5 research outputs found
Metode Montessori untuk Mengatasi Kesulitan Membaca Siswa
Reading ability is a fundamental skill for Madrasah Ibtidaiyah students, as it serves as the foundation for understanding various subjects. Based on observations in grade II at MI Sabilul Huda, several students were found to experience reading difficulties, such as being slow in recognizing letters, struggling to pronounce syllables fluently, and lacking comprehension of simple texts. This study aims to examine the implementation of the Montessori method and its effectiveness in addressing reading difficulties, as well as to describe the improvement in students’ reading ability after the intervention. The research employed a quantitative approach with a single-subject experimental design type A–B. The subjects consisted of three grade II students selected through purposive sampling. Data were collected through reading tests (pretest and posttest), observation, and documentation, then analyzed using descriptive statistics, visual graphs, and PND (Percentage of Non-overlapping Data) analysis. The results showed that the Montessori method was implemented gradually, starting from letter recognition to reading short texts with comprehension, using concrete media such as letter cards, syllable cards, sandpaper letters, and picture books. The intervention improved the average reading score from 18.67 to 32.67 (an increase of 28% from the maximum score), with a PND of 100%, indicating very high effectiveness. Therefore, the Montessori method proved to enhance students’ fluency, accuracy, and independence in reading, and is considered a viable alternative strategy for teaching beginning reading at the elementary or Madrasah Ibtidaiyah level
Perlindungan Hukum Bagi Konsumen Terhadap Perjanjian Baku Yang Mengandung Klausula Eksonerasi Pada Resi Pengiriman Barang PT Indah Yatama Pekanbaru
Freight forwarding service is one of the services that are needed by the community to facilitate sending goods between cities and between countries. Various services offered by this service, both in terms of timeliness to various types of guarantees for service users. However, in practice, these shipping companies are often not carried out in accordance with what was promised and of course consumers are ultimately disadvantaged. The shipping company apparently included an exoneration clause in the goods delivery agreement. In essence, an exoneration clause is used to create an appropriate division of risk between businesses and consumers. However, the exoneration clause is often misused by businesses to reduce, transfer or even remove responsibility. The main problem of this research is whether the legal protection for consumers against the standard agreement with the exoneration clause in the shipping receipts of PT Indah Yatama Pekanbaru and whether the form of responsibility of PT Indah Yatama Pekanbaru as a business actor against consumer losses. This type of research belongs to the category of observational research while its nature is descriptive analysis, which by providing an overview of various applicable laws and regulations related to legal theory and the practice of applying positive law related to the problem under study. The legal facts found in this study were analyzed based on existing theories to get a comprehensive and systematic picture of the application of the exoneration clause in a standard agreement in accordance with the Civil Code and Law Number 8 of 1999 concerning Consumer Protection. In the goods delivery agreement by PT Indah Yatama Pekanbaru there are several clauses that meet the elements of Article 18 of the UUPK governing the inclusion of standard clauses, both from the substantive and technical aspects. In the guidelines and terms of delivery of goods by PT Indah Yatama Pekanbaru that meets the elements of the UUPK substantive limits, especially regarding the transfer of responsibility and / or regulation of consumer compliance with a new rule. In addition, the use of letters in the standard clause used is too small to be easily read, and the placement of these clauses is also less visible, because it is placed behind the consignment note of the shipment of goods. Therefore substantively there are clauses that are null and void by law and need to be adjusted to the provisions in the UUPK, and technically, according to the author, all of these clauses are null and void and must be adjusted according to the provisions in the UUPK
CIVIC TOLERAN DALAM TRADISI PERANG TOPAT DI DESA LINGSAR, KECAMATAN LINGSAR, LOMBOK BARAT
Tradisi Perang Topat bukan hanya sebagai symbol keberagaman anatara uamt Hindu dan Islam, tetapi juga sebagai wujud nyata dari prinsip civic toleran atau toleransi sosial yang mengedepankan penghormatan terhadap perbedaan. Tradisi ini juga mencerminkan manifestasi nilai-nilai Pancasila, terutama sila ketiga yaitu, persatuan Indoesia.Nilai persatuan diwujudkan melalui kerja sama atar kedua etnis dalam mengadakan upacara adat tersebut. Oleh karena itu, tujuan penelituian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk kerja sama umat Hindu dan Islam dalam mengadakan tradisi Perang Topat. Penelitian ini menggunakan jenis kualitatif. Istrumen pengumpulan data berupa daftar pertanyaan, alat tulis, dan alat perekam. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan cara pengumpulan data, reduksi data dan klasifikasi data, tampillan data, dan terakhir menarik kesimpulan. Hasil dari penelitian ini, bentuk kerjasama dari dua etnis ini dilakukan melalui empat tahapan yaitu, persiapan, pembukaan, acara inti, dan penutup. Tahap persiapan kerja samanya terlihat dengan adanya musyawarah dan gontong royong. Acara inti, Mereka bekerja sama dalam berbagai tahap, seperti miak pesaji, nyerahang tupat, mendak pesaji, ngaturang pesaji, dan melaksanakan Perang Topat. Penutupan upacara Perang Topat dilakukan dengan acara beteteh dan dlanjutkan berjalan Bersama ke Sarasutah.
 
PERAN EKSTRAKURIKULER GENDANG BELEQ DALAM MEMPERKUAT IDENTITAS NASIONAL PADA KALANGAN PELAJAR DI SMAN 8 MATARAM
Pada masa modern ini, kurangnya apresiasi terhadap seni tradisional terutama kesenian Gendang Beleq di kalangan generasi muda terutama pelajar, mereka lebih pada budya pop dan hiburan global yang lebih mudah diakses. Ekstrakurikuler Gendang Beleq sebagai media untuk melestarikan dan memperkenalkan kesenian Gendang Beleq kepada pelajar. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan ekstrakurikuler Gendang Beleq di SMAN 8 Mataram dalam memperkuat identitas nasional pada kalangan pelajar dan untuk mengetahui nilai dan manfaat yang terkandung dalam kegiatan ekstrakurikuler tersebut. Metode penelitian menggunakan Jenis kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan cara, mengumpulkan data, mengelompokkan dan meyederhanakan data (reduksi data), penyajian data dengan menyusun sekumpulan informasi, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan ekstrakurikuler Gendang Beleq dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu; 1). Tahap perkenalan, 2). Tahap Paktik, 3). Tahap Kolaborasi, 4).Tahap Evaluasi. Dalam ekstrakurikuler kesenian Gendang Beleq mengandung nilai-nilai yaitu; 1) Nilai kesenian, 2) Nilai Sejarah, 3) Nilai kebersamaan atau sosial, 4). Nilai Multikultural. Kegiatan ekstrakurikuler tersebut memberikan manfaat untuk memperkuat identitas nasional pada kalangan pelajar, karena melalui keterlibatan dalam kesenian pelajar memperoleh pemahaman langsung dan mendalam tentang budaya lokal (Gendang Beleq), yang merupakan bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia, serta sebagai simbol keunikan dan keragaman budaya Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan.
 
EKONOMI MONETER SYARIAH
Ekonomi Moneter Islam adalah cabang ilmu ekonomi yang mengelola uang, kebijakan moneter, dan sistem keuangan berdasarkan prinsip syariah. Sistem ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan distribusi kekayaan yang adil, keseimbangan sosial, dan keberlanjutan.
Islam menawarkan sistem ekonomi yang mendasar dan berbeda dari sistem-sistem ekonomi yang ada saat ini. Sistem ini berakar pada syariat, yang membentuk cara pandang, tujuan, dan strategi yang unik, berbeda dari pendekatan sekuler yang dominan. Sistem ekonomi Islam mensyaratkan bahwa dalam hal pendistribusiannya harus dilandaskan pada dua hal, yaitu kebebasan dan keadilan.
Prinsip dasar yang membedakan ekonomi moneter Islam dari ekonomi moneter konvensional terletak pada landasannya, yaitu berakar pada nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur'an dan Hadits. Dalam ekonomi Islam, untuk memastikan agar sistem moneter dapat berfungsi secara optimal, otoritas moneter memiliki tanggung jawab yang besar dalam melakukan pengawasan menyeluruh terhadap keseluruhan sistem keuangan. Pengawasan ini tidak hanya berfokus pada aspek administratif, tetapi juga mencakup pengendalian berbagai aktivitas ekonomi agar tetap sesuai dengan prinsip-prinsip syariah
