17 research outputs found
NILAI-NILAI BUDAYA DALAM ANTOLOGI CERPEN INDONESIA-MALAYSIA DAN IMPLEMENTASINYA SEBAGAI BAHAN AJAR APRESIASI SASTRA DI SMA
 Pembelajaran apresiasi sastra merupakan pembelajaran yang sangat penting dalam upaya menumbuhkan dan mengembangkan kepribadian peserta didik. Salah satu karya sastra yang bisa dijadikan sebagai bahan ajar apresiasi sastra di SMA adalah cerpen. Terutama cerpen yang memiliki segudang budaya dan ilmu yang dapat dijadikan contoh, sebagai pelajaran serta pengalaman peserta didik, sehingga tidak ada alasan untuk meninggalkan apalagi melupakan kebudayaan yang ada hanya karena perubahan kemajuan zaman. Nilai-nilai budaya sangat sesuai diajarkan kepada peserta didik karena mengandung nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat yang dapat dimanfaatkan sebagai pengetahuan dan pengalaman belajar peserta didik. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan nilai-nilai budaya dalam Antologi Cerpen Indonesia-Malaysia. (2)Mendeskripsikan kesesuaian antara unsur nilai-nilai budaya dalam Antologi Cerpen Indonesia-Malaysia dengan kriteria bahan ajar apresiasi sastra di SMA.Metode penelitian yang digunakan penulis adalah metode deskriptif kualitatif. Artinya, penulis menganalisis karya sastra yang berorientasi pada teks, kemudian memaparkan makna yang diperoleh dari cerpen yang dikaji.Antologi Cerpen Indonesia-Malaysia memiliki struktur pembangun karya sastra dan unsur nilai-nilai budaya yang dapat dipelajari, sehingga dapat membantu peserta didik meningkatkan wawasan khazanah kebudayaan. Nilai-nilai budaya yang terdapat dalam cerpen Ki Pawon  Karya Heri Nurdiansyah berupa tempat-tempat bersejarah yang merupakan bukti toponimi legenda Sang Kuriang; nilai-nilai budaya dalam cerpen Pudarnya Impian Uma’ Karya Khoiriyyah Azzahro berupa sistem perdagangan masyarakat di Pulau Kalimantan yang menggunakan alat transportasi berupa jukung dan rumah lanting; nilai-nilai budaya dalam cerpen Periaku Untuk Ibu Pertiwi Karya Mohd. Ali Salim yaitu perjuangan dan cita-cita masyarakat Sarawak untuk kemerdekaan bumi Sarawak; dan nilai-nilai budaya dalam cerpen Dang Sari Padi Menguning Karya S.M. Zakir yaitu sistem kepercayaan mistis masyarakat Melayu yang menghormati alam.Kata kunci: nilai budaya, antologi cerpen, bahan ajar, apresiasi sastra.Â
Sosialisasi Penggunaan Bahasa Indonesia Tulis Pada Kelompok Remaja di Desa Cijurey Kecamatan Panyingkiran Kabupaten Majalengka
Berbagai kebudayaan bisa saling menyatu karena ada salah satu aspek yang mampu mengikatnya yaitu bahasa. Finoechiaro (1964: 8) menyatakan bahwa bahasa adalah sistem simbol vokal yang arbitrer yang memungkinkan semua orang dalam suatu kebudayaan tertentu atau orang lain yang mempelajari sistem kebudayaan itu, berkomunikasi atau berinteraksi. Adapun rumusan masalah dalam kegiatan ini adalah sebagai berikut Bagaimanakah konsep sosialisasi penggunaan bahasa Indonesia tulis pada kalangan remaja di desa Cijurey Kecamatan Panyingkiran Kabupaten Majalengka dan bagaimanakah pelaksanaan sosialisasi penggunaan bahasa Indonesia tulis pada kalangan remaja di desa Cijurey Kecamatan Panyingkiran Kabupaten Majalengka
ANALISIS PENGGUNAAN DIKSI DALAM PUISI SELAMAT PAGI INDONESIA KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO SEBAGAI BAHAN AJAR APRESIASI SASTRA DI SMA
AbstractLanguage as a communication tool consists of two kinds, namely spoken and written languages. The scope of Indonesian subjects covers the components of language skills and literary abilities which cover four aspects of skills, namely as follows: first, listening; second speak; third, reading and fourth, writing. Literary learning tends to be less daring to explore text in a broader context. Even though it is very possible the teacher invites students to enter and explore the elements of literary builder from outside the learning text. This study aims to describe the selection of poetry for the benefit of alternative teaching materials and to improve the learning outcomes of Indonesian Language and Literature in high school. In this study the authors used a descriptive analysis method, which is a research method that aims to provide an analysis, systematic, factual and thorough phenomenon. The qualitative analysis method aims to reveal the characteristics of the possibility of Good Morning Indonesia poetry by Sapardi Djoko Damono whether or not feasible if used as teaching materials for Literary Appreciation in high school. The results of the research hypothesis can be accepted, this can be illustrated from the results of the assessment of the Good Morning Indonesian poetry by Sapardi Djoko Damono in terms of elements of diction that qualify or are suitable as teaching materials for literature appreciation in high school. The results of the research show that the elements of Good Morning Indonesia diction by Sapardi Djoko Damono Decent as a material for literature appreciation in high school can be seen from its contents which are in accordance with the characteristics, experiences and needs of high school students.Keyword: Diction, Pusisi Selamat Pagi Indonesia, Teaching Materials, Literary Appreciation AbstrakBahasa sebagai alat komunikasi terdiri atas dua ragam yaitu bahasa lisan dan bahasa tulis. Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi empat aspek keterampilan, yaitu sebagai berikut: pertama, menyimak; kedua berbicara; ketiga, membaca dan keempat, menulis. Pembelajaran sastra cenderung kurang berani menggali teks dalam konteks yang lebih luas. Padahal sangatlah mungkin  guru mengajak siswa untuk masuk dan menyelami unsur pembangun sastra dari luar teks pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemilihan puisi untuk kepentingan alternatif bahan ajar dan peningkatan hasil pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif analisis, yaitu metode penelitian yang bertujuan untuk memberikan suatu fenomena secara analisis, sistematis, faktual dan teliti. Metode analisis kualitatif bertujuan untuk mengungkapkan karakteristik kemungkinan puisi Selamat Pagi Indonesia karya Sapardi Djoko Damono layak atau tidak jika dijadikan bahan ajar Apresiasi Sastra di SMA. Hasil hipotesis penelitian dapat diterima, hal ini dapat tergambar dari hasil penilaian puisi Selamat  Pagi Indonesia karya Sapardi Djoko Damono ditinjau dari unsur diksi yang memenuhi syarat atau layak sebagai bahan ajar apresiasi sastra di SMA. Hasil penelitian menunjukkan unsur diksi Selamat Pagi Indonesia karya Sapardi Djoko Damono Layak sebagai bahan ajar apresiasi sastra di SMA terlihat dari isinya yang sesuai dengan karakteristik, pengalaman dan kebutuhan siswa SMA.Kata Kunci: Diksi, Puisi Selamat Pagi Indonesia, Bahan Ajar, Apresiasi Sastr
Kajian Pragmatik: Pola Kesantunan Berbahasa Guru dan Siswa dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas X di SMKN 1 Palasah
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola kesantunan berbahasa antara guru dan peserta didik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas X di SMKN 1 Palasah berdasarkan kajian pragmatik. Fokus utama penelitian ini adalah bentuk-bentuk maksim kesantunan menurut Leech, yaitu maksim kearifan, kemurahan hati, pujian, kerendahan hati, kesetujuan, dan kesimpatian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek penelitian meliputi tiga orang guru dan peserta didik dari tiga kelas berbeda pada jurusan TKJT, Akuntansi, dan TKRO. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam. Data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis wacana pragmatik terhadap tuturan-tuturan yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru cenderung menggunakan bentuk-bentuk maksim kesantunan secara konsisten, terutama maksim kearifan, kesetujuan, dan kesimpatian. Guru memperlihatkan sikap empatik, sopan, serta memberikan pujian dan arahan dengan cara yang membangun. Sementara itu, peserta didik memperlihatkan variasi dalam penggunaan maksim, dengan dominasi pada maksim kerendahan hati dan pujian. Meski demikian, masih ditemukan penggunaan bahasa tidak santun oleh sebagian peserta didik. Faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan pola kesantunan tersebut antara lain adalah latar belakang sosial budaya, kebiasaan berbahasa di lingkungan non-formal, dan peran guru sebagai model komunikasi. Selain itu, analisis juga menunjukkan adanya tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi dalam praktik interaksi di kelas yang mencerminkan nilai-nilai pragmatik dan etika komunikasi dalam pembelajaran
RAGAM DIALEK SUNDA MAJALENGKA DALAM INTERAKSI KOMUNIKASI PADA MAHASISWA BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS MAJALENGKA
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keragaman dialek Sunda Majalengka pada mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Majalengka yang memiliki latar belakang geografi dan sosial penutur yang berada di kota Majalengka dan kabupaten Majalengka perbatasan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian ditetapkan di Universitas Majalengka. Informan sebagai sumber data adalah penutur yang merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah observasi, wawancara, pengisian kuesioner dan pencatatan. Majalengka merupakan kabupaten dengan luas wilayah 1.204,24 Km² dan berbatasan langsung dengan kabupaten Indramayu di bagian Utara, kabupaten Cirebon dan sebagian wilayah kabupaten Kuningan di bagian timur, sebagian wilayah kabupaten Sumedang di bagian Barat, serta berbatasan dengan sebagian wilayah kabupaten Ciamis, Sumedang, Garut, dan Tasikmalaya di bagian selatan. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Majalengka sebagian besar berasal dari wilayah kabupaten Majalengka yang berbatasan langsung dengan kabupaten lain. Berdasarkan hal tersebut, dialek Sunda yang digunakan oleh para mahasiswa dalam interaksi komunikasi sehari-hari di lingkungan kampus menjadi sangat beragam, meskipun mereka saling mengerti, karena masih terdapatnya kesamaan sistem atau sub-sistem di antara dialek yang mereka miliki
Analisis Warna Lokal Sunda dalam Kumpulan Cerpen Dua Orang Dukun dan Cerita Pendek Sunda Lainnya Karya Ajip Rosidi
Abstrak. Warna lokal adalah warisan leluhur yang didasarkan pada hasil pengamatan terhadap alam dan lingkungan sekitar. Warisan ini amat disayangkan jika tidak diketahui oleh generasi muda. Oleh karena itu, melalui sastra diharapkan siswa bisa mengetahui warna lokal yang ada di daerahnya bahkan warna lokal yang ada di daerah lain sehingga mereka bisa menjadi manusia yang bijak. Penelitian ini mencoba menyajikan warna lokal Sunda sebagai bahan ajar apresiasi sastra bermuatan karakter di kelas XI SMA. Pemilihan warna lokal Sunda adalah sebagai alternatif bahan ajar yang menumbuhkan kesadaran pentingnya identitas lokal dalam mempelajari sastra karena dari identitas lokal itu akan muncul karakter yang membangun mental siswa. Penelitian ini akan mendeskripsikan warna lokal Sunda yang muncul dalam kumpulan cerpen Dua Orang Dukun dan Cerita Pendek Sunda Lainnya ditinjau dari lima sikap, yaitu religius, kepribadian, sosial, kekeluargaan, dan lingkungan.Kata kunci : warna lokal sunda, kumpulan cerpen, dua orang dukun dan cerita pendek sunda lainnya
Analisis Warna Lokal Sunda dalam Kumpulan Cerpen “Dua Orang Dukun dan Cerita Pendek Sunda Lainnya” Karya Ajip Rosidi
Abstrak. Warna lokal adalah warisan leluhur yang didasarkan pada hasil pengamatan terhadap alam dan lingkungan sekitar. Warisan ini amat disayangkan jika tidak diketahui oleh generasi muda. Oleh karena itu, melalui sastra diharapkan siswa bisa mengetahui warna lokal yang ada di daerahnya bahkan warna lokal yang ada di daerah lain sehingga mereka bisa menjadi manusia yang bijak. Penelitian ini mencoba menyajikan warna lokal Sunda sebagai bahan ajar apresiasi sastra bermuatan karakter di kelas XI SMA. Pemilihan warna lokal Sunda adalah sebagai alternatif bahan ajar yang menumbuhkan kesadaran pentingnya identitas lokal dalam mempelajari sastra karena dari identitas lokal itu akan muncul karakter yang membangun mental siswa. Penelitian ini akan mendeskripsikan warna lokal Sunda yang muncul dalam kumpulan cerpen Dua Orang Dukun dan Cerita Pendek Sunda Lainnya ditinjau dari lima sikap, yaitu religius, kepribadian, sosial, kekeluargaan, dan lingkungan.Kata kunci : warna lokal sunda, kumpulan cerpen, dua orang dukun dan cerita pendek sunda lainnya
CERITA REALISTIK TOKOH UTAMA DALAM NOVEL-NOVEL ANAK: KAJIAN SASTRA ANAK
Tidak dapat dipungkiri bahwa sastra memiliki peran penting dalam kehidupan terutama anak-anak yang harus belajar mengenai nilai-nilai kehidupan sejak dini. Melalui sastra, anak dapat belajar nilai-nilai kehidupan dengan lebih menyengkan yang dapat diperolehnya melalui bahasa yang mudah dipahami dan cerita yang ringan seputar dunia anak-anak. Pembaca dalam hal ini anak-anak dapat memahami dan belajar cara bersikap, etika dan moral yang digambarkan melalui peran tokoh dalam cerita yang dibacanya. Cerita prosa anak yang menjadi bahan kajian dalam penelitian ini adalah novel-novel anak dengan memfokuskan penelitian pada analisis tokoh utama. Adapun cerita realistik merupakan cerita yang mengangkat kehidupan sehari-hari, sehingga melalui analisis tokoh cerita dalam novel anak, pembaca dalam hal ini anakanak dapat dengan mudah menyerap, memahami etika dan moral yang digambarkan penulis melalui tokoh dalam cerita. Novel-novel anak yang menjadi objek dalam penelitian ini berjudul Creepy Case Club: Kasus Pohon Pemanggil Karya Rizal Iwan, Duo Detektif: Komplotan Pencuri Hewan Peliharaan Karya Wiwien Wintarto, dan Anak Penangkap Hantu Karya Adam Putra Firdaus. Tujuan dalam penelitian ini yaitu mendeskripsikan cerita realistik tokoh utama protagonis sebagai pelaku cerita dan nilai-nilai karakter tokoh utama dalam novel-novel anak tersebut. Metode dalam penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif dengan pendekatan mimesis yang menitikberatkan kajiannya terhadap hubungan karya sastra dengan kenyataan di luar karya sastraKata Kunci: sastra anak, realistik, novel anak It is undeniable that literature has an important role in life, especially children who must learn about the values of life from an early age. Through literature, children can learn the values of life with more fun which can be obtained through language that is easy to understand and light stories about the world of children. Readers, in this case, children can understand and learn how to behave, ethics and morals which are depicted through the roles of characters in the stories they read. The children's prose stories that were studied in this study were children's novels by focusing the research on the analysis of the main character. The realistic story is a story that raises everyday life, so that through the analysis of the story characters in children's novels, readers in this case children can easily absorb, understand the ethics and morals described by the author through the characters in the story. The children's novels that are the object of this research are entitled Creepy Case Club: The Case of the Summoning Tree by Rizal Iwan, The Detective Duo: A Pet Thief Conspiracy by Wiwien Wintarto, and The Ghost Catcher Child by Adam Putra Firdaus. The purpose of this study is to describe the realistic story of the main protagonist as the actor in the story and the character values of the main character in the children's novels. The method in this research is descriptive qualitative with a mimetic approach that focuses on the study of the relationship between literary works and realities outside of literary works.Keywords: children's literature, realistic, children's nove
Integration of Pancawaluya as West Java\u27s Local Wisdom in Sociolinguistics Learning
This research is motivated by the fact that Sundanese local wisdom values, particularly Pancawaluya, are increasingly marginalized in education due to the dominance of globalization. In fact, the Pancawaluya values, consisting of cageur, bageur, bener, pinter, and singer, have great potential to enrich language learning, especially in the sociolinguistic realm that emphasizes the close relationship between language, culture, and social identity. The purpose of this research is to develop a sociolinguistic learning model integrated with Pancawaluya so that learning is more contextual, participatory, and relevant to community needs. The research uses a qualitative approach with an educational ethnography design, involving teachers, lecturers, and students in the West Java region. Data were obtained through observation, in-depth interviews, and document analysis, then analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña. The results show that the integration of Pancawaluya can increase students\u27 awareness of the relationship between language and local culture, strengthen cultural identity, and encourage changes in pedagogical strategies to be more participatory. The analysis also found that although the formal curriculum has not yet accommodated many local values, teachers and lecturers can innovate in developing teaching materials based on Pancawaluya. This study concludes that Pancawaluya can be used as a conceptual framework in sociolinguistics learning, with significant contributions both theoretically in enriching ethnopedagogy-based sociolinguistic studies and practically in providing contextual and culturally rooted learning models
RAGAM BAHASA DAN UNGKAPAN TRADISIONAL MELALUI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL KAMPUNG NAGA DALAM PERSPEKTIF SOSIOLINGUISTIK SEBAGAI MATERI AJAR BAHASA INDONESIA DI SMA
Penelitian ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal Kampung Naga melalui ragam bahasa dan ungkapan tradisonal sebagai materi ajar Bahasa Indonesia di SMA. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif melalui wawancara dan observasi terhadap masyarakat Kampung Naga untuk mengidentifikasi ragam bahasa dan ungkapan tradisional yang mencerminkan nilai-nilai kearifan budaya lokal serta aktualisasi dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, data tersebut dianalisis menggunakan teknik analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ragam bahasa dan ungkapan tradisional yang digunakan oleh masyarakat Kampung Naga memiliki nilai-nilai kearifan lokal dalam hal sopan santun dan menghormati orang lain, nilai keakraban dan kebersamaan. Nilai-nilai bersyukur, berbagi, solidaritas, menjaga hubungan baik, menerima takdir dengan ikhlas, dan hidup sederhana. Nilai-nilai tersebut juga tercermin dalam realitas kehidupan sehari-hari masyarakat Kampung Naga, seperti gotong royong dalam membantu satu sama lain, membagikan hasil panen dan hidup dengan sederhana. Oleh karena itu, ragam bahasa dan ungkapan tradisional yang ada di Kampung Naga dapat dijadikan materi ajar Bahasa Indonesia di SMA untuk memperkenalkan nilai-nilai kearifan budaya lokal kepada siswa. Hal ini diharapkan dapat membantu siswa memahami dan menghargai budaya lokal serta meningkatkan kesadaran mereka terhadap pentingnya melestarikan kearifan budaya lokal di Indonesia.Kata kunci : Nilai-nilai kearifan budaya lokal, ragam bahasa, ungkapan tradisional, sosiolinguistik, bahan ajar SMA
