35 research outputs found

    A Cmos Biologically Expansion/Contraction Motion Sensor And Its Implementation On Z-Motion Direction/Velocity Detection

    No full text
    Di dalam tesis ini, sensor gerak ekspansi/kontraksi biologis dengan menggunakan teknologi CMOS dan implementasinya dalam mendeteksi arah/kecepatan untuk z- otion telah dirancang. Inovasi pertama dalam metode yang digunakan adalah terinspirasi oleh system penglihatan pada mamalia yang mana menggunakan prinsip dari geometri lensa bikonvek (BLG). Dengan mengembangkan metode tersebut dapat digunakan untuk menghitung kecepatan Z-axis dari sebuah objek berdasarkan sistem penglihatan pada mamalia. Inovasi yang lain bahwa rangkaian dan sensor cahaya diintegrasikan dalam satu chip. Sensor motion terdiri atas 80 pixel dengan ukuran pixel sebesar 125 x 125 μm2 dan fiil factor sebesar 86.2% serta area layout pada chip sebesar 4 x 4 mm2. Array sensor diimplementasikan kedalam delapan axis dengan total komsumsi daya yang digunakan 13.2 mW. Dengan menggunakan parameter teknologi 0.35 μm 2P4M CMOS, semua fungsi dan kinerja dari sensor tersebut telah berhasil diuji coba dan dibuktikan melalui percobaan. Kecepatan yang dapat dideteksi oleh sensor motion tersebut dari 9 mm/s sampai dengan 63 mm/s dan koresponden dengan kecepatan objek (Z-axis) dari 0.139 m/s sampai dengan 0.97 m/s. Sedangkan untuk batas iluminasi yang telah diujicoba daro 1.52 lux sampai dengan 121.2 lux. Untuk kesalahan deviasi pada kecepatan Z-axis pada perhitungan dan pengukuran adalah ±6%. Dalam aplikasinya, chip ini dapat digunakan untuk aplikasi 3-D motion seperti robot dan car backward motion

    Konsumsi Vitamin A untuk Mencegah Kejadian Stunting : Systematic Review: Consumption of Vitamin A to Prevent Stunting Incidents: Systematic Review

    No full text
    Latar belakang: Stunting atau pendek merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak bayi dan balita akibat dari kekurangan gizi kronis dan kondisi ini akan terlihat setelah anak berusia 2 tahun. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 angka prevalensi stunting di Indonesia yaitu 36,8%, tahun 2010 yaitu 35,6%, dan pada tahun 2013 prevalensinya meningkat menjadi 37,2%, terdiri dari 18% sangat pendek dan 19,2% pendek. Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan prevalensi balita stunting di Indonesia sebesar 30,8%.  Suplementasi Vitamin A berpengaruh terhadap dua indikator gizi anak yaitu anemia (dikategorikan menjadi anemia, dan anemia ringan/sedang) dan kegagalan antropometrik (stunting, wasting, dan underweight) pada anak usia 6–59 bulan. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsumsi vitamin A dengan kejadian stunting Metode: penelitian menggunakan metode Systematic Literatur Review dengan menggunakan 3 alat atau mesin pencarian jurnal, yaitu Embase, ScienceDirect, PubMed dan menggunakan diagram PRISMA (Preffered Reporting Item For Systematic Review and Meta Analysis) yang di terbitkan dalam tahun 2014 sampai 2023. Jurnal yang didapat sebanyak 441 jurnal dan 10 jurnal di review peneliti. Hasil: 7 dari 10 artikel yang di analiasis ada hubungan antara konsumsi Vitamin A dengan kejadian Stunting, ini menunjukan bahwa asupan micronutrient (Vit A) yang rendah akan beresiko lebih besar terhadap kejadian Stunting. Kesimpulan: balita yang tidak mendapatkan/mengkonsumsi vitamin A maka semakin besar untuk kejadian Stunting

    Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Anak Balita : Literature Review: Stunting Risk Factor in Children Under Five Years : Literature Review

    No full text
    Latar belakang: Stunting pada balita merupakan kondisi yang terjadi akibat kekurangan gizi kronik yang dapat disebabkan karena kurangnya asupan makan yang bergizi ataupun adanya penyakit infeksi yang diderita oleh anak yang jika tidak ditangani dengan tepat maka akan berdampak pada terhambatnya pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Banyak sekali faktor risiko tejadinya stunting yang sebenarnya bisa dikendalikan sehingga mencegah terjadinya stunting pada anak. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko terjadinya stunting pada balita Metode: Desain penelitian menggunakan metode literature review dengan menggunakan artikel yang diunduh dari Scopus dengan kata kunci stunting, risk factor, dan under five years. Pencarian artikel juga menggunakan beberapa saringan seperti open access dan artikel berbahasa inggris. Artikel yang digunakan adalah artikel yang terbit dari tahun 2017 hingga 2022. Hasil: Dari 16 artikel yang telah dianalisis menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita, diantaranya berat badan anak saat lahir, pendidikan orang tua, usia balita, tingkat kemiskinan, penyakit infeksi, jenis kelamin, Indeks Massa Tubuh (IMT) ibu, jarak kehamilan, Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), tempat tinggal, dan faktor risiko lainnya.   Kesimpulan: Stunting memiliki faktor risiko yang sangat beragam antar wilayah sehingga diperlukan penelitian yang spesfifik wilayah agar intervensi yang diberikan tepat sasaran, efektif, dan efisien. &nbsp

    Perbedaan Berat Badan Bayi, Asupan Zat Gizi Ibu dan Bayi serta Pengetahuan Ibu Sebelum dan Sesudah Program Keluarga Binaan di Desa Kaliwangi, Purwokerto, Jawa Tengah : Differences in Baby Weight, Maternal and Infant Nutrient Intake and Mother's Knowledge Before and After the Assisted Family Program in Kaliwangi Village, Purwokerto, Central Java

    No full text
      Latar Belakang: Program Gerakan Nasional Sadar Gizi dimana gerakan ini merupakan penguat dari program sebelumnya yaitu KADARZI (Keluarga Sadar Gizi). Pendidikan kesehatan melalui pendekatan keluarga dalam program keluarga binaan merupakan upaya perbaikan gizi melalui pendekatan terhadap keluarga yang memiliki masalah gizi dan kesehatan atau keluarga yang membutuhkan bimbingan tenaga kesehatan untuk memelihara maupun meningkatkan kesehatan. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan perbedaan pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu keluarga sesudah pemberian intervensi gizi keluarga binaan di Desa Kaliwangi, Purwokerto, Jawa Tengah. Metode: Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah studi kasus, peneliti memberikan intervensi secara teratur dan terukur hanya kepada 1 keluarga terpilih dengan masalah gizi lebih dari 1 di Desa Kaliwangi, Jawa Tengah dan melihat perbedaan sebelum dan sesudah pemberian intervensi berupa edukasi dan pemberian makanan tambahan. Penelitian dilakukan pada 13 Januari 2018 hingga 9 Februari 2018, media KIE yang digunakan diantaranya leaflet, brosur, booklet, video yang dikembangkan oleh Kemenkes RI, pengumpulan data menggunakan formulir recall 1x24 jam dan Food Frequency Questionnaire (FFQ), analisis data menggunakan perbandingan nilai pre dan post test sebelum dan sesudah diberikan intervensi. Hasil: Peningkatan berat badan bayi sebesar 600 gram selama 10 hari , asupan zat gizi ibu dari 65% menjadi 80%, asupan gizi bayi dari 65% menjadi 109,5% (hasil rata-rata 4 hari pemberian Makanan Pendamping ASI), pengetahuan gizi dan kesehatan bagi ibu (nilai rata-rata pre 73 dan post test 96). Kesimpulan: Ada perbedaan sebelum dan sesudah pemberian intervensi berupa edukasi dan pemberian makanan tambahan berupa peningkatan berat badan bayi sebesar 600 gram selama 10 hari , peningkatan persentase pemenuhan asupan zat gizi ibu dari 65% menjadi 80%, asupan gizi bayi dari 65% menjadi 109,5%, pengetahuan gizi dan kesehatan bagi ibu  dari 73 menjadi 96

    Relationship of Stress and Other Factors with Emotional Eating Among Adolescents in Depok

    Get PDF
    Emotional eating is an overeating behavior as a coping mechanism for negative emotions that emerges in adolescence. Emotional eating causes obesity, eating disorders, and non-communicable diseases. This study aims to determine the relationship between stress, body image, peer influence, parental rearing styles, social media use, sex, sleep quality, and emotion regulation with emotional eating among adolescents at senior high school in Depok. This cross-sectional quantitative study was conducted online in March 2022. The samples were grade X and XI students from senior high school in Depok who were chosen by using purposive sampling techniques (n=174). Chi X2 test and Mann Whitney test were used in bivariate analysis. The results revealed that 52.3% of participants engaged in emotional eating. There was a significant relationship between stress and emotional eating (p-value=0,026). There was a significant difference in the mean of peer influence score in the group with and without emotional eating (p-value=0,025). Severe stress increases the risk of emotional eating by 6.476 times more than moderate and mild stress. Teachers and the Public Health Department are encouraged to teach adolescents on how to cope from stress effectively. Parents can utilize effective parental rearing styles and pay closer attention to their children\u27s mental health

    Manfaat Serat Larut Air untuk Kontrol Glikemik pada Diabetes Mellitus Tipe 2: Systematic Review : Soluble Fiber Benefits for Glycemic Control in Type 2 Diabetes Mellitus: A Systematic Review

    No full text
    Latar belakang: DM tipe 2 merupakan salah satu penyakit tidak menular yang mempunyai prevalensi tertinggi di dunia. Asupan serat yang tinggi selalu menjadi rekomendasi dalam penatalaksanaan diabetes. Serat merupakan salah satu faktor yang berkontribusi pada kontrol glikemik pasien DM Tipe 2. Tujuan: Tinjauan sistematis ini menganalisis manfaat asupan serat larut air dengan kontrol glikemik pada pasien DM Tipe 2. Metode: Desain penelitian yang digunakan yaitu tinjauan sistematis. Penelusuran artikel melalui database elektronik PUBMED, EMBESE dan SCOPUS yang diterbitkan dalam rentang tahun 2014 – 2023 dengan kriteria yang disusun berdasarkan kerangka kerja PICO. Artikel dicari menggunakan kata kunci yang sudah di tetapkan dengan bahasa inggris. Systematic Review ini menggunakan 10 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan sesuai relevansi. Hasil pencarian database disajikan menggunakan diagram alir PRISMA. Hasil: Berdasarkan hasil analisis, 9 dari 10 artikel menunjukkan adanya hubungan antara asupan serat larut air dengan kontrol glikemik pada penderita DM Tipe 2. Asupan serat yang tinggi pada pasien DM Tipe 2 berhubungan dengan kontrol glikemik yang baik dibandingkan dengan yang asupan seratnya rendah. Kesimpulan: Pasien DM Tipe 2 yang serat harian nya tidak tercukupi memiliki kontrol glikemik yang kurang baik. Konsumsi asupan serat makanan yang lebih tinggi secara konsisten dikaitkan dengan status kontrol glikemik yang lebih baik dan menunjukkan efek perlindungan jangka panjang

    HUBUNGAN KOMPOSISI TUBUH DENGAN NILAI VOLUME OKSIGEN MAKSIMAL (VO2MAKS) PADA ATLET PRIA KELOMPOK USIA REMAJA DAN DEWASA AWAL (10-30 TAHUN): SYSTEMATIC REVIEW

    No full text
    Latar belakang: Secara fisiologis, atlet pria memiliki lemak tubuh lebih sedikit dan massa otot lebih tinggi daripada wanita. Kondisi tersebut mempermudah atlet pria mengatur konsumsi oksigen (O2) ke otot, sehingga performa maksimal dapat dicapai saat berolahraga. Kebugaran fisik atlet terkait dengan kemampuan puncak kinerja (hit peak performance). Rata-rata kemampuan puncak kinerja berada diusia < 30 tahun. Kebugaran fisik atlet dapat tergambar dari nilai vo2maks. Tujuan dari systematic review ini adalah untuk melihat hubungan antara komposisi tubuh dengan nilai vo2maks pada atlet pria kelompok usia remaja dan dewasa awal (10-30 tahun). Metode: Metode yang digunakan adalah systematic review menggunakan jurnal dari penulusuran database di ProQuest, Wiley Online Library, dan ScienceDirect. Terdapat lima artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi yang selanjutnya akan ditinjau kembali di artikel ini. Hasil: Komposisi tubuh yang diamati meliputi IMT, BM, LBM, BF, dan FM. Hasil didapatkan IMT berhubungan signifikan negatif dengan nilai vo2maks (r -0,42), (r -0,39), (r -0,36). BM berhubungan signifikan negatif dengan nilai vo2maks (r -0,39). LBM berhubungan signifikan positif dengan vo2maks (r  0,51), (r 0,38), dan (r 0,38). %BF berhubungan signifikan negatif  dengan vo2maks  (OR -0,804) dan (r -0,40). FM berhubungan signifikan negatif dengan nilai vo2maks (r -0,36) dan (r -0,36). Kesimpulan: Mengetahui komposisi tubuh atlet seperti IMT, LBM, BM, BF, dan FM dapat membantu menyusun program latihan yang sesuai dengan target atlet yang dibina. Target pencapaian berat badan dapat lebih efisien diatur bila sudah mengetahui bagian komposisi tubuh mana yang lebih memengaruhi berat badan atlet. Kata kunci: Vo2maks, Komposisi Tubuh, Atlet Pri
    corecore