789 research outputs found

    Chairil Anwar : aku ini binatang jalang

    No full text
    Aku ini binatang jalang adalah kumpulan puisi terlengkap karya penyair terbesar Indonesia Chairil Anwar. Selama ini puisi-puisinya tersebar dalam beberapa buku seperti, Deru Campur Debu, Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus

    Chairil Anwar: hasil karya dan pengabdiannya

    Get PDF
    Tujuan utama dari penulisan biografi pahlawan nasional ini ialah membina persatuan dan kesatuan bangsa, membangkitkan kebanggaan nasional, mengungkapkan nilai-nilai budaya bangsa dan melestarikan jiwa dan semangat kepahlawanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Disamping itu penulisan biografi pahlawan nasional bertujuan untuk mengungkapkan kisah kehidupan para pahlawan nasional agar menjadi suri tauladan bagi generasi penerus dan masyarakat pada umumnya. Adapun pengertian Tokoh dalam naskah ini ialah seseorang yang telah berjasa atau berprestasi di dalam meningkatkan dan mengembangkan pendidikan, pengabdian, ilmu pengetahuan, keolahragaan dan seni budaya nasional di Indonesia, salah satunya Chairil Anwar

    AKU Chairil Anwar

    No full text
    Adegan-adegan film yang tergambar dalam skenario ini bertujuan untuk mewariskan semangat penyair yang dikagumi Sjuman Djaya. Chairil Anwar skenario ini merupakan salah satu karya terpenting Sjuman Djaya yang menempatkannya dijajaran para seniman besar Indonesia.ix; 51 hal Ilus 13 cm X20 c

    NASIONALISME CHAIRIL ANWAR

    Get PDF
    Chairil Anwar adalah sastrawan besar yang hidup pada masa perjuangan bangsaIndonesia. Hal ini memungkinkan baginya untuk menulis pesan-pesan nasionalis dalam puisi- puisinya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk membongkar nasionalisme Chairil Anwar yang tertuang dalam puisi-puisinya. Penelitian ini menggunakan paradigma kritis dengan metode Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer yang didukung dengan Analisis Wacana Kritis Teeun A. Van Dijk untuk menyingkap bagaimana Chairil Anwar memahami praktik ideologi nasionalisme pada masa tersebut dan kemudian menuangkannya dalam puisi-puisinya. Unit data yang dianalisis adalah puisi-puisinya yang bertema nasionalis yang ditulis dalam rentang waktu 1942-1949 sebanyak 13 puisi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa puisi-puisi tersebut merepresentasikan pemikiran nasionalisme Chairil Anwar. Hal ini disebabkan adanya pengaruh dari kognisi individu dan konteks sosial terhadap proses penciptaan puisi

    ANALISIS SEMIOTIK PUISI CHAIRIL ANWAR

    Get PDF
    Tujuan yang ingin dicapai dari tulisan ini adalah mengetahui makna dari teks-teks puisi Chairil Anwar. Beberapa puisi Chairil Anwar sarat dengan bahasa kiasan yang berupa ungkapan khas milik Chairil yang selalu didengungdengungkan oleh generasi muda. Selain itu, puisi-puisi Chairil juga memiliki unsur-unsur kepuitisan yang menimbulkan bunyi yang indah apabila dibacakan. Puisi tersebut, antara lain, ”Derai-Derai Cemara”, ”Pada Sebuah Kamar”, dan ”Yang Terampas dan Yang Putus”. Ketiga puisi itu dianalisis secara semiotik untuk  dapat diungkapkan isi dan makna dari puisi tersebut.  Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah deskriptif kualitatif yang  memaparkan tulisan berdasarkan isi karya sastra, sedang teknik penulisannya adalah studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi yang ditulis oleh Chairil Anwar mempunyai makna yang dapat dijadikan bahan bacaan dan pesan-pesan untuk diketahui  oleh pembaca

    Nasionalisme Chairil Anwar (Studi Hermeneutika Filosofis dalam Puisi-puisi Chairil Anwar)

    Get PDF
    Chairil Anwar adalah sastrawan besar yang hidup pada masa perjuangan bangsa Indonesia. Hal ini memungkinkan baginya untuk menulis pesan-pesan nasionalis dalam puisi-puisinya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk membongkar nasionalisme Chairil Anwar yang tertuang dalam puisi-puisinya. Penelitian ini menggunakan paradigma kritis dengan metode Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer yang didukung dengan Analisis Wacana Kritis Teeun A. Van Dijk untuk menyingkap bagaimana Chairil Anwar memahami praktik ideologi nasionalisme pada masa tersebut dan kemudian menuangkannya dalam puisi-puisinya. Unit data yang dianalisis adalah puisipuisinya yang bertema nasionalis yang ditulis dalam rentang waktu 1942-1949 sebanyak 13 puisi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa puisi-puisi tersebut merepresentasikan pemikiran nasionalisme Chairil Anwar. Hal ini disebabkan adanya pengaruh dari kognisi individu dan konteks sosial terhadap proses penciptaan puisi

    Kontribusi puisi-puisi Chairil Anwar dalam memotivasi kemerdekaan Indonesia 1945

    Get PDF
    Chairil Anwar merupakan sastrawan angkatan 45 yang lahir di Medan pada 26 Juli 1922. Ia adalah seorang sastrawan yang menulis sajak-sajaknya dengan tema-tema kematian, pemberontakan atau perjuangan, dan individualistis. Sebagai seseorang yang lahir pada zaman penjajahan, sajak-sajak Chairil masuk dalam kategori sajak ekspresionisme. Ia mengungkapkan keadaan zaman dalam puisi-puisinya. Ia adalah pendobrak kesusastraan Indonesia. Mengembangkan bahasa Indonesia yang baru tumbuh dan belum utuh. Dan tentu Chairil adalah seorang revolusioner. Ia adalah pejuang yang ikut berperang melalui puisi-puisinya. Chairil Anwar adalah salah satu sosok penting dibalik peristiwa kemerdekaan Indonesia 1945. Melalui puisi-puisi yang ditulisnya, Chairil mampu memberikan kontribusi nyata terhadap peristiwa bersejarah. Sehingga membicarakan jati diri puisi Indonesia tanpa menyebut namanya adalah sebuah hal yang mustahil. Hal itu pula yang kemudian membuat nama Chairil Anwar dirumuskan untuk menjadi seorang pahlawan nasional oleh sejumlah budayawan dan sastrawan dari Sumatera Barat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui riwayat hidup dan pendidikan Chairil Anwar dan karya-karya Chairil selama hidupnya yang singkat serta mengetahui usaha Chairil Anwar dalam memotivasi kemerdekaan Indonesia 1945. Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi, yaitu berupa penulisan sejarah. Selain daripada itu, penulis menggunakan metode library research atau penelitian kepustakaan. Tentu kemudian tahap library research itu melalui tahapan kritik sebelum pada akhirnya dijadikan sebuah sumber sejarah. Berdasarkan analisa data yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa Chairil Anwar adalah seorang sastrawan angkatan 45 yang puisi-puisinya sangat erat dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia 1945. Chairil Anwar telah menjadikan kata-katanya sebagai sebuah senjata sekaligus pemantik untuk mengobarkan semangat perjuangan. Ia memiliki daya ledak (Explosive Power) terkuat dalam puisi-puisinya. Pantas jika dikatakan bahwa Chairil Anwar layak menjadi seorang pahlawan bagi banga Indonesia. Ia telah meninggalkan banyak puisi-puisinya yang sampai saat ini terus bergema di pelbagai tempat di daerah-daerah di Indonesia. Jika WR. Supratman menjadi pahlawan karena lagu Indonesia Raya, maka Chairil Anwar layak menjadi pahlawan karena puisi-puisinya telah menjadi alat perjuangan bagi bangsa

    Perancangan Buku Antologi Karya Chairil Anwar

    Get PDF
    Chairil Anwar merupakan seorang sastrawan besar yang banyak mempengaruhi kesusastraan di Indonesia, namun remaja masa kini hanya mengetahui sajak perjuangannya sehingga tidak lagi membaca karya Chairil dan terjebak dalam persepsi mereka sehingga menganggap karya Chairil tidak relevan. Hal ini dapat menyebabkan hilangnya karya-karya kehidupan Chairil dari ranah sastra karena tidak adanya penyesuaian. Dibutuhkan sebuah media informasi berisi karya-karya kehidupan Chairil Anwar yang sesuai dengan selera pembaca remaja. Maka dari itu penulis melakukan perancangan buku antologi dengan tema yang sesuai karena buku merupakan media paling efektif untuk pembaca sastra. Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran dan metode perancangan yang digunakan adalah milik Robin Landa

    Les derniers moments de Chairil Anwar

    No full text
    2. Dalam sebuah artikel jang terbit tahun 1960, Nasjah Djamin telah menulis tentang hubungan2nja dengan penjair besar Chairil Anwar, sedjak pertemuan mereka jang pertama tahun 1947 di Djogja sampai meninggalnja penjair tersebut tahun 1949. M. Lajoubert menterdjemahkan teks jang menarik itu, dimana tidak hanja diberi gambaran tentang tokoh agung "Generasi 45" itu, tetapi djuga diperkenalkan pada kita lingkungan kaum intelek dan seniman pada kala itu. Penterdjemah memuat djuga dua buah surat pendek, jang satunja belum pernah diterbitkan, dari Chairil Anwar kepada Jassin, jang sekarang disimpan di dokumentasi Jassin pada Lembaga Bahasa Nasional.2. In an article published in 1960, Nasjah Djamin describes his relationship with the great poet Chairil Anwar, from their first meeting in 1947 in Djogja, until Chairil's death in April of 1949 in Djakarta. M. Lajoubert has translated this very interesting text which not only draws an original portrait of the Hero of the "generation of 45" but also introduces us to the intellectual and artistic milieu of the time. Two short letters of Chairil Anwar to Jassin preserved in archives of the Lembaga Bahasa Nasional have been added.Djamin Nasjah. Les derniers moments de Chairil Anwar. In: Archipel, volume 4, 1972. pp. 49-73

    Chairil Anwar Service Literature Practices, 1942-1949

    Get PDF
    Chairil Anwar's literary resistance practices in 1942-1949 were supported by ‘literary habitus’--foreign and local literature, literary totality, and literary rationality-- as a foundation with the support of ‘literary modal’ --literary totality, literary rationality, and ideals of literature-- with consideration of the ‘literary fields’.Although the dominance of a ‘pujangga baru’ generation through literary practices is quite strong, Chairil Anwar's ‘literary practice’ is a successful practice.This success was marked by several things, including (1) Chairil's poetry writing model was considered as a new model that was not available before in Indonesian literature; (2) the influence of Chairil's literary practice which is growing in Indonesian literary society; (3) Chairil's coronation as a pioneer of the 45th generation; and (4) the increasingly massive publishing of Chairil's works which certainly brings 'capital modal' to Chairil's family. Keywords: literary resistance practices, Chairil Anwar, 1942-1949 Abstrak Praktik sastra perlawan Chairil Anwar pada tahun 1942-1949 didukung oleh 'habitus sastra' --sastra asing dan lokal, totalitas sastra, dan rasionalitas sastra-- sebagai landasan dengan dukungan 'modal sastra' --totalitas sastra, rasionalitas sastra, rasionalitas sastra , dan cita-cita sastra-- dengan pertimbangan 'ranah sastra'. Meskipun dominasi generasi 'pujangga baru' melalui praktik sastra cukup kuat, 'praktik sastra' Chairil Anwar adalah praktik yang berhasil. Keberhasilan ini ditandai oleh beberapa hal, antara lain(1) Model penulisan sajak Chairil dianggap model baru yang belum ada sebelumnya di kesusasteraan Indonesia; (2) pengaruh praktik sastra Chairil yang semakin besar dalam masyarakat sastra Indonesia; (3) dinobatkannya Chairil sebagai pelopor angkatan 45; dan (4) semakin masifnya penerbitan karya-karya Chairil yang tentunya mendatangkan modal kapital bagi keluarga Chairil. Kata kunci: praktik sastra perlawanan, Chairil Anwar, Tahun 1942-194
    corecore