8 research outputs found
ANALISIS PRODUKTIVITAS PADA DEPARTEMEN WEAVING PT. BEHAESTEX MENGGUNAKAN METODE OBJECTIVE MATRIX DENGAN AHP DAN FMEA
Jika membutuhkan abstrak atau isi jurnal silahkan menghubungi author melalui email [email protected], [email protected], [email protected]
Static Archives Management at the Library and Archives Service of West Kotawaringin Regency, Central Kalimantan Province
Problem Statement: Static archive management is important because it concerns the management of static archives which is the identity and identity of the region, so the author focuses on the problem of static archive management which is due to the suboptimal management of static archives in the Library and Archives Service of West Kotawaringin Regency. Purpose: The purpose of this study is to find out the management of static archives in the Library and Archives Office of West Kotawaringin Regency. Method: This study uses a descriptive qualitative method. Data collection techniques are carried out through observation, interviews, and documentation. The data that has been collected is processed in three stages, namely data reduction, data presentation, and conclusion drawn. Result: The findings obtained by the researcher are that there are obstacles in static archive management. This is shown by 3 (three) indicators of the 2 (two) dimensions of management theory used that are still not optimal, namely planning indicators in the processing of static archives, planning in the maintenance and maintenance of static archives, and the environment. Conclusion: The management of static archives at the Library and Archives Office of West Kotawaringin Regency has been running well despite limitations in several ways. In order to improve the management of static archives, it is recommended to build archive depots far from densely populated areas, submit additional budgets in the APBD, and carry out fumigation for the maintenance of static archives.Keywords: Static Archives; APBD; Archive Depot; Managemen
Implementasi pasal 61 undang-undang nomor 6 tahun 2014 tentang desa (studi fungsi pengawasan BPD desa Takerharjo Solokuro Lamongan)
ABSTRAK:
Perjalanan otonomi desa di Indonesia sudah cukup lama. Setidaknya sejak Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, pemerintah desa memiliki otonomi dalam tata kelola pemerintahan desa. Undang-undang tersebut menegaskan “Desa merupakan suatu kesatuan yang memiliki batasan-batasan wilayah yang berwenang untuk mengatur serta mengurus masyarakat yang berwenang yang berdasarkan asal-usul adat dan istiadat setempat yang telah diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Undang-Undang No 6 Tahun 2014 mengenai otoritas dari otonomi daerah yang nantinya berpengaruh kepada proses musyawarah penggunanaan dana desa maupun sebaliknya. Dalam konteks eksistensi BPD sebagai badan legislatif di desa, otonomi desa memungkinkan BPD dapat berperan untuk mengawasi serta ikut andil dalam proses pembangunan desa yang di sebutkan dalam Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 dengan rinci.
Metode penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian kualitatif dengan pendekatan yuridis empiris atau (law field research).adapun lokasi penelitian dilakukan di desa takerharjo. Yaitu wawancara dengan beberapa warga yang menjadi objek penelitian serta perangkat desa sebagai implementator kebijakan. Sumber data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah data primer, data sekunder dan data tersier, teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara wawancara, dokumentasi, dan studi perpustakaan.
Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh penulis bahwasanya pada desa takerharjo fungsi Badan Permusyawaran Desa di desa takerharjo sebagaimana di atur dalam Undang Undang Nomor 6 Tahun 2014 cukup berjalan efektif sebagai lembaga legislasi adapun dalam hal pengawasan agaknya lembaga BPD di desa takerharjo masih harus berbenah agar menjadi lebih baik di kemudian hari, khusunya dalam hal pengawasan dana desa, hal ini dapat dilihat dengan masih terjadinya ke tidak sesuaian antara angaran dana desa yang telah disepakati oleh BPD dan kepala desa bersama perangkat tidak di jalankan dengan semestinya oleh kepala desa, terlebih hal tersebut mencakup hajat warga banyak dalam pengangunan jalan desa yang semestinya berasal dari dana desa tetepi dalam pengaplikasianya malah di dapat dari iuran warga desa.
ABSTRACT:
The journey of village autonomy in Indonesia has been quite long. At least since Law No. 32 of 2004 on regional governance, village governments have had autonomy in village governance. The law emphasizes that "a village is a unit that has territorial boundaries and is authorized to regulate and administer an authorized community based on the origin of local customs and traditions that have been recognized and respected in the Government system of the Unitary State of the Republic of Indonesia. Law No. 6 of 2014 regarding the authority of regional autonomy which later affects the deliberation process for the use of village funds and vice versa. In the context of the existence of the BPD as a legislative body in the village, village autonomy allows the BPD to play a role in supervising and taking part in the village development process mentioned in Law Number 6 of 2014 in detail.
The research method used in this research is qualitative research with an empirical juridical approach or (law field research). The research location was conducted in the village of Takerharjo. Namely interviews with several residents who were the object of research and village officials as policy implementers. Sources of data used in this study are primary data, secondary data and tertiary data. Data collection techniques used in this study are interviews, documentation, and library studies.
The results of the research conducted by the author show that in the village of Takerharjo the function of the Village Consultative Body in the village of Takerharjo as regulated in Law Number 6 of 2014 is quite effective as a legislative institution while in terms of supervision, it seems that the BPD institutions in the Takerharjo village still have to improve in order to become more In the future, especially in terms of monitoring village funds, this can be seen from the mismatch between the village fund budget that has been agreed upon by the BPD and the village head and the apparatus are not being carried out properly by the village head, especially this includes the Many residents are involved in the construction of village roads, which should have come from village funds, but in the application, they were even obtained from villagers' fees.
مستخلص البحث:
كانت رحلة الاستقلال الذاتي للقرية في إندونيسيا طويلة جدًا. على الأقل منذ القانون رقم 32 لعام 2004 بشأن الحكومة الإقليمية ، تتمتع الحكومات القروية بالحكم الذاتي في إدارة القرى. يؤكد القانون على أن "القرية هي وحدة لها حدود إقليمية ومصرح لها بتنظيم وإدارة المجتمع المرخص له على أساس أصل العادات والتقاليد المحلية التي تم الاعتراف بها واحترامها في نظام حكومة الدولة الموحدة للجمهورية. إندونيسيا. القانون رقم 6 لسنة 2014 بشأن سلطة الحكم الذاتي الجهوي والذي سيؤثر على عملية التداول بشأن استخدام الأموال القروية والعكس صحيح. في سياق وجود الهيئة الاستشارية القروية كهيئة تشريعية في القرية ، يسمح استقلالية القرية لـ الهيئة الاستشارية القروية بلعب دور في الإشراف والمشاركة في عملية تنمية القرية المذكورة في القانون رقم 6 لعام 2014 بالتفصيل.
وأسلوب البحث المستخدم في هذا البحث هو البحث النوعي بمنهج قانوني تجريبي أو (بحث ميداني قانوني) أما موقع البحث فيتم في قرية تاكيرهارجو. وهي مقابلات مع العديد من السكان الذين أصبحوا موضوع البحث وكذلك مع مسؤولي القرية كمنفذين للسياسة. مصادر البيانات المستخدمة في هذه الدراسة هي البيانات الأولية ، والبيانات الثانوية وبيانات المرحلة الثالثة ، وتقنيات جمع البيانات المستخدمة في هذه الدراسة هي المقابلات ، والتوثيق ، ودراسات المكتبة.
تظهر نتائج البحث الذي أجراه المؤلف أنه في قرية تاكيرهارجو ، تعتبر وظيفة الهيئة الاستشارية القروية في قرية تاكيرهارجو كما ينظمها القانون رقم 6 لعام 2014 فعالة تمامًا كمؤسسة تشريعية ، من حيث الإشراف. ، يبدو أنه لا يزال يتعين على مؤسسة الهيئة الاستشارية القروية في قرية تاكيرهارجو أن تتحسن حتى تصبح أكثر فاعلية. سواء في المستقبل ، خاصة فيما يتعلق بمراقبة أموال القرية ، يمكن ملاحظة ذلك من خلال التناقض بين ميزانيات صندوق القرية التي لديها تم الاتفاق عليه من قبل الهيئة الاستشارية القروية ورئيس القرية مع عدم تنفيذ الجهاز بشكل صحيح من قبل رئيس القرية ، خاصة أن هذا يشمل احتياجات رئيس القرية.كثير من السكان في بناء طرق القرية التي يجب أن تأتي من أموال القرية ولكن في يتم الحصول عليه بالفعل من مساهمات سكان القرية
ANALISIS KONFLIK BATIN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL LAYLA MAJNUN KARYA SYEKH NIZAMI KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan konflik batin yang dialami pada tokoh utama dalam novel Layla Majnun, (2) mendeskripsikan faktor-faktor penyebab konflik batin yang dialami pada tokoh utama dalam novel Layla Majnun. Data dalam penelitian ini adalah konflik batin yang dialami pada tokoh utama yang ada di dalam novel Layla Majnun. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel karya Syekh Nizami, dengan judul Layla Majnun. Novel tersebut diterbitkan oleh DIVA Press pada tahun 2020 dengan jumlah halaman 223 lembar. Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan psikologi sastra yang berfokus pada teks atau pilihan kata yang digunakan pengarang dalam karya sastra dan juga menggunakan alat bantu penafisran yaitu hermeneutika Wilhem Dilthey. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik membaca dan mencatat, sedangkan analisis data dilakukan dengan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut. (1)Konflik batin pada tokoh utama dalam novel Layla Majnun adalah pertentangan antara pilihan tidak sesuai dengan keinginan, kebimbangan dalam mengadapi permasalahan, dan harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan, (2) Akhir dari konflik batin Majnun dan Layla, (3)Faktor sosial penyebab konflik batin yang dialami tokoh utama dalam novel Layla Majnun adalah tradisi dan kebiasaan dari keluarga Layla. ANALISIS KONFLIK BATIN PADA TOKOH UTAMADALAM NOVEL LAYLA MAJNUN KARYA SYEKH NIZAMIKAJIAN PSIKOLOGI SASTRA 1Redho Akbar; 2Yayah Chanafiah; 3Sarwit Sarwono Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bengkulu Korespondensi: [email protected] AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan konflik batin yang dialami pada tokoh utama dalam novel Layla Majnun, (2) mendeskripsikan faktor-faktor penyebab konflik batin yang dialami pada tokoh utama dalam novel Layla Majnun. Data dalam penelitian ini adalah konflik batin yang dialami pada tokoh utama yang ada di dalam novel Layla Majnun. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel karya Syekh Nizami, dengan judul Layla Majnun. Novel tersebut diterbitkan oleh DIVA Press pada tahun 2020 dengan jumlah halaman 223 lembar. Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan psikologi sastra yang berfokus pada teks atau pilihan kata yang digunakan pengarang dalam karya sastra dan juga menggunakan alat bantu penafisran yaitu hermeneutika Wilhem Dilthey. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik membaca dan mencatat, sedangkan analisis data dilakukan dengan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut. (1)Konflik batin pada tokoh utama dalam novel Layla Majnun adalah pertentangan antara pilihan tidak sesuai dengan keinginan, kebimbangan dalam mengadapi permasalahan, dan harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan, (2) Akhir dari konflik batin Majnun dan Layla, (3)Faktor sosial penyebab konflik batin yang dialami tokoh utama dalam novel Layla Majnun adalah tradisi dan kebiasaan dari keluarga Layla. Kata Kunci: Novel Layla Majnun, Konflik Batin, Akhir Konflik Batin, Faktor Konflik Batin AbstractThis research aims to (1) describe the inner conflict experienced in the main character in the novel Layla Majnun, (2) describe the causative factors of inner conflict experienced in the main character in the novel Layla Majnun. The data in this study is an inner conflict experienced in the main character in layla majnun's novel. The source of the data in this study is a novel by Sheikh Nizami, entitled Layla Majnun. The novel was published by DIVA Press in 2020 with a total of 223 pages. The type of approach used in this study is a literary psychology approach that focuses on the text or choice of words used by the author in literary works and also uses a disclaimer tool, the hermeneutics Wilhem Dilthey. Data collection is done with reading and recording techniques, while data analysis is done with descriptive analysis techniques. The results of this study can be Outlined as follows. (1) The inner conflict in the main character in Layla Majnun's novel is the conflict between choices not in accordance with desire, doubt in the face of problems, and expectations that do not correspond to reality, (2) Finally the inner conflict of Majnun and Layla, (3) The social factors that cause inner conflict Redho Akbar; Yayah Chanafiah; dan Sarwit Sarwono experienced by the main character in Layla Majnun’s novel are the traditions and custom of the Layla family. Keywords: Layla Majnun Novel, Inner Conflict, End of Inner Conflict, Inner Conflict Factor PENDAHULUANSastra adalah bagian dari entitas budaya yang praktiknya tercermin dalam karya-karya sastra. Semua kebudayaan dan peradaban di dunia mengalami suatu periode perubahan yang mendalam (Peursen, 1990:72), termasuk kebudayaan dan peradaban bangsa Arab dengan segala totalitasnya. Liaw Yock Fang (dalam Sugiartoputri, 2009:3) berpendapat bahwa sastra Islam tersebut mempunyai ciri khas, yakni sebagian besar berupa terjemahan atau saduran yang berasal dari bahasa Arab atau Parsi dan hampir semua karya ini tidak diketahui nama pengarang atau tarikh penulisnya.Liaw Yock Fang (dalam Sugiartoputri, 2009:3) juga membagi sastra zaman Islam ke dalam beberapa kategori, yakni cerita Al-Quran, cerita Nabi Muhammad, cerita sahabat nabi Muhammad, cerita pahlawan Islam, dan sastra Kitab. Selain itu, menurut Liaw Yock Fang (dalam Sugiartoputri, 2009:3), kajian tentang Al-Quran, tafsir, tajwid, arkan ul-Islam, usukuddin, fikih, ilmu sufi, ilmu tasawuf, tarikat, zikir, rawatib, doa, jimat, risalah, wasiat, Bab An-Nikah dan kitab tib (obat-obatan, jampi-menjampi) dapat digolongkan ke dalam sastra kitab. Melalui sastra kitab, pengguna naskah dapat menambah pengetahuan keagamaan mereka. Oleh karena itu, karya sastra yang bercorak Islam banyak yang berasal dari Persia. Jika dalam puisi dikenal Gazhal, nazam, bayt, qit’ah dan lain-lain. Sedangkan dalam bentuk prosa dijumpai dalam sastra berbingkai. Salah satu jenis sastra berbingkai adalah hikayat seribu satu malam. Cerita-cerita yang terdapat di dalam hikayat seribu satu malam yang sangat populer dan dingat oleh masyarakat di seluruh dunia, termasuk di Melayu adalah Aladin, Ali Baba, Abu Nawas, Layla Majnun, dan lain-lain.Layla Majnun di Indonesia, pernah ditulis oleh Hamka dan diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1932, tebalnya 74 halaman. Kemasyuran kisah Layla Majnun ini juga telah memberikan inspirasi kepada sutradara kondang Indonesia, Sjumandjaja, untuk membuat cerita layar lebar. Tahun 1975, dibuatlah film dengan judul Layla Majnun dengan bintang utama Rini S Bono sebagai Layla dan Ahmad Albar sebagai Majnun. Film ini mengantongi penghargaan untuk kategori aktor pembantu bagi Farouk Afero pada festival film Indonesia 1976 (Purwantari, 2004).Layla Majnun adalah salah satu kisah yang populer dalam dunia Islam. Selama lebih dari seribu tahun beragam versi dari kisah tragis ini telah muncul dalam bentuk prosa, puisi, dan lagu dalam hampir semua bahasa di Negara-negara Islam Timur. Meski demikian, sajak epik Nizami lah yang menjadi dasar. Nizami seorang penyair Persia, ditugaskan untuk menulis Layla Majnun oleh penguasa Kaukasia, Shirvanshah, pada tahun 1188 Masehi (1141-1209). Shirvanshah memuji Nizami sebagai “penyair dengan keelokan kata-kata terhebat di dunia”, lalu meminta Nizami untuk menulis sebuah epik romantik atau syair (disusun dalam gaya bahasa puitis yang dikenal dengan masnawi) yang diambil dari cerita rakyat Arab, kisah mengenai Qays yang telah melegenda, sang penyair yang “gila cinta” dan Layla gadis padang pasir yang kecantikannya sangat terkenal Nizami (dalam Rahayu, 2014:82). Analisis Konflik Batin Pada Tokoh Utama Dalam Novel Layla Majnun Karya Syekh Nizami Kajian Psikologi Sastra Majnun itu gelarnya, nama aslinya adalah Qays Ibnu Mulawwih. Majnun satu akar kata dengan Jin. Jika di terjemahkan langsung, Majnun adalah orang yang kesurupan Jin atau orang yang gila karena cinta. Sedangkan nama Qays dalam Islam memiliki makna perbandingan, kekuatan, ketegasan, tinggi hati. Ini dimaknai agar nantinya bayi laki-laki menjelma menjadi bayi yang istimewa, tangguh, dihormati, dan bijaksana. Sementara Layla secara akar kata itu artinya malam. Selain itu juga, nama Layla karena matanya sangat indah, hitam pekat seperti malam.Berdasarkan kesimpulan di atas mengenai kejiwaan Qays merupakan salah satu konflik yang dapat dikaji melalui aspek psikologi sastra. Jatman (dalam Endraswara, 2008:97) berpendapat bahwa karya sastra dan psikologi memiliki pertautan yang erat, secara tak langsung dan fungsional. Pertautan tak langsung karena antara baik sastra maupun psikologi memiliki objek yang sama yaitu kehidupan manusia. Memiliki hubungan fungsional karena sama-sama mempelajari keadaan kejiwaan orang lain. Hal yang membedakan adalah, jika dalam psikologi gejala tersebut rill, sedangkan dalam sastra bersifat imajinatif.Novel Layla Majnun dipilih dalam penelitian ini karena sangat menarik untuk dikaji. Selain karena novel ini merupakan novel terlaris National Best Seller yang diterbitkan oleh Oase pada tahun 2008. Dan yang diterbitkan oleh Babul Hikmah mendapatkan julukan International Best Seller. Kelebihannya terletak pada ceritanya yakni penderitaan batin yang dialami oleh Majnun dan Layla selaku tokoh utama. Penderitaan batin yang dialami tokoh utama, mengalami penyimpangan dari manusia yang normal pada umumnya.Novel Layla Majnun merupakan kisah cinta Majnun dan Layla. Kisah cinta mereka yang bukanlah seperti kisah biasanya yang bersifat duniawi yang tidak banyak memuji kecantikan wanitanya secara batin ataupun memujanya dan rela berkorban untuk cintanya seperti kisah cinta yang ada. Kisah cinta mereka merupakan kisah cinta begitu dahsyat sepanjang masa yang menggambarkan betapa besarnya kekuatan cinta Qays/Majnun kepada Layla, sehingga indera matanya, pikiran, perasaan, dan imajinasinya terpengaruh. Matanya menjadi buta, akalnya menjadi terganggu, pikirannya menjadi kacau, semuanya tertuju kepada satu yakni cintanya kepada Layla. Dalam hidupnya ada Layla, harta, jabatan penghormatan, semuanya menjadi sirna karena cintanya kepada Layla. Qays rela hidup menderita demi mempertahankan cinta tersebut. Begitu pun sebaliknya dengan Layla. Kisah cinta mereka tidak bertepuk sebelah tangan, namun kisah cinta mereka terhalang kesombongan orang tua Layla yang lebih memihak tradisi dibandingkan kebahagiaan seorang anak.Perbedaan Majnun dan Layla terlihat ketika tidak bisa berbuat seperti Majnun dalam melampiaskan rasa cintanya. Adat dalam masyarakat Arab melarang perempuan yang sudah baligh bermain-main di luar rumah, apalagi menjalin asmara. Perempuan tersebut harus memasuki masa-masa pemingitan yang nantinya akan dilepas ketika ayahnya menjodohkan dengan lelaki yang tepat pilihannya. Layla lebih menderita daripada Majnun. Pada akhirnya kisah cinta mereka tak sampai, penuh dengan penderitaan yang dijalani Majnun dan Layla. Penderitaan yang dijalani oleh Majnun dan Layla, akan sangat menarik apabila dikaji secara pendekatan sastra yaitu pendekatan psikologi sebagai alat bantu, yang berfokus pada teks atau pilihan kata yang digunakan pengarang dalam karya sastra. Pendekatan ini digunakan karena sesuai dari tujuan penelitian yaitu untuk menggambarkan konflik batin tokoh utama dalam novel Layla Majnun karya Syekh Nizami. Redho Akbar; Yayah Chanafiah; dan Sarwit Sarwono Peneliti juga menggunakan hermeneutika Wilhem Dilthey sebagai alat bantu dalam menafsirkan kembali novel Layla Majnun untuk mempermudah, memahami apa yang sedang terjadi pada novel tersebut.Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti mengambil penelitian terhadap novel Layla Majnun karya Syekh Nizami dengan judul analisis konflik Batin pada Tokoh Utama dalam novel Layla Majnun karya Syekh Nizami Kajian Pskologi Sastra, yang berfokus pada konflik batin dan faktor penyebab terjadinya konflik batin yang dialami Majnun dan Layla. METODEMetode yang digunakan adalah penelitian kualitatif yaitu untuk memahami fenomena didapat subjek penelitian, seperti watak, perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain. Sebagaimana dijelaskan oleh Strauss dan Corbin (dalam Syamsuddin dan Damaianti, 2007:73) metode penelitian kualitatif juga dapat dimaksudkan sebagai suatu jenis penelitian dimana penemuan teori atau ukuran statistik tidak dapat diperoleh. Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2011:4) menyatakan metodologi kualitatif adalah suatu sistem yang menghasilkan data deskriptif. dalam bentuk kata-kata yang tersususun atau diungkapkan dari perilaku yang diamati.Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan psikologi sastra berfokus pada teks atau pilihan kata yang digunakan pengarang dalam karya sastra. Pendekatan ini digunakan karena sesuai dari tujuan penelitian yaitu untuk menggambarkan konflik batin tokoh utama dalam novel Layla Majnun karya Syekh Nizami. Dalam hal ini, penulis juga menggunakan alat bantu hermeneutika Wilhem Dilthey, hermeneutika yang dijelaskan dalam penelitian ini juga memberikan manfaat tentang hal menafsirkan kembali karya sebelumnya seperti salah satunya pada novel Layla Majnun untuk mempermudah memahami apa yang sedang terjadi pada novel tersebut yaitu pembahasan berkaitan dengan konflik batin yang dialami pada tokoh utama.Data dalam penelitian ini adalah konflik batin yang dialami pada tokoh utama yang ada di dalam novel Layla Majnun. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel karya Syekh Nizami, dengan judul Layla Majnun. Novel tersebut diterbitkan oleh DIVA Press pada tahun 2020 dengan jumlah halaman 223 lembar.Teknik pengumpulan data digunakan yaitu teknik membaca dan catat. Teknik membaca adalah teknik untuk menemukan suatu informasi untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Agar dapat menemukan informasi yang dicari secara cepat dalam novel Layla Majnun, biasanya pembaca menggunakan petunjuk-petunjuk seperti, buku-buku yang relevan untuk membantu penelitian dalam mengkaji konflik batin, psikologi sastra dan hermeneutika. Teknik catat adalah pencatatan informasi yang diselesaikan dengan catatan sesuai dengan kepentingannya (Subroto, 1992:42). Dalam metode pencatatan, peneliti mencatat informasi yang ditemukan dalam laporan pencatatan data-data yang berupa konflik batin dan kajian psikologi sastra pada novel Layla Majnun. HASIL DAN PEMBAHASANPenelitian ini, peneliti terlebih dahulu menguraikan unsur pembangun struktur karya sastra yang meliputi: fakta-fakta cerita (alur, karakter atau penokohan, latar, dan tema). Analisis Konflik Batin Pada Tokoh Utama Dalam Novel Layla Majnun Karya Syekh Nizami Kajian Psikologi Sastra AlurTahapan situasion (penyituasian). Pada tahap ini pengarang mulai menggambarkan keadaan keluarga Qays. Syed Omri adalah ayah Qays yang sangat menantikan kelahiran Qays. Di usia senjanya barulah dia mendapatkan Qays. Kehadiran Qays banyak membawa perubahan dalam hidupnya. Syed Omri sangat bahagia dan menjadi seorang yang lebih dermawan. Pada bagian ini juga dikisahkan tentang pertemuan Qays dan Layla di sekolahnya, gadis yang membuatnya tergila-gila. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut:“Qays sendiri sejak pertama kali menatap wajahnya, jiwanya langsung bergetar. Ia bagaikan merasakan bumi bergetar kencang, hingga merenggut hasratnya untuk menuntut ilmu. Qays belum pernah melihat keindahan yang memesonakan laksana kecantikan Layla. Ia sungguh telah jatuh cinta pada mawar jelita, Layla.” (LM, 2020:13). Cerita kemudian dilanjutkan ke tahap genering circumtances. Pada tahap ini, merupakan tahap awal muncul konflik dan konflik itu sendiri akan berkembang. Ketika Qays dan Layla asyik memadu cinta, tanpa disadari, mereka telah menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Pada akhirnya, kabar itu sampai kepada ayah Layla. Mendengar anak gadisnya menjadi buah bibir banyak orang, akhirnya untuk menghindari aib keluarga maka Layla dipingit. Ayah Layla pindah ke Lembah Nejd. Layla yang sudah jauh dari Qays merasa dirinya tersiksa. Hasrat hatinya ingin bertemu dengan Qays. Rasa cintanya semakin mendalam. Sejak perpisahan itu jiwa Qays juga terguncang. Dia merasa bersalah karena dirinya Layla dipingit. Jiwanya sangat merindukan Layla. Qays pun mengembara mencari Layla sambil melantunkan syair-syair cintanya. Orang yang melihatnya ada yang sedih dan ada pula yang menganggapnya gila. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut ini:“Qays tidak menghiraukan apa kata orang, ia terus berjalan, berbicara dan bersyair memuji pesona kekasihnya. Qays juga tidak peduli bocah-bocah yang sering kali mengikuti dan menirukan gerak-geriknya. Hingga orang-orang tersebut lupa akan nama Qays, mereka lebih mengenalnya sebagai Majnun, si gila.” (LM, 2020:34). Tahap rising action (peningkatan konflik). Syed Omri berusaha untuk meminangkan Layla untuk Majnun, anaknya. Namun, dengan perkataan yang menyinggungkan dan keras ditolak oleh ayah Layla. Ia tidak ingin menikahkan anaknya dengan orang gila. Naufal juga berusaha untuk mempersatukan Majnun dan Layla. Untuk itu, ia rela berperang melawan kabilah ayah Layla. Ia sudah memenagkan peperangan itu, namun ayah Layla tidak mau memberikan Layla untuk Majnun, si gila. Menikahkan Layla dengan Majnun sama dengan menikah dengan kehinaan dan aib keluarga. Mendengar pengakuan orang tua malang itu Naufal menjadi terharu. Ia tidak sanggup membunuh musuh yang tidak berdaya dan lemah. Majnun sangat kecewa pada saat mendengar keputusan Naufal. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut:“Saya tidak mampu menikahkan putriku dengan keburukan dan menerima kutukan dari negeriku! Seekor anjing lebih baik daripada manusia ibkis, karena gigitan seekor anjing dapat disembuhkan, namun luka yang membusuk itu akan meninggalkan bekas selamanya.” Redho Akbar; Yayah Chanafiah; dan Sarwit Sarwono “mendengar pernyataan lelaki tua malang tersebut, Naufal menjadi terharu. Rasa bimbang pun menguasai hatinya. Ia sudah berjanji pada Majnun akan meminang Layla, tetapi ia tidak tega mendengar kata-kata orang tua yang sudah kalah itu, bagaimana mungkin ia akan mampu membunuh musuh yang telah terluka dan tidak berdaya? Bagaimana mungkin ia akan bisa menyakiti lelaki tua yang sudah sekarat? Pantang baginya melukai musuh yang tidak berdaya.” (LM, 2020:118). Tahap climax (puncak kejadian konflik). Pada tahap ini peristiwa-peristiwa mencapai titik intensitas. Kegilaan Majnun semakin memuncak ketika ia mengetahui kabar pernikahan Layla dengan Ibnu Salam. Qays berprasangka Layla tidak setia terhadap dirinya. Padahal, walaupun Layla sudah menikah dengan Ibnu Salam, namun tidak sedikit pun Layla biarkan menyentuh dan merenggutnya. Layla mengatakan bahwa pernikahan tersebut ialah keinginan ayahnya bukan keinginannya. Jadi, raga dan jiwa atas cintanya hanya untuk Majnun seorang. Hal ini tergambarkan pada kutipan berikut:“Dengan suara menyayat dan terdengar lebih menyedihkan dari sangkakala maut, Laylla berucap, “apakah engkau berharap bisa memilikiku? Wahai, Tuan, sadarilah, perkawinan ini merupakan keinginan ayahandaku, bukan keinginanku sendiri! Sedikit pun aku tidak berharap untuk melakukan perbuatan yang aku benci. Aku tidak ingin menjadi seorang pengkhianat. Daripada melakukan tindakan yang aku benci lebih baik darahku menodai pedangmu.” “Saya tidak mau mengkhianati cintaku. Aku pun tidak sudi mengotori jiwaku hingga noda hitam akan melekat di keningku. Duhai, Tuan, janganlah engkau membayangkan dan berusaha untuk mendapatkan sebuah hati yang ditakdirkan bergelimang penderitaan. Dalam hati ini sudah terukir satu nama. Ia tidak bisa digantikan oleh apa dan siapapun. Walaupun emas dan permata ditaburkan untuk menyilaukan pandangan mata, namun jiwa yang penuh cinta tidak akan pernah terlena oleh kemewahan duniawin.” (LM, 2020:130). Cerita dilanjutkan ke tahap denounment (penyelesaian). Konflik yang telah mencapai klimaks diberi penyelesaian. Penyelesaian masalah ini berakhir dengan kematian, yaitu kematian Ibnu Salam, Layla, dan Majnun. Sebelumnya, pengarang novel Layla Majnun menggambarkan tentang kematian Ibnu Salam yang membawa perubahan pada diri Layla. Sekarang Layla bebas menentukan nasibnya. Karakter Tanpilan FisikPada bagian ini, Qays dan Layla merupakan tokoh utama yang merupakan keturunan kaum bangsawan. Mereka berdua memiliki wajah tampan rupawan serta cantik jelita. Hal ini tergambarkan pada kutipan berikut:“Seiring berganti hari, tahun pun berbilang, Qays tumbuh dan berkembang menjadi lelaki yang dapat dibanggakan orang tuanya. Wajahnya tampan rupawan, tubuhnya tinggi semampai bak pilar-pilar yang kokoh, dan suaranya merdu laksana buluh perindu”. (LM, 2020:11). Analisis Konflik Batin Pada Tokoh Utama Dalam Novel Layla Majnun Karya Syekh Nizami Kajian Psikologi Sastra “Di antara anak asuh sang guru, terdapat gadis cantik nan rupawan berusia belasan tahun. Parasnya anggun memesona, lembut budi bahasanya, dan penampilannya amat bersahaja. Gadis ini bersinar terang laksana cahaya mentari pagi, tubuhnya bak biola, dan bola matanya hitam laksana mata rusa. Rambutnya hitam tebal bergelombang”. (LM, 2020:12). Pengarang Secara Langsung Mendeskripsikan Karakter Tokohnya Qays atau MajnunSebelum menjadi gila/Majnun, namanya adalah Qays. Qays adalah seorang pemuda tampan dan cerdas, tubuhnya kuat dan suaranya merdu. Qays digambarkan seorang pria yang sempurna. Walaupun gila, sebenarnya Majnun adalah tokoh protagonis. Banyak orang-orang yang menyukai syair-syair Majnun dan banyak orang yang memuji-muji kesetian Majnun. Selain itu, Qays digambarkan tidak memiliki motivasi, tidak lagi merawat dirinya sendiri, Qays bahkan lebih memilih tinggal di alam para binatang buas daripada tinggal di rumahnya sendiri yang sangat mewah. LaylaLayla adalah seorang gadis yang cantik lembut dan anggun. Layla juga digambarkan juga sebagai o
Tinjauan Hukum Terhadap Kenakalan Remaja Serta Upaya Penanggulangannya : Studi Lapangan Hasil Kuliah Kerja Nyata
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk kenakalan remaja yang terjadi di Kelurahan Bahagia, khususnya di RW 001, serta menganalisis faktor penyebab dan upaya penanggulangannya melalui pendekatan yuridis-empiris. Berdasarkan observasi lapangan selama pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata (KKN), ditemukan dua bentuk kenakalan remaja yang dominan, yaitu tawuran antar pelajar dan pernikahan dini yang mayoritas disebabkan oleh pergaulan bebas (married by accident). Penelitian ini mengkaji regulasi hukum yang berlaku, seperti KUHP, UU Perlindungan Anak, UU SPPA, serta UU Perkawinan, dan menemukan bahwa kendala utama terletak pada lemahnya implementasi di tingkat masyarakat. Untuk merespons permasalahan tersebut, dilakukan program edukatif berupa sosialisasi hukum di tingkat sekolah dasar dan menengah dengan melibatkan pemangku kepentingan lokal. Hasilnya menunjukkan bahwa pendekatan edukatif yang kontekstual mampu meningkatkan pemahaman dan kesadaran hukum di kalangan anak dan remaja. Penelitian ini menekankan pentingnya kolaborasi multisektor dalam membangun sistem pencegahan yang berkelanjutan demi menciptakan generasi muda yang sadar hukum dan beretika
Kesenian Jaran Bodhag Probolinggo sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Motif Batik Tulis pada Outwear Semi-Formal
Kesenian Jaran Bodhag Probolinggo mengalami pasang surut dalam modernitas, masih belum cukup dikenal oleh masyarakat luar maupun dalam Probolinggo. Kesenian pertunjukkan yang berakar sejarah dari Jaran Kencak tercipta sebuah kesenian masyarakat dengan modifikasi bentuk imitasi kepala kuda dan Bodhag dalam bahasa Madura yang berarti “wadah/tudung nasi”, dihiasi sedemikian rupa dan tercipta sebuah artifisial jaranan. Penulis memiliki ketertarikan pada bentuk Jaran Bodhag untuk dituangkan pada batik tulis dalam outerwear semi-formal untuk meningkatkan daya tarik gaya berbusana batik yang cenderung monoton pada kalangan usia remaja-dewasa. Penciptaan ini bertujuan untuk menggaungkan kesenian Jaran Bodhag Probolinggo juga mendeskripsikan ide konsep, proses visualisasi, dan hasil motif batik tulis pada bentuk outerwear semi-formal. Penelitian ini menggunakan metode penciptaan yang dikemukakan oleh SP. Gustami yang terdiri dari tahap eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Hasil penciptaan karya ini terdapat tiga jenis outer antara lain: Beden Sokmah Jaran Bodhag (Vest), Demslendeman (Jacket), Gal Megol (Crop Top Bolero). Hasil penciptaan karya tersebut menjadi salah satu upaya bentuk inventarisasi motif baru dan pelestarian kesenian lokal dalam wujud karya batik
Penerapan Model Pembelajaran Ular-ularan Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Sejarah Peserta Didik Kelas X IPS 1 SMA Negeri 3 Probolinggo
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ULAR-ULARAN UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SEJARAH PESERTA DIDIK KELAS X IPS 1 SMA NEGERI 3 PROBOLINGGO ARTIKEL OLEH MISDA ULUM NIM 130731615721 UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN SEJARAH PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH SEPTEMBER 2019 Penerapan Model Pembelajaran Ular-ularan Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Sejarah Peserta Didik Kelas X IPS 1 SMA Negeri 3 Probolinggo Misda Ulum Universitas Negeri Malang, Jl Semarang No. 5 Malang [email protected] Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat berperan dalam pembangunan suatu bangsa.Pendidikan formal maupun non-formal haruslah selalu menuju kepada fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 Ayat 1 disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Tugas dan peranan model pembelajaran merupakan sebagai alat bantu dalam mengantarkan atau menyampaikan pesan dalam hal penyampaian materi antara guru dan peserta didik. Dalam hal ini model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran ular-ularan. Model permainan akan diarahkan agar tujuan belajar dapat dicapai secara efektif dan efisien. Model pembelajaran ular-ularan juga memiliki tujuan untuk melatih peserta didik agar dapat berpikir lebih cepat dan tepat dalam mengerjakan soal. Sehingga model pembelajaran yang digunakan dapat dijadikan sebagai model permainan untuk proses belajar.Bukan hanya itu, penerapan model pembelajaran ular-ularan juga dapat digunakan saat diadakan ulangan maupun untuk mengisi waktu kosong. Kata Kunci: Pembelajaran, Ular-ularan, Motivasi Belajar Pendahuluan Pendidikan menjadi salah satu teladan penting dalam mempengaruhi perkembangan dan kemajuan setiap bangsa. Seluruh komponen dalam dunia pendidikan harus didukung dan digerakkan demi kemajuan tingkat intelektual dan moral peserta didik. Setiap matapelajaran yang diberikan harus mendukung dua hal tersebut, karena kemajuan intelektual dan kedewasaan moral akan mempengaruhi masa depan bangsa (Prawiradilaga, 2007:2). Rumpun ilmu sosial merupakan salah satu matapelajaran wajib dengan fokus pada wawasan kemasyarakatan dan pemahaman tentang kehidupan bermasyarakat. Sebagai contoh ialah ilmu sejarah memberi cakrawala berpikir tentang kehidupan masa lalu yang mempengaruhi kehidupan sekarang dan memberi andil bagi kehidupan masa datang. Begitu juga dengan bidang ilmu-ilmu sosial lainnya. Pelajaran sejarah dalam pembangunan bangsa berfungsi untuk penyadaran warga negara dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya dalam rangka pembangunan nasional (Ali, 2005:122). Kondisi yang memicu kebosanan peserta didik dalam mengikuti pelajaran sejarah diantaranya dapat dipengaruhi oleh model pembelajaran guru yang kurang menarik dalam mengajar di dalam kelas dan jarang menggunakan model mengajar yang dapat menarik peserta didik untuk memperhatikan penjelasan materi pelajaran yang disampaikan di dalam kelas. Model pembelajaran yang umum digunakan oleh guru membuat peserta didik merasa jenuh dan mengantuk dalam mengikuti pelajaran sejarah. Tidak heran ketika peneliti melakukan observasi di kelas tampak situasi seperti itu ketika guru mengajar. Sementara itu, hanya sebagian kecil saja peserta didik yang menyimak penjelasan guru, selebihnya ada yang mengobrol, mengerjakan tugas lain, dan aktivitas lainnya di luar kegiatan belajar mengajar. Penggunaan model pembelajaran bertujuan agar peserta didik lebih merasa tertarik dan lebih mudah dalam memahami materi yang disampaikan guru. Dengan demikian, penggunaan model pembelajaran yang diintegrasikan dengan beberapa tujuan dan isi dalam pembelajaran dapat meningkatkan mutu belajar mengajar (Sani, 2014). Model pembelajaran ular-ularan juga memiliki tujuan untuk melatih peserta didik agar dapat berpikir lebih cepat dan tepat dalam mengerjakan soal. Permainan yangakan digunakan dalam proses belajar mengajar sebelumnya sudah dipersiapkan oleh guru dengan berbagai variasi, sehingga dengan menggunakan model permainan dalam pembalajaran dapat meningkatkan motivasi peserta didik dalam belajar. Permainan ular-ularan dapat diberikan untuk melihat kemampuan belajar, melatih kecepatan dalam menjawab soal yang cukup panjang, dan melatih kejujuran peserta didik dalam menilai hasil jawaban mereka. Peneliti memilih SMA Negeri 3 Negeri Probolinggo sebagai lokasi penelitian dikarenakan proses belajar mengajar sejarah di sekolah tersebut terdapat permasalahan belajar mengajar berupa rendahnya motivasi belajar siswa, khususnya dalam matapelajaran sejarah. Hal tersebut dapat dilihat saat proses belajar mengajar siswa menunjukkan sikap malas belajar, malas mengerjakan tugas, tidak ada keinginan untuk mengetahui, tidak peduli dengan nilainya, tidak ada rasa semangat di dalam kelas, mendapat nilai yang buruk, dan sebagainya. Hal tersebut dapat tercermin dari antusias peserta didik dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas, seperti tidak memperhatikan penjelasan guru, bermain dengan teman sebangkunya selama proses belajar mengajar, terlihat acuh tak acuh selama proses belajar mengajar berlangsung. Keadaan yang demikian menjadikan peserta didik lebih memilih menyibukkan diri dengan kegiatan yang menarik perhatian mereka meski tidak ada hubungannya dengan proses belajar mengajar. Akibatnya, tujuan dari proses belajar mengajar tidak dapat tersampaikan dengan optimal. Melihat kondisi belajar yang ada di lingkungan SMA 3 Negeri Probolinggo, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan diterapkannya model pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut di antaranya adalah model pembelajaran ular-ularan. Pelaksanaan model pembelajaran ular-ularan dilakukan peserta didik dengan menjawab soal secara bergantian, selanjutnya hasil jawaban akan mereka cocokkan sendiri dan memberikan nilai dari hasil jawaban yang sudah dicocokkan. Model pembelajaran ular-ularan merupakan model pembelajaran yang baru dan tidak jauh beda dengan model pembelajaran ular tangga. Namun dalam model ular-ularan ini semua peserta didik harus berada diluar, dan guru menata meja dan menempelkan selembar soal dimasing-masing meja, dan di meja depan terdapat meja untuk mencocokkan jawaban dan menghitung nilai mereka sendiri-sendiri. Cara bermain dimana peserta didik harus berbaris panjang seperti ular dan urut dengan presensi. Setelah itu guru meniupkan peluit dan peserta didik absen pertama masuk dan mengerjakan soal pertama, meniup kembali peluit, dan peserta didik akan bergantian menjawab soal. Setelah peserta didik menjawab semua soal mereka akanmencocokan jawaban mereka sendiri dan memberikan nilai sendiri sesuai hasil dari jawaban benar peserta didik. Metode Di dalam penelitian ini peneliti melakukan pendekatan penelitian kualitatif. Moleong (2013:27) mengatakan bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang berakar pada latar alamiah sebagai kebutuhan, mengandalkan analisis data secara induktif, mengarah pada penemuan teori, bersifat diskriptif, lebih mementingkan proses daripada hasil, membatasi studi dengan fokus, memiliki seperangkat kriteria untuk memeriksa keabsahan data, rancangan penelitiannya bersifat sementara, dan hasil penelitiannya disepakati oleh peneliti dan subjek penelitian. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Wiriatmadja (2007:13) Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktik pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri, mereka dapat mencobakan suatu gagasan, perbaikan dalam praktik pembelajaran mereka, dan melihat pengaruh nyata dari upaya itu. Peneliti melakukan. Subjek penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu peserta didik kelas X IPS 1 SMA Negeri 3 Probolinggo sebanyak 23 peserta didik yang terdiri dari 11 laki-laki dan 12 perempuan pada matapelajaran sejarah dengan menggunakan model pembelajaran ular-ularan. Peneliti memilih SMA Negeri 3 Negeri Probolinggo khususnya kelas X IPS 1 sebagai lokasi penelitian dikarenakan proses belajar mengajar sejarah di sekolah tersebut terdapat permasalahan berupa rendahnya motivasi belajar peserta didik, khususnya dalam matapelajaran sejarah. Hal tersebut dapat dilihat saat proses belajar mengajar peserta didik menunjukkan sikap malas belajar, malas mengerjakan tugas, tidak ada keinginan untuk mengetahui, tidak peduli dengan nilainya, tidak ada rasa semangat di dalam kelas, mendapat nilai yang buruk, dan sebagainya. Hal tersebut dapat tercermin dari antusias peserta didik dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas, seperti tidak memperhatikan penjelasan guru, bermain dengan teman sebangkunya selama proses belajar mengajar, dan terlihat acuh tak acuh selama proses belajar mengajar berlangsung. Keadaan yang demikian menjadikan peserta didik lebih memilih menyibukkan diri dengan kegiatan yang menarik perhatian mereka meski tidak ada hubungannya dengan proses belajar mengajar. Akibatnya, tujuan dari proses belajar mengajar tidak dapat tersampaikan dengan optimal. Peneliti dalam mengumpulkan data menggunakan empat cara yang sesuai dengan kebutuhan penelitian yaitu observasi, wawancara, kuisioner, dan dokumentasi. Pengumpulan data ini dilakukan untuk mendapatkan informasi serta tercapainya tujuan penelitian. Berikut adalah penjabaran terkait teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini. Hasil dan Pembahasan Peneliti didalam penerapan model pembelajaran Ular-ularan di kelas X IPS 1 SMA Negeri 3 Probolinggo dilakukan dalam 2 siklus, dan masing-masing siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Setiap pertemuan dilaksanakan dalam beberapa tahap, sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun, yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pelaksanaan yang dilakukan oleh guru matapelajaran sejarah terdapat perbaikan dari siklus I ke siklus II ke arah yang lebih baik. Persentase motivasi belajar peserta didik mengalami peningkatan pada siklus I setelah penerapan model pembelajaran Ular-ularan. Pada siklus I terlihat adanya peningkatan motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1 SMA Negeri 3 Probolinggo dari 64% menjadi 71%, hal tersebut ada peningkatan sebanyak 7% dari pra-siklus ke siklus I. Keempat komponen juga mengalami peningkatan dari pra siklus ke siklus I yaitu attention yang awalnya 62% menjadi 73%, relevance dari 69% menjadi 72%, confidence dari 64% menjadi 69%, satisfication dari 70% menjadi 76%. Dari peningkatan motivasi belajar peserta didik menunjukkan adanya respon terhadap pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran Ular-ularan. Pada pelaksanaaan siklus I ini motivasi belajar setiap peserta didik beberapa sudah mengalami peningkatan, walaupun pada siklus I masih ada peserta didik yang motivasinya terlihat rendah. Motivasi setiap individu mengalami peningkatan dan ada juga yang motivasinya tetap Abdul Aziz Hoirun dari 68% menjadi 73%, Afifah dari 78% menjadi 85%, Ahmad Faizal dari 59% menjadi 70%, Ahmad Mustakim dari 68% tetap 68%, Ahmad Reihan 53% menjadi 68%, Ayu Naufal dari 68% tetap 68%, Devit Alfahrezi dari 78% tetap 78%, Dewi Aprilia dari 67% tetap 67%, Diantri Widiyawati dari 59% menjadi 63%, Eva Ramadhani dari 64% tetap 64%, Fitri Anggraini dari 58% menjadi 63%, Husnul Khotimah dari 60% menjadi 64%, Ike Nurjannah dari 67% tetap 67%, Ilham Akbar dari 71% tetap 71%, Imam Gozali dari 64% menjadi 73%, Lukman Hakim dari 68% tetap 68%, Muhammad Aris dari 73% tetap 73%, Muhammad Nazril dari 60% menjadi 86%, Okky Zebri M dari 63% tetap 63%, Sinta Bela dari 70% tetap 70%, Siti Hotija dari 61% menjadi 81%, Vina Fitriana dari 69% tetap 69%, Wawan Putra dari 53% menjadi 78%. Pelaksanaan penerapan model pembelajaran Ular-ularan pada siklus II mengalami beberapa perbaikan yang sudah dilakukan berdasarkan kegiatan refleksi oleeh guru dan peneliti. Perbaikan yang ditingkatkan pada siklus II yaitu persiapan guru dalam mengajar atau materi, efiseinsi waktu, dan pendalaman soal. Pelaksanaan siklus II menunjukkan bahwa peserta didik lebih semangat dan ceria serta antusias dalam pembelajaran sejarah didalam kelas, keseluruhan peserta didik mulai memperhatikan dengan baik dan fokus apa yang diterangkan oleh guru. Selain itu guru sudah sudah mengelola alokasi waktu dengan sempurna. Pelaksanaan penerapan model pembelajaran Ular-ularan pada siklus II mengalami peningkatan yang sangat baik. Motivasi belajar peserta didik satu kelas meningkat dari 71% menjadi 82%, dari kategori sedang ke tinggi. Keempat komponen motivasi belajar juga mengalamai peningkatan attention yang awalnya 73% menjadi 83%, relevance dari 72% menjadi 82%, confidence dari 69% menjadi 85%, satisfication dari 76% menjadi 83%. Pada siklus II motivasi belajar setiap peserta didik mengalami peningkatan yang sangat baik dibandingkan dari siklus I. peningkatan tersebut secara bertahap yaitu: Abdul Aziz Hoirun dari 73% menjadi 92%, Afifah dari 85% menjadi 95%, Ahmad Faizal dari 70% tetap 70%, Ahmad Mustakim dari 68% menjadi 81%, Ahmad Reihan 68% menjadi 89%, Ayu Naufal dari 68% menjadi 94%, Devit Alfahrezi dari 78% tetap 78%, Dewi Aprilia dari 67% tetap 87%, Diantri Widiyawati dari 63% menjadi 81%, Eva Ramadhani dari 64% menjadi 81%, Fitri Anggraini dari 63% menjadi 83%, Husnul Khotimah dari 64% menjadi 73%, Ike Nurjannah dari 67% menjadi 83%, Ilham Akbar dari 71% menjadi 82%, Imam Gozali dari 73% tetap 73%, Lukman Hakim dari 68% menjadi 84%, Muhammad Aris dari 73% menjadi 82%, Muhammad Nazril dari 86% tetap 86%, Okky Zebri M dari 63% menjadi 79%, Sinta Bela dari 70% menjadi 74%, Siti Hotija dari 81% tetap 81%, Vina Fitriana dari 69% tetap 69%, Wawan Putra dari 78% menjadi 88%. Peningkatan terhadap motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1 tercatat berdasarkan hasil angket terhadap penerapan model pembelajaran Ular-ularan yang diberikan kepada peserta didik setelah dilakukan tindakan siklus I dan siklus II. Hasil dari angket selanjutnya dianalisis agar dapat diketahui tercatat sebagian peserta didik mengalami peningkatan motivasi belajar peserta didik pada pembelajaran sejarah. Skor keseluruhan deskriptor angket motivasi belajar berjumlah 1840 dengan peningkatan skor perolehan total peserta didik yang diamati dari pra-siklus ke siklus I meningkat dari 1193 menjadi 1299 sehingga tercatat persentase perolehannya meningkat sebesar 7% dari 64% (rendah) menjadi 71% (sedang). Sedangkan peningkatan dari siklus I ke siklus II motivasi belajar peserta didik mengalami peningkatan 11% dari 71% (sedang) ke 82% (tinggi). Peningkatan motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1 terlihat dari keempat indikator pengukuran motivasi. Attention pada pra-siklus 62%, siklus I meningkat menjadi 73%, dan siklus II menjadi 83%. Relevance pada pra-siklus 69%, siklus I meningkat menjadi 72%, dan siklus II menjadi 82%. Confidence pada pra-siklus 64%, siklus I meningkat menjadi 69%, dan siklus II menjadi 85%. Satisfication pada pra-siklus 70%, siklus I meningkat menjadi 76%, dan siklus II menjadi 83%. Kesimpulan Disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Ular-ularan dalam pembelajaran sejarah dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1SMA Negeri 3 probolinggo. Meskipun pada pelaksanaan tindakan di siklus I pertemuan I menunjukkan bahwa peserta didik masih bingung dengan model pembelajaran Ular-ularan. Pada pertemuan II peserta didik telah memahami model pembelajaran yang digunakan oleh guru sehingga pembelajaran berjalan secara efisien dan menyenangkan. Kegiatan di siklus I telah menunjukkan adanya peningkatan motivasi belajar dalam mengikuti pembelajaran sejarah. Peserta didik tampak senang dan menikmati kegiatan pembelajaran dengan model Ular-ularan. Peningkatan motivasi belajar peserta didik juga ditunjukkan dari hasil angket pada siklus I. Pada siklus II pembelajaran dengan model Ular-ularan berjalan dengan baik serta alokasi waktu juga berjalan dengan baik. Peserta didik juga antusias dalam pembelajaran sejarah. Penerapan model Ular-ularan dalam pembelajaran sejarah dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1SMA Negeri 3 Probolinggo. Peningkatan yang terjadi pada motivasi belajar peserta didik terlihat dari hasil angket peserta didik pada pra-siklus, siklus I, dan siklus II terhadap 4 indikator yaitu attention (perhatian), relevance (kesesuaian), confidence (kepercayaan diri),dan satisfication (kepuasan). Indikator attention (perhatian) mengalami peningkatan sebesar 21% yaitu dari 62% di pra-siklus menjadi 83% di siklus II, indikator relevance (kesesuaian) mengalami peningkatan sebesar 13% yaitu dari 69% di pra-siklus menjadi 82% di siklus II, indikator confidence (kepercayaan diri) dalam kegiatan pembelajaran meningkat sebesar 21% yaitu dari 64% di pra-siklus menjadi 85% di siklus II, indikator satisfication (kepuasan) mengalami peningkatan sebesar 13% yaitu dari 70% di pra-siklus menjadi 83% di siklus II. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Ular-ularan dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1SMA Negeri 3 Probolinggo dalam mata pelajaran sejarah. DAFTAR RUJUKAN Agustinus, N. 2013. Pentingnya Refleksi Dalam Proses Belajar-Mengajar, (Online), (http://nur-agustinus. blogspot. com /2013 /06/ pentingnya-refleksi-dalam-proses.html), diakses 27 Januari 2019. Ali, R. 2005. Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia. Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara. Arifin, Z. 2014. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosda Karya. Arikunto, S. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya. Baron, R. A., & Byrne, D. 2004. Psikologi Sosial: Jilid 1. Alih Bahasa: R. Djuwita; M. M Parman; D. Yasmina; L. P Lunanta. Jakarta: Erlangga. Haris, H. 2010. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Salemba Humanika. Miles, B. M. & Huberman, M. 1992. Analisis Data Kualitatif Buku Sumber tentang Metode-metode Baru. Jakarta: UIP. Moleong, J.L. 2013. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya. Nasution, S. 1991. Metode Research Penelitian Ilmiah. Bandung: Jermais. Prawiradilaga, D. S. 2007. Prinsip Desain Pembelajaran. Jakarta: Kencana Predana Media Group. Riduwan. 2004. Metode Riset. Jakarta: Rineka Cipta. Suyanto. 2006. Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia Memasuki Milenium III. Yogyakarta: Adicit. Wiriatmadja, R. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosda karya.
LAPORAN INDIVIDU PRAKTIK LAPANGAN TERBIMBING (PLT)
Magang III terintegrasi dengan mata kuliah Praktik Lapangan Terbimbing
(PLT) mempunyai kegiatan yang terkait dengan pembelajaran maupun kegiatan yang
mendukung berlangsungnya pembelajaran. Mata kuliah PLT diharapkan dapat
memberikan pengalaman belajar bagi mahasiswa, terutama dalam hal pengalaman
mengajar, memperluas wawasan, pelatihan dan pengembangan kompetensi yang
diperlukan dalam bidangnya, peningkatan keterampilan, kemandirian, tanggung
jawab, dan kemampuan dalam memecahkan masalah.
Secara umum, pelaksanaan PLT meliputi empat tahapan yaitu tahap
persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan penyusunan laporan. Tahapan pelaksanaan PLT
meliputi tahap pembekalan, penerjunan, dan praktik mengajar. Pelaksanaan program
PLT dimulai dari tanggal 15 September 2017 sampai dengan 15 November 2017
yang diisi dengan observasi kelas dan lembaga, konsultasi, pembuatan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran, pembuatan materi ajar dan media pembelajaran, praktik
mengajar, dan evaluasi. Dalam praktik mengajar, kelas yang diampu adalah kelas X
Teknik Pemesinan 1 dan X Teknik Pemesinan 2. Mata pelajaran yang diampu adalah
teknologi mekanik dan praktik kerja bangku.
Penyelenggaraan PLT untuk mendukung pengembangan kompetensi
mahasiswa sebagai calon guru atau tenaga pendidik. Melalui program ini, praktikan
diharapkan memiliki keterampilan dalam mengelola kelas sehingga kegiatan
pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan lulusan yang
berkompeten. Pelaksanaan PLT di SMK Muhammadiyah 1 Bantul ini juga
diharapkan dapat menjadi salah satu fungsi kehumasan mahasiswa sehingga sekolah
dapat menjadi mitra Universitas Negeri Yogyakarta untuk melaksanakan PLT tahun berikutnya
