7,901 research outputs found
Pioneers of Library Movement in Pakistan
The paper aims to describe in brief the contribution of seven leaders of Pakistan librarianship, viz. K.B. Khalifa M. Asadullah, Prof. Dr. Abdul Moid, Dr. Abdus Subuh Qasimi, Muhammad Shafi, Fazal Elahi, Khawaja Nur Elahi and S. V. Hussain. The early library developments are given for better understanding of the role of these leaders
Pendidikan Nilai-Nilai Deradikalisasi di GP Ansor
Berdasarkan penjajakan awal peneliti mengamati bahwa GP Ansor memang ada melakukan deradikalisasi secara sukarela. Di Indonesia terdapat GP Ansor, lembaga ini terfokus dalam kaderisasi dan bersifat komando, berhubung di organisasi ini tersebar di seluruh Provinsi di Indonesia dan dibeberapa kota yang dinaungi oleh Provinsi, Oleh karena alasan inilah penulis tertarik untuk meneliti dengan mengambil sampel di Wilayah Kalimantan Selatan. Kemudian fokus penelitian dalam penelitian ini adalah bagaimana fenomena radikalisme dan konsep pendidikan nilai-nilai deradikalisasi Sedangkan tujuannya adalah untuk mengetahui Deskripsi atau gambaran fenomena radikalisme dan konsepsi dari nilai-nilai pendidikan deradikalisasi yang diajarkan oleh organisasi GP Ansor.
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan. Pendekatan ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, tes, wawancara, dan dokumentasi. Setelah data yang dikumpulkan terkumpul, selanjutnya diproses melalui koleksi data, editing, reduksi data dan interpretasi data.
Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh simpulan bahwa GP Ansor memaknai radikalisme dalam bingkai politik, yakni agama digunakan secara radikal dalam wilayah politik, itu yang bisa menghancurkan agama dan menghancurkan tatanan politik. Adapun faktor yang menyebabkan terpapar radikalisme ada 3 yakni: Kurangnya ilmu pengetahuan,Fanatisme Buta, dan Sikap Intoleran.3 Nilai-nilai Deradikalisasi yang diajarkan oleh GP Ansor ialah: ukhuwah, menguatkan nilai-nilai keagamaan, menguatkan nilai-nilai wawasan kebangsaan. GP Ansor mengimplementasikan nilai-nilai deradikalisasi melalui Kaderisasi Formal. Dimulai dari tingkatan terbawah, Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD), lalu Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL), dan ditutup dengan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN). Sistem sejenis juga dilaksanakan untuk Banser, melalui Pendidikan & Pelatihan Dasar (Diklatsar), lalu Kursus Banser Lanjutan (Susbalan), dan ditutup dengan Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim). Sedangkan Nonformal, GP Ansor memiliki majelis zikir dan sholawa
Pandangan GP Ansor terhadap Salafi Wahabi: studi kasus pembubaran pengajian oleh GP Ansor
Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana Pandangan GP Ansor Sidoarjo Terhadap Salafi Wahabi, 2. Apa Motif GP Ansor Sidoarjo dalam Pembubaran Pengajian. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, dan teknik pengumpulan datanya adalah dengan observasi, wawancara, serta dokumen yang terkait dengan penelitian. Teori yang digunakan adalah Konsep Gerakan Sosial, Teori Gerakan Sosial, Agama dan Politil, Teori Gerakan Keagamaan, Gerakan Transnasional, Kaum Wahabi Indonesia, Tradisi Lokal, Teori Motif, Tipologi Salafi Wahabi, Teori Salafi, Perpu Ormas No.2 Tahun 2017 Pasal 59. hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1.Pandangan GP Ansor terhadap Salafi Wahabi, Ulama Ahlusunnah Wal jamaah menegaskan bahwa golongan mujasimah yang bukan bertauhid asy`ari wal maturidi seperti salafi wahabi itu bukan dari golongan ASWAJA. Sehingga menurut GP Ansor bahwa aliran Salafi Wahabi tidak boleh berkembang di Indonesia karena bertentangan dengan local wisdom atau kearifan lokal yang ada di Indonesia, kecenderungan dari aliran Salafi Wahabi menurut GP Ansor lebih kepada arah menyalahkan atau menyesatkan ajaran Islam yang ada di Indonesia sehingga rawan terjadinya konflik. Hal ini wajar karena GP Ansor yang melestarikan Islam Nusantara merasa Salafi Wahabi selalu meskriminakisan Islam Nusantara sebagai ahli bid’ah, seperti tahlilan dan Maulid Nabi Muhammad yang secara tegas dikatakan sebagai Bid’ah, oleh para salafi wahabi di Indonesia, 2. Pembubaran Pengajian Salafi Wahabi yang dilakukan oleh GP Ansor sebenarnya itu tidak benar, apalagi ada tuduhan kalau Ansor tidak sesuai dengan para ulama NU terdahulu, sikap Ansor sangatlah Radikal. Ansor hanya menghentikan pengajian lalu kemudian diganti oleh penceramah lainnya.Karena ini bukan pengajian tetapi ini kampanye Khilafah. Takutnya kalau masih tetap dilanjutkan akan semakin menebar kebencian dakesalapahaman. GP Ansor dan dibantu oleh Banser sebenarnya hanya ingin menegakkan kesatuan NKRI dari bahayanya ajaran Radikal seperti Salafi Wahabi. Jika melihat dalam kacamata hukum lebih tepatnya mengacu pada perpu Ormas No 2 tahun 2017 pasal 59 dengan tegas menyatakan bahwa “ Pertama,melakukan tindakan permusuhan terhadap Suku, Agama, Ras, atau golongan Kedua, melakukan penyalahgunaan, penistaan, atu penodaan terhadap agama yang dianut di Indonesia. Ketiga, melakukan tindakan kekerasan, mengganggu ketentraman dan ketertiban umum, atau merusak fasilitas umum dan fasilitas sosial. Keempat, melakukan kegiatan yang menjadi tugas dan wewenang penegak hukum sesuai degan ketentuan peraturan peundang-udangan. Melihat GP Ansor Sidoarjo melakukan tindakan pembubaran pengajian sudah menyalahi aturan diatas, dan secara hukum GP Ansor tidak dibenarkan atau salah. Karena yang memiliki wewenang untuk membubarkan pengajian yang berindikasi memecah belah dan menganggu kesetabilitasan Negara adalah pihak kepolisian
Strategi Penguatan Ideologi Pancasila sebagai upaya Deradikalisasi Pada Generasi Muda (Studi di Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Gerakan Pemuda Ansor Surakarta)
ABSTRAK Muhammad Yogi Guntoro. K6412049. Strategi Penguatan Ideologi Pancasila sebagai upaya Deradikalisasi pada Generasi Muda (Studi di Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Gerakan Pemuda Ansor Surakarta) Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Oktober 2016 Tujuan penelitian ini adalah: 1) mendeskripsikan respon generasi muda terhadap berkembangnya gerakan radikalisme di Indonesia. 2) menjelaskan faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi strategi penguatan Ideologi Pancasila. 3) mengetahui pentingnya Ideologi Pancasila diterapkan pada generasi muda. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, jenis penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data diperoleh dari informan, tempat, peristiwa dan dokumen. Teknik sampling menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan analisis dokumen. Validitas data menggunakan trianggulasi data dan trianggulasi metode. Analisis data menggunakan model analisis interaktif. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa: 1) gerakan radikalisme yang muncul di Surakarta sering dilakukan dengan tindakan kolektif, gerakan radikal juga sering menargetkan generasi muda untuk dijadikan sebagai target perekrutan oleh organisasi radikal, karena pada usia muda seseorang sedang mencari identitas diri dan tidak jarang melakukan sesuatu yang ekstrim untuk memperoleh eksistensinya di masyarakat. Gerakan Pemuda (GP) Ansor sebagai organisasi kepemudaan memberikan respon untuk menolak semua gerakan radikal yang melakukan tindakan ekstrim yang menyimpang dari ajaran Agama Islam dan berusaha mengubah Ideologi Pancasila dengan Ideologi lain. 2) Strategi penguatan Ideologi Pancasila sebagai upaya deradikalisasi pada generasi muda di Organisasi Kemasyarakatan Pemuda GP Ansor dilakukan melalui beberapa program antara lain yaitu a) Pelatihan Kader Dasar; b) Diklatsar Banser; c) Rijalul Ansor; d) BMT (Balimatul wa Maal Tamil); 3) Faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi Strategi Penguatan Ideologi Pancasila sebagai upaya Deradikalisasi pada Generasi Muda di Organisasi Kepemudaan GP Ansor Surakarta adalah sebagai berikut a) Faktor pendukung (1) GP Ansor selalu mengajak bekerjasama dengan pemerintah untuk melakukan penguatan Ideologi Pancasila; (2) Masyarakat kota Surakarta mendukung program-program yang dijalankan GP Ansor; (3) internal GP Ansor memiliki ikatan yang kuat antar anggota GP Ansor karena memiliki kesamaan visi; b) Faktor penghambat (1) Belum adanya sinkronisasi antara GP Ansor dengan pendidikan formal dalam melakukan penguatan Pancasila sebagai deradikalisasi; (2) Tidak adanya pedoman dari pemerintah tentang penguatan Ideologi Pancasila untuk ormas; (3) Arus globalisasi kian kuat yang memberikan dampak dengan terkikisnya nilai dan norma di masyarakat. Kata kunci: Ideologi Pancasila, Deradikalisasi, Generasi mud
The Complete Muhammad Ali
Including material and photographs not included in most of the 100 other books about the champion, Ishmael Reed's The Complete Muhammad Ali is more than just a biography-it is a fascinating portrait of the 20th century and the beginning of the 21st. An honest, balanced portrayal of Ali, the book includes voices that have been omitted from other books. It charts Ali's evolution from Black Nationalism to a universalism, but does not discount the Nation of Islam and Black Nationalism's important influence on his intellectual development. Filipino American author Emil Guillermo speaks about how "The Thrilla' In Manila" brought the Philippines into the 20th century. Fans of Muhammad Ali, boxing fans, and those interested in modern African American history and the Nation of Islam will be fascinated by this biography by an accomplished American author.Intro -- DEDICATION -- INTRODUCTION -- The Curious History of an Icon -- CHAPTER 1 -- CHAPTER 2 -- CHAPTER 3 -- CHAPTER 4 -- CHAPTER 5 -- CHAPTER 6 -- CHAPTER 7 -- Did the Secret Government Fear a U.S. Muslim/Overseas Muslim Alliance? -- CHAPTER 8 -- CHAPTER 9 -- The Break Between the Prophet and his Disciple -- CHAPTER 10 -- CHAPTER 11 -- CHAPTER 12 -- The GOAT (Greatest Of All Time): Ali or Louis? -- CHAPTER 13 -- The Nation of Islam, the Mob, Showdowns in Canada and Sonny Liston -- CHAPTER 14 -- CHAPTER 15 -- The Taunts: Marketing or Racism? -- CHAPTER 16 -- CHAPTER 17 -- CHAPTER 18 -- CHAPTER 19 -- Boxing and the Brain -- CHAPTER 20 -- Ali's Feet -- CHAPTER 21 -- Mr. Dick -- CHAPTER 22 -- CHAPTER 23 -- The Opening Ceremonies, November 2005 -- CHAPTER 24 -- December 2005, Las Vegas -- CHAPTER 25 -- CHAPTER 26 -- June 16, 2004 -- CHAPTER 27 -- CHAPTER 28 -- CHAPTER 29 -- Aix-en-Provence -- CHAPTER 30 -- Ali as a Black Nationalist -- San Francisco, January 2004 Black Liberation Book Fair -- CHAPTER 31 -- January 31, 2004 -- CHAPTER 32 -- October 2005, Chicago -- CHAPTER 33 -- Why Ali remained with Elijah instead of following Malcolm -- CHAPTER 34 -- CHAPTER 35 -- February 4, 2006, Oakland, California -- CHAPTER 36 -- Like Zeus Descending from Mount Olympus -- CHAPTER 37 -- CHAPTER 38 -- Tuesday, February 28, 2006, New York -- CHAPTER 39 -- Bigger Than Boxing -- CHAPTER 40 -- Tribes Gallery, New York, April 2006 -- CHAPTER 41 -- June 2006, Louisville, Kentucky -- CHAPTER 42 -- CHAPTER 43 -- CHAPTER 45 -- Bad Company -- CHAPTER 46 -- Coxson, A Very Charming Rogue -- CHAPTER 47 -- Ali and the largest embezzlement scheme in Wells Fargo history -- CHAPTER 48 -- CHAPTER 49 -- "Lonnie is a stabilizing force."-Harry Belafonte -- October 29, 2006 -- CHAPTER 50 -- Abdul Rahman -- CHAPTER 51 -- CHAPTER 52 -- CHAPTER 53How Will Ali Be Remembered? New York, January 8, 2005 -- CHAPTER 54 -- CONCLUSION -- AFTERWORD -- Boxers' Rights? -- BIBLIOGRAPHY -- MUHAMMAD ALI -- ISLAM AND NATION OF ISLAM -- BOXING -- RELATED SUBJECTS -- ALSO AVAILABLE FROM BARAKA BOOKSIncluding material and photographs not included in most of the 100 other books about the champion, Ishmael Reed's The Complete Muhammad Ali is more than just a biography-it is a fascinating portrait of the 20th century and the beginning of the 21st. An honest, balanced portrayal of Ali, the book includes voices that have been omitted from other books. It charts Ali's evolution from Black Nationalism to a universalism, but does not discount the Nation of Islam and Black Nationalism's important influence on his intellectual development. Filipino American author Emil Guillermo speaks about how "The Thrilla' In Manila" brought the Philippines into the 20th century. Fans of Muhammad Ali, boxing fans, and those interested in modern African American history and the Nation of Islam will be fascinated by this biography by an accomplished American author.Description based on publisher supplied metadata and other sources.Electronic reproduction. Ann Arbor, Michigan : ProQuest Ebook Central, YYYY. Available via World Wide Web. Access may be limited to ProQuest Ebook Central affiliated libraries
Model Bimbingan Karir Pembuatan Kopi Sorban Raja dalam Dakwah Ansor Japan, Dawe, Kudus
Penelitian skripsi ini memiliki tujuan untuk memaparkan hasil temuan tentang model bimbingan karir pembuatan kopi sorban raja di Ansor Desa Japan Dawe Kudus. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan model bimbingan karir pembuatan kopi sorban raja Ansor Desa Japan termasuk bagaimana pelaksanaannya dan faktor-faktor yang mendukung maupun menghambat pelaksanaannya. Bimbingan karir pembuatan kopi sorban ditujukan untuk memberikan keterampilan kepada anggota Ansor dalam mengolah kopi yang merupakan potensi di Desa Japan untuk menjadi produk yang mempunyai nilai ekonomis sehingga mampu meningkatkan pemasukan anggota serta organisasi guna pengembangan kegiatan dakwah .
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan pendekatan kualitatif, dalam penelitian ini peneliti secara langsung menggali informasi di lokasi penelitian yaitu dilingkungan organisasi Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Desa Japan Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi berupa catatan dan foto-foto data terkait yang kemudiaan disajikan dalam pembahasan penelitian dengan bentuk naratif deskriptif. Dalam mengambil data lapangan peneliti menggunakan purposive sampling dengan menentukan jumlah sampling informan sebanyak empat jenis, yaitu, (1) Pengurus, (2) Anggota, (3) Pemerintah Desa, (4) Masyarakat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) model bimbingan karir pembuatan kopi sorban raja yang dilaksanakan oleh Gerakan Pemuda (GP) Ansor merupakan model bimbingan kelompok semi terstruktur (kombinasi terstruktur dengan tidak terstruktur). (2) pelaksanaan bimbingan dilakukan dengan dua tahap, yaitu tahap pemberian wawasan dan tahap praktik, pelaksnaan bimbingan karir merupakan bentuk dakwah yang dilakukan oleh Gerakan Pemuda (GP) Ansor Japan. (3) Adapun beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan model bimbingan karir pembuatan kopi sorban raja maupun perannya dalam dakwah yang dilakukan oleh Gerakan Pemuda (GP) Ansor Desa Japan yaitu pertama, faktor pendukung yaitu motivasi, kebutuhan, dam alam yang mendukung. Kedua, faktor penghambat yaitu waktu dan tempat pelaksanaan, fasilitas yang digunakan, dan kehadiaran peserta atau anggota dalam setiap pelaksanaannya
Muhammad Ansor's Quick Files
The Quick Files feature was discontinued and it’s files were migrated into this Project on March 11, 2022. The file URL’s will still resolve properly, and the Quick Files logs are available in the Project’s Recent Activity
Strategi Penanaman Nilai Pendidikan Agama Islam Multikultural di Organisasi GP Ansor Kota Batu
مستخلص البحث
للإندونيسيا المجتمع المتعددية. فيه القبائل والثقافات والأديان الأخرى التي تحتاج إلى نفس المعاملة. جاء دين الإسلام ببعثة الأمان والرحمة للعالمين ويطبق قيم المتنوعة الثقافية منذ زمان وكذلك جاء قيم الإنسانية. ولكن ذلك لم يكون فعال في ممارسة الأمان والسلام في إندونيسيا. إحدى من سببه هو قلة غرس القيم التربوية الإسلامية المتنوعة الثقافية. حتى لا يستطيع المجتمع أن يساوم محاولة غرس القيم التربوية الإسلامية المتنوعة الثقافية، وكذلك في جمعية المجتمع على ضوء الأديان. حركة شباب الأنصار بمدينة باتو هي إحدى من جمعية المجتمع التي تغرس القيم التربوية الإسلامية المتنوعة الثقافية على جميع أعضائه.
حاول هذا البحث أن يصف ويحلل غرس القيم التربوية الإسلامية المتنوعة الثقافية في جمعية حركة شباب الأنصار بمدينة باتو، ويركز مباحثه في: (1) مفهوم غرس القيم التربوية الإسلامية المتنوعة الثقافية (2) عملية غرس القيم التربوية الإسلامية المتنوعة الثقافية (3) آثار غرس القيم التربوية الإسلامية المتنوعة الثقافية عند موقف أعضاء جمعية حركة شباب الأنصار بمدينة باتو.
استخدم هذا البحث المدخل الكيفي بخطة دراسة الحالة. جمع الباحث البيانات بوسيلة المقابلة والملاحظة والوثائق. وأما طريقة تحليل البيانات يحتوي على تقليل وتعريض وتخليص. وأما المخبر في هذا البحث هو رئيس جمعية حركة شباب الأنصار بمدينة باتو وعظمائه وكبيره وعضوته.
وأما نتائج هذا البحث كما يلي: (1) استند مفهوم اقيم التربوية الإسلامية المتنوعة الثقافية في جمعية حركة شباب الأنصار بمدينة باتو إلى التعارف والتسامح والتواسط والتعاون. (2) تنقسم عملية غرس القيم التربوية الإسلامية المتنوعة الثقافية في جمعية حركة شباب الأنصار بمدينة باتو إلى قسمين، هي معرفة المتنوعة الثقافية وإحساس المتنوعة الثقافية. أعطى معرفة المتنوعة الثقافية ببعض البرامج مثل تدريب الهيئة الأساسية وتربية الهيئة الاستمرارية. ومناقشة روتيني رسمي وغير رسمي في جمعية حركة شباب الأنصار بمدينة باتو. وأما إحساس المتنوعة الثقافية يغرس ببرامج ردة الفعل ووظائف الجمعية. (3) غرس القيم التربوية الإسلامية المتنوعة الثقافية لديه أثر إيجابي عند موقف المتنوعة الثقافية، يعني التسامح لدى عضوة جمعية حركة شباب الأنصار بمدينة باتو.
ABSTRACT
The plurality of Indonesian society is something inevitabel. There are ethnicities, cultures, and religions that must be treated equally. Islam comes with a mission of peace and mercy for the whole universe (rahmatan lil alamin) to apply multicultural values long ago, along with the humanitarian mission it carries. However, in the context of Indonesia, it is considered not able to provide an effective role to realize Indonesian society that can create harmony and peace. One contributing factor is the lack of investment in the value of Islamic education which has a multicultural spirit. Thus, the efforts towards inculcating the values of multicultural Islamic education in community groups cannot be negotiated, including Religious-based community organizations. The Ansor Youth Movement (GP Ansor) Batu City is one of the community organizations that currently implements multicultural Islamic education values for its members.
This research described and analyzed the investment of multicultural Islamic education values in GP Ansor Batu with the focus of the study covering: 1) the concept of investing the value of Multicultural Islamic education; 2) the process of investing the value of multicultural Islamic education; and 3) the implications of investing the value of multicultural Islamic education on the attitudes of GP Ansor Batu members.
This study used a qualitative approach with case study design. The data collection is done by interviews, observations, and documentations. Then, the data analysis techniques include data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Checking the validity of the findings is done by extending the participation of researchers, source triangulation techniques and methods. The informants in this study are: the head, the leaders, senior, and some elites and members of GP Ansor Batu.
The results showed that: 1) the concept of multicultural Islamic values in GP Ansor Batu based on several things, namely: at-Taaruf, atTasammuh Tawasuth, and atTa’awn. 2) the process of investing the value of multicultural Islamic education in GP Ansor Batu is divided into two; multicultural knowing and multicultural feeling. Multicultural knowing is given through several activities such as PKD / PKL training and routine formal and informal discussions at GP Ansor Batu. While, the multicultural feeling is invested through follow-up activities and organizational tasks; and 3) the investment of the value of multicultural Islamic education has positive implications for multicultural attitudes in the form of tolerance among GP Ansor members in Batu.
ABSTRAK
Kemajemukan masyarakat di Indonesia suatu hal yang tak bisa dihindari.Ada suku, budaya dan agama lain yang juga harus mendapat perlakuan sama.Islam yang hadir membawa misi perdamaian dan rahmat bagi seluruh semesta (rahmatan lil alamin)telah menerapkan nilai-nilai multikultural semenjak dahulu, berikut juga dengan misi kemanusiaan yang dibawanya. Namun dalam konteks di Indonesia, hal itu dinilai belum dapat memberi peran efektifuntuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang dapat menciptakan kerukunan dan kedamaian. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya penanaman nilai pendidikan Islam yang memiliki semangat multikultural. Sehingga, upaya ke arah penanaman nilai-nilai pendidikan Islam multikultural di kelompok-kelompok masyarakat tidak dapat ditawar lagi, termasuk di Organisasi kemasyarakatan berbasis agama. Gerakan Pemuda Ansor (selanjutnya disebut GP Ansor) Kota Batu adalah salah satu organisasi kemasyarakatan yang saat ini telah melaksanakan penanaman nilai-nilai pendidikan Islam multikultural bagi para anggotanya.
Penelitian ini berusaha mendeskripsikan dan menganalisis tentang penanaman nilai pendidikan Islam multikultural yang ada di GP Ansor Kota Batu dengan focus kajianya mencakup: 1) konsep penanaman nilai pendidikan Islam Multikultural; 2) proses penanaman nilai pendidikan Islam multikultural; dan 3) implikasi penanaman nilai pendidikan Islam multikultural terhadap sikap anggota GP Ansor Kota Batu.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan cara perpanjangan keikutsertaan peneliti; teknik triangulasi sumber dan metode. Adapun untuk informan dalam penelitian ini adalah: Ketua GP Ansor Kota Batu, Pimpinan-pimpinan GP Ansor, para senior GP Ansor, beberapa elit dan anggota.
Hasil penelitian menunjukan, bahwa: 1) konsep nilai Islam multikultural di GP Ansor Kota Batu berdasarkan beberapa hal, yaitu: at Taaruf, toleransi (at Tasammuh), Tawasuth, dan tolong menolong atas dasar kemanusian (Ta’awun); 2) proses penanaman nilai pendidikan Islam multikultural di GP Ansor Kota Batu dibagi menjadi dua, yaitu multicultural knowing dan multicultural feeling.Multicultural knowing diberikan melalui beberapa kegiatan seperti diklatPKD/PKL dan diskusi rutin formal maupun nonformal di GP Ansor Kota Batu. Adapun multicultural feeling ditanamkan melalui kegiatan tindaklanjut dan tugas organisasi; dan 3) penanaman nilai pendidikan Islam multikultural memiliki implikasi positif terhadap sikap multikultural berupa toleransi pada anggota GP Ansor Kota Batu
Peran Gerakan pemuda (GP) Ansor dalam deradikalisasi keagamaan di Kecamatan Wonoayu Kabupaten Sidoarjo
Penelitian ini mencoba menjawab dua rumusan masalah, yang pertama tentang bagaimana peran nyata yang dilakukan Gerakan Pemuda (GP) Ansor dalam melakukan perubahan sosial keagamaan di Kecamatan Wonoayu Kabupaten Sidoarjo? Kedua, apakah faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan program kerja Gerakan Pemuda Ansor di Kecamatan Wonoayu?Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang lebih menekankan analisisnya pada proses penyimpulan induktif (inti permasalahan di akhir) serta pada analisis terhadap dinamika hubungan antar fenomena yang diamati. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik induktif yaitu dengan cara mengumpulkan data-data di lapangan, mereduksi data dan memverifikasi data untuk selanjutnya diambil kesimpulan data. Sedangkan teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan metode pengamatan, wawancara, dan dokumentasi.Temuan yang dihasilkan oleh penulis dalam penelitian ini ada dua. Pertama, Gerakan Pemuda (GP) Ansor dalam melakukan perubahan sosial kegamaan di Kecamatan Wonoayu berupaya membuat kegiatan yang berhubungan dengan anak muda dan tetap menerapkan nilai-nilai nasionalisme, kegiatan yang dilakukan sebagai sarana perubahan tersebut yaitu, membuat dan memanfaatkan media sosial berupa website, facebook, dan instagram, merancang program kewirausahaan yang meliputi kegiatan seminar wirausaha, mengadakan bazar, mengadakan pelatihan-pelatihan, melakukan pengkaderan di tataran cabang, anak cabang, sampai ranting, dan mengadakan kegiatan Rijalul Ansor dan ngaji kebangsaan. Di dalam pelaksanaan setiap kegiatannya, GP Ansor selalu menanamkan nilai-nilai paham ahlu as-sunnah wa al-jama’ah dan mengedepankan toleransi serta meneladani budaya yang telah ada kepada kader-kader Ansor.Kedua, terkait faktor pendukung dan penghambat realisasi program kerja. Karena mayoritas masyarakat Wonoayu adalah kaum Nahdliyin (Nahdlatul Ulama), mayoritas masyarakat Wonoayu sangat mendukung adanya program-program keagamaan yang dibuat oleh Gerakan Pemuda Ansor.Berkembangnya pendidikan formal yang terus maju, dan teknologi pengetahuan yang kian jauh pesat menjadikan masyarakat utamanya pemuda cenderung acuh terhadap pendidikan agama, yang mengakibatkan mereka awam terhadap pemahaman agama sehingga mudah dijejali dengan pemikiran-pemikiran dari paham radikal, selain itu banyaknya merangkap jabatan oleh masing-masing pengurus dan terbatasnya sumber dana mengakibatkan terhambatnya pelaksanaan program-Deradikalisasikeagamaan
Aktivitas Dakwah Gerakan (GP) Ansor Dalam Meningkatkan Religiusitas Anggota Di Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo
Globalisasi adalah kecenderungan umum terintegrasinya kehidupan masyarakat domestik/lokal ke dalam komunitas global di berbagai bidang. Akibat adanya Era Globalisasi membawa pengaruh kepada seluruh aspek, baik dari segi Pendidikan, Ekonomi, Sosial, IPTEK, bahkan moral anak remaja pun mengalami perubahan. Perkembangan globalisasi yang terus meningkat memiliki dampak yang signifikan terhadap religiusitas individu, terutama generasi muda. Faktor lingkungan juga turut berperan penting dalam meningkatkan religiusitas seseorang. Oleh karena itu, Gerakan Pemuda (GP) Ansor hadir di masyarakat dengan rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan religiusitas anggota.
Dalam penelitian ini, peneliti bertujuan untuk menjelaskan: (1) Apabentuk-bentuk kegiatan dakwah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jambon dalam meningkatkan religiusitas anggota, (2) Apa implikasi kegiatan dakwah GP Ansor PAC Jambon pada religiusitas anggota di Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo.
Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Dengan harapan melalui pendekatan ini dapat menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang yang bersangkutan dengan masalah yang dianalisis peneliti. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni observasi, wawancara, dan dokumentasi. Nantinya, data akan dianalisis dan diolah dengan cara reduksi data, penyajian data, verifikasi/penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) kegiatan dakwah GP Ansor Jambon berupa bil lisan seperti, Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS), Dzikrul ghofilin, Sholawat mertombo dan Sema’an Al-qur’an dan bil hal seperti, giat PAM Banser, pendampingan hukum dan Baksos. (2) implikasi kegiatan dakwah GP Ansor PAC Jambon pada religiusitas anggota di Kecamatan Jambon seperti, meningkatnya keimanan yang dibuktikan dengan semangat beribadah (Religious belief), mangamalkan amalan dzikir setelah sholat dan puasa sunnah yang sebelumya tidak dilakukan (Religious practice), meninggalkan hal-hal buruk dan tidak penting seperti nongkrong yang berujung ghibah (Religious feeling), tambahan wawasan keagamaan seperti rukun islam (Religious knowledge), dan sering berkumpul dengan masyarakat saat aktivitas sehingga pergaulan mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya (Religious effect).
- …
