, tanpa biji, perakitan tanaman, konvensional, bioteknolog
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
