196,468 research outputs found

    ISLAMISASI DI KESULTANAN BARUS PADA TAHUN 1292 M

    No full text
    Kota Barus adalah kota di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, dan dijuluki dengan kota Emporium yaitu pusat perdagnagan pada abad 1-17 M, dan disebut juga dengan Fansur. Barus terkenal dengan dengan perdagangan kemenyan dan kapur barus sehingga hal tersebut merupakan salah satu terkenalnya kota Barus, mulai dari proses masuknya Islam di Barus yang dilakukan secara berdagang kemenyan dan kapur barus dapat berkembang.adapun permasalahan yang diambil dalam penelitian ini adalah 1) Faktor apa saja yang melatar belakangi masuknya Islam di Barus, 2) Bagaimana proses Islamisasi di Kesultanan Barus sehingga penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui dan mengkaji faktor-faktor yang melatar belakangi masuknya Islam di Kesultanan Barus dan untuk mengkaji Proses Islamisasi. Barus adalah kota yang dulunya berbentuk kesultanan dan digunakan sebagai pusat perdagangan yang setrategis karena memiliki letak geografis yang mudah dijangkau serta penghasil kemenyan dan kapur barus, adapun media yang yang mempermudah masuknya Islam di Kesultanan Barus yaitu Pendidikan, perkawinan, Perdagangan dan Tasawuf

    ISLAMISASI DI KESULTANAN BARUS PADA TAHUN 1292 M

    No full text
    Islamisasi di Kesultanan Barus Pada Tahun 1292 M; Festi Riyantini; 090210302067; 2009; LVII halaman; Program Studi Pendidikan Sejarah, Jurusan Pendidikan Ilmu Sosial, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember. Kota Barus adalah sebuah kota di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Indonesia, kota Barus sebagai kota Emporium dan pusat peradaban pada abad 1-17 M, dan disebut juga dengan Fansur. Barus terkenal dengan perdagangan kemenyan dan kapur barus sehingga hal tersebut merupakan salah satu faktor terkenalnya kota Barus, mulai dari proses masuknya Islam yang dilakukan dengan cara berdagang bahkan menikahi wanita yang mempunyai kedudukan yang cukup tinggi di kota Barus sehingga proses masuknya Islam di Barus berkembang secara damai. Permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) faktor apa saja yang melatar belakangi masuknya Islam di Barus, (2) bagaimana proses Islamisasi di Barus. Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui dan mengkaji faktor-faktor yang melatar belakangi masuknya Islam di Barus, (2) untuk mengetahui dan mengkaji proses Islamisasi di Barus. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah dengan langkah-langkah heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Penulis juga menggunakan pendekatan sosiologi agama. berdasarkan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa (1) kota Barus adalah kota yang dulunya berbentuk Kesultanan dengan faktor ekonomi, pendidikan, perkawinan, perdagangan dan tasawuf Islam dapat berkembang di seluruh pelosok Barus maka hal tersebut menjadi awal perubahan kota Barus yang dulunya mayoritas tidak beragama Islam, cara yang dilakukan oleh para saudagar yaitu dengan cara berdagang diiringi dengan khotbah yang sederhana, sikap yang ramah tamah, sopan dan rendah hati sehingga hal tersebut mengundang simpati oleh para pembeli terutama masyarakat Barus yang terkenal dengan kapur barus dan kemenyan namun hal tersebut tidak semata-mata untuk mencari perempuan tapi para saudagar memiliki tujuan yang sangat mulia yaitu menyebarkan agama Islam perkawinan yang dilakukan para pedagang yang menikahi para wanita yang mempunyai setatus yang cukup penting kemudian faktor tasawuf dimana pada waktu Jalur tasawuf yaitu proses Islamisasi dengan mengajarknan teosofi dengan mengakomodir nilai-nilai budaya bahkan ajaran agama yang ada yaitu agama Hindu ke dalam ajaran Islam, terlebih para ahli tasawuf dikondifikasikan dengan nilai-nilai Islam sehingga mudah dimengerti dan diterima maka faktor tersebut yang sangat mempengaruhi proses Islamisasi di kota Barus. Saran yang dapat direkomendasikan adalah kota Barus dapat dijadikan sebagai pengetahuan pendidikan tentang proses Islamisasi di kota Barus kemudian dapat mengetahui bagaimana proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Barus serta dapat memperkaya khasanah kajian Sejarah Sosial

    Jejak-Jejak Persia di Barus

    No full text
    Abstract. Traces of Persian Culture at Barrus. From the middle of the first millenium C.E., or even before, Barus has been known as a trading mart for camphor and gold.Archaeological researches conducted in Barus from 1995 until 2005, as part of the cooperation program between The National Research and Development Centre of Archaeology, Indonesia and École française d'Extrême-Orient (EFEO), highlight the ancient relation between Persia and the Indonesia archipelago.A number of artefacts coming for Persia, made of stone and glass, as well as pottery, were collected during the excavations of the Lobu Tua site (mid-9th c.-end of the 11th c). Although analyses of the finds collected during the excavations at the Bukit Hasang site ( 12th c- beg. of the 16th c.) arenot completed yet, it is clear that at that time Barus experienced a great decline in the use of objects made of permanent material coming from the Middle East. But two inscribed tombstones, dating to the end of the 14th c. and to beginning of the 15th c, using Persian language or grammar prove that relation with Persia were not completely severed.Abstrak. Barus terkenal dari Asia Barat sampai Cina sebagai tempat perdagangan kuno untuk kamper dan emas sejak paling tidak pertengahan milenium pertama Masehi. Penelitian arkeologi yang telah dijalankan dari tahun 1995 hingga tahun 2005 di Barus, dalam rangka kerjasama Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional dengan École française d'Extrême-Orient (EFEO), menunjukkan hubungan yang berlangsung lama antara Persia dan Nusantara.Ekskavasi di situs Lobu Tua khususnya menghasilkan sejumlah artefak asal Persia dari batu dan kaca, serta sejumlah pecahan tembikar yang dipakai di Barus antara pertengahan abad ke-9 M dan akhir abad ke-I 1. Walaupun analisis mengenai hasil penggalian di situs Bukit Hasang (abad ke-12 hingga awal abad ke-16) belum selesai, sudah jelas bahwa pemakaian benda-benda permanen asal wilayah Timur Tengah pada umumnya menurun drastis di situs tersebut dibandingkan dengan Lobu Tua. Tetapi dua batu nisan dari akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, yang bertuliskan bahasa Persia atau menggunakan tata bahasa Persia, merupakan bukti bahwa hubungan dengan Persia tidak putus sama sekali

    ISLAMISASI DI SUMATERA UTARA: Studi Tentang Batu Nisan di Kota Rantang dan Barus

    No full text
    Abstrak: Manakala membicarakan tentang proses islamisasi di Indonesia, para ahli akan fokus pada pembahasan tentang Aceh. Pada hal di Sumatera Utara, khususnya di sekitar kota Medan dan Barus banyak  dijumpai situs makam kuno yang membuktikan agama Islam sudah lama bertapak di daerah ini. Dengan menganalisis tipologi dan kronologi nisan Aceh dan inskripsi yang terdapat pada batu nisan di Kota Rantang dan Barus, Sumatera Utara diketahui bahwa proses islamisasi di Sumatera Utara sudah terjadi sejak abad ke-13 M. Proses islamisasi itu akhirnya membentuk sebuah komunitas politik bercorak Islam pada abad ke-13 M yakni munculnya Kerajaan Haru di Kota Rantang, Hamparan Perak.Abstract: Islamization in North Sumatra: A Study of Gravestone in Rantang and Barus Cities. When talking about the process of islamization in Indonesia, many an expert will focus on discussing Aceh. Where as in North Sumatra, especially around the city of Medan and Barus many ancient gravestones found that proves the Islamic religion has long foothold in this area. By analyzing the typology and chronology of Aceh tombstones and inscriptions found in gravestones in the cities of Rantang and Barus, North Sumatra Province is known that the process of islamization in North Sumatra have occurred since the 13th century AD. The process of islamization was eventually formed a political community of Islam in the design of the 13th century AD ie the emergence of the Kingdom of Haru in the Kota Rantang, Hamparan Perak.Kata Kunci: Islamisasi, tipologi, batu nisan, Kota Rantang, Barus, Kerajaan Ar

    ANALISIS ABRASI DAN AKRESI PERAIRAN PANTAI BARUS TAPANULI TENGAH DENGAN MODEL CEDAS 2.0

    No full text
    Barus is an area where most of the people are fishermen, this is because Barus is an area located on the coast. The existing condition shows the shoreline on the east side of the seawall building, the condition of the shoreline is experiencing abrasion resulting in the retreat of the coastline and almost reaches the fisherman's flat building area, this is due to the port building in the form of a massive trester jutting into the sea resulting in sediment supply to the retained flat towers and the coastline has declined.To maintain the stability of the coastline, it is necessary to make an effort to control the damage to water in this area. The shoreline model is a numerical forecast model based on the sediment continuity equation and the sediment transport rate equation along the coast. Sediment transport rates along the coast are a function of the variation in height and direction of waves along the coast formed by the effects of refraction and diffraction. The results of the shoreline change model with the protection of the fisherman's flat area from waves by building sea walls is the east side of the fisherman's towers abrasion ± 7 m and sedimentation ± 5 m, the front area of the fisherman's towers does not occur sedimentation or abrasion, the western side of the fisherman's towers does not sedimentation and abrasion occurred, the east side of Barus Jetty did not occur abrasion or sedimentation, the area of Barus Jetty occurred ± 20 m sedimentation, and the west side of Barus Jetty occurred sedimentation ± 9 m. These results indicate that for handling conditions by making a seawall in front of the flat area shows that the location is safe from scouring of wave

    Kearifan tempatan mengenai kapur barus (Cinnamomum camphora) menurut perspektif islam dan budaya masyarakat Melayu abad ke 19M

    No full text
    Pokok kapur barus (Cinnamomum Camphora) telah diperbahaskan dalam kajian akademik masa kini berkait dengan manfaat dan khasiatnya daripada pelbagai aspek kehidupan. Uniknya, pokok kapur barus ini tidak hanya dibicarakan mengenainya desawarsa ini, bahkan telah direkodkan sebagai salah satu komoditi perdagangan utama sehingga menjadi tunjang peristiwa dan tolak tarik di dalam proses perkembangan Islam di awal abad ke 14M di Nusantara. Kajian ini berusaha untuk mencapai tiga objektif utama, iaitu i) Menelusuri perbahasan tentang kapur barus menurut perspektif Al-Quran dan Sunah serta hubung kait kapur barus dengan masyarakat Nusantara, ii) Mengkaji keutamaan kapur barus berdasarkan budaya kearifan tempatan masyarakat Melayu sebagaimana dirakamkan di dalam kitab perubatan Melayu dan iii) Menganalisa manfaat kapur barus (Cinnamomum Camphora) menurut kajian saintifik. Untuk mencapai ketiga-tiga obejktif tersebut, penulis mengeluarkan data daripada ayat-ayat Al-Quran dan hadith-hadith yang berkaitan dengan kapur barus. Seterusnya, kearifan tempatan berkaitan penggunaan kapur barus dijana daripada manuskrip perubatan Melayu melalui kajian kualitatif. Kesemua sumber ini dianalisis melalui pendekatan induktif secara bersepadu untuk menzahirkan kefahaman yang lebih komprehensif. Hasil kajian mendapati bahawa kapur barus yang disebatikan dengan herba-herba tempatan dalam perubatan sudah lama diamalkan oleh masyarakat Melayu khususnya pada abad ke-19 M dan ini selari dengan amalan Islam yang merekodkan khasiat Kapur barus sepertimana dalam Al-Quran dan hadith

    PERANCANGAN BUKU PANDUAN WISATA SEJARAH BARUS, PANTAI BARAT SUMATERA UTARA

    No full text
    Barus, pantai barat Sumatera Utara merupakan tempat bersejarah di Indonesia, kota ini merupakan tempat awalnya masuk Agama Islam di Indonesia pada abad ke 7 M yang ditandai dengan adanya makam-makam ulama dan benda-benda kuno lainnya. Sayangnya, peninggalan-peninggalan sejarah tersebut masih kurang diketahui oleh masyarakat dikarenakan minimnya informasi. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah buku panduan wisata yang memuat unsur fotografi, dan infografis untuk menginformasikan makam-makam para ulama dan benda-benda kuno lainnya yang ditemukan di Barus. Perancangan buku panduan ini dilakukan dengan metode wawancara, kuesioner, studi pustaka, observasi, dan dokumentasi untuk menentukan bagaimana buku pariwisata yang menarik dan informatif. Hasil akhir yang ingin dicapai dalam perancangan buku panduan ini adalah buku panduan yang memuat fotografi, infografis, serta memuat ornamen untuk dijadikan sebagai penghias pada tiap halaman. Ornamen tersebut merupakan kombinasi dari tiga unsur yaitu, hiasan batu nisan, bentuk batu nisan, dan ornamen batik dari Tapanuli Selatan. Dengan demikian buku panduan wisata dapat memberikan informasi yang menarik dan informatif, serta dapat menjadi acuan wisata sekaligus menambah pengetahuan masyarakat tentang wisata sejarah yang ada di Barus. Kata Kunci : Buku Panduan, Wisata Sejarah, Baru

    Rekonstruksi Nilai-nilai Pendidikan dan Peradaban Islam di Titik Nol Barus

    No full text
    Barus adalah Kota Bertuah yang menyimpan sejarah, dahulunya kota rempah tujuan Musafir Jazirah dan menjadi tumpuan tijarah (dagang) rempah laksana kota berkah melimpah. Artikel ini bertujuan untuk menganalisa rekonstruksi nilai-nilai pendidikan dan peradaban Islam di titik nol Barus. Kajian ini menggunakan penelitian histori (sejarah) dengan pendekatan bibliografi. Adapun teknik penelitian menggunakan observasi (makam papan tinggi Barus, makam mahligai, tugu titik nol peradaban Islam), wawancara kepada informan (Dr. Abdusima Nasution, M.A., Pendeta Sahat Simatupang dan Darmansyah Nasution). Hasil penelitian ini menemukan bahwa Barus ialah salah satu tempat penyebaran awal mulanya Islam di Indonesia, dengan dibuktikan adanya argumentasi pada masa klasik mengenai penyebaran Islam tersebut yang diperkuat digunakan dengan adanya ahli Arkeologis dari dalam maupun luar negeri. Dalam metode klasik yang digunakan dalam menentukan keabsahan penyebaran Islam tersebut ialah Sejarah yang berasal dari bercerita mulut ke mulut (Oral history), sejarah yang berasal dari tulisan ilmiah (Literatur history), dan kombinasi dari kedua metode itu, yakni kombinasi dari keduanya (Sintesis history). Selain itu. mengenai rekonstruksi peradaban nilai-nilai di Barus, dibuktikan adanya peninggalan monumen bersejarah seperti: Makam Papan Tinggi dan Makam Mahligai

    Tanggung Jawab Wali Mewakili Anak di Bawah Umur dalam Penjualan Harta Warisan Menurut Hukum Islam (Studi Penetapan Nomor 0009/pdt.p/2014/pa.pas)

    No full text
    Seorang anak yang orang tuanya sudah meninggal dunia maka pemeliharaan tersebut akan diselenggarakan oleh seorang wali, terutama dalam hal ini adalah anak yang belum dewasa. Berdasarkan Penetapan Pengadilan nomor 0009/Pdt.P/2014/PA.Pas bahwa seorang ibu mendapat penetapan sebagai wali anak di bawah umur untuk menjual harta anak di bawah umur tersebut. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian tanggung jawab wali terhadap anak di bawah umur menurut Hukum Islam, alasan apa yang membolehkan wali menjual harta warisan anak di bawah umur menurut Hukum Islam, dan perlindungan hukum terhadap anak di bawah umur yang walinya melalaikan tanggung jawab menurut hukum islam dalam pelaksanaan penetapan Nomor 0009/Pdt.P/2014/PA.Pas. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian yuridis normatif yang bersifat deskriptif analitis, penelitian hukum normatif menggunakan data sekunder sebagai data utama dengan menggunakan tekhnik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara studi kepustakaan dan wawancara sebagai data pendukung, serta menggunakan metode analisis data kualitatif, analisis data ini dimaksudkan berdasarkan gambaran, fakta yang diperoleh akan dilakukan analisis untuk menjawab permasalahan. Hasil penelitian, tanggung jawab wali terhadap si anak ialah mengurus harta benda si anak yang bertujuan untuk hal yang bermanfaat dan memberi kebaikan terhadap anak tersebut. Alasan yang membolehkan wali menjual harta warisan anak di bawah umur menurut hukum Islam untuk perlindungan terhadap anak hanya diperbolehkan dengan alasan kepentingan dan kesejahteraan si anak atau merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dihindarinya. Berdasarkan penetapan tersebut Seorang ibu yang telah mendapatkan penetapan wali untuk menjual harta benda anaknya yang di bawah umur untuk memberikan keadilan terhadap anak dalam kepentingan masa depan si anak. Penetapan memberikan pertanggungjawaban tersebut kepada si ibu jika terjadi kelalaian pengurusuan harta benda si anak yang akan terjadi dalam pelaksanaan pengurusan si anak yang akan mengganti kerugian yang timbul sebagai akibat kesalahan atau kelalaiannya. Penelitian, menyarankan pemerintah membuat mekanisme cara pencatatan harta atau pembukuan yang mudah dapat dilakukan setiap bulan sekali ataupun seminggu sekali yang dapat mudah pemerintah dalam mengawasi harta benda si anak sehingga bisa mengantisipasi dan memberikan perlindungan terhadap wali menyalahgunakan harta anak atau lalai. pengaturan pengawasan pemerintah terhadap alasan dijualnya harta benda anak di bawah umur. penetapan wali dalam pengadilan harus memperhatikan betul-betul alasan menjual harta warisan dan juga sebaiknya penetapan wali juga sekaligus diberikan pelaksaan cara menjual harta warisan agar dapat melindungi dan memberikan keadilan terhadap anakAfter the parents of a child died, he is raised by his guardian, especially when he is still a minor. According to the Court Ruling No. 0009/Pdt.P/2014/PA.Pas, a mother can be selectedas the guardian for the minor to sell his property. The problems discussed in the research was the guardian’s responsibility for the minor according to Islamic Laws, and the legal protection for the minor whose guardian neglects his responsibility according to Islamic Laws in the implementation of the Ruling No. 0009/Pdt.P/2014/PA.Pas. This research applies normative juridical research with descriptive analysis. This is a normative legal research that employs secondary data as the main data. The data are taken through library research and interview for supporting the data. Qualitative method is used for the data analysis to answer the problems. The result of the research is that the guardian’s responsibility for the minor is to manage his property for his benefits and sake. The guardian is allowed to sell the minor’s inherited property according to Islamic Laws only for the minor’s interest and welfare or a reality that cannot be avoided. According to the Ruling, a mother who has been determined to be the minor’s guardian to sell his property has to give justice to the minor for the sake of his future. The ruling that puts the responsibility to the mother states if she neglects the management of the minor’s inherited property, she shall pay the compensation for the loss endured due to her mistake or negligence. It is suggested that the government create a mechanism of property recording or bookkeeping that is easy to be done monthly or weekly so that it will facilitate the government to monitor the minor’s property and the government can anticipate and provide some protections for him from a guardian that misuses his property or is ignorant. Government’s monitoring regulates the reason of the minor’s property sale. The guardian determination in the court has to carefully notice the reason of the inherited property sale. It is also suggested that the guardian determination be accompanied by the procedure of the minor’s property sale so that the minor can be protected and provided justice.117 HalamanTesis Magiste

    Comparative study of X-ray computed tomography and conventional X-ray methods in the diagnosis of swimbladder infection of eel caused by Anguillicola crassus

    No full text
    To date, swimbladder lesions due to Anguillicola crassus infection of the European eel Anguilla anguilla have so far been studied only by conventional X-ray methods. This is the first study to report the use of computerised tomography (CT) for studying lesions induced by anguillicolosis. Of 50 eels caught by electrofishery from Lake Balaton, Hungary, in autumn 2002 and pre-selected by a conventional X-ray method, 22 specimens were examined with a Siemens Somatom Plus S40 spiral CT scanner. Tomograms, radiographs and photographs of 5 of these, showing anguillicolosis-induced swimbladder lesions of varying severity, are presented. Computerised tomograms provide information on the inner structure, air content and wall thickness of the swimbladder as well as on the number of worms it contains. When the swimbladder is not severely affected or not completely filled with worms, computerised tomography provides adequate data on the shape of the swimbladder, thickness of the swimbladder wall and the location of worms in the lumen. However, in more severe cases, i.e. when the swimbladder is tightly packed with worms or contains no air as a result of wallthickening, this method fails to determine the number and location of helminths or the thickness of the swimbladder wall
    corecore