1,722,161 research outputs found
Tetenger Suara Bulus
Dalam menciptakan sebuah karya seni perlu adanya pematangan pemikiran dan inspirasi.
Inspirasi adalah hal yang sangat penting bagi seniman-seniman di Bali, karena didalam proses membuat
karya dan cara menemukan inspirasi tiap-tiap seniman sangat beragam yaitu ada yang dengan cara
melamun, mengobrol, habis jalan-jalan, dan duduk termenung. Dalam hal tersebut seniman tanpa inspirasi
suatu karya seni khususnya seni karawitan tidak akan dapat terwujud tanpa adanya inpsirasi yang dimiliki
oleh seniman itu sendiri. Dalam hal ini penata mencoba menata sebuah seni yang sudah ada menjadi
sebuah garapan kreativitas yang baru. Penata terinspirasi dari sebuah benda yaitu kulkul bulus. Kulkul
bulus sering kali digunakan ketika terjadi gejala alam terjadi yaitu kebakaran, kemalingan,
perselingkuhan, kebanjiran, gempa bumi, gunung meletus dan lain-lain.
Dari hal tersebut penata memberi judul “Tetenger suara bulus” yaitu isyarat atau tanda bunyi
cepat. Komposisi karawitan ini berbentuk kreasi baru sebagai hasil kreastivitas penata untuk
mengimplementasikan segala struktur-struktur dari garapan ini, setidaknya dapat dijadikan sebuah simbol
yang bisa mengangkat garapan komposisi karawitan kreasi baru
BULUS AR-RАHIB AND HIS THEOLOGICAL WORKS
The present article introduces us to the life and theological works of Bulus ar-Rahib (Paul of Antioch), a Melkite bishop of Saida (Sidon) and a well-known arabophone apologist of the 12th or 13th century. The author treats questions dealing with the biography of Bulus, the authenticity of his writings as well as their general content. He also informs the reader regarding the published editions of Bulus’ treatises and their translations into western languages. This article is to be viewed as preparatory to a future one which will attempt to further research Bulus’ theological thought as well as to the Russian translation of his works, an edition of which is in preparation at the present tim
Relokasi Stadion Lebak Bulus Jakarta
Stadion Lebak Bulus sebagai salah satu stadion kebanggaan warga Jakarta, merupakan homebase dari klub Persija Jakarta.Dahulu, stadion ini sering dipakai untuk penyelenggaraan event olahraga sepakbola seperti ISL (Indonesia Super League) ataupun pertandingan persahabatan dan ujicoba dengan negara tetangga. Namun, sejak tahun 2008, PT. Liga Indonesia memutuskan untuk tidak menggunakan Stadion Lebak Bulus karena kapasitasnya yang kurang memadai untuk menyelenggarakan pertandingan sepakbola tingkat regional, nasional, ataupun internasional. Dengan demikian, Stadion Lebak Bulus dianggap tidak memiliki nilai daya jualnya kembali.
Di lain sisi, terdapat kabar yang menyatakan bahwa Stadion Lebak Bulus akan digusur karena bangunan tersebut terkena dampak pembangunan stasiun MRT (Mass Rapid Transit). Penggusuran ini dilakukan karena adanya penambahan luas lahan yang semula hanya dibutuhkan sekitar 7000 meter namun kini terjadi perluasan sebesar 1 hektar.Proyek yang telah lama terhenti di tahun 2005 ini pada akhirnya dilanjutkan kembali di tahun 2013.Pemilihan lokasi proyek MRT yaitu di Kawasan Lebak Bulus didasarkan pada nilai strategis dari kawasan tersebut.Lokasi ini dilalui berbagai moda transportasi umum massal sehingga nantinya diharapkan dapat mengakomodir transportasi tersebut untuk mencapai stasiun MRT.
Mengenai penggusuran Stadion Lebak Bulus, hal tersebut telah dipertimbangkan secara matang oleh berbagai pihak, mulai dari pengelola stadion hingga pemerintah.Penggusurannya pun harus menaati Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga, bahwa untuk merobohkan sebuah stadion diperlukan sebuah stadion pengganti, sehingga nantinya Stadion Lebak Bulus harus direlokasi.Sebelum dilakukan penetapan lokasi, Pemda DKI Jakarta telah melakukan kajian terhadap beberapa lokasi pilihan, antara lain di Belakang Rumah Sakit Fatmawati, di Jl. Madrasah, tanah milik PAM Jaya dan di Jl. Ulujami Kecamatan Pesanggrahan.Lalu dari hasil kajian tersebut, maka terpilih lokasi di Ulujami.Lokasi tersebut dinilai strategis karena para penggemar sepakbola diberikan kemudahan untuk mengakses stadion, tidak hanya lewat jalan raya, namun bisa dengan menggunakan kereta.PT. KAI berencana untuk merevitalisasi kereta jurusan Serpong-Tanahabang.Selain itu, lokasinya tidak jauh dengan akses Tol Bintaro sehingga semakin mudah untuk dijangkau
Strategi Pemasaran Minyak Bulus di Kota Banjarmasin (Studi Kelayakan Bisnis)
Kata kunci: Studi Kelayakan Bisnis, Strategi Pemasaran
Penelitian ini dilatar belakangi dengan maraknya berbagai penjualan minyak yang ada di Kota Banjarmasin salah satunya yaitu minyak bulus yang berguna untuk menyembuhkan bermacam penyakit. Sehingga menimbulkan pertanyaan bagaimana penjualan minyak bulus menurut studi kelayakan bisnis dan bagaimana strategi pemasaran penjualan minyak bulus di Kota Banjarmasin.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui studi kelayakan bisnis penjualan minyak bulus yang berada di Kota Banjarmasin dan untuk mengetahui strategi pemasaran minyak bulus yang berada di Kota Banjarmasin.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Responden dalam penelitian ini adalah penjual sekali gus pemilik minyak bulus yang berjumlah 4 orang. Untuk mengumpulkan data yang diperlukan, dilakukan dengan observasi dan wawancara di Jalan Piere Tendean Km. 1 Kecamatan Banjarmasin Timur. Kemudian data dianalisis dengan menggunakan studi kelayakan bisnis.
Hasil dari analisis studi kelayakan bisnis terhadap penjualan minyak bulus menyatakan layak sebagai suatu usaha karena mengandung manfaat baik secara financial benefit maupun social benefit dan strategi pemasaran yang digunakan penjual minyak bulus yaitu strategi bauran pemasaran dan pemasaran langsung. Dalam bauran pemasaran secara strategi produk minyak bulus terbuat dari binatang bidawang untuk strategi harga bervariasi sesuai dengan ukuran dan bentuk untuk strategi lokasi dan distribusi penjualan minyak bulus tidak hanya di Banjarmasin tetapi juga keluar daerah dan strategi promosi yang digunakan bisa melalui telepon langsung maupun media sosial seperti BBM. Secara pemasaran syariah mereka bersifat rabbᾱniyah dalam menjalankan usahanya
Analisis Mitologi Bulus (Labi-Labi) dalam Film Setan Jawa Karya Garin Nugroho
Film Setan Jawa mengisahkan tentang pesugihan kandang bubrah yang disimbolkan dengan bulus (Labi-labi) sebagai setan pemberi pesugihan. Selain sebagai simbol pesugihan, mitologi bulus sudah lama muncul dalam peradaban Jawa. Artikel ini bertujuan menganalisis mitologi bulus dalam Film Setan jawa, kemudian membandingkan dengan mitologi bulus pada masyarakat Jawa dari masa ke masa. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah metode deskriptif komparatif dengan teknik pengumpulan data studi pustaka. Hasilnya, mitologi bulus di Masyarakat Jawa mengalami perubahan makna. Pada masa klasik bulus dianggap sebagai jelmaan dewa, pada masa Islam bulus mengalami variasi makna tergantung wilayah kebudayaannya. Di wilayah dengan pengaruh Islam yang kuat bulus dianggap sebagai hewan suci, namun pada wilayah dengan pengaruh Islam yang lemah mitologi bulus dimaknai sebagai hewan mistik yang memiliki kekuatan magis. Film Setan Jawa menggambarkan mitologi bulus (Labi-labi) pada masa Islam Modern yaitu sebagai hewan ghaib pemberi kekayaan kepada pemujanya
STASIUN MRT LEBAK BULUS
Perkembangan Jakarta sebagai Ibukota negara Indonesia sudah sepantasnya sejajar dengan berbagai kota-kota lain di dunia dengan indeks pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang terus meningkat setiap tahunnya, menjadikan kota ini terus berkembang dan menjadi salah satu kota tersibuk di dunia. Bahkan dengan keadaannya sekarang Jakarta harus terus berbenah dan meningkatkan berbagai fasilitas dan infrastruktur terutama transportasi publik, mengingat transportasi merupakan hal yang krusial.
Saat ini pertumbuhan jalan di Jakarta kurang dari 1 persen per tahun dan setiap hari setidaknya ada 1000 lebih kendaraan bermotor baru turun ke jalan di Jakarta (Data Dinas Perhubungan DKI Jakarta). Studi Japan International Corporation Agency (JICA) 2004 menyatakan bahwa bila tidak dilakukan perbaikan pada sistem transportasi, diperkirakan lalu lintas Jakarta akan macet total pada 2020 (Study on Integrated Transportation Master Plan (SITRAMP II). Menurut sebuah studi, terdapat beberapa kerugian dari kemacetan yang sering terjadi antara lain :
• Kerugian ekonomi akibat kemacetan lalu lintas di Jakarta berdasarkan hasil penelitian Yayasan Pelangi pada 2005 ditaksir Rp 12,8 triliun/tahun yang meliputi nilai waktu, biaya bahan bakar dan biaya kesehatan. Sementara berdasarkan SITRAMP II tahun 2004 menunjukan bahwa bila sampai 2020 tidak ada perbaikan yang dilakukan pada sistem transportasi maka perkiraan kerugian ekonomi mencapai Rp 65 triliun/tahun.
• Polusi udara akibat kendaraan bermotor memberi kontribusi 80 persen dari polusi di Jakarta.
Berdasarkan studi tersebut, maka jelas DKI Jakarta sangat membutuhkan angkutan massal yang lebih andal seperti MRT (Mass Rapid Transit) yang dapat menjadi alternatif solusi transportasi bagi masyarakat yang juga ramah lingkungan.
Membangun sistem jaringan transportasi baru bukanlah semata-mata urusan kelayakan ekonomi dan finansial saja, tetapi lebih dari itu membangun mencerminkan visi sebuah kota. Kehidupan dan aktivitas ekonomi sebuah kota, antara lain tergantung dari seberapa mudah warga kota melakukan perjalanan/mobilitas dan seberapa sering mereka dapat melakukannya ke berbagai tujuan dalam kota. MRT adalah sebuah moda transportasi massal dan yang akan dikembangkan adalah transportasi berbasis rel listrik yang efektif dan nyaman dan telah terbukti hasilnya dengan banyak diterapkannya moda transportasi ini oleh kota-kota besar yang terdapat di berbagai negara.
Dan Lebak Bulus sebagai salah satu kawasan yang mendukung pengembangan tahap 1 (tahap awal) sistem MRT di Jakarta yang akan membelah dan menghubungkan Jakarta dari Selatan ke Utara. Dipilih Lebak Bulus karena potensinya dari sisi letak dan aksesibilitas yang ada, dan dengan adanya terminal yang jika digabungkan fungsinya maka akan menjadi interchange antara beberapa jenis transportasi yang ada, seperti; Transjakarta koridor 8 dan angkutan umum antar kota. Dengan keadaan tapak sekarang yang terdapat terminal dan stadion, dan dengan adanya peraturan daerah yang akan merombak kawasan ini secara total dan di tata ulang sedemikian rupa dengan tujuan untuk pengembangan kedepan menjadi stasiun awal MRT jalur Selatan – Utara.
1.2 Tujuan dan Sasaran Pembahasan
Tujuan
- Tujuan Utama dibangunnya sistem MRT adalah memberikan kesempatan kepada warga kota untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas perjalanan/mobilitasnya dengan lebih andal, terpercaya, aman, nyaman, terjangkau dan lebih ekonomis.
- Untuk menjadi salah satu stasiun utama MRT koridor 1.
- Menjadi wadah untuk penghubung moda transportasi MRT dengan Bus Transjakarta dan bus antar kota dari terminal lebak bulus.
Sasaran
Sasaran dari penyusunan adalah tersusunnya langkah – langkah pokok (proses dasar) Perencanaan dan Perancangan Stasiun berdasarkan aspek – aspek panduan perancangan (design guide lines aspect).
1.3 Manfaat
Secara subyektif adalah untuk memenuhi persyaratan Tugas Akhir pada Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang dan selanjutnya menjadi acuan dalam perancangan grafis Stasiun MRT Lebak Bulus.
Secara Obyektif adalah memberikan pengetahuan mengenai masalah yang berjaitan dengan perencanaan dan perancangan suatu bangunan Stasiun MRT Lebak Bulus sesuai dengan standar-standar dan acuan arsitektural yang telah diterapkan.
1.4 Ruang Lingkup Bahasan
Secara substansial
Pembahasan dititikberatkan pada hal-hal yang berkaitan dengan disiplin ilmu arsitektur, dengan melihat keberadaan bangunan Stasiun MRT Lebak Bulus sebagai bangunan publik dan komersil di bidang transportasi.
Secara spasial
Secara spasial lokasi perencanaan masuk pada wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Wilayah Perencanaan – Jakarta Selatan.
1.5 Metode Pembahasan
Pembahasan dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif analisis yaitu dengan mengumpulkan, memaparkan, menganalisa dan menyimpulkan data sehingga diperoleh suatu pendekatan program perencanaan dan perancangan untuk selanjutnya digunakan dalam penyusunan program dan konsep dasar perencanaan dan perancangan.
Adapun pengumpulan data dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Studi literatur
Studi kepustakaan dilakukan untuk memperoleh landasan teori, standart perancangan dan kebijaksanaan perencanaan dan perancangan melalui buku, katalog dan bahan-bahan tertulis lain yang bisa dipertanggung jawabkan.
Studi komparasi
Studi banding dilakukan untuk membuka wawasan mengenai penggunaan stasiun komuter dan stasiun intermoda yang sudah ada, sebagai wacana dalam perencanaan dan perancangan Stasiun MRT Lebak Bulus.
1.6 Sistematika Pembahasan
Pokok bahasan dalam laporan ini terdiri dari lima bab, antara lain :
BAB I Pendahuluan
Menguraikan tentang latar belakang, tujuan, sasaran, manfaat, lingkup pembahasan, sistematika pembahasan dan alur pikir.
BAB II Tinjauan Pustaka
Menguraikan tentang tinjauan umum suatu Stasiun MRT serta aplikasi terkait dengan kelayakan dan potensi perancangan Stasiun MRT.
BAB III Data
Berisi tinjauan kota Jakarta , tinjauan wilayah perencanaan dan tinjauan tentang Lebak Bulus beserta tinjauan Terminal Lebak Bulus terkait dengan lokasinya yang akan terintegrasi dengan Stasiun MRT Lebak Bulus.
BAB IV Kesimpulan, Batasan dan Anggapan
Berisi mengenai kesimpulan, batasan dan anggapan judul yang dipilih sehingga terdapat batasan dari penjelasan judul yang dipilih.
BAB V Analisa Pendekatan Perencanaan dan Perancangan
Berisi analisa aspek perencanaan yang terdiri dari pelaku, aktivitas, dan kebutuhan ruang serta aspek perancangan yang meliputi aksesbilitas, orientasi, sirkulasi, struktur, utilitas bangunan dan penekanan desain.
BAB VI Konsep Dasar Perencanaan dan Perancangan Stasiun MRT Lebak Bulus
Berisi uraian tentang konsep dan program perencanaan dan perancangan sebagai acuan dalam desain grafis
NILAI-NILAI KARAKTER KARYA SASTRA WILLEM ISKANDER “SI BULUS-BULUS SI RUMBUK-RUMBUK” SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA NEGERI 1 MEDANG DERAS KAB. BATU BARA
Peranan sekolah sebagai tempat pendidikan karakter menjadi semakin penting terutama dalam pembelajaran sejarah bangsa, karena karakter yang baik merupakan hal yang sangat di inginkan bagi orang tua, guru dan negara. Pembelajaran sejarah memiliki arti strategis dalam pembentukan watak peradaban bangsa yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air, sehingga pembelajaran sejarah merupakan salah satu pembelajaran yang memiliki potensi besar dalam membentuk karakter. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi nilai karakter karya sastra Si bulus-bulus Si rumbuk-rumbuk sebagai sumber belajar sejarah di SMA Negeri 1 Medang Deras. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek dalam penelitian ini meliputi kelas XI IPS, guru sejarah serta dokumen dan arsip. Penelitian ini menghasilkan bahwa karya sastra Si bulus-bulus Si rumbuk-rumbuk penting untuk di ajarkan dalam pembelajaran sejarah karena mengandung nilai karakter yang khas dan unik pada kehidupan masyarakat Mandailing untuk dapat di jadikan contoh pada siswa. Proses pembelajaran melalui tiga tahapan kegiatan inti, awal dan penutup selama empat pertemuan dengan baik, hasil pelaksanaan siswa mampu memahami dan menjelaskan nilai karakter Si bulus-bulus Si rumbuk-rumbuk meliputi nilai nasionalis, nilai spiritualis, nilai cendikia, dan nilai peduli lingkungan sosial. Sejalan dengan kegiatan sekolah di dukung dari berbagai program ekstrakuliker, visi misi, budaya dan lingkungan sekolah berbasis pendidikan karakter. Penelitian ini akan memberikan rekomendasi kepada guru dan sekolah dalam implementasi nilai karakter.
Role school as place education character become the more important especially in learning history nation, because good character is something you really want for parents, teachers and the state. Learning history has a strategic meaning in formation character civilization a nation that has a sense of nationality and love homeland, so learning history is one learning that has potency big in form character. Study This aim for know How implementation mark character literary work Si bulus-bulus Si rumbuk-rumbuk as source of learning history at SMA Negeri 1 Medang Deras. The research method used is descriptive qualitative with approach studies case. subject in study this covers class XI IPS, history teacher as well as documents and archives. Study this produce that literary work Si bulus-bulus Si rumbuk-rumbuk important to be taught in learning history Because contain mark characteristic and unique in life public Mandailing for can be made example to students. learning process through three stages core activities, beginning and closing during four meeting with well, results implementation student capable understand and explain mark character Si bulus-bulus Si rumbuk-rumbuk covers mark nationalist, values spiritualist, values scholar, and value care environment social. In line with activity school is supported from various extracurricular programs, vision mission, culture and environment school based education character. Study This will give recommendation to teachers and schools in implementation mark character
Nilai budaya dan sosial dalam tradisi ngirim bulus di desa hadipolo kecamatan jekulo kudus
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tradisi Ngirim Bulus yang diceritakan dan tidak lepas dari nilai-nilai budaya dan nilai-nilai sosial yang sangat kuat pengaruhnya terhadap pendengar cerita Ngirim Bulus. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis nilai budaya yang ada dalam tradisi Ngirim Bulus, (2) untuk menganalisis nilai sosial yang ada dalam tradisi Ngirim Bulus, (3) untuk mengetahui bagaimana tahapan dalam tradisi Ngirim Bulus.
Tradisi merupakan gagasan dari masa lalu yang berasal dari masalalu, namun masih ada hingga kini dan belum dihancurkan atau dirusak. Mengirim bulus (mengirim makanan) ke juru kunci Bulusan bisa berupa makanan sederhana dengan berisi nasi dan telur. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan resepsi sastra yang dilaksanakan di Desa Hadipolo Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus. Objek penelitian ini adalah cerita tradisi lisan Ngirim Bulus. Sumber data pada penelitian ini adalah juru kunci Bulusan, tokoh masyarakat, dan masyarakat sekitar yang mengetahui cerita mengenai Ngirim Bulus. Penelitian ini menggunakan Teknik data berupa observasi, wawancara, pemotretan, perekaman, pencatatan dan transkipsi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini, menggunakan analisis kualitatif dengan reduksi data, model data, dan penarikan simpulan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa nilai budaya dalam tradisi Ngirim Bulus yaitu, wujud ideal/gagasan, wujud aktivitas, wujud artefak. Selain itu, terdapat beberapa nilai sosial dalam tradisi Ngirim Bulus yaitu, pengabdian, tolong menolong, kekeluargaan, kepedulian, empati, keadilan, kerjasama. Adapun prosesi tradisi Ngirim Bulus dilakukan beberapa urutan (1) menyiapkan bahan-bahan, (2) memasak beras dan merebus telur, (3) memasukkan nasi dan telur ke wadah, (4) mengirim ke juru kunci, (5) meminta doa ke juru kunci, (6) memberikan makanan ke bulus.
Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) terdapat nilai budaya dalam tradisi Ngirim Bulus yang berwujud gagasan, aktivitas, dan artefak. (2) terdapat nilai sosial dalam tradisi Ngirim Bulus dengan bentuk pengabdian, tolong menolong, kekeluargaan, kepedulian, empati, keadilan dan kerjasama. (3) masyarakat yang mendatangi juru kunci dengan mengatakan maksud dan tujuan datang melakukan kirim bulus, kemudian juru kunci menuju ke kolam penangkaran lalu membacakan doa, kemudian nasi putih dan telur rebus tersebut diberikan kepada bulus yang berada di kolam penangkara
POLA PERJALANAN PENGGUNA MRT MENUJU STASIUN LEBAK BULUS GRAB
Pembangunan Infrastruktur merupakan salah satu bagian penting dalam perkembangan suatu wilayah dan negara yang merupakan salah satu tugas dan kewajiban dari pemerintah baik pusat maupun daerah. MRT (mass rapid transportation) merupakan transportasi massa untuk perkotaan. Stasiun Lebak Bulus Grab yang berlokasi di Jakarta Selatan menjadi titik awal rute transportasi MRT hal ini dipicu oleh tingginya tingkat kemacetan di Jakarta selatan. Dalam Tata Kota lokasi yang paling ideal untuk membangun sarana transportasi adalah di pinggiran kota. Daerah Lebak Bulus Grab berbatasan langsung dengan Provinsi Banten sehingga masyakarat yang berada disekitar lingkar luar Jakarta dapat menjangkau transportasi MRT. Ada bebarapa cara untuk mencapai Stasiun Lebak Bulus seperti angkutan umum, kendaraan pribadi, bersepeda, berjalan kaki dan sebagainya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola perpindahan antar moda dalam mencapai Stasiun MRT Lebak Bulus Grab. Metode penelitian menggunakan kuesioner dengan responden adalah pengguna MRT yang menuju Stasiun Lebak Bulus Grab. Berdasarkan analisis diperoleh preferensi orang untuk berjalan kaki sekitar 20%, angkutan umum online dan konvensional sekitar 75%, kendaraan pribadi sekitar 5%. Untuk fasilitas yang digunakan pengguna MRT dalam mencapai stasiun tersebut diperoleh ojek online 53%, ojek biasa 5%, angkot 4% busway 13%, metromini/kopaja 2%, sepeda 1%, jalan kaki 20%, kendaraan pribadi 2%
Shelton, Rev H (Herbert Bulus), [No Service Number]
This record was harvested from a previous catalogue system and will be withdrawn in 2025. Information in this record may be superseded or incomplete. Visit this record in UMA's new catalogue at: https://archives.library.unimelb.edu.au/nodes/view/416495Surname: SHELTON. Given Name(s) or Initials: REV H (HERBERT BULUS). Military Service Number or Last Known Location: [No Registration Number]. Missing, Wounded and Prisoner of War Enquiry Card Index Number: 43690.238648
Item: [2016.0049.48756] "Shelton, Rev H (Herbert Bulus), [No Service Number]
- …
