SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi
Not a member yet
    192 research outputs found

    TRADISI RUWATAN RAMBUT GIMBAL DI DIENG: SEBUAH KAJIAN SEMIOTIKA ROLAND BARTHES

    Full text link
    Dataran Tinggi Dieng merupakan daerah pegunungan yang banyak menyimpan sejuta sejarah tentang peradaban kuno. Masyarakat Dieng memiliki banyak fenomena kebudayaan dan tradisi, salah satunya ritual ruwatan rambut gimbal yang sudah ada secara turun-temurun sehingga menjadi suatu tradisi dan kebudayaan yang sakral. Suatu kebudayaan berkaitan erat dengan tanda atau simbol yang digunakan, termasuk tradisi ruwatan rambut gimbal di Dieng. Tanda atau simbol tersebut dapat memiliki makna yang mendalam, baik makna denotatif maupun konotataif. Bahkan suatu tanda juga dapat memiliki pesan tersirat (mitos). Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan tanda atau simbol dalam tradisi ruwatan rambut gimbal di Dieng dengan analisis semiotika Roland Barthes. Data penelitian diambil dari tanda dan makna verbal, visual, dan audio yang digunakan dalam menjalankan proses ruwatan rambut gimbal. Paradigma penelitian yang digunakan adalah kontruktivis. Berdasarkan hasil penelitian, ditarik kesimpulan pemaknaan denotatif proses ruwatan rambut gimbal yaitu berupa persiapan berbagai macam sesaji, rangkaian pemotongan rambut gimbal, penjamasan (pemandian) anak berambut gimbal, dan pelarungan helaian rambut gimbal yang sudah dipotong. Terdapat penjamasan (pemandian) anak berambut gimbal, dan pelarungan helaian rambut gimbal yang sudah di potong. Terdapat penjamasan (pemandian) anak berambut gimbal, dan pelarungan helaian rambut gimbal yang sudah di potong. Terdapatpemaknaan konotasi yang erat dengan ajaran agama Islam, di mana terdapat tanda bahasa verbal dalam pemotongan rambut gimbal yang berupa Kidung Rumeksa Ing Wengi . Di sisi lain, terdapat sesaji dan proses lain yang memiliki makna konotasi serta mitos berdasarkan falsafah Jawa atau keyakinan adat setempat

    KAJIAN SEMIOTIKA BARTHES PADA KARTUN MICE TAHUN 2022

    Full text link
    This study uses a qualitative design to collect, filter and analyze data. The subject of this research study was Mice cartoons in Kompas Newspaper in 2022. The selection of cartoons used a purposive sampling technique. Purposive sampling is sampling adjusted to the research objectives. From a number of observed cartoons, cartoons published on January 23, 2022 and March 6, 2022 were chosen as samples because these cartoons show how to express comics with issues of novelty regarding IKN (National Capital City) and the extension of the presidential term. These two issues were issues at the beginning of the year that warmed up because they were connected by political discourse ahead of the 2024 Election. IKN and the three-term president have a connection in politics. The object of this study is focused on comic analysis using McCloud's comic theory, denotative meaning and connotative meaning using Barthes' semiotic theory. The results of the study show that the denotation meaning of the Mice cartoon is a picture of the Indonesian people who are in dialogue, either dialogue between colleagues or dialogue between the people and their officials. This dialogue is presented in black and white comic panel transitions. This panel transition creates a narrative or story for the reader. The narrative can also be interpreted connotatively. The connotative meaning of Mice's cartoons shows that there is something that is discussed further in relation to the context of the discourse raised when compared to the witty visualization. There is a serious problem covered in a humorous cartoon appearance. The name of the IKN is still being debated by several groups, the issue of names is being seriously discussed, and the three-term presidential discourse is considered to be possible if the president wants it

    Citra Caleg Perempuan dalam ‘Framing’ Media ‘Online’

    Full text link
    Abstrak. Menariknya, berita pemilu menyebutkan bahwa perempuan memiliki akses yang lebih sedikit ke dunia pada umumnya, karena persentase perempuan di media lebih sedikit, hampir setengahnya, dibandingkan laki-laki yang digunakan oleh media cetak nasional. Berdasarkan perbandingan posisi perempuan dan laki-laki dengan pengalaman, situasinya masih media belum bisa memberikan kesempatan yang sama dan setara untuk semua pekerjaan saat ini, terutama perempuan, untuk menjadi insan informasi utama. Banyak wanita hanya menonton. Ciri-ciri tersebut di atas terjadi karena adanya media khusus. Peneliti mengkaji analisis citra perempuan di media online Kompas.com dan Detik.com yang memuat berita tentang caleg perempuan peserta pemilu 2014 dengan menggunakan penelitian yang dilakukan oleh Robert N. Entman. Hasil kajian menunjukkan asosiasi Kompas.Com dan Detik.Com melaporkan isu pemberitaan terkait caleg perempuan yang dipaksa mencalonkan diri, yang umumnya mencakup orang-orang populer. Saat ini, artikel berita terkait caleg perempuan pada Pemilu 2014, peneliti umumnya mengklasifikasikannya ke dalam tiga kategori, yaitu citra fisik, citra populer, dan citra konflik. Pilihan etis yang dibuat oleh hasil telah terbukti ekonomis, politis, praktis, dan estetis. Keputusan tersebut mengisyaratkan bahwa caleg perempuan dapat menjadi politisi jika memenuhi persyaratan pengetahuan dan pendidikan, sisi spiritual, sisi ekonomi, dan peran umum dalam politi

    KREDIBILITAS PEMBERITAAN MEDIA VICE INDONESIA

    Full text link
    Pentingnya nilai kredibilitas diterapkan oleh media online dalam setiap pemberitaannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kredibilitas pemberitaan media Vice Indonesia dalam dimensi accuracy, dimensi believability, dimensi bias dan dimensi completeness. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan analisis isi berita dengan pendekatan teknik filling system. Untuk teknik pengumpulan data yaitu observasi dan dokumentasi. Objek dari penelitian ini berfokus pada enam pemberitaan pada media vice.com/id selama periode 12 Januari – 28 Maret 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberitaan pada media vice.com/id dalam dimensi acuraccy, pada berita pertama, ketiga dan keempat terdapat kesalahan penulisan berita sehingga tidak memenuhi unsur dimensi accuracy. Sedangkan berita kedua, kelima dan keenam sudah memehuni unsur dimensi accuracy. Pemberitaan media vice.com/id pada keenam berita yang dianalisis sudah memenuhi dimensi believability, dengan mencantumkan kutipan hasil wawancara serta sumber informasi dari informan expert, juga tidak ditemukan unsur-unsur opinionative dalam berita. Pemberitaan pada media vice.com/id dalam dimensi bias, pada berita pertama, ketiga, keempat, kelima dan keenam tidak memenuhi dimensi bias karena hanya memberitakan dari satu sudut pandang berita. Sedangkan pada berita kedua dalam pemberitaannya mengambil dari dua sudut pandang berbeda. Pemberitaan pada media vice.com/id dalam dimensi completeness, dari keenam berita yang dianalisis secara keseluruhan telah memenuhi unsur-unsur kelengkapan berita yakni 5W+1H

    Representation Family Communication Pattern Digital Era in The Mitchells Vs. The Machines Film

    Full text link
    In this digital era, family disharmony occurs because each family is busy with its gadgets which creates solar or homo-solitarius humans (Prasanti, 2016). Children become digital natives, and adults become digital immigrants. Family communication is important. Family is the smallest part of people's life. Because of that, a harmonious society can be achieved starting from the life of harmonious families. This study discusses The Mitchells Vs. The Machines which represents the pattern of family communication in the digital era using Charles Sanders Pierce's semiotic analysis. In this film there is also have value of family communication which is the moral message of the solution to family conflict in the film.

    REPRESENTASI BATIK MOTIF BUNGA DALAM DESAIN KEMASAN PRODUK “MATTE VELVET LIPSTICK”

    Full text link
    “Batik” merupakan warisan budaya bangsa Indonesia. Batik atau yang berarti meneteskan tinta dengan canting sehingga membentuk coretan yang terdiri dari susunan titik-titik dan goresan ini sering dijumpai pada produk kain atau pakaian. Berbeda halnya dengan unsur “batik” dalam sebuah kemasan produk kecantikan saat ini. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui makna dan pesan dari penggunaan “batik” motif bunga dalam sebuah produk kecantintikan yang identik dengan pemakian para wanita. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pengaplikasikan pada teori semiotika Roland Barthes. Peneliti memilih desain kemasan lipstick matte velvet yang diluncurkan pada tahun pada sebuah produk kecantikan untuk dijadikan objek penelitian. Dari penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pemaknaan bertingkat melalui teori semiotika Barthes, yaitu melalui makna denotasi, konotasi, dan mitos. Teridentifikasi penanda dan petanda yang merepresentasikan “batik” dari warisan budaya Indonesia yang diimplementasikan dalam produk kecantikan. Motif bunga dipilih dalam motif desain kemasan dengan warna-warna cerah yang merepresentasikan tanda-tanda sebuah produk kecantikan. Kata Kunci: Representasi, Motif Bunga, Kemasan, Produk Kecantikan, Semiotik

    ASPEK MORAL DALAM NOVEL REMBULAN TENGGELAM DI WAJAHMU KARYA TERE LIYE DENGAN KAJIAN SEMIOTIK DAN RELEVANSINYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SMA

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis (1) Struktur pembangun dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya Tere Liye, (2) Aspek moral dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu dengan menggunakan pendekatan semiotik, (3) Relevansi novel Rembulan Tenggelam di WajahmuKarya Tere Liye sebagai bahan ajar sastra di SMA. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data diperoleh dari novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu Karya Tere Liye. Pengumpulan data dengan teknik pustaka dan catat. Teknik validasi data yang digunakan adalah teknik trianggulasi data. Teknik analisis data menggunakan metode pembacaan model semiotik dengan proses tahap pembacaan heuristik dan tahap pembacaan hemeneutik. Berdasarkan analisis hasil penelitian inimenunjukkan bahwa (1) Struktur novel yang terdiri dari tema, fakta cerita (alur, penokohan, latar). (2) Aspek moral dalam novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu Karya Tere Liye terdapat tiga nilai moralyaitu nilai moral keagamaan, nilai moral kekeluargaan, dan nilai moral individu. (3) Novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu Karya Tere Liye dapat dipakai sebagai bahan ajar di SMA dengan mengaitkan dengan kriteria bahan ajar yang terbagi menjadi bahasa, psikologi, dan latar belakang budaya. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan ajar sastra di SMA dan menambah khasanah pembelajaran tentang novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Kata kunci: struktur pembangun novel; aspek moral; semiotik;dan relevansi bahan ajar sastra

    Analysis of Ferdinand De Sausure Semiotics on John Doe Character in The Se7en Movie

    Full text link
    These days movies as a mass media product that people likes, has the unique characteristics provide information or even deliver messages to the audiences in the form of entertainment. Besides that the film has a lot of advantages also that makes it the best entertainment provider to the audiences. Such as visualized an idea so that people can understand the ideas, real messages and make it even better or interesting than the actual events. Besides that, we are as a human have limited space and time to knowing all the things that happened in our world. From movies we can understand many things; science, history, information, etc. movies can also make us emotional and arouse interest, that because were as a audience feels like in the movies thinking and behave like the main character from the movies. Such as Se7en, Se7en is one of the Hollywood fenomenal movies. This movies is the subject of this research, study the main antagonist character, John Doe, using Ferdinand De Sausure semiotics theory which the analysis formed above Signifier & Signified, Langue-Parole, Syntagmatic- Paradigmatic, Synchrony and Diachrony using qualitative methods inside the observation and deep interviews technique about the dialogue and the scene inside the movies with the informant expert and communication student who understand the semiotics theory and movies. This research found that John Doe Character is very mysterious, idealist but smart and intelligent, ruthless. It was obtained from the  observation from scenes, dialogues, words, signs that are attached to the characters John Doe and the other element that supports  the research from the movie Se7en.Keywords : Semiotics, Movies, Character, Se7e

    ANALISIS SEMIOTIKA PADA FILM SATRIA DEWA GATOTKACA (SEMIOTIC ANALYSIS OF THE FILM SATRIA DEWA GATOTKACA)

    Full text link
    Penelitian ini berjudul “Analisis Semiotika Pada Film Satria Dewa Gatotkaca”. Film Aksi Satria Dewa Gatotkaca karya yang di sutradarai oleh Hanung Bramantyo pada tahun 2022 ini menceritakan tentang titisan dari Gatotkaca yang bernama Yuda, ia berusaha melawan Korawa untuk melindungi orang yang ia sayangi menggunakan barang pusaka Brajamusti dan Brajadenta. Media massa adalah alat komunikasi yang di gunakan oleh masyarakat, media massa mencakup radio, surat kabar, majalah, televisi, dan film. Mitos atau mitos adalah sepenggal cerita rakyat berupa cerita berlatar masa lampau yang mengandung tafsir tentang alam semesta dan diyakini benar-benar terjadi oleh pencipta cerita dan para pengikutnya. Film mempunyai kelebihan untuk mengatur ruang dan waktu dan dapat mempersingkat dengan leluasa dalam batasan wilayah yang cukup luas. Penelitian ini bertujuan untuk melihat proses penandaan pada film Satria Dewa Gatotkaca. Salah satu film yang memberikan pengetahuan pada generasi muda modern tentang cerita yang dianggap kuno. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis semiotika Roland Barthes melalui 3 pendeketan yaitu konotasi, denotasi, dan mitos. Hasilnya berasal dari potongan adegan seperti medali dan senjata yang ada di film Satria Dewa Gatotkaca

    SHOW DON’T TELL: ANALISIS ESTETIKA VISUAL STORYTELLING DALAM FILM THE BATMAN

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan teknik Show Don’t Tell dalam film The Batman. Sebuah teknik yang menekankan penyampaian cerita secara tersirat melalui imaji-imaji visual. Dan dalam film The Batman, teknik ini dimanfaatkan secara maksimal dimana kolaborasi antara Sutradara dengan Sinematografer menghadirkan visual storytelling, sebuah bentuk visual yang tak hanya indah untuk dilihat, tapi juga membawa banyak makna serta cerita. Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan mengkaji adegan-adegan dalam film The Batman yang benar-benar merepresentasikan teknik Show Don’t Tell. Untuk membantu proses pengkajian imaji-imaji visual dalam film, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif yang dilandasi oleh teori semiotika Roland Barthes agar diketahui pemaknaan dibalik imaji-imaji visual tersebut. Dengan begitu, diharapkan jurnal ini dapat membantu pembaca dalam menganalisis, mengkaji, serta menginterpretasi suatu pesan atau cerita tersirat yang direpresentasikan melalui visual dalam sebuah film, dan membantu pembaca untuk melihat film sebagai suatu hal yang lebih dari sekedar media hiburan semata

    186

    full texts

    192

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇