1,720,980 research outputs found

    STRUKTURALISME GENETIK LUCIEN GOLDMANN DALAM NASKAH DRAMA RT NOL RW NOL KARYA IWAN SIMATUPANG

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan struktur naskah drama RT Nol RW Nol karya Iwan Simatupang sebagai unsur intrinsik yang dibatasi dengan tema, alur, tokoh, dialog, dan latar, (2) mendeskripsikan subjek kolektif dengan menggunakan kajian strukturalisme genetik, (3) mendeskripsikan fakta kemanusiaan dengan menggunakan kajian strukturalisme genetik, (4) mendeskripsikan pandangan dunia berdasarkan ideologi pengarang dengan menggunakan kajian strukturalisme genetik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan dialektik sebagai metode dari strukturalisme genetik Lucien Goldmann. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori strukturalisme genetik Lucien Goldmann untuk mengetahui latar belakang penciptaan tulisan dalam naskah drama RT Nol RW Nol karya Iwan Simatupang berdasarkan konteks sosial. Diketahui bahwa tokoh-tokoh dalam naskah merupakan kelompok gelandangan yang tinggal di kolong jembatan dan berkaitan dengan budaya perkotaan. Subjek kolektif dalam naskah menunjukkan bahwa pengarang termasuk kategori kelas menengah bawah dan kelompok sastrawan 70-an yang memiliki karakteristik karya dengan tema isu-isu tanah air. Isu yang diangkat oleh Iwan Simatupang adalah kemiskinan dan gelandangan. Isu ini juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yaitu lingkungan sosial, budaya, dan politik pada masa orde lama sekitar tahun 1945-1966 sebagai fakta kemanusiaan dalam naskah. Hubungan antara subjek kolektif dan fakta kemanusiaan menghasilkan pandangan eksistensialisme sebagai pandangan dunia pengarang, meliputi ketidakpastian dan kekhawatiran, pencarian makna hidup, serta kritik terhadap norma sosial dan budaya. **** This research aims to (1) describe the structure of the script RT Nol RW Nol by Iwan Simatupang as an intrinsic element defined by theme, plot, characters, dialogue, and setting, (2) describe the collective subject using genetic structuralism analysis, (3) describe human facts using genetic structuralism analysis, and (4) describe the worldview based on the author’s ideology using genetic structuralism analysis. This research employs a qualitative descriptive and dialectical method as the methodology of Lucien Goldmann’s genetic structuralism. The theory used in this study is Lucien Goldmann’s genetic structuralism to understand the background of the writing creation in the script RT Nol RW Nol by Iwan Simatupang based on the social context. It is found that the characters in the script are a group of homeless people living under a bridge, related to urban culture. The collective subject in the script indicates that the author belongs to the lower middle class and the 70s literally group, characterized by works with themes of national issues. The issue raised by Iwan Simatupang is poverty and homelessness. This issue is also influenced by the surrounding environment, namely the social, cultural, and political environment during the old order era around 1945-1966 as human facts in the script. The relationship between the collective subject and human facts produces existentialism as author’s worldview, including uncertainty and anxiety, the search for life’s meaning, and criticism of social and cultural norms

    Bentuk Penyajian Tari Rondhing di Sanggar Bina Tari Madura Kabupaten Pamekasan.

    No full text
    ABSTRAK Lestari, Dwi Puji. 2016. Bentuk Penyajian Tari Rondhing di Sanggar Bina Tari Madura Kabupaten Pamekasan. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Ninik Harini, M.Sn, Pembimbing (II) Tri Wahyuningtyas, S.Pd, M.Si. Kata Kunci : Tari Rondhing, Bentuk Penyajian Tari Rondhing adalah suatu jenis tari tradisional khas daerah yang terdapat dan berasal dari Kabupaten Pamekasan. Tarian ini memiliki beberapa nama yakni selain nama Rondhing juga dikenal dengan nama Baris dan kencak. Tarian ini menceritakan pasukan belanda yang sedang berlatih baris-berbaris pada masa penjajahan. Terdapat keunikan yang ada dalam tarian ini ditinjau dari bentuk penyajiannya yaitu ragam geraknya yang didominasi oleh gerakan kaki, tata rias yang tidak sesuai dengan karakter tariannya serta tata busana yang memiliki ciri khas disamping bahunya yang biasa disebut dengan Bay-rambay yaitu sebagai tanda pangkat. Hal ini yang melatar belakangi penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Bentuk Penyajian Tari Rondhing di Sanggar Bina Tari Madura Kabupaten Pamekasan.Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian bertempat di Sanggar Bina Tari Madura Kabupaten Pamekasan. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada pengecekan keabsahan temuan menggunakan 2 teknik triangulasi yaitu triangulasi sumber dan teknik. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan Bentuk Penyajian Tari Rondhing di Sanggar Bina Tari Madura Kabupaten Pamekasan memiliki keunikan tersendiri yang terdiri dari beberapa aspek yaitu: ragam gerak yang didominasi oleh gerakan hentakan kaki, tata rias menggunakan tata rias cantik dengan warna dasar putih dan eye shadow warna merah dan kuning, tata busana menggunakan busana khas Rondhing yang terdiri dari warna-warna yang sangat mencolok dan terdapat tanda pangkat disamping bahunya yang biasa disebut dengan Bay-rambay, pola lantai terdiri dari pola-pola sederhana karena tarian ini merupakan tarian kerakyatan, musik iringan dan properti.  Beberapa saran yang diberikan penulis, yaitu bagi pelaku seni,  diharapkan tetap mempertahankan kekhasan tari Rondhing, dengan cara memperkuat jati  diri dan kepribadian sebagai masyarakat Pamekasan agar identitas masyarakat  Pamekasan tidak hilang. Dengan adanya penelitian, diharapkan  masyarakat Pamekasan mengetahui keunikan yang terdapat dalam tari Rondhing sehingga dapat melestarikan dengan baik tari yang menjadi tarian khas Kabupaten Pamekasa

    Bentuk Penyajian Tari Rondhing di Sanggar Bina Tari Madura Kabupaten Pamekasan

    No full text
    ABSTRAK   Lestari, Dwi Puji. 2016. Bentuk Penyajian Tari Rondhing di Sanggar Bina Tari Madura Kabupaten Pamekasan. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Ninik Harini, M.Sn, Pembimbing (II) Tri Wahyuningtyas, S.Pd, M.Si.   Kata Kunci : Tari Rondhing, Bentuk Penyajian   Tari Rondhing adalah suatu jenis tari tradisional khas daerah yang terdapat dan berasal dari Kabupaten Pamekasan. Tarian ini memiliki beberapa nama yakni selain nama Rondhing juga dikenal dengan nama Baris dan kencak. Tarian ini menceritakan pasukan belanda yang sedang berlatih baris-berbaris pada masa penjajahan.Terdapat keunikan yang ada dalam tarian ini ditinjau dari bentuk penyajiannya yaitu ragam geraknya yang didominasi oleh gerakan kaki, tata rias yang tidak sesuai dengan karakter tariannya serta tata busana yang memiliki ciri khas disamping bahunya yang biasa disebut dengan Bay-rambay yaitu sebagai tanda pangkat. Hal ini yang melatar belakangi penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Bentuk Penyajian Tari Rondhing di Sanggar Bina Tari Madura Kabupaten Pamekasan. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian bertempat di Sanggar Bina Tari Madura Kabupaten Pamekasan. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada pengecekan keabsahan temuan menggunakan 2 teknik triangulasi yaitu triangulasi sumber dan teknik.             Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan Bentuk Penyajian Tari Rondhing di Sanggar Bina Tari Madura Kabupaten Pamekasan memiliki keunikan tersendiri yang terdiri dari beberapa aspek yaitu: ragam gerak yang didominasi oleh gerakan hentakan kaki, tata rias menggunakan tata rias cantik dengan warna dasar putih dan eye shadow warna merah dan kuning, tata busana menggunakan busana khas Rondhing yang terdiri dari warna-warna yang sangat mencolok dan terdapat tanda pangkat disamping bahunya yang biasa disebut dengan Bay-rambay, pola lantai terdiri dari pola-pola sederhana karena tarian ini merupakan tarian kerakyatan, musik iringan dan properti.             Beberapa saran yang diberikan penulis, yaitu bagi pelaku seni, diharapkan tetap mempertahankan kekhasan tari Rondhing, dengan cara memperkuat jati diri dan kepribadian sebagai masyarakat Pamekasan agar identitas masyarakat Pamekasan tidak hilang. Dengan adanya penelitian, diharapkan  masyarakat Pamekasan mengetahui keunikan yang terdapat dalam tari Rondhing sehingga dapat melestarikan dengan baik tari yang menjadi tarian khas Kabupaten Pamekasan

    UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MEDIA KARTU BERGAMBAR PADA POKOK BAHASAN PERISTIWA ALAM BESERTA DAMPAKNYA PADA SISWA KELAS V SDN MANGARAN 01 KABUPATEN JEMBER TAHUN PELAJARAN 2010/2011

    No full text
    Untuk memperoleh hasil pengajaran yang sebaik-baiknya dalam proses belajar mengajar guru harus selalu berusaha membangkitkan aktifitas para murid sehingga seluruh perhatian mereka tertuju dan terpusat kepada bahan pelajaran yang sedang diajarkan. Guru harus menyadari bahwa tidak setiap bahan pelajaran menarik perhatian murid sebagaimana juga tidak setiap murid menaruh perhatian terhadap bahan pelajaran yang sama karena itu mutlak diperlukan kecakapan guru untuk dapat memberikan motivasi membangkitkan aktifitas dan perhatian murid terhadap bahan pelajaran yang sedang diajarkan. Tujuan dari penelitian ini adalah : (1) untuk mengetahui proses belajar mengajar melalui media kartu bergambar pada pokok bahasan peristiwa alam beserta dampaknya (2) untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam media kartu bergambar pada pokok bahasan peristiwa alam beserta dampaknya. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Mangaran 01 pada siswa kelas V yang terdiri dari 40 siswa, 18 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dan jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus. Peneliti ini dilakukan mulai tanggal 28 Maret 2011 samapi 09 April 2011 dengan subjek penelitian siswa kelas V SDN Mangaran 01 Kecamatan Ajung Kabupaten Jember. Data yang dikumpulkan berupa aktivitas siswa, aktivitas guru dan tes individu. Berdasarkan data yang telah diperoleh dari observasi diketahui bahwa presentase aktivitas siswa selama pembelajaran media kartu bergambar pada pokok bahasan peristiwa alam beserta dampaknya adalah : siklus I sebesar 55% dan pada siklus II menjadi 85% . Kesimpulan dari penelitian ini adalah siswa mengalami peningkatan aktivitas dan hasil belajar pada materi upaya meningkatkan hasil belajar IPA melalui media kartu bergambar pada pokok bahasan peristiwa alam beserta dampaknya dapat menciptakan pembelajaran yang aktif dan memotifasi siswa untuk meningkatkan hasil belajar serta dapat memudahkan siswa dalam memahami suatu materi pelajaran

    UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MEDIA KARTU BERGAMBAR PADA POKOK BAHASAN PERISTIWA ALAM BESERTA DAMPAKNYA PADA SISWA KELAS V SDN MANGARAN 01 KABUPATEN JEMBER TAHUN PELAJARAN 2010/2011

    No full text
    Tujuan dari penelitian ini adalah : (1) untuk mengetahui proses belajar mengajar melalui media kartu bergambar pada pokok bahasan peristiwa alam beserta dampaknya (2) untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam media kartu bergambar pada pokok bahasan peristiwa alam beserta dampaknya. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Mangaran 01 pada siswa kelas V yang terdiri dari 40 siswa, 18 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dan jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus. Peneliti ini dilakukan mulai tanggal 28 Maret 2011 samapi 09 April 2011 dengan subjek penelitian siswa kelas V SDN Mangaran 01 Kecamatan Ajung Kabupaten Jember. Data yang dikumpulkan berupa aktivitas siswa, aktivitas guru dan tes individu. Berdasarkan data yang telah diperoleh dari observasi diketahui bahwa presentase aktivitas siswa selama pembelajaran media kartu bergambar pada pokok bahasan peristiwa alam beserta dampaknya adalah : siklus I sebesar 55% dan pada siklus II menjadi 85% . Kesimpulan dari penelitian ini adalah siswa mengalami peningkatan aktivitas dan hasil belajar pada materi upaya meningkatkan hasil belajar IPA melalui media kartu bergambar pada pokok bahasan peristiwa alam beserta dampaknya dapat menciptakan pembelajaran yang aktif dan memotifasi siswa untuk meningkatkan hasil belajar serta dapat memudahkan siswa dalam memahami suatu materi pelajaran

    POLA PEMBELAJARAN PROGRAM KECAKAPAN HIDUP (LIFE SKILL) MENJAHIT DI BLK KABUPATEN PEKALONGAN

    No full text
    Penelitian ini dilatarbelakangi adanya fakta bahwa lulusan BLK (Balai Latihan Kerja) Kabupaten Pekalongan banyak yang menjadi lebih produktif sehingga banyak warga Pekalongan yang menjadi berminat untuk mengikuti pelatihan di BLK tersebut. Permasalahan dalam penelitian ini adalah 1) bagaimana pola pembelajaran pendidikan kecakapan hidup (Life SkillI) kursus menjahit di BLK Kabupaten Pekalongan 2) apa faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan kecakapan hidup (life skill) kursus menjahit di BLK kabupaten Pekalongan Pendekatan penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan model studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawarancara, observasi dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri dari 1 pemimpin BLK, 2 instruktur dan 2 orang warga belajar. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan metode. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu (1) reduksi data (2) penyajian data dan (3) kesimpulan. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 1) menciptaka iklim pembelajaran menjahit, meliputi merumuskan tujuan, materi yang akan diajarkan, metode, strategi, media, sumber belajar, serta perencanaan evaluasi. 2) pelaksanaan pembelajaran, instruktur melakukan inovasi pembelajaran sesuai dengan kemampuan warga belajar, instruktur selalu membantu warga belajar yang mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran. 3) evaluasi pembelajaran, prosedur evaluasi dilaksanakan pada saat proses pembelajaran dengan teknik mengamati bagaimana sikap warga belajar dan diberi tugas-tugas yang harus diselesaikan dan pengamatan dilakukan sesuai dengan instrumen yang telah disiapkan. Diakhir masa pembelajaran dengan cara tes tertulis dan praktek yang dinilai dalam tes praktek yaitu hasil atau produknya apakah sudah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai penilaian menggunakan instrumen. 4) faktor pendukung dan penghambat dalam pembelajaran kursus, faktor penghambatnya adalah adanya latar belakang pendidikan yang berbeda di warga belajar sehingga mempengaruhi kemampuan dalam penyerapan materi yang berbeda ada yang lambat dan cepat. Faktor pendukung di BLK memiliki sarana dan prasarana yang lengkap untuk pembelajaran dan memiliki instrukur yabg berkompeten dalam menyapaikan materi salah satunya memberikan motuvasi, ceramah dan warga belajar berpartisipasialam pembelajaran dan profesional karena instruktur di BLK telah mengikuti uji kompetensi terlebih dahulu baru boleh mengajar dan mengisi diberbagai acara workshop Kesimpulan dari penelitian pola pembelajaran kecakapan hidup kursus menjahit meliputi unsur perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi. Komponen terpenting dalam pola pembelajaran dengan prinsip andragogi. Saran yang diberikkan untuk pembelajaram kursus menjahit adalah untuk warga belajar diharapkan lebih termotivasi lagi untuk mengikuti kursus menjahit, perlu pemagangan warga belajar,pemberian motivasi dan penambahan koleksi buku

    PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA MATERI POKOK PEMISAHAN CAMPURAN : Analisis Aspek Konten Sains Siswa SMP Kelas VII

    Get PDF
    Penelitian yang berjudul “Penerapan Pembelajaran Kontekstual Pada Materi Pokok Pemisahan Campuran (Analisis Aspek Konten Sains Siswa SMP Kelas VII)” bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peningkatan literasi sains siswa pada aspek konten sains melalui penerapan pembelajaran kontekstual. Peningkatan penguasaan konten sains siswa dilihat secara keseluruhan dan berdasarkan kelompok siswa (tinggi, sedang, dan rendah) pada jenjang kemampuan ingatan, pemahaman, dan aplikasi. Penelitian ini menggunakan metode pra eksperimen dengan desain kelompok tunggal pretes dan postes (one group pretest-postest design). Subjek penelitian adalah siswa kelas VII di salah satu SMP swasta di Bandung sebanyak 33 orang. Instrumen dalam penelitian meliputi tes tertulis dan pedoman wawancara. Dari hasil analisis data ditemukan bahwa setelah penerapan pembelajaran kontekstual terjadi peningkatan penguasaan konten sains siswa secara keseluruhan yaitu 66,48%. Peningkatan juga terjadi pada masing-masing kelompok siswa yaitu 82,80% untuk kelompok tinggi, 65,87% untuk kelompok sedang, dan 53,00% untuk kelompok rendah. Selain itu pula penguasaan konten sains pada semua jenjang (ingatan, pemahaman, dan aplikasi) mengalami peningkatan secara keseluruhan yaitu 67,69% dan berdasarkan kelompok siswa mengalami peningkatan masing-masing adalah 70,41% untuk jenjang ingatan, 66,85% untuk jenjang aplikasi dan 64,38% untuk jenjang pemahaman. Pembelajaran kontekstual yang diberikan memberikan pengaruh yang positif, karena memudahkan siswa dalam memahami materi yang disampaikan, meningkatkan keaktifan siswa, menambah pengalaman dan wawasan dengan berbagai konteks yang diberikan serta meningkatkan motivasi untuk belajar kimia lebih lanjut. Dengan demikian pembelajaran kontekstual yang diterapkan dapat meningkatkan penguasaan konten sains siswa

    EFEKTIVITAS PENDIDIKAN KESEHATAN MENGGUNAKANMETODE PICTURE AND PICTURE DAN METODE SIMULASITERHADAP PENGETAHUAN, SIKAP, DAN KETRAMPILANKESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA SISWA KELAS IIIMI NEGERI 7 KABUPATEN MAGELANG

    No full text
    EFEKTIVITAS PENDIDIKAN KESEHATAN MENGGUNAKAN METODE PICTURE AND PICTURE DAN METODE SIMULASI TERHADAP PENGETAHUAN, SIKAP, DAN KETRAMPILAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA SISWA KELAS IIIMI NEGERI 7 KABUPATEN MAGELANGDwi Puji Lestari1, Pramono Giri K2, Susi Tentrem R. Talib31Mahasiswa Program Studi DIV Keperawatan Magelang Poltekkes Kemenkes Semarang2,3Dosen Program Studi Keperawatan Magelang Poltekkes Kemenkes SemarangEmail: [email protected] Belakang: Status kesehatan gigi dan mulut yang buruk pada anak sekolah sering dikaitkan dengan ketidakhadirannya di sekolah untuk mengikuti pelajaran yang berdampak pada kegiatan belajar anak menjadi tidak maksimal, untuk itu perlu diberikannya pendidikan kesehatan tentang kesehatan gigi dan mulut.Tujuan: Mengetahui efektivitas pendidikan kesehatan menggunakan metode picture and picture dan metode simulasi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan kesehatan gigi dan mulut.Metode Penelitian:. Desain penelitian ini menggunakan quasi experiment dengan pre-test and post test group design.Populasi dan Sampel: Siswa kelas III MI Negeri 7 Kabupaten Magelang, yang dibagi menjadi 2 kelompok. Masing- masing kelompok berjumlah 28 dan 27 responden.Hasil: Hasil analisa data menggunakan Uji Mann Whitney dengan hasil metode picture and picture lebih efektif dibanding metode simulasi terhadap peningkatan pengetahuan dengan nilai p-value sebesar 0,00

    PROSEDUR PEMERIKSAAN RADIOGRAFI SHOULDER JOINT PADA KLINIS DISLOKASI POSTERIOR

    No full text
    Prosedur pemeriksaan shoulder joint pada kasus dislokasi posterior memiliki beberapa teknik proyeksi. Pada pemeriksaan shoulder joint dengan kasus dislokasi posterior digunakan proyeksi Anteroposterior(AP), lateral scapula, axillary view dan scapula Y view. Hal ini berlawanan dengan pernyataan bahwa proyeksi axillary view tidak disarankan pada kasus dislokasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pemeriksaan shoulder joint dengan klinis dislokasi posterior, serta peranan proyeksi axillary view memperlihatkan klinis dislokasi posterior. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan metode kajian study case review dengan pendekatan case series. Pengambilan data diperoleh melalui Google Scholar, Elsevier, PubMed, dan ProQuest dengan menggunakan kata kunci Shoulder Joint, Shoulder Dislocation, Posterior Shoulder Dislocation, dan Axillary View dalam jangka waktu publikasi 2011-2021. Analisa data dilakukan terhadap artikel dan textbook yang relevan kemudian membandingkan serta mengambil kesimpulan dan saran. Hasil penelitian menunjukan prosedur pemeriksaan radiografi shoulder joint dengan klinis dislokasi posterior diawali persiapan pasien, yaitu melepas benda yang berpotensi menyebabkan artefak. Penggunaan alat dan bahan meliputi pesawat sinar-X, Image Receptor(IR) berukuran 24 x 30 cm, marker dan prossesing unit. Pemeriksaan shoulder joint membutuhkan lebih dari satu proyeksi untuk mengevaluasi keadaan shoulder joint. Proyeksi AP berperan memperlihatkan gambaran keseluruhan shoulder joint. Proyeksi axillary view berperan dalam memproyeksikan gambaran lateral hubungan sendi glenohumeral dengan lebih jelas dibanding proyeksi AP
    corecore