SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi
Not a member yet
    192 research outputs found

    REPRESENTASI WANITA KARIR DALAM WEB SERIES MENDUA

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi wanita karir dalam web series “Mendua” dan menggambarkan kompleksitas kehidupan mereka dalam menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dan keluarga. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotik Roland Barthes, studi ini menemukan bahwa “Mendua” berhasil menyajikan dilema dan tekanan yang dihadapi wanita karir dalam mencapai kesuksesan profesional dan menjalankan peran sebagai istri serta ibu. Web series ini menampilkan potret realitas kehidupan wanita karir di Indonesia dan mengangkat isu budaya patriarki yang masih kuat. Penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang kompleksitas kehidupan wanita karir dan tekanan sosial yang mereka hadapi. Temuan ini memberikan wawasan penting terkait representasi wanita karir dalam media dan berkontribusi pada diskusi mengenai kesetaraan gender serta pemberdayaan wanita di Indonesia.

    REPRESENTASI BUDAYA PATRIARKI DALAM FILM BARBIE 2023

    Full text link
    AbstrakBudaya patriarki menciptakan adanya ketidaksetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Patriarki dapat terjadi karena adanya penentuan gender dalam sistem bermasyarakat yang kebanyakan mengarah kepada tinjauan biologis. Budaya patriarki ini dapat kita lihat pula melalui sebuah film. Film dianggap sebagai bentuk komunikasi massa yang efektif terhadap massa yang menjadi sasaran, karena film bersifat audio visual, film dapat memberikan cerita yang banyak dalam waktu yang singkat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana representasi budaya patriarki dalam film Barbie 2023 dan menunjukkan bahwa budaya patriarki masih dipraktikan dalam kehidupan bermasyarakat. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan memakai metode penelitian kualitatif, dengan menggunakan teknik analisis text dengan jenis analisis semiotika John Fiske, yang terdiri dari tiga kode tingkatan: level realitas (dialog, perilaku, kostum, dan lingkungan), level representasi (angle kamera dan konflik), serta level ideologi (realitas dan representasi kde ideologi). Subjek penelitian ini adalah film Barbie dengan objek penelitiannya adalah scene-scene yang merepresentasikan budaya patriarki dalam film Barbie. Teknik pengumpulan data dengan melakukan teknik pengumpulan data dokumentasi yang diambil dari screenshot scene-scene yang merepresentasikan patriarki dalam film Barbie. Hasil dari penelitian ini adalah budaya patriarki ditemukan dalam film Barbie dengan analisis enam struktur patriarki dan teori standpoint. Budaya patriarki ditunjukkan dalam tanda-tanda seperti perilaku yang dilakukan oleh aktor yang menunjukkan budaya patriarki dalam berbagai struktur mulai dari patriarki dalam rumah tangga, pekerjaan, seksualitas, kekerasan, budaya, dan politik. Budaya patriarki dapat dilihat juga melalui level realitas dan representasi yaitu melalui dialog tokoh, ekspresi, kostum yang dipakai tokoh, perilaku, serta pengambilan gambar dalam film tersebut.Kata Kunci: Barbie, Film, Patriarki, Representasi. Abstract                 Patriarchal culture creates gender inequality between men and women. Patriarchy can occur because of gender determination in the social system, which mostly leads to biological considerations. We can also see this patriarchal culture through films. Films are considered an effective form of mass communication for the target masses, because films are audio-visual, films can tell a lot of stories in a short time. This research aims to see how patriarchal culture is represented in the film Barbie 2023 and show that patriarchal culture is still practiced in social life. The method used in this research is to use qualitative research methods, using text analysis techniques with John Fiske's semiotic analysis type, which consists of three level codes: reality level (dialogue, behaviour, costumes and environment), representation level (angle camera and conflict), as well as the ideological level (reality and representation of ideology). The subject of this research is the Barbie film with the research object being scenes that represent patriarchal culture in the Barbie film. The data collection technique is by carrying out documentation data collection techniques taken from screenshots of scenes that represent patriarchy in the Barbie film. The results of this research are that patriarchal culture is found in the Barbie film by analyzing six patriarchal structures and standpoint theory. Patriarchal culture is shown in signs such as behaviour carried out by actors which shows patriarchal culture in various structures ranging from patriarchy in the household, work, sexuality, violence, culture and politics. Patriarchal culture can also be seen through the level of reality and representation, namely through character dialogue, expressions, costumes worn by characters, behaviour, and shooting in the film.Keywords:  Barbie, Film Patriarchy, Representatio

    KOMODIFIKASI BUDAYA TRADISIONAL OLEH MEDIA MASSA

    Full text link
    Penelitian ini membahas fenomena komodifikasi budaya tradisional oleh media massa dalam konteks globalisasi dan modernisasi yang semakin mendominasi kehidupan masyarakat. Budaya tradisional, sebagai identitas kolektif dan warisan nilai-nilai historis, kini menghadapi tantangan berupa penurunan relevansi serta perubahan makna akibat keterlibatan media dalam representasinya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur, penelitian ini mengkaji bagaimana media mengubah elemen-elemen budaya menjadi produk komersial yang dapat dikonsumsi publik, sering kali dengan mengabaikan konteks spiritual, sosial, dan historisnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa media berperan ganda sebagai saluran penyebar budaya sekaligus agen komersialisasi, yang berdampak pada penguatan stereotip, penyederhanaan makna, dan hilangnya otentisitas budaya. Namun demikian, komodifikasi tidak selalu berdampak negatif. Jika dilakukan secara etis dan melibatkan komunitas lokal, praktik ini dapat menjadi sarana revitalisasi dan pelestarian budaya di tengah arus modernisasi. Oleh karena itu, keterlibatan aktif masyarakat, literasi budaya, dan tanggung jawab etis media menjadi kunci dalam menyeimbangkan antara promosi dan pelestarian budaya tradisional. Penelitian ini merekomendasikan penguatan regulasi, kolaborasi antara media dan komunitas budaya, serta edukasi publik untuk menjaga keberlanjutan nilai-nilai budaya lokal

    REINTERPRETASI SIMBOL GARUDA DALAM TIGA LUKISAN KARYA PUTU SUTAWIJAYA

    Full text link
    Transformasi simbol negara dalam seni rupa kontemporer membuka ruang dialog baru untuk memaknai nilai-nilai kebangsaan. Penelitian ini mengkaji reinterpretasi simbol Garuda dalam tiga karya Putu Sutawijaya pada pameran "Lelampah" pada tahun 2023 yang menunjukkan transformasi dari simbol kenegaraan menjadi representasi humanistik. Menggunakan metode deskriptif kualitatif-interpretatif dengan analisis semiotika Charles Sanders Peirce, tiga karya - "Gaja-Kaccapa," "Cak Amerta," dan "Menjaga #2" dikaji secara mendalam. Melalui analisis tingkatan tanda Peirce, ditemukan bahwa transformasi ikon Garuda (bentuk visual) menjadi indeks (gestur dan komposisi figur) menghasilkan simbol baru yang merepresentasikan nilai-nilai Pancasila: kemanusiaan yang adil dan beradab dalam "Gaja-Kaccapa" melalui figur yang merangkul, demokrasi dalam gestur meditatif "Cak Amerta", serta persatuan Indonesia dalam komposisi figur yang saling bertautan pada "Menjaga #2". Hasil pembacaan semiotik ini menunjukkan bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah nilai yang hidup dan perlu dipraktikan melalui interaksi dan hubungan antarmanusia, tidak sekadar semboyan formal negara

    PRESENTASI PEREMPUAN DALAM IKLAN (Studi Pembedahan Semiotika John Fiske dalam Iklan Game Online Emperor and Beauties)

    Full text link
    Iklan game seringkali memuat konten kontroversial yang menggambarkan perempuan secara stereotipikal sehingga bisa menimbulkan dampak negatif dan perasaan tidak nyaman pada konsumen yang tidak setuju dengan stereotip tersebut. Hal ini menjadi bahan pelajaran agar praktisi humas dapat lebih bijak dalam memproduksi iklan sehingga tidak memengaruhi citra merek secara negatif. Penelitian ini menganalisis presentasi karakter perempuan dalam video iklan game online mobile berjudul "Emperor and Beauties" menggunakan studi semiotika John Fiske yang mengacu pada tiga level semiotika, yaitu realitas, representasi, dan ideologi untuk mengetahui bagaimana cara semiotika membedah presentasi perempuan melalui penampilan, gestur, lingkungan, suara, dan teknik pengambilan gambar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklan game "Emperor and Beauties" menonjolkan jurang pembeda antara laki-laki dan perempuan, dimana perempuan selalu menjadi pihak yang dilekatkan dengan presentasi negatif. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pemahaman tentang cara kerja semiotika pemikiran John Fiske dan pengaruhnya dalam kacamata masyarakat. Implikasinya adalah perlunya kesadaran dan perhatian lebih dari pelaku industri game dan praktisi humas untuk memproduksi iklan yang lebih inklusif dan tidak menyisipkan stereotip yang negatif terhadap perempuan.Kata Kunci: Presentasi, Semiotika, Perempuan, John Fiske, Iklan

    Analisis Framing Berita Krjogja.Com Tentang Isu Penanganan Covid-19

    Full text link
    Kemunculan dan penularan COVID-19 membuat heboh Indonesia, media menyorotinya. Era digital memudahkan penyebaran informasi secara cepat dan tanpa batasan jarak melalui media online dan sosial. Ketertarikan masyarakat terhadap COVID-19 memicu media memberitakan hal-hal terkait yang kurang signifikan. Framing media merupakan cara yang efektif untuk menyampaikan kebijakan, larangan, dan imbauan negara. Framing adalah membingkai suatu permasalahan dari sudut pandang yang berbeda. Internet berperan penting dalam mengubah distribusi konten dengan cepat dan efisien serta mengalihkan perhatian masyarakat dari media massa tradisional. Pemberitaan pandemi COVID-19 di krjogja.com dianalisis menggunakan pendekatan framing dengan menggunakan konsep dan model Robert Entman. Paket berita krjogja.com memiliki judul yang menarik dan cenderung lebih fokus pada berita-berita positif mengenai pemerintah. Namun media mempunyai pandangan tersendiri mengenai penilaian terhadap informasi yang ada, dimana realitas suatu media mungkin berbeda dengan realitas media lainnya

    Membedah Mitos Budaya Massa dalam Pilpres 2024: Tinjauan Semiotika Roland Barthes

    Full text link
    This research aims to dissect mass culture myths that have emerged in the context of the 2024 presidential election through a review of Roland Barthes' semiotics. The focus of this research is on the role of the media in forming and spreading myths, as well as their impact on public perception and voter decision making. The research results show that mass media, including television, radio, social media, and print media, have a crucial role in building narratives, images and symbols that contribute to the formation of mass cultural myths. Connotation analysis shows the existence of an ideological bias in these myths, which is influenced by political affiliation, economic interests, and social norms. This research also highlights the manipulation of symbols in strengthening mass cultural myths. Political actors use symbols such as flags, colors, and logos to evoke emotional responses and form associations with certain ideas or values. The impact of mass culture myths on voter decision making is very significant, because they can influence the way voters view political candidates and the policies they promote. In terms of denotation, this research emphasizes the importance of efforts from all contestants to encourage constituents to think critically, literately, and independently evaluate in making decisions based on accurate information in the democratic process. In terms of connotation, efforts to reduce the impact of filter bubble s in the 2024 presidential election, collaboration between social media users, social media companies and the government is predominantly neglected. In fact, the myth of election fraud must be confronted with constructive efforts of awareness, education, and appropriate action, so that the public can create a space for diverse political dialogue and promote better and deeper understanding

    Public Technological Acceptance Of The Use on Artificial Intelligence as News Anchor in TV One Indonesia

    No full text
    The development in communication technology, marked by innovation in artificial intelligence (AI), is entering a new phase in its application in mass media. One can be seen in using this technology as a news anchor on TV One AI. Because this is something new in Indonesia, public acceptance of this innovation needs to be studied further. This research uses a qualitative approach with a constructivist paradigm and descriptive methods. Technique. This research took a purposive sample by conducting semi-structured interviews with TV One AI news program viewers.The research findings show that when viewed from the audience reception model proposed by Hall, the audience is in a position of dominant hegemony and negotiation. These two positions show that the AI TV One news presenter can be accepted by the Indonesian people while considering the opposing sides that may become threats in the future.   It is hoped that the audience will be inquisitive about news programs using artificial intelligence in Indonesia, which will only partially eliminate the role of news anchors as journalists. Innovation is expected to be carried out gradually from one field to another as a form of introduction and use of artificial intelligence in the media realm in Indonesia

    A Portrait of the Woman in Mass Media in the Case of Femicide of a Student in Pandeglang Regency

    Full text link
    This research aims to criticize and justify the subject position, object position, and reader position placed in the news text of the female student femicide case in Pandeglang Regency in the Radar Banten report. This research uses the Sara Mills model of discourse analysis using a critical paradigm, through a qualitative approach. This research was conducted using purposive sampling. The results of this research are that female victims of femicide are positioned as objects of discrimination and the subject is the storyteller, namely Radar Banten. The subject position has the freedom to tell the event but also interpret the various actions that build up the event. The position of the reader in the news text is more directed towards male readers. There are two ways to position the reader, with the mediation aspect and the cultural code aspect. The representation of female victims of femicide in Pandeglang Regency in Radar Banten's reporting is influenced by patriarchal ideology. Women are considered a marginal group that experiences injustice because it weakens women's position. Women in this news are stereotyped and labeled as being weak, helpless, and wrong.

    Commodification of Poverty in Social Media

    Full text link
    The commodification of poverty is no longer only capable of being carried out by the mass media. In the digital era, people can use poverty as content or commodify poverty through social media. Commodification using poverty as a social media selling point often occurs and continues to be repeated. This research aims to read the commodification of poverty on social media in Indonesia by analyzing the content of the Instagram accounts @hestyprw and @bella_saskya8 using a qualitative content analysis approach. Roland Barthes' semiotics, which includes denotation, connotation, and myth, is used as a research method in dissecting research objects (verbal and visual signs). The research found that both Instagram accounts used symbols of poverty, such as low-income family backgrounds and jobs, simple to damaged housing, and narratives of life's difficulties as the central concept of their content. On the other hand, the research also found a conflict between the content created by the two accounts, where the forms of poverty narrated were in contrast to the content creator's visual image (wearing nice clothes and even gold jewelry). Thus, the commodification of poverty carried out on social media is different from the commodification of poverty in mass media, where commodification on social media is more of a fake show and is directed at seeking attention, even debate so that the audience becomes increasingly curious about following the content

    186

    full texts

    192

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇