260 research outputs found

    PENGETAHUAN PERSEPSI DAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP BANK SYARI’AH (Study Kasus di Madrasah Aliyah Sewilayah Kota Cirebon)

    No full text
    Asep Nurfata Hermawan: Rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang bank syari’ah melahirkan persepsi negatif terhadap bank syari’ah, yang pada gilirannya akan mendorong rendahnya keputusan masyarakat untuk memilih bank syari’ah. Fakta ini didukung oleh rendahnya kepercayaan (trust) masyarakat muslim di wilayah Kota Cirebon terhadap perbankan syariah sebagai tempat bertransaksi dan berinvestasi. Kemudian fakta lain menunjukkan bahwa lembaga-lembaga yang memiliki basis keislaman yang kuat seperti Madrasah Aliyah, juga memiliki kepercayaan yang relatif rendah terhadap bank syari’ah, dengan fakta masih rendahnya keputusan anggota masyarakat Madrasah Aliyah untuk memilih berhubungan dengan bank syari’ah. Berdasarkan hal tersebut muncul pertanyaan penelitian yaitu: bagaimana pengetahuan, persepsi, dan sikap masyarakat Madrasah Aliyah di wilayah Kota Cirebon terhadap keberadaan bank syari’ah. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengetahuan, persepsi, dan sikap masyarakat Madrasah Aliyah di wilayah Kota Cirebon terhadap keberadaan bank syari’ah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, data penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam (In-dept interview) dan Focus Group Discussion (FGD), kepada informan anggota masyarakat Madrasah Aliyah yang dikelompokkan menjadi empat jenis informan yaitu; Informan guru, Informan staf tata usaha, Informan Siswa pesantren, dan Informan siswa non pesantren. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa anggota masyarakat Madrasah Aliyah memiliki pengetahuan yang rendah terhadap bank syari’ah terutama tentang sistem, mekanisme dan produk-produk bank syari’ah. Persepsi mereka terhadap bank syari’ah cenderung positip hal ini didorong oleh ekspektasi mereka yang tinggi terhadap profesionalisme lembaga dan tawaran produk yang unik berbasis syari’ah. Kemudian faktor-faktor yang mendorong mereka untuk memilih atau tidak memilih bank syari’ah cenderung dikarenakan alasan profesionalitas perbankan, keamanan, kenyamanan pelayanan dan kemudahan. Sikap ini melahirkan nasabah dan calon nasabah yang rasional-ekonomis bukan emosional-ideologis atau syari’ah- loyalist

    Penerapan konsep keluarga sakinah dalam berpoligami yang dilakukan oleh keluarga AS di Desa Mekar Rahayu Kecamatan Marga Asih Kabupaten Bandung

    No full text
    Keluarga sakinah dalam berpolgami (beristri lebih dari satu) merupakan dambaan setrap pasangan keluarga yang berpoligami. Rumah tangga Rasul adalah Qudwah (teladan) yang abadi dan sempurna. Keluarga yang selalu berusaha mengikuti Tawjih (arahan) Rasul tentu akan dapat membenkan tauladan bagi orang lain Sebagai contoh kongkrit adalah keluarga Asep Hermawan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui latar belakang keluarga Asep Hermawan yang penuh dengan kedamaian meskipun memiliki empat istri. Untuk mengetahui penerapan konsep sakinah dalam berpoligami menurut keluarga Asep Hermawan, Untuk mengetahui manfaat dan madharat penerapan konsep sakinah dalam keluarga poligami menurut keluarga Asep Hermawan. Penelitian ini bertolak dari pemikiran, bahwa masih banyak keluarga muslim yang berpoligami tidak diwarnai dengan keindahan Islam Sehingga tidak dapat mewujudkan keluarga sakinah dalam berpoligami (beristri lebih dan satu) untuk itu diperlukan keteladanan. Dalam hal ini keluarga Asep Hermawan yang mempunyai empat istri dan enam belas anak, meskipun tidak tinggal dalam satu atap tetapi rumah keempat Istrinya tersebut sangat dekat berpinggiran tidak ada pertengkaran dan cek­ cok mereka hidup damai. Asep Hermawan selalu berusaha untuk berpegang pada tuntunan ajaran Islam. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif dengan metode yang digunakan adalah metode studi kasus, kemudian untuk pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa di antara indikator- indikator penerapan konsep keluarga sakinah dalam keluarga poligami yang dilakukan oleh keluarga AS adalah adanya komunikasi antara suami, keempat istri dan enam belas anaknya, kestabilan ekonomi, fasilitas yang seimbang bagi keempat istri, jadwal bermalam dan waktu berkunjung pada pagi hari Kemudian untuk menciptakan ketentraman keluarga dilakukan dengan memberikan masukan atau arahan- arahan, adanya komunikasi, tidak membeda- bedakan antara anak dan istri pertama sampai istri keempat, pembinaan keagamaan keluarga khusus para istri dan anak- anaknya dan islah keluarga. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ketentraman keluarga dalam keluarga Asep Hermawan dapat terwujud karena didukung oleh manajemen keluarga yang baik, kemampuan komunikasi dengan keempat istri dan enam belas anaknya, kestabilan ekonomi serta adanya upaya yang dilakukan secara bersama- sama

    PENGARUH PEMAHAMAN KONSEP BANGUN RUANG TERHADAP KETERAMPILAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN PERMASALAHAN KONTEKSTUAL DI KELAS VIII SMP NEGERI 1 LEUWIMUNDING KABUPATEN MAJALENGKA

    No full text
    Asep Befi Hermawan. NIM 58451005. PENGARUH PEMAHAMAN KONSEP BANGUN RUANG TERHADAP KETERAMPILAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN PERMASALAHAN KONTEKSTUAL DI KELAS VIII SMP NEGERI 1 LEUWIMUNDING KABUPATEN MAJALENGKA. Skripsi. Cirebon: Fakultas Tarbiyah, Tadris Matematika, Institut Agama Islam Negeri, Juli 2012. Belajar matematika terdiri atas delapan tahapan, yaitu belajar isyarat, stimulus respons, rangkaian gerak, rangkaian verbal, memperbedakan, pembentukan konsep, pembentukan aturan dan pemecahan masalah. Tahapan belajar tersebut terurut berdasarkan tingkat kesukaran dan kompleksitasnya, sehingga dalam belajar matematika siswa harus mengikuti tahapan belajar tersebut. Hal ini harus dilakukan karena setiap tahapan belajar tersebut merupakan pembelajaran kemampuan prasyarat untuk belajar pada tahap berikutnya. Dalam kehidupan nyata banyak terdapat berbagai macam benda yang berbentuk bangun ruang atau kombinasi beberapa bangun ruang, seperti kubus, balok, prisma dan limas. Permasalahan yang sering muncul berkaitan dengan benda-benda tersebut adalah mengenai volume dan isi benda tersebut. Memperhatikan bahwa benda-benda yang dimaksud merupakan benda-benda yang berbentuk bangun ruang atau kombinasi beberapa bangun ruang, maka untuk dapat menyelesaikan permasalahan volume dan isi benda-benda tersebut diperlukan pemahaman konsep bangun ruang yang mendalam. Oleh karena itu, dalam penelitian ini penulis berasumsi bahwa pemahaman konsep bangun ruang berpengaruh positif terhadap keterampilan siswa dalam menyelesaikan permasalahan kontekstual mengenai volume dan isi suatu benda. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan 1) tingkat pemahaman konsep bangun ruang, 2) tingkat keterampilan menyelesaikan permasalahan kontekstual, dan 3) pengaruh pemahaman konsep bangun ruang terhadap keterampilan siswa dalam menyelesaikan permasalahan kontekstual. Permasalahan kontekstual yang dimaksud adalah soal-soal matematika non-rutin mengenai volume dan isi benda-benda di kehidupan nyata. Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodologi kuantitatif model regresi tunggal. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu pemahaman konsep bangun ruang sebagai variabel bebas dan keterampilan menyelesaikan permasalahan kontekstual sebagai variabel terikat. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu tes. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Leuwimunding. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik proportional random sampling, dengan ukuran sampel 20% dari jumlah siswa sebanyak 387 siswa yang tersebar di sepuluh kelas, yaitu dari kelas VIII A sampai dengan kelas VIII J. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: 1) Tingkat pemahaman konsep bangun ruang siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Leuwimunding tergolong baik dengan nilai rata-rata tes sebesar 72,15. 2) Tingkat keterampilan siswa dalam menyelesaikan permasalahan kontekstual tergolong cukup dengan nilai rata-rata tes sebesar 57,44. 3) Terdapat pengaruh yang signifikan antara pemahaman konsep bangun ruang terhadap keterampilan siswa dalam menyelesaikan permasalahan kontekstual dengan peroleha

    Aku & cagar budaya: masa lalu yang melebur dalam kekinian

    No full text
    Aku dan Cagar Budaya, merupakan sebuah buku berisi kumpulan karya yang ditulis secara popular oleh 30 orang penulis wanita di bawah komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis (dinaungi oleh Indscript Creative) yang berkisah tentang pesona Cagar Budaya Indonesia. Para penulis dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi yang berasal dari berbagai daerah telah mengungkap kemegahan, keindahan, kemanfaatan serta nilainilai yang terkandung pada objek cagar budaya yang ada di sekitarnya. Membagikan pengetahuan mereka kepada pembaca terkait informasi kecagarbudayaan dan kepedulian mereka terhadap cagar budaya

    Filsafat ilmu hukum

    No full text
    Penulisan buku ini dirancang dengan landasan bahwa filsafat hukum tidak hanya berkaitan dengan pemahaman abstrak tentang konsep keadilan, kebenaran, dan moralitas, tetapi juga memiliki peran konkret dalam membentuk kerangka berpikir hukum yang adaptif dan relevan di tengah perubahan zaman. Oleh karena itu, buku ini mengupas berbagai aspek fundamental dari filsafat ilmu hukum, mulai dari dasar-dasar epistemologi dan ontologi hukum, hingga analisis mendalam tentang peran moral dan keadilan dalam sistem hukum

    Penemuan hukum

    No full text
    Penulis berharap buku ini dapat memberikan wawasan yang luas bagi para pembaca, terutama mahasiswa hukum, akademisi, dan praktisi hukum, dalam memahami penemuan hukum tidak hanya dari sisi teoritis, tetapi juga dari sudut pandang praktis yang relevan dengan tantangan hukum di dunia modern. Buku ini juga dimaksudkan untuk menjadi inspirasi bagi mereka yang berkomitmen untuk terus menggali dan mengembangkan ilmu hukum dengan pendekatan yang lebih mendalam, kritis, dan berbasis pada nilai-nilai moral yang kuat

    CULTURAL VALUES STRUGGLE IN “PERJUMPAAN MALAM” SHORT STORY BY H. USMAN HERMAWAN, M. PD.

    No full text
    Cultural transition is a necessity. The form of the transition can be seen as social practice, one of it through narrative discourse. Narrative discourse is the result of active interaction between objective social classes with linguistic habitus by social agent. In the context of social practice, narrative discourse and “interest” is inseparable. When an author describe a concept, the author do not simply choose the word but, consciously or not, the author select the dictions with assumptions, values, and ideology that was attached in the word. The purpose of these study are to get an objective description of doxa, the arena of cultural values struggle, and habitual practice in “Perjumpaan Malam” short story. The method used in these study is the qualitative method through critical discourse analysis approach. The data resource is the text of “Perjumpaan Malam” short story by H. Usman Hermawan, M.Pd. published in Horison Online on February 4th2014. The data collection done by intensive reading method, while data analysis done by social function paradigm. The result of the study are as follows. The doxa in “Perjumpaan Malam” short story is the necessity of globalization. However, the society need to preserve the local values because globalization does not always correspond with Indonesian culture. The arena of cultural values struggle are the global, local, religion, and gender equality arena. The habitual practice was done by punishing people who violate local values, punishing people who violate religious values, as well as lifting the values of gender equality.Keywords: Culture Values, Struggle, Short Stor

    Manajemen dan pemasaran jasa dalam era transformasi

    No full text
    Buku ini membahas pentingnya suatu perusahaan jasa memahami perubahan yang sangat cepat dalam era transformasi.Dalam merespon perubahan lingkungan ini perusahaan harus memiliki fondasi yang kuat dalam lingkungan internalnya. Perusahaan harus menciptakan lingkungan internal yang kondusif agar tercapai kepuasan dan produktivitas karyawan sehingga karyawan bisa memberikan excellent service kepada para pelanggan yang pada akhirnya akan menciptakan loyalitas pelanggan. Agar tujuan tersebut tercapai, perusahaan harus memiliki pemimpin yang hebat, budaya perusahaan dan budaya pelayanan, serta karyawan yang hebat
    corecore