1,720,975 research outputs found
Jenis Kupu-Kupu (Papilionoidea) Potensial Sebagai Biondikator Kondisi Lingkungan Hutan Kota
Kupu-kupu (Papilionoidea) merupakan serangga yang memiliki berbagai peran ekologis dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta dapat ditemukan di berbagai macam tipe habitat mulai dari kawasan hutan hingga perkotaan. Kawasan perkotaan menunjukkan berbagai gejala penurunan kondisi lingkungan yang diindikasi dapat mengancam keberadaan komunitas biotik pada kawasan tersebut. Kupu-kupu memiliki sensitifitas dan spesifisitas terhadap kondisi lingkungan tertentu sehingga berpotensi sebagai biondikator kondisi lingkungan.Ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan, khususnya hutan kota, berpotensi sebagai habitat kupu-kupu namun kondisinya mengalami berbagai tekanan lingkungan sehingga menunjukkan urgensi untuk dilakukannya pengkajian mengenai hubungan antara kondisi ekologis hutan kota dengan keberadaan kupu-kupu sebagai organisme indikator.
Tujuan penelitian ini antara lain: (1) menganalisis variabilitas parameter lingkungan dan komunitas kupu-kupu di berbagai tipe, karakteristik habitat, dan gangguan lingkungan hutan kota, (2) menganalisis hubungan antara karakteristik lingkungan hutan kota dengan komunitas kupu-kupu, (3) menentukan jenis kupu-kupu yang berpotensi sebagai biondikator kondisi lingkungan hutan kota. Pengambilan data dilakukan pada bulan Oktober 2014 hingga Januari 2015 pada tiga periode (musim hujan, peralihan musim kemarau ke hujan, dan musim hujan) di empat hutan kota di Kotamadya Jakarta Timur yang dipilih berdasarkan kesesuaiannya dengan berbagai tipe hutan kota dan potensi gangguan lingkungan. Pengamatan komunitas kupu-kupu dilakukan dengan metode Pollard Transect sedangkan parameter lingkungan yang diukur terdiri atas suhu udara, kelembapan udara, intensitas cahaya, kecepatan angin, kekayaan jenis tumbuhan pakan, leaf area index, konsentrasi Timbal (Pb), kadar Total Suspended Particulate (TSP), jarak dari jalan raya, serta jarak dari area sumber gangguan.
Penelitian ini mengidentifikasi sebanyak 22 jenis kupu-kupu yang terbagi ke dalam 4 famili dengan Eurema hecabe sebagai jenis dengan kelimpahan relatif tertinggi dan ditemukan pada keseluruhan hutan kota dan periode pengamatan. Hutan kota pada kawasan permukiman serta periode pengamatan peralihan memiliki nilai rata-rata parameter komunitas tertinggi. Keanekaragaman jenis kupu-kupu meningkat seiring dengan meningkatnya kekayaan jenis tumbuhan pakan, leaf area index, dan jarak dari area sumber gangguan. Di sisi lain, keanekaragaman jenis menurun seiring dengan meningkatnya intensitas cahaya dan kecepatan angin. Hutan kota dengan potensi gangguan rendah memiliki kekayaan dan keanekaragaman jenis lebih tinggi. Ypthima horsfieldii dan Polyura hebe merupakan jenis spesialis dengan persyaratan parameter lingkungan paling banyak yang mempengaruhinya sehingga keberadaannya menandakan habitat dengan gangguan rendah sedangkan Papilio demoleus merupakan jenis habitat spesifik yang dapat beradaptasi serta menandakan habitat terganggu
Pemanfaatan Vegetasi dalam Pengembangan Green Infrastructure sebagai Upaya Mitigasi Urban Heat Island pada Kawasan Perkotaan
Kawasan perkotaan merupakan pusat berbagai aktivitas sosial maupun ekonomi masyarakat sehingga perkembangan area pemukiman, industri maupun infrastruktur penunjang kebutuhan masyarakat berkembang dengan sangat pesat. Perkembangan tersebut mengakibatkan terjadinya penyusutan area hijau yang diakibatkan oleh perubahan penggunaan lahan dari area terbuka hijau menjadi lahan terbangun. Selain itu, kawasan perkotaan juga menghadapi berbagai tekanan lingkungan antara lain polusi udara dan air, hilangnya habitat alami flora maupun fauna, permasalahan limbah dan sampah, maupun peningkatan suhu udara. Aktivitas antropogenik merupakan salah satu faktor yang menyebabkan berbagai permasalahan lingkungan tersebut, keberadaan berbagai bangunan, jalan raya, maupun ruang terbuka dengan permukaan yang berbeda-beda menghasilkan pola iklim mikro yang beragam serta memengaruhi kualitas udara pada area tersebut. Pada saat ini terjadi fenomena peningkatan suhu udara yang umum terjadi pada berbagai kota di seluruh dunia. Peningkatan suhu udara tersebut merupakan dampak dari terjadinya pulau bahang (urban heat island) dan perubahan iklim (climate change). Urban Heat Island (UHI) merupakan kondisi di mana terjadinya peningkatan suhu rata-rata yang signifikan di kawasan perkotaan dibandingkan dengan area di sekitarnya maupun area suburban (Tursilowati, 2002; Voogt & Oke, 2003) (Gambar 1). Hal tersebut disebabkan karena kawasan perkotaan didominasi oleh bangunan yang bersifat menyerap panas serta terdapat berbagai aktivitas antropogenik yang menghasilkan panas, di sisi lain, area pinggiran kota biasanya masih didominasi oleh area bervegetasi serta masih sedikit area terbangun. Emisi gas rumah kaca yang dikeluarkan oleh berbagai aktivitas antropogenik juga berkontribusi menyebabkan peningkatan suhu permukaan bumi. Pada saat ini terjadi peningkatan suhu global yang mengakibatkan terjadinya perubahan iklim secara keseluruhan sehingga memperburuk terjadinya peningkatan suhu pada kawasan perkotaan di seluruh dunia. Perubahan iklim menyebabkan beberapa permasalahan lingkungan antara lain terjadinya pola cuaca yang ekstrem, gelombang panas, serta memperburuk efek dari UHI sehingga berdampak lebih besar bagi masyarakat perkotaan. Di sisi lain, pengelolaan kawasan perkotaan di negara berkembang masih belum banyak yang mempertimbangkan efek UHI dalam perencanaan pengembangan dan kebijakan pengelolaan (Emmanuel, 2004)
Karakteristik dan Preferensi Habitat Penyu dalam Membuat Sarang Alami untuk Peneluran
This study aims to examine the characteristics and environmental factors of turtles\u27 preferences in making their natural nests. The method used is the descriptive quantitative method. The results showed that there were two types of turtles found during the observation, namely the green turtle (Chelonia mydas) and the hawksbill turtle (Eretmochelys imbricata). Measurements and observations of the characteristics of the 14 nesting points showed that the diameter and depth of the green turtle\u27s nest were larger than those of the hawksbill turtle. Both types of turtles have a preference for nesting areas on sloping beaches with temperatures of 28-30ºC and humidity of 76-89%, as well as being around vegetation in the form of sea pine (Casuarina equisetifolia), sea oyster (Gynura sp), sea pandanus (Pandanus odorifer), sea kangkung (Ipomea peltate) and sea hibiscus (Thespesia populnea). In conclusion, temperature, humidity and types of vegetation around the nest determine the turtle\u27s preference in making natural nests for laying eggs.
Keywords: Nest Characteristics, Conservation, Turtle, Habitat Preferenc
PENDIDIKAN LINGKUNGAN PEMBUATAN ECOENZYME SEBAGAI ALTERNATIF PENGOLAHAN LIMBAH ORGANIK DI SD KALAM KUDUS PONTIANAK
Abstrak: Pendidikan lingkungan adalah salah satu cara efektif untuk membentuk perilaku dan sikap manusia dalam menjaga kelestarian lingkungan. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan dalam pendidikan lingkungan adalah pengelolaan sampah organik melalui pembuatan ecoenzyme. Ecoenzyme terbuat dari limbah organik seperti kulit buah dan sayuran yang difermentasi dan dapat diolaj menjadi berbagai produk yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa, khususnya di SD Kalam Kudus, mengenai pentingnya pengolahan limbah organik menjadi ecoenzyme. Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan pelatihan yang mencakup teori dan praktik, yang didukung dengan survei awal untuk mengetahui pengetahuan dasar siswa, serta observasi lingkungan belajar. Hasil dari pelatihan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan antara pre-test dan post-test yang diikuti oleh siswa dari rata-rata skor pre-test hanya mencapai 62% dan saat post-test meningkat menjadi 86,26%. Pelatihan ini berhasil meningkatkan pemahaman siswa tentang ecoenzyme, manfaatnya, dan bagaimana cara membuatnya, yang menunjukkan antusiasme siswa dalam mengaplikasikan pengetahuan yang mereka peroleh. Selain itu, pelatihan ini juga meningkatkan kesadaran lingkungan siswa, mendorong mereka untuk mengurangi sampah di rumah dan sekolah. Dengan hasil ini, diharapkan kegiatan serupa dapat diperluas dan diterapkan di berbagai sekolah untuk memberikan dampak positif terhadap pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan.Abstract: Environmental education is one of the effective ways to shape human behavior and attitudes in preserving the environment. One approach that can be applied in environmental education is organic waste management by manufacturing eco enzymes. Ecoenzyme is made from fermented organic waste, such as fruit and vegetable peels, which can be processed into various helpful products in everyday life. This activity aims to increase the knowledge and awareness of students, especially at SD Kalam Kudus, regarding the importance of processing organic waste into eco enzymes. The implementation of this activity involves training that includes theory and practice, which is supported by an initial survey to determine students' basic knowledge, as well as observation of the learning environment. The training results showed a significant increase in knowledge between the pre-test and post-test attended by students. The average pre-test score only reached 62%, and it increased to 86.26% during the post-test. The training improved students' understanding of ecoenzyme, its benefits, and how to make it, which showed students' enthusiasm in applying the knowledge they gained. In addition, the training also increased students' environmental awareness, encouraging them to reduce waste at home and school. With these results, it is hoped that similar activities can be expanded and implemented in various schools to impact waste management and environmental conservation positively
Tingkat Kenyamanan Termal Ruang Terbuka Hijau dengan Pendekatan Temperature Humidity Index (THI)
This study aims to examine the level of thermal comfort of Tanjungpura University\u27s green open space. The method used is to measure air temperature and humidity at seven green open spaces with three observation periods and then analyze it by calculating the Temperature Humidity Index (THI) value at each location. The results showed that the overall thermal comfort of green open space was still in the uncomfortable and partially uncomfortable category, with THI values between 25.61 to 28.93. In conclusion, there is a need for the development and enrichment of green open space vegetation in the Tanjungpura University area to increase thermal comfort for the academic community.
Keywords: Thermal Comfort, Green Open Space, Temperature Humidity Inde
A STRATEGY FOR DEVELOPING A DISTINCTIVE MOTIF FOR WEST KALIMANTAN ECO PRINT PRODUCTS USING THE POUNDING METHOD AND UTILIZING LOCAL PLANT DYES
Abstrak: Menurunnya kesadaran dan kerusakan lingkungan di era modern ini menyebabkan kurangnya wawasan tentang teknologi ramah lingkungan. Penggunaan pewarna tekstil dalam industri merugikan lingkungan dan kesehatan. Oleh karena itu, untuk menghindari dampak pencemaran lingkungan yang lebih signifikan, perlu digunakan teknologi pewarna alternatif yang ramah lingkungan. Produk Eco Print adalah solusi untuk masalah ekologi yang semakin memburuk. Oleh karena itu, kegiatan ini berfokus pada kelompok masyarakat Kampung Batik Kamboja yang terdiri dari masyarakat dan pengrajin batik di Kota Pontianak. Kegiatan ini merupakan sarana untuk meningkatkan produktivitas industri tekstil tanpa merusak ekologi lingkungan sekitar. Tahap awal tindakan adalah melakukan survei pendahuluan dengan melakukan wawancara dengan pengelola, memberikan edukasi cara membuat pewarna alami dengan teknik menumbuk, dan tahap terakhir adalah mengevaluasi pengetahuan peserta. Berdasarkan hasil kegiatan yang dilakukan, terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan kelompok masyarakat tentang teknik tumbuk dan pemanfaatan eco print. Kegiatan ini menjadi pendorong bagi kelompok masyarakat Kampung Batik Kamboja untuk berinovasi dalam pembuatan seni tekstil batik dan mengembangkan jenis tumbuhan Kalimantan Barat yang dapat digunakan sebagai pewarna alami.Abstract: The decreasing environmental damage and awareness in this modern era have caused less insight into environmentally friendly technologies. The use of textile dyes in the industry harms the environment and health. Therefore, to avoid a more significant impact on environmental pollution, it is necessary to use an alternative dye technology that is environmentally friendly. Eco Print Products are the solution to the ever-worsening ecological problems. Therefore, this activity focuses on the Kampung Batik Kamboja community group, consisting of the community and batik artisans in Pontianak City. This activity is a means to increase the productivity of the textile industry without damaging the ecology of the surrounding environment. The initial stage of the action is to conduct a preliminary survey by conducting interviews with managers, providing education on how to make natural dyes with the pounding technique, and the final stage is to evaluate participants' knowledge. Based on the results of the activities carried out, there is an increase in knowledge and skills for community groups about the pounding technique and the use of the eco print. This activity became the impetus for the Kampung Batik Kamboja community group to innovate in the manufacture of batik textile art and develop West Kalimantan plant species that can be used as natural dyes
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
