27,771 research outputs found

    Pengaruh Padat Penebaran Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih Botia (Chromobotia macracanthus Bleeker) dengan Sistem Resirkulasi

    No full text
    Ikan botia (Chromobotia macracanthus Bleeker) merupakan spesies ikan hias air tawar asli Indonesia yang banyak ditemukan di perairan Sumatera dan Kalimantan. Botia bernilai ekonomis tinggi dan merupakan komoditas potensial untuk ekspor ke mancanegara terutama ke Asia, Amerika Serikat dan beberapa negara Uni Eropa. Di Eropa ikan botia bisa mencapai belasan euro untuk ukuran lima sentimeter sedangkan di Indonesia hanya Rp 6.000 per ekor (Anwar, 2009). Botia merupakan salah satu jenis ikan yang masih harus diperoleh dari hasil tangkapan di alam. Tingginya tingkat permintaan botia baik di pasar lokal maupun ekspor menyebabkan menurunya stok ikan di alam akibat banyaknya penangkapan (Lampiran 6). Untuk mengimbangi permintaan pasar yang tinggi dan juga untuk menjaga kelestarian ikan botia diperlukan teknologi pembenihan. Salah satu permasalahan dalam pembenihan adalah tingginya tingkat kematian benih pada fase benih. Untuk mengurangi tingkat kematian benih, penentuan padat penebaran merupakan upaya yang sangat menentukan dalam menunjang keberhasilan pembenihan. Kepadatan penebaran yang tepat akan memberikan kesempatan bagi ikan dalam memanfaatkan pakan, oksigen terlarut dan ruang sehingga pertumbuhan berjalan optimal dan menghasilkan kelangsungan hidup yang tinggi. Namun dalam hal ini belum diketahuinya padat penebaran benih ikan botia yang tepat yang menghasilkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan yang optimal sehingga perlu diteliti. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui apakah padat penebaran berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih botia, untuk mengetahui padat penebaran terbaik yang menghasilkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih botia yang tinggi. Penelitian dilaksanakan di Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok pada bulan Juli – Oktober 2009. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) tersarang, perlakuan dilakukan dengan menggunakan padat penebaran yang berbeda sebanyak 5 ekor/m2, 15 ekor/m2, 25 ekor/m2, dan 35 ekor/m2. waktu pengamatan dilakukan selama dua bulan kemudian dengan pengulangan perlakuan sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukan bahwa padat penebaran terhadap parameterparameter uji adalah berpengaruh sangat nyata. Hasil perhitungan terhadap pertumbuhan berat didapatkan semakin meningkatnya padat penebaran benih botia berpengaruh terhadap semakin menurunnya pertumbuhan berat. Perlakuan A (5 ekor/m2) memiliki pertumbuhan berat rata-rata tertinggi kemudian menurun diikuti oleh perlakuan B (15 ekor/m2), perlakuan C (25 ekor/m2) dan perlakuan D (35 ekor/m2). Nilai rata-rata pertumbuhan berat tertinggi sebesar 0,00688 g pada perlakuan A. Untuk mengetahui hubungan antara waktu pengamatan dengan pertumbuhan berat selama pengamatan digunakan analisis deret berkala (time series), kemudian diketahui bahwa pertumbuhan berat masing-masing perlakuan selama penelitian memiliki pola yang sama yaitu berat bertambah seiring dengan waktu pengamatan. Selama penelitian berlangsung pertumbuhan berat masih mengalami kenaikan dan belum diketahui batas teratas pertumbuhan berat benih botia. Hasil perhitungan pertumbuhan panjang didapatkan semakin meningkatnya padat penebaran benih botia berpengaruh terhadap semakin menurunnya pertumbuhan panjang. Perlakuan A (5 ekor/m2) memiliki pertumbuhan panjang rata-rata tertinggi kemudian menurun diikuti oleh perlakuan B (15 ekor/m2), perlakuan C (25 ekor/m2) dan perlakuan D (35 ekor/m2). Nilai rata-rata pertumbuhan panjang tertinggi sebesar 2,709 cm pada perlakuan 5 ekor/m2. Untuk mengetahui hubungan antara waktu pengamatan dengan pertumbuhan panjang selama pengamatan digunakan analisis deret berkala (time series), kemudian diketahui bahwa pertumbuhan panjang masing-masing perlakuan selama penelitian memiliki pola yang sama yaitu panjang bertambah seiring dengan waktu pengamatan. Selama penelitian berlangsung pertumbuhan panjang masih mengalami kenaikan dan belum diketahui batas teratas pertumbuhan panjang benih botia. Hasil perhitungan kelangsungan hidup didapatkan semakin meningkatnya padat penebaran berpengaruh terhadap semakin menurunnya kelangsungan hidup. Perlakuan A (5 ekor/m2) memiliki kelangsungan hidup rata-rata tertinggi kemudian menurun diikuti oleh perlakuan (B 15 ekor/m2), perlakuan C (25 ekor/m2) dan perlakuan D (35 ekor/m2). Nilai rata-rata kelangsungan hidup tertinggi sebesar 74,573 pada perlakuan 5 ekor/m2. Selama penelitian kondisi kualitas air selama penelitian secara umum masih dalam kisaran optimal yang mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan botia. Suhu antara 27,6 – 28,1oC, pH antara 7,76 – 8,04, oksigen terlarut 6,48 – 6,91 mg/L, ammonia 0,019 mg/L dan nitrit 0,0032 mg/L. Perbedaan padat penebaran memberikan pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan panjang. Pertumbuhan panjang perlakuan A (5 ekor/m2) berbeda terhadap perlakuan B (15 ekor/m2), berbeda terhadap perlakuan C (25 ekor/m2) dan berbeda terhadap perlakuan D (35 ekor/m2). Perbedaan padat penebaran memberikan pengaruh yang berbeda terhadap kelangsungan hidup. Kelangsungan hidup perlakuan A (5 ekor/m2) berbeda terhadap perlakuan B (15 ekor/m2), berbeda terhadap perlakuan C (25 ekor/m2) dan berbeda terhadap perlakuan D (35 ekor/m2). Padat penebaran terbaik benih botia selama pemeliharaan 2 bulan yaitu pada perlakuan 5 ekor/ m2 yang memberikan pertumbuhan berat (0,645 g), pertumbuhan panjang (2,94 cm) dan kelangsungan hidup (94,4%). Kondisi kualitas air selama penelitian secara umum masih dalam kisaran optimal yang mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan botia. Suhu antara 27,6 – 28,1oC, pH antara 7,76 – 8,04, oksigen terlarut 6,48 – 6,91 mg/L, ammonia 0,019 mg/L dan nitrit 0,0032 mg/L. Saran yang dapat diajukan berdasarkan hasil penelitian ini adalah untuk aplikasi usaha budidaya pembenihan botia agar menghasilkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih botia yang optimum dilakukan dengan penebaran 22 ekor/m2

    Erratum to: Effect of moderate red wine intake on cardiac prognosis after recent acute myocardial infarction of subjects with Type 2 diabetes mellitus (Diabetic Medicine, (2006), 23, 9, (974-981), 10.1111/j.1464-5491.2006.01886.x)

    No full text
    In an article by Marfella et al, the author name C. Saron is incorrect and should be listed as C. Sardu. Therefore the correct author list is: R. Marfella, F. Cacciapuoti, M. Siniscalchi, F. C. Sasso, F. Marchese, F. Cinone, E. Musacchio, M. A. Marfella, L. Ruggiero, G. Chiorazzo, D. Liberti, G. Chiorazzo, G. F. Nicoletti, C. Sardu, F. D'Andrea, C. Ammendola, M. Verza and L. Coppola.In an article by Marfella et al, the author name C. Saron is incorrect and should be listed as C. Sardu. Therefore the correct author list is: R. Marfella, F. Cacciapuoti, M. Siniscalchi, F. C. Sasso, F. Marchese, F. Cinone, E. Musacchio, M. A. Marfella, L. Ruggiero, G. Chiorazzo, D. Liberti, G. Chiorazzo, G. F. Nicoletti, C. Sardu, F. D'Andrea, C. Ammendola, M. Verza and L. Coppola

    RASIO FREKUENSI PAKAN ALAMI Tubifex UNTUK SUBSTITUSI Artemia PADA BERBAGAI KELAS UKURAN BENIH IKAN BOTIA (Chromobotia macracanthus Bleeker)

    No full text
    Artemia merupakan pakan utama pada benih botia hingga umur tiga bulan sehingga substitusi Artemia sangat penting untuk pemeliharaan yang efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rasio frekuensi Tubifex untuk mensubstitusi Artemia pada benih ikan botia. Benih botia yang digunakan berumur satu bulan dengan bobot 35-90 mg dan panjang 13-20 mm yang dipelihara dalam sistem resirkulasi selama delapan minggu hingga berumur tiga bulan. Desain penelitian adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dua faktor yaitu faktor kesatu merupakan kelas ukuran ikan S (35-54 mg), M (55-74 mg), L (75-94 mg) dan faktor kedua berupa lima rasio frekuensi substitusi Artemia: Tubifex dari A (4:0) yaitu 4 kali sehari untuk Artemia dan 0 kali sehari untuk Tubifex, B (3:1), C (2:2), D (1:3) dan E (0:4). Lima belas perlakuan interaksi dihasilkan dari kedua faktor yaitu SA (ukuran S; rasio frekuensi A), SB, SC, SD, SE, MA, MB, MC, MD, ME, LA, LB, LC, LD, dan LE diulang dua kali. Pengamatan dilakukan dengan mengukur pertumbuhan yaitu bobot, panjang total, serta sintasan. Parameter penunjang berupa kualitas air dan proksimat pakan. Data dianalisis statistik dilanjutkan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tubifex dapat diberikan sebanyak 4 kali per hari pada seluruh kelas ukuran ikan tanpa pemberian Artemia. Kata kunci: Frekuensi pakan, Artemia, Tubifex, Chromobotia macracanthus, beni

    Evidence for the decay B0→J/ψω and measurement of the relative branching fractions of meson decays to J/ψη and J/ψη′

    No full text
    First evidence of the B 0 → J / ψ ω decay is found and the B s 0 → J / ψ η and B s 0 → J / ψ η ′ decays are studied using a dataset corresponding to an integrated luminosity of 1.0 fb -1 collected by the LHCb experiment in proton-proton collisions at a centre-of-mass energy of sqrt(s) = 7 TeV. The branching fractions of these decays are measured relative to that of the B 0 → J / ψ ρ 0 decay:frac(B (B 0 → J / ψ ω), B (B 0 → J / ψ ρ 0)) = 0.89 ± 0.19 (stat) - 0.13 + 0.07 (syst),frac(B (B s 0 → J / ψ η), B (B 0 → J / ψ ρ 0)) = 14.0 ± 1.2 (stat) - 1.5 + 1.1 (syst) - 1.0 + 1.1 (frac(f d, f s)),frac(B (B s 0 → J / ψ η ′), B (B 0 → J / ψ ρ 0)) = 12.7 ± 1.1 (stat) - 1.3 + 0.5 (syst) - 0.9 + 1.0 (frac(f d, f s)), where the last uncertainty is due to the knowledge of f d / f s, the ratio of b-quark hadronization factors that accounts for the different production rate of B 0 and B s 0 mesons. The ratio of the branching fractions of B s 0 → J / ψ η ′ and B s 0 → J / ψ η decays is measured to befrac(B (B s 0 → J / ψ η ′), B (B s 0 → J / ψ η)) = 0.90 ± 0.09 (stat) - 0.02 + 0.06 (syst)

    "Closing the R&D Gap, Evaluating the Sources of R&D Spending"

    No full text
    Both spending and tax policies have been implemented in the United States with the goal of stimulating private sector research and development (R&D). Karier questions whether current R&D policy, especially the research and experimentation tax credit, can contribute to closing the gap between nondefense expenditures on R&D in the United States and such expenditures in other countries, such as Japan and Germany. He also explores possible changes to our current R&D policy to make it more effective.

    Measurement of the D+/- production asymmetry in 7 TeV pp collisions

    No full text
    The asymmetry in the production cross-section \sigma of D+/- mesons, A_P = (\sigma(D+) - \sigma(D-))/(\sigma(D+) + \sigma(D-)), is measured in bins of pseudorapidity \eta and transverse momentum p_T within the acceptance of the LHCb detector. The result is obtained with a sample of D+ -> K_S pi+ decays corresponding to an integrated luminosity of 1.0 fb^-1, collected in pp collisions at a centre of mass energy of 7 TeV at the Large Hadron Collider. When integrated over the kinematic range 2.0 K_S pi+ decay is negligible. No significant dependence on \eta or p_T is observed

    Prompt charm production in pp collisions at &#8730;<span style="text-decoration:overline">s</span>=7 TeV

    No full text
    Charm production at the LHC in pp collisions at s√=7 TeV is studied with the LHCb detector. The decays D0→K−π+, D+→K−π+π+, D⁎+→D0(K−π+)π+, D+s→ϕ(K−K+)π+, Λ+c→pK−π+, and their charge conjugates are analysed in a data set corresponding to an integrated luminosity of 15 nb−1. Differential cross-sections dσ/dpT are measured for prompt production of the five charmed hadron species in bins of transverse momentum and rapidity in the region 0&#60;pT&#60;8 GeV/c and 2.0&#60;y&#60;4.5. Theoretical predictions are compared to the measured differential cross-sections. The integrated cross-sections of the charm hadrons are computed in the above pT-y range, and their ratios are reported. A combination of the five integrated cross-section measurements gives σ(cc¯)pT&#60;8 GeV/c,2.0&#60;y&#60;4.5=1419±12(stat)±116(syst)±65(frag) μb, where the uncertainties are statistical, systematic, and due to the fragmentation functions

    Measurement of the branching fractions for B--&gt; D(*)+pi(-)l(-)(nu)over-bar(l) and (B)over-bar(0)-&gt; D-(*)0 pi(+)l(-)(nu)over-bar(l)

    No full text
    We report on a measurement of the branching fractions for B- --&gt; D(*)+ pi(-)l(-)(nu) over bar (l) and (B) over bar (0) --&gt; D-(*)0 pi(+)l(-)(nu) over bar (l) with 275 x 10(6) B (B) over bar events collected at the Y(4S) resonance with the Belle detector at KEKB. Events are tagged by fully reconstructing one of the B mesons in hadronic modes. We obtain B(B- --&gt; D(+)pi(-)l(-)(nu) over bar (l)) = (0.54 +/- 0.07 (stat) +/- 0.07(syst) +/- 0.06(BR)) x 10(-2), B(B- --&gt; D*+pi(-) l(-) (nu) over bar (l)) (0.67 +/- 0.11 (stat) +/- 0.09(syst) +/- 0.03(BR)) x 10(-2), B((B) over bar (0) --&gt; D(0)pi(+)l(-) (nu) over bar (l)) = (0.33 +/- 0.06(stat) +/- 0.06(syst) +/- 0.03(BR)) x 10(-2), B((B) over bar (0) --&gt;D(*0)pi(+)l(-)(nu) over bar (l)) = (0.65 +/- 0.12(stat) +/- 0.08(syst) +/- 0.05(BR)) x 10(-2), where the third error comes from the error on (B) over bar --&gt; D((*))l(-)(nu) over bar (l) decays. Contributions from B-0 --&gt; D(*+)l(-)(nu) over bar (l) decays are excluded in the measurement of (B) over bar (0) --&gt; D(0)pi(+)l-(nu) over bar (l).Astronomy &amp; AstrophysicsPhysics, Particles &amp; FieldsSCI(E)0ARTICLE5null7

    Corrigendum to ‘Eribulin in combination with bevacizumab as second-line treatment for HER2-negative metastatic breast cancer progressing after first-line therapy with paclitaxel and bevacizumab: a multicenter, phase II, single arm trial (GIM11-BERGI)’: (ESMO Open (2021) 6(2), (S2059702921000089), (10.1016/j.esmoop.2021.100054))

    No full text
    The authors regret that at the time the article was published the following two authors were missing from the author list: R. Caputo and D. Cianniello. Both authors affiliation is the Breast Oncology Department, Istituto Nazionale Tumori Fondazione G. Pascale, Naples, Italy. The updated author list is as follows: C. De Angelis, D. Bruzzese, A. Bernardo, E. Baldini, L. Leo, A. Fabi, T. Gamucci, P. De Placido, F. Poggio, S. Russo, V. Forestieri, R. Lauria, I. De Santo, R. Caputo, D. Cianniello, A. Michelotti, L. Del Mastro, M. De Laurentiis, M. Giuliano, S. De Placido, G. Arpino. The authors would like to apologise for any inconvenience caused

    Letter to Dr. George L. Haller re: attached letter from second author in praise of L.--Correspondence

    No full text
    Letter to Dr. George L. Haller re: attached letter from second author in praise of L. D. Miles' contribution to the Value Engineering Conference held in Boston
    corecore