Jurnal Kesehatan Komunitas
Not a member yet
548 research outputs found
Sort by
Perbedaan Efektivitas Edukasi dengan Metode Demonstrasi dan Video Pijat Bayi terhadap Pengetahuan dan Keterampilan Ibu
In Indonesia, 29.9% of stunting cases are undiagnosed, and this figure increases to 70% worldwide. Babies can benefit from various forms of stimulation, including massage. This study aimed to evaluate the efficacy of video tutorials on infant massage compared to traditional methods in teaching appropriate care to new mothers. This research uses a quasi-experimental design with a quantitative approach. The design uses two treatment groups instead of a control group. In each intervention group, the research sample consisted of 33 mothers whose babies were aged between 1 and 12 months. The sampling process uses probability sampling. To analyze data using univariate methods, we used the Wilcoxon test to determine differences in knowledge and skills and to determine differences in intervention effectiveness, we used the Mann-Whitney test. The mother's level of knowledge before and after the intervention was shown by the results of the Wilcoxon test. The skills acquired as well as the knowledge and skills of the video group showed a p-value of 0.000 < 0.05 after the video intervention. Therefore, in the group that underwent the demonstration, the p-value for knowledge was 0.002 < 0.05 and for skills was 0.000 < 0.05. This means that the results of knowledge and skills in these groups are different. Neither the demonstration method nor the baby massage video method differed significantly in effectiveness in terms of maternal education, according to the Mann-Whitney test (P value = 0.201). The skills test results for both interventions were statistically significant (P = 0.000), indicating that the video education method had a different impact on mothers' skills compared to the demonstration method. The impact of the demonstration is that the mother's knowledge increases and the mother can provide baby massage correctly. Di Indonesia, 29,9% kasus stunting tidak terdiagnosis, dan angka ini meningkat hingga 70% di seluruh dunia. Bayi bisa mendapatkan manfaat dari berbagai bentuk rangsangan, termasuk pijat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kemanjuran video tutorial pijat bayi dibandingkan metode tradisional dalam mengajarkan perawatan yang tepat kepada ibu baru. Penelitian ini menggunakan desain kuasi eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. desain menggunakan dua kelompok perlakuan sebagai pengganti kelompok kontrol. Pada setiap kelompok intervensi, sampel penelitian terdiri dari 33 ibu yang bayinya berusia antara 1 hingga 12 bulan. Proses pengambilan sampel menggunakan probabilitas sampling. Untuk menganalisis data menggunakan metode univariat, kami menggunakan uji Wilcoxon untuk mengetahui perbedaan pengetahuan dan keterampilan, dan untuk mengetahui perbedaan efektivitas intervensi, kami menggunakan uji Mann Whitney. Tingkat pengetahuan ibu sebelum dan sesudah intervensi ditunjukkan dengan hasil uji Wilcoxon. Keterampilan yang diperoleh serta pengetahuan dan keterampilan kelompok video menunjukkan nilai p sebesar 0,000 < 0,05 setelah intervensi video. Oleh karena itu, pada kelompok yang menjalani demonstrasi, nilai p untuk pengetahuan adalah 0,002 < 0,05 dan untuk keterampilan adalah 0,000 < 0,05. Artinya hasil pengetahuan dan keterampilan pada kelompok tersebut berbeda. Baik metode demonstrasi maupun video pijat bayi tidak berbeda secara signifikan efektivitasnya dalam hal pendidikan ibu, menurut uji Mann-Whitney (nilai P = 0,201). Hasil uji keterampilan untuk kedua intervensi signifikan secara statistik (P = 0,000), yang menunjukkan bahwa metode edukasi video mempunyai dampak yang berbeda terhadap keterampilan ibu dibandingkan metode demonstrasi. Dampak yang didapat dari demonstrasi yaitu pengetahuan ibu meningkat dan ibu dapat memberikan pijat bayi dengan benar.
Faktor yang Meningkatkan Kepatuhan Perawat dalam Penerapan Ventilator Bundle : Kajian Literatur
Background: Ventilator-associated Pneumonia (VAP) is a pneumonia infection after 48 hours of mechanical ventilation. According to WHO in 2018, the incidence of VAP in mechanically ventilated patients is around 22.8% in the world and accounts for 86% of nosocomial infections with the global incidence of VAP increasing between 9-27%. Even though it is standardized, the number of nurses compliance with ventilator bundles is low. Aim: to determine the factors that increase nurse compliance in implementing the ventilator bundle. Method: The research was conducted in June-September 2024. The research used a literature review spanning the years 2020-2024. The search used the PubMed and Google Scholar databases with the PRISMA search flow. Results: the increase in nurse compliance in implementing the ventilator bundle had an average of 22.56%. Some of the research locations studied were in various hospitals around the world, such as Brazil, Hungary, Argentina and India. The dominant research design or design in the study is cross-sectional. In the study, it was found that nurses' knowledge and education based on a combination of gamification, debriefing and simulation methods related to the ventilator bundle were internal factors. Apart from that, monitoring the ventilator bundle checklist is an environmental characteristic of external factors. Conclusion: internal factors that increase nurse compliance are ventilator bundle knowledge and education, while external factors are environmental characteristics in the form of a ventilator bundle checklist, so they need to be implemented to achieve compliance according to standards.Latar Belakang: Ventilator Associated Pneumonia (VAP) adalah infeksi pneumonia setelah 48 jam pemakaian ventilasi mekanik. Menurut WHO tahun 2018, insiden VAP pasien ventilasi mekanik sekitar 22,8% di dunia dan menyumbang 86% dari infeksi nosokomial dengan insiden VAP global meningkat antara 9-27%. Meskipun terstandarisasi, angka kepatuhan perawat terhadap ventilator bundle rendah. Tujuan: mengetahui faktor yang meningkatkan kepatuhan perawat dalam menerapkan ventilator bundle. Metode: Penelitian dilakukan pada Juni-September 2024. Penelitian menggunakan kajian literatur yang berada pada rentang tahun 2020-2024. Pencarian menggunakan database PubMed dan Google Scholar dengan alur pencarian PRISMA. Hasil: peningkatan kepatuhan perawat dalam penerapan ventilator bundle memiliki rata-rata sebesar 22,56%. Beberapa lokasi penelitian yang dikaji terdapat di berbagai rumah sakit dunia, seperti Brazil, Hungaria, Argentina, dan India. Desain penelitian atau rancang bangun yang dominan pada kajian adalah berupa cross sectional. Dalam kajian diketahui bahwa pengetahuan perawat dan pendidikan yang berbasis kombinasi dari metode gamifikasi, debriefing, dan simulasi terkait ventilator bundle sebagai faktor internal. Selain itu, monitoring checklist ventilator bundle sebagai karakteristik lingkungan pada faktor eksternal. Simpulan: faktor internal yang peningkat kepatuhan perawat adalah pengetahuan dan pendidikan ventilator bundle, sedangkan faktor eksternal adalah karakteristik lingkungan berupa checklist ventilator bundle, sehingga perlu diterapkan untuk mencapai kepatuhan sesuai standar
Faktor Risiko Gangguan Mental Emosional pada Prajurit TNI AD Kodam Iskandar Muda
The problem of mental disorders among soldiers is rarely discussed compared to similar problems among civilians. One form of mental disorder that is often found among soldiers is post-traumatic stress disorder or PTSD. This research aims to determine the risk factors for emotional mental disorders in TNI AD soldiers at the Iskandar Muda Military Command. This research is observational analytic using a cross sectional design. The population and sample are all TNI AD soldiers registered in the Iskandar Muda Regional Military Command Rikkeswa who had their health checked in 2021 and 2022 totaling 1047 people. This research uses secondary data. The data obtained were analyzed using logistic regression and linear regression tests.The research results showed that risk factors associated with emotional mental disorders in TNI AD soldiers at the Iskandar Muda Military Command were the SGOT enzyme (p= 0.018), body mass index (BMI) value (p= 0.002). and diastolic blood pressure (p= 0.029). Multivariate analysis of BMI value (p = 0.014) was the factor most associated with emotional mental disorders. The variable most associated with emotional mental disorders was BMI (p = 0.014). It is necessary to carry out a strategic action plan to reduce emotional mental disorders related to blood pressure, SGOT enzymes and BMI. Further research needs to be carried out to detect emotional mental disorders in the TNI.Problem gangguan mental di kalangan tentara memang jarang dibicarakan dibandingkan problem serupa di kalangan sipil. Salah satu bentuk gangguan mental yang acap ditemukan di kalangan prajurit ialah post traumatic stress disorder atau PTSD. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor risiko gangguan mental emosional pada prajurit TNI AD Kodam Iskandar Muda. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan menggunakan desain cross sectional . Populasi dan sampel adalah semua prajurit TNI AD yang terdata dalam Rikkeswa Kodam Iskandar Muda yang diperiksa kesehatannya pada tahun 2021 dan 2022 berjumlah 1047 orang. Penelitian ini menggunakan data sekunder. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji logistic regresi dan regresi linear. Hasil penelitian didapatkan faktor risiko yang berhubungan dengan gangguan mental emosional pada prajurit TNI AD Kodam Iskandar Muda adalah kadar enzim SGOT (p= 0.018), nilai indek massa tubu (IMT) (p= 0.002). dan tekanan darah diastolik (p= 0.029). Analisis multivariat nilai IMT (p = 0.014) adalah faktor yang paling berhubungan dengan gannguan mental emosional. Variabel yang paling berhubungan dengan gannguan mental emosional adalah nilai IMT (p = 0.014). Perlu dilakukan rencana aksi strategis mengurangi ganggguan mental emosional berkaitan dengan tekanan darah, enzim SGOT dan IMT. Perlu dilakukan penelitian selanjutnya untuk mendeteksi ganggguan mental emosional pada TNI
Analysis of the UPTD Strategy for Community Health Centers with BLUD Status in Jember District Using the SPACE Matrix Approach
The change of status of 50 Puskesmas to BLUD in Jember Regency, where each Puskesmas has a different background, some being internally strong and others weak, but on the other hand, there are standard requirements that must be achieved as a consequence of the Puskesmas' status change to BLUD, thus requiring strategies from the Puskesmas to achieve this goal. The purpose of this research is to analyze the strategy of UPTD Puskesmas with BLUD status in Jember Regency using the SPACE matrix approach. This research is a descriptive quantitative study. Data processing and analysis were conducted using quantitative analysis, with data collection done cross-sectionally. The sample size of 4 Puskesmas was selected using purposive sampling. Data collection techniques included questionnaires, validated through focus group discussions (FGD), and partly using existing secondary data at the Puskesmas. The analysis of the SPACE matrix shows that Puskesmas with weak internal strength are in the competitive quadrant, while Puskesmas with strong internal strength are in the aggressive quadrant. The organizational effectiveness, measured by aspects of financial performance and service delivery, shows good indicators. These results are influenced by each Puskesmas' strategy, thus requiring the implementation of clear, measurable, and achievable strategies according to an organization's capabilitiesPerubahan status 50 Puskesmas menjadi BLUD di Kabupaten Jember dimana setiap Puskesmas mempunyai latar berlakang yang berbeda beda, ada yang secara kekuatan internal kuat dan ada yang lemah tetapi di sisi lain ada standar-standar yang berlaku sama untuk semua Puskesmas yang harus dicapai sebagai konsekunesi perubahan status Puskesmas menjadi BLUD sehingga dibutuhkan strategi dari Puskesmas untuk mencapai tujuan tersebut. tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis strategi UPTD Puskesmas dengan status BLUD di Kabupaten Jember menggunakan pendekatan matrik SPACE. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan Analisa kuantitatif, pengumpulan data dilakukan secara cross sectional. Besar sampel 4 Puskesmas yang dipilih menggunakan Teknik purposive sampling. Teknik pengambilan data dengan instrument kuesioner dan divalidasi dengan cara fokus group diskusi (FGD) dan sebagian menggunakan data sekunder yang ada di Puskesmas. Hasil analisis matrik SPACE menunjukkan bahwa Puskesmas dengan kekuatan internal yang lemah berada pada kuadran kompetitif sedangkan Puskesmas dengan kekuatan internal yang kuat berada pada kuadran agresif dan efektivitas organisasi yang diukur berdasarkan aspek kinerja keuangan dan aspek kinerja pelayanan menunjukkan indikator yang baik. Hasil capaian ini dipengaruhi oleh strategi masing-masing Puskesmas sehingga perlu penerapan strategi yang jelas, terukur dan dapat dicapai sesuai kemampuan sebuah organisas
Pengaruh Bantuan Iuran JKN Terhadap Pemanfaatan Layanan Antenatal Care di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Indonesia
Data from the Ogan Ilir District Health Office shows that the coverage of antenatal care services is still not optimal. Only around 60-70% of pregnant women make complete ANC visits (at least four visits during pregnancy) according to the standards set by WHO. Most pregnant women in the Ogan Ilir District enrolled in NHI fall into the Contribution Assistance Recipient (PBI) category. This suggests that contribution assistance is critical in improving access to health services for low-income pregnant women. The purpose of this study was to analyze the effect of JKN contribution assistance on the utilization of Antenatal Care (ANC) services in Ogan Ilir District. The research design was a cross-sectional study using secondary data from the Field Learning Experience by the Faculty of Public Health, Sriwijaya University in 2023. The population was all mothers with children under five, with purposive sampling with 342 respondents in Pemulutan District and Tanjung Batu District, Ogan Ilir Regency, South Sumatra. Univariate analysis was used to describe each variable, and bivariate analysis using Chi-Square Test. The results showed no effect of the variables (NHI contribution assistance, age of father and mother, education of father and mother, number of family members, number of children under five, history of illness, and family income) on ANC service utilization. This indicates the need for additional interventions to increase ANC service utilization in the area.Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir bahwa cakupan layanan antenatal care masih belum optimal. Hanya sekitar 60-70% ibu hamil yang melakukan kunjungan ANC lengkap (minimal empat kali kunjungan selama kehamilan) sesuai standar yang ditetapkan oleh WHO. Mayoritas ibu hamil di Kabupaten Ogan Ilir yang terdaftar dalam JKN termasuk dalam kategori Penerima Bantuan Iuran (PBI). Ini menunjukkan bahwa bantuan iuran sangat penting dalam meningkatkan akses layanan kesehatan bagi ibu hamil dari kelompok ekonomi rendah. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh bantuan iuran JKN terhadap pemanfaatan pelayanan Antenatal Care (ANC) di Kabupaten Ogan Ilir. Desain penelitian adalah cross sectional study dengan menggunakan data sekunder Pengalaman Belajar Lapangan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya Tahun 2023. Populasi adalah seluruh ibu yang memiliki anak balita, penentuan sampel dengan purposive sampling dengan 342 responden yang terletak di Kecamatan Pemulutan dan Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan setiap variabel serta analisis bivariat menggunakan Uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh dari variabel-variabel (bantuan iuran JKN, usia ayah dan ibu, pendidikan ayah dan ibu, jumlah anggota keluarga, jumlah balita, riwayat penyakit, dan pendapatan keluarga) terhadap pemanfaatan layanan ANC. Ini mengindikasikan perlunya intervensi tambahan untuk meningkatkan pemanfaatan layanan ANC di daerah tersebut
Systematic Review: Pengaruh Penggunaan Resep Elektronik terhadap Kejadian Kesalahan Pengobatan di Rumah Sakit
Electronic prescribing systems are considered capable of facilitating the communication process related to pharmaceutical administration and services, as well as helping to translate prescriptions from doctors with pharmacists, patients, and other related medical personnel, to reduce the chances of medication errors occurring at the prescribing stage. This research article was conducted to determine the effect between the use of an electronic prescription system and the incidence of medication errors in the hospital. The research method used was a Systematic review study design conducted from May to June 2023. The Systematic review was based on data sources ScienceDirect, DOAJ, and Google Scholar with the keywords “electronic prescriptions” AND “medication errors” AND “patient safety”. From the extraction based on the inclusion and exclusion criteria, 9 selected articles were obtained. The results of the Systematic review showed that there was a positive effect of the use of electronic prescriptions on the incidence of medication errors in the hospital. So it can be concluded that the use of electronic prescriptions can reduce the incidence of medication errors in hospitals and improve the quality of health services.Electronic prescribing systems atau sistem resep elektronik dianggap mampu memudahkan proses komunikasi terkait pemberian dan pelayanan farmasi, juga membantu menerjemahkan resep dari dokter dengan apoteker, pasien, dan tenaga medis lainnya yang terkait sehingga menurukan peluang terjadinya kesalahan pengobatan pada tahap prescribing. Penelitian artikel ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh antara penggunaan sistem resep elektronik dengan kejadian kesalahan pengobatan di rumah sakit. Adapun metode penelitian yang dilakukan adalah menggunakan desain studi Systematic review yang dilakukan pada Mei hingga Juni 2023. Systematic review berdasarkan sumber data ScienceDirect, DOAJ, dan Google Scholar dengan kata kunci yakni, “electronic prescriptions” AND “medication errors” AND “patient safety”. Dari ekstraksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan 9 artikel terpilih. Hasil Systematic review menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dari penggunaan resep elektronik terhadap kejadian kesalahan pengobatan di rumah sakit. Sehingga bisa disimpulkan bahwa penggunaan resep elektronik mampu menurunkan kejadian kesalahan pengobatan di rumah sakit dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan
Karakteristik Kesalahan Pelayanan dengan Kebijakan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Muhammadiyah Semarang
Background: The field of dentistry prioritises and pays attention to patient safety because unsafe health services in the dental field result in an increase in the potential for morbidity and mortality as well as a financial burden on the health service system. In connection with health services in hospitals, errors have occurred due to the characteristics of service errors in dental and oral hospitals. Hospital staff themselves often need to correct things, including mistakes in discipline, communication, and technical errors. Patient safety is the concept of patients who are in health services so that they can achieve the expected impact. Objective: To measure the characteristics of service errors with patient safety policies at the Dental and Oral Hospital of Muhammadiyah University Semarang. Methods: This research is a quantitative descriptive study with a cross-sectional research design. A total of 68 samples were taken from dentists, young dentists and staff. Univariate analysis was assessed based on frequency distribution. Results: The highest positive response results were in the dimensions of the assessment of patient safety policies and services 95.59% were included in the very good/strong category, which means that the level of patient safety policies and benefits at RSGM Unimus was already supportive and in the assessment of internal cooperation (in units) had the lowest positive response, namely 71.64%, can be categorized as moderate so that it still needs to be improved in internal collaboration at RSGM Unimus. Conclusion: Overall, the characteristics of service errors and patient safety policies at the Muhammadiyah University Semarang Dental and Oral Hospital are good, especially in the assessment dimension of patient and service safety policies. Latar Belakang: Bidang kedokteran gigi sangat mengutamakan dan mementingkan keselamatan pasien karena pelayanan kesehatan di bidang kedokteran gigi yang tidak aman mengakibatkan peningkatan potensi morbiditas dan mortalitas serta beban finansial bagi sistem layanan kesehatan. Sehubungan dengan pelayanan kesehatan di dalam rumah sakit, terdapat kesalahan yang pernah terjadi sesuai dengan karakteristik kesalahan pelayanan di rumah sakit gigi dan mulut. Petugas rumah sakit sendiri sering melalukan kesalahan, meliputi kesalahan dalam kedisiplinan, komunikasi, hingga kesalahan teknis. Keselamatan pasien adalah konsep pasien yang sedang dalam pelayanan kesehatan sehingga dapat mencapai dampak yang diharapkan. Tujuan: Mengukur karakteristik kesalahan pelayanan dengan kebijakan keselamatan pasien di Rumah Sakit Gigi Dan Mulut Universitas Muhammadiyah Semarang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan rancangan penelitian cross sectional. Sebanyak 68 sampel diambil dari tenaga dokter gigi, dokter gigi muda dan staff. Analisis secara univariat dinilai berdasarkan distribusi frekuensi. Hasil: Hasil respon positif tertinggi berada pada dimensi penilaian terhadap kebijakan keselamatan pasien dan pelayanan 95,59% termasuk dalam kategori sangat baik/kuat yang artinya tingkat kebijakan keselamatan pasien dan pelayanan di RSGM Unimus sudah mendukung dan pada penilain kerjasama internal (dalam unit) memiliki respon positif terendah yaitu sebesar 71,64% dapat dikategorikan sedang sehingga masih perlu ditingkatkan kembali dalam kerjasama internal di RSGM Unimus. Kesimpulan: Secara keseluruhan karakteristik kesalahan pelayanan dengan kebijakan keselamatan pasien di Rumah Sakit Gigi Dan Mulut Universitas Muhammadiyah Semarang sudah bagus terutama pada dimensi penilaian terhadap kebijakan keselamatan pasien dan pelayanan
ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM KONVERGENSI STUNTING DI KABUPATEN ROKAN HULU TAHUN 2021
Convergence is an approach to delivering interventions that are coordinated, integrated, and jointly delivered to prevent stunting for priority targets. The implementation of stunting convergence in Rokan Hulu Regency began in 2018. This study aims to analyze the implementation of the stunting convergence program in Rokan Hulu Regency in 2021. This is a qualitative study with a rapid assessment procedure research design.The research informants consisted of the main informants, namely from Bappeda, the Health Office, the Head of the Stunting Locus Health Center, and the Stunting Locus Village Head. Supporting informants are DP3AKB, Department of Public Works, Department of Education, Department of Food Security, and Department of Fisheries and Marine Affairs. Data analysis was carried out by transcribing, analyzing, and forming a matrix of research results, then triangulating the data. The results showed that the human resources in charge of monitoring nutrition at the Stunting Locus Health Center were not all trained. The budget for stunting convergence was from the APBD and the APBN and was considered to have been right on target and in accordance with the budgeting needs given. Facilities and infrastructure tend to be inadequate to implement the stunting convergence program. In the implementation of 8 stunting convergence actions, it was found that every action had been carried out, even though there were constraints in human resources, internet network availability, data availability, and suitability. It was recommended to the Rokan Hulu Government to increase the capacity of human resource managers, complete facilities and infrastructure, and improve coordination between managers of the stunting convergence program.Konvergensi merupakan pendekatan penyampaian intervensi yang dilakukan secara terkoordinir, terintegrasi, dan bersama-sama untuk mencegah stunting kepada sasaran prioritas. Pelaksanaan konvergensi stunting di Kabupaten Rokan Hulu telah dilaksanakan sejak tahun 2018. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan program konvergensi stunting di Kabupaten Rokan Hulu tahun 2021. Jenis penelitian adalah kualitatif dengan desain penelitian Rapid assesment prosedur. Informan penelitian terdiri dari informan utama yaitu berasal dari Bappeda, Dinas Kesehatan, Kepala Puskesmas lokus stunting, dan kepala desa lokus stunting. Informan pendukung adalah DP3AKB, Dinas PU, Dinas Pendidikan, Dinas Ketahan Pangan, dan Dinas Perikanan dan Kelautan. Analisis data dilakukan dengan melakukan transkip data, analisis, dan pembentukan matriks hasil penelitian, kemudian trianggulasi data. Hasil penelitian diperoleh bahwa sumber daya manusia yang bertugas dalam pemantauan gizi di puskesmas lokus stunting dinilai belum semuanya terlatih. Penganggaran konvergensi stunting berasal dari APBD dan APBN dinilai telah tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan penganggaran yang diberikan. Sarana dan prasarana cenderung belum memadai untuk melaksanakan program konvergensi stunting. Pelaksanaan 8 aksi konvergensi stunting ditemukan bahwa setiap aksi telah dilaksanakan, meskipun terdapat kendala dalam sumber daya manusia, ketersediaan jaringan internet, ketersediaan dan kesesuaian data. Disarankan kepada Pemerintah Rokan Hulu untuk meningkatkan kapasitas SDM pengelola, melengkapi sarana dan prasarana serta meningkatkan koordinasi antar pengelola program konvergensi stunting
Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kinerja Pegawai Pada Puskesmas Teluk Lingga Tahun 2024
Community health centers are pivotal in delivering healthcare services, and it is crucial for them to continually enhance employee performance. The maximum employee headcount of Teluk Lingga Community Health Centre is reflected in the 2021 Community Satisfaction Index (CSI) results as follows: 81.63% in 2021, 81.69% in July 2022, and 81.61% in January 2023. It has yet to attain 100%. This study aims to investigate the factors influencing employee performance. The independent variables identified include organizational climate, work discipline, reward system, employee competence, and physical environment, while the dependent variable is defined as employee performance. An analytical research design employing a cross-sectional approach was utilised. The sample for this study comprises a total of 69 employees from Community health centers in Teluk Lingga. The data analysis used is a chi-square test and multiple logistic regression method. The results of the study are that the influential factors are organisational climate, work discipline, reward system, and employee abilities, which are not related to the physical environment. It is recommended that the provision of appropriate monetary and non-monetary rewards enhances employee performance. Leaders and management should be encouraged to ensure equitable rewards for all employees.Puskesmas adalah tombak pelayanan kesehatan dan untuk terus mengoptimalisasi pelayanan kinerja pegawai sangat diperlukan. Kurang maksimal pegawai Puskesmas Teluk Lingga ditunjukan dari hasil Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) tahun 2021 adalah 81.63%, pada bulan Juli 2022 adalah 81,69% dan Januari 2023 adalah 81,61% yang belum 100%. Tujuan dipenelitian ini adalah menganalisis faktor yang dapat memberikan pengaruhnya pada kinerja pegawai di Puskesmas Teluk Lingga Sangatta. Penelitian ini jenisnya analitik dengan pendekatan cross-sectional. Variabel independen mencakup iklim organisasi, disiplin kerja, penghargaan, kompetensi pegawai, dan lingkungan fisik, sedangkan variabel terikatnya adalah kinerja pegawai Puskesmas. Subjek penelitian ini terdiri dari seluruh pegawai UPT Puskesmas Teluk Lingga yang berjumlah 69 orang. Sampel dikumpulkan dengan menggunakan teknik penghitungan total sampling. Data dianalisis menggunakan uji chi-square dan analisis regresi logistik ganda. Hasil analisis diperoleh variabel yang berhubungan dengan kinerja karyawan di Puskesmas adalah iklim organisasi, disiplin kerja, sistem penghargaan, kompetensi pegawai dan variabel yang tidak berhubungan kinerja pegawai adalah lingkungan fisik. Sistem penghargaan merupakan varoabel yang paling berhubungan dengan kinerjanya pegawai. Disimpulkan kinerja pegawai akan semakin meningkat apabila pegawai mendapatkan penghargaan baik finansial maupun non finasial yag baik. Disarankan agar pimpinan dan manajemen melakukan upaya maksimal terhadap pemberian penghargaan secara merata kepada seluruh pegawainya
Integrasi Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) dalam Manajemen Puskesmas di Puskesmas Sidomulyo Kota Pekanbaru Riau Tahun 2023
The Healthy Indonesia Program with a Family Approach (PIS-PK) integrates program implementation through an approach of 6 main components in strengthening the health system (Six building blocks), namely health service efforts, availability of health workers, health information systems, access to the availability of essential medicines, financing and government leadership. Indonesia Health Program with Family Approach (PIS-PK) is a program that focuses on strengthening basic quality health through a family approach. However, its implementation is not easy because it requires strong motivation and adequate infrastructure. The purpose of the research was to determine the integration of the PIS-PK program in the management of Sidomulyo Community Health Center, Pekanbaru City. Method: The research used a qualitative research design with phenomenological approach. Participants consist of 7 people with interviews conducted since August 2023. Results of the research planned input stage P1 were limited because of a lack of human resources, inconsistent data input and entry and unclear sources of funding plans, difficult process for implementation of P2 intersectoral such as adjusting schedules with stakeholders and meeting target families because they were rarely at home and P3 monitoring, control and assessment was limited infrastructure and facilities such as a small number of computers, frequent interruptions of applications, and inadequate interventions. It is hoped that the health community centre to add human resources, and infrastructure and establish partnerships to complete the PIS-PK roadmap.Program Indonesia sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) ini mengintegrasikan pelaksanaan program melalui pendekatan 6 komponen utama dalam penguatan sistem kesehatan (Six building blocks), yaitu upaya pelayanan kesehatan, ketersediaan tenaga kesehatan, sistem informasi kesehatan, akses terhadap ketersediaan obat esensial, pembiayaan dan kepemimpinan pemerintah. Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) merupakan program yang berfokus pada penguatan upaya kesehatan dasar berkualitas yang dilakukan melalui pendekatan keluarga. Namun pelaksanaannya tidak cukup mudah sebab memerlukan motivasi yang kuat, sarana prasarana yang memadai. Riset ini bertujuan Mengetahui Integrasi Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga dalam manajemen puskesmas di puskesmas Sidomulyo Kota Pekanbaru. Metode: Penelitian menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan phenomenologi. Partisipan terdiri dari 7 orang dengan dilakukan wawancara yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2023. Hasil penelitian menunjukkan belum optimalnya integrasi program PIS PK disebabkan kurangnya tenaga terlatih dan beban kerja tinggi, infrastruktur dan fasiltas seperti teknologi informasi serta kurangnya partisipasi masyarakat koordinasi antar sektor terkait yang kurang efektif serta keterbatasan komunikasi antar petugas dan pendanaan yang tidak konsisten pengelolaan data yang belum terintegrasi serta kualitas data yang rendah maka disarankan puskesmas melakukan pelatihan berkelanjutan untuk tenaga kesehatan seperti penggunaan teknologi informasi peningkatan koordinasi antar sektor dan peningkatan anggaran serta sosialisasi lebih luas kepada masyarakat sehingga program PIS-PK dapat lebih optimal dalam mencapai tujuan peningkatan kualitas kesehatan keluarga