13 research outputs found

    Status Hukum Khitan Perempuan (Perdebatan Pandangan Ulama dan Permenkes RI No.1636/MENKES/PER/XI/2010)

    No full text
    Khitan bagi laki-laki adalah wajib. Hal ini berbeda dengan khitan perempuan. Permasalahan ini menuai kontroversi baik terkait praktik dan status hukum. Polemik besar bergulir pasca Majelis Ulama Indonesia (MUI) berfatwa No. 9A tahun 2008. Legal himbauan ini mengatur pelarangan khitan terhadap perempuan. Pelarangan juga dimaklumatkan WHO (World Health Organitation), badan kesehatan dunia ini mengungkapkan dampak negatif pada praktik khitan perempuan. Data 140 juta perempuan mengalami pendarahan, gangguan buang air kecil, kista, dan kemandulan akibat berkhitan. LSM kemudian memvonis khitan perempuan berbahaya. Larangan tanpa tegas pada khitan perempuan juga diterbitkan kementerian Kesehatan yang membatalkan Permenkes Nomor 1636/MENKES/PER/XI/2010 dengan Permenkes Nomor 6 Tahun 2014. Hal ini menjadikan aturan khitan perempuan kurang jelas dimasyarakat. Dalam status Hukum Positif dan agama,tidak ada pelarangan maupun penganjuran secara mutlak. Namun demikian, khitan perempuan merupakan tradisi yangdipercaya sebagai penyempurna agama dalamajaran pada prilaku kesopanan. Di Indonesia, khitan perempuan dirayakan khusus dan sebagai argumen pelestarian adat dan budaya.[Circumcision for men is mandatory in Islamic Syari’ah. It is different from female circumcision. The issue is reaping controversy both practice and legal status. Public polemics is one reason in the Indonesian Ulema Council (MUI) fatwa No. 9A of 2008. The law stipulates the prohibition of female circumcision. The prohibition is announced by the WHO (World Health Organization), the world health agency that reveals negative things in female circumcision. Data on 140 million women experienced bleeding, urination problems, cysts, and infertility due to circumcision. NGOs is the next convicted female circumcision as a dangerous practice. Health Ministry also published an unequivocal prohibition on female circumcision, which canceled the Ministry rule (Permenkes) No. 1636 / MENKES / PER / XI / 2010 with Permenkes No. 6/2014. It makes the concept of rules for female circumcision less clear in society. In the status of positive law and religion, there is no absolute prohibition or recommendation. However, female circumcision is a culture believed as a religious accomplishment to make polite women. In Indonesia, female circumcision is special celebrations and argument for the preservation of tradition and culture.]

    PERKAWINAN MASYARAKAT DIASPORA (STUDI MASYARAKAT DIASPORA BANJARAN, GRESIKAN DAN MADURAN DI KOTA BLITAR)

    No full text
    Latar Belakang penelitian ini adalah melihat masyarakat diaspora di Kota Blitar yaitu Banjaran (masyarakat asli Banjarmasin), Gresikan (masyarakat asli Gresik) dan Maduran (masyarakat asli Madura). Secara kependudukan masyarakat ini merupakan masyarakat Kota Blitar, hal ini terbukti dengan KTP bertempat tinggal di Kota Blitar. Namun masyarakat diaspora hidup secara berkelompok dengan masyarakat asalnya dan memberikan nama sesuai keberasalannya sehingga masih ada beberapa budaya dan bahasa asal yang digunakan dalam kehidupan harian. Kemudian terkait perkawinan, masyarakat diaspora di Kota Blitar mengikuti bentuk perkawinan endogami yaitu menikah dengan satu kelompok diaspora atau daerah asalnya dengan berbagai pertimbangan masyarakat diaspora. Rumusan masalah penelitian ini adalah Bagaimana corak perkawinan masyarakat kelompok diaspora di Kota Blitar dan Mengapa masyarakat diaspora mempertahankan perkawinan satu kelompok diaspora di Kota Blitar. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan. Pengumpulan data dilakukan secara kualitatif dengan mengadakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Data dan informasi bersumber dari beberapa masyarakat diaspora di Kota Blitar. Analisis penelitian menggunakan teori sosiologis tentang solidaritas mekanik dari Emile Durkheim dan Teori ‘Ashabiyah dari Ibnu Khaldun. Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah Kelompok Diaspora Kota Blitar menyatakan bahwa tingkatan pertahanan terhadap perkawinan kelompok dispora adalah Banjaran, kedua Gresikan dan terakhir Maduran. Banjaran yang berasal dari Banjarmasin dengan jumlah 255 Keluarga. Perkawinan sesama kelompok diaspora dipertahankan dengan meminimalisir pendidikan jauh dan memberikan rekomendasi jodoh. Perkawinan dengan non diaspora tidak dilarang selama mengikuti tradisi perkawinan, adat masyarakat dan menggunakan bahasa Banjaran. Gresikan yang berasal dari Gresik dengan jumlah keluarga menikah dengan non diaspora tidak dilarang , tapi harus mengikuti Adat Masyarakat serta bahasa namun adat perkawinan tidak menjadi beban khusus. Maduran yang berasal dari Madura dengan 600 Keluarga, menikah dengan non diaspora tidak dilarang namun harus tetap mengikuti adat dan bahasa Madura. Kata Kunci: Perkawinan , Masyarakat, dan Diaspor

    EFEKTIVITAS PERWALI NIKAH GRATIS TERHADAP PENCATATAN PERKAWINAN DI KOTA BLITAR(STUDI ATAS PERWALI NOMOR 77 TAHUN 2014 TENTANG FASILITASI BIAYA PERKAWINAN)

    No full text
    Latar Belakang penelitian ini adalah upaya Pemerintah Kota Blitar menerbitkan Perwali Nomor 77 Tahun 2014 tentang Fasilitasi Biaya Perkawinan Warga Kota Blitar yaitu pendananaan biaya pencatatan perkawinan sebagai daya tarik untuk mencatatkan perkawinan karena berdasarkan penelitian masih ada masyarakat Kota Blitar yang menikah siri disebabkan faktor ekonomi. Pokok masalahnya meliputi latar belakang, pencatatan perkawinan di Kota Blitar setelah penerbitan perwali serta efekvitas perwali tentang fasilitasi biaya perkawinan. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan. Pengumpulan data dilakukan secara kualitatif dengan mengadakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Data dan informasi bersumber dari Staff Pemerintah Kota bagian pelayanan masyarakat ,seluruh Kepala Kantor Urusan Agama, Dua Modin dan P3N, Dua Penyuluh Agama PNS dan honorer serta Enam masyarakat penerima biaya fasilitasi Nikah Gratis di Kota Blitar. Pendekatan penelitian menggunakan sosiologi hukum yaitu mengacu pada Perwali Nomor 77 Tahun 2014 Tentang Fasilitasi Biaya Perkawinan dan bagaimana efektivitas Perwali Nikah Gratis terhadap Pencatatan Perkawinan di Kota Blitar diketahui dengan menyinkronkan hasil penelitian terhadap teori efektivitas dan sosiologi hukum. Kesimpulan yang didapat dari penelitia ini adalah (1)Tujuan penerbitan Perwali terhadap pencatatan perkawinan di Kota Blitar yaitu: Meningkatkan pencatatan perkawinan, Memberikan kenyamanan masyarakat dengan aplikasi APBD Daerah dan Meringankan biaya perkawinan masyarakat. (2) Pencatatan perkawinan di Kota Blitar setelah penerbitan perwali mengalami peningkatan yang sangat pesat ditahun pertama yaitu hampir 100 persen sedangkan tahun berikutnya berjalan fluktuaatif. Pemerintah Kota juga mengangkat Modin dan P3N sebagai pengawas masyarakat yang juga berkewajiban menyosialisasikan Perwali bersama Penyuluh agama. (3) Perwali Nikah Gratis di Kota Blitar sudah efektif dalam meningkatkan pencatatan perkawinan tetapi lebih fokus pada faktor pembiayaan dan kenyamanan masyarakat. Maka belum mencangkup secara keseluruhan

    Peran Pemerintah Desa dalam Mencegah Perceraian: Perspektif ‘Urf

    No full text
    Fenomena perceraian merupakan isu yang terus meningkat meskipun pernikahan memiliki nilai sakral. Di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, peran pemerintah desa melalui Kepala Desa dan perangkatnya menjadi kunci dalam mencegah perceraian. Upaya preventif ini memanfaatkan budaya mediasi yang telah menjadi tradisi masyarakat setempat, sesuai dengan konsep ‘urf. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana peran pemerintah desa dalam memfasilitasi mediasi rumah tangga yang bermasalah dan mencegah perceraian. Dengan pendekatan kualitatif dan metode penelitian lapangan, data diperoleh dari wawancara dengan pasangan yang mengalami konflik rumah tangga, perangkat desa, dan Kepala Desa. Temuan menunjukkan bahwa budaya mediasi berbasis ‘urf berkontribusi signifikan dalam mencegah perceraian dan membangun keharmonisan keluarga. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya peran pemerintah desa sebagai mediator dalam penguatan ketahanan keluarga melalui pendekatan berbasis nilai lokal. Fenomena perceraian merupakan isu yang terus meningkat meskipun pernikahan memiliki nilai sakral. Di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, peran pemerintah desa melalui Kepala Desa dan perangkatnya menjadi kunci dalam mencegah perceraian. Upaya preventif ini memanfaatkan budaya mediasi yang telah menjadi tradisi masyarakat setempat, sesuai dengan konsep ‘urf. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana peran pemerintah desa dalam memfasilitasi mediasi rumah tangga yang bermasalah dan mencegah perceraian. Dengan pendekatan kualitatif dan metode penelitian lapangan, data diperoleh dari wawancara dengan pasangan yang mengalami konflik rumah tangga, perangkat desa, dan Kepala Desa. Temuan menunjukkan bahwa budaya mediasi berbasis ‘urf berkontribusi signifikan dalam mencegah perceraian dan membangun keharmonisan keluarga. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya peran pemerintah desa sebagai mediator dalam penguatan ketahanan keluarga melalui pendekatan berbasis nilai lokal.&nbsp

    Legal Reconstruction of Marriage Dispensations in Indonesia through a Theo-Juridical Approach in the Perspective of the Qur\u27an

    No full text
    The Legal Reconstruction of Marriage Dispensation in Indonesia through a Theo-Juridical Approach in the Perspective of the Qur’an aims to re-examine the practice of underage marriage within the context of Islamic law, particularly from the perspective of the Qur’an, and to recommend a form of legal reconstruction within the Indonesian legal system. Child marriage remains a persistent legal and social phenomenon across various regions in Indonesia, despite the revision of the minimum marriageable age through Law Number 16 of 2019. A legal loophole in the form of marriage dispensation, as stated in Article 7 paragraph (2), creates room for practices that contradict the principles of child protection. This study employs a normative-juridical method and thematic (maudhū‘i) interpretation of Qur’anic verses related to marriage, family responsibility, and child protection. The findings indicate that the Qur’an emphasizes not only biological readiness but also intellectual maturity (rushd) as an ideal requirement for marriage. The practice of marriage dispensation is considered inconsistent with maqāṣid al-sharī‘ah, particularly in the aspects of protecting life, intellect, lineage, and the dignity of children. This paper recommends legal reconstruction that includes statutory reform, strengthening of law enforcement structures, and transformation of legal culture in society based on Qur’anic values

    Implementasi Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe STAD dalam Pembelajaran Insya’

    No full text
    MTs SA Al-Hidayah is on of schools with islamic boarding that apllied the language environment. One class of extracurriculer learning is insha’class. Insha’ is a kind of writing learning in Arabic Skills. This MTs was established in 2011 which was founded by AIBEP through the Indonesian Ministry of Religion. For eight years for eight years the school has grown rapidly. since five years ago the environment of Arabic and English was applied. one of them is the Arabic writing skills class. that is to train students to have writing skills from the basic level, at least to the middle level. This is to motivate students to enthusiastically read Arabic texts so they can hone their writing skills. The author conducted qualitative research because he saw the ability of students in MTs SA Al-Hidayah who could be classified as active Arabic-speaking students, both toeori (language rules) and practice (reading, oral and written communication). Insha teachers in extracurricular activities use several learning methods to improve students' writing motivation and ability. one of them is a cooperative leaning type STAD learning model. in this learning model the teacher is required to be more active in the evaluation of learning, while in the learning process students have more activity than the teacher. The advantages of this method is the enthusiasm of students in learning, and spontaneously they do small discussions before writing or answering questions. so, they will have a lot of learning experience and knowledge sharing with each other

    Zikir sebagai sarana Self-Healing: Studi penafsiran Quraish Shihab dalam tasir Al-Mishbah

    No full text
    ABSTRAK Banyaknya angka stress yang dialami masyarakat Indonesia penulis melihat perlu adanya metode healing atau penyembuhan yang dapat dilakukan secara mandiri agar tidak sampai menimbulkan dampak yang serius. Healing masih banyak diartikan hanya sebatas jalan-jalan, kulineran dan semacamnya. Dalam Islam telah dijelaskan beberapa cara healing yang dapat diterapkan diantaranya ikhla<s, sabar, zikir, tobat, berpikir positif dan salat. Penelitian ini akan membahas lebih lanjut bagaimana zikir menurut pandangan Quraish Shihab dalam karya tafsirnya Al-Mishbah. Pada penelitian ini akan fokus pada tiga ayat zikir yang ada dalam Al-Qur’an yaitu pada QS. ar-Ra’d:28, QS. Az-Zumar:22 dan QS. Al-Baqarah:152. Kemudian pada penelitian ini akan dipaparkan bagaimana pengimplementasian zikir agar dapat diterapkan secara efektif sebagai sarana self-healing sesuai dengan penafsiran Quraish Shihab dalam tafsir Al-Mishbah. Untuk menjelaskan penelitian ini lebih dalam, penulis menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research). Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan menggunakan teori studi tokoh. Data primer dari penelitian ini adalah kitab tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab. Adapun data sekunder diambil dari literatur-literatur yang membahas terkait tema dalam penelitian baik berupa buku, kitab, artikel, maupun karya tulis dalam laman internet yang terkait dengan tema penelitian. Penulis mengolah dengan teknik deskriptif-analitis dengan dengan mengolerasikan dan mendeskripsikan data dari hasil penelitian dengan teori-teori yang telah diterapkan. Sebagai hasil dari penelitian ini, Quraish Shihab dalam tafsirnya menjelaskan bahwa zikir dapat mendatangkan ketenangan jiwa, artinya dapat dijadikan sebagai sarana self-healing. Berkaitan dengan penerapannya, tiga ayat tersebut mencakup tiga macam zikir yakni Zikru bil qolb, Zikru bil lisan, dan Zikru bil jawahir. Sedangkan jika dihubungkan dengan self-healing, penafsiran ketiga ayat tersebut memuat beberapa metode yakni metode relaksasi, gratitude (Bersyukur) yaitu dengan mensyukuri segala nikmat Allah yang telah diberikan, mindfulness (kesadaran/melihat hikmah) dengan menyadari bahwa segala permasalahan yang sedang dirasakan merupakan ujian dari Allah dan mengingat Allah bahwa Allah pasti akan memberi kemudahan dan jalan keluar, dan imagery (membayangkan) yaitu berzikir dengan mengingat-ingat kebesaran dan keagungan Allah. ABSTRACT The large number of stress experienced by Indonesian people, the authors see the need for a healing method or healing that can be done independently so as not to have a serious impact. Healing is still widely interpreted as just traveling, culinary and the like. In Islam, several ways of healing have been explained that can be applied, including sincerity, patience, remembrance, repentance, positive thinking and prayer. This research will further discuss how to recite dhikr according to the view of Quraish Shihab in his commentary Al-Mishbah. In this study, we will focus on three verses of remembrance in the Qur'an, namely QS. Ar-Ra'd:28, QS. Az-Zumar: 22 and QS. Al-Baqarah: 152. Then this research will explain how to implement dhikr so that it can be applied effectively as a means of self-healing in accordance with the interpretation of Quraish Shihab in Al-Mishbah's interpretation. To explain this research more deeply, the authors used a type of library research with a qualitative. This study uses a qualitative research approach using the theory of character studies. The primary data of this study is the book of Al-Mishbah commentary by M. Quraish Shihab. The secondary data is taken from the literature that discusses the themes in the research in the form of books, scriptures, articles, or written works on internet pages related to the research theme. The author processes it using a descriptive-analytical technique by correlating and describing the data from the research results with the theories that have been applied. As a result of this research, Quraish Shihab in his commentary explains that dhikr can bring peace of mind, meaning that it can be used as a means of self-healing. With regard to its application, the three verses cover three types of remembrance, namely Zikru bil qolb, Zikru bil lisan, and Zikru bil jawahir. Meanwhile, if it is related to self-healing, the interpretation of the three verses contains several methods, namely the relaxation method, gratitude, namely being grateful for all the blessings God has given, mindfulness (Awareness/Seeing wisdom) by realizing that all the problems that are being felt are a test. from Allah and remembering Allah that Allah will surely provide convenience and a way out, and imagery (Imagine) that is remembrance by remembering the greatness and majesty of Allah. مستخلص البحث نظرًا للعدد الكبير من الحزن الذي يعاني منه الإندونيسيون ، ترى فيه الكاتبة حاجة إلى طريقة شفاء أو علاج يمكن القيام به بشكل مستقل حتى لا يكون له تأثير خطير. لا يزال الشفاء يفسر على نطاق ضيق على أنه مجرد السفر والطعام وما أشبه ذلك. في الإسلام ، تم شرح عدة طرق للشفاء يمكن تطبيقها ، منها الإخلاص والصبر والذكر والتوبة والتفكير الإيجابي والصلاة. يناقش هذا البحث كذلك كيفية قراءة الذكر على مذهب قريش شهاب في شرحه المصباح. سوف نركز على ثلاث آيات للذكر في القرآن ، وهي سورة الرعد: ٢٨ قس. الزمر: ٢٢ قس. البقرة: ١٥٢. ثم يشرح هذا البحث كيفية تطبيق الذكر بحيث يمكن تطبيقه بشكل فعال كوسيلة للشفاء الذاتي وفق تفسير قريش شهاب في تفسير المصباح. لشرح هذا البحث بشكل أعمق ، استخدمت الكاتبة نوعًا من البحث في المكتبات. تستخدم هذه الدراسة نهج البحث النوعي باستخدام نظرية دراسات الشخصية. البيانات الأولية لهذه الدراسة هي كتاب تفسير المصباح لمحمد قريش شهاب. البيانات الثانوية مأخوذة من التي تناقش موضوعات البحث في شكل كتب أو مقالات أو أعمال مكتوبة على صفحات الإنترنت المتعلقة بموضوع البحث. تقوم الكاتبة باستخدام تقنية وصفية تحليلية من خلال ربط ووصف البيانات من نتائج البحث بالنظريات التي تم تطبيقها. نتيجة لهذا البحث ، يوضح قريش شهاب في تعليقه أن الذكر يمكن أن يجلب راحة البال ، بمعنى أنه يمكن استخدامه كوسيلة للشفاء الذاتي. وفيما يتعلق بتطبيقها ، فإن الآيات الثلاث تشمل ثلاثة أنواع من الذكر ، وهي: ذكر بالقلب ، ذكر باللسان ، ذكر بالجواهر. وفي الوقت نفسه ، إذا كان الأمر متعلقًا بالشفاء الذاتي ، فإن تفسير الآيات الثلاث يحتوي على عدة طرق ، وهي طريقة الاسترخاء ، والامتنان ، أي أن تكون ممتنًا لكل النعم التي أعطاها الله ، واليقظة (الوعي / رؤية الحكمة) من خلال إدراك أن الجميع والمشاكل التي نشعر بها هي امتحان من الله وذكر الله أن الله أكيد يريحه ويخرج منه ، وصور تخيل ذكرى بذكر عظمة الله وجلاله

    Implementation of the Tahfidz Quran Program in Developing Islamic Character

    No full text
    The purpose of the study was to examine the implementation of the Tahfidz Qur'an program in developing Islamic character in Masyithoh Sukodadi Kindergarten (TK) Paiton Probolinggo. This type of research is qualitative with a phenomenological approach. The research subjects were teachers, principals and students at Masyithoh Kindergarten. Methods of data collection using interviews, observation and documentation. Data analysis uses the Constant Comparative Analysis model with three processes, namely open coding, axial coding and selective coding. The results of the field research obtained findings of the implementation of the Tahfidz Qur'an program in developing Islamic character in Masyithoh Kindergarten (TK) namely the preparation, planning, and implementation of the program. While the implications of the Qur'an tahfidz program in developing Islamic character in Masyithoh Kindergarten through the achievement of forming 4 characters, namely: religious, disciplined, patient and istiqoma

    The Effectiveness of Timeline Story Poster on Learning Outcames in Islamic Historical Lesson

    No full text
    Islamic historical lessons are often considered boring and uninteresting. This is known by the existence of a significant point of difference between the average score obtained and the minimum average level of achievement. The average score in the Islamic History subject for Class 3 Intensive 2021 students is 2.62, while the minimum score is 4.9. From this data, it was found that only 1% of students reached the minimum limit. Therefore, this research was carried out with the research method used was quantitative experimental type. The population was all Intensive Class 3 students and the sample selection technique was simple random sampling, which took 70 students from Intensive Class 3 B to Intensive Class 3 H, half of whom were students for the control class and 35 students for the experimental class. The analysis uses the normality test, reliability test, and Mann Whitney test. This study shares new findings, namely forms of application and obstacles in understanding Islamic history lessons. In this research it can also be seen that students' understanding and learning outcomes are very minimal. This research recommends the use of Timeline Story Poster-based learning media to improve learning of Islamic history education. Teachers need to develop innovative learning media strategies, while students must actively participate in the learning process and apply their experiences. With the timeline story poster, students can realize their desire to study Islamic history easily and happily. Meanwhile, teachers can use the results of this research as a reference in applying educational methods in the learning process

    GAMBARAN MOTIVASI KERJA PADA KARYAWAN AIRPORT COMPANY

    No full text
    Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat motivasi karyawan pada salah satu perusahaan pengelolaan bandara di Indonesia. Instrumen alat ukur yang digunakan adalah kuesioner motivasi kerja yang diturunkan dari teori motivasi Victor H. Vroom. Kuesioner yang berisi 52 item diisi secara self-report oleh 73 karyawan tetap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 54% karyawan memiliki tingkat motivasi yang moderat. Hasil perhitungan statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan skor motivasi pada laki–laki dan perempuan.  Dimensi yang paling berkontribusi terhadap motivasi kerja karyawan adalah dimensi valence diikuti dengan dimensi expectancy, dan instrumentality. Hal ini menunjukkan bahwa reward menjadi faktor penting dalam membentuk motivasi karyawan. Jenis kelamin, usia, level jabatan, dan tingkat pendidikan tidak memberikan kontribusi terhadap perbedaaan skor motivasi pada setiap kelompok yang menunjukkan bahwa motivasi karyawan tidak dipengaruhi oleh faktor – faktor demografis
    corecore