118 research outputs found

    Public Value Public Services at R. Ali Manshur Jatirogo Regional Hospital

    No full text
    Public value is a popular way to evaluate the effectiveness and efficiency of public services. This research aims to describe the public value of public services at R. Ali Manshur Jatirogo Regional Hospital. This research uses descriptive research with qualitative data analysis techniques. The technique for determining informants uses Purposive Sampling and Snowball Sampling. The focus of this research is described according to public value theory which consists of legitimacy and support, operational capabilities, and substantial value. Data collection techniques were obtained through observation, in-depth interviews, and documentation. Research data was analyzed using Miles and Huberman data analysis techniques using data reduction, simplification, abstraction, and data transformation. Based on the research results, it was found that the public services of R. Ali Manshur Jatirogo Regional Hospital have largely fulfilled the elements of public value theory. However, there are still shortcomings, such as the absence of blood bank services and a family waiting room which is still in progress. The R. Ali Manshur Jatirogo Regional Hospital always tries to make improvements to these deficiencies. However, in several cases, the researchers did not receive sufficient information from R. Ali Manshur Regional Hospital. So, it can be concluded that there is still a little lack of openness in certain matters, but it can be said that public services at R. Ali Manshur Jatirogo Hospital have quite good public value

    KH. Ali Manshur: biografi dan penggagas sholawat badar

    No full text
    Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi dan teori peran. Penerapan teori peran pada penelitian ini digunakan penulis karena memiliki kecocokan dengan fokus penelitian dimana penulis membahas suatu konsep yang digunakan oleh individu dalam masyarakat dan penting bagi struktur sosial. Dari penelitian yang dilakukan penulis mendapatkan kesimpulan, sebagai berikut: (1) Kiai Ali Manshur lahir pada 23 Maret 1921 di Jember, beliau merupakan keturunan Kiai Shiddiq Jember. Pendidikan yang di tempuh yaitu dari beberpapa pesantren mulai dari MI Diniyyah Makam Agung Tuban, pesantren Tremas (Pacitan), pesantren Lasem, pesantren Langitan (Widang, Tuban), pesantren Lirboyo (Kediri), pesantren Tebu Ireng (Jombang). Beliau juga aktif dalam organisasi masyarakat Islam dan Politik. (2) kondisi Politik dan Agama di Banyuwangi pada tahun 1950-1965 menjadi salah satu latar belakang terciptanya Sholawat Badar dan juga perkembangannya. Terlihat dari lirik yang dituliskan pada Sholawat Badar yaitu mengenai kekhawatiran dan kecemasan Kiai Ali Manshur. (3) perkembangan Sholawat Badar terlihat dari tahun 2016 hingga 2021, beberapa fungsi dan manfaat membaca Sholawat Badar terlihat dari lirik Sholawat itu sendiri

    HUBUNGAN PESAN NONVERBAL K.H. ALI MANSHUR KASTAM TERHADAP TINGKAT PERHATIAN JAMA'AH ATAS MATERI PENGAJIAN (Studi Kasus di Pondok Pesantren Ar-Raudhatul Ilrniyah Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur)

    No full text
    Pesan nonverbal K.H. Ali Manshur Kastam yang ada di Pondok Pesantren Ar-Raudhotul Ilmiyah Kertosono Nganjuk adalah sedang atau cukup baik. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa santri Pondok Pesantren Ar-Raudhotul Ilmiyah Kertosono Nganjuk memiliki tingkat perhatian atas materi pengajian adalah sedang atau cukup baik. Ada hubungan positif dan signifikan antara pesan nonverbal K.H. Ali Manshur Kastam dengan tingkat perhatian ata materi pegajian di Pondok Pesantren Ar-Raudhotul Ilmiyah Kertosono Nganjuk, maka dengan demikian dapat dikatakan bahwa dengan adanya pesan nonverbal maka akan ada pula tingkat perhatian jama'ahnya. Adapun yang menunjukkan adanya hubungan antara pesan nonverbal K.H. Ali Manshur Kastam dengan tingkat perhatian ata materi pegajian di Pondok Pesantren Ar-Raudhotul Ilmiyah Kertosono Nganjuk dibuktikan dengan hasil korelasi product moment. Sedangkan pengaruh antara pesan nonverbal K.H. Ali Manshur Kastam dengan tingkat perhatian ata materi pegajian di Pondok Pesantren Ar­Raudhotul Ilmiyah Kertosono Nganjuk dibuktikan harga R2(R Square)

    ANALISIS PEMIKRAN MUHAMMAD MANSHUR AL-BATAWI TERHADAP HISAB RUKYAT DALAM KITAB SULLAM NAYYIRAIN

    No full text
    Abstract “This article discusses Manshur al Batawi's analysis of Hisab Rukyat in the Book of Sullam Nayyirain. Research on hisab rukyat the author refers to the thought of hisab rukyat Muhammad Manshur al-Batawi in the Sullamun Nayyirain Book, with the research approach used being the astronomical, syar'i approach, and the character approach in this case, Muhammad Manshur al-Batawi from the results of this research found that Muhammad Masnhur al-Batawi's reckoning thoughts are basically the thoughts of a network of scholars with Arab scholars including Syek Abdurrahman al-Misri, Mansur's teacher who received his first education directly from his parents who were scholars. Mas Manshur al-Batawi's ruyat reckoning thought uses Ptolemy's theory which has a geocentric principle, which according to scientific history has been superimposed by the heliocentric principle. So it is natural that the calculation results include the true reckoning of taqribi, to calculate the time of ijtima', solar eclipse and lunar eclipse. To calculate the beginning of the month of Kamariyah according to this book, start by calculating when ijtima' occurs. The technique for calculating the height of the new moon at sunset is by finding the difference between the sunset time and the ijtima' time that occurs before Ghurub, so that night the new moon has entered. The implication of this research is that every student of science should seek as much knowledge as possible, as was done by Muhammad Manshur al-Batawi who did not look at age in seeking knowledge, especially for those interested in astronomy, so that the knowledge gained can be a source of knowledge for us and those who are also interested in learning. learn from us. Like now, the work of Muhammad Manshur al-Batawi is a charity for him because many of his works are used as writing references

    SISTEM KETATANEGARAAN KHALIFAH ABU JA’FAR AL-MANSHUR PADA MASA KHILAFAH ABBASIYAH MENURUT TEORI IBNU KHALDUN TENTANG KEKUASAAN

    No full text
    Abu Ja‟far Abdullah bin Muhammad Bin Ali Bin Abdillah Bin Abbas. dilahirkan di Humayyah (Haminah) Yordaniyah (95H/ 714M), Bani Abbasiyah mengambil alih pemerintahan dengan Khalifah pertama Abul Abbas As-Saffah, selama empat tahun lebih, As-Saffah hanya berkonsentrasi menumpas sisa-sisa keluarga Bani Umayyah. Dinasti Abbasiyah belumlah kuat pondasinya. Ibukota belum permanen, perangkat dan sistem pemerintahan juga belum berjalan teratur. Segalanya masih rapuh, masih sangat berantakan. Disaat genting itu As-Saffah meninggal karena sakit cacar air, sebelumnya ia telah menunjuk saudaranya Abu Ja‟far dan Isa bin Musa sebagai penggantinya. Abu Ja‟far ketika itu menjabat sebagai Amirul Hajj, pemerintahan yang keras menghadapi lawannya yaitu Bani Umayyah, Khawarij dan juga Syi‟ah yang merasa dikucilkan dari kekuasaaan. Untuk mengamankan kekuasaannya, tokoh-tokoh besar yang mungkin menjadi saingan baginya seperti Abdullah Bin Ali, Abu Muslim dengan kekuatan perangnya, namun dengan cerdiknya satu-persatu disingkirkan. Serta membetuk kebijakan-kebijakan dalam tatanan negara untuk memajukan pemerintahan yang ideal. Berdasarkan uraian diatas maka masalah yang dapat dirumuskan yaitu Bagaimana Sistem Ketatanegaraan Khalifah Abu Ja‟far Al-Manshur dan Bagaimana Sistem Ketatanegaraan Khalifah Abu Ja‟far Al-Manshur Menurut Teori Ibnu Khaldun tentang Kekuasaan. Adapun tujuan dari penulis adalah untuk memahami tentang Sistem Ketatanegaraan yang terjadi pada masa Khalifah Abu Ja‟far. Serta untuk memahami secara mendalam tentang Sistem Ketataegaraan Khalifah Abu Ja‟far menurut teori Ibnu Khaldu tentang Kekuasaan. Sedangkan kegunaan penelitian ini adalah untuk menambah ilmu penetahuan tentang Sitem Ketatanegaraan Abu Ja‟far Al-Manshur pada masa Khilafah Abbasiyah, umumnya bagi kawan-kawan mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara (Siyasah) dan khususnya bagi penulis sendiri. Dan adapun jenis atau metode penelitian yang digunakan skripsi ini yaitu kajian pustaka, diskriptif analisis, dimana data-data yang didapat merupakan data bersumber dari buku-buku, jurnal, makalah, kitab yang berhubungan dengan skripsi ini, sedangkan dalam teknik analisis dengan menggunakan teori Ibnu Khaldun tentang Kekuasaan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan pada masa pemerintahan Abu Ja‟far banyak menghadapi berbagai kesulitan terutama pemberontakan dari dalam dan dari luar. Abu Ja‟far menghadapi lawan-lawannya terutama dari pamannya Abdullah bin Ali, Abu Muslim panglima tentara yang terkuat dan Bani Ali (keturunan Ali), serta Konstantin V dan kaum Alawiyin. kebijakan dalam pemeritahan Abu Ja‟far Al-Manshur sangatlah cerdik dan berhati-hati, ia membangun pemerintahan dan ibukota di Baghdad dekat Pesia, memperkuat militer, jawatan pos, adminitrasi negara serta membentuk wizarah

    Human Relationship with Nature: A Metaphor-Ecolinguistic Perspective in The Lyrics of Shalawat Badar by KH Ali Manshur

    No full text
    This study examines the conceptual metaphor in the lyrics of Shalawat Badar by KH Ali Manshur which represents the socio-ecological experience in the tradition of pesantren and Nahdlatul Ulama. With a qualitative descriptive method, data was taken from 30 lines of lyrics that contained metaphorical expressions at the level of words, phrases, and clauses. Data were collected through documentation, careful reading, and logging, then analyzed with cognitive semantic theory, Lakoff and Johnson's conceptual metaphor framework, ecolinguistic approaches, and theme-rema analysis. The results of the study found 17 structural metaphors, 6 orientational metaphors, and 7 ontological metaphors related to the themes of social struggle, politics, religious education, prayer and supplication, the symbols of Nahdlatul Ulama, and the integration of the Al-Barzanji ritual in Java. From an ecolinguistic perspective, lexicons such as "plague" and "disaster" are read as linguistic traces of the environmental and health crises of the 1960s, particularly the outbreak of diseases such as leprosy and filariasis, thus showing the variety of religious discourses that hold ecological memories. Structural metaphors position the Prophet Muhammad as a mediative bridge that connects Muslim communities affected by plagues and socio-political crises with divine protection, while orientational metaphors map spatial experiences into emotional and spiritual states. Ontological metaphors show the way in which abstract divine agency is understood through concrete objects and events, and the theme–rema pattern highlights the marked and unmarked themes that advance the narrative of crisis and hope. This research is significant because it expands the study of conceptual metaphors that are integrated with ecolinguistics in the religious salawat text in the very popular tradition of Islamic boarding schools in the archipelago, as well as offering an ecospiritual reading of crises that have the potential to strengthen environmental awareness in the pesantren community. مستخلص تتناول هذه الدراسة الاستعارةَ المفهومية في كلمات صلوات بدر من تأليف الشيخ علي منصور، بوصفها تمثيلًا للتجربة الاجتماعية–البيئية في تقاليد البيسانترن وجماعة نهضة العلماء. واعتمدت الدراسة المنهجَ الوصفيَّ النوعي، حيث جُمعت البيانات من ثلاثين سطرًا من النص الشعري تضمّ تعبيراتٍ مجازية على مستوى الكلمة، والعبارة، والجملة. وقد جُمعت البيانات من خلال التوثيق، والقراءة المتأنية، والتدوين، ثم جرى تحليلها بالاستناد إلى نظرية الدلالة المعرفية، وإطار الاستعارة المفهومية عند لاكوف وجونسون، والمقاربة الإيكولغوية (اللسانيات البيئية)، إلى جانب تحليل الثيمة–الريما (Theme–Rheme). وتُظهر نتائج الدراسة وجود سبع عشرة استعارة بنيوية، وستّ استعارات اتجاهية، وسبع استعارات أنطولوجية، تتصل بموضوعات النضال الاجتماعي، والسياسة، والتربية الدينية، والدعاء والتوسل، ورموز نهضة العلماء، وتكامل طقس البرزنجي في السياق الجاوي. ومن منظور إيكولغوي، تُقرأ مفردات مثل «الطاعون» و«الكارثة» بوصفها آثارًا لغويةً لذاكرة الأزمات البيئية والصحية في ستينيات القرن العشرين، ولا سيما تفشّي أمراضٍ مثل الجذام وداء الفيلاريات، وهو ما يكشف عن تنوّع الخطابات الدينية الحافظة للذاكرة الإيكولوجية. وتُظهر نتائج الدراسة وجود سبع عشرة استعارة بنيوية، وستّ استعارات اتجاهية، وسبع استعارات أنطولوجية، تتصل بموضوعات النضال الاجتماعي، والسياسة، والتربية الدينية، والدعاء والتوسل، ورموز نهضة العلماء، وتكامل طقس البرزنجي في السياق الجاوي. ومن منظور إيكولغوي، تُقرأ مفردات مثل «الطاعون» و«الكارثة» بوصفها آثارًا لغويةً لذاكرة الأزمات البيئية والصحية في ستينيات القرن العشرين، ولا سيما تفشّي أمراضٍ مثل الجذام وداء الفيلاريات، وهو ما يكشف عن تنوّع الخطابات الدينية الحافظة للذاكرة الإيكولوجية. وتكتسب هذه الدراسة أهميتها من كونها توسّع آفاق البحث في الاستعارة المفهومية المندمجة بالمقاربة الإيكولغوية في نصوص الصلوات الدينية، ولا سيما في تقاليد المعاهد الإسلامية المنتشرة في أرخبيل إندونيسيا، كما تقدّم قراءةً إيكو-روحية للأزمات بما يحمل إمكانية تعزيز الوعي البيئي داخل مجتمع البيسانترن. Abstrak Penelitian ini mengkaji metafora konseptual dalam lirik Shalawat Badar karya KH Ali Manshur yang merepresentasikan pengalaman sosio-ekologis dalam tradisi pesantren dan Nahdlatul Ulama. Dengan metode deskriptif kualitatif, data diambil dari 30 larik lirik yang memuat ungkapan metaforis pada tataran kata, frasa, dan klausa. Data dikumpulkan melalui dokumentasi, pembacaan cermat, dan pencatatan, kemudian dianalisis dengan teori semantik kognitif, kerangka metafora konseptual Lakoff dan Johnson, pendekatan ekolinguistik, serta analisis tema–rema. Hasil penelitian menemukan 17 metafora struktural, 6 metafora orientasional, dan 7 metafora ontologis yang berkaitan dengan tema perjuangan sosial, politik, pendidikan agama, doa dan permohonan, simbol-simbol Nahdlatul Ulama, serta integrasi ritual Al-Barzanji di Jawa. Dari perspektif ekolinguistik, leksikon seperti “wabah” dan “bencana” dibaca sebagai jejak linguistik dari krisis lingkungan dan kesehatan pada 1960-an, khususnya merebaknya penyakit seperti lepra dan filariasis, sehingga, menunjukkan ragam wacana keagamaan menyimpan memori ekologis. Metafora struktural memosisikan Nabi Muhammad sebagai jembatan mediatif yang menghubungkan komunitas Muslim yang terdampak wabah dan krisis sosial-politik dengan perlindungan ilahi, sementara metafora orientasional memetakan pengalaman spasial ke dalam keadaan emosional dan spiritual. Metafora ontologis memperlihatkan cara agensi ilahi yang abstrak dipahami melalui objek dan peristiwa konkret, dan pola tema–rema menyoroti tema-topik bertanda maupun tak-bertanda yang memajukan narasi krisis dan harapan. Penelitian ini signifikan karena memperluas kajian metafora konseptual yang terintegrasi dengan ekolinguistik pada teks salawat religius dalam tradisi pesantren Nusantara yang sangat populer, serta menawarkan pembacaan ekospiritual atas krisis yang berpotensi menguatkan kesadaran lingkungan dalam komunitas pesantren

    PEMAKNAAN IDEOLOGIS PERJUANGAN RAKYAT PALESTINA DALAM CERITA PENDEK JABALUN-NÂR KARYA ALI AT-THANTAWY

    No full text
    This study aims to explain issues of Palestinian people’s struggle against the English occupation in Ali At-Thantawy’ short story Jabalun-Nâr. It employed the theories of genetic structuralism and ideology. The findings are as follows. First, Palestinian people’s responses to the fate of their nation occupied by English people are reflected in the behaviors of two main characters, Irfan and Mukhtar. Second, in social reality, Palestinian people face their nation’s internal challenges, namely the unstable and explosive political-military conditions in struggling against the English occupation on the Paletinian land. Third, the two main characters are effective subjects of thoughts capable of penetrating Palestinian people’s minds with the nationalism spirit to fight against the English occupation. Fourth, the meaning of Jabalun-Nâr is ‘volcano’, a symbol of Palestinian people’s strength successful in defeating English colonists
    corecore