Jurnal Kesehatan Komunitas
Not a member yet
548 research outputs found
Sort by
Analisis Kebutuhan Tenaga Rekam Medis Menggunakan Metode Workload Indicator Staff Needs (WISN) Di Unit Rekam Medis Puskesmas Langsat Pekanbaru: Analisis Kebutuhan Tenaga Rekam Medis Menggunakan Metode Workload Indicator Staff Needs (WISN) Di Unit Rekam Medis Puskesmas Langsat Pekanbaru
Human Resources is an important component of an institution which acts as a thinker and planner for the development of an institution. Every institution needs to analyze and identify the availability of human resources to achieve its goals. One way is by mapping the workload. Patient visits to the Langsat health centre are 35-40 people/day. There are 2 medical records officers, none of whom have a D3 Medical Records education. This research aims to determine the estimated number of medical records personnel using the WISN method. This research uses a qualitative descriptive research design with the time and motion study method. The research informants were 2 medical records officers and 1 TU head. Data were collected using observation table instruments, interviews, stopwatches and computers and then analyzed using the WISN method. When the research was carried out in August 2023. The variables of this research were available working time, workload standards, allowance standards, and the number of workers needed. The research results are the amount of available working time is 69,360 minutes/year, the workload standard is 180,336 minutes/year, the allowance standard is 15,480 minutes/year or 0.22, and the workforce requirement is 3 people. From the results of the workforce calculation, it is hoped that there will be an additional 1 person on staff, especially D3 Medical Records staff.Sumber Daya Manusia merupakan salah satu komponen penting sebuah institusi yang berperan sebagai, pemikir, dan perencana perkembangan suatu Lembaga. Setiap institusi perlu menganalisis dan mengidentifikasi ketersediaan SDM agar dapat mencapai tujuannya. Salah satunya dengan memetakan beban kerjanya. Kunjungan pasien pada puskesmas langsat berjumlah 35-40 orang/hari. Petugas rekam medis sebanyak 2 orang dan tidak ada yang berpendidikan D3 Rekam Medis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perkiraan jumlah tenaga rekam medis menggunakan metode WISN. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kualitatif dengan metode time and motion study . Informan penelitian adalah petugas rekam medis sebanyak 2 orang dan 1 orang kepala TU. Pengumpulan data menggunakan instrumen tabel observasi, wawancara, stopwatch dan komputer lalu dianalisis menggunakan metode WISN. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2023. Variabel penelitian ini adalah waktu kerja tersedia, standar beban kerja, standar kelonggaran, jumlah kebutuhan tenaga kerja. Hasil penelitian adalah waktu kerja tersedia berjumlah 69.360 menit/tahun, standar beban kerja berjumlah 180.336 menit/tahun, standar kelonggaran berjumlah 15.480 menit/tahun atau 0,22, kebutuhan tenaga kerja berjumlah 3 orang. Dari hasil perhitungan tenaga kerja diharapkan adanya penambahan petugas sebanyak 1 orang khususnya tenaga D3 Rekam Medis
Perbedaan Kadar Hepsidin pada Remaja Putri Anemia dan Non Anemia
Anemia affects 32% of Indonesian teenagers, which means that 3–4 out of 10 of them have the condition. Adolescent anemia will develop into pregnant anemia if it is not treated, which will affect the results for the mother and the newborn and could raise the chance of stunting. Before iron is distributed and stored as reserves (ferritin), hepcidin is a crucial hormone that controls systemic iron homeostasis. A test of hepcidin can distinguish between iron deficiency anemia and anemia of chronic disease. The purpose of this study is to examine the variations in hepcidin levels between teenage girls who are anemic and those who are not. This study uses a cross-sectional comparative approach and is of the observational analytical kind. Female students in their late teens attending Baiturrahmah University in Padang made up the study's sample. Requirements for inclusion include not having a history of diabetes mellitus, kidney illness, hemoglobinopathy, or smoking. Using a sequential sampling procedure, 36 individuals were selected, 18 of whom had anemia and the remaining 18 of whom did not. Hepcidin levels are derived from the outcomes of the ELISA method used to measure the serum hepcidin-25. The statistical test used is the Mann-Whitney test because the data is not normally distributed. The results showed that the average hepcidin level in the anemia group was lower than the hepcidin level in the non-anemia group (0,43±0,1 ng/ml vs 0,46±0,09 ng/ml. Statistical tests showed that there was no significant difference between hepcidin levels in the anemia group and the non-anemia group (p=0,43). The conclusion was that there was no significant relationship between hepcidin levels and anemia in adolescents. It is recommended that further research be conducted on hepcidin and other biomarkers that affect the action of hepcidin and the need to consider hepcidin testing in diagnosing anemia.Anemia dialami oleh 32 % remaja Indonesia, artinya 3-4 dari 10 remaja menderita anemia. Jika anemia pada masa remaja tidak teratasi maka akan berkembang menjadi anemia kehamilan yang berdampak pada outcome ibu dan bayi baru lahir bahkan meningkatkan risiko stunting. Hepsidin adalah hormon kunci yang mengatur homeostasis besi sistemik sebelum besi didistribusikan dan disimpan sebagai cadangan (ferritin). Pengukuran hepsidin mampu membedakan Anemia Penyakit Kronis dan Anemia Defisiensi Besi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kadar hepcidin antara remaja putri anemia dan non anemia. Penelitian ini berjenis observasional analitik dengan pendekatan komparatif cross sectional. Sampel yang diteliti adalah mahasiswi usia remaja akhir di Universitas Baiturrahmah Padang. Kriteria inklusi: tidak merokok, tidak ada riwayat hemogobinopati, tidak ada riwayat penyakit ginjal, tidak ada riwayat diabetes melitus. Sampel berjumlah 36 orang diambil dengan teknik sekuensial sampling, terdiri dari 18 sampel anemia dan 18 sampel non anemia. Kadar hepsidin merupakan kadar yang diperoleh dari hasil pengukuran serum hepcidin-25 responden yang diukur dengan metode Enzyme-Linked Immunosorbent Assays (ELISA). Uji statistik yang digunakan adalah uji Mann Whitney karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar hepsidin pada kelompok anemia lebih rendah dibandingkan dengan kadar hepsidin pada kelompok non anemia (0,43±0,1 ng/ml vs 0,4,6±0,09 ng/ml. Namun secara statistik Hasil uji menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antara kadar hepsidin pada kelompok anemia dan kelompok tidak anemia (p=0,43). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar hepsidin dengan anemia pada remaja putri. Disarankan agar dilakukan pengembangan penelitian mengenai hepsidin dan biomarker lainnya yang mempengaruhi kerja hepsidin serta perlunya pertimbangan pemeriksaan hepsidin dalam mendiagnosis anemia
Hubungan Asupan Gizi, Perilaku Makan (Picky Eater) dengan Status Gizi Penderita Austism di Tempat Terapi Autis Kota Pekanbaru
Children with autism are at high risk of experiencing unbalanced nutritional fulfilment, in addition, children with Autism Spectrum Disorders (ASD) tend to have picky eating behavior, behavioral disorders when eating, refusing to eat and being sensitive to the texture and smell of certain foods. Picky eating is one of the eating behaviors that affect nutritional status. Nutritional problems are not only poor nutritional status but short and thin children can also affect the growth and development of children. According to several studies, if picky eating in children is not treated immediately, it will have effects, such as inadequate certain nutrients which will affect nutritional status. Good nutritional status will be achieved if the body gets a balanced intake of nutrients according to needs. To achieve optimal nutritional status and not excessive eating habits autism sufferers must contain the appropriate amount of nutrients to meet physiological needs during growth and development. The eating behavior of autistic children at the autism therapy centre in Pekanbaru City experiences problems with inadequate food intake. Several autistic children always consume only one type of food. This study aims to determine the relationship between nutritional intake, eating behavior (picky eater) and the nutritional status of autism sufferers at autism therapy centres in Pekanbaru City. This cross-sectional study on 90 autistic children was conducted at autism service centres and autism therapy clinics in Pekanbaru City using random sampling techniques. Analysis to determine the relationship between nutritional intake, and eating behavior (picky eater) with nutritional status using the chi-square test with a significance limit of α = 0.05. The results showed a significant relationship between energy, carbohydrate, protein and fat intake and the nutritional status of autistic children (p <0.05). The relationship between iron and zinc intake and the nutritional status of autistic children did not have a significant relationship (p> 0.05). The results of the analysis of the relationship between picky eater behavior and nutritional status showed no significant relationship with a p-value (p> 0.05).Anak-anak penderita autisme berisiko tinggi mengalami pemenuhan gizi yang tidak seimbang, selain itu anak-anak dengan Autism Spectrum Disorders (ASD) cenderung memiliki perilaku memilih makanan (picky eater), gangguan perilaku saat makan, menolak makan dan sensitif terhadap tekstur dan bau makanan tertentu. Picky eater sebagai salah satu perilaku makan yang mempengaruhi status gizi. Permasalahan gizi tidak hanya status gizi kurang tetapi anak pendek dan kurus juga dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Menurut beberapa penelitian jika picky eater pada anak tidak segera ditangani akan memberikan efek, seperti inadekuat zat gizi tertentu yang akan berakibat pada status gizi. Status gizi yang baik akan tercapai apabila tubuh mendapatkan asupan zat gizi yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan. Untuk mencapai status gizi yang optimal dan tidak berlebih kebiasaan makan penderita autisme harus mengandung jumlah zat gizi yang sesuai guna memenuhi kebutuhan fisiologi selama masa pertumbuhan dan perkembangan. Perilaku makan anak autisme yang ada di tempat terapi autis Kota Pekanbaru, mengalami permasalahan pada asupan makan yang tidak adekuat, terdapat beberapa anak autisme yang selalu mengkonsumsi satu jenis makanan saja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan gizi, perilaku makan (picky eater) dengan status gizi penderita autism di tempat terapi autis Kota Pekanbaru. Penelitian cross sectional pada 57 anak autis ini dilakukan di pusat pelayanan autis dan klinik-klinik terapi autis di Kota Pekanbaru dengan teknik random sampling. Analisis mengetahui hubungan asupan gizi, perilaku makan (picky eater) dengan status gizi menggunakan uji chi square dengan batas kemaknaan sebesar α= 0,05. Hasil didapatkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara asupan energi, karbohidrat, protein dan lemak dengan status gizi anak autisme (p<0.05). Sedangkan hubungan antara asupan zat besi dan seng dengan status gizi anak autisme tidak memiliki hubungan yang nyata (p>0.05). Hasil analisis hubungan antara perilaku picky eater dengan status gizi menunjukkan hasil tidak memiliki hubungan yang nyata dengan p value (p>0.05)
Penilaian Implementasi Rekam Medis Elektronik Dengan Metode HOT-FIT di Puskesmas Kota Padang
The implementation of Electronic Medical Records (EMR) in public health centers by December 31, 2023, as mandated by the Ministry of Health Regulation No. 24 of 2022, faces challenges in human, organizational, and technological aspects. This study evaluates the EMR system in public health centers in Padang using the HOT-FIT method through a mixed-method approach conducted from April to June 2024. Quantitative data were collected through a cross-sectional survey of 72 respondents (doctors, medical record staff, nurses) and qualitative data from 48 informants (heads of health centers, medical record staff). The findings indicate that in the human aspect, system usage was rated good (54.2%), but user satisfaction was low (58.3%). Organizational aspects, including structure (52.8%) and environment (54.2%), were rated good. In the technology aspect, system quality (51.4%) and information quality (56.9%) were rated poor, while service quality was rated good (62.5%). The net benefit aspect (55.6%) highlighted EMR's contribution to improving work efficiency and effectiveness. Challenges include insufficient training, low technological literacy, network disruptions, inadequate infrastructure, weak patient data security, and incomplete patient records. The study recommends the development of a mayoral regulation to address these challenges and enhance EMR implementation in Padang.Kewajiban penerapan Rekam Medis Elektronik (RME) di puskesmas sebelum 31 Desember 2023, sebagaimana diatur dalam Permenkes No. 24 Tahun 2022, masih menghadapi tantangan pada aspek manusia, organisasi, dan teknologi. Penelitian ini mengevaluasi sistem RME di puskesmas Kota Padang menggunakan metode HOT-FIT dengan pendekatan mixed-method pada April–Juni 2024. Data kuantitatif dikumpulkan secara cross-sectional dari 72 responden (dokter, petugas rekam medis, perawat) dan data kualitatif dari 48 informan (kepala puskesmas, petugas rekam medis). Hasil menunjukkan bahwa aspek manusia, khususnya penggunaan sistem, dinilai baik (54,2%), namun kepuasan pengguna rendah (58,3%). Aspek organisasi, meliputi struktur (52,8%) dan lingkungan (54,2%), dinilai baik. Pada aspek teknologi, kualitas sistem (51,4%) dan informasi (56,9%) dinilai kurang baik, meskipun kualitas layanan dianggap baik (62,5%). Aspek manfaat bersih (55,6%) menunjukkan kontribusi RME dalam efisiensi dan efektivitas kerja. Kendala yang ditemukan mencakup pelatihan yang kurang memadai, literasi teknologi rendah, gangguan jaringan, infrastruktur tidak memadai, keamanan data pasien yang lemah, dan kelengkapan data yang tidak optimal. Penelitian merekomendasikan penyusunan peraturan wali kota untuk mengatasi kendala tersebut dan meningkatkan implementasi RME di Kota Padang
Pengaruh Peran Jender dan Stres Kerja terhadap Kinerja Perawat dengan Kepuasan Kerja sebagai Variabel Mediasi
Gender roles and work stress are factors that can influence the performance of healthcare workers, particularly nurses. In a hospital setting, differences in gender roles often affect job satisfaction and performance, while work stress can be a barrier to achieving optimal performance. This study aims to analyze the influence of gender roles and work stress on nurses' performance, with job satisfaction as a mediating variable. This research adopts a quantitative approach using a survey method. Data were collected through questionnaires from 140 nurses at RSUD dr. H. Jusuf SK in North Kalimantan Province using purposive sampling. Data analysis was conducted using the Partial Least Square (PLS) method. The results show that gender roles positively affect both nurses' performance and job satisfaction, whereas work stress does not have a significant impact on performance or job satisfaction. Additionally, job satisfaction is proven to mediate the relationship between gender roles and performance but does not mediate the relationship between work stress and performance. These findings reinforce the notion that job satisfaction plays a crucial role in enhancing nurses' performance, especially in the context of gender roles. Practically, the results of this study provide implications for hospital management to develop more inclusive policies regarding gender roles and stress management strategies to improve nurses' performance. By doing so, RSUD dr. H. Jusuf SK in North Kalimantan Province can create a more supportive and conducive work environment for all healthcare workers.Peran gender dan stres kerja merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kinerja tenaga kesehatan, khususnya perawat. Dalam lingkungan rumah sakit, perbedaan peran gender sering kali memengaruhi kepuasan dan kinerja, sementara stres kerja dapat menjadi hambatan dalam pencapaian kinerja optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh peran gender dan stres kerja terhadap kinerja perawat dengan kepuasan kerja sebagai variabel mediasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Data dikumpulkan melalui kuesioner dari 140 perawat di RSUD dr. H. Jusuf SK Provinsi Kalimantan Utara menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan metode Partial Least Square (PLS), Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran gender berpengaruh positif terhadap kinerja dan kepuasan kerja perawat, sedangkan stres kerja tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja dan kepuasan kerja perawat. Selain itu, kepuasan kerja terbukti memediasi hubungan antara peran gender dan kinerja, tetapi tidak memediasi hubungan antara stres kerja dan kinerja. Temuan ini menguatkan bahwa kepuasan kerja memiliki peran penting dalam meningkatkan kinerja perawat, terutama dalam konteks peran gender. Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan implikasi bagi manajemen rumah sakit untuk mengembangkan kebijakan yang lebih inklusif terkait peran gender serta strategi pengelolaan stres guna meningkatkan kinerja tenaga perawat. Dengan demikian, RSUD dr. H. Jusuf SK Provinsi Kalimantan Utara dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih suportif dan kondusif bagi seluruh tenaga Kesehatan
Efektivitas Senam Tera terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi: Scoping Review
Hypertension is one of the main causes of cardiovascular disease that currently has a significant increase. One of the treatments for hypertension is a non-pharmacological approach performed with the intervention of tera gymnastics. This review aimed to determine the effectiveness of tera gymnastics in reducing blood pressure in hypertensive patients. A scoping review with PRISMA-ScR guidelines was performed to identify relevant studies from Google Scholar and Semantic Scholar. The inclusion criteria included full-text articles in Indonesian or English, quasi-experimental design, and published by journal institutions from 2015-2024. From six articles included, a diversity of samples, instruments, and interventions was found. Samples were adults to elderly with stage I to stage II hypertension who had measured using aneroid, mercury, and digital sphygmomanometer instruments. These samples were engaged in tera gymnastics sessions 2 to 3 times a week for periods ranging from 1 to 8 weeks. Despite these diverse characteristics, all studies consistently found that tera gymnastics has effectively reduces blood pressure in hypertensive patients.Hypertension is one of the main causes of cardiovascular disease that currently has a significant increase. One of the treatments for hypertension is a non-pharmacological approach performed with the intervention of tera gymnastics. This review aimed to determine the effectiveness of tera gymnastics in reducing blood pressure in hypertensive patients. A scoping review with PRISMA-ScR guidelines was performed to identify relevant studies from Google Scholar and Semantic Scholar. The inclusion criteria included full-text articles in Indonesian or English, quasi-experimental design, and published by journal institutions from 2015-2024. From six articles included, a diversity of samples, instruments, and interventions was found. Samples were adults to elderly with stage I to stage II hypertension who had measured using aneroid, mercury, and digital sphygmomanometer instruments. These samples were engaged in tera gymnastics sessions 2 to 3 times a week for periods ranging from 1 to 8 weeks. Despite these diverse characteristics, all studies consistently found that tera gymnastics has effectively reduces blood pressure in hypertensive patient
Pengaruh Diabetes Self Management Education (DSME) Terhadap Peningkatan Pengetahuan pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas Pariaman Kota Pariaman Tahun 2022
Diabetes mellitus (DM) is now growing into a global health problem. The International Diabetes Federation (IDF) shows that the prevalence of DM in the world is estimated to increase from 536,6 million cases (10,5%) in 2021 to 783,2 million (12,2%) in 2045. The number of DM cases in Pariaman City in 2021 was 978, with the highest number at the Pariaman Health Center (201 cases). Of the 22 villages in the Pariaman Health Center work area, the highest number of DM cases was obtained in Kampung Baru village (36 cases). The purpose of this study is to determine the effect of diabetes self-management education (DSME) on increasing the knowledge of people with type 2 diabetes mellitus in the work area of the Pariaman Health Center, Pariaman City, in 2022. This study is a quasi-experimental research with a one-group pretest and posttest design. The sampling technique was a total sampling of 36 respondents. The research was conducted in Kampung Baru village, the working area of the Pariaman Health Center, from June 27 to August 6, 2022. Data collection tools are carried out using questionnaires and computerized data processing. The results of the study showed that there was an increase in respondents' knowledge after being given the DSME intervention, from 61.1% to 86.1%. In addition, it was also found that there was an effect of DSME intervention on increasing knowledge in patients with type 2 diabetes mellitus in the Pariaman City Health Center Working Area in 2022 (p-value = 0.000 < 0.05). It is hoped that people with diabetes mellitus will know how to manage their diabetes mellitus care so that their sugar levels can return to normal and stable.Diabetes melitus (DM) kini tumbuh menjadi masalah kesehatan dunia. Dari data Internasional Diabetes Federation (IDF) menunjukkan prevalensi DM di dunia diperkirakan meningkat dari 536,6 juta kasus (10,5%) Tahun 2021 menjadi 783,2 juta pada Tahun 2045. Jumlah kasus DM di Kota Pariaman Tahun 2021 sebanyak 978 kasus dengan jumlah kasus terbanyak di Puskesmas Pariaman (201 kasus). Dari 22 desa di wilayah kerja Puskesmas Pariaman jumlah kasus DM terbanyak didapatkan di desa Kampung Baru (36 kasus). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh diabetes self management education (DSME) terhadap peningkatan pengetahuan penderita diabetes melitus tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Pariaman Kota Pariaman Tahun 2022. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental dengan one group pretest posttest design. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling yaitu 36 responden. Penelitian dilakukan di desa Kampung Baru wilayah kerja Puskesmas Pariaman pada tanggal 27 Juni sampai dengan 6 Agustus 2022. Alat pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan pengolahan data secara komputerisasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan responden setelah diberikan intervensi DSME yaitu dari 61,1% menjadi 86,1 %. Selain itu juga didapatkan adanya pengaruh intervensi DSME terhadap peningkatan pengetahuan pada penderita diabetes melitus tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas Pariaman Kota Pariaman Tahun 2022 (p value = 0,000 < 0.05). Diharapkan penderita diabetes melitus mengetahui bagaimana manajemen perawatan diabetes melitus agar kadar gula penderita dapat kembali normal dan stabil
Kelelahan Kerja pada Pekerja Beberapa Industri Tahu di Desa Kenteng, Bandungan, Semarang
Tofu industries in Kenteng Village, Bandungan, Semarang use manual production methods. The subjective complaint of fatigue potentially occurred. The purpose of this study is to analyze several variables that have an influence on worker fatigue in the tofu industry in Kenteng Village, Bandungan, Semarang. This research utilized a quantitative research method and a cross-sectional approach. All 30 workers from three home industries were recruited as the research subjects. Variables in this study were age, years of service, nutritional status, working hours, and physical workload as the independent variables, and work fatigue as the dependent variable. This study operated a chi-square statistical analysis with an alpha (α) at 0.05. This research showed no association between age (p-value: 0.361; α: 0.05 ) and working hours (p-value: 0.269; α: 0.05) on work fatigue. In addition, there is a significant association between the length of work (p-value: 0.019; α: 0.05), nutritional status (p-value: 0.037; α: 0.05), and physical workload (p-value: 0.037; α: 0.05) on work fatigue. It is recommended to implement the rest period regularly, share responsibilities, apply working hours according to labor law, and take several breaks to exercise body stretching.Pekerjaan di industri tahu ini tenaga manusia masih sangat dibutuhkan dalam proses produksi. Kondisi ini berpotensi menimbulkan kelelahan setelah bekerja pada pekerja yang bersangkutan. Adapun tujuan penelitian ini yaitu menganalisis beberapa variabel yang memilki hubungan dengan kelelahan pekerja pada industri tahu di Desa Kenteng, Bandungan, Semarang. Metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan survei analitik dan melalui pendekatan cross-sectional serta analisis dengan Chi-Square. Tiga industri tahu sebagai populasi penelitian dengan jumlah total 30 pekerja direkrut sebagai responden penelitian. Variabel bebas penelitian berupa karakteristik pekerja meliputi: usia, masa kerja, dan status gizi; faktor pekerjaan meliputi: jam kerja dan beban kerja fisik. Sedangkan kelelahan kerja merupakan variabel terikat. Hasil penelitian ternyata menunjukkan tidak adanya hubungan bermakna antara usia (p-value: 0.361; α: 0.05) dan jam kerja (p-value: 0.269; α: 0.05) terhadap kelelahan kerja. Selain itu, terdapat hubungan antara masa kerja (p-value: 0.019; α: 0.05), satus gizi (p-value: 0.037; α: 0.05), dan beban kerja fisik (p-value: 0.037; α: 0.05) terhadap kelelahan kerja. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan adanya pengaturan waktu istirahat, dan gerakan peregangan yang dilakukan secara periodik
Identifikasi dan Pengendalian Risiko K3 pada Proses Produksi CPO dengan Metode HIRARC
Production processes in the palm oil industry pose hazards and risks of occupational accidents. PT XYZ's Palm Oil Mill (POM) unit recorded 15 accident cases in 2021-2023. This study aimed to identify occupational health and safety (OHS) hazards and assess risks at each stage of CPO production at PT XYZ's POM unit using the Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC) method. This study involved all workers at PT XYZ's POM unit. Primary data were collected through field observations and questionnaires, while secondary data were obtained from company documents. Data analysis included descriptive analysis and risk assessment using the HIRARC method. There were significant differences in risk levels between units. The Loading Ramp had the highest risk due to the intensity of activities, work at height, and heavy equipment movement. The Sorting, Sterilizer, Thresher and Digester, Press, Clarification, and Kernel units had medium risk, while the Weighbridge had the lowest risk. Human factors were the dominant cause of occupational accidents. Risk control recommendations were formulated based on the hierarchy of controls, including elimination, substitution, engineering controls, administrative controls, and the use of Personal Protective Equipment (PPE).Proses produksi di industri kelapa sawit mengandung potensi bahaya dan risiko kecelakaan kerja. PT XYZ unit Palm Oil Mill (POM) mencatat 15 kasus kecelakaan kerja pada tahun 2021-2023. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi potensi bahaya K3 dan menilai risiko pada setiap tahapan proses produksi CPO di PT XYZ unit POM menggunakan metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC). Penelitian ini melibatkan seluruh populasi pekerja di PT XYZ unit POM. Data primer dikumpulkan melalui observasi lapangan dan kuesioner, sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumen perusahaan. Analisis data meliputi analisis deskriptif dan penilaian risiko dengan metode HIRARC. Terdapat perbedaan tingkat risiko yang signifikan antar unit. Loading Ramp memiliki risiko tertinggi karena padatnya aktivitas, pekerjaan di ketinggian, dan pergerakan alat berat. Unit Sortasi, Sterilizer, Thresher dan Digester, Press, Klarifikasi, dan Kernel memiliki risiko sedang, sedangkan Weighbridge memiliki risiko terendah. Faktor manusia menjadi penyebab dominan kecelakaan kerja. Rekomendasi pengendalian risiko disusun berdasarkan hirarki pengendalian, meliputi eliminasi, substitusi, rekayasa teknik, rekayasa administratif, dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
Pengaruh Fleksibilitas Operasional dan Kualitas Teknologi Informasi Kesehatan terhadap Kinerja Rumah Sakit yang Dimediasi oleh Kapabilitas Manajemen di RSUD Arifin Achmad Riau
The obligation of hospitals to provide safe and quality health services causes every hospital to improve the quality of its services. Arifin Achmad Riau Hospital as a Type A Hospital has several problems such as lack of Management Capability to optimize the skills of officers in doing work, lack of Operational Flexibility related to response ability to simplify work processes and lack of ability to develop Quality of health information technology to support the process of accelerating health services. The type of research is quantitative with a causal approach. The sample determination method uses the Purposive Sampling technique so that the number of samples is 84 staff of Arifin Achmad Riau Hospital. Data collection method with questionnaire and data analysis techniques through Struktural Equation Modelling analysis. The quality of health information technology has a major impact on management capability, while operational flexibility has little bearing on it. Operational Flexibility and Quality of Health Information Technology do not have a significant effect on Hospital performance, but Management capability has a significant effect on Hospital performance, Management capability is able to reduce the relationship between Quality of Health Information Technology and Hospital performance, but Management capability is able to reduce The relationship between Operational Flexibility and Hospital performance. To improve hospital performance, it is necessary to pay attention to the factors of Fleksibilitas Operasional, Quality of Health Information Technology and Management Capability.Adanya kewajiban Rumah Sakit untuk memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas menyebabkan setiap rumah sakit harus meningkatkan kualitas pelayanannya. RSUD Arifin Achmad Riau sebagai Rumah Sakit Tipe A memiliki beberapa permasalahan seperti kurangnya Kapabilitas Manajemen untuk mengoptimalkan keterampilan petugas dalam melakukan pekerjaan, kurangnya Fleksibilitas Operasional terkait kemampuan respon untuk menyederhanakan proses pekerjaan dan kurangnya kemampuan pengembangan Kualitas Teknologi Informasi Kesehatan untuk mendukung proses percepatan pelayanan kesehatan. Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan pendekatan kausal. Metode penentuan sampel menggunakan teknik Purposive Sampling sehingga jumlah sampel sebanyak 84 Staf RSUD Arifin Achmad Riau. Metode pengumpulan data dengan kuesioner dan teknik analisis data melalui analisis structural equation model. Fleksibilitas Operasional berpengaruh tidak signifikan terhadap Kapabilitas Manajemen, namun Kualitas Teknologi Informasi Kesehatan berpengaruh signifikan terhadap Kapabilitas Manajemen. Fleksibilitas Operasional dan Kualitas Teknologi Informasi Kesehatan tidak berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Rumah Sakit, namun Kapabilitas Manajemen berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Rumah Sakit, Kapabilitas Manajemen mampu memedasi hubungan Kualitas Teknologi Informasi Kesehatan terhadap Kinerja Rumah Sakit, namun Kapabilitas Manajemen mampu memedasi hubungan Fleksibilitas Operasional terhadap Kinerja Rumah Sakit. Peningkatan Kinerja Rumah Sakit perlu memperhatikan faktor Fleksibilitas Operasional, Kualitas Teknologi Informasi Kesehatan dan Kapabilitas Manajemen.