1,721,121 research outputs found

    Hegemoni Rezim Intelijen : Sisi Gelap Peradilan Kasus Komando Jihad

    No full text
    Busyro Muqoddas, melalui Hegemoni Rezim Intelijen; Sisi Gelap Peradilan Kasus Komando Jihad membawa bacaan yang menarik. Ada satu sejarah pemerintahan di Indonesia yang selalu jadi buah bibir hingga sekarang, yakni Orde Baru (1966-1998). Keistimewaan Orba dapat ditinjau dari Tiga kekuatan “pengamanâ€; Militer, Golongan Karya/Birokrat, dan Konglomerat. Ketiga kekuatan ini juga yang turut membentuk corak otoriter Orba.Kebutuhan “pengamanan†Orba melahirkan pembenaran-pembenaran tindakan yang jauh dari keadilan. Sistem Orba menolak segala macam perusak dominasi kekuasaan yang sedang dan akan dimainkannya. maka Orba menjaga kestabilan kekuasaan dengan memanfaatkan tiga kekuatan tadi, dan dengan segala variasinya membentuk lingkaran kokoh yang menahan agar Orba tidak sampai anjlok wibawanya dalam perpolitikan Nasional. Dari sinilah disinyalir; Peradilan Sesat, Komando Jihad, dan Intelijen berada.Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) yang memang diduga telah melakukan penyiksaan dan pembunuhan tahun 1965 adalah alat yang ampuh dari pemerintah Orde Baru. Busyro menuliskan bahwa Kopkamtib dan BAKIN menjadi penyebab munculnya Komando Jihad. Persekongkolan di antara Kopkamtib dan BAKIN terjadi melalui dua fungsi. Kopkamtib menjalankan fungsi penegakan hukum, sedangkan BAKIN menyulut teror dan kekerasan. Motif klasik dari manipulasi ini adalah untuk mempersiapkan kemenangan GOLKAR pada pemilu 1977.Kestabilan Orba juga dijaga dengan tindakan pembonsaian “Islam Politik†pada 1973 oleh Suharto. Namun, ternyata tidak mampu meredam keinginan masyarakat untuk mendukung partai selain GOLKAR. Bagaimanapun juga, GOLKAR adalah salah-satu dari tiga kekuatan utama yang mendukung Orba untuk bertahan sedemikian lamanya, yakni 1966 hingga 1998. Dua kekuatan lainnya adalah Militer dan Konglomerat.Buku Hegemoni Rezim Intelijen ini merupakan disertasi Busyro Muqoddas yang membahas bagaimana peradilan sesat berjalan selama ini. “peradilan sesat†mencirikan satu kegiatan yang serba manipulatif. Para terdakwa diperlakukan secara tidak manusiawi didepan hukum. Busyro menampakkan kepada kita satu ulasan tajam dan terbuka mengenai dugaan/rekaan kita tentang praktik peradilan yang selama ini boroknya masih dalam taraf mitos.Sebastian Pompe, peneliti asal belanda sekaligus penulis buku Runtuhnya Institusi Mahkamah Agung, dalam kata pengantar mengatakan jelas adalah salah tafsir jika menganggap karya ini hanya sebuah tinjauan historis yang tidak memiliki keterkaitan apapun dengan masa sekarang, karena ternyata kajian Busyro masih sangat relevan di masa sekarang terlebih pada bagaimana bentuk-bentuk marginalisasi politik islam. Pompe juga menutup pengantarnya dengan memuji busyro, “buku ini adalah suatu mahakaryaâ€

    KOMUNIKASI POLITIK KIAI BUSYRO KARIM DALAM PROSES PEMENANGAN PILKADA SUMENEP TAHUN 2015

    Full text link
    Pada pelaksanaan Pilkada Serentak tahun 2015 lalu, Kabupaten Sumenep juga menjadi salah satu daerah/kabupaten penyelenggara. Masa jabatan Bupati Sumenep periode 2010-2015 yang dijabat oleh Kiai Busyro Karim sudah berakhir. Namun, pada pilkada Sumenep tahun 2015 tersebut, Kiai Busyro Karim kembali mencalonkan diri. Dirinya diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan didukung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) serta Partai Nasional Demokrasi (Nasdem). Lawan politik Kiai Busyro Karim di Pilkada saat itu adalah paslon Zainal Abidin-Siti Kholifah. . Keterlibatan sosok Kiai dalam politik praktis di Sumenep sudah lama terjadi, bahkan Kiai Busyro Karim sendiri sudah pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Sumenep selama 10 tahun, hingga akhirnya menjabat sebagai Bupati Sumenep pada periode 2010-2015. Kemenangan pilkada Sumenep tahun 2015 lalu juga masih diperoleh Kiai Busyro Karim. Dirinya unggul 10.108 suara atas paslon Zainal Abidin. Artinya, hingga tahun 2021 kelak, Kiai Busyro Karim sudah menjabat kursi pemerintahan di Sumenep selama 20 tahun. Suksesi pemenangan Kiai Busyro Karim tentu menarik diteliti, sebab selain dominan menjadi pemimpin politik, Kiai Busyro Karim juga merupakan tokoh Kiai di Kabupaten Sumenp. Penelitian ini fokus pada Komunikasi Politik Kiai Busyro Karim dalam Pemenangan Pilkada Sumenen Tahun 2015. Metode penelitian ini ialah Kualitatif, sedangkan pengumpulan datanya ialah lewat wawancara dan dokumentasi. Hasilnya, selama proses komunikasi politik berlangsung, Kiai Busyro merupakan komunikator utama, pesan-pesan politiknya banyak terkait dengan kinerjanya selama menjabat serta visi misinya jika terpilih kembali, media yang sering mengkampanyekan pesan-pesan politik Kiai Busyro Karim ialah MataSumenep, sedangkan khalayak yang dipilih oleh Kiai Busyro Karim ialah, publik yang memiliki perhatian atau pengaruh lebih secara politik di Masyarakat., seperti NU, Ansor, Budayawan, Serta Kepala Desa

    Penerapan Hukum Tidak Tertulis dalam Putusan Hakim

    Full text link
    Bagi seorang hakim, untuk menerapkan hukum tak tertulis dalamputusannya, adalah hal yang dilematis, antara tuntutan untuk menerapkannya dalam kondisi tertentu, serta kesulitan teknis termasuk kapabilitas hakim. H. Busyro Muqoddas, dalam tulisan berikut berusaha menggali, kapan dan dalam situasi bagaimana seorang hakim melakukan penerapan hukum tak tertulis dalam putusannya

    PERAN MASJID AL-BUSYRO SEBAGAI PUSAT PEMBINAAN UMAT DI DUSUN JABON DESA TANJUNGKALANG KEC. NGRONGGOT KAB. NGANJUK

    No full text
    Masjid merupakan salah satu tempat ibadah bagi umat muslim. Masjid juga sebagai salah satu sarana yang dapat digunakan dalam proses pembianan umat. Hal ini dikarenakan dalam sejarahnya masjid memiliki arti penting bagi kehidupan umat Islam. Pada masa itu, Rasulullah mendirikan masjid pertama kali di Madinah yang kita kenal dengan nama masjid Nabawi. Dimana masjid Nabawai merupakan salah satu tempat yang dijadikan pusat dalam penyebaran ajaran Islam. Bukan hanya sebagai tempat untuk shalat saja, akan tetapi juga digunakan sebgai tempat dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, tidak heran jika masjid digunakan sebagai pusat dalam pembianan umat. Masjid Al-Busyro merupakan salah satu masjid yang dijadikan sebagai pusat pembianaan umat di Dusun Jabon. Tidak hanya digunakan sebagai tempat shalat, tetapi juga dijadikan sebagai tempat proses pembianaan umat. Dari situlah penulis tertarrik untuk melakukan penelitian mengambil judul Peran Masjid Al-Busyro Sebagai tempat Pembinaan Umat Di Dusun Jabon Desa Tanjungkalang Kec. Ngoronggot Kab. Nganjuk. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah mengenai peran masjid Al-Busyro sebagai pusat pembinaan umat. Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yang bersifat kualitatif. Metode pengumpulan data melalui dokumentasi, wawancara, dan observasi. Analisis data menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu setelah data yang dibutuhkan terkumpul kemudian disusun dan diklarifikasiakan. Selanjutnya dianalisa dan dituangkan dengan kata-kata untuk menggambarkan objek yang diteliti, kemudian dapat ditarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada proses pembinaan umat yang dilakukan dengan  baik di masjid Al-Busyro. Peran masjid Al-Busyro sebagai pusat pembinaan umat yaitu sebagai tempat melaksanakan ibadah, tempat berlangsungya proses pendidikan, dan tempat pembinaan umat muslim.Kata kunci: Masjid, Pembinaan umat, dan Peran

    Religious Resilience of Tulungagung Community Through Busyro Salawat at Majelis Assyifa

    Full text link
    The increasing social unrest, value uncertainty, and spirituality challenges in today\u27s modern era, encourage the need to understand the practice of sholawat as a living hadith heritage that can provide spiritual direction in the midst of the challenges of the times. The aim of the research was to analyze the religious resilience of Tulungagung community through busyro salawat at Majelis Assyifa. The particular research used a qualitative approach, which produces descriptive data through verbal and written notes, and involves observing the behavior of people who are the object of research. Then, the data was analyzed using Max Weber\u27s social action approach theory. The results showed that the practice of salawat busyro in Majelis Assyifa Tulungagung in understanding through the lens of living hadith, not only provides spiritual wisdom, but also provides a relevant and adaptive value framework that can significantly bring a sense of calmness, wisdom in overcoming complex social, and spiritual issues of the times

    Pembiasaan Membaca Sholawat Busyro Setelah Apel Pagi Sebagai Upaya Menumbuhkan Karakter Religius Siswa MII Banyurip Ageng 02 Kota Pekalongan

    Full text link
    Instilling religious values ??is a fundamental aspect of character education in elementary schools. This article discusses the implementation of the habit of reading Sholawat Busyro which is carried out after the morning assembly as an effort to foster the religious character of students at MII Banyurip Ageng 02 Pekalongan City. This study uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques in the form of interviews, observations, and documentation. The results of the study indicate that the habit of reading Sholawat Busyro is carried out routinely, spontaneously, and through exemplary behavior, and is followed by all students and teachers every morning. The implementation of this activity follows the steps: student training and mentoring, giving appreciation, strengthening morals through the knowing-feeling-doing approach, and avoiding criticism. This activity forms students' religious character such as humility, politeness, discipline in worship, and love for the Prophet. Supporting factors for this habit include teacher assertiveness, involvement of all students, a safe environment, and implementation of the habit as a mandatory madrasah activity. The inhibiting factors include students' inability to memorize, laziness in reciting Sholawat Busyro, limited time, and incorrect pronunciation. The results of this study recommend the habituation of sholawat as an effective strategy to form students' religious character comprehensively and applicatively in elementary education environments

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Analisis Qofiyah dalam Qosidah “Busyro Lana” karya Al- Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki

    No full text
    Penelitian ini mengkaji qosidah busyro lana karya Al- Sayyid Muhammad Alwi Al- Maliki dari bidang ilmu qowafi, ilmu qowafi adalah ilmu yang mempelajari tentang rima(qofiyah) pada akhir bait puisi (syi'ir). Syi'ir merupakan karya sastra arab yang mempunyai nilai keestetikan dari imajinasi pengarang dan tidak lepas dari kaidahkaidah arudl dan qowafi dalam penyusunannya. Tujuan288Fakultas Adab dan Humaniora - UIN Sunan Ampel SurabayaSurabaya, 03 November 2025dari penelitian ini adalah untuk mengetahui qofiyah dari qosidah ini yang meliput bentuk qofiyah, harakat qofiyah, huruf qofiyah dan nama qofiyah. penelitian ini bersifat kualitatif menggunakan metode deskriptif di tinjau dari pendekatan ilmu qowafinya. Data penelitian ini yaitu qosidah busyro lana karya Al- Sayyid Muhammad Alwi Al- Maliki. Hasil dari pembahasan menunjukkan bahwa bentuk qofiyah dari qosidah ini menggunakan tiga bentuk qofiyah yaitu satu kata, sebagian kata dan satu kata dan sebagian dari kata lainnya. Huruf qofiyah yang terdapat pada qosidah ini yaitu rawi muthlaq dan muqayyad, washal dan ridf. Dari segi harakat qofiyahnya ada tiga juga yaitu majra fathah dan kasroh, taujih dan hadzwu fathah kasroh dan dhommah. Sementara dari segi nama qofiyahnya ada tiga yaitu mutadaarik, mutawaatir dan mutaraadif. Kata kunci: Qosidah, Syi'ir, Ilmu Qowaf

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
    corecore