6 research outputs found
Keistimewaan Manusia (Analisis Pesan Dakwah Felix Siauw dalam Video Youtube Kajian Islam Rahmatan Lil Alamin)
Abstract
This article will discuss the idiosyncrasy of humans by using a qualitative method and descriptive analysis approach. According to Felix Siauw in understanding the potential of human life should be dissected in advance about human nature and the factors that influence it. After that can be aware of potential human life that is at once a privilege of the human. Among the privileges of man, namely physical needs, instincts, sense and mind, and nature for days. The purpose of this Article review about understanding the verses of the Qur'an and the message of da'wah put forward by Felix Siauw in channel Youtube Felix Siauw. How Felix Siauw in explaining the nature of privileges human. How faceted shape of the idiosyncrasy of man according to Felix Siauw, functionality, and usability to determine the potential of human life in the context of the present. The study will be reviewed from the perspective of maqasid of shari'ah especially related to the message verses of the Qur'an.
Keywords: Idiosyncrasy, Human, Potential, Life.
Abstrak
Artikel ini akan membahas keistimewaan manusia dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan analisis deskriptif. Menurut Felix Siauw dalam memahami potensi kehidupan manusia harus dibedah terlebih dahulu tentang hakikat manusia dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Setelah itu, dapat diketahui potensi kehidupan manusia yang sekaligus menjadi keistimewaan manusia. Diantara keistimewaan manusia yaitu kebutuhan jasmani, naluri, akal dan pikiran, dan fitrah untuk bertauhid. Tujuan Artikel ini mengkaji tentang pemahaman ayat al-Qur’an dan pesan dakwah yang dikemukakan oleh Felix Siauw dalam chanel Youtube Felix Siauw. Bagaimana cara Felix Siauw dalam menjelaskan hakikat keistemewaan manusia. Bagaiamana ragam bentuk keistimewaan manuia menurut Felix Siauw, fungsi dan kegunaan untuk mengetahui potensi kehidupan manusia dalam konteks kekinian.Kajian tersebut akan dikaji dalam perspektif maqasid syari’ah terutama terkait pesan ayat al-Qur’an.
Kata kunci : Keistimewaan, Manusia, Potensi, Hidup
MANUSKRIP AL-QUR’AN KOLEKSI MUSEUM WAYANG BEBER SEKARTAJI: KAJIAN KODIKOLOGI, RASM, DAN QIRA’AT
Penelitian ini mengungkap karakteristik manuskrip Al-Qur'an dengan pendekatan kodikologi, rasm, dan qira’at. Studi terfokus pada Mushaf Al-Qur’an Museum Wayang Beber Sekartaji (QWBS), dengan analisis yang menunjukkan bahwa pemiliknya bukanlah orang biasa. Indikasi tersebut diperkuat dengan penggunaan kertas Eropa, yang mengisyaratkan bahwa pemiliknya berasal dari kelompok sosial menengah ke atas atau kalangan bangsawan. Standar tinggi iluminasi, yang terlihat dari bingkai ornamen dan penggunaan warna mewah, juga mendukung indikasi ini. Dari segi rasm, Mushaf QWBS cenderung mengikuti rasm usmani riwayat ad-Dani (w. 444), meskipun terdapat inkonsistensi di beberapa tempat. Adapun qira’at yang digunakan cenderung mengikuti ‘Ashim (w. 745/6) riwayat Ḥafṣ (w.796), namun juga menunjukkan ketidakonsistenan. Kecenderungan rasm dan qirā’āt terhadap salah satu riwayat imam mazhab mengindikasikan bahwa Mushaf disalin oleh individu yang memiliki pengetahuan agama atau berasal dari kalangan santri. Analisis kodikologi menunjukkan bahwa pemilik Mushaf QWBS kemungkinan besar adalah seseorang dengan strata ekonomi menengah ke atas atau dari kalangan bangsawan. Bila dibandingkan dengan Mushaf Kanjeng Kyai Qur’an (KKQ), terdapat banyak kesamaan dalam karakter kodikologi, seperti standar iluminasi tinggi yang terlihat dari bingkai ornamen dan penggunaan warna mewah. Ragam hias flora dalam iluminasi menunjukkan bahwa kedua Mushaf berasal dari Jawa. Pendapat Gallop mendukung kesamaan ini dengan menunjukkan bahwa iluminasi pagĕran terluar yang membingkai kedua teks Mushaf adalah standar tinggi yang tidak digunakan sembarang orang. Analisis usia kertas menunjukkan bahwa Mushaf QWBS berasal dari abad ke-18 atau diproduksi dalam periode yang berdekatan dengan KKQ. Kesamaan karakter kodikologi antara kedua Mushaf ini berujung pada kesimpulan bahwa kedua mushaf berasal dari skriptorium atau tempat penyalinan naskah yang sama
MANUSKRIP AL-QUR’AN DAN TERJEMAH JAWA K.H. BAKRI KOLEKSI MASJID BESAR PAKUALAMAN: Sejarah, Karakteristik, dan Identitas
Kajian tentang normatif Islam di Jawa umumnya terkonsentrasi pada
muslim perkotaan dan modernis (Islam wilayah pesisir), atau pesantren sebagai
perwakilan Islam ortodoksi, hingga terabaikan Islam seperti yang dipraktekan di
desa-desa (Islam wilayah pedalaman). Pada saat yang bersamaan, Clifford Geertz
dan sarjana barat lainnya membedakan Islam di tanah Jawa menjadi santri (Islam
pesisir) dan abangan (Islam pedalaman) yang menimbulkan berbagai kontroversi.
Kedua hal ini memunculkan stigma di masyarakat bahwa Islam wilayah pesisir
lebih otoritatif daripada Islam wilayah pedalaman. Adanya kajian ini berusaha
menyanggah distingsi Clifford Geertz dan sarjana barat lainnya tentang Islam di
Jawa bahwa Islam wilayah pesisir dan pedalaman adalah sama berlandaskan kajian
manuskrip Al-Qur'an yang baru ditemukan di Masjid Besar Pakualaman, dimana
pada awal Islamisasi Jawa termasuk kedalam Islam wilayah pedalaman.
Penelitian ini memilih objek kajian manuskrip Al-Qur’an Kiyai Haji Bakri
dengan pendekatan filologi yang berorientasi mengungkap karakteristik manuskrip.
Alasan memilih objek kajian ini didasarkan atas 3 hal: pertama, secara historis
manuskrip Al-Qur’an yang dikaji memiliki historisitas yang jelas; kedua, naskah
tidak seperti mushaf Al-Qur’an pada umumnya yang terdiri dari tiga jilid beserta
terjemahnya; ketiga, kajian naskah Al-Qur’an di lingkungan keraton dapat
dikatakan terabaikan karena minimnya sumber daya manusia yang mengusai ilmu
filologi Qur’an. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analisis dengan
jenis data yang dipakai dalam kajian ini adalah data literatur primer dan sekunder
yang berkaitan dengan tema pokok seperti karya Filologi Indonesia: teori dan
metode oleh Oman Fathurahman. Data sekunder berkaitan dengan sejarah, budaya,
sosial keagamaan masyarakat Islam di tanah Jawa.
Hasilnya, relevansi Al-Qur'an terhadap wacana distingsi Clifford Geertz
dan sarjana barat lainnya tentang Islam di tanah Jawa, diantaranya; 1) Islam yang
berkembang di Kadipaten Pakualaman (priyayi) yang termasuk kedalam wilayah
pedalaman pada masa awal pribumisasi Islam, tidak se-animistis yang dijelaskan
oleh Geertz dan sarjana barat lainnya, mereka menerima ajaran Islam melalui
serangkaian nalar dialetika, dan mempelajari keilmuan yang juga berkembang di
kalangan santri; 2) karena kondisi demikian, secara tidak langsung bahwa Islam
yang berkembang di Kadipaten Pakualaman merupakan Islam yang disebarkan oleh
kalangan santri, sehingga distingsi Geertz dan sarjana barat lainnya yang general
tidak dapat dibenarkan untuk Islam yang berkembang di Kadipaten Pakualaman; 3)
Argumen bahwa muslim Jawa di lingkungan Kadipaten Pakualaman mempelajari
vi
Islam dengan sungguh-sungguh terlihat dari upaya koreksi inkonsistensi qirā’āt,
penggunaan ragam bahasa yang berbeda ketika membahasakan Tuhan sebagai
subjek pembicara juga sebaliknya yang mengindikasikan mereka memahami
konteks dan kedudukan pembahasan ayat, sehingga secara stratifikasi sosial mereka
menggunakan ragam bahasa kromo sebagai perhormatan tertinggi dalam
membahasakan kepada Allah
Reinterpretasi Q.S. Al-Baqarah 142-143 Perspektif Tafsir Maqashidi
The heterogeneity of Indonesian residents is a necessity that often causes social conflict. One of them is the difference in the meaning of religious texts which leads to exclusive movements in the name of religion. This paper wants to offer a practical offer of religious moderation to reduce social conflict in the name of religion by examining Q.S. al-Baqarah [2]:142-143 maqashidi interpretation perspective. This study uses the library method. The data were processed using descriptive-analytical techniques to be explored and interpreted later. The results are 1) through this verse, Allah implicitly says to stay away from the character of sufahā, namely to deny the truth out of interest; 2) the term wasath in Q.S. al-Baqarah [2]: 142-143 interpreted as a balance in all aspects of life with the principle of moderation; and 3) This verse places a person who has wasath character at the highest level, namely being a role model for the people and has the right to decide matters in societ
KRITIK PENUNDAAN PERNIKAHAN DALAM UPAYA PENCEGAHAN PENYEBARAN COVID-19 (SEBUAH KAJIAN PERSPEKTIF MAQASHID SYARI’AH)
Artikel ini akan mengkaji tentang hadis anjuran menikah, hukum-hukum menikah, pemaknaan dan implementasinya ketika pandemi. Selain itu, juga merespon beberapa tulisan yang mengkaji tentang penundaan pernikahan dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode kualitatif. Sumber yang menjadi bahan data kajian ini berasal dari ketersediaan data di perpustakaan (library search). Mekanisme untuk mengelola data yang terkumpul dengan cara analisis isi (content analysis). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas, dan merespon beberapa artikel yang mengkaji penundaan pernikahan dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Hasilnya adalah penundaan pernikahan dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19 tidak dapat dipukul rata untuk umat Islam, terkhusus bagi orang yang dalam kondisi wajib untuk menikah tidak dapat ditunda karena dikhawatirkan terjerumus melakukan zina. maka diperlukan kebijakan yang dapat menyelesaikan kedua persoalan tersebut dengan memerhatikan prinsip maqashid sya’riah. salah satu solusi yang diusulkan adalah pernikahan dengan sesederhana mungkin dan mengundang tamu secara daring untuk menghadiri acara pernikahan. Kemudian, bagaiamanakah solusi selanjutnya untuk persoalan antara menunda pernikahan, menghindari zina, dan mencegah penyebaran Covid-19. Kajian ini akan dibedah dalam perspektif ma’anil hadis dan maqashid syari’ah
The Perspective of Al-Qur’an in Responding to Family Education in the Era of Industrial 4.0
The industrial revolution is a period in which technology is increasingly advanced accompanied by increasingly significant changes in the social, economic, and cultural fields. Communication technology is not only defined as a means of communication but can lead to the educational process. This brings great challenges for parents. Parents have to learn many things in order to direct their children to face the challenges in this era. So that children are able to take advantage of the development and progress of their time. The purpose of this study is to find out some verses of the Qur'an as a solution to the problems faced by families in the industrial era 4.0. This research was conducted by means of a literature study. The reference sources used are primary sources from a number of books and books as well as secondary sources from relevant journals. The result of this study is that the Qur'an explains the importance of cooperation between husband and wife to achieve family education, namely fostering the generation of qurratu a'yun, pious and pious generations. To face challenges in the industrial era 4.0, parents need to instill basic religious education to their children, namely Aqidah (faith), Knowledge of Halal and Haram, Moral Education, Worship Education, and skills education. This is an effort so that children can adapt to their times in accordance with applicable norms. The purpose of this study is to find out some verses of the Qur'an as a solution to the problems faced by families in the industrial era 4.0. This type of research is a literature study. The industrial revolution is a period in which technology is advancing, accompanied by increasingly significant changes in the social, economic, and cultural fields. This brings great challenges for parents. Parents have to learn many things in order to direct their children to face the challenges in this era. The results of this study are the family is the main basis in shaping the nation's generation and religion. Parents need to provide values as the role models for children. The pattern of this education is carried out through family education in order to create a generation that is able to respond to the challenges of the industrial era 4.0 in accordance with the teachings of Qur'an and Hadith. Hence, parents need to instill the basics of religious education to their children, namely Aqidah (faith), Fiqh, Moral, Worship, and skills education. This is an effort so that children can adapt to their times in accordance with applicable norms.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui beberapa ayat Al-Qur’an sebagai solusi dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi keluarga di era industri 4.0. Jenis penelitian ini adalah studi literatur. Revolusi industri merupakan masa di mana teknologi semakin maju disertai dengan semakin signifikan perubahan pada bidang sosial, ekonomi, dan budaya. Hal ini membawa tantangan besar bagi orang tua. Orang tua harus mempelajari banyak hal agar dapat mengarahkan anaknya untuk menghadapi tantangan di era ini. Hasil dari penelitian ini adalah keluarga merupakan basis utama dalam membentuk generasi bangsa dan agama. Orangtua perlu memberikan nilai-nilai yang bisa menjadi teladan bagi anak-anak. Pola pendidikan tersebut dilakukan melalui pendidikan keluarga agar terwujud generasi yang mampu merespon tantangan era industri 4.0 yang sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Hadis. Maka orangtua perlu menanamkan dasar pendidikan agama kepada anak yaitu Aqidah (faith), Fiqh, Akhlak, Ibadah, dan pendidikan keterampilan. Hal ini merupakan upaya agar anak mampu beradaptasi dengan zamannya sesuai dengan norma yang berlaku
