264,061 research outputs found

    Pelatihan Tari Baris Kekupu Untuk Upacara Mamukur

    No full text
    Tari Baris Kekupu Merupakan salah satu jenis tari yang dijadikan objek pelatihan karena memiliki beberapa keunikan dan merupakan tarian yang ditarikan pada Upacara Mamukur. Tarian ini, diciptakan sekitar tahun 1930-an oleh I Nyoman Kaler. Tari Baris Kekupu ditarikan oleh anak-anak perempuan karena didalam tarian ini mengandung unsur Tari Legong. Pengabdian ini berbentuk pelatihan sehingga para penari dapat menarikan tari Baris Kekupu dengan baik dan benar. Berdasarkan analisis tersebut. Diperoleh simpulan sebagai berikut : (1) Bentuk Tari Baris Kekupu, ditarikan pada Upacara Memukur pada proses Mapurwa Daksina, merupakan gabungan antara unsur Tari Baris dan Tari Legong. Berkaitan dengan eksistensi Tari Baris Kekupu kini ditarikan juga pada saat Upacara Piodalan di Banjar Lebah yang dilaksanakan rutin setiap satu tahun sekali. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar keberadaan Tari Baris Kekupu tetap terjaga sehingga tidak akan terjadi kepunahan lagi akibat dari penari dan perangkat pendukungnya tergerus oleh perkembangan jama

    Pembelajaran Tari Baris Tunggal I Wayan Budiarsa Sebagai Penerus Gaya I Nyoman Kakul Pada Ekstrakurikuler Di Sekolah Dasar Negeri 1 Semarapura Kangin Kabupaten Klungkung

    No full text
    Tari Baris Tunggal I Wayan Budiarsa dimulai pada tahun 60-an hingga kini. Almarhum I Nyoman Kakul terkenal dengan tari Baris Tunggal gaya Desa Batuan, setelah itu diwariskan kepada I Made Bukel salah satu putra beliau. I Wayan Budiarsa mengkombinasikan gerakan tersebut, tapi tidak mengurangi ciri khas gaya I Nyoman Kakul. Gaya Tari Baris Tunggal I Wayan Budiarsa merupakan hasil pembelajaran ayahnya sendiri, sehingga setiap kali mengadakan pertunjukan selalu diketahui oleh penonton bahwa tari Baris Tunggal tersebut adalah gaya I Wayan Budiarsa. I Wayan Budiarsa belajar tari Baris Tunggal pada tahun 1979, pada umur 6 tahun. Penelitian ini mengkaji tentang karakteristik, proses pembelajaran, faktor penghambat dan faktor pendukung. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan, serta menggunakan 3 landasan teori, yakni teori pembelajaran, teori estetika dan teori tari Bali. Proses pembelajaran tari Baris Tunggal I Wayan Budiarsa, menggunakan empat tahap: tahap persiapan (preparation) meliputi: tujuan, sumber, materi, media, metode, pendidik dan peserta didik. Tahap penyampaian (presentation) meliputi tiga tahap kegiatan: kegiatan awal, inti dan akhir. Tahap latihan (practice) dan tahap penampilan hasil (performance). Faktor-faktor yang mendukung proses pembelajaran tari Baris Tunggal I Wayan Budiarsa adalah faktor internal yang meliputi faktor yang ada dalam diri siswa, seperti: tingkat kecerdasan (inteligensi siswa), sikap, perhatian, bakat, minat dan motivasi siswa. Sedangkan faktor eksternal meliputi: faktor keluarga dan faktor sekolah. Kata Kunci: Tari Baris Tunggal, Proses Pembelajaran, Faktor Pendukung, Faktor Penghamba

    KESENIAN SAKRAL Tari Joged Pingitan dan Baris Upacara

    No full text
    Perkembangan modernisasi dan pragmatisme masyarakat global kini semakin massif mempengaruhi masyarakat sampai ke plosok desa. Tak terhindarkan masyarakat pedesaan (desa pakraman di Bali) yang dahulu semarak dengan keragaman tradisi seni-budaya juga mengalami stigma modernisasi dan globalisasi. Adanya pertimbangan-pertimbangan permisif pada kesenian tertentu, khususnya tari Joged Bumbung yang telah ditampilkan sebagai seni vulgar jauh dari nilai-nilai etik dan estetika patut menjadi keperihatinan kita bersama. Kekhawatiran akan punahnya kesenian tradisi juga akan beimbas pada hilangnya nilai-nilai agama yang menjadi roh kebudayaan Bali. Kini keberadaan seni-seni tradisi yang hidup di masyarakatpun mengalami kemunduran dan cendrung semakin dilupakan. Kesenian ritual tersebut pada umumnya terkait dengan penyungsungan di pura-pura dan memiliki makna sakral. Joged Pingitan dan Baris Upacara yang merupakan bagian dari seni- seni sakral tersebut perlu mendapat perhatian para pengampu kebijakan untuk mengembalikan roh dan nilai-nilai sakral yang dimiliki kepada keyakinan masyarakat penyungsungnya. Hasil Rumusan Semiloka Seni Sakral yang digelar Listibiya Provinsi Bali perlu disosialisasikan kepada masyarakat. Dalam rangka melestarikan, memperkuat dan mengembangkan kesenian tradisi tersebut Listibiya Provinsi Bali memandang perlu dilaksanakan Workshop/Lokakarya Tari Joged Pingitan dan Baris Upacara

    Baris Kumbang Di Desa Nongan Dalam Ekspresi Seni Lukis

    No full text
    Penelitian ini mengangkat tentang Baris Kumbang di Desa Nongan Dalam Ekspresi Seni Lukis, Baris Kumbang adalah tarian yang mempunyai beberapa keunikan seperti daun kumbang yang di ikat di atas tombaknya dan menggunakan kostum dominan poleng. Baris kumbag erat kaitannya dengan cerita Pan Balang Tamak. Tarian ini dipentaskan di pura Pan Balang Tamak sebagai penyambutan di pelinggih Pan Balang Tamak. Metoda yang digunakan dalam penelitian baris kumbang di desa nongan adalah metoda observasi, metoda wawancara, metoda dokumentasi dan metoda kepustakaan. Metoda analisis data yang digunakan adalah metoda kualitatif. Teori yang digunakan untuk mendukung penciptaan karya adalah teori seni lukis, teori estetika dan teori simbolisme dengan menggunakan aliran impresionisme dan realisme.Hasil dari penelitian ini adalah enam karya seni lukis yang diwujudkan dengan aliran impressionis yang dipadukan dengan realis dengan menggunakan teknik basah dan di implementasikan dengan elemen dan prinsip seni rupa. Masing-masing karya berjudul Percakapan, Lahirnya Baris Kumbang, Pengawal, Baris Kumbang dan Rejang Buah, Pan Balang Tamak dan Poleng. Kata Kunci : Baris Kumbang, Ekspresi, Seni Lukis

    Pembelajaran Tari Baris Wayang Di Pasraman Prabha Budaya, Banjar Lumintang, Denpasar

    No full text
    Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan memiliki 3 aspek yakni, karakteristik tari Baris Wayang, proses pembelajaran serta faktor pendukung dan penghambat pembelajaran tari Baris Wayang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembelajaran tari Baris Wayang di Pasra- man Prabha Budaya, Banjar Lumintang, Denpasar. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori pembelajaran dan faktor-faktor masalah belajar. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, studi kepustakaan dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik deskriptif dengan mendeskripsikan segala data yang diperoleh di lapangan secara rinci dan jelas, yaitu data primer berasal dari hasil penelitian di lapangan dan hasil wawancara dan data sekunder diperoleh dari buku-buku, skripsi, dan sumber pustaka lainnya yang terkait dengan penelitian. Tari Baris Wayang merupakan salah satu tari sakral yang unik karena merupakan penggabungan 2 macam kesenian yaitu seni tari dan seni pedalangan serta memiliki karakteristik yang halus, tegas dan sesuai dengan karakter wayang yang dibawa oleh penari. Proses pembelajaran Tari Baris Wayang di Pasraman Prabha Budaya, Banjar Lumintang, Denpasar menggunakan 4 tahapan pembelajaran, yaitu: tahap persiapan, tahap penyampaian, tahap latihan, dan tahap penampilan hasil. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran tari Baris Wayang ada 2 faktor, yaitu faktor pendukung yang terdiri dari faktor internal berupa faktor minat, faktor bakat dan faktor kesiapan sedangkan faktor eksternal berupa faktor metode mengajar, faktor relasi guru dengan peserta didik dan faktor alat pelajaran atau sarana prasarana. Faktor penghambat terdiri dari faktor internal yaitu, faktor bakat dan faktor eksternal berupa faktor keadaan gedung. Kata Kunci: Tari Baris Wayang, Pembelajaran, Faktor Pendukung dan Penghamba

    Pio La Torre dirigente del Pci

    No full text
    Il volume si pone l’ambizione di ricostruire gli aspetti principali della biografia di Pio La Torre, aspirando a confrontarsi con tutti gli ambiti della sua azione politica, non riducibile soltanto alla pur fondamentale attività di contrasto e denuncia della criminalità organizzata: la formazione nel PCI postbellico; l’attività di quadro politico e sindacale nella Palermo degli anni Cinquanta; l’esperienza alla guida del PCI in Sicilia e l’impegno meridionalista; la partecipazione alla Direzione nazionale; infine, il rapporto col movimento femminista e con quello pacifista. Attraverso un ampio ricorso a documenti d’archivio fino ad ora non utilizzati, i saggi contenuti nel volume offrono perciò una interpretazione della figura di La Torre che ne focalizza il ruolo nella storia siciliana e in quella della Repubblica

    Tari baris tunggal satu tinjauan dari pemadatan

    No full text
    Tari baris tunggal adalah salah satu jenis tari yang ada di Bali yang termasuk dalam seni tari klasik. Pemadatan gerak yang disajikan disini meliputi hambatan-hambatan serta kelancaran yang terjadi dalam proses pemadatan gerak dan akibat pemadatan gerak tari baris tunggal. Kemerosotan yang dialami dalam penampilan tari baris tunggal sedikit demi sedikit akan mempengaruhi tari baris yang berkembang dalam masyarakat

    TARI KREASI BARIS NADEWA

    No full text
    Tari kreasi Baris Nadewa merupakan tarian kreasi baru yang dalam penyajiannya dibawakan oleh dua orang penari pria membawa properti tombak yang kedua ujungnya berbentuk pedang dan diiringi instrumen gamelan Gong Kebyar. Tarian ini merepresentasikan kegagahan dan jiwa patriotisme Nakula dan Sahadewa bertempur di medan laga. Terciptanya tarian ini terinspirasi dari tokoh Nakula dan Sahadewa dalam cerita Mahabharata dan ide gerakannya berasal dari pengembangan gerak tari bebarisan yang sudah ada sebelumnya. Terciptanya tarian ini tiada lain karena merespon adanya paham-paham radikalisme yang mulai meracuni nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme para generasi muda pada khususnya, karena dapat memecah persatuan bangsa. Dengan disajikan melalui gerak yang dinamis dan tegas, secara tidak langsung penciptaan karya tarian ini ingin menyampaikan pesan pentingnya menumbuhkan sikap patriotisme, seperti pemberani, pantang menyerah dan rela berkorban demi bangsa dan negara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif guna mengetahui elemen estetis dan makna dari bentuk penyajian tari kreasi Baris Nadewa Kata kunci: tari kreasi Baris Nadewa, estetika, makn

    TARI KREASI BARIS NADEWA

    No full text
    Tari kreasi Baris Nadewa merupakan tarian kreasi baru yang dalam penyajiannya dibawakan oleh dua orang penari pria membawa properti tombak yang kedua ujungnya berbentuk pedang dan diiringi instrumen gamelan Gong Kebyar. Tarian ini merepresentasikan kegagahan dan jiwa patriotisme Nakula dan Sahadewa bertempur di medan laga. Terciptanya tarian ini terinspirasi dari tokoh Nakula dan Sahadewa dalam cerita Mahabharata dan ide gerakannya berasal dari pengembangan gerak tari bebarisan yang sudah ada sebelumnya. Terciptanya tarian ini tiada lain karena merespon adanya paham-paham radikalisme yang mulai meracuni nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme para generasi muda pada khususnya, karena dapat memecah persatuan bangsa. Dengan disajikan melalui gerak yang dinamis dan tegas, secara tidak langsung penciptaan karya tarian ini ingin menyampaikan pesan pentingnya menumbuhkan sikap patriotisme, seperti pemberani, pantang menyerah dan rela berkorban demi bangsa dan negara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif guna mengetahui elemen estetis dan makna dari bentuk penyajian tari kreasi Baris Nadewa Kata kunci: tari kreasi Baris Nadewa, estetika, makn

    il fascismo tra storia nazionale e prospettiva trasnazionale

    No full text
    the essay reflects on the relationship between Italian and international historiography on fascis
    corecore