1,723,311 research outputs found
Gitek Bujang
Gitek Bujang merupakan karya tari video yang mentrasformasikan gerak feminin ke dalam tubuh maskulin. Karya ini berpijak pada kesenian khas Jawa Barat yaitu tari Jaipong. Motif gerak giles dan gitek yang ada pada tari Daun Pulus Keser Bojong menjadi inspirasi penciptaan karya ini. Karya tari video Gitek Bujang mengembangkan gerak tangan dan pinggul sesuai aspek-aspek koreografi
dan keruangan yang menitik beratkan pada kualitas gerak. Eksplorasi gerak ini dikombinasikan dengan beberapa teknik gerak jatuh bangun yang ada pada Pencak Silat seperti depok, guntingan dan tejeh. Pemilihan judul Gitek Bujang ini berasal dari bahasa Sunda, Gitek
merupakan salah satu motif gerak perempuan dalam tari Jaipong yaitu ayunan pinggul yang memiliki hentakan sedangkan Bujang adalah sebutan orang Sunda
untuk anak laki-laki yang belum menikah sehingga Gitek Bujang dapat diartikan sebagai gerak perempuan yang ditarikan oleh laki-laki. Penyajian karya tari video
ini berupa tipe tari studi gerak yang beralur segmented, memvisualisasikan gerak- gerak feminin yang dilakukan oleh tubuh maskulin. Karya ini diungkapkan dalam
bentuk koreografi tunggal dan ditarikan oleh penari laki-laki. Musik pengiring yang digunakan pada karya ini adalah musik etnis Sunda dalam bentuk MIDI
(Musical Instrument Digital Interface) dengan menggunakan laras salendro, pelog dan madenda. Tujuan terciptanya karya tari Gitek Bujang adalah sebagai tawaran karya
tari baru dengan konsep gerak tari feminin yang dapat dibawakan oleh tubuh maskulin. Memacu kreativitas menciptakan karya tari dengan mengikuti
perkembangan zaman. Secara personal bertujuan dalam mengembangkan tubuh tradisi dalam merespon rangsang tari.
Kata kunci : Gitek Bujang, Jaipong
Persepsi Masyarakat Lembah Bujang Terhadap Potensi Lembah Bujang Sebagai Kawasan Arkeopelancongan
Penyelidikan arkeologi telah menemukan pelbagai data dan maklumat penting terutama dalam membantu sejarah tapak warisan negara dalam mendapatkan data yang lebih tepat. Terdapat beberapa tapak bersejarah yang berpotensi sebagai kawasan arkeopelancongan yang dapat membantu sektor pelancongan negara. Kajian ini dilakukan untuk mengenalpasti sejarah perkembangan Lembah Bujang, mengenalpasti potensi arkeopelancongan yang terdapat di Lembah Bujang dan menganalisis persepsi masyarakat Lembah Bujang terhadap arkeopelancongan di Lembah Bujang. Kaedah kajian yang digunakan untuk mengumpul data ialah kaedah
kualitatif dan kuantitatif. Selain itu, kaedah pengumpulan data yang digunakan ialah menggunakan sumber premier seperti temu bual dan soal selidik manakala kaedah sekunder menggunakan kajian kepustakaan, rakaman audio, foto dan kajian lepas. Kaedah temubual dilakukan bagi mendapatkan sejarah perkembangan Lembah Bujang dan mengenalpasti potensi arkeopelancongan yang terdapat di Lembah Bujang manakala kaedah soal selidik digunakan untuk mengetahui persepsi Masyarakat Lembah Bujang terhadap arkeopelancongan di Lembah Bujang. Kajian
ini menggunakan Teori Persepsi yang dikemukakan oleh Sondang P Siagian (2004) untuk meneroka faktor yang mempengaruhi persepsi Masyarakat Lembah Bujang terhadap arkeopelancongan di Lembah Bujang. Oleh itu, berdasarkan teori ini terdapat tiga faktor iaitu faktor individu, faktor sasaran persepsi dan faktor situasi, bagi menganalisis persepsi masyarakat setempat. Hasil analisis mendapati Lembah Bujang berpotensi sebagai kawasan arkeopelancongan berdasarkan persepsi majoriti masyarakat setempat. Hasil kajian mendapati, arkeopelancongan memberi impak yang positif terhadap ekonomi dan sosial di Lembah Bujang. Maka, terdapat beberapa cadangan yang dikenalpasti iaitu kajian akan datang, pihak bertanggungjawab, individu dan masyarakat untuk bekerjasama membangunkan Lembah Bujang sebagai
arkeopelancongan
Kampung Bujang mohon sekolah
KAMPUNG BUJANG - Pertambahan bilangan projek perumahan baru sehingga 2,500 unit di kawasan Kampung Bujang menyebabkan bilangan murid yang akan memasuki persekolahan terutama peringkat sekolah rendah meningkat
Bujang Juki
Garapan tari Bujang Juki merupakan hasil pengembangan dari motif-motif gerak tari tradisi minangkabau, yaitu tari Gandang dan tari Sauik Randai pada motif gelek, jantiak, maranak, manggayuang, galatiak, dan sikap itunggua, juga gerak silat Minangkabau. Mode garapan penyajian ini adalah simbolis reprensentational dengan tipe drama tari, pendukung garapan tari ini berjumlah 9 orang, yang terdiri dari 4 peneri putri dan 5 penari putra. satu penari putri sebagi tokoh ibu, satu penaro putra sebagai tokoh Bujang Juki, selebihnya sebagai kelompok penari figuran
Bujang kail / Muhammad Firdaus Azaman
DG Tackle, a leading supplier of top-notch fishing gear, is situated in the picturesque Lembah Bujang area. DG Tackle is committed to serving both new and experienced fishermen by providing a wide selection of items that are made to improve fishing. We obtain rods, reels, lines, lures, and accessories from reputable manufacturers who are renowned for their dependability and skill. DG Tackle, formerly known as Bujang Kail, is repositioned as a leader in the fishing equipment market, serving the requirements of fishermen in Lembah Bujang. This change represents a strategic shift meant to improve customer interaction and better match with local culture. Offering a wide range of fishing equipment, such as rods, reels, lines, and accessories, Bujang Kail upholds the same dedication to quality and customer satisfaction that characterized DG Tackle. Bujang Kail not only seeks to meet but surpass the expectations of fishing enthusiasts, ensuring they have the knowledge and skills necessary to flourish in the many fishing habitats of Lembah Bujang. This is achieved via a renewed emphasis on innovation and community involvement. This abstract examines the DG Tackle to Bujang Kail strategic rebranding, which is marked by an updated corporate colour scheme, new logo, and improved advertising tactics. Bujang Kail, formerly known as DG Tackle, has changed to better appeal to its target market of Lembah Bujang fishing lovers. The rebranding campaign includes a new corporate colour scheme that highlights the area’s natural beauty and a revised logo that captures the spirit of adventure and quality associated with fishing. Furthermore, Bujang Kail has stepped up its marketing initiatives to provide clients with even more value, such as exclusive events, loyalty programs, and special discounts. Bujang Kail is more than just a fishing shop, it's a comprehensive hub for all fishing enthusiasts. In addition to offering a wide range of high quality fishing equipment, form rods and reels to bait and tackle, Bujang Kail also provides expert maintenance services. Whether you need a reel repaired, a rod refurbished, or routine equipment checks, the skilled technicians at Bujang Kail ensure your gear is always in top condition. This commitment to both product and service excellence makes Bujang Kail a trusted destination for anglers seeking reliable equipment and professional support. Bujang Kail stands ready to enhance the fishing experience for enthusiasts of all levels. Our rebranding is more than just a new name; it signifies our pledge to be a trusted partner in every an gler's journey, ensuring they have the best tools and support for every adventure
Bujang escape / Manarina Mat Saad
Wan Animation, an animation studio founded in 2016 by Muhammad Ridzuan Bin Ahmad, is the focus of this project as it undergoes a transformation. Known for its YouTube animations on local and daily life, the studio, situated at 140B Jalan Masjid Raja, Chendering, Terengganu, Malaysia, lacks textual content and a distinct logo, relying solely on characters. To enhance its appeal, Wan Animation seeks to create a new logo for a fresh narrative. Recognizing the current monotony and the absence of animated films in its portfolio, the proposal advocates for the introduction of a new adventure genre.This entails the creation of a novel animated film named "Bujang Escape," recounting the adventure in Lembah Bujang, Kedah, Malaysia. The logo design for Bujang Escape integrates elements like a compass, leaves, an adventurer's hat, and cracks in the word "Bujang," aligning with the adventurous theme. The slogan, "The Untold Story of Lembah Bujang," accentuates the undisclosed narratives in Lembah Bujang. Encompassing three locations within Lembah Bujang—temples, the ancient kingdom of Kedah, and the waterfall wall—the animation unfolds three distinct stories, introducing characters Andy, Yazmin, and Oyen, along with the antagonist Egos. Targeting a diverse audience of teenagers, adults, males, and females, Bujang Escape focuses on creating engaging animations and logos. Embracing a natural design concept popular on Pinterest, the rebrand positions Bujang Escape as a formidable player in the animation market. In summary, the abstract narrative of Bujang Escape aims to share the untold stories and history of Lembah Bujang, captivating the interest of the community, particularly the youth, through diverse mediums such as advertisements, TV ads, applications, and websites
Puaka Bujang Senang diaplikasikan dalam animasi 2D
This is a research on Bujang Senang Terror an old folk tale story in Sarawak. This research focuses on the origins of Bujang Senang before it became a terror in Sarawak through animation. From the researcher's analysis, Bujang Senang is a creature that can transform into human being from a crocodile with the help of transformation coat
Komposisi Tari"Bujang Pajudi"
Komposisi Tari"Bujang Pajudi"
Karya: Andrian Gusti Martion, Ujian penyajian Tari Pendapa ISI Surakart
- …
