SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi
Not a member yet
192 research outputs found
Sort by
WACANA BERPENDAPAT ROCKY GERUNG DALAM PEREMPUAN BICARA TVONE
Peran media berfungsi sebagai penyalur informasi yang sepenuhnya tidak netral dalam memproduksi wacana dalam masyarakat. Dan informasi yang disampaikan membentuk realita yang tidak netral. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis wacana kritis Teun A Van Dijk. Penelitian ini menggunakan dua jenis data, yaitu primer dan sekunder. Data primer diambil dalam tayangan ulang di platform youtube TvOne program acara Perempuan Bicara episode “Dianggap Hina Jokowi, Rocky Terancam Masuk Bui”. Data sekunder diambil dari artikel, jurnal, berita, buku, tesis yang berkaitan dengan penelitian ini. Setelah data diolah menggunakan analisis wacana kritis Teun A Van Dijk, kemudian dianalisis menggunakan teori bahasa dan kuasa Bennedict Anderson dan ruang publik Jurgen Habermas. Peneliti menemukan dua wacana yang berkembang, yaitu pro dan kontra. Dalam wacana pro Rocky Gerung bahwa tidak masalah Rocky mengkritik pemerintah dengan kata-kata ‘bajingan tolol’ atau gaya satir karena parlemen gagal menjalankan fungsinya sebagai pengkritik pemerintah. Dalam wacana kontra Rocky Gerung bahwa Rocky melakukan kasar dalam berbahasa, kekerasan psikologi dalam komunikasi, bertanggung jawab dalam ucapan sehingga Rocky pantas dihukum karena menggunakan kata-kata ‘bajingan tolol’
Representasi Hegemoni Patriarki dalam Serial Bridgerton Season 1
Bridgerton adalah serial orisinal Netflix yang berlatar pada era Regency Inggris (1811-1820) dan menampilkan kehidupan sosial aristokrat yang penuh dengan aturan, simbol, dan norma budaya yang ketat. Di balik kisah pencarian jodoh yang menjadi fokus utama musim pertamanya, serial ini juga memuat representasi hegemoni, terutama dalam konteks relasi sosial berbasis gender. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana tanda dan simbol dalam Bridgerton Season 1 merepresentasikan hegemoni patriarki. Dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes, analisis dilakukan terhadap lima adegan kunci yang dipilih berdasarkan kekuatan representatif dan relevansinya terhadap struktur sosial patriarkal. Setiap adegan dianalisis melalui lima kode Barthes: hermeneutik, proairetik, semik, simbolik, dan kultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hegemoni patriarki dalam serial ini tidak ditampilkan melalui kekuasaan yang eksplisit atau koersif, melainkan hadir secara halus melalui estetika visual, konvensi budaya aristokrat, dan relasi interpersonal antar tokoh. Perempuan direpresentasikan sebagai objek visual dan komoditas sosial yang nilainya ditentukan oleh pandangan serta otoritas laki-laki. Melalui visual yang indah dan narasi yang emosional, Bridgerton secara tidak langsung melanggengkan mitos patriarki dalam bentuk yang telah dinormalisasi. Dengan demikian, serial ini menjadi contoh bagaimana media populer bekerja sebagai ruang representasi dan reproduksi ideologi dominan, termasuk hegemoni patriarki
Representasi Peran Gender dalam Lagu “Labour” Karya Paris Paloma
Penelitian ini menganalisis lirik lagu "Labour" karya Paris Paloma menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes untuk mengungkap makna denotasi, konotasi, dan mitos yang terkandung dalam lirik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Hasil penelitian menemukan: 1) pada tahap denotasi, lagu menggambarkan pengalaman perempuan yang terbebani oleh peran tradisional seperti ibu, pelayan, dan mesin reproduksi, tanpa pengakuan atas kebutuhannya sendiri, 2) pada tahap konotasi, lirik ini menjadi kritik sosial terhadap ekspektasi gender yang menempatkan perempuan dalam peran subordinat, dan 3) pada tahap mitos, lagu ini membongkar narasi patriarki yang mengidealkan pengorbanan perempuan sebagai bentuk cinta. Lagu ini secara keseluruhan berfungsi sebagai media kritik terhadap sistem patriarki dan menyerukan pembebasan perempuan dari eksploitasi domestik dan emosional
Penerimaan Budaya Asing Melalui Media Film dan Musik
Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana film dan musik asing memengaruhi penerimaan budaya asing oleh masyarakat Indonesia di tengah arus globalisasi. Di era digital seperti sekarang, media populer seperti film Hollywood, K-pop, dan musik Barat telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, memengaruhi cara berpikir, berinteraksi, dan membentuk identitas budaya. Melalui pendekatan kualitatif dengan kajian pustaka, penelitian ini bertujuan untuk menggali bagaimana masyarakat Indonesia menyerap, menafsirkan, dan menyesuaikan budaya asing dengan nilai-nilai lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun pengaruh budaya asing cukup besar, masyarakat Indonesia lebih selektif dalam menerima unsur budaya yang dianggap sesuai dengan norma sosial dan tradisi setempat. Proses ini menghasilkan fenomena hibriditas budaya, yang menggabungkan elemen-elemen budaya asing dan lokal, menciptakan identitas budaya yang bersifat dinamis. Meskipun media global memengaruhi generasi muda, nilai-nilai lokal seperti kekeluargaan, solidaritas, dan etika tetap terjaga. Penelitian ini menunjukkan bahwa globalisasi budaya melalui media tidak hanya memperkenalkan nilai-nilai asing, tetapi juga memperkaya identitas budaya lokal dengan membuka ruang untuk inovasi dan kreasi
Representasi Budaya Memasak Instan Pada Masyarakat Urban Dalam Iklan Visual Sasa
Gaya hidup instan semakin berkembang seiring dengan meningkatnya urbanisasi dan kesibukan masyarakat modern. Studi ini menganalisis representasi budaya memasak instan dalam iklan produk Sasa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis semiotika melalui kategori indeks, ikon, dan simbol, serta dilengkapi dengan tinjauan pustaka. Objek penelitian difokuskan pada iklan “Bumbu Praktis Sasa Melezatkan”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklan produk terbaru Sasa direpresentasikan sebagai solusi praktis dan efisien bagi ibu rumah tangga dan masyarakat urban yang sibuk. Iklan ini menekankan kemudahan dalam proses memasak, pengurangan beban kerja di dapur, pemeliharaan kebersihan dan estetika, serta pemberian ruang untuk waktu luang. Selain itu, iklan ini juga berupaya mengubah paradigma bahwa memasak bukanlah semata-mata tugas ibu rumah tangga, melainkan aktivitas yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Melalui representasi tersebut, Sasa memosisikan diri sebagai simbol gaya hidup modern kelas menengah yang mengutamakan efisiensi, kepraktisan, kebersihan, dan estetika. Produk ini tidak hanya menawarkan kemudahan, tetapi juga: (1) membangkitkan kedekatan emosional melalui citra masakan rumahan yang dirindukan; (2) membangun imajinasi tentang kebersamaan keluarga dan ruang domestik yang hangat serta cair; (3) mengartikulasikan perubahan paradigma sosial terkait pembagian peran domestik, dengan menekankan bahwa aktivitas memasak kini dapat dilakukan oleh siapa saja, dibantu oleh kehadiran produk instan
REPRESENTASI MASKULINITAS POSITIF PADA AKUN INSTAGRAM @lakilakibaru
Sistem patriarki telah membatasi peran gender laki-laki ke dalam budaya maskulin yang negatif. Budaya tersebutlah yang juga telah berdampak terhadap langgengnya tindak kekerasan dan ketidaksetaraan gender hingga sekarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi maskulinitas positif, sebagai lawan dari maskulinitas negatif, pada akun @lakilakibaru, sekaligus untuk membongkar mitos keberuntungan laki-laki yang sering ditonjolkan dalam sistem patriarki. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dan analisis konten akun instagram @lakilakibaru dengan memanfaatkan teori representasi Stuart Hall dan semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan representasi maskulinitas positif pada akun @lakilakibaru mewujud pada penggambaran laki-laki sejati yang diidealkan Aliansi Laki-laki Baru dalam setiap postingannya, meliputi : 1.) ia yang mau berbagi peran dalam keluarga atau rumah tangga, 2.) yang senantiasa bersikap suportif terhadap perempuan, baik terhadap pilihannya maupun cita-citanya, 3.) mau mengembangkan bentuk komunikasi yang terbuka, adil, dan jujur terhadap pasangan atau orang lain, serta 4.) berani menolak segala tindak kekerasan berbasis gender. Penelitian ini menegaskan bahwa laki-laki tidak harus selalu melekat pada standar maskulinitas yang selama ini berkembang. Sebab, maskulinitas hegemonik di masyarakat nyatanya juga menjebak kaum laki-laki untuk mengorbankan fitrahnya sebagai subjek yang juga berhak setara dan merdeka sebagaimana perempuan
GLOBALISASI BUDAYA POP DALAM MEDIA DIGITAL : KAJIAN PADA PLATFORM TIKTOK
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji globalisasi budaya pop dalam media digital, dengan fokus pada TikTok sebagai platform penyebaran budaya global. TikTok, yang memfasilitasi pertukaran budaya lintas batas, menggunakan algoritma yang meningkatkan keterlibatan pengguna namun juga membatasi keberagaman perspektif budaya. Dengan menganalisis karakteristik media digital seperti diseminasi sekatan, konten buatan pengguna (UGC), dan personalisasi algoritmik, penelitian ini mengungkap peran TikTok dalam memperkuat budaya pop global dan tantangan yang timbul terkait pemahaman budaya yang lebih dalam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur, yang mencakup penelaahan terhadap jurnal ilmiah, buku akademik, artikel media, dan publikasi daring yang relevan. Data dikumpulkan secara sistematis menggunakan kata kunci terkait, dan dianalisis dengan metode analisis isi untuk mendapatkan wawasan baru tentang dinamika budaya pop di TikTok. Untuk validitas, penelitian ini menerapkan triangulasi sumber, membandingkan informasi dari berbagai referensi dan sudut pandang yang kredibel dan relevan
Tipologi Kejahatan Perang Israel-Palestina dalam Karikatur Portal Berita Online Al-Quds Al-Arabi
Karikatur kini memiliki posisi dan peran tersendiri di media massa. Karikatut acap menjadi pilihan alternatif bagi orang untuk mengkomunikasikan gagasan dan kritiknya, sebab tampil dengan bentuk yang cukup menarik dan lucu, untuk menyembunyikan bias dan ideologi sang karikaturis. Faktanya apa yang digambar atau ditulis oleh seorang karikaturis acap mengarahkan kita pada suatu ideologi tertentu. Oleh karena itu, berlandaskan metasemiotika 4 unsur Louis Hjelmslev; Expression Form, Content Form, Expression Subtance, dan Content Subtance. Penelitian ini akan fokus mengkaji makna tersirat dibalik visualisasi lambang dan teks dalam karikatur dari laman berita Hisam Abdul Basir Al-Quds Al-Arabi edisi bulan April 2024. Hasil penelitian menemukan bahwa karikatur ini menggambarkan berbagai tipologi kejahatan perang Israel-Palestina. Karikatur ini hadir dengan memadukan visual lambang dan teks untuk menghasilkan wacana informasi faktual, kritik sosial dan politik atas dinamika fenomena dan dampak kejahatan perang yang terus berkepanjangan menimpa Palestina, yang diakibatkan Israel, negara adidaya sekutunya, dan aktor internasional lainny
Analisis Framing Berita Pelecehan Seksual di Komisi Penyiaran Indonesia Melalui Media Online
Tujuan utama dari penelitian ini untuk menungkap pembingkaian berita antara dua media berita online terpercaya atas kasus pelecehan seksual di KPI, jenis penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif dengan model analisis framing Robert N.Entman. Hasil dari penelitian ini yaitu bahwa dalam mengonstruksi beritanya, cnnindonesia berfokus dalam menjelasakan kronologi yang dialami oleh korban pelecehan seksual, sedangkan dalam mengonstruksi beritanya, kompas.com lebih cenderung memuat berita terkait kepolisian dalam menangani kasus pelecehan seksual. Dapat disimpulkan bahwa dari penelitian dapat membuktikan bahwa setiap media memiliki sudut pandang yang berbeda dalam melihat sebuah peristiwa, hal itu ditunjukkan pada berita yang dipublikasikan dari kedua media kepada public terkait suatu kasus
ANALISIS SEMIOTIKA MAKNA TOXIC RELATIONSHIP DALAM SERIAL DRAMA “YANG HILANG DALAM CINTA”
Toxic relationship is a social issue that can occur in the real life, especially in an interpersonal relationship. This can be emphasized through the numbers of violence against couples in Indonesia which continues to increase from year to year. The issue of toxic relationship then tried to be raised through one of the drama series, namely "Yang Hilang dalam Cinta". The drama series originates from a true story that tells about the relationship between Rendra and Dara, as lovers who are trapped in a toxic relationship. This study then aims to determine the meaning of toxic relationship in the drama series "Yang Hilang dalam Cinta" through Roland Barthes' semiotic analysis. The research method used in this study is descriptive qualitative and also analyzed using Roland Barthes' semiotic theory whose elements consist of denotation, connotation and myth. The results of this study indicate that the interpersonal relationship between Rendra and Dara is at a fading stage, and the meaning of the toxic relationship contained in the drama series "Yang Hilang dalam Cinta" can be identified from excessive jealousy, poor communication, occurrence of physical or psychological violence, controlling behavior, possessive, manipulative, lack of support and power imbalance in a relationship