1,723,997 research outputs found
SEBUAH ANALISIS SEMIOTIK LOGO KOKO CICI INDONESIA
‘Koko Cici Indonesia’ was pioneered by Koko Cici Jakarta election held in 2002. Koko Cici Jakarta was born with the aim of increasing inclusiveness Indonesian youths in Chinese culture as part of the wealth of Indonesia. The purpose of this study to determine the meaning of the logo Koko Cici Indonesia as well as knowing the representation and the strengthening of the identity on the logo Koko Cici Indonesia. This research method by analyzing use semiotics of Charles Sanders Peirce basis of sign, qualitative research, with representation and identity theory. Finding shows that the representation of Koko Cici Indonesia logo through competency standards, the provision of knowledge and objectives, have the same understanding to become Koko Cici and become cultural ambassador of Tionghoa, Indonesia tourism ambassador and social ambassador will support identity as Koko Cici Indonesia, Koko Cici is supported with cheongsam and qibao for their duty, greetings, and sash into a unity identity of Koko Cici Indonesia. The identity you want to display from this logo is Koko Cici is not exclusive but they have unity diversity based on the meaning of ba gua’, also maintain the harmonization of tradition. From the logo Koko Cici Indonesia also shows as a Chinese organization seen from the symbol of Dragon & Phoenix, as well as large capacity due to logo like umbrella.Key Words: Semiotic, Peirce, Logo, Representative, Identity, Communicatio
STRATEGI KOMUNIKASI IKATAN KOKO CICI JOGJA DALAM MEMPROMOSIKAN AJANG PEMILIHAN KOKO CICI JOGJA 2018
Penelitian ini membahas mengenai strategi komunikasi yang digunakan
untuk promosi ajang Pemilihan Koko Cici Jogja 2018. Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui strategi komunikasi dari organisasi Ikatan Koko Cici Jogja dalam
mempromosikan event mereka, agar lebih banyak masyarakat Yogyakarta yang
mengenal dan ikut berpartisipasi menjadi duta sosial, pariwisata dan budaya
terutama budaya Tionghoa kepada seluruh masyarakat Yogyakarta. Harapannya
adalah penelitian ini dapat memberikan pengetahuan bagi dunia luar mengenai
penyusunan dan implementasi strategi komunikasi dalam mempromosikan sebuah
event yang serupa.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif
kualitatif. Penelitian dilakukan dengan mewawancarai lima narasumber yang
merupakan anggota Ikatan Koko Cici Jogja yang juga menjadi panitia dalam
Pemilihan Koko Cici Jogja 2018. Data dikumpulkan melalui wawancara dan
dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data,
penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa implementasi strategi komunikasi
yang dilakukan oleh Ikatan Koko Cici Jogja untuk mempromosikan ajang
Pemilihan Koko Cici Jogja 2018 tidak semua berjalan sesuai dengan aktivitas
bauran promosi. Pertama dalam mempromosikan ajang Pemilihan Koko Cici Jogja
2018 tidak ada devisi yang benar-benar memegang promosi, Public relations dan
devisi lainnya membantu promosi mulai dari tatap muka hingga promosi lewat
media baru. Kedua, pesan yang disampaikan berisi informasi dan ajakan untuk
berpartisipasi dalam ajang Pemilihan Koko Cici Jogja 2018, di dalam pesan-pesan
dipasang dengan atribut identitas budaya yang melekat pada seorang Koko dan Cici
Jogj. Pesan-pesan tersebut kemudian disalurkan melalui beberapa media seperti
media internet (online), media cetak dan media elektronik. Tidak semua bauran
promosi dikerjakan di dalam kegiatan promosi, Ikatan Koko Cici Jogja hanya
menggunakan tiga dari lima bauran promosi yang ada, pertama direct marketing
melalui direct message di media sosial Instagram. Kedua, penjualan perorangan
atau personal selling secara langsung bertatap muka dengan target sasaran. Ketiga
yaitu publikasi dan pembentukan citra positif melalui beberapa kegiatan sosial oleh
vi
Koko dan Cici Jogja. Kegiatan promosi ditujukan kepada dua target sasaran, yaitu
target sasaran utama merupakan perempuan dan laki-laki berusia 17-24 tahun,
berdomisili di Yogyakarta untuk satu tahun, berasa dari etnis Tionghoa maupun non
Tionghoa, berpenampilan menarik dan sehat jasmani rohaninya, semua sudah
menjadi persyaratan mutlak yang ditetapkan oleh pihak Ikatan Koko Cici Jogja.
Target lainnya ialah seluruh masyarakat Yogyakarta, terutama orang tua yang
memiliki anak yang berpotensi untuk dapat berpartisipasi dalam Pemilihan Koko
Cici Jogja 2018
Cici-kaka (öykü)
Türk Dili Aylık Dil ve Yazın Dergisi. -- Nisan 1972, p. 54-56.Contents: Cici-kaka /Necati Tosuner
PEMANFAATAN AKUN MEDIA SOSIAL KOKO CICI JOGJA DALAM MELESTARIKAN BUDAYA TIONGHOA
Penelitian ini berfokus pada pemanfaatan akun media sosial Koko Cici Jogja dalam
melestarikan budaya Tionghoa. Terdapat tiga tujuan dari penelitian ini, yaitu
pertama mendeskripsikan isi pesan yang disampaikan oleh Koko Cici Jogja dalam
proses melestarikan budaya Tionghoa menggunakan akun media sosialnya
(Instagram dan Youtube). Kedua, mendeskripsikan pemanfaatan akun media sosial
Koko Cici Jogja dengan menggunakan fitur-fitur media sosial, dan ketiga
mengidentifikasi fungsi akun media sosial Koko Cici Jogja dari pemanfaatan media
sosialnya. Jenis penelitian ini ialah deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus
dengan narasumber Koko Cici Jogja. Hasil penelitian ini adalah terdapat terdapat
delapan aspek pesan yang disampaikan oleh Koko Cici Jogja dalam kaitannya
dengan pelestarian budaya Tionghoa melalui akun media sosialnya, yaitu bahasa
Mandarin, hari-hari raya besar Tionghoa, permainan khas Tionghoa seperti
barongsai, liong, dan diabolo, ucapan hari raya nasional, ritual dan tradisi hari-hari
raya besar Tionghoa, Pakaian cheongsam, qipao, dan batik peranakan Tionghoa,
keluarga JCACC & paguyuban Tionghoa, dan yang terakhir ialah pemilihan Koko
Cici Jogja. Kemudian kedelapan unsur pesan disampaikan kepada followers atau
subscribers dengan memanfaatkan fitur-fitur media sosial Instagram dan Youtube.
Pada Instagram melalui hasil penelitian Koko Cici Jogja menggunakan fitur-fitur
yaitu foto/video, caption, hashtag, Instagram highlights, kolom komentar, pesan,
Instagram live, dan Instagram story. Sedangkan pada Youtube menggunakan fiturfitur
sebagai berikut, yaitu upload video, caption, hashtag, pengaturan penjadwalan
postingan, dan kolom komentar. Berdasarkan hasil penelitian media sosial Koko
Cici Jogja tidak hanya berfungsi sebagai media komunikasi saja melainkan
berfungsi sebagai tempat edukasi terkait kebudayaan Tionghoa, sebagai wadah
membangun identitas yaitu duta budaya Tionghoa, duta pariwisata DIY, dan duta
sosial, berfungsi sebagai tempat untuk membangun citra bahwa Koko Cici Jogja
merupakan generasi muda yang kreatif, inovatif, dan berprestasi, berfungsi sebagai
tempat membangun hubungan dengan followers dan subscribers, dan terakhir ialah
berfungsi sebagai tempat untuk menemukan komunitas yang memiliki tujuan atau
visi misi yang sama dalam melestarikan budaya Tionghoa. Fungsi-fungsi ini
dilakukan oleh Koko Cici Jogja untuk melakukan pelestarian budaya Tionghoa
melalui akun media sosialnya
Vovó Cici, conta uma história!
Ancestral knowledge in Brazil is transmitted orally from generation to generation and the practices of production and transmission of this knowledge take place in capoeira schools, in samba circles, conversations with older people, etc. This article was produced based on research from the Masters in Education. The approach is qualitative, of the (auto)biographical type, with conversation as a tool for producing information. The general objective was to understand how griôs, based on popular knowledge, developed educational actions in their experiences with educational actions in the National Griô Action. We spoke with five griôs, older people, guardians of Afro-Brazilian popular knowledge, however, for this article, we only present what we talked about with Vovó Cici. Talking to the griôs, especially Grandma Cici, we understood what motivated them to participate in the activities of the National Griô Action: these griôs believe in education as a means of transforming realities, they consider the work they did rewarding, the activity as a griô This Action provided an opportunity for the exchange of knowledge between different griôs.Los conocimientos ancestrales en Brasil se transmiten oralmente de generación en generación y las prácticas de producción y transmisión de estos conocimientos se llevan a cabo en escuelas de capoeira, en círculos de samba, conversaciones con personas mayores, etc. Este artículo fue elaborado a partir de una investigación de la Maestría en Educación. El enfoque es cualitativo, de tipo (auto)biográfico, con la conversación como herramienta de producción de información. El objetivo general fue comprender cómo los griôs, a partir del saber popular, desarrollaron acciones educativas en sus experiencias con acciones educativas en la Acción Nacional Griô. Hablamos con cinco griôs, personas mayores, guardianes del saber popular afrobrasileño, sin embargo, para este artículo presentamos sólo lo que hablamos con Vovó Cici. Hablando con los griôs, especialmente con la abuela Cici, entendimos lo que los motivó a participar en las actividades de la Acción Nacional Griô: estos griôs creen en la educación como medio para transformar realidades, consideran gratificante el trabajo que realizan, la actividad como griô Esta Acción brindó una oportunidad para el intercambio de conocimientos entre diferentes griôs.Os conhecimentos ancestrais no Brasil são transmitidos oralmente de geração a geração e as práticas de produção e transmissão destes saberes acontecem em escola de capoeira, em sambas de rodas, conversas com as/os mais velhas/os etc. Este artigo foi produzido a partir de uma pesquisa do Mestrado em Educação. A abordagem é qualitativa, do tipo (auto)biográfica, tendo a conversa como ferramenta de produção de informação. O objetivo geral foi compreender como os griôs, a partir de saberes populares, desenvolveram ações educativas em suas experiências com ações educativas na Ação Griô Nacional. Conversamos com cinco griôs, mais velhas/os, guardiãs/ões de saberes populares afro-brasileiros, porém, para o presente artigo, apresentamos apenas aquilo que conversamos com Vovó Cici. Conversando com os griôs, em especial, vovó Cici, compreendemos o que os motivaram a participar das atividades da Ação Griô Nacional: estas/estes griôs acreditam na educação como meio de transformação de realidades, consideram o trabalho que realizaram gratificante, a atividade como griô nesta Ação oportunizou a troca de saberes entre diferentes griôs.
 
cici paramita's Quick Files
The Quick Files feature was discontinued and it’s files were migrated into this Project on March 11, 2022. The file URL’s will still resolve properly, and the Quick Files logs are available in the Project’s Recent Activity
Vovó Cici, a singularidade de um saber.
Este é um texto inspirado pela figura da ebomi Cici, dona Nancy de Souza e Silva, pesquisadora, narradora de estórias dos orixás e uma das grandes mestras das tradições culturais negras na Bahia. É uma reflexão sobre o que seus conhecimentos representam. A partir desse mote, busca-se problematizar o modo de construção e legitimação do conhecimento nas universidades brasileiras que faz com saberes das culturas tradicionais e populares, como os de vovó Cici, não sejam aproveitados como deveriam. Para essa discussão são trazidos os aportes de BÂ (1982) Larrosa (2002); Duarte Júnior (2000) e Carvalho (2014)
Cici Cahyanti 165100109,Audit
Abstract
BCA is a national bank established in 1957 and has continued to grow. Nowadays the bank has supported business processes in various companies, such as the use of attendance information systems. During this system implementation, it has been running to support the procedures of attendance activities. The purpose of this research is to get an overview of the performance of information technology governance in order to determine the extent of maturity level which is currently running, with a few aspects to consider such as effectiveness and, efficiency. The conclusion that can be drawn from the research that has been done is IT governance at the BCA has been done, although still run optimally within each IT process contained in the sub domain Monitor Evaluate Assess (MEA) on average was at 3.0 (defined process) for sub domain DS1, DS5, DS10 and ME2.
Keywords— Audit SI, Absensi, BCA, COBIT
- …
