SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi
Not a member yet
192 research outputs found
Sort by
MEMBEDAH WUJUD TOXIC MASCULINITY DALAM SERIAL TELEVISI ‘EUPHORIA’ (ANALISIS SEMIOTIKA JOHN FISKE)
Gender (feminitas dan maskulinitas) merupakan salah satu konstruk sosial yang representasinya sering kali muncul pada media massa. Maskulinitas sering direpresentasikan melalui perilaku yang dominan, tangguh dan tidak jarang dikaitkan pada berbagai aksi kekerasan dan atau pelecehan. Ide maskulinitas yang kaku dan berlebihan dapat disebut sebagai toxic masculinity. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa representasi toxic masculinity dalam musim pertama serial televisi Euphoria yang direpresentasikan oleh karakter Nate Jacobs. Peneliti mengupas representasi melalui semiotika yang dikembangkan oleh John Fiske, yang dibagi menjadi level realitas, level representasi dan level idelogi. Ditemukan bahwa karakteristik toxic masculinity yang paling sering muncul adalah misogini, agresi dan kontrol, kejauhan emosional, hingga kekerasan fisik sebagai bentuk dominasi dan penyelesaian masalah
REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM STAND UP COMEDY (Analisis Semiotika Pierce dalam Tayangan Annie Yang)
"Stand Up Comedy" in parts or parts on Annie Yang's show is a short film produced which is then uploaded to the Youtube channel. Annie Mariani, known as the comedian Annie Yang of Chinese descent, established her career in Taiwan and came from Bali Comedy Club. A graduate of Stand Up Comedy Indonesia held by Kompas.TV. Her jokes or anecdotes tend to use English and Annie is nicknamed naughty girl or naughty woman.The use of feminism studies combined by the author with the qualitative method of Charles Sanderpierce's semiotic analysis means that a sign is something that for one woman represents something else in some way or capacity. And one form of sign is the word, while the object is something that is referred to by the sign, while the interpretant is a sign that exists in a person's mind about the object that a sign refers to. By observing and analyzing in the initial observation that the jokes thrown by Annie Yanng are more pouting, double standard meaning depending on the audience as communicators interpret the core message in the context and content of the message. It can be positive and negative depending on which side of the audience understands it so that it provokes laughter.
Semiotika Roland Barthes: Representasi Patriarki di serial Gadis Kretek
Selain radio, televisi, dan jaringan telekomunikasi, film juga merupakan sarana komunikasi massa. Film bisa menjadi media penyampaian pesan, atau pesan itu sendiri. Banyak sekali simbol-simbol yang bermakna dalam film ini. Salah satu makna yang ingin digali dalam serial Gadis Kretek adalah patriarki. Semiotika secara umum adalah ilmu atau metode analitis dalam mempelajari simbol-simbol. Meskipun bahasa itu sendiri merupakan sistem simbol manusia yang paling dasar, simbol-simbol nonverbal seperti gerak tubuh, bentuk pakaian, dan praktik sosial tradisional lainnya merupakan jenis bahasa yang terdiri dari simbol-simbol bermakna yang dikomunikasikan berdasarkan hubungan. Dengan menggunakan semiotika Roland Barthes, kita akan memahami simbol-simbol tersebut menggunakan denotasi, konotasi, dan makna mitis dalam enam adegan yang menunjukkan perilaku patriarki terhadap Dasiya. 1) Menunjukkan bahwa serial Gadis Kretek mempunyai makna denotatif yang diungkapkan melalui tindakan yang mempunyai makna sebenarnya dalam setiap adegannya. 2) Beberapa makna konotatif mempunyai makna kiasan. Makna yang mendasarinya dijelaskan dalam pembahasan setiap adegan. 3) Makna mitos sendiri adalah hubungan antara tindakan dan perkataan yang diucapkan dalam dashiya yang mempunyai makna yang sama dalam kehidupan sehari-hari yang dilontarkan untuk Dasiyah, memiliki arti yang sama dalam kehidupan sehari-hari. Film, Serial Gadis Kretek, Semiotik, dan Partriark
The Prophet's Tale: Disseminating Religious Narratives and Values in Indonesian Children's Storybooks
This study investigates the portrayal of Islamic prophets in children’s storybooks published in Indonesia. It utilizes mixed analytical method by combining traditional semiotic analysis and generative artificial intelligence. Focusing on a sample of popular publications, we examine how these narratives visually and textually construct religious stories, aiming to understand their role in shaping children's perceptions of Islamic teachings. The paper reveals the intricate balance between religious fidelity and pedagogical considerations, highlighting a unique cultural synthesis in Indonesian publishing. Our findings demonstrate that while these storybooks adhere closely to Islamic tenets, they also adapt narratives to suit the pedagogical needs of young readers, employing strategies that blend religious teachings with engaging storytelling. The use of generative AI, in this case ChatGPT-4, in conjunction with human analysis offers a comprehensive perspective, identifying patterns that might otherwise be overlooked in traditional methods. This study not only contributes to the field of cultural studies and the understanding of religious narratives in children's literature but also showcases the potential of AI-assisted humanities research. The implications of this research extend to broader discussions on the role of religious narratives in shaping cultural and religious identities in early childhood, offering valuable insights for educators, publishers, and scholars in the field
Representasi Mafia Seni Pada Film Mencuri Raden Saleh (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce)
Film Mencuri Raden Saleh adalah film yang menceritakan tentang sekelompok anak muda yang mempunyai rencana untuk mencuri sebuah lukisan karya sang maestro yaitu Raden Saleh yang disimpan di istana negara. mereka pun membentuk tim dan menyusun sebuah rencana mulai dari pemalsuan, peretasan, sampai manipulasi. Penelitian ini bertujuan untuk bagaimana mengkaji aksi kriminalitas mafia seni direpresentasikan dalam film mencuri Raden saleh melalui tokoh tokoh utama. Di film mencuri Raden Saleh ini memperlihatkan beberapa scene di tiap film yang terdapat berbagai tindakan kriminalitas mafia seni. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena peneliti bermaksud untuk menentukan, memahami, menjelaskan dan memperoleh gambaran yang mendalam tentang makna tanda yang berupa gambar, ataupun dialog yang dirangkai untuk mengungkap bentuk – bentuk kriminalitas mafia seni yang direpresentasikan melalui film ini. Analisis yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan kualitatif deskriptif berdasarkan model semiotika Charles Sanders Pierce, yang terdiri dari tiga komponen dengan tiga trikotomi masing-masing di dalamnya Tanda (Sign), Objek (Object), dan Interpretan (Interpretant). Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa makna tanda yang berupa gambar, ataupun dialog, yang merepresentasikan mafia seni dalam film mencuri Raden Saleh peneliti menemukan enam scene dalam penelitian ini yang terdapat adegan-adegan tindakan kriminalitas yaitu, aksi pencurian, pemalsuan lukisan, peretasan, manipulasi, ancaman kekerasan, perkelahian, dan sebagainya.Kata kunci : Film, Mafia Seni,Semiotika Charles Sanders Pierce
CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS OF FILM THE PEAKY BLINDERS
Film as a communication medium is audio-visual which is used to deliver messages to audiences. This article aims to explain the linguistic space for discourse on social phenomena in post-war I and II through the audio-visual medium The Peaky Blinders film in relation to the emergence of discriminatory discourse on social status among the lower class people, namely ex-soldiers workers. The critical paradigm is used as a perspective in this article. The results that have been analyzed by the author are that social inequality has an impact, namely the existence of social hegemony and power takes place when the grassroots including the proletariat have accepted and imitated the way of life, way of thinking, and views of the elite group that dominates and exploits them and causes some discrimination, namely such as discrimination of a profession or position, discrimination of clothing, and discrimination of behavior or manners
TUBUH WANITA IDEAL DAN BODY SHAMING DALAM FILM IMPERFECT: ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES
Film Imperfect menceritakan masalah yang dihadapi kebanyakan wanita saat ini, mengukur kecantikan dari fisik tubuh. Kecantikan dari tubuh inilah yang akan menimbulkan body shaming, yaitu komentar negatif terhadap tubuh seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui body shaming dalam film Imperfect dan untuk mengetahui kecantikan ideal menurut film tersebut. Metode penelitian ini memakai pendekatan kualitatif dengan pisau analisis dari Teori Semiotika Roland Barthes. Semiotika ini terbagi ke dalam dua tingkatan, yaitu denotasi dan konotasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Imperfect banyak menayangkan adegan body shaming verbal dan body shaming non verbal. Body shaming verbal di dalam film ini direpresentasikan dengan ukuran tubuh shaming, rambut tubuh/tubuh berbulu shaming, style berpakaian, dan warna kulit. Sedangkan body shaming non verbal di dalam film ini direpresentasikan dengan tindakan. Perempuan yang mendapatkan shaming digambarkan tidak memiliki kepercayaan diri, cemas, serta menarik diri dari kehidupan social
Analisis Semiotika Budaya Patriarki Dalam Novel Perempuan Yang Menangis Kepada Bulan Hitam
Novel adalah salah satu jenis karya sastra yang menyuguhkan suatu masalah secara kompleks dengan menggunakan bahasa secara jelas. Sebagai suatu karya sastra, novel mengeksplorasi berbagai permasalahan dalam kehidupan manusia secara mendalam, berkaitan dengan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, novel dapat memengaruhi cara berpikir lingkungan sekitar. Secara tidak langsung novel dapat memberikan manfaat bagi semua pembaca, seperti pemecahan masalah dan penambahan wawasan baru. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan representasi budaya patriarki dalam Novel Perempuan Yang Menangis Kepada Bulan Hitam karya Dian Purnomo. Novel Perempuan Yang Menangis Kepada Bulan Hitam mengangkat isu kawin tangkap di Sumba yang sangat merugikan kaum perempuan. Penelitian ini membahas representasi budaya patriarki yang difokuskan pada bentuk dan susunan teori patriarki menurut Walby melalui teks dan dialog dalam novel. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Penelitian ini menggunakan analisis Semiotika Ferdinand De Saussure yang melibatkan 4 (empat) konsep yakni signifier-signified, langueparole, sintagmatik-paradigmatik dan sinkroni-diakroni yang difokuskan pada 2 (dua) bentuk patriarki menurut Walby yakni patriarki publik dan privat, serta 5 (lima) susunan teori patriarki menurut Walby diantaranya, (1) Relasi produksi patriarki dalam keluarga (2) Relasi patriarki dalam pekerjaan dengan upah (3) Kekerasan laki-laki (4) Relasi patriarki dalam seksualitas (5) Relasi patriarki dalam lembaga budaya
MENELISIK SISTEM KODE DALAM CERPEN SENYUM KARYAMIN KARYA AHMAD TOHARI
ABSTRAKCerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari memiliki sistem makna yang menarik untuk dikaji. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sistem kode yang terkandung dalam cerpen Senyum Karyamin. Kajian semiotika dalam cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Kajian sistem makna yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Analisis data penelitian ini dilakukan dengan membagi teks cerpen dalam leksia. Hasil kajian disajikan menggunakan desain penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah teks cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari yang data-datanya berupa leksia atau satuan-satuan pembacaan yang mengandung sistem kode teka-teki, kode aksi, kode simbolik, kode semik, dan kode kultural. Satuan-satuan pembacaan atau leksia yang menjadi data penelitian dipilih menggunakan metode purposive sampling. Berdasarkan hasil kajian, dalam cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari mengandung sistem lima kode Roland Barthes, yaitu 1) kode teka-teki (the hermeneutic code); 2) kode aksian (the proairetic code); 3) kode simbolik (the symbolic code); 4) kode konotatif (the semes code); dan 5) kode kultural (the cultural code).Kata kunci: semiotika, Roland Barthes, sistem kode, cerpen Senyum Karyamin
Analisis Makna Di Balik Budaya Sawer Qari Saat Berlangsungnya Pembacaan Al-Qur'an: Semiologi Roland Barthes
Video Qori' perempuan bernama Nadia Hawasyi viral di media sosial ketika beberapa orang pria secara asal naik ke panggung dan menabur uang bahkan menyelipkan uang tersebut di jilbabnya saat ia sedang melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Tindakan sawer ini menuai banyak sekali tanggapan pro dan kontra dari netizen, tokoh masyarakat, dan ulama. Secara gramatikal sawer tidaklah bermakna negatif, namun ketika hal semacam ini terjadi, tindakan itu dianggap sangat mencoreng agama dan tidak beradab. Penelitian ini menggunakan teori semiologi Roland Barthes termasuk di dalamnya lima kode pembacaan. Barthes membagi fokus teorinya ke dalam tiga poin yaitu: denonatif (sederhana), konotatif (abstrak), dan mitologi (memiliki campur unsur budaya). Peneliti menggunakan metode kualitatif dan melalukan studi kepustakaan, serta menjabarkan data-data dalam bentuk paragraf deskriptif. Hipotesis sementara adalah sawer tidak berarti sebagai sebuah tindakan yang amoral, namun sawer adalah wujud sedekah masyarakat kepada Qori' karena senang mendengar lantunan merdu tilawah.Kata kunci: Qariah, Sawer, Semiologi Barthe