Jurnal Kesehatan Komunitas
Not a member yet
548 research outputs found
Sort by
Perbandingan Membaca Dan Menyimak Terhadap Kemampuan Working Memory Pada Gangguan Demensia Di Surakarta
Dementia is a complex disorder with the main symptom being a decline in areas of cognitive function, one of which is working memory. Working memory plays a role in cognitive-linguistic. If language ability decreases, then language skills are also disturbed, so it needs to be improved with activities such as reading and listening. The aim of this study was to compare reading and listening skills to working memory in people with dementia. This study employs a quantitative method with a cross-sectional design. The sample obtained amounted to 12 people based on the Slovin formula and the sampling technique using cluster random sampling. Data collection lasted 10 days, around October-November. Dementia screening using the MMSE form, working memory using the Numerical Memory Check form, reading and listening using a questionnaire that has been tested for validity and reliability. The results of bivariate analysis using multiple linear regression with a coefficient obtained a value of p = 0.381 and p = 0.708, and multivariate analysis with ANOVA obtained a value of p = 0.653, indicating that no analysis of the comparison of reading and listening to working memory ability in dementia disorders was conducted. In conclusion, there is no comparison between reading and listening and working memory ability in dementia disorders in Surakarta.Demensia merupakan gangguan kompleks dengan gejala utamanya yaitu penurunan area fungsi kognitif, salah satunya working memory. Working memory berperan dalam kognitif-linguistik sehingga apabila kemampuan bahasa mengalami penurunan, maka keterampilan bahasa juga terganggu untuk itu perlu ditingkatkan dengan kegiatan seperti membaca dan menyimak. Tujuan penelitian ini adalah melihat adanya perbandingan dari membaca dan mendengar terhadap kemampuan working memory pada penderita gangguan demensia. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel didapat berjumlah 12 orang berdasarkan rumus slovin dan teknik sampling menggunakan cluster random sampling. Pengambilan data berlangsung 10 hari, sekitar bulan Oktober-November. Skrining demensia menggunakan formulir MMSE, working memory menggunakan formulir Pemeriksaan Memori Angka, membaca dan menyimak menggunakan kuesioner yang sudah diuji validitas dan reliabilitas. Hasil analisis bivariat menggunakan Regresi Linier Berganda dengan uji Coefficient memperoleh nilai p = 0,381 dan p = 0,708 dan analisis multivariat dengan uji ANOVA memperoleh nilai p = 0,653 yang berarti tidak ada hasis analisis dari perbandingan membaca dan menyimak terhadap kemampuan working memory pada gangguan demensia. Kesimpulannya tidak ada perbandingan membaca dan menyimak terhadap kemampuan working memory pada gangguan demensia di Surakarta
Studi Kasus Perilaku Merokok sebelum dan Saat Pandemi Covid-19 Kelurahan Cicaheum Kota Bandung Tahun 2022
The Ministry of Health reports that smokers will have a greater chance of getting COVID-19 in 2020 compared to non-smokers. This study aims to do two things:(1) determine if smoking habits changed before and during the COVID-19 pandemic, and(2) learn about the causes and effects of people's smoking habits during the epidemic. This study used a mixed-methods explanatory sequential design as its research technique. Before moving on to qualitative research, the study employs quantitative approaches. Directly distributed questionnaires were used to collect quantitative data. Qualitative information was derived from extensive interviews and careful observation. The data showed that smoking locations did not vary before or during the pandemic (p = 0.679). The amount of time spent smoking did not change (p=0.570). Before and during the epidemic, there were various kinds of cigarettes (p=0.008). Cigarette smoking rates were lower before the COVID-19 epidemic and higher after it ended (p=0.030). Because of the pandemic's lack of physical activity and the fact that informants do not experience the health hazards of smoking, they continue to smoke. Smoking has a favorable impact on informants' well-being, leading to feelings of relaxation, comfort, and decreased burdens; it also has an economic impact, since expenditure on smoking is greater than other costs. Recommendation for smokers to cut down on cigarette usage to lower smoking risks.Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa perokok akan memiliki peluang lebih besar untuk tertular COVID-19 pada tahun 2020 dibandingkan dengan bukan perokok. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan dua hal: (1) mengetahui apakah kebiasaan merokok berubah sebelum dan selama pandemi COVID-19, dan (2) mempelajari penyebab dan dampak kebiasaan merokok masyarakat selama epidemi. Penelitian ini menggunakan metode campuran dengan desain sekuensial eksplanatori. Sebelum beralih ke penelitian kualitatif, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Kuesioner yang didistribusikan secara langsung digunakan untuk mengumpulkan data kuantitatif. Informasi kualitatif diperoleh dari wawancara ekstensif dan observasi yang cermat. Data menunjukkan bahwa lokasi merokok tidak bervariasi sebelum atau selama pandemi (p = 0,679). Jumlah waktu yang dihabiskan untuk merokok tidak berubah (p = 0,570). Sebelum dan selama epidemi, ada berbagai jenis rokok (p = 0,008). Tingkat merokok lebih rendah sebelum epidemi COVID-19 dan lebih tinggi setelah berakhir (p = 0,030). Karena minimnya aktivitas fisik akibat pandemi dan fakta bahwa informan tidak merasakan bahaya kesehatan dari merokok, mereka tetap merokok. Merokok berdampak baik pada kesejahteraan informan, yang menimbulkan perasaan rileks, nyaman, dan berkurangnya beban; merokok juga berdampak ekonomi, karena pengeluaran untuk merokok lebih besar daripada biaya lainnya. Rekomendasi bagi perokok untuk mengurangi penggunaan rokok guna menurunkan risiko meroko
Health Literacy dan Gejala Depresi pada Lansia di Denpasar
Health literacy is the ability to seek information, understand, and obtain information about health. It is very important for the older adults to have health literacy, because this ability can help the older adults obtain information about health. If the older adults have good health literacy, then they are able to achieve their physical and psychological well-being.. Objective: to explore the relationship between health literacy and depressive symptoms among older adults in community. Methods: The research design used analytics correlational with a cross-sectional approach. Purposive sampling technique was used in this study with a total sample of 98 older adults. This study was conducted on August 2023 by administering the Health Literacy Short Form Survey Questionnaire) to measure health literacy and the Geriatric Depression Scale to measure depressive symptoms. Data analysis in this study used Spearman Rank analysis. Results: The results of the Spearmen's rank correlation test were r = -0.469 with a significance value of p <0.001. This can be interpreted as meaning that there is a significant relationship between health literacy and depressive symptoms in the elderly. An elderly person who has poor health literacy may be at risk of developing symptoms of depression, and vice versa. Conclusion: Health Literacy is an important indicator that a person must have to achieve the desired health. Health Literacy contributes to reducing risk factors for health problems, both physical and mental.Health literacy adalah kemampuan dalam mencari informasi, memahami, serta memperoleh informasi seputar kesehatan. Lansia sangat penting memiliki health literacy, karena kemampuan ini dapat membantu lansia memperoleh informasi tentang kesehatan. apabila lansia memiliki health literacy yang baik, maka mereka mampu mencapai kesejahteraan fisik dan psikologisnya. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan health literacy dengan gejala depresi pada lansia di komunitas. Metode: Desain penelitian menggunakan analitic correlational dengan pendekatan cross-sectional. Tenik sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan sampel sebanyak 98 lansia. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2023 dengan memberikan kuesioner Health Literacy Short Form Survey Questionnaire untuk mengukur health literacy dan Geriatric Depression Scale untuk mengukur gejala depresi. Analisis data pada penelitian ini menggunakan Spearman Rank Hasil: Hasil uji korelasi spearmen’s rank adalah sebesar r = -0,469 untuk dengan nilai significance p <0,001. Hal ini dapat diartikan bahwa ada hubungan yang signifikan antara health literacy dengan gejala depresi pada lansia. Seseorang lansia yang memiliki literasi kesehatan yang buruk dapat beresiko memiliki gejala depresi, begitu juga sebaliknya. Simpulan: Health Literacy adalah indikator penting yang harus dimiliki seseorang untuk mendapatkan kesehatan yang diharapkan. Health literacy berkontribusi dalam pengurangan faktor resiko masalah kesehatan baik fisik maupun mental
Efektivitas Pregnancy e-Conseling terhadap Perilaku Kesehatan Maternal Selama Masa Pandemic COVID-19
The majority of pregnant women during the COVID-19 pandemic are reluctant to receive prenatal care for fear of being exposed to the virus, so online counseling is an alternative. This study aimed to identify the effectiveness of Pregnancy e-Counseling (PeC) on prenatal health behavior during pregnancy during the COVID-19 period. This research is quasi-experimental research with a pre-post test and control group design. The sampling technique was a simple random sampling of 94 respondents divided by 47 pregnant women in the control group and 47 in the intervention group in 6 health centers in Aceh Besar. The PeC intervention began with a Focus Group Discussion (FGD) followed by online counseling guided by a counselor and the provision of specially designed videos about the health of pregnant women during COVID-19. The instrument used was the standard Prenatal Health Behavior Scale (PHBS) questionnaire. The results showed a significant difference between prenatal health behavior before and after PeC in the intervention group with the Wilcoxon Test (p=0.000) and at the post-test between the control and intervention Mann-Whitney Test (p=0.000). Conclusion PeC is a very effective method to improve maternal health behavior during pregnancy, especially during a pandemic. So, it is highly recommended that PeC can be applied as part of a pregnancy visit to improve prenatal health.Mayoritas ibu hamil pada masa pandemi covid-19 enggan melakukan pemeriksaan kehamilan karena takut terpapar virus, sehingga konseling online menjadi alternatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi efektivitas Pregnancy e-Counselling (PeC) terhadap perilaku kesehatan prenatal selama kehamilan selama masa Covid-19. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan Pre-Post Test With Control Group Design. Teknik pengambilan sampel adalah simple random sampling pada 94 responden yang dibagi 47 ibu hamil pada kelompok kontrol dan 47 pada kelompok intervensi di 6 Puskesmas di Aceh Besar. Intervensi PeC diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) dilanjutkan dengan konseling online yang dipandu oleh konselor disertai dengan pemberian video yang dirancang khusus tentang kesehatan ibu hamil selama masa Covid-19. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner standar Prenatal Health Behavior Scale (PHBS). Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan antara perilaku kesehatan prenatal sebelum dan sesudah PeC pada kelompok intervensi dengan Uji Wilcoxon (p=0,000), dan pada post-test antara kontrol dan intervensi Mann-Whitney Test (p=0,000). Kesimpulan: PeC merupakan metode yang sangat efektif untuk meningkatkan perilaku kesehatan ibu selama kehamilan terutama pada masa pandemi. Sehingga sangat disarankan agar PeC dapat diterapkan sebagai bagian dari kunjungan kehamilan untuk meningkatkan kesehatan prenatal
Studi Kepuasan Pelayanan Kesehatan Masyarakat di Puskesmas Sungai Kapih Kota Samarinda
A long with technological advancements and societal demands for services, public service providers are required to meet the expectations of the community in delivering services. One of the efforts that must be made in improving public services is conducting community satisfaction surveys. The purpose of this research is to provide an overview of public satisfaction with the services received. The survey is conducted periodically using a descriptive method approach, where the measurement employs the Likert Scale. The respondents in this study were determined based on the Krejcie and Morgan table, consisting of 70 men and 105 women. This survey was conducted at the Sungai Kapih Health Center in Samarinda City from July to October 2024. Data collection was conducted using questionnaires and interviews with respondents who came to the health center. The results of this survey indicate that the complaint and facility elements have a lower satisfaction index compared to other elements. This is caused by the Sungai Kapih Health Center, which is currently providing services at a temporary location in a rented shop,where one of the components that can influence customer satisfaction is direct evidence or physical evidence (tangibles), namely facilities and infrastructure that can be felt directly or physically by customers. It is hoped that after the renovation process is complete, services can run smoothly, with better and more adequate facilities and infrastructure so that patient expectations and comfort are met. Patient satisfaction is a benchmark in the performance of public services, so it is necessary to immediately meet the expectations of the community regarding the provision of facilities and infrastructure in services at the health center.Seiring dengan kemajuan teknologi dan tuntutan masyarakat dalam hal pelayanan, maka unit penyelenggara pelayanan publik dituntut untuk memenuhi harapan masyarakat dalam melakukan pelayanan. Salah satu upaya yang harus dilakukan dalam perbaikan pelayanan publik adalah melakukan survei kepuasan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberi gambaran tentang kepuasan masyarakat terhadap layanan yang di terima . Survei dilakukan secara periodik dengan pendekatan metode deskriptif, dimana pengukurannya menggunakan Skala Likert. Respoden dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan tabel Krejcie dan Morgan yang terdiri dari laki-laki 70 orang dan perempuan 105 orang. Survey ini dilakukan di Puskesmas sungai Kapih Kota Samarinda pada bulan Juli sampai dengan Oktober 2024. Pengumpulan data di lakukan denga menggunakan quisioner dan wawancara pada responden yang datang ke Puskesmas. Hasil dari survey ini menunjukan bahwa unsur pengaduan dan sarana mempunyai indek kepuasan rendah dari unsur lainnya. Hal ini di sebabkan karena Puskesmas Sungai Kapih yang saat ini melakukan pelayanan dilokasi sementara yang bertempat ruko sewa, dimana salah satu komponen yang dapat memengaruhi kepuasan pelanggan adalah bukti langsung atau bukti fisik (tangibles), yaitu sarana dan prasarana yang dapat dirasakan secara langsung atau fisik oleh pelanggan. Diharapkan setelah prosses renovasi selesai, pelayanan dapat berjalan lancar, dengan sarana dan prasarana yang lebih baik lagi dan memadai harapan dan kenyamanan pasien terpenui .Kepuasan pasien merupakan tolak ukur dalam kinerja pelayanan publik , sehingga perlu segera di penuhi harapan masyarakat terkait penyediaan sarana dan prasarana dalam layanan di puskesmas
Pengaruh Stimulasi Sensori dengan Metode Terapi Kelompok terhadap Skor Geriatric Depression Scale Pada Lansia di Komunitas
People experience a natural aging process that causes changes in physical, biological and psychological conditions. These changes can lead to depression. Sensory stimulation in group therapy is used to provide sensory stimulation to the senses in order to express what is felt so it can help in reducing the symptoms of depression. This study aims to determine the effect of sensory stimulation group therapy on the level of depression seen from the Geriatric Depression Scale (GDS) score. The study was a one group pretest-posttest design with a sample size of 40. The research instrument used the GDS-30. Sensory stimulation group therapy was given 8 times. The characteristics of the research results were dominated by female samples, middle adulthood age category, non-working category and marital status still having a partner. Wilcoxon test p = 0.000 means p-value < a (0.05) indicates that sensory stimulation group therapy affects the GDS score. Sensory stimulation group therapy has an effect on reducing GDS scores because some of the activities provided are able to maintain individual sensory function and the implementation of group therapy has a positive effect on social life.Manusia mengalami proses menua secara alamiah yang menimbulkan perubahan pada kondisi fisik, biologi maupun psikologi. Perubahan tersebut dapat mengakibatkan depresi. Stimulasi sensori secara berkelompok digunakan untuk memberikan rangsangan sensori pada penginderaan agar dapat mengekspresikan apa yang dirasakan sehingga dapat membantu dalam penurunan gejala depresi yang dirasakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi kelompok stimulasi sensori terhadap tingkat depresi dilihat dari skor Geriatric Depression Scale (GDS). Penelitian ini merupakan one group pretest-posttest design dengan jumlah sampel 40. Instrumen penelitian menggunakan GDS-30. Pemberian terapi kelompok stimulasi sensori sebanyak 8 kali. Karakteristik hasil penelitian didominasi oleh sampel berjenis kelamin perempuan, kategori usia dewasa tengah, kategori tidak bekerja dan status perkawinan masih memiliki pasangan. Uji Wilcoxon p = 0,000 berarti p-value < a (0,05) menunjukkan bahwa terapi kelompok stimulasi sensori berpengaruh terhadap skor GDS. Terapi kelompok stimulasi sensori memberikan pengaruh terhadap penurunan skor GDS karena beberapa aktivitas yang diberikan mampu mempertahankan fungsi sensori individu dan pelaksanaan terapi kelompok memberi efek postif bagi kehidupan sosial
Hubungan Masa Kerja dan Postur Kerja dengan Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada Pekerja Mekanik di Bengkek Mobil Kisaran Fantasi
Musculoskeletal Disorders (MSDs) are complaints often experienced by workers who work in non-ergonomic conditions. The Kisaran Fantasi workshop is one of the car repair shops where workers bend, stoop, bend their wrists, and squat repeatedly when repairing cars for a long time. This causes workers to often feel pain in the back, calves, and numbness in the wrists. This study aims to determine the relationship between tenure and work posture with complaints of Musculoskeletal Disorders (MSDs) in mechanical workers at the Kisaran Fantasi car repair shop. The method in this study is descriptive quantitative with a cross-sectional design. The sample in this study used a total sampling technique of 55 workers. This research was conducted in January 2025. The analysis used in this study used univariate and bivariate tests and the chi-square test. The results showed that there was a relationship between length of service (P-value = 0.048) and work posture (P-value = 0.005) with complaints of Musculoskeletal Disorders (MSDs) in the Fantasy Range workshop. In conclusion, there is a significant relationship between length of service and work posture and Musculoskeletal Disorders (MSDs) complaints in the Fantasy Range workshop, all of which have a p-value > 0.05. Advice for workers to pay attention to posture while working, and advice for auto repair shop owners to provide additional assistance, such as wellness programs or referrals to medical specialists, for workers who are sick.Musculoskeletal Disorders (MSDs) merupakan keluhan yang sering dialami pekerja yang bekerja dengan keadaan tidak ergonomis. Bengkel Kisaran Fantasi adalah salah satu bengkel mobil yang aktivitas pekerjaannya membungkuk, menunduk, menekuk pergelangan tangan, dan berjongkok pada saat memperbaiki mobil dalam waktu yang cukup lama dan dilakukan secara berulang. Hal ini menyebabkan pekerja sering merasakan sakit di bagian punggung, betis dan merasakan kebas di pergelangan tangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan masa kerja dan postur kerja dengan keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada pekerja mekanik di bengkel mobil Kisaran Fantasi. Metode dalam penelitian ini kuantitatif deskriptif dengan desain cross-sectional. Sampel pada penelitian ini menggunakan teknik total sampling sebanyak 55 orang pekerja. Waktu penelitian ini dilakukan pada Januari 2025. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara masa kerja (P-value = 0,048) dan postur kerja (P-value = 0,005) dengan keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) di bengkel Kisaran Fantasi. Kesimpulannya terdapat hubungan yang signifikan antara masa kerja dan postur kerja dengan keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) di bengkel Kisaran Fantasi, di mana semua memiliki p-value > 0,05. Saran untuk pekerja agar memperhatikan postur tubuh pada saat bekerja dan saran untuk pemilik bengkel mobil menyediakan bantuan tambahan seperti program kesehatan atau rujukan ke spesialis medis untuk pekerja yang sakit
Penilaian Keberhasilan Pos Upaya Kesehatan Kerja Wisata Hutan Pinus Mangunan, D.I. Yogyakarta
Puskesmas Dlingo has initiated Basic Occupational Health Services (BOHS) in the Mangunan forest tourism village since 2019. To develop the BOHS, the program manager of the BOHS at the health centre is to carry out mentoring functions during the initiation of formation, coaching tasks after the UKK post is formed, and monitor and evaluate the implementation of the UKK post. Since its establishment, this UKK post has never been assessed for its activity. The purpose of this study was to assess BOHS in Mangunan forest tourism. This study is qualitative research with a case study approach. The informants consisted of nine people: the BOHS program manager and the head of the Puskesmas Dlingo, workers/cadres, the BOHS supervisor from the Bantul Regency Health Office, and the tourism manager. All informants were selected purposively. Data were collected using in-depth interview methods and analyzed thematically. The components to assess are the number of cadres, integrated health service activities, promotive and preventive activities, BOHS facilities, recording and reporting, and revolving funds. The study found that all components indicate the BOHS is currently less active and tends to be inactive. Puskesmas policies are needed through budgets, necessary training in occupational health empowerment, and networking.Puskesmas Dlingo telah menginisiasi pos UKK di desa wisata hutan Mangunan sejak tahun 2019. Dalam pengembangan pos UKK, tugas dan dan fungsi pengelola program pos UKK di puskesmas adalah melakukan tugas pendampingan saat inisiasi pembentukan, tugas pembinaan setelah pos UKK terbentuk, dan melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan pos UKK. Sejak didirikan, pos UKK ini belum pernah dilakukan penilaian keaktifan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai keaktifan pos UKK di wisata hutan Mangunan, Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan terdiri dari sembilan orang yakni pengelola program pos UKK dan kepala puskesmas Dlingo 2, pekerja/kader, pembina pos UKK dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, pengelola wisata, dipilih secara purposive. Metode pengumpulan data dengan wawancara mendalam dan dianalisis dengan analisis isi. Komponen penilaian keaktifan pos UKK adalah jumlah kader, aktivitas pelayanan kesehatan, aktivitas promotif dan preventif, sarana, pencatatan dan pelaporan serta pendanaan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan komponen penilaian, pos UKK wisata hutan Mangunan wilayah kerja Puskesmas Dlingo kondisinya saat ini kurang dan cenderung tidak aktif. Dibutuhkan kebijakan puskesmas dalam penganggaran, pelatihan partisipatif pemberdaya kesehatan kerja, memperluas jejaring
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Nyaris Cedera di Rumah Sakit di Indonesia: Kajian Literatur
Background: The percentage of incidents recorded as KNC in Indonesia was 47.6%, higher than the percentage of incidents reported as KTD, which was 46.2%. One important effort in patient safety is to reduce Near Miss Events (NME), which can avoid serious injury to patients that impact the services provided. Aim: This study aims to identify factors that influence Near Miss Events in hospitals in Indonesia. Method: The study used a literature review method. Search with Garuda, Semantic Scholar, and Google Scholar databases. The article criteria were research conducted in Indonesia, publications in 2014 - 2024, full text, free access, original articles and an explanation of NME in them. Results: The search resulted in 6 articles that met the criteria and were then analyzed based on Donabedian's Theory. The research findings showed that in the structure factor, the competence of medical personnel and work environment conditions were significant factors. In the process factor, team communication and compliance with SOPs influenced the risk of NME. The outcome factor showed that NME had an impact on decreasing patient trust and service quality. Conclusion: The occurrence of KNC in hospitals in Indonesia is influenced by structural, process, and outcome factors, it is necessary to focus on improvements in hospital management, staff training, improving medical team communication, and implementing a patient safety culture to reduce the risk of recurrence of such incidents.Latar Belakang: Rumah sakit merupakan institusi yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat, di mana keselamatan pasien harus menjadi prioritas utama. Salah satu upaya penting dalam keselamatan pasien adalah mengurangi Kejadian Nyaris Cedera (KNC), yang dapat menghindari cedera serius pada pasien yang berdampak pada pelayanan yang di berikan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian nyaris cedera di Rumah Sakit di Indonesia. Metode: Penelitian menggunakan metode literature review. Pencarian dengan database Garuda, Semantic Scholar, dan Google Scholar. Kriteria artikel yakni penelitian dilakukan di Indonesia, publikasi tahun 2014 - 2024, bentuk full text, free access, original article dan dengan penjelasan KNC di dalamnya. Hasil: Penelusuran menghasilkan 6 artikel yang sesuai kriteria dan kemudian dianalisis berdasarkan Teori Donabedian. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pada faktor structure, kompetensi tenaga medis dan kondisi lingkungan kerja menjadi faktor yang signifikan. Pada faktor process, komunikasi tim dan kepatuhan terhadap SOP memengaruhi risiko terjadinya KNC. Faktor outcome menunjukkan bahwa KNC berdampak pada menurunnya kepercayaan pasien dan kualitas pelayanan. Kesimpulan: Kejadian KNC di rumah sakit di Indonesia dipengaruhi oleh faktor struktur, proses, dan outcome, diperlukan fokus perbaikan dalam manajemen Rumah Sakit, pelatihan staf, peningkatan komunikasi tim medis, dan penerapan budaya keselamatan pasien untuk mengurangi risiko terulangnya kejadian tersebut.
Kata Kunci : Kejadian nyaris cedera, keselamatan pasien, Rumah Saki
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Penerimaan Orangtua Remaja Putri Terhadap Vaksin Human Papillomavirus
The government of Indonesia instructs the Human Papillomavirus (HPV) vaccine to be a mandatory vaccine for young women in Indonesia. The HPV vaccine effectively protects against HPV infection by HPV types 16 and 18, which are responsible for more than 70% of cervical cancers. There are challenges in the implementation of HPV vaccination related to parental acceptance. This study aims to determine the factors that influence the acceptance of parents of young women to the HPV vaccine in the Pejuang Public Health Center area. This research performed a cross-sectional design with 197 parents or guardians of young women domiciled in the Pejuang Public Health Center area who were selected using consecutive sampling. Data analysis utilized the Chi-Square, Mann-Whitney, Independent T, and Multiple Logistic Regression with Backward Method tests. The results revealed that only three variables had a significant relationship with acceptance of the HPV vaccine with an odds ratio of knowledge (OR=3.01, p=0.000), attitude (OR=4.76, p=0.000), and health literacy (OR = 2.15, p=0.016). The results of multivariate analysis disclosed that the most influential factor in acceptance of the HPV vaccine was attitude (OR=4.41, p=0.00). This study concluded factors that influenced parents’ acceptance of the HPV vaccine were knowledge, attitude, and health literacy, with the most influencing factor being attitude. Efforts to socialize the benefit of the HPV vaccine in the parental community are suggested to improve the attitudes of young women's parents to support their daughters in getting the HPV vaccine.Pemerintah Indonesia menginstruksikan vaksin Human Papillomavirus (HPV) menjadi vaksin wajib bagi remaja putri di Indonesia. Terdapat tantangan dalam pelaksanaan vaksinasi HPV terkait penerimaan orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan orang tua remaja putri terhadap vaksin HPV di wilayah Puskesmas Pejuang. Penelitian cross-sectional ini dilakukan terhadap 197 orang tua atau wali remaja putri yang berdomisili di wilayah Puskesmas Pejuang yang dipilih secara konsekutif sampling. Analisis data menggunakan uji Chi-Square, Mann-Whitney, Independent T, dan Regresi Logistik Berganda dengan Metode Backward. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya tiga variabel yang memiliki hubungan signifikan terhadap penerimaan vaksin HPV dengan odds rasio pengetahuan (OR=3.01, p=0.000), sikap (OR=4.76, p=0.000), dan literasi kesehatan (OR = 2,15, p=0,016). Hasil analisis multivariat diketahui bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap penerimaan vaksin HPV adalah sikap (OR=4.41, p=0.00). Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi penerimaan orang tua terhadap vaksin HPV adalah pengetahuan, sikap, dan literasi kesehatan, dengan faktor yang paling berpengaruh adalah sikap. Upaya sosialisasi manfaat vaksin HPV pada komunitas orang tua disarankan untuk meningkatkan sikap orang tua remaja putri dalam mendukung anak perempuannya mendapatkan vaksin HPV