6,309 research outputs found
Menakar Kembali Pemikiran Feminisme Amina Wadud
Amina Wadud sebagai seorang intelektual dan seorang feminis, tidak saja berhasil memberikan pengetahuan kepada masyarakat, tetapi juga dalam membuat mereka berpikir tentang konsep kesetaraan gender dalam Islam. Pemikir dan aktifis feminis ini sangat kritis terhadap hak – hak wanita dalam Islam melalui kajian-kajian kritis terhadap teks-teks primer dan sekunder agama.
Kata Kunci: Amina Wadud, Feminisme, Pemikira
HERMENEUTIKA AL-QUR’AN AMINA WADUD (Aplikasinya Terhadap Penafsiran Ayat Kepemimpinan Perempuan Serta Pandangannya Terhadap Kepemimpinan Ratu Bilqis)
ABSTRAK
Asyikin, Yiyin Nur. 2024. Hermeneutika Al-Qur’an Amina Wadud (Aplikasinya Terhadap Penafsiran Ayat Kepemimpinan Perempuan Serta Pandangannya Terhadap Kepemimpinan Ratu Bilqis). Skripsi, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Pembimbing: Prof. Dr. Aksin, M. Ag
Kata Kunci: Hermeneutika, Amina Wadud, Ayat Kepemimpinan Perempuan, Ratu Bilqis
Penelitian ini dilatar belakangi oleh kepemimpinan perempuan yang menjadi pro kontra dalam menghiasi perdebatan. Tidak sedikit kaum perempuan termarginalkan statusnya. Hingga saat ini tampuk kepemimpinan yang dipegang oleh perempuan masih saja bersifat kontroversif disebabkan karena belenggu Budaya Patriarki yang melekat di masyarakat. Seringkali perempuan dianggap lemah dan dipandang sebelah mata dan akan membawa dampak buruk terhadap masyarakat. Walaupun kenyataannya sebagian besar perempuan telah mendapatkan kesetaraan dengan laki-laki.
Adapun rumusan masalah penelitian ini adalah 1) bagaimana teori Al-Qur’an Amina Wadud dan 2) bagaimana Amina wadud mengaplikasikan teori hermeneutika Al-Qur’an terhadap kepemimpinan perempuan dan kepemimpinan Ratu Bilqis.
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teori hermeneutika yang dikembangkan oleh Amina Wadud. Jenis penelitian ini adalah library reseach atau penelitian Pustaka, sedangkan fokus kajiannya adalah hermeneutika Al-Qur’an yang dicetuskan oleh Amina Wadud dan aplikasinya dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an tentang kepemimpinan perempuan dan juga pandangannya terhadap kepemimpinan Ratu Bilqis. Sumber data yang digunakan merupakan karya dari Amina Wadud sendiri dengan bentuk buku yang berjudul Qur’an and Woman: Rereading The Sacred Text From a Woman’s Perspective.
Penelitian ini menghasilkan kesimpulan sebagai berikut. 1) Menurut Amina, prinsip umum kepemimpinan yang digambarkan dalam Al-Qur’an adalah pemimpin yang diemban tugas harus dilaksanakan oleh orang yang mempunyai kualifikasi atau karakteristik yang dibutuhkan untuk menjelaskan tugas tersebut. Perempuan juga diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi sebagaimana yang diberikan oleh kaum adam selagi tetap bertanggung jawab atas apa yang mereka kerjakan selama amanat dibebankan kepada dirinya, dan 2) Peran perempuan di muka bumi juga disebutkan dalam Al-Qur’an salah satu contohnya adalah Ratu Bilqis dari negeri Saba’. Pengangkatan kisah ini mengandung makna emplisit bahwa perempuan dapat menjadi seorang pemimpin seperti halnya yang dilakukan oleh laki-laki dan Islam tidak melarang perempuan untuk mengambil peran menjadi seorang pemimpin dalam sebuah komunitas publik. Dari sini Amina berusaha untuk membuktikan bahwa Al-Qur’an tidak menghambat perempuan untuk berada dalam posisi kepemimpinan
Studi analisis hukum Islam terhadap pemikiran Amina Wadud tentang tidak diperbolelikannya poligami
Kajian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan bagaimana latar belakang pemikiran Amina Wadud tentang tidak diperbolehkannya poligami; bagaimana metode pengambilan hukum Amina Wadud tentang tidak diperbolehkannya poligami; bagaimana analisis hukum Islam terhadap pemikiran Amina Wadud tentang tidak di perbolehbnnya poligami? Data dikumpulkan dengan teknik dokumenter, kemudian dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif, kesimpulan penelitian diperoleh dengan metode deduktif. Dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an terutama ayat-ayat yang bisa gender, Amina Wadud memberikan sebuah tawaran metode, yang dikemasnya dalam tiga aspek penting, yaitu: pertama, dalam konteks apa ayat tersebut diturunkan, sebagaimana kompsisi tata bahasa teks; (ayat) tersebut; kedua, bagaimana pengungkapannya, apa yang dikatakannya; dan ketiga bagaimana keseluruhan teks (ayat), weltanschauung atau pandangan hidupnya. Pendapat Amina Wadud tentang tidak diperbolehkanya poligami karena memang alasan alasan yang selama ini diyakini, tidak pernah ada dalam al-Qur'an. Dengan demikian poin penting yang dapat diambil dari pemikiran Amina Wadud adalah adanya upaya untuk membongkar pemikiran lama dan mitos-mitos lama yang dibangun oleh budaya patriarkhi. Upaya ini dimulai dengan melakukan rekonstruksi metodologi tafsirnya, adanya mitos-mitos dan penafsiran yang bisa patriarkhi dapat menyebabkan ketidakadilan gender dalam kehidupan masyarakat dan tidak sesuai dengan prinsjp dan dasar semangat al-Qur'an. Sejalan dengan hasil penelitian ini, diharapkan kepada para pemikir Islam yang hendak menafsirkan suatu ayat hendaknya selalu memperhatikan asbabun nuzul dari ayat tersebut, sehingga dalam menafsirkan suatu ayat dapat lebih niendasarkan pada bagaimana konten ayat tersebut diturunkan, para pejuang feminisme, perlu upaya terus menerus dan strategis untuk mendekonstruksi struktur keku aan tradisional yang selama ini sudah dianggap sah-sah saja dan juga mendekosntruksi asumsi-asumsi budaya dan agama yang memperkuat dan melegitimasi kekerasan berdasarkan gender ini dan Bagi para calon peneliti berikutnya, masih ada beberapa masalah yang bisa diteJiti menyangkut permasalahan yang berhubungan dengan gender, terutama tentang poligami
AMINA WADUD MUHSIN GENDER THINKING IN THE HERMENEUTIC PERSPECTIVE OF HANS GEORG GADAMER
The purpose of this study is to find out the gender thinking of Amina Wadud Muhsin in the view of Hans Georg Gadamer's Hermeneutics. This research is library research using a research approach, namely: philosophical, grammatical, linguistic and phenomenological approaches. Then the source of this research data is taken from books, articles and journals related to the thoughts of Amina Wadud with Gadamer. Furthermore, the data analysis method used is descriptive method, content analysis, interpretation method, comparison, taxonomy. The results of this study indicate that: First, related to Amina Wadud's gender thinking, namely: 1. The creation of humans. According to Amina Wadud that the origin of humans, both male and female, comes from one nafs which is part of the paired system. 2. Leader. Amina Wadud strongly rejected Qawwamun to be limited to the position of men compared to women. However, there must be harmony, so Amina Wadud proposes a new idea, namely the "functionalist" concept. 3. Polygamy. For Amina Wadud, the concept of polygamy is not supported in religion, because there is no justice for women. Amina's gender thinking in the perspective of Hans Georg Gadamer's hermeneutics, in this case the interpreter's position. Amina Wadud places great emphasis on text priors and context. In this case the prior text concerns the background of an interpreter, his views and circumstances. Because an interpreter must dialogue with the text in accordance with any conditions and at any time. Likewise with Gadamer, the concept of language is the most important. This is what Gadamer calls "the influence of history"
AKTIVITAS HERBISIDA CAMPURAN GLIFOSAT DAN 2,4-D AMINA TERHADAP KENTOSAN
Kentosan berasal dari biji kelapa sawit yang tumbuh di piringan dan gawangan yang dapat mengganggu aktivitas perawatan tanaman kelapa sawit. Pengendalian kentosan dapat dilakukan dengan beberapa metode salah satunya dengan penggunaan herbisida. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sifat aktivitas herbisida campuran bahan aktif glifosat 480 g/l dan 2,4-d amina 865 g/l terhadap kentosan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus – Oktober 2021 selama 3 bulan di Rumah Kawat dan Laboratorium Pestisida Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan 5 perlakuan, 5 ulangan. Variabel yang diamati yaitu gejala keracunan dan bobot kering kentosan setelah aplikasi herbisida. Hasil penelitian menunjukkan herbisida campuran berbahan aktif glifosat + 2,4-d amina menunjukkan nilai indek kombinasi sebesar 0,83 (IK ≤ 1) sehingga herbisida campuran bersifat tidak antagonis.Kata kunci : 2,4-D Amina ,Herbisida Campuran, Glifosat, Kentosan, Pengendalia
..(GUNAKAN TTD ASLI BUKAN SCAN PADA LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI ETHESIS, UPLOAD ULANG).. HERMENEUTIKA AL-QUR’AN AMINA WADUD (Aplikasinya Terhadap Penafsiran Ayat Kepemimpinan Perempuan Serta Pandangannya Terhadap Kepemimpinan Ratu Bilqis)
ABSTRAK
Asyikin, Yiyin Nur. 2024. Hermeneutika Al-Qur’an Amina Wadud (Aplikasinya Terhadap Penafsiran Ayat Kepemimpinan Perempuan Serta Pandangannya Terhadap Kepemimpinan Ratu Bilqis). Skripsi, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Pembimbing: Prof. Dr. Aksin, M. Ag
Kata Kunci: Hermeneutika, Amina Wadud, Ayat Kepemimpinan Perempuan, Ratu Bilqis
Penelitian ini dilatar belakangi oleh kepemimpinan perempuan yang menjadi pro kontra dalam menghiasi perdebatan. Tidak sedikit kaum perempuan termarginalkan statusnya. Hingga saat ini tampuk kepemimpinan yang dipegang oleh perempuan masih saja bersifat kontroversif disebabkan karena belenggu Budaya Patriarki yang melekat di masyarakat. Seringkali perempuan dianggap lemah dan dipandang sebelah mata dan akan membawa dampak buruk terhadap masyarakat. Walaupun kenyataannya sebagian besar perempuan telah mendapatkan kesetaraan dengan laki-laki.
Adapun rumusan masalah penelitian ini adalah 1) bagaimana teori Al-Qur’an Amina Wadud dan 2) bagaimana Amina wadud mengaplikasikan teori hermeneutika Al-Qur’an terhadap kepemimpinan perempuan dan kepemimpinan Ratu Bilqis.
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teori hermeneutika yang dikembangkan oleh Amina Wadud. Jenis penelitian ini adalah library reseach atau penelitian Pustaka, sedangkan fokus kajiannya adalah hermeneutika Al-Qur’an yang dicetuskan oleh Amina Wadud dan aplikasinya dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an tentang kepemimpinan perempuan dan juga pandangannya terhadap kepemimpinan Ratu Bilqis. Sumber data yang digunakan merupakan karya dari Amina Wadud sendiri dengan bentuk buku yang berjudul Qur’an and Woman: Rereading The Sacred Text From a Woman’s Perspective.
Penelitian ini menghasilkan kesimpulan sebagai berikut. 1) Menurut Amina, prinsip umum kepemimpinan yang digambarkan dalam Al-Qur’an adalah pemimpin yang diemban tugas harus dilaksanakan oleh orang yang mempunyai kualifikasi atau karakteristik yang dibutuhkan untuk menjelaskan tugas tersebut. Perempuan juga diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi sebagaimana yang diberikan oleh kaum adam selagi tetap bertanggung jawab atas apa yang mereka kerjakan selama amanat dibebankan kepada dirinya, dan 2) Peran perempuan di muka bumi juga disebutkan dalam Al-Qur’an salah satu contohnya adalah Ratu Bilqis dari negeri Saba’. Pengangkatan kisah ini mengandung makna emplisit bahwa perempuan dapat menjadi seorang pemimpin seperti halnya yang dilakukan oleh laki-laki dan Islam tidak melarang perempuan untuk mengambil peran menjadi seorang pemimpin dalam sebuah komunitas publik. Dari sini Amina berusaha untuk membuktikan bahwa Al-Qur’an tidak menghambat perempuan untuk berada dalam posisi kepemimpinan
Studi komparatif pemikiran Munawir Sjadzali dan Amina Wadud Muhsin tentang pembagian waris laki-laki dan perempuan
Skripsi ini bertujuan untuk menjawab permasalahan yang penulis batasi menjadi tiga permasalahan: Bagaimana pemikiran Munawir dan Amina tentang pembagian harta waris laki-laki dan perempuan? Bagaimana metode pemikiran Munawir Sjadzali dan Amina Wadud? Dan apa saja persamaan dan perbedaan pemikiran Munawir dan Amina? Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan teknik pengumpulan data dokumentasi yaitu dengan cara mengumpulkan data melalui penelaahan sumber tertulis seperti buku. Kemudian, data yang sudah didapatkan dianalisis menggunakan pola pikir induktif dan metode analisis komparatif yaitu, membaca, menafsirkan dan analisis terhadap sumber data yang diperoleh kemudian di komparasi kan sehingga mendapatkan kesimpuan. Dari penelitian ini diketahui bahwa pemikiran Munawir mempunyai dasar dalam pemikirannya yaitu mengacu pada teori mas}lah}ah mursalah Al-Thufi dan Ijtihad Khalifah Umar bin Khattab yang juga dilakukan atas pertimbangan maslahat. Sehingga persamaan antara keduanya adalah dalam pembagian waris sama-sama tidak menerapkan konsep 2:1 di zaman sekarang sedangkan perbedaannya terletak pada metode pemikirannya. Sedangkan Munawir Sjadzali dan Amina Wadud mengenai konsep pembagian waris 2:1 jika dilaksanakan di zaman sekarang ini, dirasa sudah tidak relevan lagi karena tidak mencerminkan keadilan terutama kepada anak perempuan. Amina menjelaskan dalam bukunya bahwa ia menggunakan metode hermeneutika yang diusung oleh Fazlur Rahman. Dari kesimpulan di atas, penulis memberikan saran: Mengenai pembaharuan islam khususnya pada masalah kewarisan, baik dari pemikiran Munawir Sjadzali, akan lebih baik penulis maupun pembaca perlu mempelajari lebih lanjut supaya lebih yakin bahwa apakah benar yang disampaikan oleh para tokoh di atas sudah sesuai atau sudah mendekati dengan apa yang dimaksudkan oleh spirit Al-Qur’an serta Hadits Rasulullah
Pemikiran Amina Wadud dan Mary Wollstonecraft tentang pengasuhan anak dalam keluarga perspektif Hukum Islam
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian kepustakaan (library research) ini dapat dilakukan dengan membaca, memahami, serta mengelompokkan data-data yang sudah didapatkan, setelah itu dianalisis dengan menguraikan data dengan kalimat yang jelas dan terperinci atau deskriptif hingga dalam penelitian ini dapat mengemukakan teori dari pemikiran Amina Wadud serta Mary Wollstonecraft tentang pengasuhan anak dalam keluarga dalam perspektif hukum Islam. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa; satu, Amina Wadud berkeyakinan bahwa membesarkan anak merupakan kewajiban yang harus bersama-sama dilakukan untuk menjaga kedekatan hubungan antara orang tua dan anak. Dalam hal ini, jika keadaan keuangan keluarga sedang buruk, meskipun pekerjaan bukan merupakan kewajiban istri, istri dapat bekerja membantu suaminya. Dengan pengasuhan anak dalam keluarga yang dilakukan bersama, akan memperkuat hubungan dan memberi istri kesempatan untuk bekerja demi kesejahteraan keluarga; kedua, Mary Wollstonecraft berpendapat bahwa mengasuh anak merupakan kewajiban yang harus dilakukan bersamaan dan penyusuan tidak boleh dilakukan oleh orang lain (wet-nursing). Orang tua, dan khususnya istri, harus mendapatkan pendidikan yang nantinya akan menjadi istri dan ibu yang baik, dan pada akhirnya memberikan kontribusi yang positif bagi keluarga dan masyarakat; ketiga, pengasuhan anak dalam keluarga yang dipaparkan oleh Amina Wadud dan Mary Wollstonecraft sesuai dengan ajaran Hukum Islam menurut perspektif fiqh munakahat dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) karena had{a>nah merupakan hak anak dan wajib halnya untuk diberikan kepada anak oleh orang tuanya, terutama yang belum mencapai mumayyiz. Keduanya memiliki tanggung jawab yang sama untuk pengasuhan anak. Berdasar kesimpulan tersebut, penulis menyarankan pada istri yang bekerja di luar rumah tidak boleh lalai dalam mengasuh anaknya dan mengurus keluarga karena hal itu merupakan kewajiban sebagai seorang istri dan ibu yang tak akan pernah hilang. Suami wajib mencari nafkah, tetapi harus memahami perannya selaku ayah yang mendidik dam mengasuh anak berdasarkan ajaran hukum Islam. Suami dan istri akan lebih baik untuk mengasuh anaknya sendiri dan jika ingin mengasuhkan anaknya kepada orang lain harus tetap memperhatikan syarat dan kualitas dari pengasuh agar sang anak tetap mendapatkan perawatan dan pengasuhan yang baik sesuai dengan aturan dalam Islam
Tafsir Amina Wadud
Tafsir Amina Wadud, yang terangkum dalam karyanya Qur\u27an and Woman: Rereading the Sacred Text from a Woman\u27s Perspective, merupakan upaya radikal untuk merekonstruksi penafsiran Al-Qur\u27an dari perspektif perempuan. Wadud berargumen bahwa diskriminasi terhadap perempuan dalam masyarakat Muslim bukan berasal dari teks suci itu sendiri, melainkan dari penafsiran yang didominasi oleh laki-laki dan budaya patriarki yang bias gender. Ia mengajukan metode hermeneutika tauhid (kesatuan) yang menekankan bahwa Al-Qur\u27an secara fundamental bertujuan untuk kesetaraan penuh antara laki-laki dan perempuan di hadapan Tuhan, baik dalam nilai spiritual maupun tanggung jawab kemanusiaan. Metode ini menganalisis teks dengan mempertimbangkan konteks historis, komposisi linguistik, dan tujuan moral universal Al-Qur\u27an. Melalui pendekatan ini, Wadud menafsirkan ulang ayat-ayat kunci yang berhubungan dengan isu-isu seperti kepemimpinan, poligami, dan peran publik perempuan, dengan tujuan untuk menegaskan kembali prinsip keadilan gender sebagai inti dari pesan Al-Qur\u27an
- …
