1,721,106 research outputs found

    PEMIKIRAN TASAWUF THAIFUR ALI WAFA DI ERA KONTEMPORER INDONESIA

    Full text link
    Tesis ini mengkaji pemikiran Thaifur Ali Wafa dalam karyanya, Firdaws al-Na‘îm yang berkaitan dengan isu-isu tasawuf, yaitu: taubat, zuhud, uzlah, dan tarekat. Kehadiran pemikiran ini mendapatkan respons yang positif, baik di kalangan akademik maupun non-akademik, baik di ranah masyarakat Madura sendiri maupun di luar Madura. Namun, pemikiran ini belum mendapat perhatian yang memadai dari para peneliti. Peneliti sebelumnya membahas terbatas pada isu cinta, sabar, khaûf, dan rajâ’. Lebih dari itu, peneliti sebelumnya hanya membahas nuansa sufistiknya dalam karya monumental tersebut. Tesis ini menjawab tiga pertanyaan, yaitu bagaimana latar belakang pemikiran moderat Thaifur Ali Wafa tentang tasawuf?, bagaimana pandangan moderat Thaifur Ali Wafa tentang tasawuf?, dan bagaimana relevansi pemikiran moderat Thaifur Ali Wafa tentang tasawuf dalam konteks Indonesia kontemporer? Dengan menggunakan metode diskriptif analitis, penulis menjawab pertanyaan penelitian tersebut melalui pencarian data kepustakaan, lebih khusus kitab tafsir Firdaws al-Na‘îm. Selain itu, penulis juga mencari kitab tasawuf, buku, dan artikel yang relevan dengan penelitian ini. Selanjutnya, penulis memahami data-data yang terkumpul secara analitis menggunakan pengumpulan sejumlah unitunit pada analisis. Kajian ini menemukan beberapa poin: Temuan pertama, pemikiran moderat Thaifur Ali Wafa tentang tasawuf dilatarbelakangi oleh pemikiran Imam al-Ghazali dan guru-gurunya yang mencintai pemikiran Imam alGhazali. Temuan kedua, pandangan moderat Thaifur Ali Wafa tentang tasawuf mencakup empat isu, yaitu taubat, zuhud, uzlah, dan tarekat. Temuan ketiga, pemikiran moderat Thaifur Ali Wafa tentang tasawuf masih terkesan klasik dan sedikit pun belum terlihat relevansinya bila dihadapkan terhadap isu-isu global yang berkembang di era kontemporer Indonesia, semisal isu uzlah WNI ke Suriah dan moderasi Islam. Selain itu, pemikiran Thaifur ini juga menarik dikaji sisi mawqûf Thaifur dari Tarekat Syadziliyah, karena dalam penelitian ini penulis belum banyak menyentuh ruang tersebut

    Pondok Pesantren Mahfilud Duror II Jember pada Era Kepemimpinan KH. Ali Wafa, 1992-2019

    Full text link
    This study aims to describe the leadership of KH. Ali Wafa at the Mahfilud Duror II Islamic Boarding School since 1992-2019. The method used in this research is a qualitative method with a historical historical approach in a diachronic perspective. The results of this study illustrate that the leadership of KH. Ali Wafa at the Mahfilud Duror II Islamic Boarding School since 1992-2019 is a charismatic-transformative leadership. The progress that has occurred and the authority possessed by the kiai in the field of religion and management of Islamic boarding schools are evidence of KH's success. Ali Wafa became the leader of the Mahfilud Duror II Islamic Boarding School

    Hukum memakan cairan hitam cumi-cumi: study komparatif pendapat Sayyid Abdurrahman bin Muhammad dan Syech Toifur Ali Wafa

    Full text link
    Skripsi yang berjudul “Hukum Memakan Cairan Hitam Cumi-Cumi (Study Komparatif Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Dan Syech Toifur Ali Wafa)” adalah penelitian yang berusaha menjawab dua rumusan masalah yaitu: 1. Bagaimana hukum memakan cairan hitam cumi-cumi dalam kitab Bughyah al-Mustarshidin karya Sayyid Abdurrahman bin Muhammad dan kitab Bulghah at}-Tullab karya Syech Toifur Ali Wafa? 2. Bagaimana analisis komparatif hukum memakan cairan hitam cumi-cumi dalam kitab Bughyah al-Mustarshidin karya Sayyid Abdurrahman bin Muhammad dan kitab Bulghah at}-Tullab karya Syech Toifur Ali Wafa? Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan komparatif, yaitu penelitian dengan menggambarkan data apa adanya yaitu pendapat Sayyid Abdurrahman bin Muhammad dan Syech Toifur Ali Wafa tentang hukum memakan cairan hitam cumi-cumi, kemudian dilakukan analisis komparatif. Temuan dari penelitian ini adalah bahwa Sayyid Abdurrahman bin Muhammad berpendapat bahwa cairan hitam pada cumi-cumi dihukumi najis. Syech Toifur Ali Wafa berpendapat bahwa cairan hitam cumi-cumi itu suci dikarenakan menjadi tameng sehingga tidak dihukumi najis. Kitab Bughyah al-Mustarshidin karya Sayyid Abdurrahman bin Muhammad dan kitab Bulghah at}-Tullab karya Syech Toifur Ali Wafa memiliki kesamaan yakni menganut mazhab Shafi’i. Serta memiliki kesamaan dalam mengambil dasar hukum Kias. Sayyid Abdurrahman bin Muhammad dan Syech Toifur Ali Wafa juga menganggap sama bahwa segala cairan hitam yang berasal dari dalam tubuh itu najis. Mereka memiliki perbedaan dalam berpendapat untuk menentukan hukum memakan cairan hitam cumi-cumi. Berdasarkan anatomi tubuh cumi-cumi, letak dari kantong tinta ini memiliki tempat tersendiri yang berbeda dengan tempat keluarnya kotoran. Sehingga pendapat yang dapat diterapkan pada masa sekarang adalah pendapat dari Kiai Thoifur Ali Wafa dalam kitab Bulghah at}-Tullab. Dikarenakan ‘illat yang paling pas adalah “bukan bagian dalam tubuh”. Saran untuk masyarakat agar tidak gelisah tentang perbedaan pendapat, karena perbedaan yang ada menjadi rahmat kepada seluruh umat, dan untuk kepentingan ekosistem yang sejahtera, diharap semua pihak dapat memelihara dan menjaga kekayaan dan keanekaragaman hewan laut. Jangan sampai apa yang telah kita lakukan tidak sesuai dengan kaidah syariat Islam

    Epistemologi kitab Tafsir Firdaws al Naîm bi Tawdhîh Ma’ânî Âyât al Qur’ân al Karîm karya Thaifur Ali Wafa

    Full text link
    Tafsir Firdaws al-Na’im buah karya Thaifur Ali Wafa merupakan satu dari sekian banyak karya tafsir Indonesia yang cukup familiar di kalangan pesantren kawasan Sumenep, Madura. Kitab ini memiliki pola penyusunan yang cukup unik, yaitu menggabungkan pola lama dari segi kekayaan materi pembahasan dan pola baru dari segi metode, sistematika serta gaya penuangan materi yang sederhana. Fokus penelitian di sini adalah ekplorasi dan elaborasi Tafsir Firdaws al-Na’im dari perspektif disiplin keilmuan epistemologi tafsir dimana tujuan utamanya adalah memperoleh jawaban dari pertanyaan seputar: 1) Apa sumber-sumber yang digunakan Thaifur Ali Wafa dalam tafsirnya?; 2) Bagaimana metode dan bentuk yang digunakan Thaifur Ali Wafa dalam tafsirnya?; 3) Bagaimana validitas penafsiran Thaifur Ali Wafa dalam kitab Firdaws al-Na’im? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-analitis dengan menggunakan kerangka pembacaan epistemik. Kerangka epistemologis di maksudkan untuk menguak epistemologi Tafsir Firdaws al-Na’im. Adapun validitas kebenaran penafsirannya diuji melalui teori kebenaran Koherensi yang merupakan salah satu dari tiga komponen pokok dalam membuktikan kebenaran sebuah pengetahuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa sumber yang dirujuk oleh Thaifur Ali Wafa selama melakukan aktifitas penafsiran antara lain meliputi al- Qur’an, Hadis Nabi, pendapat sahabat, pendapat tabi’in, pendapat ulama, ra’y, dan beberapa kitab tafsir sebelumnya serta syair-syair Arab. Sementara metode tafsir yang digunakan adalah metode tahli>li. Dari segi bentuknya, kitab tafsir ini tergolong tafsir bi al-ra’yu. Banyak sekali ditemukan uraian pendapat-pendapat dari Thaifur Ali Wafa sendiri maupun Ulama-ulama lainnya. Untuk validitas penafsiran, penulis berkesimpulan bahwa hasil dari penelitian ini Tafsir Firdaws al-Na’im cocok teori kebenaran koherensi. Dikatakan benar secara koherensif karena ada kesesuaian antara mayoritas pernyataan-pernyataan yang dibangun oleh Thaifur, baik itu pernyataan dalam penafsirannya maupun pernyataan dalam metodologinya. Thaifur sangat berhati-hati dalam menafsirkan ayat al-Qur’an dan memilih pendapat yang sesuai dengan pernyataan awalnya, sehingga epistemologi tafsirnya dapat dikatakan benar secara koherensif

    KONSEP TOLERANSI BERAGAMA DALAM AL-QURAN PERSPEKTIF BUYA HAMKA DAN THOIFUR ALI WAFA

    Full text link
    Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat berbagai perbedaan seperti latar belakang budaya dan juga agama. Dalam menghadapi perbedaan tersebut kita harus memiliki sikap toleransi agar kehidupan bermasyarakat tetap bersatu dan tidak terpecah-belah. Menurut Buya Hamka dan Thoifur Ali Wafa, Toleransi merupakan sikap mengulurkan perdamaian terhadap agama lain serta memberi kebebasan terhadap orang lain dalam memilih suatu agama sesuai dengan keyakinannya masing-masing tanpa adanya paksaan.            Tujuan penelitian ini dilakukan untuk menganalisis bentuk-bentuk dan batasan-batasan toleransi beragama dalam Al-Quran menurut Buya Hamka dan Thoifur Ali Wafa. Metode yang dipakai adalah metode pendekatan kualitatif dengan melakukan penelitian Kepustakaan (library reserch). Adapun sumber data primernya adalah Tafsir Al-Azhar dan Firdaus al-Na‘im. Ayat-ayat yang diteliti meliput surat Al-Baqoroh ayat 256. Surat Al-An’am ayat 108, surat Al-Kafirun ayat 1-6 dan surat Al-Mumtahanah ayat 8-9. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa  konsep toleransi beragama menurut Hamka dan Thoifur Ali Wafa hanya terbatas pada hal yang bersangkutan dengan muamalah duniawi saja dan tidak pada hal yang menyangkut pada ranah aqidah atau keyakinan

    Pengaruh Budaya Patriaki atas Penafsiran Thaifur Ali Wafa: Analisis Ayat Gender dalam Tafsir Firdaus al-Na’im

    Full text link
    This article discusses the influence of patriarchal culture on Tafsir Firdaus Al-Na'im by Thaifur Ali Wafa, who specifically analyzes the interpretation of gender verses. This research shows that the interpretation of Thaifur Ali Wafa still maintains the patriarchal element which states that a man is the leader of the family with greater responsibilities and rights than a woman. The background concludes that Tafsir Firdaus Al-Na'im still contains strong patriarchal elements because it is influenced by socio-cultural norms of Patriarchy using Classical Tafsir reference sources as well as traditional views on gender relations in Islam accompanied by an emphasis on ethics and responsibility. This research aims at how Tafsir Firdaus Al-Na'im answers contemporary issues occurring in the surrounding community. The research method used is a qualitative method or literature with a descriptive approach by collecting data from two types, namely primary data and secondary data

    A study of sainthood in medieval Islamic Egypt : Muhammad and Ali Wafa

    No full text
    This study explores the concept of sainthood in the medieval Islamic tradition. A close reading of the unexplored writings of two 14th C. mystical thinkers, Muh&dotbelow;ammad and `Ali Wafa', shows the presence of at least three distinct currents of thought regarding sainthood. One has been adopted from the Sufi order of the Shadhiliyya, one from the writings of a 9th C. central Asian mystic al-Tirmidhi, and one from the controversial 13th C. thinker Ibn `Arabi. Our study analyses how our Egyptian writers, Muh&dotbelow;ammad and `Ali Wafa', synthesized and elaborated upon these currents to develop a distinct doctrine of sainthood. Although our writers are to be located firmly within the Sunni tradition, it is significant that they felt free to draw on Shi'ite ideas for the construction of their own theory of the final great saint

    Tafsir Lokal di Era Kontemporer Indonesia: Studi Kasus Karya Thaifur Ali Wafa, Firdaws al-Na'im

    No full text
    Tesis ini mengkaji penafsiran Thaifur Ali Wafa dalam karyanya, Firdaws al-Na'fm yang berkaitan dengan isu-isu lokal yang terdapat di Madura, yaitu: melihat Allah, tawasul, peran dan status gender, dan kekerasan atas nama agama. Kehadiran karya tafsir ini mendapatkan respons yang positif, baik di kalangan akademik maupun non-akademik, baik di ranah masyarakat Madura sendiri maupun di luar Madura. Namun, karya ini belum mendapat perhatian yang memadai dari para peneliti. Peneliti sebelunmya membahas terbatas pada isu gender di seputar hak-hak perempuan, baik di ranah domestik maupun di ranah publik, dan isu telaah kitab tafsir di seputar metodologi penafsiran. Tesis ini menjawab pertanyaan bagaimana Thaifur Ali Wafa menafsirkan Al-Qur'an yang dikaitkan dengan berbagai temuan di lingkungannya? Dengan menggunakan metode diskriptif analitis, penulis menjawab pertanyaan penelitian tersebut melalui pencarian data kepustakaan, lebih khusus kitab tafsir Firdaws al-Na'lm. Selain itu, penulis juga mencari kitab tafsir, buku, dan artikel yang relevan dengan penelitian ini. Selanjutnya, penulis menafsir data-data yang terkumpul secara analitis menggunakan pengumpulan sejumlah unit-unit pada analisis. Kajian ini menemukan beberapa poin: Temuan pertama, Tafsir Firdaws al-Na'fm dihidangkan dengan menggunakan sumber bi al-ra 'yi, metode analitis, dan corak gramatikal. Temuan kedua, Hal-hal yang mempengaruhi kecenderungan penafsiran Thaifur Ali Wafa adalah ideologi keagamaan dan pengaruh budaya yang berkembang di pulau Madura. Temuan ketiga, Penafsiran Thaifur masih terkesan klasik dan sedikit pun belum terlihat relevansinya bila dihadapkan terhadap isu-isu global yang berkembang di era kontemporer Indonesia. Selain itu, tafsir ini juga menarik dikaji sisi semantiknya, karena di sana terhidang aneka penafsiran yang kental dengan sisi kebahasaannya

    Telaah Kitab Tafsir Firdaus Al-Na’im Karya Thaifur Ali Wafa Al-Maduri

    No full text
    This article aimed to describe one of the Tafsir which compiled by Ulama Madura named Thaifur Ali Wafa. He is the son of famous Ulama Madura named KH. Ali Wafa. Thaifur’s capacity as the Ulama could not be doubted. Inherited the expertise of his father, now he has produced a number of books. One of His magnum opus is Tafsir Firdaus al-Na’im. The Tafsir classified as the unpublished tafsir, so that his Tafsir considerend unnoticed on the studies of The Alquran in Indonesia. Tafsir Firdaus al-Na’im consist complete commentary of Alquran within 30 Chapter and written by Arabic language. It took approximately three year to complete his written. The Methodology of the Tafsir is using the Tahlili method. althought that, the way its explanation not totally as the same Tahlili ways. It viewed with the aspect of interpretation using ijmali analysis with simple explanation, it’s feature interpretation could not be affilated to any special pattern. The existance of the Tafsir Firdaus al-Nai’m in the modern era showed the dynamics development of interpretation of the Alquran in Indonesia. at least, this Tafsir could add the treasury of literature interpretation of the Alquran in Nusantara
    corecore