28 research outputs found
Pengaruh Program Pendidikan dan Pelatihan Terhadap Kemampuan Administrasi Pegawai Negeri Sipil (PNS) (Studi pada Pelaksanaan DIKLATPIM III bagi Pejabat Eselon III di Lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara)
Untuk dapat membentuk sosok PNS seperti tersebut di atas, perlu Pelatihan
(Diktat)
yang mengarah kepada upaya peningkatkan, sikap dan semangat pengabdian
yang
berorientasi pada kepentingan masyarakat, bangsa, negara, dan tanah air; kompetensi teknis,
manajerial, dan atau kepemimpinannya dan efisiensi, efektifitas, dan kualitas pelaksanaan
tugas yang dilakukan dengan semangat kerjasama dan tanggung jawab
sesuai dengan
lingkungan kerja organisasinya. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101
Tahun 2000
tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil, antara lain ditetapkan
jenis-jenis
Diklat PNS. Salah satu jenis Diklat diperlukan dalam pembentukan kompetensi
PNS untuk jabatan struktural eselon III adalah Diklatpim Tingkat Ill.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana Program Pendidikan
dan
Pelatihan Kepemimpinan Tingkat III mampu memberikan kontribusi terhadap
peningkatan
kemampuan administrasi Pejabat Eselon III di lingkungan Pemerintah Propinsi
Sumatera Utara. Pengambilan sampel melalui teknik acak stratifikasi secara proporsional
(proportionate stratified random sampling), sebanyak 82 orang. Analisis data
dilakukan
dengan menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi dan korelasi
ganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor Pendidikan dan Pelatihan
Kepemimpinan Tingkat III meliputi: isi materi pelajaran, kualifikasi tenaga
pengajar,
ketepatan teknik dan metode pengajaran, fasilitas diklat dan kualifikasi peserta secaa
bersama-sama memberikan kontribusi sebesar 69,2 persen terahadap
peningkatan
kemampuan administrasi para pejabat eselon III di lingkungan Pemerintah Propinsi
Sumatera
Utara. Faktor-Faktor lain di luar variabel Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat
Ill yang tidak diukur dan tidak diteliti dalam penelitian ini memberikan kontribusi sebesar
30,8 persen terhadap peningkatan kemampuan administrasi. Faktor luar yang ikut
menentukan tersebut antara lain faktor usia atau umur, tingkat pendidikan, masa kerja atau
pengalaman kerja, minat, situasi kerja termasuk di dalamnya kerjasama atau hubungan antara
bawahan dengan atasan, kondisi dan situasi kerja, sikap orang terhadap pekerjaan,
pangkat/jabatan, kualitas pengawasan dan lain-lain
Motivasi Wajib Pajak Dalam Membayar Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) Alat-Alat Berat/ Alat-Alat Besar
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang motivasi wajib pajak dalam pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) bennotor alat berat/alat besar di Kabupaten Bangka Barat, faktor-faktor yang menyebabkan Motivasi Wajib Pajak membayar PKB dan BBNKB Alat-Alat Berat/Alat-Alat Besar di Kabupaten Bangka Barat. Teori yang digunakan adalah Teori Motivasi-Hygiene yang dikembangkan oleh Frederic Helzberg yang membahas bahwa ada dua faktor motivasi yaitu intrinsik (faktor dari dalam diri wajib pajak) yang terdiri dari: I) Kejujuran Wajib Pajak; 2) Kesadaran Wajib Pajak; 3) Hasrat untuk membayar pajak; dan faktor ekstrinsik yang terdiri dari : I) Dorongan dari aparat pajak, 2) Lingkungan kerja dalam menjawab pertanyaan penelitian motivasi wajib pajak dalam pembayaran Pajak PKB dan BBNKB bermotor alat berat/alat besar di Kabupaten Bangka Barat. Kajian 101 menggunakan pendekatan kualitatif dari Creswell dengan menggunakan metode pengumpulan data, wawancara observasi dan studi dokumentasi dengan infonnan terdiri atas wajib pajak : pemilik perorangan dan perusahaan dan birokrat : pejabat eselon I,III dan IV beserta staf pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat faktor yang menjadi pendukung dan yang menjadi kendala motivasi wajib pajak dalam membayar PKB dan BBN-KB alat-alat berat/alat-alat besar di Kabupaten Bangka Barat faktor yang mendukung antara lain : I) Dukungan dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam hal penyiapan regulasi, sarana dan prasarana serta sumber daya manusia, 2) Dukungan dari instansi lainnya seperti: Kejaksaan Negeri Muntok dalam hal bantuan penanganan masalah hukum bidang perdata dan tata usaha negara dan Pemerintah Kabupaten Bangka Barat. Sedangkan faktor yang menjadi kendala antara lain: 1) kurang optimalnya penerapan sanksi hukum, 2) Tingginya tarif Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) pertama, kedua dan seterusnya, 3) Sulitnya memperoleh data dan informasi tentang keberadaan alat-alat berat/besar, 4) Terbatasnya jumlah pegawai, 5) Melambatnya laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bangka Barat; dan 6) Terbitnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 3/PUU/XIII/20 15 tentang pengujian Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, tidak mempengaruhi motivasi wajib pajak dalam melunasi kewajibannya
Aflatoxin Problems in Poultry Feed and Its Raw Materials in Indonesia
Contamination of aflatoxins in animal feeds is one of a major problem in the development of poultry industry in Indonesia. Aflatoxins may lead to losses in animal productivity, aflatoxicosis and residue in animal products. A series of investigation on aflatoxin contamination in animal feed in poultry had been carried out at Research Institute for Veterinary Science (Balitvet) between 1984 to 1995. It showed that more than 80 % of commercial chicken feeds were contaminated by aflatoxin B1 (AFBI) within a wide range of concentration. Besides AFB1, other aflatoxins such as AFB2, AFG1 and AFG2 were also found. The level of AFB1 more than 200 ppb was found in 13.5 % out of 193 feed samples, whilst 23.3 % and 63.2 % of samples showed concentration 100-200 ppb and 400 ppb respectively. It had approved from the investigation that corn was the most frequent foodstuff contaminated by aflatoxins compared to other animal foodstuff. Most of corn used for chicken feeds appeared to be the major source of aflatoxin contamination, where it could be indicated visually in bad or good kernel appearance. The levels of AFB1 contamination seemed to be higher in the wet season (39.5 ppb) than in the dry season (19.5 ppb) as well as at the lower altitude (39.8 ppb) was higher than at the higher altitude (24.13 ppb). Based on this view, further studies are required to control of the aflatoxins problems in poultry feed in Indonesia.Key words: aflatoxins, animal feeds, poultr
Glukomannan dari Iles-Iles (Amorphophalus oncophylus) sebagai Pengikat Aflatoksin pada Pakan Ayam Broiler
Aflatoksin dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada ternak dan manusia, sebab aflatoksin bersifat karsinogenik kelas I. Pengaruh aflatoksin antara lain penurunan nafsu makan, pertumbuhan, performen ternak dan penekanan sistem kekebalan tubuh. Glukomannan menunjukan kemampuan mengikat aflatoksin. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mengekstraksi glukomannan dari umbi iles-iles (Amorphophallus oncophyllus) dan dilanjutkan pengujian fisika-kimiawi pada glukomannan yeast product (GYP) dan glukomannan dari proses ekstrak iles-iles (EI), 2) menguji kemampuan EI sebagai pengikat aflatoksin dan teori pengikatan kimianya 3) melakukan kajian performa, gambaran hematologi, berat organ visceral dan pengamatan makroskopik dan mikroskopik hati dan 4) menentukan dosis EI untuk digunakan sebagai pengikat aflatoksin. Metode pengujian fisika terdiri dari warna, tekstur, ukuran partikel dan gross energi. Pengujian kimia terdiri dari uji proksimat, glukosa, mannosa, NDF (Neutral Detergen Fiber), ADF (Acid Detergen Fiber), pH, Uji NIR (Near Infra Red) dan FTIR (Fourier Transform Infra Red). Uji in vitro menggunakan cairan gastointestinal 3% dalam larutan ringer dan aflatoksin (Biopure®) dengan parameter yang diukur adalah persentase pengikatan aflatoksin. Uji in vivo menggunakan ayam broiler yang dipelihara selama 35 hari dengan menggunakan rancangan acak lengkap. Pengamatan pada uji in vivo terdiri dari performa (berat badan akhir, konsumsi dan efisiensi pakan), hematologi, berat organ dalam (hati, jantung, limpa dan ginjal) dan pengamatan makroskopik dan mikroskopik hati. Hasil uji Fisika menunjukan bahwa tekstur dan gross energi GYP dan EI tidak berbeda nyata (p<0.05.). Hasil uji proksimat menujukan bahwa kadar air, abu, kadar protein kasar, lemak kasar dan serat kasar pada GYP berbeda nyata (p<0.05) dengan EI. Kadar air, lemak kasar, bahan ekstrak tanpa nitrogen dan karbohidrat dalam EI lebih tinggi daripada GYP tetapi kadar abu, protein kasar dan mannan dalam EI lebih rendah dibanding GYP. Kandungan glukomannan pada GYP dan EI dibuktikan berdasarkan pada uji kimiawi dan spectrofotometer-Fourier Transform Infra- Red (FTIR). Secara uji kimiawi GYP dan EI mengandung mannosa dan glukosa dengan perbandingan 1:1.2 dan 1:1.8 secara berturut-turut. Berdasarkan uji FTIR, GYP dan EI memiliki bilangan gelombang yang sama yang menunjukan adanya polisakarida (1000 – 700 Cm-1) and ikatan β-1, 4 glucosidic and β-1,4 mannosidic (1300 – 1000 Cm-1). Perbandingan spektrogram antara GYP dan EI menggunakan Near Infra Red Reflectance Spectroscopy (NIRS) menunjukan bahwa GYP dan EI memiliki spektrogram yang lebih mirip jika dibandingkan dengan spektrogram karbon aktif. Spektrogram dari FTIR, GYP dan EI memiliki gugus aktif yang sama yakni O ̶ H, C ̶ H2, C ̶ H, C ̶H3, C ̶ O ̶ C dan ≡C ̶ H, tetapi ada gugus fungsional yang hanya dimiliki GYP yakni C=O, sedangkan yang hanya dimiliki EI yakni gugus fungsional N ̶ H (bengkok). Interaksi GYP dan EI dengan aflatoksin menunjukan perubahan kimia antara sebelum dan sesudah direaksikan dengan aflatoksin, dengan indikasi dalam GYP berkurangnya bilangan gelombang untuk gugus fungsional C ̶ H (di luar bidang), sedangkan dalam EI tidak tampak N ̶H (regang) dan ditemukan gugus fungsional baru yaitu C≡C dan C=O. Bilangan gelombang yang diserap OH setelah berikatan dengan aflatoksin terjadi penurunan bilangan gelombang (frekuensi), hal ini menunjukan terjadinya ikatan hidrogen. Berdasarkan uji spektrogram dapat disimpulkan bahwa GYP dan EI mampu mengikat aflatoksin dengan ikatan hidrogen. Uji in vitro menggunakan aflatoksin, bahan pengikat (GYP dan EI), cairan gastro intestinum ayam broiler 3 % dalam larutan ringer. Berat binder adalah 41.05; 82.1; 123.15 dan 164.2 mg dan berat aflatoksin 0.1642 μg di setiap tabung. Hasil penelitian menunjukan persentase pengikatan aflatoksin meningkat sesuai dengan bertambahnya berat bahan pengikat baik GYP maupun EI. Persentase daya ikat aflatoksin GYP adalah 20.08; 21.31; 41.20; 46.34% dan EI adalah 4; 38.12; 40.16 dan 97.61% secara berturut turut. Persamaan regresi GYP adalah Yp = -6.92 + 12.03x, sedangkan untuk EI adalah Ye = -31.53 + 21.07x. Uji in vivo yang dilakukan pada ayam broiler berjumlah 63 ekor yang dibagi sama menjadi 9 kelompok perlakuan yakni: pemberian dengan pakan basal (kelompok 1), pemberian pakan yang terkontaminasi aflatoksin 50 μg/kg (kelompok 2) dan pemberian pakan yang terkontaminasi 2 mg/kg (Kelompok 3). Pemberian pakan yang terkontaminasi aflatoksin 50 μg/kg dan ditambah GYP 1 g/kg, EI 1 g/kg dan EI 2 g/kg secara berturut-turut pada kelompok 4, 5 dan 6. Pemberian pakan yang terkontaminasi aflatoksin 2 mg/kg dan ditambah GYP 1 g/kg, EI 1 g/kg dan EI 2 g/kg secara berturut-turut pada kelompok 7, 8 dan 9. Pengujian plasma darah meliputi penghitungan packed cell volume (PCV), Hemoglobin (Hb) dan Mean Corpusculer Hemoglobin Cell (MCHC), diffrensial sel darah putih dan glukosa sedangkan serum digunakan untuk pengujian kadar titer antibodi terhadap ND. Kandungan Hemoglobin, nilai MCHC dan kadar gula darah tidak berbeda nyata dari 9 kelompok perlakuan. Jumlah sel darah putih neutrofil, limfosit dan eosinofil dari 9 perlakuan tidak berbeda nyata (p<0,05). Titer antibodi terhadap ND paling tinggi ditemukan pada kelompok yang mendapatkan pakan yang tidak terkontaminasi aflatoksin dan paling rendah pada kelompok yang mendapat perlakuan pada pakannya ditambah aflatoksin 2 mg/kg. Kesimpulan dari penelitian ini adalah aflatoksin menyebabkan penurunan efisiensi pakan, penurunan nilai Packed Cell Volume dan titer antibodi terhadap New Castle Disease, perubahan warna hati dan mengalami peningkatan berat relatif organ hati. Pengujian histopatologi menunjukan aflatoksin menyebabkan organ hati pendarahan dan degenerasi lemak. Glucomannan Yeast Product dan ekstrak iles-iles mampu mengurangi pengaruh negatif dari aflatoksin. Dosis ekstrak iles-ilesI 1 g/kg pakan mampu melindungi ayam dari pengaruh negatif aflatoksin cemaran aflatoksin 50 μg/kg dan 2 mg/kg yaitu penurunan berat akhir ayam hidup, penurunan jumlah konsumsi pakan, penurunan efisiensi pakan, anemia, peningkatan berat organ hati, perubahan makroskopis dan mikroskopis dan penurunan titer antibodi terhadap New Catle Diseases pada cemaran aflatoxin 50 μg/kg, tetapi belum mampu meningkatkan titer antibodi terhadap New Castle Diseases pada cemaran aflatoksin konsentrasi 2 mg/kg
Mycotoxin Contamination in the Food Chain
Mycotoxins contamination in animal feed is harmful to livestock and leads to residues, such as aflatoxin and its metabolites (aflatoxin M1, aflatoxicol, aflatoxin Q1 and aflatoxin P1) which are deposited in meat, milk, and eggs. The existence of mycotoxins has been widespread; and mycotoxin is the most important contaminant in the food chain because it has implications for human health. Mold growth and mycotoxin production mainly depend on the weather, such as warm temperatures (28-31°C) and high humidity (60-90%). Some types of mold can produce more than one type of mycotoxin and some mycotoxins can be produced by more than one species of fungi. Mycotoxins, especially aflatoxin, fumonisin, zearalenone, ochratoxin, deoxynivalenol, and T2 toxin present in feed and feedstuffs that have to be controlled. Mycotoxins are not only harmful to the health of consumers, but will also reduce the quality of the product that is contaminated, and cause economic losses. The risk of mycotoxin contamination in animal feed could be reduced by inhibiting the mould growth and toxin production, through crop rotation, using proper fungicides, and applying regulation of mycotoxins maximum limit in feed and food in order to prevent any danger to public health
Anticipating the Emerging of Some Strategical Infectious Animal Diseases in Indonesia Related to The Effect of Global Warming and Climate Change
The effect of global warming and climate change is changing the season, included flooding in one area and very dry in other area, changing the temperature and humidity. These changes will trigger changing of the life of biological agent (virus, bacteria, parasites and so on), variety of animal species, variety of vectors as reservoir host of animal with the role of transmitting the disease to other animal species, This condition will trigger the new animal disease (emerging disease) or old disease will be re-emerged (re-emerging diseases). This paper will discuss the effect of global warming and climate change on animal diseases in Indonesia such as Bluetongue (BT), Nipah, Japanese encephalitis (JE), West Nile (WN), and Rift Valley fever (RVF). The climate changes such as increasing the earth temperature and rainfall will cause extremely increase of vector population for BT, JE, WN and RVF. In addition, animal transportation and bird migration from one country to others or region will cause changing of ecological system and will open the chance to distribute the diseases. Hence, anticipation on those disease outbreaks should be taken by conducting the surveilance and early detection to those diseases. The possibility of entering Nipah disease in Indonesia should be anticipated because the avaibility of Nipah virus and the reservoir host (Pteropus spp) and also pigs as amplifier host in the surrounding area. Other diseases such as, leptospirosis, anthrax and avian influenza (H5N1) are also have a wider potential to distributing the disease related to the climate change in Indonesia. Key words: Global warming, climate change, zoonotic diseas
PENGARUH INVESTASI DAN IPM TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DAN DAMPAKNYA PADA PENYERAPAN TENAGA KERJA SERTA UPAH KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI JAWA TIMUR
Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh investasi dan
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terhadap pertumbuhan ekonomi
Kabupaten/Kota Di Provinsi Jawa Timur. Untuk menguji dan menganalisis
pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap permintaan tenaga kerja
Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Timur. Untuk menguji dan menganalisis
pengaruh permintaan tenaga kerja terhadap upah Kabupaten/Kota di Provinsi
Jawa Timur.
Peneltian ini merupakan eksplanatori yang menjelaskan pengaruh antar variabel
melalui pengujian hipotesis. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa
data runtut waktu (time series) dan cross section, yaitu data upah, investasi, IPM,
permintaan tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi periode 2004-2016. Teknik
analisis yang digunakan adalah regresi data panel simultan dengan menggunakan
program Eviwes 6.0.
Hasil pengujian terbukti secara bersama-sama investasi dan IPM berpengaruh
signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa
Timur. Pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap
permintaan tenaga kerja Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Permintaan tenaga kerja
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap upah Kabupaten/Kota di Jawa Timur.
Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi
Jawa Timur guna meningkatkan investasi dan IPM dalam upaya meningkatkan
pertumbuhan ekonomi dan permintaan tenaga kerja serta upah
Studies on the susceptibility of ostriches (Struthio camelus) to the Indonesian velogenic strain of Newcastle disease virus
Susceptibility of ostriches (Struthio camelus) to the Indonesian velogenic strain of Newcastle disease virus (NDV) was evaluated by artificial infection . Twelve - 5 to 6 week old ostriches were divided into 3 groups each containing 4 birds . The first group was inoculated through respiratory system by dropping directly the virus solution into the nostrils, while the second group was inoculated through digestive system by dropping directly the virus solution into the oesophagus, with the dose of infection 106ELDSo (50%-embryo lethal dose) per bird . Meanwhile, the third group was treated as uninfected control . All infected birds developed antibody responses, but only two inoculated birds from the first group and two inoculated birds from the second group developed clinical signs of Newcastle disease (ND), with no specific pathological alterations . Infected birds, either sicks or healthy, excreted the challenge viruses through the respiratory system and still be detected up to the end of this experiment, ie . 15 days post-inoculation . The challenge viruses can be re-isolated from the brain, trachea, lungs, heart, liver, spleen, kidneys, small intestine, cecal-tonsil, and proventriculus of the infected birds . This study concludes that: (1) the ostriches are susceptible to the infection of the Indonesian velogenic strain ofNDV; (2) all infected birds developed immune responses, but only half of them develops el jtigi aj i disease ; (3) the infected birds excreted the challenge viruses for a considerable long time which may play role as the Mginiseti.ce ofinfectron the other healthy ostriches ; and (4) the challenge viruses can be re-isolated from various organs of the birds . . Keywords : Newcastle disease vir4, 9strich, immune response, artificial infectio
Pathological and biochemical changes in intoxication of mindi (Melia azedarach) leaf
The purpose of this study was to investigate pathological and biochemical changes in intoxication of mindi leaf (Melia azedarach) on skeletal muscle and myocardial tissues . Fifty two male Wistar rats weighing 140 g to 240 g were intoxicated in 20%; 25% and 40% diet of mindi leaf ad libitwn for 25 days . Clinical signs did not appear the intoxication of mindi leaf. Specific pathological changes were not found macroscopically except cachexia and paleness . Skeletal muscle lesions on the other hand, were consistently noted microscopically . There were degeneration, necrosis and fragmentation of muscle fibres ; enlargement of nuclei ; fibrosis; oedema and hyalination . The hyalination was prominent and appeared to be more. progressive two weeks after dosing . Following the skeletal muscle lesions, myocardial showed degeneration, necrosis and fragmentation of fibres ; enlargement of nuclei and hypercellularity . Regeneration of skeletal muscle developed on day-5 after the substitution of mindi diet by normal diet indicated by disappearing of hyalin tissues . But, myocardial appeared to be regenerated two days after the substitution of diet . Enzymatic activities of alanine aminotransferase (ALAI) and aspartate aminotransferase (ASAT) were not affected. Both enzymes in treated animals were lower than the control . The substitution of diet showed an increased of enzymatic activities during the first two weeks of feeding then reduced at the subsequent weeks . However, these enzymes increased on day-3 after substitution and appeared to maximum followed by a reduction of enzymatic activities in week-4 . On the other hand, creatinine phosphokinase (CPK) was affected in which higher level was noted in treated groups than control . Substitution of diet has led to the reduction of cpc level on day-2 and appeared to reach the same level as in control group on day-21 . The control group was not affected either clinically, pathologically or biochemically . It remained normal throughout the experimental period
The Development of Japanese Encephalitis in Indonesia
Japanese encephalitis (JE) is a zoonotic viral disease which causes encephalitis in children (5-9 years old) . The disease is transmitted by mosquitoes. The presence of JE virus, vector and reservoir host in Indonesia, will increase the concern of the possibility of JE outbreak in Indonesia. JE infection in human was reported by clinical and serological findings. Recently, JE case in Bali was declared as hyperendemic (usually sporadic) . In animals, JE infection has been confirmed by serology and viral isolation, while JE vector had been found in different species of mosquitoes by successful viral isolation from those mosquitoes. The prevention and control of JE are conducted by socialization about JE to the society, by cutting the JE transmission cycle (virus, vector and host), including pig farm relocation . The development of regional laboratories (facilities and human resources) to diagnose JE and the establishment BSL of 3 laboratory in the central laboratory institute to isolate the JE virus and to conduct further JE research on the role of animal in transmitting JE to human, must be conducted . Key words : Japanese encephalitis, epidemiology, diagnose, animals, huma
