415 research outputs found

    STRATEGI PENINGKATAN KINERJA PEGAWAI MELALUI PELATIHAN DAN PEGEMBANGAN DI BALAI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN YOGYAKARTA

    No full text
    Niluh Anggarini (13240037), Strategi Peningkatan Kinerja Pegawai Melalui Pelatihan dan Pengembangan di Balai Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Yogyakarta, skripsi Jurusan Manajemen Dakwah, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2017. Sumber daya manusia merupakan elemen yang penting dalam suatu organisasi/perusahaan. Tanpa adanya kinerja yang baik dari karyawan akan berpengaruh terhadap pencapaian visi dan misi perusahaan. Oleh karena itu, kualitas SDM harus selalu dikembangkan dan diarahkan agar tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan dapat tercapai. Salah satu upaya untuk meningkatkan kinerja karyawan dapat dilakukan melalui pelatihan dan pengembangan karyawan, pelatihan dan pengembangan merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi sumber daya manusia seiring dengan tantangan yang terus berkembang. Balai Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Yogyakarta merupakan unit pelaksana teknis Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan yang bertugas melaksanakan pendidikan, pelatihan dan penataran untuk keuangan negara. Dalam melaksanakan tugas yang dimaksud, BDK Yogyakarta mempunyai fungsi yaitu : Penyusunan program pendidikan, pelatihan dan penataran keuangan negara, pelaksanaan pendidikan, pelatihan dan penataran keuangan negara, pengembangan Sumber Daya Manusia, evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan pendidikan, pelatihan, dan penataran keuangan negara, pelaksanaan administrasi balai. Wilayah kerja BDK Yogyakarta meliputi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yang datanya didapatkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Data tersebut selanjutnya dianalisis dengan menggunakan model analisis data Miles dan Huberman, yang kerjanya meliputi perangkuman data, pendisplayan data dan penarikan kesimpulan. Strategi yang digunakan oleh BDK Yogyakarta dalam meningkatkan kinerja pegawainya adalah dengan strategi pelatihan dan pengembangan, yaitu dengan diklat on the job, diklat off the job,kajian akademis dan kuliah dengan izin belajar. Adapaun evaluasi yang dilakukan yaitu evaluasi pasca diklat yang dilakukan 6 bulan setelah pegawai mengikuti diklat. Dampak diadakannya pelatihan dan pengembangan adalah mampu meningkatkan kinerja dari pegawai BDK Yogyakarta

    REPRESENTASI PERTENTANGAN KELAS DALAM PERTUNJUKAN LENG

    No full text
    Abstrak: Pementasan Leng merepresentasikan struktur sosial masyarakat yang terbagi menjadi dua golongan, yaitu kaum pemilik modal dan kaum marginal. Pertunjukan Leng menguraikan rumusan masalah mengenai representasi pertentangan kelas sosial. Teori yang digunakan untuk menganalisis kelas sosial yaitu teori sosiologi seni Janet Wolff. Metode penelitian deskriptif analitik ini akan menggunakan data-data kualitatif yang diperoleh dari video dokumentasi pertunjukan Leng tahun 1986, sedangkan pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumentasi, pustaka, dan wawancara. Pertunjukan Leng merupakan representasi dari kelas sosial masyarakat Jawa, dan tokoh-tokoh yang dihadirkan oleh Kenthut mewakili kelas sosial yang diperjuangkan, yaitu wong cilik. Berawal dari kepekaan Kenthut terhadap masyarakatnya, memicu Kenthut dalam membuat karya Leng. Kepekaan Kenthut tercermin dalam konstruksi dramatik dan artistik pertunjukan Leng bahwa kelas sosial masyarakat Jawa erat kaitannya dengan kondisi sosial yang terjadi. Kata-kata kunci: Kenthut, pertunjukan Leng, kelas sosial, priyayi, dan wong cilik. Abstract:Leng represent the social structure of society which divided into two groups, namely the capital owners and the marginal society. Sociology theory of Janet Wolff was used to analyze the social class problems. This research is descriptive-analytic research using a qualitative method in which the data is obtained from the 1986 Leng performance video documentations, literature review, and interviews. The Leng performance is a representation of the social class of Javanese community, and the figures which presented by Kenthut represent the social class that is championed, namely the grassroots. Starting from Kenthut's sensitivity towards his community, triggered him in making the Leng. Kenthut's sensitivity is reflected in the dramatic and artistic construction of Leng that the social class of Javanese people is closely related to the social conditions that occur. Key words: Kenthut, Leng, social class, priyayi, grass-roots society

    JOHN HOLLANDER’S SELECTED POEMS: A STYLISTIC ANALYSIS

    No full text
    ABSTRAK   Gardenia, Dinar Anggarini. 2011. John Hollander‟s Poems: A Stylistic Analysis.English Department, Faculty of Letters, State University of Malang.Advisor: Drs. A. Effendi Kadarisman, M.A., Ph.D.   Keywords: Poem, Stylistics, Structural Features, Poetic Features, LiterarySignificance Language holds an important role in a literary text. Language in poetry is employed for its aesthetic qualities in addition to its semantic content. Poetry uses unusual words to convey meanings, emotions, or ideas to the readers or listeners. Revealing the meaning of a poem is not simple; therefore, evaluating a poem structurally is not only the aim of understanding the meaning. As a result, stylistic analysis is regarded as a good device in exploring and understanding poem. This research aims to find out the structural and poetic features and the literary significance of John Hollander‘s poems. The researcher in this study selected Hollander‘s poems Adam‘s Task, Swan and Shadow, and For ―Fiddle-de-dee‖ as the subject of her study and chose stylistic approach in examining these poems. Stylistics is the study of style and the methods used in written language as a means of analyzing works of literature and their effects. The research was conducted by a qualitative approach in which this study describes the structural features of Hollander‘s three poems and explains their literary significance. The researcher becomes the key instrument while two other supporting instruments are observation sheets and forms for the data that were taken from the internet. When the data were collected, at the same time, the data which were not relevant to the focus of the study would also be reduced. Furthermore, the data were displayed by a summary, narration or in the forms of symbols or graphics. After conducting the data reduction and data display, the researcher went ahead to draw conclusion or versification. This research presents three findings which are simply the answers to the research questions. The first conclusion is about the structural features in the poems. Phonologically, the form in the poems get foregrounded by means of alliteration and assonance, while syntactically, the structure of sentences in the poems is purposively constructed to be short to help create the aesthetics of sounds. The second conclusion is about the poetic features in the poems. Most sentences in the poems semantically deviate from literal meaning through the creation of metaphors. The last conclusion is about the combination between both structural and poetic features in revealing the messages or literary significance of the poems. The findings show that Hollander is interested in human lives and experiences. Then by conducting this study, the researcher expects this study could bring some contributions to the study of Linguistics and Literature and to future research combining these two fields

    SK PENGUJI AYU ANGGARINI

    No full text

    Analisis Pendapatan dan Kelembagaan Penerapan Pengendalian Hama Terpadu Perkebunan Teh Rakyat (Studi Kasus di Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat).

    No full text
    Pengembangan perkebunan teh rakyat adalah salah satu solusi untuk mendukung pembangunan berkelanjutan sub sektor perkebunan, namun saat ini fokus pengembangan perkebunan teh lebih pada perkebunan besar, karena pada umumnya perkebunan teh rakyat merugikan. Penggunaan pengendalian hama terpadu (PHT) diharapkan dapat meningkatkan produktivitas teh rakyat dan meningkatan pendapatan serta mendukung pada pembangunan teh rakyat yang berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengestimasi pendapatan usahatani teh rakyat yang menerapkan dan tidak menerapkan PHT, menganalisa kelembagaan PHT Perkebunan teh rakyat di Kabupaten Tasikmalaya, menganalisis persepsi pemangku kepentingan PHT untuk keberlanjutan usaha tani teh rakyat dan menganalisa kelembagaan PHT untuk mewujudkan perkebunan teh yang berdaya saing dan berkelanjutan di Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Tasikmalaya pada bulan Oktober sampai dengan bulan November tahun 2016. Jumlah anggota kelompoktani teh rakyat di Kecamatan Sodonghilir, Taraju dan Bojonggambir Kabupaten Tasikmalaya berjumlah 2.885 orang dan jumlah responden adalah 100 orang yang ditentukan dengan metode slovin. Pendekatan yang digunakan untuk mengestimasi pendapatan yaitu analisis pendapatan, sedangkan analisis persepsi menggunakan skala linkert. Untuk memperoleh gambaran eksisting kelembagaan dan penataan kelembagaan digunakan pendekatan analisis deskriptif. Hasil analisis menunjukan bahwa pendapatan usahatani teh rakyat merugi, yaitu sebesar Rp -67,535 untuk PHT dan sebesar Rp -232,768 petani non PHT, kerugian tersebut disebabkan rendahnya standar harga untuk produk teh rakyat dan tidak adanya perbedaan harga untuk PHT dan Non PHT, namun demikian petani PHT memiliki kerugian yang lebih rendah dibanding Non PHT atau dengan kata lain lebih menguntungkan. Kondisi kelembagaan PHT kurang optimal pada usahatani teh, dikarenakan tidak adanya pemangku kepentingan yang mampu menjembatani antara kepentingan pemerintah dan pelaku usaha dalam hal ini yaitu petani teh rakyat. Persepsi pemangku kepentingan untuk keberlanjutan penerapan PHT pada tanaman teh menyatakan bahwa sebagian besar pemangku kepentingan setuju dengan penerapan aplikasi PHT pada perkebunan teh rakyat. Dari hasil analisis diatas diperlukan penataan kelembagaan PHT dengan tujuan untuk mengoptimalkan kelembagaan yang ada agar terlaksananya koordinasi dan monitoring evaluasi ditingkat lapangan

    Pemanfaatan Limbah Kain Perca untuk Industri Rumah Tangga

    No full text
    Masyarakat (ibu-ibu PKK) merupakan lingkungan yang sumber daya manusianya memungkinkan untuk diberi pelatihan dalam pemanfaatan kain perca, terutama yang berkaitan dengan kerajinan tangan, sehingga dapat menunjang kebutuhan produk rumah tangga. Kerajinan tangan merupakan karya seni yang diharapkan dapat memberikan keindahan tersendiri dalam suatu ruangan. Bermacam-macam warna dan ornamen yang merupakan keindahan yang dapat memberikan nilai estetika dari suatu karya seni. Kesadaran masyarakat terhadap perkembangan unsur-unsur estetis inilah, maka tercetus ide untuk memanfaatkan kain perca kepada masyarakat (ibu-ibu PKK), dengan memberikan pengetahuan teknik pola/desain diharapkan dapat menambah pengetahuan dan kreatifitas para perajin pemula. Proses maupun pengadaan bahan-bahan pembuat kain perca tidak terlalu sulit, sehingga memudahkan teknik pembuatan tersebut yang dikerjakan berkelompok atau sendiri oleh masyarakat, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan hidup. Sumber daya manusia yang saat ini banyak dimiliki oleh sebagian masyarakat terutama ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) sudah saatnya lembaga-lembaga maupun pendidik di bidang kerajinan khususnya desain produk lebih memperhatikan keberadaan mereka

    Konstruksi Identitas Diri Anak Jalanan (Studi Fenomenologi pada Anak Jalanan di Komunitas Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur

    No full text
    Anak jalanan memiliki konsep diri yang berbeda karena pengaruh lingkungan budaya di jalan yang berbeda dengan lingkungan budaya masyarakat pada umumnya. Konsep diri tersebut merupakan hasil pemaknaan dari proses interaksi mereka dengan lingkungan di sekitarnya. JKJT adalah salah satu lembaga pendampingan anak jalanan yang tidak hanya berfokus pada kegiatan pengembangan diri anak jalanan saja, tetapi juga membantu anak jalanan untuk dapat mengubah pola pikir mereka menjadi lebih positif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konstruksi identitas diri anak jalanan yang tergabung di komunitas JKJT. Tinjauan pustaka dalam penelitian ini meliputi teori tentang konsep diri, teori Identitas Diri, teori Interaksionisme Simbolik, dan Symbolic Convergence Theory. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan fenomenologi dan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam. Informan penelitian adalah anggota komunitas JKJT. Hasil penelitian dapat diketahui bahwa proses konstruksi identitas diri informan diawali dengan pembentukan konsep diri. Dari konsep diri tersebut, informan dikategorikan menjadi dua, yaitu informan dengan konsep diri negatif-positif, dan informan dengan konsep diri positif-positif. Dari kategorisasi tersebut konsep diri tersebut, peneliti mengembangkan analisis mengenai identitas diri yang dimiliki masing-masing informan. Konstruksi identitas diri informan menghasilkan tipe informan dengan identitas yang berbeda antara satu sama lain. Tipe-tipe tersebut antara lain informan dengan identitas religius, identitas prinsipil, identitas kreatif, dan identitas normatif

    Analisis Kebiasaan Makan Ikan Tawes (Puntius javanicus) Dari Waduk Selorejo Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang, Jawa Timur

    No full text
    Perikanan merupakan sumberdaya ekonomi strategis yang dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Hal ini tercermin dari kondisi wilayah Indonesia dimana dua pertiga bagian wilayahnya adalah berupa perairan. Salah satu pemanfaatan sumberdaya perairan umum adalah waduk atau danau buatan yang memiliki potensi besar diberbagai aspek kehidupan. Salah satu waduk di Kabupaten Malang yang terkenal memiliki potensi perikanan adalah Waduk Selorejo yang terletak di Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ikan merupakan suatu organisme yang memiliki macam pakan dan karakteristik yang berbeda-beda setiap jenisnya, tergantung dari kebiasaan makan dan akibat dari kondisi lingkungan yang mempengaruhinya. Ikan tawes dapat diidentifikasi jenis pakan yang dikonsumsinya dengan diamati melalui isi lambung ikan sebagai bentuk analisis terhadap kebiasaan makan dari ikan itu sendiri. Di Waduk Selorejo, ikan tawes lebih cenderung memakan jenis plankton yang menjadi spesilisasinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kebiasaan makan ikan tawes. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik pengambilan data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi di lapangan dan wawancara, sedangkan data sekunder didapatkan dengan mengumpulkan data lapang dari setiap parameter. Pengambilan sampel dilakukan pada 3 stasiun. Pengambilan sampel ikan dan air dilakukan selama 2 minggu sekali sebanyak 4 kali. Analisis parameter kualitas air yang diukur dalam penelitian ini adalah parameter fisika (suhu dan kecerahan) dan kimia (oksigen terlarut, pH, CO2, nitrat, ortofosfat, dan TOM). Hasil komposisi plankton dalam lambung yang paling banyak ditemukan dari fitoplankton divisi Chlorophyta. Hasil kelimpahan relatif plankton di perairan yang paling banyak ditemukan dari divisi Miozoa dan Bacillariophyta. Hasil analisa kebiasaan makan ikan tawes termasuk ikan omnivora yang cenderung herbivora. Jenis plankton yang banyak ditemukan dari divisi Chlorophyta. Hubungan panjang berat pada Ikan Tawes di Waduk Selorejo yaitu bersifat allometrik negatif dimana pertambahan panjang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan beratnya. Sedangkan untuk faktor kondisi ikan memiliki nilai yaitu berkisar antara 1,001-1,018. Berdasarkan yang telah dilakukan, saran dari penelitian ini yaitu manajemen kawasan harus diperbaiki karena dari faktor lingkungan banyak mengandung Cyanophyta yang mencerminkan perairan yang kurang baik. 7 Cyanophyta yang tinggi menandakan perairan jelek yaitu blooming karena phospat dari pencemaran lingkungan. Selain itu status ikan tawes yang hampir habis dikarenakan proses penangkapan yang berlebih
    corecore