180 research outputs found
TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PENGGUNAAN SEPEDA LISTRIK DI JALAN RAYA BERDASARKAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR 45 TAHUN 2020
ABSTRAK
Anggi Aulia Siregar (2024) : Tinjauan Yuridis Terhadap Penggunaan
Sepeda Listrik Di Jalan Raya Berdasarkan
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 45
Tahun 2020
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tinjauan yuridis dan penerapan
hukum terhadap penggunaan sepeda listrik di jalan raya berdasarkan Peraturan
Menteri Perhubungan Nomor 45 Tahun 2020. Dengan meningkatnya penggunaan
sepeda listrik sebagai alternatif transportasi yang ramah lingkungan, muncul
tantangan signifikan dalam regulasi dan implementasi hukum yang relevan.
Regulasi terkait dengan sepeda listrik Di Indonesia terkhususnya bagi pemerintah
belum cukup matang dalam pengimplementasian dan penindaklanjutannya
mendapatkan beberapa masalah terkait penggunaan sepeda listrik di jalan raya
salah satunya dengan banyaknya pengguna sepeda listrik yang berkendara di jalan
raya tanpa menggunakan alat keamanan seperti menggunakan helm dan
pengendara yang tidak sesuai minimum umur serta kecepatan mengendarai yang
melebihi 25 kilometer per jam.
Penelitian ini berjenis penelitian yuridis normatif, dengan menggunakan
pendekatan undang-undang, pendekatan konsep dan pendekatan sejarah. Teknik
pengumpulan data yang digunakan yaitu melibatkan pengkajian informasi tertulis
(Library Research) mengenai hukum dari berbagai sumber yang secara luas
dipublikasikan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Tinjauan yuridis terhadap
penggunaan sepeda listrik di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri
Perhubungan Nomor 45 Tahun 2020 menunjukkan bahwa regulasi ini bertujuan
untuk memberikan kepastian hukum dalam penggunaan sepeda listrik, dengan
menekankan aspek keselamatan melalui batas kecepatan maksimum, kelengkapan
teknis, serta kewajiban penggunaan helm. Namun, implementasi peraturan ini
masih menghadapi tantangan dalam hal sosialisasi dan pengawasan, yang
berdampak pada efektivitas pelaksanaannya di masyarakat. 2) Aplikasi hukum
penggunaan sepeda listrik di jalan raya ditujukan untuk menjamin keamanan dan
ketertiban lalu lintas. Melalui Peraturan Menteri Perhubungan, klasifikasi, batas
kecepatan, dan kelengkapan teknis sepeda listrik ditetapkan, sementara peraturan
Polri berperan dalam penegakan hukum atas pelanggaran. Standar Nasional
Indonesia (SNI) memastikan sepeda listrik memenuhi kualitas dan standar
keselamatan sebelum dipasarkan. Kombinasi perangkat hukum ini mendorong
penggunaan sepeda listrik secara aman dan tertib, serta melindungi keselamatan
masyarakat.
Kata Kunci : Tinjauan Yuridis, Sepeda Listrik, Jalan Ray
PENGARUH KUALITAS PELAYANAN, HARGA DAN BIAYA ADMINISTRASI TERHADAP KEPUASAN ANGGOTA PEMBIAYAAN BAI’ BITSAMAN AJIL PADA KOPERASI SYARIAH PODO JOYO SEJAHTERA BLITAR
ABSTRAK
Skripsi dengan judul “Pengaruh Kualitas Pelayanan, Harga dan Biaya Administrasi terhadap Kepuasan Anggota Pembiayaan Bai’ Bitsman Ajil pada Koperasi Syariah Podo Joyo Sejahtera Blitar“ ini ditulis oleh Anggi Aulia Putri NIM 1741143033 dengan pembimbing Dr. Agus Eko Sujianto, S.E., M.M.
Penelitian ini dilatar belakangi oleh menurunnya jumlah anggota pembiayaan bai’ bitsman ajil pada setiap tahunnya. Mengingat pertumbuhan Koperasi Syariah Podo Joyo Sejahtera bergantung pada jumlah anggotanya, maka pihak koperasi harus mampu menciptakan kepuasan bagi anggotanya agar dapat mempertahankan anggotanya. Oleh karena itu pihak koperasi harus mampu memahami factor apa saja yang dapat mempengaruhi kepuasan anggota seperti kualitas pelayanan, harga dan biaya administrasi. Jika kualitas pelayanan yang diberikan semakin baik, harga yang ditetapkan semakin terjangkau dan biaya administrasi yang ditetapkan sesuai dengan kemudahan maka kepuasan anggota akan terpenuhi. Penelitian ini bertujuan (1) untuk menguji pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan anggota pembiayaan bai’ bitsaman ajil, (2) untuk menguji pengaruh harga terhadap kepuasan anggota pembiayaan bai’ bitsaman ajil, (3) untuk menguji pengaruh biaya administrasi terhadap kepuasan anggota pembiayaan bai’ bitsaman ajil, (4) untuk menguji pengaruh kualitas pelayanan, harga dan biaya administrasi terhadap kepuasan anggota pembiayaan bai’ bitsaman ajil pada Koperasi Syariah Podo Joyo Sejahtera.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian asosiatif. Populasi penelitian yang digunakan adalah anggota pembiayaan bai’ bitsaman ajil sebanyak 52 anggota. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampel jenuh, dengan mengambil keseluruhan jumlah populasi sebagai sampel sehingga diperoleh sampel sebanyak 52 responden. Sumber data yang digunakan yaitu data primer dengan teknik pengumpulan data melalui angket. Metode analisis data menggunakan regresi linier berganda yang bertujuan untuk membuktikan hipotesis penelitian, dengan melakukan uji validitas dan reliabilitas, uji asumsi klasik, uji normalitas, uji koefisien determinasi, serta uji hipotesis melalui uji t dan uji F.
Berdasarkan pengujian hipotesis di peroleh hasil bahwa (1) kualitas pelayanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan anggota pembiayaan bai’ bitsaman ajil, (2) harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan anggota pembiayaan bai’ bitsaman ajil, (3) biaya administrasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan anggota pembiayaan bai’ bitsaman ajil, (4) secara simultan kualitas pelayanan, harga dan biaya administrasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan anggota pembiayaan bai’ bitsaman ajil pada Koperasi Syariah Podo Joyo Sejahtera Blitar.
Kata Kunci: Kualitas Pelayanan, Harga, Biaya Administrasi, dan Kepuasan Anggot
ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN HIPERTERMI PADA PASIEN ANAK DENGAN KEJANG DEMAM
ABSTRAKAsuhan Keperawatan Gangguan Hipertermi Pada Pasien Anak Dengan Kejang Demam Anggi Febrianti (2021) Program Studi DIII Keperawatan Pekalongan Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang Yuniske Penyami, S. Kep., Ns., M. Kep, Mardi Hartono, S.Kep,Ns,M.Kes, Tri Anonim, SST, M.KesKata Kunci : Keperawatan Anak, Post Kejang Demam, Penatalaksanaan Demam Post Kejang Demam merupakan kondisi seseorang setelah mengalami kejang tetapi masih dalam suhu yang tinggi, jika tidak segera ditangani dengan benar akan menimbulkan terjadinya kejang berulang/masalah yang lebih serius bahkan bisa menyebabkan kematian. KTI ini bertujuan agar penulis mampu melaksanakan Asuhan Keperawatan gangguan hipertermi pada pasien anak dengan kejang demam. Metode, penelitian deskriptif dalam bentuk studi kasus, Peneliti menggunakan dua anak dengan kejang demam yang dirawat di RSUD Bendan Pekalongan. Pengambilan data dilakukan selama 3 hari. Hasil, pengkajian dilakukan secara Aloanamnesa pada 2 anak penderita kejang demam dengan Hipertermi. Intervensi masalah tersebut menggunakan pentalaksaan kejang demam yang dibutuhkan pasien dan implementasi dilakukan selama 3 hari dengan tujuan yang dibuat, lalu dilakukan evaluasi dengan hasil masalah teratasi. Kesimpulan, anak kejang demam dengan fokus studi hipertermi dapat diberikan asuhan keperawatan dengan penatalaksanaan demam pada anak. ABSTRACT Nursing care of hyperthermic disorders in pediatric patients with febrile seizures Anggi Febrianti (2021)DIII Nursing Study Program in PekalonganHealth Polytechnic Semarang Ministry of HealthYuniske Penyami, S. Kep., Ns., M. Kep, Mardi Hartono, S.Kep, Ns, M.Kes, Tri Anonim, SST, M.KesKeywords: Child Nursing, Post Fever Seizure, Fever Management Post Seizures Fever is a condition of a person after having a seizure but still in a high temperature, if not treated immediately will cause repeated seizures / more serious problems can even cause death. This KTI aims to enable the author to carry out nursing care for hyperthermic disorders in pediatric patients with febrile seizures. Methods, descriptive research in the form of case studies, researchers used two children with febrile seizures who were treated at the Bendan Pekalongan Hospital. Data collection was carried out for 3 days. The results, the study was carried out using an anamnesa on 2 children with febrile seizures with hyperthermia. The problem intervention uses the management of febrile seizures that the patient needs and the implementation is carried out for 3 days with the objectives made, then an evaluation is carried out with the results of the problem being resolved. In conclusion, children with febrile seizures with a focus on hyperthermia studies can be given nursing care with fever management in children
OPTIMALISASI PEMUATAN BATU BARA DI KAPAL MV. ENERGY PROSPERITY MENGGUNAKAN FLOATING CRANE
ABSTRAKSI
Anggi Yunanta, 2019, NIT : 52155645 N, “ Optimalisasi Pemuatan Batu Bara Di
Kapal MV. Energy Prosperity Menggunakan Floating Crane ”, Politeknik
Ilmu Pelayaran Semarang. Pembimbing I: Capt. Dwi Antoro, MM, M.Mar,
Pembimbing II: Sri Murdiwati, S.Sos, M.Si
Untuk mencapai pelaksanaan memuat batu bara yang optimal dengan
menggunakan floating crane. Maka dalam penulisan skripsi ini, penulis menjabarkan
teori tentang pelaksanaan persiapan dan penataan muatan batu bara. Muatan batu bara
mempunyai karakter khusus dalam pemuatannya, sehingga dalam memuat batu bara
harus memperhatikan bahaya yang dimiliki oleh muatan ketika kegiatan memuat
dilaksanakan oleh floating crane.
Metode yang digunakan oleh penulis adalah metode deskriptif kualitatif,
sedangkan metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara,
observasi dan kepustakaan yang berhubungan dengan penanganan muatan terutama
pada saat bongkar muat.
Dari hasil penelitian yang dilakukan Penulis selama praktek di kapal MV.
Energy Prosperity mengenai pelaksanaan memuat batu bara dengan menggunakan
floating crane ditemukan kendala-kendala dalam persiapan dan pelaksanaan memuat
batu bara di kapal MV. Energy Prosperity, yaitu dalam persiapan terdapat kendala
seperti terbatasnya bahan untuk perawatan palka di atas kapal, sehingga palka sering
tidak bisa terbuka dan tertutup. Kendala selama pemuatan adalah operator crane yang
kurang terampil, tidak tersedianya loader vehicle, komunikasi yang kurang baik
antara kapal dan operator crane.
Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa kurangnya persiapan pada saat
sebelum melaksanakan pemuatan dan kurangnya pengawasan dari personil di kapal
pada saat pelaksanaan memuat mengakibatkan pelaksanaan memuat batu bara tidak
optimal, saran Penulis adalah agar perusahaan dapat lebih memperhatikan terhadap
permintaan kapal, agar dapat meningkatkan perawatan di kapal dalam persiapan
memuat, kemudian setiap crew lebih meningkatkan pengawasan terhadap kerja
floating crane pada saat proses pemuatan berlangsung.
ABSTRACTION
Anggi Yunanta , 2019 , NIT : 52155645 N Optimization of Coal Loading In
MV. Energy Prosperity by Floating Crane , Merchant Marine polytecnic
Semarang. Preceptors I: Capt . Dwi Antoro, MM, M.Mar, Preceptors II: Sri
Murdiwati, S.Sos, M.Si
To achieve the implementation of the coal load with optimal by floating crane.
Then in writing this thessis the author describes a theory about the preparation and
implementation load of the coal. Coal cargo has special characters inside are loaded
,so the load should pay attention to the dangers of coal owned when the loading
carried out by a floating crane.
The method used by the author is descriptive qualitative method , while the
data collection methods used were interviews , observation and literature relating to
cargo handling especially during loading and unloading .
The results of research conducted during practice at the author MV . Energy
Prosperity coal load on the implementation by using a floating crane found obstacles
in the preparation and implementation of the coal load in the MV . Energy Prosperity
, is there are constraints such as the limited preparation of materials for maintenance
hatch on the boat , hatch cover not able to open and closed. Constraints during
loading is less skilled crane operator , loader vehicle unavailability , poor
communication between the ship and the crane operator .
In this case it can be concluded that the lack of preparation at the time before
carrying out loading and lack of supervision of the personnel on board at the time of
loading resulted in the implementation of the load coal can not be optimal , author
advice is for the company to pay more attention to the request of the ship , in order to
improve care on board in preparation to load , then each crew further improve the
supervision of floating crane work during the loading procces take place
Iklim Komunikasi Organisasi Di Bagian Master Control Room Pt. Riau Media Televisi Pekanbaru
Organizational Communication Climate in the Master Control Room Section PT. Riau Media Television Pekanbaru Anggi Alfando 179110164 The title of this research is the organizational communication climate in the master control room of PT. Riau Media Televisi Pekanbaru. The results of presurvey interviews with temporary researchers in the Master Control Room of PT. Riau Media Televisi Pekanbaru that the author sees a communication gap between superiors and subordinates at MCR where superiors reduce employees due to the pandemic carried out by MCR which has an impact on a lack of Human Resources (HR) in the MCR section which can consequently affect implementation. The location of this research is at PT. Riau Media Televisi Pekanbaru. The purpose of this study was to determine the organizational communication climate in the master control room of PT. Riau Pekanbaru television media. The research subjects were Ms. Ifur as the head of the RTV section, Mr. Yudi as the Manager of the MCR section, Jo as the senior master control room (MCR), Riski as the junior master control room (MCR), and Usman as the crew, staff or employees outside the MCR. Data collection techniques in this study were interviews, observation and documentation. Organizational Communication Climate Master Control Room Section PT. Riau Media Televisi Pekanbaru is measured using indicators of Support (supportiveness), Decision Making, Trust, Openness, and High Performance Goals that have not run optimally such as lack of trust and openness from superiors to subordinates and lack of support given in completing a given job
Music Center Design (Music Center) in Medan City with the Metaphor Architecture Theme
162 HalamanDengan meningkatnya perkembangan Musik di Indonesia yang cukup
pesat dimana Musik merupakan Kesenian yang memiliki segala hasrat manusia
terhadap keindahan. Bentuk keindahan yang beraneka ragam itu timbul dari
imajinasi kreatif yang dapat memberikan kepuasan batin bagi manusia.
Fenomena-fenomena tersebut menunjukkan besarnya potensi dan antusiasme
masyarakat Indonesia dalam musik terlebih khususnya masyarakat di Sumatera
Utara. Potensi dan antusiasme tersebut tidak hanya dalam kapasitas sebagai
penikmat musik, akan tetapi minat untuk mempelajari musik yang terlihat dari
banyaknya sekolah maupun tempat kursus musik yang bermunculan dan sangat
diminati oleh masyarakat terutama di kota besar. Musik Center (Pusat Musik)
tidak hanya di buat untuk pertunjukan tetapi juga memberikan pengajaran tentang
musik dan bisa menjadi icon di Sumatera Utara Khususnya Kota Medan.
Penerapan Arsitektur Metafora kedalam desain Musik Center (Pusat Musik) akan
dapat memberikan suatu ciri khas dari bangunan yang memperlihatkan fungsi dari
bangunan tersebut. With the increasing development of music in Indonesia which is quite rapid where
music is an art that has all human desires for beauty. The various forms of beauty
arise from creative imagination that can provide inner satisfaction for humans.
These phenomena show the great potential and enthusiasm of the Indonesian
people in music, especially the people in North Sumatra. This potential and
enthusiasm is not only in the capacity of being a music connoisseur, but also the
interest in learning music can be seen from the many schools and music courses
that have sprung up and are in great demand by the public, especially in big
cities. Music Center (Music Center) is not only made for performances but also
provides teaching about music and can become an icon in North Sumatra,
especially the city of Medan. The application of Metaphorical Architecture into
the design of the Music Center (Music Center) will be able to provide a
characteristic of the building that shows the function of the building
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN MODIFIKASI PERMAINAN TRADISIONAL
Penulis:
Annisa Syufi, Ayun Nafila, Fareza Amalia, Anni Dza, Fika Ayu, Indri, Achlisin Nur, Alfi Rotunnurika, Aulia Rahmania, Defi Lutfiana, Herna Purbasari, Lia Deny, Bintan, Evitarana, Adhista, Denadya, Dhea, Erliana, Akbar Dwi, Amanda Fita, Aina Afrida, Himmatul, Adilla Fulki, Dewi Puji, Dimas Rafi, Nela Aulia, Indana, Asrul Mu’an, Brian Pandu, Hesti, Hirda, Fina, Rosiana, Ainun, Dawam, Anggi Laili, Layra, Chusnatu Zulfa, Alfiyah, Angky, Bagus Wirawan, Adelia, Chamimatus Annisa Kholifatus, Aminatur Rofiqoh, Faiqotul Himmah
Editor :
Dr. Adi Wijayanto, S.Or., S.Kom., M.Pd., AIFO
Penyusunan buku ini bertujuan untuk mengenalkan lebih dalam permainan tradisional kepada anak-anak agar tetap dilestarikan di era globalisasi ini. Keberhasilan dalam penyusunan buku ini tentunya tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak dan juga memberikan dukungan positif sehingga bisa menerbitkan buku ini. Untuk itu, dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih kepada semua pihak yang membantu serta memberikan dukungan baik secara moril dan materi dalam menyelesaikan penyusunan buku ini
PERLAWANAN PEREMPUAN TERHADAP PENINDASAN DALAM FILM MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK DAN SERIAL NETFLIX 13 REASONS WHY SEASON 3; KAJIAN SASTRA BANDINGAN
Mayriska, Nadya Anggi. 2020. "Comparison of Women's Resistance To Oppression in Marlina the Killer in Four Acts Movie and 13 Reasons Why Seasons 3 Netflix Series: A Comparative Literature Study". Thesis. (S1) Faculty of Humanities Diponegoro University of Semarang.
The object of research that author use is the Marlina the Killer in Four Acts Movie and 13 Reasons Why Season 3 Netflix series. The purpose of this study is to describe (1) elements of the structure of narratology in Marlina The Killer in Four Acts movie (2) elements of the stucture of narratology 13 Reasons Why Season 3 Netflix series (3) comparison of women's resistance in Marlina The Killer in Four Acts movie and 13 Reasons Why Season 3 Netflix series. The research method that used is a comparative method with a structural approach.
Based on the research that has been done, it can be concluded that the structure of Marlina The Killer in Four Acts movie and 13 Reasons Why Season 3 Netflix series includes: (1) story and plot, (2) time sequence, (3) space, (4) characters and characterization, (5) objectives, (6) problems and conflicts, and (7) narrative structure patterns. There are similarities in women’s resistence, it is that two object are equally resistant because there is physical, psychological, and sexual violence experienced previously. The difference between these two objects is the support of the people around and the availability of facilities in women's resistance activities carried out.
Keywords: comparison, feminism, movi
Analisis Risiko Keruntuhan Jacket Wellhead Tripod Platform Pasca Subsidence
Selain terjadi di kota-kota besar, subsidence juga bisa terjadi di sekitar daerah eksploitasi minyak dan gas bumi baik onshore maupun offshore. Indikasi penurunan tanah
dapat dilihat dari terjadinya penurunan anjungan lower deck yang semakin tenggelam secara fisik. Terjadinya subsidence dapat menyebabkan kegagalan struktur. Apabila terjadi kegagalan, struktur dapat mengalami berbagai kemungkinan konsekuensi yang bisa menimbulkan bahaya hingga kerugian. Mengingat konsekuensi dan kerugian yang mungkin terjadi, maka perlu dilakukan analisis risiko pada struktur dengan variasi kedalaman subsidence hingga struktur mengalami keruntuhan. Analisis keruntuhan dilakukan dengan meningkatkan beban lingkungan kondisi badai secara bertahap hingga struktur mengalami keruntuhan karena terbentuknya member plastis. Member plastis akan digunakan dalam analisis keandalan, dimana peluang kegagalan member dihitung dengan simulasi Monte Carlo dengan menggunakan Random Number Generator (RNG). Kemudian, keandalan sistem dihitung menggunakan Reliability Block Diagram (RBD) yang selanjutnya digunakan dalam analisis risiko. Kedalaman maksimum subsidence yang diizinkan agar struktur masih layak beroperasi sesuai API RP 2A WSD 21st edition adalah sebesar 5.2 meter dengan Reserve Strength Ratio (RSR) terkecil yakni 1.85. Analisis keandalan dilakukan untuk kondisi non subsidence hinga kondisi subsidence 5.2 meter dengan keandalan sistem terkecil sebesar 0.564 dan Probability of Failure (PoF) sebesar 0.436. Berdasarkan matriks risiko, diperoleh hasil bahwa struktur untuk kondisi non-subsidence dan subsidence pada konsekuensi safety keduanya berada di area kuning yang berarti medium risk merupakan daerah as low as reasonably practicable (ALARP), sedangkan untuk konsekuensi environment dan business berada di area merah yang berarti high risk.
==============================================================================================================================
Apart from occurring in big cities, subsidence can also occur around oil and gas exploitation areas, both onshore and offshore. Indication of land subsidence can be seen
from the condition in the lower deck platforms which are physically sinking. The occurrence of subsidence can cause structural failure. In the event of a failure, the structure may experience various possible consequences which can result in a hazard or loss. Consideringthe consequences and losses that may occur, it is necessary to carry out a risk analysis on the structure with variations in the depth of subsidence until the structure collapses. The collapse analysis is carried out by gradually increasing the environmental load under storm conditions until the structure collapses due to the formation of plastic members. Plastic members will be used in the reliability analysis, where the probability of member failure is calculated using a Monte Carlo simulation using a Random Number Generator (RNG). Then, system reliability is calculated using the Reliability Block Diagram (RBD) which is then used in risk analysis. The maximum depth of subsidence allowed for the structure to still be operational according to API RP 2A WSD 21st edition is 5.2 meters with the smallest Reserve Strength Ratio (RSR) of 1.85. Reliability analysis was carried out for nonsubsidence condition up to 5.2 meters subsidence with the smallest reliability of 0.564 and Probability of Failure (PoF) of 0.436. Based on the risk matrix, the result show that the structure for the non-subsidence and subsidence conditions are both for safety consequences is in the yellow area, which is means medium risk also known as an area as low as reasonably practicable (ALARP), while for environmental and business consequences are in the red area, wich means high risk
A Short Highlight of Open Science Framework based on One Author
Open Science Framework is encouraged by the European Union and many other political and scientific institutions, but scientific practice is proving slow to change. We have chosen articles from one author that will provide a resource to change scientific research into open scientific research and commit to open science principles
- …
