1,721,065 research outputs found
PEMIKIRAN ALI SYARIATI TENTANG KESYAHIDAN
Studi ini merupakan kajian pemikiran Ali Syariati mengenai Kesyahidan. Menurut Syariati kesyahidan adalah pengorbanan seorang mulim untuk menegakkan keadilan dan kehormatan Islam. Kesyahidan bukan kematian sia-sia, dia adalah puncak tertinggi dari kesolehan seorang muslim, yang melalui pemahamannya tentang kesyahidan, ideologi keimanan,dan menjadikan dirinya sebagai raunsyanfikr. Adapun pertanyaan penelitian yaitu: Apa yang dimaksud kesyahidan menurut Ali Syariati? Bagaimana Ali Syariati membangun argumentasinya tentang Kesyahidan? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami apa yang dimaksud dengan kesyahidan Menurut Ali Syariati dan untuk mengetahui bagaimana argumentasinya tentang kesyahidan. Penelitian ini merupakan penelitian berbasis kepustakaan (library research). Metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan Kekuatan pemikiran Ali Syariati terletak pada dirinya sebagai syuhada dengan cara mencontoh Imam Husain. Syariati memiliki pengaruh kuat dalam revolusi Iran melalui konsep kesyahidannya. Rakyat Iran bergerak menumbangkan yang zalim
Agama dan Perubahan Sosial Perspektif Ali Syariati
Penelitian ini bermaksud melakukan eksplorasi lebih jauh tentang Pemikiran Ali Syariati mengenai Agama dan Sosial. Dan bagaimana kedudukan pemikirannya dalam kancah sosiologi modern. konstruksi pemikiran perubahan sosial Ali Syariati didasari atas keresahan atas Realitas sosial yang tampak opresif dan tiran di Iran. Ia mengusung doktrin Islam agar dapat dijadikan sebagai dasar gerakan dalam mewujudkan perubahan sosial di Iran. Pemikiran Ali Syariati yang cenderung bersifat emansipatoris inilah yang membedakannya dengan pemikiran Sosiolog lainnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yakni historis factual, metode ini berupaya agar selaras dengan struktur pemikiran Ali Syariati dan menyesuaikan dengan setting sosial yang mempengaruhinya. Hasilnya, penelitian ini menemukan bahwa ada tiga konsep yang digagas oleh Ali Syariati dalam pemikiran perubahan sosialnya yakni, tauhid (worldview) yang menjadi asas ideologis dalam menganalisa masalah sosial dalam struktur sosial, kemudian rausyanfikr (intelektual tercerahkan) yang berperan sebagai aktor dalam membangun kesadaran dan menjadi jembatan dalam menyambungkan kepentingan kelas sosial yang tertindas. Dan terakhir yaitu ummah yang menjadi arah perubahan sosial, yang mana sistem Ummah adalah sistem yang menyuarakan kesamarataan, kesetaraan tanpa diskriminasi dan ketidakadilan. Ali syariati menuangkan pemikirannya dengan karakteristik yang berbeda terhadap sosiologi Barat. Pemikirannya tentang perubahan sosial sangat sarat akan nilai-nilai yang bersifat ideologis dan emansipatoris, sedangkan sosiologi Barat cenderung positivistik dan bebas nilai
Argumen tentang keniscayaan Islamisasi ilmu pengetahuan dalam pemikiran Ali Syariati
Ali Syariati, pemikir Iran yang memiliki ruang lingkup pemikiran terkait dengan filsafat manusia, filsafat social, teologi pembebasan, ideology, sejarah, dan sosiologi. Namun, penulusuran terhadap karya-karya Ali Syariati justru menunjukkan perhatiannya yang sangat kuat terhadap pentingnya islamisasi ilmu pengetahuan. Bahkan bisa dikatakan bahwa, hampir sama dengan Ismail Al-Faruqi, bagi Syariati, keterbelakangan umat Islam disebabkan oleh kegagalan dalam mencarikan titik temu antara ajaran Islam dengan ilmu pengetahuan modern. Ada 3 (tiga) rumusan penelitian yang diajukan; pertama adalah tentang biografi intelektual Ali Syariati; kedua, terkait dengan konsep Islamisasi Ilmu pengetahuan dalam khasanah intelektual modern muslim; dan ketiga, argument Ali Syariati tentang keniscayaan Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Ketiga hal ini yang menjadi rumusan pertanyaan penelitian singkat ini. Tulisan ini akan menjelaskan riwayat hidup Ali Syariati, konsep islamisasi ilmu Pengetahuan dalam khasanah intelektual modern muslim serta argument-argumen keniscayaan islamisasi ilmu pengetahuan yang terdapat dalam pemikiran Ali Syariati
Peranan Dr Ali Syariati dalam pembaharuan pemikiran Islam
Masalah yang diangkat dalam skripsi ini adalah siapakah Dr Ali Syariati dan bagaimana riwayatnya. Mengapa pembaharuan itu muncul dalam dunia Islam. Bagaimana peran Dr Ali Syariati dalam pembaharuan pemikiran Islam. Tujuan yang hendak dicapai dalam skripsi ini adalah ingin mengetahui secara pasti dan rinci tentang sosok Dr Ali Syariati yang sebenarnya, baik meliputi riwayat kehidupan, pendidikan maupun karya-karyanya. Untuk mengetahui latar belakang munculnya pembaharuan dalam Islam. Untuk mengetahui sejauh man aide pembaharuan pemikiran Dr Ali Syariati terpengaruh dalam masyarakat Islam Iran. Pembahasan ini menggunakan metode sejarah yang menghasilkan suatu kesimpulan diantaranya bahwa Dr Ali Syariati adalah tokoh besar di bidang ilmu dan agama. Ia seorang cendikiawan muslim, pemikir sekalugus ideology yang mempunyai corak pemikiran yang khas dan lugas di zaman syah Iran. Pembaharuan itu muncul dalam duani Islam di periode modern dan dan mempunyai tujuan membawa umat Islam kepada kemajuan
Konsep rausyanfkir dalam pemikiran Ali Syariati
Rausyanfkir merupakan salah satu konsep yang banyak sekali dibicarakan oleh Ali Syariati dalam hampir setiap karya dan kuliahnya. Kajian ini menggunakan kaedah kepustakaan. Idea utama konsep rausyanfkir ialah suatu refleksi terhadap kaum intelektual, memperingatkan mereka terhadap peranan dan tanggungjawab seorang intelektual. Konsep ini boleh dilihat kepada tiga aspek iaitu intelektualisme, ideologi dan idealisme Dalam aspek intelektualisme, kertas ini akan membincangkan perbezaan istilah ‘intelektual’ dan ulama yang digarap oleh beliau untuk memaknakan semula fungsi dan peranan intelektual. Ali Syariati juga berpandangan bahawa seorang rausyanfkir perlu mengembalikan semula semangat Islam menerusi kaedah hermeneutik terhadap pensyaratan ibadah, Al-Quran dan hadis. Selain itu, aspek terakhir dalam konsep rausyanfkir adalah dari segi idealisme. Idealisme seorang rausyanfkir dalam pemikiran beliau berkisar dengan ‘manusia ideal’ yang yakin dengan ilmu pengetahuan serta kemampuan dirinya dan ideal yang dicitakan oleh seseorang rausyanfkir untuk masyarakatnya. Kesimpulannya, konsep rausyanfkir yang wujud dalam pemikiran Ali Syariati banyak berkaitrapat dengan penjelmaan diri seseorang intelektual yang cakna terhadap isu yang dihadapi oleh masyarakatnya, tanpa mengesampingkan ajaran Islam dalam kehidupannya. Artikel ini membicarakan tentang pemikiran Ali Syariati yang berkisarkan kepentingan intelektual dan berpengaruh dalam pembentukan minda belia sebelum Revolusi Iran 1979
AGAMA DAN PERUBAHAN SOSIAL DALAM PANDANGAN ALI SYARIATI
Ali Syariati adalah seorang sosiolog Muslim yang spektrum pemikirannya
berbicara tentang pengaruh agama terhadap perubahan sosial. Pemikiran Ali Syariati
tentang perubahan sosial dikonstruksi atas dasar keresahannya terhadap realitas sosial
di Iran yang tiran dan opresif. Hal ini kemudian melatarbelakangi kelahiran konsep
pemikirannya tentang perubahan sosial yang bersifat emansipatoris dan didasari atas
doktrin-doktrin agama Islam untuk dapat dimanifestasikan sebagai sebuah basis
gerakan dalam rangka menciptakan perubahan di Iran. Pemikirannya yang cenderung
bersifat emansipatoris ini menjadikannya berbeda dengan pemikiran para sosiolog
lain yang cenderung positivis dan pasif dalam menganalisa perubahan sosial.
Penelitian ini dilakukan untuk mengelaborasi bagaimana kerangka pemikiran Ali
Syariati tentang agama dan perubahan sosial serta menganalisa tipologi dari
pemikirannya tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah historis
faktual, yaitu pendekatan penelitian dengan berupaya mengikuti cara dan struktur
pemikiran Ali Syariati dan setting sosial yang mempengaruhi pemikirannya. Selain
itu, digunakan pendekatan tipologi pemikiran Barat maupun Islam untuk
mengidentifikasi tipologi dari pemikiran Ali Syariati. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa pemikiran Ali Syariati tentang perubahan sosial memiliki tiga
konsep pokok. Pertama adalah tauhid (worldview) yang dijadikan sebagai landasan
ideologis dalam menganalisa masalah-masalah yang terjadi dalam struktur sosial,
kedua adalah peran rausyanfikr (intelektual tercerahkan) dalam perubahan sosial
yaitu sebagai aktor sosial dalam membangun kesadaran dan menjembatani
kepentingan kelas sosial yang tertindas, dan yang ketiga adalah ummah sebagai
tujuan dari perubahan sosial dimana sistem ummah merupakan sistem sosial yang
tidak membeda-bedakan golongan, ras, kasta, agama dan sebagainya serta terbebas
dari segala macam ketidakadilan dan diskriminasi sosial. Adapun tipologi pemikiran
Ali Syariati termasuk ke dalam tipologi perubahan sosial Karl Marx karena berbasis
pertentangan kelas, dan perubahan sosial Max Weber karna didasarkan pada doktrin-
doktrin agama sebagai pendorong perubahan sosial. Pemikiran Ali Syariati memiliki
ciri kategoris yaitu rasional-transenden, terbuka dan kritis, dinamis, independen,
revolusioner dan egaliter
Konsep Imamah Ali Syariati (1933-1977 M) Analisis Verstehen Wilhelm Dilthey
Konsep Imamah Ali Syariati (1933-1977 M) Analisis Verstehen Wilhelm Dilthey. Skripsi: Program Studi Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penelitian ini membahas (1) Apa konsep imamah menurut Ali Syariati? (2) Bagaimana konsep imamah menurut Ali Syariati? Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran pada pembaca mengenai konsep imamah dalam perspektif Ali Syariati yang tertuang dalam beberapa karya Ali Syariati maupun pemikirannya yang terdapat dalam karya orang lain yang meneliti tentang Ali Syariati. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik yaitu metode yang menguraikan sekaligus menganalisis. Metode ini digunakan untuk mendeskripsikan pemikiran Ali Syariati tentang konsep imamah dengan menggunakan pendekatan versetehen Wilhelm Dilthey. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat ditarik dua kesimpulan besar yaitu: (1) konsep imamah Ali Syariati merupakan konsep kepemimpinan yang suci atau murni, (2) Imamah bagi Ali Syariati memiliki peran penting di dalam ummah. Imam merupakan sosok manusia yang memiliki kelebihan di atas manusia lainnya dan memiliki peran dalam membimbing ruhani, moral serta pengajaran hidup yang semestinya. Kata kunci: Konsep Imamah, Ali Syariati, Verstehen, Wilhelm Dilthe
Relevansi pemikiran Sosiologi Islam Ali Syariati dengan problematika Pendidikan Islam di Indonesia
Ikhtiar Ali Syariati untuk membangun konstruksi keilmuan sosiologi Islam ternyata kemudian membawanya untuk bersentuhan dengan dunia pendidikan. Bahwa problem dikhotomi ilmu pengetahuan itu harus diselesaikan melalui upaya serius merekontruksi dunia pendidikan Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap relevansi pemikiran sosiologi Islam Ali Syariati dengan problematika pendidikan Islam di Indonesia. Paling tidak ada 4 (empat) pertanyaan penelitian yang diajukan; pertama, apa yang menjadi landasan pemikiran sosiologi Islam Ali Syariati ?; kedua, apa yang telah dihasilkan dalam pemikiran sosiologi Islam Ali Syariati ?; ketiga, apa yang menjadi problematika pendidikan Islam di Indonesia ?; dan, keempat, bagaimana relevansi pemikiran sosiologi Ali Syariati dengan problematikan pendidikan Islam di Indonesia ?Untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut, peneliti menggunakan pendekatan metode library research. Hasilnya, peneliti menemukan 4 (empat) temuan, yaitu; pertama, pemikiran sosiologi Islam Ali Syariati yang didasari oleh Tauhid sangat relevan dengan upaya peneguhan menjadikan tauhid sebagai basis dan praksis pendidikan Islam di Indonesia; kedua, pemikiran sosiologi Islam Ali Syariati relevan sekali dengan upaya umat Islam dan bangsa Indonesia dalam mengembangkan pendidikan karakter; ketiga, pemikiran sosiologi islam Ali Syariati ini memberi alternative solusi dan pemerkayaan bagi pendidikan Islam di Indonesia untuk terus melakukan islamisasi ilmu pengetahuan; keempat, relevansinya dengan upaya membangun pendidikan Islam di Indonesia yang harus terus diorientasikan dengan aksi, sehingga mendorong terjadinya perubahan yang berkesinambungan, baik untuk dunai pendidikan, keilmuan, dan kehidupan masyarakat dan kebudayaan
Pemikiran politik Ali Syariati dan Taqiyyuddin an-Nabhani tentang konsep sumber kepemimpinan Islam
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pemikiran politik Ali Syariati dan Taqiyyuddin an-Nabhani tentang konsep sumber kepemimpinan dalam Islam. Dua tokoh ini memiliki corak pemikiran yang berbeda dalam mendeskripsikan permasalahan dalam bidang sumber kepemimpinan Islam. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh mazhab masing-masing dari kedua tokoh tersebut yaitu Ali Syariati yang bermazhab syiah dan Taqiyyuddin an-Nabhani yang bermazhab sunni.
Tujuan dari penelitian ini adalah : 1) mengetahui konsep sumber kepemimpinan Islam dalam kajian Siyasah Dusturiyah. 2) mengetahui pemikiran Ali Syariati dan Taqiyyuddin an-Nabhani tentang konsep sumber kepemimpinan Islam. 3) Titik temu pemikiran Ali Syariati dan Taqiyyudin an-Nabhani dengan sistem kekuasaan yang berkembang saat ini.
Penelitian ini berawal dari perbedaan pandangan antara Ali Syariati dan Taqiyyuddin an-Nabhani tentang kepemimpinan Islam terutama masalah sumber kepemimpinan yang digunakan oleh umat Islam dalam memilih dan menetapkan seorang pemimpin Islam. Posisi sumber kepemimpinan Islam yang sangat sentral dalam memahami sekaligus menyikapi terkait sistem kepemimpinan Islam yang berkembang hingga dewasa ini memerlukan relevansi terutama kontribusi dari pemikiran Ali Syariati dan Taqiyyuddin an-Nabhani tentang konsep sumber kepemimpinan Islam.
Penelitian ini menggunakan metode deskritif dan komparatif dalam memberikankan jalur dari kedua tokoh pemikir politik Islam tersebut. Analisis tersebut dan sumber data yang penulis kumpulkan adalah dari seluruh buku-buku dari karya Ali Syariati dan Taqiyyuddin an-Nabhani yang relevan dengan pemikiran politiknya tentang sumber kepemimpinan Islam. Dengan demikian, memperhatikan seluruh analisis dengan metode yang digunakan secara ilmiah dapat memberikan analisis yang objektif dari kedua tokoh tersebut.
Pembahasan dan hasil penelitian tersebut dari pemikiran politik Ali Syariati dan Taqiyyuddin an-Nabhadi menyimpulkan, yaitu : 1) sumber kepemimpinan dalam Islam terbagi kepada dua konsep, yaitu konsep rakyat (syura) dan nash ; 2) Ali Syariati mengintregasikan antara konsep rakyat dan nash sedangkan Taqiyyuddin an-Nabhani hanya menggunakan konsep rakyat; 3) pemikiran politik Ali Syariati relevan dengan sistem kekuasaan yang berkembangan di Indonesia karena mengambil rakyat sebagai salah satu sumber kekuasaan. Sedangkan pemikiran an-Nabhani yang bersifat apologis dan subjektif terhadap konsep rakyat tidak menemui relasi dengan sistem kekuasaan di Indonesia
Humanisme menurut Erich Fromm dan Ali Syariati
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran Erich Fromm dan Ali Syariati mengenai kebebasan, kepedulian, dan pengembangan diri dalam konteks humanisme. Erich Fromm, seorang filsuf dan psikoanalis asal Jerman, menekankan pentingnya kebebasan sebagai elemen mendasar yang memungkinkan manusia menjadi makhluk yang autentik. Kebebasan menurut Fromm terdiri dari "kebebasan dari" (freedom from) dan "kebebasan untuk" (freedom to). Kepedulian bagi Fromm merupakan inti dari cinta sejati yang melibatkan perhatian, tanggung jawab, empati, dan penghormatan terhadap orang lain. Pengembangan diri menurut Fromm adalah mencapai orientasi "menjadi" (being) dengan mengembangkan kualitas-kualitas internal seperti cinta, produktivitas, refleksi diri, dan kesadaran etis.
Ali Syariati, seorang filsuf dan sosiolog Islam asal Iran, menawarkan pandangan yang mendalam tentang kebebasan, kepedulian, dan pengembangan diri yang didasarkan pada nilai-nilai Islam. Kebebasan sejati menurut Syariati melibatkan perlawanan terhadap penindasan sosial dan pencarian keadilan, serta mendekatkan diri kepada Tuhan melalui konsep Tauhid. Kepedulian dalam pandangan Syariati adalah kewajiban spiritual dan sosial yang mencakup perhatian terhadap kaum tertindas (mustadh'afin) dan diwujudkan dalam aksi sosial dan revolusi untuk memperjuangkan keadilan. Pengembangan diri bertujuan mencapai insan kamil (manusia sempurna) dengan keseimbangan antara dimensi material, spiritual, dan sosial.
Metode penelitian ini menggunakan Kajian Pustaka (literature review) dengan metode komparatif untuk membandingkan pandangan humanisme Erik Fromm dan Ali Syariati. Metode ini akan menganalisis mendalam terhadap konsep-konsep utama dalam pemikiran keduanya. Bersumber dari data Primer yang merupakan karya-karya Erich Fromm dan Ali Syariati dan data Sekunder dari buku, jurnal, dan aartikel yang mendukung.
Studi ini menemukan bahwa meskipun terdapat perbedaan dalam pendekatan filosofis dan teologis, Fromm dan Syariati memiliki kesamaan dalam penekanan terhadap kebebasan, kepedulian, dan pengembangan diri sebagai elemen kunci dalam mencapai kehidupan manusia yang bermakna dan autentik. Fromm mengusung humanisme sekuler yang fokus pada psikologi dan hubungan sosial, sementara Syariati menekankan humanisme spiritual yang didasarkan pada nilai-nilai Islam
- …
