59 research outputs found

    Analisis perhitungan awal waktu shalat idul fitri menurut Lembaga Falakiyah NU (LFNU) Kabupaten Kudus

    No full text
    Shalat idul fitri adalah salah satu shalat sunnah yang sangat dianjurkan (muakaddah) akan tetapi awal waktu pelaksanaannya masih belum banyak yang membahas, karena hal tersebut banyak masyarakat yang masih kebingungan ketika 1 syawal atau hari raya idul fitri mengenai kapan dimulainya shalat idul fitri. Hingga muncul lah ide dari K. Azhar Lathif Nashiran (Ketua LFNU Kudus) untuk mencantumkan waktu shalat idul Fitri pada jadwal imsakiyah yang dikeluarkan oleh LFNU Kudus dan belum ada lembaga yang mencantumkan waktu shalat idul fitri ada jadwal imsakiyahnya, hal ini dilakukan agar mempermudah masyarakat untuk melakukan ibadah shalat idul fitri. Dari sinilah penulis tertarik untuk meneliti metode apa yang digunakan oleh LFNU kabupaten Kudus dalam penentuan awal waktu shalat idul fitri. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, sumber data primer yang digunakan penulis adalah hasil dari wawancara dengan ketua LFNU kabupaten Kudus, sedangkan data sekunder didaptkaan dari karya ilmiah, artikel dan buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan khususnya shalat idul fitri, metode pengumpulan data yang digunakan penulis adalah wawancara secara langsung dengan LFNU kabupaten Kudus dan metode dokumentasi yaitu pengumpulan data dan informasi yang berkaitan dengan penelitian. Metode analisis data yang digunakan adalah deskriptif atau dengan menguraikan dan menyimpulkan hasil dari penelitan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menentukan awal waktu shalat idul fitri LFNU Kudus menggunakan waktu dhuha sebagai patokan perhitungan, kemudian apabila waktu dhuha jam 6 lebih ≤ 5 menit maka dibulatkan menjadi 06:05 dan apabila jam 6 lebih ≥ 5 menit maka dibulatkan menjadi 06:10 , selisih waktu ini sendiri karena mengikuti anjuran fiqih untuk mengakhirkan awal waktu shalat idul fitri agar masyarakat memiliki sedikit kelonggaran waktu untuk berzakat fitrah. Keyword: awal waktu shalat, Idul Fitri, LFNU Kudus

    Dābbah menurut Hamka dalam Tafsir Al-Azhar

    No full text
    Di dalam Al-Qur’an banyak termuat ayat-ayat tentang fenomena alam baik mencakup penciptaan benda tak bernyawa sampai sesuatu yang bernyawa. Dari sekian penciptaan tersebut salah satunya yaitu binatang melata atau di dalam Al-Qur’an disebut sebagai dābbah. Kata dābbah berulang sebanyak 18 kali yaitu diantaranya 14 ayat berbentuk mufrad dan 4 ayat lainnya berbentuk jamak. Kata dābbah tidak selamanya diartikan sebagai binatang melata tetapi pada ayat lain memiliki perbedaan makna sesuai konteks ayat. Di sinilah terjadi ketidakserasian makna antara satu ayat dengan ayat lainnya sehingga perlu kiranya pengkajian yang mendalam untuk mengungkap makna tersebut di dalam kitab tafsir yang mengkaji ilmu pengetahuan sains dan relavan dengan perkembangan zaman sekarang yaitu salah satunya pada kitab tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat kepustakaan (Library Research), dengan menggunakan metode pendekatan tafsir Maudhu’i atau tematik yaitu mengumpulkan ayat-ayat yang memiliki tema yag sama. Penelitian ini termasuk deskriptif analitik dengan metode analisis menggunakan pendekatan content analysis dan interpretasi. Data yang diperoleh bersumber dari data primer kitab tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan data sekunder dari kitab tafsir Al-Maraghi karya Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, tafsir Ibnu Katsir karya ‘Abdullah bin Muhammad Alu Syaikh, tafsir Al-Misbah karya M.Quraish Shihab dan sumber-sumber lainnya yang berkaitan dengan penelitian. Hasil penelitian ini, dari kedua rumusan masalah yaitu : 1). Penafsiran Hamka terhadap kata dābbah menunjukkan bahwa kata tersebut di dalam tafsir Al-Azhar memiliki tujuh macam pengertian diantaranya dābbah bermakan makhluk hidup, dābbah bermakna manusia, dābbah bermakna orang kafir, dābbah bermakna rayap, dābbah bermakna binatang yang keluar pada hari kiamat, dābbah bermakna binatang dan manusia, dābbah bermakna binatang. 2). Relevansi penafsiran dābbah menurut Hamka dengan teori sains modern. Penafsiran dābbah berkaitan dengan adanya sains modern terutama melihat maknanya sendiri sebagai binatang melata yang sangat erat hubungannya dengan ilmu pengetahuan sains baik dābbah yang bermakna makhluk hidup, binatang, maupun manusia. Namun tidak semua penafsiran dābbah menurut Hamka selaras dengan sains hanya terdapat beberapa ayat yang kurang sesuai dengan sains yaitu ketika menjelaskan sifat-sifat pada manusia dan binatang yang keluar pada hari kiamat. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bahwa Hamka telah memunculkan penafsiran yang tidak dijumpai dalam ilmu-ilmu sains modern zaman sekarang ini padahal dalam ayat-ayat lainnya ia menghubungkan dengan sains walaupun tidak semuanya dijelaskan secara detail

    al-Fitri al-Tsaqafi; Nahwa al-Jadid fi al-Manhaj al-Kalami 'inda Muhammad al-Ghazali

    No full text
    This research was written to see one of the new methods in the development of the science of kalam, by using the book Aqidah al-Muslim by Syaikh Muhammad al-Ghazzali as the object of research. The new method is al-Fithry al-Tsaqafi. From his book, it can be analyzed that Syaikh Muhammad al-Ghazali applied the method of al-Fithry al-Tsaqafi in the development of contemporary kalam science issues. This is illustrated from the five chapters in the book. Namely: Criticism of the science of kalam, proof of the form of God, creation of nature, description of the verse "laisa kamitslihi syai’un", and human freedom (af’Äl al-ibÄd). From these observations, there are three main elements of how the author has actually used the method of al-Fithry al-Tsaqafi, this is evidenced by the following reasons: First, he tried to explain kalam problems with axiomatic things, so that the reader is not burdened with terms that are difficult to understand. Second, trying to build a creed from its immediate source, namely the Qur'an and Sunnah. Three, explaining the negative side of the previous method of the science of kalam and its influence with modern thought

    Perkembangan kognitif Nabi Muhammad perspektif Jean Piaget

    No full text
    ABSTRAK Mencerdaskan anak bangsa merupakan semangat pendidikan nasional yang telah diamanahkan dalam pembukaan Undang-Undang 45. Makna kecerdasan dalam pendidikan ini menyentuh beberapa ranah kecerdasan. Benjamin S Bloom (1956) mencoba merumuskan tujuan pendidikan dalam tiga ranah yaitu, ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Pada dasarnya ketiga ranah kecerdasan itu adalah saling mempengaruhi satu sama lain. Kecerdasan kognitif seseorang akan sangat besar implikasinya dalam pengambilan sikap yang menjadi wilayah kecerdasan afektif, yang kemudian mendorong individu untuk berani menciptakan sesuatu (ranah psikomotor). Pentingnya kecerdasan kognitif dalam wujudnya juga telah disampaikan dalam setiap ayat-ayat Al-qur’an sebagai kitab panduan umat muslim sedunia, yang disampaikan oleh Allah melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad. Ayat-ayat al-Qur’an yang sarat akan pesan-pesan bermakna bagi manusia sedunia, bahkan dianggap wahyu terbesar sepanjang masa tidaklah mungkin diamanahkan oleh Allah kepada manusia biasa. Maka penunjukan Allah atas Nabi Muhammad menjadi satu misteri tersendiri tentang seberapa tingginya kecerdasan Kognitif Nabi Muhammad, sehingga mampu menerima ribuan ayat lalu menyampaikannya kepada orang lain dan berujung dengan pengaplikasian sempurna atas tiap ayat yang diterimanya. Disisi lain berbagai kesulitan dan keadaan menyedihkan telah dirasakannya sejak dilahirkan. Seorang tokoh Perkembangan Kognitif dari Swiss Jean Piaget, memberi sumbangan yang luar biasa terhadap dunia pendidikan, melalui teori perkembangan kognitif yang ditemukannya, dunia pendidikan akhirnya memperoleh cara yang tepat untuk mencerdaskan setiap generasi bangsa, dengan melakukan telaah dari tiap perkembangan usia tiap individu. Seperti yang disampaikan Jean Piaget dalam teorinya. Berangkat dari latar belakang itulah, penulis ingin meneliti lebih lanjut tentang “kecerdasan kognitif Nabi Muhammad menurut perspektif Jean Piaget”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecerdasan kognitif Nabi Muhammad menurut teori perkembangan kognitif Jean Piaget sehingga mampu menjadi Rasulullah atau manusia pilihan. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah fase perkembangan kognitif Nabi Muhammad menurut teori Jean Piaget, mencakup: Dasar awal kognitif; penginderaan, persepsi dan belajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif Nabi Muhammad.” Fokus masalah dalam penelitian ini adalah menganalisis perkembangan kognitif Nabi Muhammad pada usia 6-20 tahun (usia sebelum kenabian), serta menggali informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan Nabi Muhammad jauh sebelum risalah kenabian diterimanya. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, hal ini dilakukan karena penelitian ini dekat hubungannya dengan nilai-nilai sejarah. Maka tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan pengumpulan dokumen-dokumen yang menunjang dalam penulisan karya ilmiah ini. Kemudian dari dokumentasi tersebut dilakukan analisis dengan menggunakan content analysis. Dengan kerangka itu, dapat diketahui bahwa perkembangan kognitif Nabi Muhammad dalam teori Jean Piaget tetap melalui fase-fase sesuai usia perkembangannya. Mengingat fokus penelitian ini adalah perkembangan kognitif Nabi Muhammad di usia 6-20 tahun, maka dalam perspektif Jean Piaget, ada dua fase yang akan berlaku yaitu fase operasional konkrit dan fase operasional formal. Sama halnya dalam perspektif Islam, dalam hal ini penulis meminjam pemikiran dari Ibnu Jauzi, menurut penuturannya berdasarkan tafsir dari berbagai ayat al-qur’an seperti diantaranya surat Al-Baqarah 132-133, QS al-An’am ayat 73 dan beberapa ayat lainnya, juga menyebutkan beberapa fase perkembangan yang mutlak dilalui tiap anak manusia termasuk Nabi Muhammad sesuai usia perkembangannya. Tingginya kecerdasan kognitif Nabi Muhammad, pasti dipengaruhi oleh beberapa faktor, dan dari hasil analisis yang dilakukan menyatakan bahwa ada 3 faktor yang mempengaruhi perkembangan Nabi Muhammad yaitu faktor hereditas (genetik), faktor lingkungan (meliputi keadaan geografis, dan nilai adat dan budaya yang berlaku di masyarakat tempat tinggal Nabi Muhammad), faktor ketentuan Allah SWT. Penulis berharap ada penelitian lanjutan sebagai respon positif atas penelitian ini, mengingat masih banyaknya permasalahan seputar pendidikan yang menyentuh berbagai wilayah penting pembangunan pendidikan. Kecerdasan kognitif tiap individu menjadi berbeda-beda tingkatannya mengingat banyaknya faktor yang mempengaruhi perkembangannya, maka tidak boleh ada penyetaraan sikap ataupun pendiskriminasian sikap yang akhirnya berdampak pada kemandekan atau lebih parah lagi trauma berkepanjangan terhadap kegiatan belajar bagi diri individu-individu generasi bangsa. ABSTRACT Educational nation’s children is a spirit of national education has been mandated in preamble of constitution 45. The meaning of intelligence is an effort to improve education authentic touches on some aspects of intelligence. Benjamin S Bloom (1956) formulate objectives educational in three domains there are, cognitive, affective domain and psychomotor domains. Basically, the third aspects of intelligence that is mutually influence each other. Cognitive intelligence of a person will be huge implications in taking the attitude that became the affective intelligence, which then encourages the individual to dare to create something (psychomotor domain). The importance of cognitive intelligence in his form has also been submitted in each verses the Qur’an as a guidance book of Muslims worldwide, Allah revealed through the Angel Gabriel to the Prophet Muhammad. Verses of the Qur’an are meaningful messages to the human world, even considered the greatest revelation of all time, that it is impossible to Allah’s mandate to a human ordinary. Allah appointed the Prophet Muhammad is a separate mystery about how the high level of his cognitive intelligence. Then he was able to receive thousands of verses and then pass it on to others and apply it perfectly on every verse he had received. besides, he has felt the difficulties and the plight since birth. A prominent Cognitive Development Swiss Jean Piaget, contributes to the extraordinary world of education, he through the discovery of the theory of cognitive development, finally, education obtain appropriate methods and treatment to educate every generation of the nation, by doing a review of each developmental age of each individual. As stated Jean Piaget in his theory. Based on the above reasons, the authors examined more about “cognitive intelligence of learners according to Islamic perspective in the case of Prophet Muhammad (analytical studies of Jean Piaget)”. This study aims to determine the cognitive intelligence of the Prophet Muhammad according to Jean Piaget’s cognitive developmental theory so as to be a Prophet or chosen human. The problem formulation in this study is “how cognitive developmental phase of the Prophet Muhammad according to Jean Piaget’s theory, which includes: Basic start cognitive; sensing, perception and learning? What are the factors that influence cognitive development of the Prophet Muhammad?. The problem focus in this study is to analyze the cognitive development of the Prophet Muhammad at the age of 6-20 years (age before prophethood), as well as collect information on factors that influence the development of the Prophet Muhammad a long time before receipt of the treatise of prophecy. This type of research is the literature research, this approach because the research is related to the values of history. Then the techniques of data collection in this study using the collection of documents that support the writing of this scientific work. Later analysis of the documentation is done by using Conten analysis and interpretation of sources and interpretation of data obtained from several mufassir. Based on the framework above, it is known that the Prophet Muhammad's cognitive development in Piaget’s theory remains through the phases of age-appropriate development. Given the focus of this study is the cognitive development of the Prophet Muhammad at the age of 6-20 years, then in Jean Piaget’s perspective, there are two phases that will effect the operational phase of concrete and formal operational phase. Similarly, in the perspective of Islam, in this case the author borrows the thought of Ibn Jawzi, according his statement based on interpretations of various verses such as the Qur’an surah Al-Baqarah 132-133, Surah al-An‘am paragraphs 73 and several other verses, also mentions some of the absolute phase of development that children go through each person, including the Prophet Muhammad’s age-appropriate development. The high cognitive intelligence of the Prophet Muhammad, definitely influenced by several factors, and the results of analysis carried out stating that there are three factors that influence the development of the Prophet Muhammad are the factors of heredity (genetic), environmental factors (including geographical, and cultural values and customs applicable in the residence of the Prophet Muhammad), Allah provision factors. The author hopes that this study, continued by the next research as. Considering the many issues around education that touches many important areas of education development. Cognitive intelligence of each individual into a different level, considering the many factors that influence its development, then there should be no discrimination or affirmative attitude of the attitude which ultimately affects the stagnation or worse prolonged trauma on learning activities for self-generation individuals of the nation. ABSTRAK ARABI

    Free Space Optic MIMO pada Kondisi Hujan dan Angin di Kota Pekanbaru

    No full text
    The FSO communication system is a communication system that uses the atmosphere as a propagation medium for light, which is used as an optical source to transmit data to the receiver. Due to using the atmosphere as a propagation medium causes the FSO communication system to be susceptible to signal weakening caused by varying atmospheric attenuation. So, it is necessary to conduct research on FSO performance based on atmospheric conditions. This research carried out communication design using FSO technology in Pekanbaru City, analyzing the influence of rainy weather and wind data using FSO MIMO. After analyzing and optimizing the parameters contained in the FSO device to achieve the best FSO performance. The design simulation was carried out using optisystem software for Free Space Optics (FSO) analysis using the FSO MIMO technique in rainy and windy weather in Pekanbaru City. One of the impacts of using the atmosphere as a propagation medium is large attenuation. The variables analyzed by the researchers were the rain variable and the wind variable. If the laser uses power up to 10 mW at a frequency wave of 1550 nm. The simulation results of the four-channel FSO MIMO system are able to provide a maximum beam distance of up to 2 km in rainfall conditions and 8 km in windy conditions. This value was obtained through analysis of the BER and Q-Factor values in the simulation results.Keywords - FSO-MIMO, BER, Optisyste

    Sosialisasi Mediasi Dalam Menyelesaikan Konflik Kasus Perceraian

    No full text
    Perkawinan merupakan rahmat Allah, namun disisi lain tidak setiap orang yang membina rumah tangga akan mendapat nikmat tersebut. Bahkan dapat dipastikan bahwa setiap rumah tangga akan menghadapi berbagai masalah yang mengganggu keharmonisan dalam rumah tangga. Hambatan-hambatan dan solusi dalam pelaksanaan mediasi di Pengadilan Agama. Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk mengetahui proses mediasi di Pengadilan Agama serta Hambatan dan solusinya didalam proses mediasi. Metode penelitian menggunakam pendekatan yuridis sosiologis yaitu mengidentifikasikan dan mengkonsepsikan hukum sebagai institusi sosial yang riil dan fungsional dalam sistem kehidupan yang nyata.Spesifikasi pendekatan bersifat deskriptif analisis yang artinya menggambarkan suatu peristiwa dalam hal ini peristiwa hukum yang lazim dalam masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa Pelaksanaan mediasi di Pengadilan Agama kudus sudah berupaya untuk mendamaikan para pihak dengan menerapkan proses mediasi berdasarkan PERMA No. 1 Tahun 2016 meskipun tidak sempurna, Penghambat dari adanya mediasi disebakan oleh beberapa faktor antara lain : para pihak dalam keadaan emosi, adanya pihak ketiga, posisi para pihak yang tidak seimbang, para pihak kurang aktif dalam mediasi, keterbatasan hakim mediator. Solusi dari hambatan yang terjadi dalam mediasi adalah sebagai berikut : memberikan pencerahan akan tujuan sebenarnya perkawinan, urusan suami-istri lebih penting dari yang lain, memberitahukan resiko dan dosa yang ditanggung, serta menambah mediator bersertifikat

    MODERASI BERAGAMA DALAM TAFSIR SUFISTIK DAN RELEVANSINYA DENGAN KONSEP MODERASI BERAGAMA KEMENTERIAN AGAMA RI

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri akar-akar teologis dari konsep moderasi beragama melalui pendekatan tafsir sufistik, serta menganalisis relevansinya dengan kerangka moderasi beragama yang dirumuskan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Tiga karya tafsir yang menjadi objek kajian meliputi Ruh alMa‘ani fi Tafsir al-Qur’an al-‘Azim wa al-Sab‘i al-Matsani karya Shihab al-Din al-Sayyid Mahmud al-Alusi (1217–1270 H), Lata’if al-Isharat karya ‗Abd alKarim ibn Hawazin al-Qushayri (w. 465 H), dan Tafsir al-Azhar oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka, 1908–1981). Fokus kajian diarahkan pada tiga ayat kunci yang mencerminkan prinsip-prinsip moderasi beragama, yaitu QS. AlBaqarah [2]:143, QS. Yunus [10]:99, dan QS. Al-Nahl [16]:125. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis dalam kerangka penelitian kepustakaan (library research). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran ketiga mufassir tersebut, baik klasik maupun modern, menyuguhkan fondasi teologis yang kuat dalam mendukung moderasi beragama. Seluruhnya menolak segala bentuk ekstremisme dan kekerasan dalam beragama, menekankan prinsip keseimbangan dalam berkeyakinan dan berperilaku, serta menjunjung tinggi kebebasan beragama. Selain itu, metode dakwah yang ditawarkan bersifat bijaksana, edukatif, dan akomodatif terhadap keragaman budaya. Penemuan ini menunjukkan bahwa nilai-nilai moderasi beragama sebagaimana dirumuskan oleh Kementerian Agama RI memiliki legitimasi teologis yang kuat dalam khazanah tafsir Islam, dan sejalan dengan semangat keberagamaan yang damai, Islam yang rahmatan lil ‘alamin, serta komitmen terhadap NKRI dan Pancasila sebagai fondasi kebangsaan. Kata kunci: Moderasi Beragama, Kementerian Agama, Tafsir Sufisti

    MANAJEMEN PENANGANAN MUATAN REFRIGATED CARGO CONTAINER DI MV SAN PEDRO BRIDGE

    No full text
    Muhammad Reza Wardani, 2018, NIT: 50134882 N, “Cargo Handling Management for Refrigerated Cargo Container on MV San Pedro Bridge”, Program Diploma IV, Nautical, Merchant Marine Polytechnic of Semarang, Supervising I: Capt. Agus Hadi P, M.Mar and Supervising II: Ir. Fitri Kensiwi, M.Pd. MV San Pedro Bridge is a cargo container vessel belongs to Bernhard Schulte Shipmanagement, it is shipping reefer container inter-island through the sea. Reefer container is a special container used for loaded chilled cargo and frozen cargo which are sensitive with temperature change. This container has electronic component and refrigeration system which are depending on electricity supply, the electricity generated by generator. Because of special requirement and handling skill, this kind of container has more expensive freight cost than normal container. Author use descriptive qualitatif research method to deliver this thesis. In this research, author will explain the obstacle when reefer container loaded on the vessel. The problems that frequently happen in shipping reefer containers could lead to damaged cargo and rotten cargo. Based on the problems, author makes this research in purpose to review and find out the preparation before loading reefer container on board by the crew and to find out cargo handling and maintenance for reefer container on board MV San Pedro Bridge during voyage in order to avoid cargo claim. Based on the results of research which has been done on the MV San Pedro Bridge from 3 February 2016 up to 7 December 2016, author concludes 1) Cargo handling for refrigerated cargo container before loaded on board should be done according to Bernhard Schulte Shipmanagement (BSM) Container Ship Manual, to make sure reefer container loaded safely and properly. 2) Make sure all connection and electricity supply sufficient, good communication and good team work among all parties (crew on board, charter, and shore), and daily routine to check all reefer container still work properly. Keywords: reefer container, temperature, cargo clai

    LOAD FORECASTING USING ARTIFICIAL INTELIGENCE TECHNIQUE

    No full text
    Forecasting for electricity load is of paramount importance for the efficient and safe management of any electrical generation system for any enterprise or any country. Realizing the increasing importance of load forecasting in power systems, the author decided to do a study on this important subject as fulfillment of his Final Year Project work at UTP and thereafter implementing Artificial Neural Network Teclmique to forecast one week load for Universiti Teknologi Petronas (UTP). The implementation for the real electricity load forecast was carry out by using MA TLAB software. At the end of this report, the author shall also discuss his findings on Load Forecasting

    KEPERCAYAAN DAN KOMITMEN DALAM PERSPEKTIF FRANCHISEE PADA WARALABA LOKAL AYAM GORENG DI MAKASSAR

    No full text
    Salah satu usaha waralaba yang banyak ditemukan di kota Makassar adalah waralaba lokal ayam goreng. Selain bahan baku yang mudah didapat, pengolahan ayam goreng cukup mudah serta diminati konsumen. Tujuan dari penelitian adalah untuk melihat variabel kepercayaan dan komitmen mampu membantu dalam membangun hubungan antara franchisor dan franchisee. Variabel kepercayaan dan komitmen ini dijabarkan dalam beberapa dimensi yang kemudian dijelaskan dalam beberapa indikator. Dimensi variable kepercayaan yaitu kelengkapan outlet/gerai, cara penjelasan kontrak, pemberian hadiah, komunikasi serta hal yang dibicarakan dalam komunikasi. Dimensi variable komitmen yaitu sikap franchisor, waktu pembayaran bahan baku, cara pembayaran, waktu penerimaan bahan baku serta dukungan franchisor terhadap pendapat franchisee. Populasi dalam penelitian ini adalah pemilik dari usaha waralaba ayam goreng BFC, C’Bezt Fried Chicken dan Quick Fried Chicken. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode sensus dimana semua populasi franchisee dari ketiga merek tersebut. Namun, hanya 52 orang franchisee yang bersedia diwawancarai menggunakan kuisioner dari ketiga merek waralaba tersebut. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dimensi komunikasi pada variable kepercayaan merupakan dimensi yang paling penting untuk diperhatikan dalam menumbuhkan kepercayaan franchisee terhadap franchisor sedangkan untuk variable komitmen, dimensi sikap franchisor merupakan yang paling penting diantara keempat dimensi lainnya
    corecore