6,710 research outputs found

    Data Menguji Cahyo Yuwono

    No full text
    File berikut berisi data ujian disertasi dengan penguji Dr. Cahyo Yuwono, M.Pd

    NILAI KEPAHLAWANAN DALAM LAKON GATHUTKACA KUSUMAYUDA SAJIAN CAHYO KUNTADI

    No full text
    Skripsi karya ilmiah dengan judul: Nilai Kepahlawanan Dalam Lakon Gathutkaca Kusumayuda Sajian Cahyo Kuntadi membahas nilai kepahlawanan dalam sajian pertunjukan wayang kulit padat sajian Cahyo Kuntadi. Penelitian ini mengupas dua rumusan masalah yaitu: (1) Bagaimana struktur dramatik lakon Gathutkaca Kusumayuda sajian Cahyo Kuntadi, (2). Apa saja nilai kepahlawanan Gathutkaca dalam lakon Gathutkaca Kusumayuda sajian Cahyo Kuntadi Penelitian ini menggunakan pendekatan struktural dengan metode deskriptif kualitatif, yakni dengan mengamati objek kajian secara langsung dengan metode trianggulasi data yang meliputi : 1. Sumber Audio Visual, 2. Sumber tertulis, dan 3. wawancara. Hasil dari penelitian ini menunjukan adanya kandungan nilai kepahlawanan yang terdapat pada pakeliran Cahyo Kuntadi yang dibangun atas 4 indikator yaitu : (1) Berani, (2) Setia, (3) Tanpa Pamrih, (4) Juju

    Struktur dramatik lakon Wahyu Makutharama sajian Ki Cahyo Kuntadi

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menemukan struktur dramatik lakon Wahyu Makutharama sajian Ki Cahyo Kuntadi. Data penelitian berupa pertunjukan wayang kulit yang ditayangkan melalui kanal YouTube Kuntadi Channel. Konsep yang digunakan untuk analisis yaitu konsep sambung-rapet struktur dramatik Aris Wahyudi. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode pengumpulan data yang meliputi studi pustaka dan karya pertunjukan lakon sejenis, metode analisis data meliputi metode transkripsi dan metode analisis struktural model Aris Wahyudi yang memperhatikan relasional unsur-unsurnya dalam membangun satu kesatuan utuh cerita lakon. Hasil penelitian ini yaitu pertama, lakon Wahyu Makutharama sajian Ki Cahyo Kuntadi beralur multilinier/spiral dan berpola paralel. Meskipun masing-masing adegan dan peristiwa muncul secara tidak linier, tetapi kesemuanya menuju pada peristiwa selanjutnya dan mendapat penyelesaian. Pergerakan peristiwa berjalan secara logis. Kedua, berdasarkan analisis pola bangunan lakon, lakon Wahyu Makutharama sajian Ki Cahyo Kuntadi ini termasuk kedalam lakon yang dawa ngarep, yaitu lebih banyak adegan dan cerita pada pathet nem dibanding dengan pathet sanga dan pathet manyura. Ketiga, tema lakon Wahyu Makutharama sajian Ki Cahyo Kuntadi yang menggerakkan alur adalah “Ngamarta mbutuhké pepayung makutha”. Keempat, alur yang dibangun dalam lakon Wahyu Makutharama sajian Ki Cahyo Kuntadi ini yaitu kompetisi antara Arjuna dan Basukarna. Kelima, tokoh penggerak lakon ini yaitu Semar

    Struktur Dramatik Lakon Wahyu Makutharama Sajian Ki Cahyo Kuntadi

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menemukan struktur dramatik lakon Wahyu Makutharama sajian Ki Cahyo Kuntadi. Data penelitian berupa pertunjukan wayang kulit yang ditayangkan melalui kanal YouTube Kuntadi Channel. Konsep yang digunakan untuk analisis yaitu konsep sambung-rapet struktur dramatik Aris Wahyudi. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode pengumpulan data yang meliputi studi pustaka dan karya pertunjukan lakon sejenis, metode analisis data meliputi metode transkripsi dan metode analisis struktural model Aris Wahyudi yang memperhatikan relasional unsur-unsurnya dalam membangun satu kesatuan utuh cerita lakon. Hasil penelitian ini yaitu pertama, lakon Wahyu Makutharama sajian Ki Cahyo Kuntadi beralur multilinier/spiral dan berpola paralel. Meskipun masing-masing adegan dan peristiwa muncul secara tidak linier, tetapi kesemuanya menuju pada peristiwa selanjutnya dan mendapat penyelesaian. Pergerakan peristiwa berjalan secara logis. Kedua, berdasarkan analisis pola bangunan lakon, lakon Wahyu Makutharama sajian Ki Cahyo Kuntadi ini termasuk kedalam lakon yang dawa ngarep, yaitu lebih banyak adegan dan cerita pada pathet nem dibanding dengan pathet sanga dan pathet manyura. Ketiga, tema lakon Wahyu Makutharama sajian Ki Cahyo Kuntadi yang menggerakkan alur adalah “Ngamarta mbutuhké pepayung makutha”. Keempat, alur yang dibangun dalam lakon Wahyu Makutharama sajian Ki Cahyo Kuntadi ini yaitu kompetisi antara Arjuna dan Basukarna. Kelima, tokoh penggerak lakon ini yaitu Semar

    PERUMUSAN STRATEGI PENGEMBANGAN KANTOR AKUNTAN PUBLIK DARSONO & BUDI CAHYO SANTOSO SEMARANG

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan yang tepat untuk KAP Darsono & Budi Cahyo Santoso melalui pendekatan Quantitative Strategic Planning Matix (QSPM). Penelitian ini menggunakan data kuantitatif berupa jumlah Akuntan Publik (AP) dan Kantor Akuntan Publik (KAP) yang diperoleh dari Direktori Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik dari Tahun 2010 – 2022. Data kualititatif diperoleh peneliti melalui pengamatan langsung, diskusi internal, menyebarkan kuesioner riset SWOT dan studi Pustaka. Analisis dilakukan melalui faktor internal dan faktor eksternal yang berpengaruh pada pemilihan strategi KAP. Analisis data yang digunakan adalah analisis Matriks EFE, Matriks IFE, Diagram Matriks SWOT, Matriks TOWS dan QSPM. Berdasarkan hasil yang diperoleh analisis matriks IFE dan EFE, total skor IFE sebesar 0,63 dan EFE sebesar 0,08, menempatkan KAP pada kuadran I Diagram Matrik SWOT dengan pilihan strategi agresif yaitu strategi pengembangan. Hasil penilaian prioritas strategi pengembangan melalui QSPM, yaitu strategi penetrasi pasar, strategi pengembangan pasar, strategi pengembangan produk dan strategi inovasi, KAP lebih tepat memilih strategi inovasi yang memberikan nilai daya tarik total tertinggi sebesar 357,67. KAP dapat memanfaatkan teknologi informasi untuk mendukung proses pemberian jasa asurans dan non asurans, seperti digitalisasi Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP), program dan prosedur Audit, digitalisasi materi pelatihan dan perpustakaan agar dapat diakses dari tempat manapun, pengembangan website dan digitalisasi data SDM

    KEBERADAAN KELOMPOK KARAWITAN CAHYO LARAS DUKUH SRATEN DESA TRUNUH KECAMATAN KLATEN SELATAN KABUPATEN KLATEN

    No full text
    Skripsi berjudul Keberadaan Kelompok Karawitan Cahyo Laras Dukuh Sraten, Desa Trunuh, Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten adalah penelitian yang mengkaji keberadaan kelompok Karawitan Cahyo Laras, yang mana dalam pementasannya tetap berpegang teguh pada karawitan tradisi dan memiliki banyak prestasi. Penelitian ini ditujukan untuk menjawab dua permasalahan, yaitu: (1) Bagaimana aktivitas kelompok karawitan Cahyo Laras di masyarakat?, (2) Mengapa kelompok karawitan Cahyo Laras berpegang teguh pada karawitan tradisi?. Tujuannya adalah untuk menjelaskan secara deskriptif keberadaan kelompok karawitam Cahyo Laras di masyarakat, dan menjelaskan secara analisis faktor-faktor yang menyebabkan kelompok karawitan Cahyo Laras berpegang teguh pada karawitan tradisional. Untuk menjelaskan keberadaan kelompok Karawitan Cahyo Laras ini merujuk pada teori manajemen kepemimpinan dari Soedjadi, yang meliputi empat unsur, yaitu: (1) perencanaan (planning), (2) organisasi (organizing), (3) motivasi (motivating), (4) pengendalian (controlling). Untuk menjelaskan secara analisis faktor-faktor yang menyebabkan kelompok karawitan Cahyo Laras berpegang teguh pada karawitan tradisional, merujuk pada teori Edi Sedyawati, bahwa hidup dan matinya kelompok karawitan dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Penelitian ini menggunakan prinsip metodologi penelitian kualitatif dengan mengikuti arahan Kutha Ratna, bahwa langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini, yaitu: (1) teknik pengumpulan data, menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. (2) teknik analisis data, yaitu dengan cara mereduksi data, (3) penyajian analisis data, yaitu menyajikan data, dan menyimpulkan data. Penelitian ini pada akhirnya menyimpulkan bahwa, (1) kiprah kelompok karawitan Cahyo Laras tidak berorientasi pada gênding-gênding selera pasaran, melainkan concern dengan garap gênding-gênding klasik tradisional. (2) faktor-faktor yang memengaruhi, yaitu: (a) faktor internal meliputi: peran seorang pemimpin (Suwito) dan kemampuan anggota, (b) faktor eksternal meliputi: dukungan positif dari pemerintah, lingkungan desa, dan kewibawaan ISI Surakarta berperan besar dalam keberadaan kelompok karawitan Cahyo Laras. Kata kunci : keberadaan; kelompok karawitan Cahyo Laras; karawitan tradis

    ESTETIKA PERTUNJUKAN WAYANG KULIT LAKON TRIPAMA KAWEDHAR SAJIAN CAHYO KUNTADI

    No full text
    Penelitian berjudul "Estetika Pertunjukan Wayang Kulit Lakon Tripama Kawedhar Sajian Cahyo Kuntadi" bertujuan mengungkap permasalahan tentang: (1) Unsur-unsur estetik apa yang membangun pertunjukan wayang kulit lakon Tripama Kawedhar sajian Cahyo Kuntadi dan (2) Bagaimana implementasi konsep estetik dalam pertunjukan wayang kulit lakon Tripama Kawedhar sajian Cahyo Kuntadi. Permasalahan mengenai unsur-unsur estetik dikupas dengan pemikiran Sunardi, yang menyatakan bahwa unsur estetika pertunjukan wayang terdiri atas (1) pelaku pertunjukan; (2) peralatan pertunjukan; (3) unsur garap pakeliran; dan (4) penonton. Permasalahan konsep estetika dikaji menggunakan konsep estetika pedalangan yang dikemukakan oleh Najawirangka yang terdiri atas konsep rasa regu, greget, sem, nges, renggep, antawacana, lucu, ungah-ungguh, tutuk, dan trampil. Analisis penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, yang menggunakan teknik pengumpulan data melalui langkah-langkah studi pustaka, observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, unsur estetika pertunjukan wayang lakon Tripama Kawedhar dapat diamati melalui lakon, sabet, catur, dan karawitan pakeliran. Kedua, berdasarkan analisis konsep estetika dalam pertunjukan wayang kulit lakon Tripama Kawedhar sajian Cahyo Kuntadi. Pencapaian konsep estetika pedalangan diwujudkan melalui keberhasilan dalang dalam membangun suasana adegan yang mempunyai kesan rasa regu, greget, nges, sem, renggep, antawacana, lucu, unggah-ungguh, tutuk dan trampil, sehingga Cahyo Kuntadi berhasil mempertunjukkan lakon Tripama Kawedhar secara estetik. Kata kunci: Tripama Kawedhar, unsur estetik, konsep estetik, pertunjukan wayang

    Kajian Representasi: Foto Budaya Ponorogo Karya Oki Cahyo Nugroho

    No full text
    Fotografi kebudayaan yang dibuat oleh Oki Cahyo Nugroho merupakan representasi atau perwakilan salah satu keluhuran tradisi dan kebudayaan masyarakat Ponorogo. Sebagai fotografer yang berlatar belakang kebudayaan Jawa khususnya Ponorogo dengan bekal ilmu fotografi Oki Cahyo Nugroho terpanggil untuk turut serta dalam berkontribusi pada kemajuan kebudayaan. Kehadiran fotografi budaya menjadi sangat penting, saat ini cara bertutur fotografi dengan kemasan yang estetis memperkaya wacana kebudayaan juga langsung memperkenalkan kebudayaan itu sendiri kepada masyarakat. Fotografi kebudayaan Oki merepresentasikan kebudayaan Ponorogo secara menyeluruh dengan pendekatan yang mudah dinikmati. Penelitian ini juga melihat relasi antara fotografi dan kebudayaan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teori sirkuit budaya Stuart Hall. Dalam sirkuit budaya ada lima kerangka kerja yang digunakan untuk mengkaji satu kebudayaan antara lain; representation, identity, consumption, regulation dan production lima poin tersebut saling berkaitan. Khusus pada penelitian ini hanya menggunakan representation sebagai teori untuk melihat relasi fotografi dengan kebudayaan. Setelah melakukan penelitian foto kebudayaan Oki Cahyo Nugroho menggunakan penelitian kualitatif untuk mengetahui bagaimana fotografi memiliki relasi terhadap kebudayaan ditemukan bahwa fotografi merupakan salah satu media penunjang untuk berkomunikasi melalui bahasa visual. Hasil dari penelitian foto tersebut didapatkan bahwa masyarakat Ponorogo masih sangat antusias juga masih menjunjung tinggi nilai kearifan lokal di tengah gempuran modernisasi. Kata Kunci: kebudayaan, Reyog Ponorogo, fotografi, sirkuit budaya, Oki Cahyo Nugroh

    Pesan Kearifan Lokal Kepemimpinan dalam Lakon Wayang Kulit Begawan Cahyo Buwono di Paguyuban Sosial Budaya Jawa Kota Medan

    No full text
    Skripsi ini berjudul “Pesan Kearifan Lokal Kepemimpinan Dalam Lakon Wayang Kulit Begawan Cahyo Buwono di Paguyuban Sosial Budaya Jawa Kota Medan”. Penelitian ini memfokuskan pada analisis cerita lakon Begawan Cahyo Buwono dengan menggunakan teknik analisis hermeneutika. Penelitian ini menggunakan paradigma interpretif sebagai pendekatan. Sedangkan untuk instrumen analisa menggunakan teori hermeneutika yang dikembangkan oleh Paul Ricoeur. Dalam penelitian ini, peneliti berusaha untuk meneliti makna pesan dari salah satu lakon dalam pertunjukkan wayang kulit yaitu Begawan Cahyo Buwono. Yang diteliti adalah pemaknaan yang terkandung dalam lakon Begawan Cahyo Buwono mengenai kritik sosial kepemimpinan dan agama yang menjadi tajuk utama dalam lakon tersebut. Sesuai dengan fokus masalah yang diteliti yaitu apa makna pesan dalam lakon Begawan Cahyo Buwono. Peneliti mendapatkan hasil bahwa lakon tersebut memiliki pesan mendalam mengenai kepemimpinan dalam pemerintahan dan pendidikan agama yang bisa mengedukasi dan menyadarkan masyarakat mengenai kondisi yang ada dalam masyarakat saat ini.This study entitled “The Message of Leadership Local Wisdom in Lakon Wayang Kulit Begawan Cahyo Buwono at Paguyuban Sosial Budaya Jawa Medan City”. This research focus on analysis to the story of lakon Begawan Cahyo Buwono using hermeneutics analytical technic. This research using interoretif paradigm as approach. While for the analysis instrument using hermeneutics theory which developed by Paul Ricoeur. In this research, researcher trying to findthe meaning from a story of shadow puppets Begawan Cahyo Buwono. Researched was the meaning that contained within Begawan Cahyo Buwono Story about social critism in leadership and religion that has tobe the main topic in the story. According to problem focus is what is the meaning of the message in Begawan Cahyo Buwono story, researcher get the result that the story has a deep message about leadership in government and religion education that educate and resuscitate the people about the condition that happen nom in society.Skripsi Sarjan

    Pengembangan kesempatan kerja/ Cahyo

    No full text
    vi, 103 hal.; 23 cm
    corecore